Anda di halaman 1dari 5

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK Oleh: Dra. Ami Lesdiawati, Psi A.

Pertumbuhan dan Perkembangan Menurut beberapa ahli psikologi, istilah pertumbuhan dan perkembangan, meskipun saling melengkapi, sebenarnya mempunyai arti dan makna yang agak berlainan. Secara umum, perkembangan merupakan perubahan-perubahan psikologis/mental yang dialami individu dalam proses menjadi dewasa. Dengan kata lain, bahwa perkembangan merupakan suatu proses kedepan. Meskipun demikian, Sigmund Freud (1856 1939) menyatakan bahwa perkembangan kepribadian seseorang dapat mengalami gangguan. Bila gangguan itu menyebabkan seseorang berperilaku seperti tahap perkembangan sebelumnya, maka terjadi regresi. Sedangkan bila gangguan itu menyebabkan perkembangan terhambat sehingga untuk suatu periode tertentu pola perilaku tidak berubah, maka terjadi fiksasi. Akan tetapi tidak semua aspek perilaku dapat terulang kembali. Di lain pihak, pertumbuhan berarti perubahan-perubahan fisik/biologis ke arah kemasakan fisiologis, yaitu organ-organ tubuh dapat berfungsi secara optimal. Pertumbuhan hanya terjadi sekali saja dan tidak dapat diulang kembali. Kemasakan psikologis atau yang sering disebut kematangan berarti kedewasaan dan kemasakan fisiologis berarti berfungsinya organ-organ tubuh secara optimal (dapat melakukan tugasnya sebagaimana mestinya). Bila kemasakan fisiologis dapat dicapai (hampir) tanpa proses belajar, maka kematangan harus dicapai dengan proses belajar. Dalam periode-periode awal perkembangan terdapat saat-saat yang amat menentukan untuk mengembangkan suatu kemampuan atau keterampilan. Saat-saat seperti itu disebut masa peka. Bila masa ini terlewati, maka perkembangan kemampuan, keterampilan tersebut akan terhambat. B. Perkembangan Manusia sampai periode Anak Pembahasan berikut ini, lebih ditekankan pada ciri-ciri perilaku yang menonjol dalam periode perkembangan tertentu, serta faktor-faktor penting yang harus diperhatikan dalam masa tersebut. 1. Periode Prenatal (Dalam Kandungan) Periode ini sangat penting artinya, karena selama dalam kandungan terjadi pembentukan wujud manusia yang akibat-akibatnya terus berpengaruh sepanjang hidup. Pertama, pengalihan ciri-ciri genetis dari kedua orangtua. Bila terjadi gangguan dalam proses ini, maka baik ciri-ciri fisik maupun psikologisnya di masa mendatang juga akan terpengaruh. Kedua, pembentukan semua organ tubuh, termasuk yang menentukan jenis kelamin seseorang. Gangguan dalam proses ini akan mengakibatkan cacat fisik bawaan. Ketiga, lingkungan dalam perut yang banyak dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan fisik ibu ketika mengandung mempunyai dampak-dampak psikologis tertentu. Penerimaan atau penolakan anak dalam kandungan, misalnya akan berpengaruh terhadap kecenderungan-kecenderungan psikologis tertentu pada anak di masa mendatang. 2. Periode Bayi (0 2 tahun), terdiri atas: a. Infancy (orok), berlangsung sejak bayi lahir sampai 2 minggu. Dalam masa ini terjadi 2 fase yang sangat berbeda. Fase partunatal, berlangsung 30 menit setelah bayi lahir. Dia tidak berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan masih

merasa bersatu juga tergantung 100% kepada ibunya. Sedangkan fase neonatal berlangsung pada saat plasenta dipotong, dimana bayi otomatis berdiri sendiri sebagai individu dan mempunyai sedikit kebebasan dibanding saat-saat sebelumnya. Periode orok merupakan periode terpendek dalam kehidupan manusia. Tetapi dalam periode ini individu mengalami masa-masa penyesuaian diri yang sangat radikal, karena dihadapkan seketika pada situasi dan kondisi yang sangat berbeda dengan situasi dan kondisi dalam perut ibunya. Temperatur lingkungan berubah, demikian juga cara bernafas, makan dan pembuangan sisa makanan. Perilaku bayi dalam periode ini masih bersifat sembarangan, hampir tanpa arti dan kurang terkendali, yang disebut mass activity. Akan tetapi bayi juga menunjukkan perilaku-perilaku spesifik ( specific activities), termasuk beberapa jenis refleks yang terjadi bila ada rangsang dari luar. b. Babyhood (bayi), berlangsung antara 2 minggu sampai 2 tahun. Dalam periode inilah masa pembentukan dasar-dasar kepribadian individu. Periode ini adalah usia terjadinya perubahan dan pertumbuhan yang sangat cepat, sekaligus semakin berkurangnya ketergantungan anak kepada ibunya serta awal munculnya individualitas. Pada usia-usia awal ini individu mulai belajar mengenal orang lain di luar dirinya dan ibunya dan harus menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan lingkungan (sosialisasi), diantaranya adalah peran seksual (sex-role typing), yaitu apa yang diharapkan sebagai anak laki-laki atau anak perempuan. Ciri menonjol lain adalah adanya keinginan tahu yang besar sekali, dimana bayi melakukan berbagai percobaan dengan lingkungan, baik dengan cara menggigit, meraba-raba, mencium, atau membanting dan melempar sesuatu. Masa-masa bayi juga merupakan masa-masa tumbuhnya kreativitas, sehingga sikap orangtua terhadap perilaku bayi dalam masa ini akan sangat berpengaruh terhadap inisiatif dan kreativitasnya di masa mendatang. Selain itu, priode bayi adalah masa yang penuh tugas-tugas penting, antara lain belajar bicara, berjalan, makan, juga bermain. Oleh karena itu, periode bayi dianggap sebagai mulainya critical periode (masa peka) untuk keterampilan bahasa dan penguasaan organ-organ tubuhnya. 3. Periode Anak-anak Awal (Early Childhood) Berlangsung sejak anak sudah berusia 2 tahun sampai 6 tahun. Orangtua sering menganggap periode ini sebagai masa sulit, karena anak suka membantah orangtua dan banyak bertanya. Selain itu, penguasaan anak terhadap tangan dan kakinya semakin baik, bahkan anak sudah cenderung secara tetap menggunakan satu tangaan untuk melakukan pekerjaan (handedness). Kemampuan bahasa juga lebih baik, termasuk mengucapkan kata-kata, susunan kalimatnya dan frekuensi bicaranya (lebih cerewet), sehingga disebut sebagai usia cerewet atau chatterbox age. Pada usia ini anak juga sudah terlibat dalam permainan-permainan yang lebih berstruktur dengan teman-teman sebayanya. Di akhir periode ini, anak sudah bisa diatur oleh orang lain dan berinteraksi sebagai teman (bukan sekadar teman bermain) dengan anak-anak sebayanya. Perkembangan ini menentukan kesiapan anak untuk masuk sekolah. Para psikolog berpendapat bahwa periode ini adalah masa umur berkelompok (gangage). Anak-anak cernderung berkumpul dengan teman sebayanya yang berjenis kelamin sama, dengan gaya bahasa yang sama, dan gaya hidup yang sama. Dalam kelompok ini anak-anak belajar tunduk pada kemauan orang banyak (kelompoknya). Oleh karena itu disebut juga sebagai umur konformitas. Perkembangan fisik memang mulai berjalan lambat, tetapi pada usia ini anak mulai belajar banyak keterampilan lain, diantaranya: keterampilan-keterampilan yang diajarkan di sekolah (school skill) seperti membaca dan menulis, membantu orang lain (social help skill), bermain (play skill), dan mengurus dirinya sendiri (self-help skill). 4. Periode Anak-Anak Akhir (Late Chlidhood)

