Anda di halaman 1dari 14

ASMA BRONKIALE Pendahuluan Saat ini di seluruh Indonesia tengah terjadi epidemik asma, yaitu peningkatan prevalens dan

derajat asma terutama pada anak-anak, baik di negara maju maupun negara berkembang. Di lain pihak, walupun banyak hal yang berkaitan dengan asma telah terungkap namun ternyata hingga saat ini, secara keseluruhan asma masih merupakan misteri. Pengetahuan tentang patologi, patofisiologi san imonologi asma berkembang sngat pesat, khususnya untuk asma pada orang dewasa dan anak besar. Pada anak kecil dan bayi, mekanisme dasar perkembangan penyakit ini masih belum diketahui pasti. Lagi pula bayi dan balita yang mengalami mengi saat terkena infeksi saluran nafas akut, banyak yang tidak berkembang menjadi asma saat dewasanya. Definisi Batasan asma yang lengkap menggambarkan konsep inflamasi sebagai dasar mekanisme terjadinya asma dikeluarkan oleh GINA. Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran nafas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada orang yang rentan inflamasi ini menyebabkan episode mengi berulang, sesak nafas, rasa dada tertekan dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Gejala ini biasnya berhubungan dengan penyempitan jalan napas yang luas namun bervariasi, yang paling tidak sebagian bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan. Inflamasi ini juga berhubungan dengan hiperreaktivitas jalan nafas terhadap berbagai rangsangan. Konsensus nasional juga menggunakan batasan yang praktis ini dalam batasan operasionalnya, namun dengan tambahan criteria yang lebih terarah. Batasan asma terbaru menurut KNAA 2001 adalah mengi berulang dan/batuk persisten dengan karakteristik sebagai berikut ; timbul secara episodik, cenderung pada malam / dini hari (noktural), musiman, setelah aktifitas fisis, serta adanya riwayat asma atau atopsi lain pada pasien dan/atau keluarganya. Diagnosis Untuk mendiagnosa asma pada anak kecil dapat digunakan definisi diatas. Dan untuk menunjang dapat dilakukn uji faal paru yang sederhana dengan peak flow meter atau yang lebih lengkap dengan spirometer. Uji profikator bronkus dengan histamine, metakolin, gerak badan, udara dingin atau salin hipertonis sangat mendukung diagnosis, yang bias didapatkan melalui tiga cara yaitu : 1. Variabelitas pada PFR atau FEV1 15 % 2. Kenaikan 15 % pada PFR atau FEV1 setelah pemberian inhalasi bronkodilator 3. Penurunan 15 % pada PFR atau FEV1 setelah provokasi bronkus.

Jika gejala dan tanda asmanya jelas, serta respons terhadap pemberian obat asma baik sekali maka tidak perlu pemeriksaan diagnostic lebih lanjut. Bila respons terhadap obat asma tidak baik maka perlu dinilai dahulu apakah dosisnya sudah adekuat, cara dan waktu pemberiannya sudah benar, serta ketaatan pasien baik, sebelum pengganti pengobatan dengan obat yang lebih paten. Bila semua aspek tersebut sudah dilakukan dengan baik dan benar maka perlu dipikirkan kemungkinanbukan asma. Pasien dengan batuk produktif, infeksi saluran napas berulang, gejala respiratorik sejak masa neonatus, muntah dan tersedak, gagal tumbuh, atau kelainan fokal paru, perlu pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah foto rontgen paru, uji fungsi paru dan uji provokasi. Selain itu perlu pemeriksaan foto rontgen paranaslis, uji keringat, uji imonologis, uji defisiensi imun, pemeriksaan refluks, uji mukosilier, bahkan sampai bronkoskopi. Di Indonesia, tuberkulosis masih merupakan penyakit yang banyak dijumpai dan salah satu gejalanya adalah batuk kronik berulang. Oleh karena itu uji tuberkulin perlu dilakukan baik pada kelompok yang patut yang diduga asma maupun yang bukan. Dengan cara itu maka penyakit tuberkulosis yang mungkin bersamaan dengan asma akan terdiagnosis dan di terapi. Jika pasien kemudian memerlukan steroid untuk asmanya, tidak akan memperburuk tuberkulosisnya karena sudah dilindungi dengan obat Berdasarkan alur di atas, setiap anak yang menunjukkan gejala batuk/atau mengi maka akhirnya dapat berupa : 1. Asma 2. Asma dengan penyakit lain 3. Bukan asma Klasifikasi Derajat Penyakit Asma Secara arbitreri KNAA membagi asma anak menjadi 3 derajat penyakit, dengan kriteria yang lebih lengkap di banding Konsensus International seperti dapat dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Tabel 1. Pembagian Derajat Penyakit Asma Pada Anak Parameter Klinis, No Kebutuhan Obat, dan Faal Paru Frekuensi 1 serangan 2 Lama serangan Asma Episodik Jarang (Asma Ringan) < 1 x / bulan < 1 minggu Asma Episodik Sering (Asma Sedang) > 1 x / bulan 1 minggu Asma Persisten (Asma Berat)

sering Hampir sepanjang tahun, tidak ada remisi

3 4

Tidak terganggu sering terganggu Normal (tidak ada Mungkin terganggu 5 kelainan) (ada kelainan) Non steroid / steroid 6 Tidak perlu hirupan dosis inflamasi rendah Jika fasilitas ada, pemeriksaan : Uji faal paru (di luar PEF / FEV1 > PEF / FEV1 60-80 7 80 % % serangan Variabilitas faal paru Variabilitas > 8 Variabilitas > 30 % 15 % (bila ada serangan)

Diantara serangan Tidur dan aktivitas Pemeriksaan fisis di luar serangan Obat pengendali anti

Tanpa gejala

Sering ada gejala

Gejala siang dan malam sangat terganggu Tidak pernah normal Steroid hirupan/oral

PEF / FEV1 < 60 % Variabilitas 20-30 % Variabilitas > 50 %

Catatan : 1. Pembagian di atas dilakukan secara arbitreri, dan ada tumpang tindih antar derajat 2. Jika ditemukan ketidaksesuaian parameter klinis dalam satu kelompok, dipakai asma Tujuan Tatalakasana Tujuan tatalaksana asma anak secara umum adalah untuk menjamin tercapainya potensi tumbuh kembang anak secara optimal. Secara lebih rinci tujuan yang ingin di capai adalah : 1. Pasien dapat menjalani aktivitas normal seorang anak, termasuk bermain dan olah raga 2. Sedikit mungkin dapat absensi sekolah 3. Gejala tidak timbul siang ataupun malam hari 4. Uji fungsi paru senormal mungkin, tidak ada variasi diurnal yang mencolok pada PEF 5. Kebutuhan obat seminimal mungkin, kurang dari sekali dalam dua tiga hari, dan tidak ada serangan. 6. Efek samping obat dapat dicegah agar tidak atau sesedikit mungkin timbul, terutama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Apabila tujuan ini belum tercapai maka perlu reevaluasi tatalaksananya. Tatalaksana Medikamentosa Obat asma dapat di bagi 2 kelompok besar, yaitu obat pereda (reliever) dan obat pengendali (controller). Obat pereda ada yang menyebutnya obat pelega, atau obat

serangan. Obat kelompok ini dapt digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma jika sedang timbul. Bila serangan teratasi dan sudah tidak ada gejala lagi maka obat ini tidak digunakan lagi. Kelompok kedua adalah obat pengendali, yang disebut juga obat pencegah, atau obat profilaksis, obat ini digunakan untuk mengatasi masalah dasar asma yaitu inflamasi kronik saluran nafas. Dengan demikian pemakaian obat ini terus menerus dalam jangka waktu yang relative lama, tergantung derajat penyakit asma dan responsnya terhadap pengobatan. Asma Episodik Jarang Asma episodik jarang cukup diobati dengan obat pereda berupa bronkodilator -agonis hirupan kerja pendek jika perlu saja, yaitu jika ada gejala/serangan. Jika dalam 4 minggu tidak ada perbaikan maka masuk ke dalam asma episodik ringan. Asma Episodik Sering Jika penggunaan -agonis hirupan sudah lebih dari 3x perminggu (tanpa menghitung penggunaan pra aktifitas fisis), atu serangan sering / berat terjadi lebih dari sakali dalam sebulan, maka penggunaan anti inflamasi sebagai pengendali sudah terindikasi. Anti inflamasi lapis pertama yang digunakan adalah kromoglikat, dengan dosis minimum 10 mg 2 4 kali perhari. Obat ini diberikan selama 4 6 minggu, kemudian di evaluasi hasilnya. Asma Persisten a. Asma Berat Jika setelah 6 8 minggu kromoglikat gagal mengendalikan gejala, -agonis hirupan tetap diperlukan > 3x tiap minggu maka berarti asmanya termasuk berat. Sebagai obat pengendali pilihan berikutnya adalah obt steroid hirupan. Steroid hirupan biasanya efektif dengan dosis rendah. Dalam penggunaan beklometason atau budesonid dengan dosis 200 ug/hari, belum pernah dilaporkan adanya efek samping jangka panjang. Dosis yang masih dianggap aman adalah 400 ug/hari. Di atas itu dilaporkan adanya pengaruh sistemik minimal, sedangkan dengan dosis 800 ug/hari agaknya mulai berpengaruhterhadap poros hipotalamushipofisis adrenal sehingga dapat berdampak terhadap pertumbuhan. Efek sistemik steroid hirupan dapat dikurangi dengan penggunan alat pemberi jarak berupa perenggang (spacer) yang akan mengurangi deposisi di daerah orofaringeal sehingga mengurangi absorbsi sistemik dan meningkatkan deposisi obat di paru.

Apabila dengan pemberian steroid hirupan di capai fungsi paru yang optimal atau perbaikan klinis yang mantap selama 1 2 bulan, maka dosis steroid dapat dikurangi bertahap sehingga dicapai dosis terkecil yang masih bisa mengendalikan asmanya. Sementara itu pengunaan -agonis sebagai obat pereda tetap diteruskan.

b. Asma Sangat Berat Bila dengan terapi di atas selama 6 8 minggu asmanya tetap belum terkendali berarti pasien dianggap menderita asma sangat berat (bagian dari asma persisten). Penggunaan -agonis (kerja pendek) hirupan > 3x sehari secara teratur dan terus menerus di duga mempunyai peranan dalam peningkatan morbiditas dam mortalitas asma. Oleh karena itu obat dan cara penggunaannya tersebut sebaiknya di hindari. Tetapi jika dengan steroid hirupan dosis sedang (400 600 ug/hari) asmanya belum terkendali, maka perlu dipertimbangkan tambahan pemberian -agonis kerja panjang, atau -agonis lepas kendali, atau teofilin lepas lambat. Dahulu -agonis dan teofilin hanya dikenal sebagai bronkodilator saja. Namun akhir-akhir ini di duga mereka juga mempunyai efek anti inflamasi. Jika dengan penambahan obat tersebut asmanya tetap belum terkendali, obat tersebut diteruskan dan dosis steroid hirupan dinaikkan, bahkan mungkin perlu diberikan steroid oral. Langkah ini diambil hanya bila bahaya dari asmanya lebih besar daripada bahaya efek samping obat. Untuk steroid oral sebagai dosis awal dapat diberikan 1 2 mg/kgBB/hari. Dosis kemudian diturunkan sampai dosis tekecil yang diberikan selang hari pada pagi hari. Cara Pemberian Obat Cara pemberian obat asma harus disesuaikan dengan umur anak karena perbedaan kemampuan menggunakan alat inhalasi. Demikian juga kemauan anak perlu dipertimbangkan. Tabel 2. Jenis Alat Inhalasi Disesuaikan Dengan Umur < 2 tahun 2 4 tahun 5 8 tahun > 8 tahun Nebuliser, Aerchamber, Babyhaler Nebuliser, Aerchamber, Babyhaler Alat hirupan (MDI) dengan alat perenggang (spacer) Nebuliser MDI dengan spacer Alat hirupan bubuk (Spinhaler, Diskhaler, Rotahaler, Turbuhaler) Nebuliser MDI (Metered Dose Inhaler) Alat hirupan bubuk Autohaler

Obat hirup dalam bentuk bubuk kering (Spinhaler, Diskhaler, Rotahaler, Turbuhaler) memerlukan inspirasi yang kuat. Umumnya bentuk ini dianjurkan untuk anak sekolah. Prevensi dan Intervensi Dini

Pencegahan dan tindakan dini harus menjadi tujuan utama dokter, khususnya spesialis anak dalam menangani anak asma. Dewasa ini belum ada data yang cukup kuat untuk dapat memperkirakan anak mana yang akan berlanjutnya asmanya atau akan menghilang. Pengendalian lingkungan, pemberian ASI, penghindaran makanan berpotensi alergenik, dengan atau tanpa pengurangan pajanan dengan tungau debu rumah dan rontokan bulu binatang, telah mengurangi alergi makanan dan khususnya Dermatitis atopik pada bayi. Manfaatnya untuk prevalens asma jangka panjang di duga ada dan masih dalam penelitian. Faktor Alergi dan Lingkungan Saat ini banyak bukti bahwa alergi merupakan salah satu factor penting berkembangnya asma. Paling tidak 75 90 % anak asma balita terbukti mengidap alergi, baik di Negara berkembang maupun Negara maju. Atopi merupakan factor resiko yang nyata untuk menetapnya hiperreaktivitas bronkus dan gejala asma. Pengendalian lingkungan harus dilakukan untuk setiap anak asma. Penghindaran terhadap asap rokok, memelihara binatang berbulu, dan perbaikan ventilasi ruangan. Pendidikan dan Kemitraan Dalam Penanggulangan Asma Di banyak tempat di dunia asma anak masih banyak yang underdiagnosed dan undertreatment. Dengan demikian pendidikan asma sangat perlu dilakukan pada tenaga kesehatan di satu pihak, dan pasien dengan keluarganya serta guru sekolah di lain pihak. Selain kemitraan keluarga dan gurunya, keterlibatan unsur lain jug penting misalnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terkait. Tatalaksana Serangan Asma Pembahasan selengkapnya tentang hal ini akan diuraikan tersendiri. Prognosis Beberapa studi kohort menemukan bahwa banyak bayi dengan mengi tidak berlanjut menjadi asma pada masa anak dan remajanya. Proporsi kelompok tersebut berkisar antara 45 hingga 85 %, tergantung besarnya sampel studi, tipe studi kohort dan lamanya pemantauan. Peningkatan IgE serum dan uji kulit yang positif khususnya terhadap tungau debu rumah pada bayi, dapat memperkirakan mengi persisten pada masa anak. Adanya dermatitis atopik yang sulit diatasi merupakan predictor terjadinya asma berat.

Batuk dan/atau Mengi Riwayat penyakit Pemeriksaan fisis Uji tuberkulin

Patut di duga asma : Episodik Noktural/morning dip Musiman Pasca aktivitas fisi Riwayat atopi pasien/keluar

Tidak jelas asma : Timbul masa neonatus Gagal tumbuh Infeksi kronik Muntah / tersedak Kelainan fokal paru Kelainan system kardiovaskuler

Jika fasilitas ada, periksa peak flow meter atau spirometer untuk menilai : Eversibilitas ( 15 %)

Berikan bronkodiltor

Tidak

Pertimbangkan pemeriksaan : Foto Ro toraks & sinus Uji faal paru Respons terhadap bronkodilator Uji provokasi bronkus Uji keringat Uji imonologis Pemeriksaan motilitas

