Anda di halaman 1dari 108

BAB.

I PENDAHULUAN
A. Deskripsi
Dalam modul ini Anda akan mempelajari tentang rumus-rumus teknik dasar yang dipakai pada teknik elektronika seperti rumus hukum Ohm yang digunakan untuk menghitung daya, tegangan, arus dan resistansi. Rumus untuk menghitung frekuensi, lamda dan daya. Konversi bilangan biner, desimal, oktal dan hexa desimal serta penggunaan aljabar boole. Terakhir penggunaan rumus dedibels untuk menghitung level dan daya sinyal Audio . Modul ini mempunyai keterkaitan erat dengan modul lain, seperti teori kelistrikan, modul yang membahas konsep dasar penggunaan alat ukur listrik dan elektronika, serta modul rangkaian elektronika dasar. Adapun hasil belajar yang akan dicapai setelah menguasai modul ini, peserta diklat diharapkan dapat memahami rumusrumus yang dipakai pada teknik elektronika baik secara teori maupun praktik.

B. Prasyarat
Dalam mempelajari modul ini anda harus sudah mengerti dalam hal penggunaan alat ukur listrik dan elektonik seperti alat ukur Multimeter Analog, Osiloskop, Function Generator, Decibels meter dan Frekuensi meter yang berfungsi untuk membuktikan hasil ukur yang dihitung menggunakan rumus-rumus elektronika secara matematika.

C. Petunjuk Penggunaan Modul

Modul ELKA-MR.UM.001.A

1. Pelajari daftar isi serta skema kedudukan modul dengan cermat dan teliti. Karena dalam skema modul akan nampak kedudukan modul yang sedang Anda pelajari dengan modul-modul yang lain. 2. Kerjakan soal-soal dalam cek kemampuan untuk mengukur sampai sejauh mana pengetahuan yang telah Anda miliki. 3. Apabila Anda dalam mengerjakan soal cek kemampuan mendapat nilai 7,00, maka Anda dapat langsung mempelajari modul ini. Tetapi apabila Anda mendapat nilai <7,00, maka Anda harus mengerjakan soal cek kemampuan lagi sampai mendapat nilai 7,00. Perhatikan langkah-langkah dalam

melakukan pekerjaan dengan benar untuk mempermudah dalam memahami suatu proses pekerjaan. 4. Pahami setiap materi teori dasar yang akan menunjang dalam penguasaan suatu pekerjaan dengan membaca secara teliti. Kemudian kerjakan soal-soal evaluasi sebagai sarana latihan. 5. Untuk menjawab tes formatif usahakan memberi jawaban yang singkat, jelas dan kerjakan sesuai dengan kemampuan Anda setelah mempelajari modul ini. 6. Bila terdapat penugasan, kerjakan tugas tersebut dengan baik dan bilamana perlu konsultasikan hasil tersebut pada guru/pembimbing. 7. Catatlah kesulitan yang Anda dapatkan dalam modul ini untuk ditanyakan pada guru/pembimbing pada saat kegiatan tatap muka. Bacalah referensi lainnya yang berhubungan dengan materi modul agar Anda mendapatkan tambahan pengetahuan.

D. Tujuan Akhir
Setelah mempelajari modul ini diharapkan Anda dapat: Menuliskan rumus hukum Ohm Menghitung besarnya panjang gelombang suatu sinyal sinus

Modul ELKA-MR.UM.001.A

Menghitung frekuensi resonansi dari induktor dan kondensator yang disambung seri maupun parallel Mengkonversi bilangan-bilangan yang dipakai pada teknik digital Menerapkan rumus-rumus aljabar Boolean pada rangkaian digital Menggunakan rumus decibel untuk menghitung penguatan daya dan tegangan suatu Amplifier

Modul ELKA-MR.UM.001.A

E. Kompetensi
KOMPETENSI : KODE : DURASI PEMELAJARAN : LEVEL KOMPETENSI KUNCI Menguasai Teori Dasar Elektronika ELKA-MR.UM.001.A 100 Jam @ 45 menit A 2 B 1 C 2 D 1 E 2 F 2 G 2

Unjuk kerja ini bisa diperlihatkan setiap saat karena merupakan keterampilan kognitif yang berisi wawasan keilmuan dari orang yang bersangkutan. Namun apabila diinginkan untuk melihat kompetensi ini, sebaiknya tersedia hal berikut KONDISI KINERJA 1. Alat bantu presentasi yang cukup : white board, OHP, atau papan tulis dan kapur 2. Literatur yang memadai agar bisa dilihat juga kemampuan membaca literatur 3. Harus dipastikan bahwa yang bersangkutan telah menempuh semua sub-kompetensi diatas

Modul ELKA-MR.UM.001.A

SUB KOMPETENSI 1. Matematika Teknik Dasar dan umusnya

KRITERIA KINERJA 1.1 Didemokan bagaimana rumusan hukum Ohm digunakan dalam menghitung daya, tegangan, arus dan resistansi pada suatu rangkaian 1.2 Disebutkan beberapa rumus matematika lain yang umum digunakan dalam elektronika 1.3 Perhitungan frekuensi, lamda dan daya diemokan 1.4 Konversi bilangan biner, desimal dan hexa didemokan 1.5 Dijelaskan tentang aljabar Boole dan bagaimana kegunaannya dalam rangkaian digital 1.6 Diterangkan tentang Decibels dan ditunjukkan alasan kenapa dipakai dB untuk menyatakan level sinyal dan daya dalam perhitungan-perhitungan elektro 1.7 Didemokan bagaimana gambar bisa digunakan dalam mendemokan fungsifungsi elektronika

LINGKUP BELAJAR Matematik a teknik

MATERI POKOK PEMELAJARAN SIKAP Tekun, teliti, kritis memahami dasar dan rumus matematika PENGETAHUAN Matematik a teknik (rumus umum matematika dalam elektronika) Perhitunga n Frekuensi, lamda dan daya Aljabar Boole Konversi bilangan Decibels Fungsi linier dan non linier KETERAMPILA N Menghit ungFrekuensi, lamda dan daya Menggu nakan Aljabar Boole Mengkon versi bilangan Decibels Membua t fungsifungsi elektronika

Modul ELKA-MR.UM.001.A

F. Cek Kemampuan
Untuk mengecek kemampuan Anda sebelum mempelajari modul ini, kerjakanlah soal-soal dibawah ini dengan memberi tanda V (centang) pada kolom Bisa jika Anda bisa mengerjakan soal itu atau tanda V pada kolom Tidak jika Anda tidak bisa mengerjakan soal itu. Pernyataan Penilaian Siswa Pembimbing Bisa Tida Bisa Tidak k

No.

Soal Cek Kemampuan


Apakah anda bisa menggunakan Osiloskop untuk mengukur amplitudo sinyal sinus Apakah anda bisa menggunakan Osiloskop untuk mengukur frekuensi sinyal sinus Apakah anda bisa menggunakan Function Generator untuk menghasilkan sinyal sinus berfrekuensi 1000 Hz Apakah anda bisa menggunakan Frekuensi meter untuk mengukur frekuensi sinyal sinus 1000 Hz Apakah anda bisa menuliskan rumus hukum Ohm Apakah anda bisa menuliskan rumus untuk menghitung reaktansi kapasitip Apakah anda bisa menuliskan rumus untuk menghitung reaktansi induktip Apakah anda bisa menuliskan rumus untuk menghitung frekuensi resonansi Apakah anda bisa menuliskan rumus untuk menghitung penguatan tegangan sebuah Amplifier dalam satuan dB

1.

2.

3.

4. 5. 6. 7. 8.

9.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

Apakah anda bisa 10. mengkonfersi bilangan biner (11011)2 menjadi bilangan dasar (........ )10

Penilaian Pembimbing: Berdasarkan pengamatan langsung dan mengoreksi soal-soal yang dikerjakan, maka Siswa tersebut mendapatkan nilai: NILAI Angka Huruf

Paraf

Keterangan: Batas lulus minimal harus mendapat nilai 7,00 Kesimpulan: Berdasarkan perolehan nilai cek kemampuan diatas, maka Siswa tersebut dapat/belum dapat*) mempelajari dan mengerjakan modul ini.

................., .................. 200 Pembimbing

Modul ELKA-MR.UM.001.A

-----------------*) Coret salah satu

BAB. II PEMELAJARAN
A. Rencana Belajar Peserta Diklat
Kompetensi Sub Kompetensi : : Menguasai Teori Dasar Elektronika Matematika Teknik Dasar dan Rumusnya Alasan Perubaha n Tanda Tangan Guru

Jenis Kegiatan
1. Membuktikan rumus hukum

Tangga l

Waktu
8 x 45 menit

Tempat Belajar

Modul ELKA-MR.UM.001.A

ohm - mengukur arus DC, tegangan DC, dan daya 2. Mengkonversi sistem-sistem bilangan desimal, biner, oktal, dan hexadesimal 3. Mengukur penguatan tegangan sebuah penguat audio dalam satuan dB

= 360 menit (6 jam)

16 x 45 menit = 720 menit (12 jam)

16 x 45 menit = 720 menit (12 jam)

Modul ELKA-MR.UM.001.A

B. Kegiatan Belajar Kegiatan Belajar 1. a. Tujuan Kegiatan Pemelajaran


Setelah mempelajari kegiatan belajar 1, diharapkan Anda dapat: 1. Menuliskan rumus hukum Ohm 2. Menghitung besarnya arus yang mengalir dalam rangkaian resistor 3. Menuliskan pengertian arus DC 4. Menuliskan pengertian arus AC 5. Menggambarkan bentuk arus AC sinus 6. Menuliskan pengertian frekuensi 7. Menghitung besarnya waktu getar satu gelombang sinus jika frekuensinya diketahui 8. Menghitung panjang gelombang dari gelombang sinus jika frekuensinya diketahui 9. Menghitung besarnya tegangan efektip, tegangan maksimum dan tegangan rata-rata jika tegangan puncak-kepuncaknya diketahui 10. Mengitung nilai reaktansi induktip (XL) sebuah induktor 11. Mengitung nilai reaktansi kapasitip (XC) sebuah kondensator 12. Menghitung frekuensi resonansi dari sebuah kondensator dan induktor yang diseri

Modul ELKA-MR.UM.001.A

b.
1.

Uraian Materi
Hukum Ohm Kalau antara dua kutub positip dan kutub negatip dari sebuah sumber tegangan kita hubungkan dengan sepotong kawat penghantar, maka akan mengalir arus listrik dari kutub positip ke kutub negatip. Arus ini mendapat hambatan dalam penghantar itu. Dari peristiwa di atas dapat diketahui bahwa ada hubungan antara arus yang mengalir dalam hambatan kawat dan adanya sumber tegangan. Besarnya arus listrik yang mengalir tergantung dari besarnya hambatan kawat. Semakin besar hambatan kawat, maka semakin kecil arus yang mengalir. Apabila sumber listrik bertegangan 1 volt dihubungkan dengan hambatan sebesar 1 Ohm, maka arus yang mengalir sebesar 1 amper.

Gambar 1-1. Tegangan 1 V mengalirkan arus 1 A dalam hambatan 1 Ohm

Modul ELKA-MR.UM.001.A

Dalam penyelidikannya George Simon Ohm (ahli ilmu fisika dari Jerman) menemukan bahwa arus listrik yang mengalir dalam hambatan akan bertambah besar jika tegangan dinaikkan, sementara nilai hambatannya tetap. Dari uraian diatas dapat dituliskan rumus hukum Ohm, yaitu: dimana: U = tegangan dalam satuan volt U=IxR I = arus dalam satuan amper R = hambatan dalam satuan Ohm Contoh 1: Sebuah accu 12 volt dihubungkan dengan sebuah lampu yang mempunyai hambatan 24 ohm. Berapakah arus yang mengalir didalam lampu. Jawab: U = I x R U I = -------R 12 I = ---------- = 0,5 A 24

Modul ELKA-MR.UM.001.A

10

Contoh 2: Sebuah hambatan 12 Ohm dihubungkan pada jepit-jepit accu, ternyata arus yang mengalir 0,5 amper. Berapakah besarnya tegangan accu tersebut? Jawab: U = I x R Contoh 3: Sebuah accu 24 volt dihubungkan dengan sebuah lampu, ternyata arus yang mengalir 0,5 amper. resistansi lampu tersebut? Jawab: U = I x R U R = -----I 24 R = -------- = 48 Ohm 0,5 Berapakah besarnya U = 0,5 x 12 U = 6 Volt

2.

Energi yang dimasukkan kedalam hambatan Bila kita hubungkan sebuah battery pada sebuah hambatan, maka hambatan itu menjadi panas karena adanya arus listrik yang mengalir. Energi yang dimasukkan dalam hambatan itu sebanding dengan besarnya arus yang mengalir, sebanding dengan besarnya tegangan listrik yang dipasangkan dan sebanding dengan waktu yang digunakan. Energi diberi simbol dengan huruf W. Rumus energi: W=UxIxt Dimana: W: energi dalam satuan Joule (J)
11

Modul ELKA-MR.UM.001.A

U: tegangan dalam satuan volt I: arus dalam satuan amper t: waktu dalam satuan detik

Modul ELKA-MR.UM.001.A

12

Contoh: Sebuah accu 12 volt setiap detik mengalirkan arus 5 amper. Hitunglah besarnya energi yang dikeluarkan oleh accu tersebut tiap detiknya. Jawab: W = U x I x t W = 12 x 5 x 1 W = 60 Joule

Daya listrik yang dimasukkan dalam sebuah hambatan sama dengan energi yang dikeluarkan tiap detik. Daya diberi simbol huruf P dan dalam satuan joule/detik. W P = ----t UxIxt P = -------------t P=UxI P = I2 x R U2 P = ----R

Jika U = I x R U Jika I = -----R

maka P = I x R x I U maka P = U x -----R

dimana: P = daya dalam satuan watt R = hambatan dalam satuan ohm Contoh: Pada hambatan 10 Kilo ohm, terdapat tegangan 12 volt. Hitunglah daya yang dimasukkan dalam hambatan tersebut. Jawab: U2 P = ----R 122 P = -------10000 P = 0,0144 watt

3. Arus Searah
Modul ELKA-MR.UM.001.A 13

Jika hambatan disambungkan kepada battery, maka aruspun mengalir pada hambatan itu. Arus itu akan keluar dari kutub positip battery dan kembali kekutub negatip battery. Arah arus dan besarnya arus yang mengalir akan tetap setiap waktu selama hubungan ke battery belum diputus. Arus semacam ini dinamai arus searah atau arus rata (Direct Current, DC). Jika kita gambarkan dalam grafik, arus searah akan terlihat seperti gambar 1-2 dibawah ini.

Gambar 1-2. Grafik arus rata. Setiap saat kuat arus tetap sama besar (konstan)

Pada gambar itu sumbu horiontal melukiskan waktu (t) dalam detik, sedangkan sumbu vertikal melukiskan harga-harga arus atau tegangan dalam satuan amper atau volt. Pada setiap saat antara t = 0 sampai t5 besarnya arus atau tegangan tidaklah berubah. 4. Arus bolak-balik Gambar 1-3 dibawah ini memperlihatkan sirkit arus yang bukan arus rata. Kutub-kutub sumber arus secara terus menerus
Modul ELKA-MR.UM.001.A 14

bertukar-tukar polaritasnya. Pada suatu saat terminal atas sumber arus adalah positip (sementara terminal bawahnya negatip), maka arus mengalir keluar dari kutub atas, lewat beban dari A ke B.
Gambar 1-3. Sirkit arus bolak balik

Pada saat berikutnya sumber arus bertukar polaritas, yaitu terminal atas berubah menjadi negatip sedangkan terminal bawah berubah menjadi positip. Dengan demikian aliran arus bertukar arah, keluar dari kutub bawah lewat beban dari B ke A dan masuk ke sumber di kutub atas. Saat berikutnya kutubkutub bertukar polaritas lagi, sehingga berakibat aruspun bertukar arah lagi dari A ke B, demikian terus menerus. Arus yang mengalir dengan selalu berbolak-balik arah dinamai arus bolak balik. Jika arus bolak balik kita gambarkan dalam grafik, maka akan terlihat seperti gambar 1-4 dibawah ini.
Gambar 1-4. Grafik yang melukikan arus bolak-balik (A) Arus mengalir dari A ke B (B) Arus mengalir dari B ke A

Modul ELKA-MR.UM.001.A

15

Kalau grafik (A) dan grafik (B) dijadikan dalam satu gambar grafik, maka akan terlihat seperti gambar dibawah ini.
Gambar 1-5. Gambar grafik arus bolak-balik

Arah arus dari A ke B disebut arah positip dan dilukiskan diatas sumbu horisontal. Arah arus dari B ke A disebut arah negatip dan dilukiskan dibawah sumbu horisontal. 5. Frekuensi Arus bolak balik akan selalu bertukar arah sepanjang waktu selama sumber arus itu difungsikan. Kecepatan arah arus berbolak-balik dalam satu detiknya dinamakan frekuensi. Jaringan listrik PLN kita mengandung arus yang dalam waktu satu detiknya berbolak-balik sebanyak 50 kali, maka frekuensi arus listrik PLN itu adalah getar/detik (50 cycles per second).
Modul ELKA-MR.UM.001.A 16

Satuan frekuensi adalah Hertz yang umum disingkat Hz. Jadi jaringan listrik PLN adalah berfrekuensi 50 Hz. 1 KHz (Kilo Hertz) = 1 000 Hz 1 MHz (Mega Hertz) = 1 000 KHz = 1 000 000 Hz 6. Waktu getar (perioda) Lama waktu yang digunakan untuk melangsungkan satu getar disebut waktu getar atau perioda dan diberi simbol dengan huruf T dalam satuan detik. 1 T = -----detik
f

dimana: T = waktu getar dalam satuan

f = frekuensi dalam satuan Hz Contoh: Hitunglah besarnya waktu getar untuk frekuensi sinyal suara 1000 Hz. Jawab: 1 T = -------F 7. 1 T = ---------1000 T = 0,001 detik

Panjang Gelombang Panjang gelombang arus bolak-balik dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: 300 000 = ------------dalam dimana: (lamda) = panjang gelombang

Modul ELKA-MR.UM.001.A

17

f (KHz)

satuan meter f = frekuensi dalam satuan Hertz

Contoh: Sebuah osilator mengeluarkan tegangan bolak-balik dengan frekuensi 300 KHz. Hitunglah panjang gelombangnya. Jawab: 300 000 300 000 = ------------- = ------------f (KHz) 300 8. Harga efektif Harga efektif atau sering juga disebut nilai efektip dari arus bolak balik ialah arus yang sesungguhnya, yaitu arus yang mempunyai nilai yang sama dengan arus searah yang menghasilkan suatu usaha/energi listrik. Arus efektif dapat dihitung dengan menggunakan rumus: 1 Ieff = ------- x Imaks 2 Ieff = 0,707 x Imaks

= 1000 meter

Dengan menggunakan cara yang sama, harga efektip untuk tegangan bolak-balik, berlaku juga: Ueff = 0,707 x Umaks

Modul ELKA-MR.UM.001.A

18

Contoh: Tegangan jala-jala PLN yang terukur adalah 220 volt, itu merupakan tegangan efektif, maka besarnya tegangan maksimumnya adalah: Ueff = 0,707 x Umaks Umaks 220 = -----------0,707 220 = 0,707 x Umaks Umaks = 311,17 volt

Modul ELKA-MR.UM.001.A

19

9.

Harga rata-rata Harga rata-rata sering juga disebut nilai rata-rata. Untuk mencapai harga rata-rata dalam arus dan tegangan bolak-balik diambilkan dari arus atau tegangan dengan batas setengah gelombang. Arus rata-rata dapat dicari dengan rumus: 2 2 Ir = ------ x Imaks Ir = ------ x Imaks 3,14 Ir = 0,63 x Imaks

Dengan cara yang sama didapatkan pula untuk tegangan: Ur = 0,63 x Umaks Contoh: Tegangan jala-jala PLN yang terukur adalah 220 volt, itu merupakan tegangan efektif, maka besarnya tegangan rataratanya adalah: Ur = 0,63 x Umaks volt Ur = 196,04 volt 10. Arus bolak-balik yang mengalir pada hambatan Sebuah hambatan R dihubungkan pada tegangan bolak-balik U, arus yang mengalir pada suatu saat i = e/R dan kalau 220 Ur = 0,63 x -------0,707 Ur = 0,63 X 311,17

Modul ELKA-MR.UM.001.A

20

tegangan dinyatakan dengan e = Em sin t, maka arus dapat dinyatakan dengan: Em sin t i = --------------R tegangannya. i = Im sin t

Hal ini menyatakan pada hambatan R arus sefase dengan

Modul ELKA-MR.UM.001.A

21

Gambar 1-6. Pada hambatan R, arus sefase dengan tegangannya

11. Arus bolak-balik yang mengalir pada lilitan Sebuah lilitan atau induktor mempunyai induksi L dihubungkan pada tegangan bolak-balik U, maka mengalirlah arus dalam induktor tersebut yang besarnya i = Im sin t. Menurut hukum induksi didalam induktor akan timbul ggl induksi. Tegangan U yang disediakan harus dapat mengimbangi tegangan yang dibangkitkan sehingga arus dapat mengalir. Pada induktor murni yang tidak mempunyai nilai resistansi (Ohm), arus yang mengalir mengikuti tegangan dengan geseran fasa 90o. eL = Im L sin (t-90o)

Gambar 1-7. Pada induktor tegangan mendahului arus 90 o

Modul ELKA-MR.UM.001.A

22

Sesuai dengan hukum Ohm, maka L disebut hambatan induktip atau induktansi yang dinyatakan dengan simbol X L dalam satuan Ohm, sedangkan L dinyatakan dalam satuan Henry. Jadi: XL = L XL = 2 f L

Dimana: XL = reaktansi induktip dalam ohm = 3,14 f = frekuensi dalam Hertz L = induktansi dalam Henry Nilai XL sangat tergantung pada besarnya frekuensi, semakin besar nilai frekuensi, semakin besar pula nilai XL. Contoh: Sebuah induktor dengan nilai induktansi 100 H dipasang pada sumber tegangan bolak-balik yang berfrekuensi 1 MHz. Hitunglah besarnya reaktansi induktipnya (XL). Jawab: XL = 2 f L XL = 2. 3,14. 1000000. 100.10-6 XL = 628 Ohm

XL = 6,28. 100

12. Arus bolak-balik yang mengalir pada kondensator Sebuah kondensator C dihubungkan pada tegangan bolak-balik U, tegangan ini dinyatakan dengan Em sin t. Pada

kondensator arus yang mengalir mendahului tegangan yang disediakan dengan geseran fasa 90o.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

23

Gambar 1-8. Pada kapasitor arus mendahului tegangan 90 o

Untuk harga efektip: 1 U = ------C harga 1/C disebut hambatan kapasitip dan diberi simbol Xc dalam satuan ohm. 1 Xc = -------C 1 Xc = ---------2fC

dimana: Xc = reaktansi kapasitip dalam ohm = 3,14 f = frekuensi dalam Hertz C = kapasitansi dalam farad Contoh: Sebuah kondensator dengan nilai kapasitansi 100 nF dipasang pada sumber tegangan bolak-balik yang berfrekuensi 1 MHz. Hitunglah besarnya reaktansi kapasitipnya (XC) Jawab:

Modul ELKA-MR.UM.001.A

24

1 1 Xc = -----------Xc = --------------------------------2fC 2. 3,14. 1000000. 100.10-9 1 Xc = ------------6,28.10-1 101 Xc = ----------6,28 Xc = 1,59 Ohm

13. Resonansi Deret Induktor dan kapasitor yang disambung secara deret kemudian dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik akan terjadi resonansi. Resonansi akan terjadi jika reaktansi induktip (X L) sama dengan reaktansi kapasitip (XC). Jadi saat resonansi XL = XC atau saat resonansi: 1 2 f L = ---------2fC 1 f = ----------4 2 L C
2

1 f = ------------ 4 2 L C

Modul ELKA-MR.UM.001.A

25

1 f = ----------Hz 2LC = 3,14 L = induktansi dalam Henry (H) C = kapasitansi dalam Farad (F) Dalam keadaan resonansi tegangan induktor = tegangan kondensator (UL = UC). UL = I x XL dan UC = I x XC U UL = ----- x XL R U UC = ----- x XC R harga I = U/R XL UL = ----- x U R XC UC = ----- x U R dimana: f = frekuensi resonansi dalam

Perbandingan reaktansi dengan tahanan murni disebut faktor kualitas atau faktor selektivitas disingkat dengan huruf Q. XL XC Q = ----- = -----R R XL Q = ------XC

Contoh: Sebuah induktor 100 H dirangkai seri dengan sebuah kondensator 100 pF. Hitunglah resonansinya jika dipasang pada sumber tegangan bolak-balik. Jawab:
Modul ELKA-MR.UM.001.A 26

1 1 fr = ------------fr = ---------------------------------2LC 2.3,14 100.10-6.100.10-9 1 1 fr = ------------------------fr = -----------------------16 6,28.100 10.10 628.3,16.10-8 8 10 fr = ----------fr = 50355 Hz = 50,355 KHz 1985,9 14. Resonansi Jajar Resonansi jajar disebut juga resonansi antitegangan. Tujuan dari resonansi jajar ialah untuk mendapatkan arus yang sekecil mungkin pada batas frekuensi yang dibutuhkan (tertentu). Secara teori resonansi jajar dapat ditinjau dari beberapa segi: 1. Induktor murni (bebas dari tahanan) dan kondensator murni 2. Induktor mempunyai tahanan dan kondensator murni 3. Induktor dan kondensator kedua-duanya tidak bebas dari tahanan Resonansi jajar induktor dan kondensator yang bebas dari hambatan untuk mendapatkan resonansi jajar arus pada induktor harus sama dengan arus pada kondensator.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

27

Gambar 1-8. Arus induktor sama dengan arus kondensator

IL = IC Pada

U IL = -----XL hubungan jajar

U IC = ------XC tegangan induktor sama dengan

tegangan kondensator, maka XL = XC. 1 Jadi : 2 f L = -----------2fC 1 f = ------------22 2 L C


2

1 f = -----------2LC

Modul ELKA-MR.UM.001.A

28

Dalam persamaan ini karena frekuensinya adalah frekuensi dalam keadaan resonansi, maka disebut frekuensi resonansi disingkat fr. 1 fr = -----------2LC dimana: fr = frekuensi resonansi dalam Hz = 3,14 L = induktansi dalam Henry C = kapasitansi alam Farad Rumus diatas adalah sama dengan rumus pada resonansi deret.

c.

Rangkuman
1. Menurut hukum Ohm besar arus yang mengalir akan sebesar 1 amper jika tegangan sumber adalah 1 volt dan hambatan yang terpasang 1 Ohm. 2. Rumus hukum Ohm: U = I x R U I = -----R U R = -----I

3. Daya listrik dihitung dengan rumus: P = U x I U2 P = -----R 4. Rumus energi:


Modul ELKA-MR.UM.001.A 29

P = I2 x R

W=UxIxt Dimana: W: energi dalam satuan Joule (J) U: tegangan dalam satuan volt I: arus dalam satuan amper t: waktu dalam satuan detik 5. Arus bolak balik akan selalu bertukar arah sepanjang waktu selama sumber arus itu difungsikan. Kecepatan arah arus berbolak-balik dalam satu detiknya dinamakan frekuensi. 6. Lama waktu yang digunakan untuk melangsungkan satu getar disebut waktu getar atau perioda dan diberi simbol dengan huruf T dalam satuan detik. 1 T = -----detik f 7. f = frekuensi dalam satuan Hz dimana: T = waktu getar dalam satuan

Panjang gelombang arus bolak-balik dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

300 000 = ------------dalam f (KHz) Hertz


Modul ELKA-MR.UM.001.A

dimana: (lamda) = panjang gelombang satuan meter f = frekuensi dalam satuan

30

8.

Harga efektif atau sering juga disebut nilai efektip dari arus bolak balik ialah arus yang sesungguhnya, yaitu arus yang mempunyai nilai yang sama dengan rarus searah yang menghasilkan suatu usaha/energi listrik. Arus efektif dapat dihitung dengan menggunakan rumus: 1 Ieff = ------- x Imaks 2 Ieff = 0,707 x Imaks

Tegangan efektif dari tegangan bolak-balik dapat dicari dengan rumus: Ueff = 0,707 x Umaks 9. rumus: 2 2 Ir = ------ x Imaks Ir = ------ x Imaks 3,14 Ir = 0,63 x Imaks Arus rata-rata dari arus bolak-balik dapat dicari dengan

Modul ELKA-MR.UM.001.A

31

10.

Tegangan rata-rata dari arus bolak-balik dapat dicari

dengan rumus: Ur = 0,63 x Umaks 11. Arus bolak-balik yang mengalir pada hambatan akan

sefasa dengan tegangannya. 12. Arus bolak-balik yang mengalir pada sebuah induktor

akan tertinggal 90 terhadap tegangannya. Arus bolak-balik yang mengalir pada sebuah induktor akan menghasilkan nilai reaktansi induktif yang disingkat XL dan dapat dihitung dengan rumus XL = 2 f L. 13. Arus bolak-balik yang mengalir pada sebuah

kondensator akan menahului 90 terhadap tegangannya. Arus bolak-balik yang mengalir pada sebuah kondensator akan menghasilkan nilai reaktansi kapasitip yang disingkat X C dan dapat dihitung dengan rumus XC = 1/(2 f C). 14. Induktor dan kapasitor yang disambung secara

deret/seri maupun

jajar/parallel kemudian dihubungkan

dengan sumber tegangan bolak-balik akan terjadi resonansi. Resonansi akan terjadi jika reaktansi induktip (X L) sama dengan reaktansi kapasitip (XC). Frekuensi resonansi dapat dihitung dengan rumus: fr = 1/(2 L C)

Modul ELKA-MR.UM.001.A

32

d.
1.

Tugas
Ukurlah besarnya arus yang mengalir pada hambatan 100 Ohm yang dipasang pada accu yang tegangannya 12 Volt. Hitunglah daya yang ada pada resistor tersebut. 2. Ukurlah dengan volt meter AC tegangan sekunder trafo daya 220 V/12 V. Ubahlah tegangan hasil ukur kedalam satuan Vpp, Vp, Vrata-rata.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

33

e. Tes Formatif
1. 2. 3. 4. 5. Hitunglah besarnya arus yang mengalir pada hambatan 500 Ohm yang dipasang pada tegangan 10 Volt. Hitunglah besarnya daya yang ada pada hambatan 25 Ohm jika arus yang mengalir 2 amper. Hitunglah waktu yang digunakan untuk melangsungkan satu perioda gelombang sinus yang berfrekuensi 1000 Hz. Hitunglah panjang gelombang dari sinyal sinus yang berfrekuensi 1 MHz. Tegangan bolak-balik yang terukur oleh voltmeter digital adalah 100 Volt. