Anda di halaman 1dari 10

Aku ingin menyentuhmu, seperti semilir angin yang membelai lembut dedaunan kering.

Aku ingin menggenggam jemarimu, seperti birunya langit memeluk pilinan awan putih. Aku ingin merindumu, seperti rembulan yang menanti munculnya fajar. Aku ingin mencintamu, seperti hujan dan pelangi.Ya, kita seperti hujan dan pelangi. Takkan pernah bertemu, meski ditakdirkan bersama. Kau muncul setelah aku sirna. Kau datang saat aku telah pergi. Kau membenci ketikaku mencinta. Itulah kita, hujan dan pelangi. Kakiku terus melangkah menyusuri jalan setapak di lereng perbukitan itu. Medan yang curam tak menyurutkan semangatku untuk segera menuju tempat itu. Bulir keringat yang mulai membasahi pakaianku tak akan ada tandingannya bila dibandingkan dengan apa yang akan ku saksikan nanti. Dan sekarang tiba waktunya, aku sampai disini. Rasa lelah yang membuncah itu sirna kala ku menemukan suatu keindahan, sunrise di bukit kami. Meski sekarang tak ada kata kami lagi, aku masih suka menyebut bukit ini sebagai sebagai bukit kami. Karena kami sudah berganti menjadi kalian. Sejak aku sudah berganti menjadi dia. Cahaya mentari kemudian perlahan menyentuh lembut tubuhku, menjalarkan kehangatan yang kurindukan, persisnya saat dulu, saat kami masih bersama. Ingatanku menguar, memunculkan sekelebat kenangan lama yang tak ingin aku putar kembali. Mau tahu apa saja yang kusukai? Memang hal apa yang bisa membuat hatimu senang? Ada 3 hal yang aku suka di dunia ini. Pertama hujan, lalu sunrise di bukit ini, dan terakhir adalah kamu. Ucapnya lembut, menyentuh puncak kepalaku. Kenapa kamu suka hujan? Bukankah diantaranya kita akan mendengar gemuruh yang bersahut-sahutan? Belum lagi, jika hujan itu tak juga mereda, bukankah itu hanya akan menyulitkan orang yang akan berpergian? Begitu ya? Bagiku hujan selalu bisa menyenandungkan lagu sendu yang ku suka. Rintik-rintiknya membentuk sebuah harmoni, dan mendengarnya membuatku merasa sedang menikmati sebuah pertunjukan orkestra... Bahasamu tinggi sekali. Kau terlalu tinggi mendefinisikan hujan. Sok puitis!

Hahaha.... mungkin iya. Yang paling penting, hujan selalu bisa menyembunyikan air mata yang bergulir di pipiku. Hujan mampu meredam jerit tangisku. Hujan sanggup meruntuhkan kesedihanku. Itulah yang selalu berhasil hujan lakukan buatku. Lalu, sunrise. Menurutku, sunrise di manapun akan sama. Kau akan selalu menemukan bentuk matahari yang sama di belahan bumi manapun. Mengapa kau menyukai yang ada disini? Kau terlalu banyak tanya.. tapi baiklah akan kujelaskan. Sunrise disini sangatlah berbeda. Aku bisa mencium aroma parfum ibuku disini. Aku selalu bisa mengenang kebersamaanku bersamanya. Kami selalu menghabiskan waktu bersama disini. Meski ia telah pergi, aku masih bisa menikmati hangat peluknya disini. Itulah yang ku suka dari bukit ini. Maaf , bukan maksudku untuk mengungkit kepergian ibumu. Tak mengapa. Kau mau tanya apalagi? Mau tanya mengapa aku suka dirimu? Memangnya boleh? Tentu. Tapi ada syaratnya. Kenapa tidak langsung diberi tahu saja? Kedua hal tadi malah tak perlu syarat. Mau atau tidak? Syaratnya sederhana, tapi harus kau tepati, oke? Baiklah, baiklah. Asalkan kau tidak memintaku untuk memberikan seluruh tabunganku padamu, aku akan penuhi apapun syaratnya. Dia menatapku lembut, tersenyum penuh arti lalu berbicara perlahan, Bila hatimu sudah yakin mencintaku, segera beri tahu aku. Aku akan langsung berlari ke arahmu. Cuma itu syaratnya. Mudah, kan? Dia lalu memalingkan wajahnya, menutup matanya perlahan dan menghadapkan wajahnya ke arah mentari pagi, menikmati sentuhan hangatnya.Aku sendiri terdiam, tak sanggup berkata apa-apa lagi. Aku tersentak dari lamunanku. Sejenak merenungi kejadian dulu. Terasa menyedihkan namun sangat sulit untuk dihapuskan. Aku telah membiarkannya menunggu terlalu lama, hingga akhirnya disaat aku sadar aku tak bisa hidup tanpanya, saat itu pula dia

menghilang. Mengapa aku bisa dengan bodohnya menyia-nyiakan dirinya. Saat dia telah memberiku hatinya seutuhnya, aku malah tertawa, meremehkan cintanya, tak memperdulikan ketulusannya. Seorang wanita tiba-tiba menyentuh pundakku. Mengulurkan tangan , menjabat tanganku. Aku sendiri tak mengenal wanita itu. Melihat ekspresi kebingunganku, wanita itu malah tersenyum dan berkata Oh maaf, mungkin kau tak mengenalku, aku Rina, sahabat Kinan, kau tentu kenal dengannya bukan? Iya, ada apa ya? Aku hanya ingin memberikan ini... Rina memberikan sebuah buku usang padaku lalu berkata Ini buku harian Kinan, sudah lama aku ingin memberikannya padamu tapi aku selalu tak pernah bertemu denganmu disini. Kata Kinan, kau suka mengunjungi tempat ini bersamanya. Tapi aku tidak pernah bertemu denganmu sampai hari ini. Dia melarangku memberikannya padamu, tapi aku tahu kalian itu sebenarnya saling mencinta, aku ingin menyatukan kalian kembali Aku menerima buku itu. Sampul depan bertuliskan namanya. Aku penasaran apa yang ditulisnya selama ini. Lalu aku membuka buku hariannya. Mencoba merasakan saat tangannya menggoreskan tinta disana. Mencoba membayangkan ketika dia memikirkan apa yang mesti dia tuliskan disana. Ya, semuanya selalu tentangku. Meski semua hal ini tak pernah tersimpan sekalipun di memoriku. Kemudian aku terpaku pada sebuah tulisan disana. Dia menandai halaman itu. Kertas di halaman itu sedikit robek, mungkin karena terlalu sering dibaca. Aku menekuni setiap kata dalam tulisannya di halaman itu. Dear diary, Sudahkah ku ceritakan padamu tentangnya hari ini? Dia menegurku duluan! Aku sangat terkejut dia mau menegurku lebih dulu. Memang hal yang biasa sih, tapi tidak mengapa kan kalau aku bahagia merasakannya? Setidaknya dia sudah memperhatikanku. Setidaknya dia tahu keberadaanku. By the way , sudah dulu ya, aku mau tidur dulu. Aku mau bertemu dengannya dalam mimpi. Have a nice dream, my boy! Thanks for today! I do love you :) Dear diary,

Rasanya patah hati itu begini ya ternyata, sakit sekali. Melihatnya menggandeng wanita lain membuat hatiku sakit. Aku ingin membencinya, melupakannya dan menghapus bayangnya. Tapi aku tak punya daya sebesar itu. Memang aku terluka, tapi aku tak sanggup mengenyahkan dirinya dalam pikiranku. Apa aku sudah terlalu jauh mencintainya, diary? Aku sendiri masih bingung dengan apa yang kurasa. Tapi harapan memilikinya membuat sedikit demi sedikit amarah itu menguar. Hmm, semoga wanita itu bukan kekasih barunya, ya diary! Aku merindunya...ya merindu senyumnya :)

Dear diary, Akhirnya aku tahu yang sebenarnya. Kenyataan itu benar-benar menghancurkan asa yang selama ini aku pupuk. Wanita itu adalah cinta pertamanya. Cinta lalu yang kemudian menghampirinya kembali. Aku kesal, mengapa dia masih bisa mencintai wanita yang telah menyakitinya. Dia masih bisa tersenyum meski telah dicampakkan wanita itu. Aku kasihan melihatnya hanya dipermainkan wanita bodoh itu. Ya, wanita itu cuma menjadikan dia sebagai pelarian, tak ada maksud lain. Aku ingin memberitahunya, tapi mungkin perkataanku hanya angin lalu di matanya. Aku ingin sekali mengatakan aku bisa lebih baik darinya, bisa mencintai lebih dari yang dia bisa. Tapi, cinta membutakan hatinya. Mungkin kami memang akan selalu jadi hujan dan pelangi. Tenanglah, hujan masih setia menunggu pelangi. Meski pelangi mungkin tak pernah memperhatikan keberadaan hujan, karena terlalu sibuk menerima pujian dari langit. Tapi aku meragu, sekuat apakah hujan menunggu pelangi? Hujan hanya punya sedikit harapan untuk menguatkannya menanti kehadiran pelangi. Aku terhenyak, tanpa sadar tanganku mencengkram rerumputan disekitarku hingga buku-buku jariku memutih. Aku tak tahu bahwa dia selama ini begitu mencintaku. Semua sikapku telah mengombang-ambingkan perasaannya.Baris demi baris kalimat dalam buku harian itu mengoyak kesadaranku, membangunkan jiwa yang selama ini telah mati terpendam. Begitu kerasnya hati, hingga gerusan perhatian dan kelembutannya tak sanggup menggoyah keegoan hatiku. Sekarang aku baru sadar, dialah yang selama ini aku cari. Aku selalu berusaha mencari yang lebih baik, tanpa tersadar yang terbaik ada di dekatku. Tapi, mengapa aku justru baru mengetahuinya sekarang? Aku menyesal, sungguh menyesal.

Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang? Tak ada Jadi kau takkan pergi menemuinya? Ayolah jangan kekanak-kanakan seperti ini! Aku tahu kau mencintai Kinan, begitupun dengannya. Jangan biarkan dirimu menyesal sekali lagi. Tapi apa yang bisa ku lakukan? Dia besok akan bertunangan dengan pria yang dijodohkan dengannya. Dia tak menolak pria itu. Artinya dia sudah melupakanku, kan? Dia tak pernah melupakanmu. Kau yang telah melupakannya. Kau yang selama ini tak sadar akan cintanya.Kau yang telah menyia-nyiakan kasih sayangnya. Cintanya padamu selalu ada, meski kau tak pernah mencintainya. Dia selalu menyayangimu meski kau selalu memilih wanita lain, karena kau cinta pertamanya. Kenyataan sekali lagi menamparku telak. Aku sungguh ingin menghakimi diriku sendiri. Aku merasakan tenggorakanku begitu mencekat. Tak menyangka kenyataan yang ada di depan mata adalah buah dari sikap bodohku selama ini. Aku... malu, Na, suaraku tercekat. Aku telah membuat hatinya hancur, mengobrak-abrik cintanya, tanpa pernah menyesal sedikitpun. Aku hanya memberi harapan palsu lalu pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan selamat tinggal. Aku malu minta maaf padanya. Salahku padanya takkan pernah bisa terhapuskan oleh perkataan maafku saja Hening. Sudahlah, Na. Dia akan bertunangan dan aku tidak bisa menghalanginya lagi. Aku tak pantas menjadi bagian dari hidupnya. Aku yakin pilihan orang tuanya pasti lebih baik daripada aku. Aku bisa membawamu ke pesta pertunangannya jika kau mau. Kau bisa berbicara padanya, setidaknya kau takkan pernah menyesal telah melepasnya. Kau bisa meminta maaf dan merelekannya pergi jika kau menginginkannya pergi ***