Berhasil Diagnosis kerja : ASMA Tidak mendukung Diagnosis lain Mendukung Diagnosis lain

Tentukan derajat & pencetusnya bila Asma ep sering/persisten : foto Ro

Diagnosis & pengobatan sesuai DK

Berikan obat anti asma : Tidak berhasil nilai ulang diagnosis dan ketaatan berobat

Pertimbangkan asma sebagai penyakit penyerta

Bukan asma

Tabel 3. Obat Asma Jangka Panjang Yang Ada di Indonesia Fungsi Nama Generik Nama Dagang Golongan -agonis (kerja pendek) Terbutalin Bricasma, brasmatic, Bintasma, Fartolin, Lasmalin, dll Ventolin, Respolin, Salbuven, Suprasma, Salbron, Dilatamol, Asmacel, Librentin, Alupent Ipradol Berotec Inolin Sediaan Keterangan

Sirup, tablet, MDI 0,05 mg/kgBB/x Turbuhaler tablet2,5 mg Sirup, tablet, MDI, Rotahaler, Diskhaler Sirup, tablet, MDI Tablet MDI Peed.drop, tablet

Salbutamol Obat Pereda (reliever)

Orsipienalin Heksoprenalin Fenoterol Trimetokuinol Golongan santin Teofilin

Bronsolvan, Kalbron, Sirup, tablet Amilex, Golongan anti-inflamasi non - steroid Kromoglikat lntal-5 MDI Nedokromil Tilade MDI Izin di Indonesia untuk >12 tahun

Golongan anti - inflamasi steroid Budesonid Flutikason Beklometason Pulmicort Inflammide Flixotide Becotide MDI, Turbuhaler MDI, Diskhaler MDI, Rotahaler, Diskhaler

Golongan -agonis kerja panjang Prokaterol Meptin Sirup, tablet, MDI Bambuterol Bambec Tablet Obat Salmeterol Serevent MDI, Disk haler Pengendali Klenbuterol Spiropent Sirup, tablet (controller) Golongan obat lepas lambat/lepas terkendali Terbutalin Asthmoprotect Retard Kapsul Salbutamol Voimax Tablet Teofilin Quibron SR, Tablet salut Euphyllin Retard, Phyllocontin continus Golongan antihistamin baru Ketotifen Zaditen, Profilas, Sirup, tablet <3 th: 2 x 0,5mg Astifen, Intiten. dll 3th :2x1,0mg Golongan antileukotrin Zafirlukas Accolate Tablet

TATALAKSANA SERANGAN ASMA Pendahuluan Serangan Asma adalah episode perburukan yang progresif dari gejala-gejala batuk, sesak, nafas, mengi, rasa dada tertekan atau berbagai kombinasi dari gejala tersebut. Serangan asma biasanya mencerminkan gagalnya tatalaksana asma jangka panjang, atau adanya pajanan dengan pencetus. Derajat serangan asma bisa mulai dari serangan ringan hingga serangan berat yang dapat mengancam nyawa. Patofisiologi Pencetus Bronkokonstriksi, edem mukosa, sekresi berlebihan Obstruksi jalan nafas Ventilasi tidak Seragam Atelektasis Ventilasi perfusi Tidak padu padan Hiperinflasi paru Gangguan compliance

Penurunan Peningkatan Surfaktan Kerja nafas Asidosis Vasokonstriksi Pulmonal PaCO2 PaCO2

Hipoventilasi alveolar

Penilaian Derajat Serangan Asma Tabel 1. Penilaian Derajat Serangan Asma Parameter Klinis, fungsi Ringan Sedang Berat Paru, Aktivitas Berjalan Bayi : Berbicara Bayi : Istirahat Bayi: menangis keras - Tangis berhenti makan pendek dan lemah Bicara Kalimat Penggal kalimat Kata - kata Posisi Kesadaran Sianosis Mengi Sesak napas Otot bantu napas Retraksi Laju napas Bisa berbaring Lebih suka duduk Mungkin teragitasi Tidak ada Sedang, sering hanya pada akhir ekspirasi Minimal Biasanya tidak Biasanya teragitasi Tidak ada Nyaring, sepanjang ekspir Sedang Biasanya ya Duduk bertopang lengan Biasanya teragitasi Ada Sangat nyaring, terdengar tanpa stetoskop Berat Ya

Ancaman henti napas

Kebingungan Nyata Sulit / tidak terdengar Gerakan paradok torako abdominal Dangkal / hilang

Dangkal Sedang, Dalam, retraksi ditambah ditambah nafas interkostal retraksi cuping hidung Menurun Meningkat Meningkat Meningkat Pedoman nilai baku laju nafas pada anak sadar :

Usia Laju Nafas Normal < 2 bulan < 6C / menit Laju nadi Normal

Takikardi Takikardi | Bradikaidi Pedoman nilai baku laju nadi pada anak :

Usia Laju Nadi Normal 2-12 <160/menit Pulsus Tidak ada < 10 paradoksus mmHg (pemeriksaanny PEFR atau (% Nilai FEV1 dugaan )

Ada 10-20 mmHg (% Nilai terbaik)

Ada > 20 mmHg

bulan Tidak ada, tanda kelelahan otot nafas

< 40 %

- Pasca b. dilator SaO2 PaO2 PaCO2

> 60 % > 80 % > 95 % Normal (biasanya tidak perlu di < 45 mmHg

60 80 % 91 95 % > 60 mmHg < 45 mmHg

< 60 % Respon < 2 jam 90 % < 60 mmHg > 45 mmHg

Pasien Resiko Tinggi Pasien tertentu mempunyai resiko tinggi untuk mengalami serangan berat yang dapat mengancam nyawa. Diantaranya adalah pasien dengan riwayat : Serangan asma yang mengancam nyawa Intubasi karena serangan asma Pneumothoraks dan/atau pneumomediastinum Jangka waktu gejala yang lama Penggunaan steroid sistemik (belum lama atau baru lepas) Kunjungan ke IGD atau rawatan RS karena asma dalam setahun terakhir Tidak teratur berobat sesuai rencana Berkurangnya persepsi tentang sesak napas Penyakit psikiatrik atau masalah psikososial

Tujuan Tatalaksana Serangan Pada serangan asma, tujuan tatalaksana adalah untuk : Meredakan penyempitan jalan napas secepat mungkin Mengurangi hipoksia Mengembalikan fungsi baru ke keadaan normal secepatnya Rencana tatalaksana untuk mencegah kekambuhan

Tatalaksana Serangan Klinik / IGD Nilai Derajat serangan (sesuai Tabel 1 )

Tatalaksana Awal - Nebulisasi -agonis 1-3 x, selang 20 menit - Nebulisasi ketiga + antikolinergik - Jika serangan berat, nebulisasi, 1 x (+ antikolinergik)

Serangan Ringan
(Nebulisasi 1x, respon baik, gejala hilang) - Observasi 1-2 jam - Jika efek bertahan, boleh pulang - Jika gejala timbul lagi, perlakukan sebagai sebagai serangn sedang

Serangan Sedang
(Nebulisasi 2-3 x, respon parsial) Berikan oksigen Nilai kembali derajat serangan, jika sesuai dengan serangan sedang. Observasi di ruang rawat jalan Pasang jalur parenteral perlakukan sebagai serangan sedang -

Serangan Berat
(Neblisasi 3x, respon buruk) Sejak awal berikan O2 saat/di luar nebulisasi Pasang jalur parenteral Nilai ulang klinisnya, jika sesuai dengan serangan berat rawat di ruang rawat inap Foto Rontgen toraks

Boleh Pulang
- Jika obat -agonis (hirup/oral) - Jika sudah ada obat pengendali, teruskan - Jika infeksi virus sebagai pencetus dapat diberi steroid oral - Dalam24-48 jam control ke klinik Rawat jalan, untuk reevaluasi -

Ruang Rawat Sehari


Oksigen teruskan Berikan steroid oral Nebulisasi tiap 2 jam Bila dalam 8-12 jam perbaikan klinis stabil, boleh pulang - Jika dalam 12 jam klinis tetap belum membaik, alih rawat ke ruang rawat inap

Ruang Rawat Inap


- Oksigen diteruskan - Atasi dehidrasi dan asidosis jika ada - Steroid IV tiap 6-8 jam - Nebulisasi tiap 1-2 jam - Aminofilin IV awal - Jika membaik dalam 4-6 x nebulisasi interval menjadi 4-6 jam - Jika dalam 24 jam perbaikan klinis stabil, boleh pulang - Jika dengan steroid dan amino filin parenteral tidak membaik, bahkan timbul ancaman henti nafas, alih rawat ke ruang rawat intensif

Catatan :
1. Jika menurut penilaian serangannya berat, nebulisasi cukup 1x langsung dengan -agonis + antikoligernik 2. Jika ada alatnya, nebulisasi dapat diganti dengan adrenalin subkutan 0,01 ml/kgBB/kali maximal 0,3 ml/kali 3. Untuk serangan sedang dan terutama berat, oksigen2-4 L/menit diberikan sejak awal, termasuk saat nebulisasi.

Kontroversi Tatalaksana Dalam tatalaksana asma pada umumnya dan tatalaksana serangan asma khususnya, masih ada beberapa hal yang masih diperdebatkan. Dahulu dikenal istilah status asmatikus yaitu serangan asma yang tidak membaik dengan tatalaksana baku yang biasa diberikan. Istilah ini sekarang tidak digunakan lagi. Beberapa kontroversi dalam tatalaksana asma diantaranya adalah sebagai berikut : Tatalaksana Asma Jangka Panjang Apakah teofilin masih punya tempat dalam tatalaksana pasien asma terutama Asma persisten / asma berat, mengingat batas dosis terapi dengan dosis toksik sangat sempit Penggunaan -agonis dosis tinggi sering menimbulkan keluhan efek samping rangsangan simpatis Sebagai alternative, penggunaan -agonis dikombinasikan dengan teofilin dan dosis masing-masing dikurangi sehingga efek negative keduanya bisa ditiadakan.

Tatalaksana Serangan Asma Nebulisasi diberikan sehingga cairan obat dalam labu habis atau dihentikan bila cairan obat telah terpakai setengahnya ? Pemberian antikolinergik dalam nebulisasi, langsung sejak awal atau sebagai obat nebulisasi lapis kedua ? Untuk pasien yang sudah menggunakan steroid hirupan (MDI) sebagai obat pengendali namun masih mendapat serangan, apakah dosisnya digandakan, atau langsung diberi steroid sistemik ? Pemberian -agonis secara parenteral (IV, subkutan) untuk serangan asma belum lazim dilakukan. Penggunaan -agonis utnuk nebulisasi berulang, dosisnya sama, atau dosis terbagi ? Pemberian mukolitik dalam cairan inhalasi dapat memperburuk gejala batuk dan penyempitan saluran nafas Fisioterapi dada tidak bermanfaat pada pasien dengan otot nafas yang normal. Hidrasi dengan cairan volume melebihi yang diperlukan tidak bermanfaat kecuali pada anak yang mengalami dehidrasi.

Penutup Panduan tatalaksana serangan asma ini disusun berdasarkan bahan-bahan yang diambil dari berbagai sumber dengan beberapa modifikasi, disesuaikan dengan keadaan setempat dan fasilitas yang tersedia. Walaupun demikian masih banyak butir-butir yang belum sepenuhnya disepakati, sebagaimana terlihat dalam pembahasan tentang kontroversi tatalaksana.

DAFTAR PUSTAKA PP Ikatan Dokter Anak Indonesia : Konsensus Nasion Asma Anak, UKK Pulmonologi, solo,2001