Periode ini mulai sejak anak-anak berusia 6 tahun sampai organ-organ seksualnya masak. Kemasakan seksual ini sangat bervariasi, baik antar jenis kelamin maupun antar budaya yang berbeda. Tetapi pada umumnya dapat diambil patokan 12 13 tahun untuk wanita dan 14 15 tahun untuk laki-laki. Dalam usia sekolah, anak-anak sudah jauh lebih mandiri. Anak mulai membandingkan segala sesuatu di rumahnya dengan yang ia temui di luar, baik di sekolah maupun di rumah teman-temannya. Norma-norma moral yang tadinya absolut di rumah, kini menjadi relatif. Oleh karena itu, anak-anak dalam usia ini suka membantah dan membanding-bandingkan. C. Perkembangan Emosi Para ahli sepakat bahwa sejak dilahirkan seorang anak sudah mempunyai emosi. Elizebth Hurlock mengatakan bahwa emosi bayi yang baru lahir masih tidak mempunyai bentuk tertentu, yaitu berupa kegairahan umum yang kabur ( general/diffuse excitement). Baru pada minggu-minggu pertama terlihat responrespon senang dan tidak senang. Sebelum bayi belajar bicara, ia sudah menunjukkan emosi heran, gembira, marah, malu dan takut. D. Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget (1896 1980) perkembangan kognitif terjadi dalam 4 tahap, yaitu: 1. Tahap sensori-motor (0 2 tahun), dimana perilaku anak lebih banyak bersifat motorik, belum terjadi kegiatan mental yang bersifat simbolis (berpikir). Tahap ini lebih merupakan latihan dari schema yang sudah ada seperti, refleks menghisap, menggenggam, dan perilaku sederhana lainnya. Kira-kira anak berusia 18 24 bulan, anak mulai bisa melakukan operations, yang dianggap sebagai awal timbulnya kemampuan berpikir yang sebenarnya. 2. Tahap pra-operasional (2 7 tahun), dimana anak sudah bisa melakukan representasi simbolis dari rangsang-rangsang yang ia terima melalui inderanya. Tahap ini dibagi menjadi 2 tahap, yaitu: a. masa prakonseptual (2 4 tahun) Masa prakonseptual ditandai dengan pola berpikir yang egosentris , dimana anak melihat dunia hanya dalam hubungan dengan dirinya. Pada masa ini, anak mendasarkan kesimpulannya pada suatu peristiwa tertentu (ayam bertelur, jadi semua binatang bertelur) atau karena ciri-ciri tertentu ( truk dan mobil itu sama, karena punya empat roda). Juga anak mulai selalu mengubah-ubah kriteria klasifikasinya. Misalnya, ia mula-mula mengelompokkan truk, sedan, dan bus sendiri-sendiri, tapi kemudian mengelompokkan mereka berdasarkan warnanya, lalu berdasarkan besar kecilnya dst. b. masa intuitif (4 7 tahun) Dalam masa ini, pola berpikirnya masih didasarkan atas intuisi, penalaran masih kaku, terpusat pada bagian-bagian tertentu obyek, dan semata-mata didasarkan atas penampakan obyek. 3. Tahap operational konkrit (7 12 tahun). Pada tahap ini terdapat 2 peristiwa penting yaitu konservasi dan seriasi. Konservasi menunjukkan anak mampu menalar bahwa suatu obyek yang diubah bagaimanapun bentuknya, bila tidak diubah atau dikurangi, maka volumenya tetap. Seriasi menunjukkan anak untuk mengklasifikasi obyek menurut berbagai macam cirinya, seperti tinggi, besar, bentuk dan ciri-ciri lainnya.

4. Tahap operasional-formal (mulai usia 12 tahun). Pada tahap ini anak dapat melakukan representasi simbolis tanpa menghadapi obyek-obyek yang ia pikirkan. Pola berpikir menjadi lebih fleksibel dan mampu melihat persoalan dari berbagai sudut yang berbeda. E. Perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud membagi perkembangan manusia menjadi 5 fase. 1. Fase oral (0 1 tahun), dimana anak memperoleh kepuasan dan kenikmatan yang bersumber pada mulutnya. Bila anak tidak menyusu kepada ibunya, ia memperoleh kepuasan oral dengan memasukkan jari-jari tangannya ke mulut. 2. Fase anal (1 3 tahun), dimana pusat kenikmatannya terletak di daerah anus, terutama saat buang air besar. Inilah saat yag paling tepat untuk mengajar disiplin pada anak (termasuk toilet training). 3. Fase Falik (3 5 tahun), dimana pusat kepuasannya pada daerah kelamin. Anak mulai tertarik pada perbedaan anatomis antara laki-laki dan perempuan. Ibu menjadi tokoh yang memberikan kasih sayang perlindungan (rasa aman) dan tempat melarikan diri bila menghadapi persoalan. Pada anak laki-laki kedekatan kepada ibunya menimbulkan gairah seksual dan perasaan cinta yang disebut Oedipus Kompleks. Tapi perasaan ini terhadang dengan adanya tokoh ayah. Kompleksnya ini kemudian diikuti oleh kecemasan Kastrasi (takut dipotong alat kelaminnya) sehingga menimbulkan perilaku menurut dan meniru tindak tanduk saingannya/ayahnya yang akhirnya menjadi model dari perilakunya (ego ideal). 4. Periode Laten (5 12 tahun). Ini adalah masa tenang, dimana kecemasan dan ketakutan pada masa-masa sebelumnya ditekan (repressed). Anak laki-laki lebih banyak bergaul dengan teman sejenis, demikian pula wanita.Oleh karena itu fase ini disebut periode homoseksual alamiah. Anak mencari figur ideal diantara orang dewasa berjenis kelamin sama dengannya. 5. Fase Genital (12 ke atas). Pada fase ini alat-alat reproduksi sudah mulai masak, pusat kepuasannya berada pada daerah kelamin. Energi psikis (libido) diarahkan untuk hubungan-hubungan heteroseksual. Rasa cintanya pada anggota keluarga dialihkan pada orang lain yang berlawanan jenis. F. Perkembangan Psikososial Menurut Erik H. Erikson, perkembangan psikososial dibagi menjadi 8 tahap, namun perkembangan hingga masa anak adalah sbb: 1. Basic Trust vs Basic Mistrust (0 1 tahun). Konflik ini timbul karena kebutuhan akan rasa aman dan ketidak berdayaan anak. Bila rasa aman terpenuhi, maka anak akan mengembangkan dasar-dasar kepercayaan pada lingkungan. Sebaliknya, bila anak selalu terganggu, tidak pernah merasakan kasih sayang dan rasa aman, maka anak akan mengembangkan perasaan tidak percaya pada lingkungan. Dalam hal ini, ibu memainkan peranan yang penting. 2. Autonomy vs Shame and Doubt (2 3 tahun). Pada masa ini, pengakuan, pujian, perhatian serta dorongan akan menimbulkan perasaan percaya diri, memperkuat egonya. Bila sebaliknya yang terjadi, maka akan berkembang perasaan ragu-ragu. Kedua orangtua merupakan obyek sosial terdekat bagi anak.

3.Initiative vs Guilt (3 6 tahun). Bila pada tahap sebelumnya anak mengembangkan perasaan percaya diri, maka ia akan berani mengambil inisiatif, yaitu perasaan bebas untuk melakukan segala sesuatu atas kehendak sendiri. Tetapi bila pada tahap sebelumnya ia mengembangkan perasaan ragu-ragu, maka ia akan selalu merasa bersalah. Ia tidak berani melakukan segala sesuatu atas kehendak sendiri. 4. Industry vs Inferiority (6 11 tahun). Pada masa ini, bila kemampuan untuk menghadapi tuntutan-tuntutan lingkungan dihargai (misalnya di sekolah), maka akan berkembang rasa bergairah untuk terus lebih produktif. Sedangkan, bila sebaliknya yang dialami anak, maka timbul perasaan rendah diri. G. Beberapa Masalah Psikologis Pada Masa Anak-Anak 1. Keterbelakangan Mental. 2. Autisme 3. Gangguan Belajar 4. Masalah Hiperaktif/Kekurangan Perhatian 5. Kenakalan

Daftar Pustaka Alex Sobur, Drs. M.Si., Psikologi Umum Dalam Lintasan Sejarah, Pustaka Setia, 2003 C. George Boeree, DR., General Psychology; Psikologi Kepribadian, Persepsi, Kognisi, Emosi, & Perilaku, Prismasophie, 2008. Elizabeth B. Hurlock, Developmental Psychology, McGraw-Hill, 1978 Irwanto, Drs., Psikologi Umum, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 1991