Kinan menatap pantulan dirinya di cermin. Kebaya hijau modern begitu pas melekat di tubuhnya. Tampak anggun dan begitu memesona. Seharusnya ia merasa bahagia karena ini adalah hari pertunangannya. Tapi bayang-bayangnya akan bersama Abi membuatnya tak dapat tidur semalaman. Ia membayangkan kehidupan bersama Abi yang penuh dengan kebahagiaan semu. Ia tak pernah menginginkan kehidupan seperti itu. Tapi harapan memiliki Randy tak pernah mampir dalam hidupnya. Kenyataan itu membuatnya menangis semalaman hingga matanya membengkak dan kantung matanya menghitam efek kurang tidur.Ia mencoba mencari sedikit kebahagiaan diantaranya, tapi tak pernah menemukannya. Seorang mengetuk pintu kamarnya. Maaf Mbak, tukang riasnya sudah datang. Kinan menghapus bulir air matanya yang jatuh. Suruh dia masuk.... *** Perjalanan menuju ke pesta pertunangan Kinan dihabiskan dalam diam.Tak ada seorangpun yang mengeluarkan kata. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Aku menoleh ke arah luar jendela, menikmati pemandangan dengan tatapan nanar. Seperti sedang berjudi dengan waktu, aku hanya bisa berusaha dengan apa yang aku bisa usahakan. Aku tahu hasilnya mungkin tak bisa seperti yang aku harapkan, tapi setidaknya aku sudah berusaha meraih mimpi yang sempat terputus. Tak terasa perjalanan dari Bandung- Jakarta berlalu. Mobil lalu merapat menuju tempat pertunangan. Sebuah rumah berdesain minimalis terpampang di hadapanku. Tenda-tenda di sekitarnya menghiasi jalan yang memang ditutup sementara. Rina lalu bergegas menuju masuk ke rumah Kinan yang sepertinya dia sudah sering kunjungi dan menyuruhku masuk ke dalam. Aku hanya mengiyakan dan mengamati tamu-tamu yang mulai berdatangan. Pandanganku terpaku saat melihat seseorang keluar dari kamar. Kinan. Dia begitu cantik. Aku bahkan baru menyadari betapa cantik dirinya. Mataku tak berkedip, memandangnya yang begitu memesona. Dia menghampiriku, tak mengucapkan apa-apa. Kin, ive to say something to you... Ssst... dont say anything. I know whatll you say, terima kasih sudah datang ke acaraku. Maaf kalau selama ini aku cuma mengganggu hidupku. Untuk segalanya, terima kasih

Bukan itu maksudku, seharusnya aku yang meminta maaf padamu.Semua perbuatanku tak pernah membuat perasaanmu lebih baik. Aku hanya bisa menabur luka tanpa pernah menghapusnya kembali. Maafkan aku. Aku cuma mau bilang, hatiku benarbenar telah mencintaimu. Tak ada keraguan lagi diantaranya. Maaf aku dulu menyianyiakan hatimu. Aku tahu aku tak pantas menerima cintamu lagi. Kau telah tahu apa perasaanku.. jadi untuk apa lagi kau datang kesini? Aku tak punya waktu lagi untuk meladeni permainanmu lagi. Benarkah bahagiamu tanpaku? Aku hanya ingin memastikan itu, agar aku bisa pergi untuk membiarkanmu bahagia Aku yakin aku bahagia tanpamu. Selama ini memang begitu, kan? Tolong jangan ganggu hidupku lagi. Aku sudah lelah tersakiti, tolong biarkan aku merasakan bahagia sekali saja.. Maafkan aku. Rupanya aku telah menyakitimu terlalu dalam. Semoga kau bahagia bersamanya. Aku bahagia bila kau bahagia. Tiada yang membahagiakan selain bisa membuatmu tersenyum. Aku akan pergi meninggalkanmu sejauh mungkin, dan mungkin akan menghilang selamanya dari hidupmu.. *** Kehadiran Randy di pesta pertunangannya membuat Kinan meragu. Dia memang ingin Randy pergi, tapi tak sanggup membendung air mata karena tak rela ia pergi. Ia ingin Randy menjauhi hidupnya, tapi suaranya terlalu gemetar untuk mengatakan bisa hidup tanpanya. Apakah ia masih mencintai Randy? Ia lalu menggeleng lemah, mencoba menghilangkan keraguan itu. Iya yakin, ia harus melupakan cinta pertamanya. Ia mesti memberikan Abi kesempatan untuk membahagiakannya. Saat jemarinya digenggam oleh Abi, ketika memasukkan cincin ke jari manisnya, sayup-sayup ia mendengar pembicaraan Rina di ponselnya. Apa??? Pak Randy kecelakaan ? dimana dia sekarang? Mendengar nama Randy disebut, Kinan langsung mencelos dan segera melepaskan genggaman Abi. Cincin ertunangan mereka pun terjatuh di lantai, membuat tamu-tamu terkejut. Apa yang terjadi,Na? Gimana keadaan Randy?

Dia kecelakaan, Kin. Sekarang lagi dibawa ke rumah sakit oleh penduduk yang ada di sekitar lokasi kejadian. Kata orang yang meneleponku tadi, kecelakaannya lumayan parah. Mobil Randy ringsek. Ayo, Na. Ayo kita kesana. Aku mau lihat keadaan dia..... Tangis Rina membuncah, menyapu bersih makeup-nya plus melunturkan maskaranya. Ia tak peduli lagi dengan pertunangan itu. Ia meninggalkan pertunangan itu dan segera memacu mobilnya menuju rumah sakit. *** Di Rumah Sakit. Kinan langsung menanyakan pada resepsionis tentang keberadaan Randy. Setelah berhasil mendapat informasi bahawa Randy masih ada di ruang UGD, tanpa membuang waktu ia menyusuri koridor-koridor panjang menuju ruang UGD. Sesampainya disana, langkah Kinan terhenti. Ia tak sanggup membayangkan apa yang natinya ia akan saksikan nanti.Ia tak mampu menerima kenyataan terburuk yang terlintas di benaknya saat ini. Bau karbol langsung menyengat, menusuk hidung saat menapaki ruang UGD. Disana hanya ada beberapa ruang yang hanya dibatasi tirai-tirai putih. Salah satunya pasti dimiliki oleh Randy. Ada yang bisa saya bantu, Mbak? Iya, Sus.. saya sedang mencari pasien kecelakaan siang tadi yang bernama Randy, Randy Wijaya... Oh.. Pak Randy ada disana, Suster menunjuk sebuah bilik yang ada di sudut kiri ruangan. Tadi terbesit harapan bahwa tidak ada pasien yang bernama Randy Wijaya disana. Makasih, Sus.... Langkah kaki kian dipercepat menuju bilik yang ditunjuk suster tadi. Dia berusaha mengatur napas yang sempat terisak oleh tangisnya tadi. Ia menyeka air mata yang menetes, menguatkan hati, lalu menyibak tirai yang menutupi ranjang Randy. Oh My....

Tangis yang tadinya terhenti, kemudian menderas kembali melihat kondisi Randy. Nafas Kinan kembali tercekat di tenggorokan saat memandangi Randy dari ujung rambut sampai ujung kaki. Keningnya diperban, tangan dan kaki kanannya dibebat. Mukanya memar, dan membayangkan kecelakaan yang menimpa Randy membuat hatinya teriris. Mengapa ia menolak permintaan maaf Randybahkan menolak perasaannya! Dia tidak benar-benar membenci Randy. Hanya saja, ia ingin membiarkan hatinya tak tersakiti lagi. Tapi melihat apa yang dialami Randy membuatnya menyesal. Ia sadar, ternyata ia juga masih mencintai Randy. Ia takut kehilangan Randy. Ia (ternyata) masih ingin Randy menjadi miliknya. Randy... Kinan memangil namanya. Mengusap lembut puncak kepalanya,dan menciumnya perlahan. Ia baru sadar betapa ia merindukan pelanginya. Tak ada respon. Tubuh Randy masih kaku. Maaf, aku tidak benar-benar marah padamu. Aku sebenarnya sakit saat melihat kau pergi. Tapi egoku tak ingin membiarkan kau bersamaku. Maaf, maafkan aku.... Kinan menggenggam jemari Randy, Randy, sadarlah! Aku akan segera berlari ke arahmu. Kau mencintaiku kan? Aku pun sama. Tak ada keraguan juga diantaranya. Tolong bangun dan katakan kau akan membahagiakanku... Kinan menelungkupkan wajahnya ke ranjang, menahan tangis yang mulai membanjiri pelupuk matanya. Kinan pun tertidur dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Beberapa jam pun berlalu.Ia terbangun, mendapati ada gerakan lemah yang menggoyangkan genggaman tangannya. Kinan merasakan jari-jari Randy bergerak. Matanya perlahan membuka dan ia ingin segera bangun. Hati-hati ,Randy.... Kinan segera menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Randy. Syukurlah ia sudah siuman. Luka-luka di tubuhnya tidak terlalu serius. Memang ada fraktura di tangan dan kakinya tapi 3 minggu lagi kondisinya akan pulih.... Terima kasih, Dok! Ucap Kinan sambil tersenyum, lalu menjabat tangan dokter itu. ***

Aku masih bingung dengan kondisiku. Seluruh tubuhku terasa remuk. Tapi aku lebih bingung lagi melihat Kinan ada di samping ranjang rumah sakit. Bukankah dia sedang tukar cincin? Kamu tidak perlu bingung, pertunanganku dengan Abi sudah dibatalkan.Katanya, seolah membaca pikiranku. Jangan bilang kalau Abi meninggalkan pertunangan kalian? Aku yang meninggalkannya. Aku baru sadar aku mencintaimu saat mengetahui kabar kecelakaanmu. Maaf telah membuatmu jadi begini... Hei....tak perlu sedih begitu.Toh, aku sudah baik-baik saja , kan? Aku memukulmukul lenganku, membuatnya percaya bahwa aku baik baik saja tapi... Auuwww Aku ternyata memukul lengan terlalu kuat. Nah kan.... kamu masih sakit, jangan terlalu banyak gerak. Aku akan merawatmu. Tak usah khawatir. Aku akan selalu ada di sampingmu. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa padamu. Kebahagiaan? Ku harap itulah yang kau dapat dariku. Aku telah menghancurkan hatimu, memang ia takkan pernah bisa utuh kembali, tapi aku akan selalu menjaganya agar ia tak retak lagi. Jika aku adalah cinta pertamamu, ku harap kau lah cinta terakhirku. Aku menarik napas, melanjutkan perkataanku. Kin, I think i love you.... I love you too my sweetheart.... Kinan lalu melanjutkan perkataanya,Kau tahu? Hujan dan pelangi memang tak pernah bersama, kecuali kita. Aku bahagia. Benar-benar bahagia. Terima kasih cinta. Hidup memang penuh dengan tanda tanya yang kadang jawabannya tak pernah kau bayangkan. Detik ini kau bisa merasa bahagia tanpa pernah tahu apa yang kau rasa pada detik berikutnya. Alam selalu memberikan kejutan-kejutan kecil diantaranya hingga kita kadang jengah, bingung, marah, kesal atau sakit hati. Tapi kau harus yakin, segala sesuatu telah dipersiapkan Tuhan dengan indah. Jangan kau sesali apapun yang kau dapat, meski kadang itu tak kau inginkan. Dan percayalah, Tuhan akan selalu memberikan pengecualian pada setiap takdir hambaNya jika ia mau mengubahnya. Seperti kami. Hujan dan Pelangi.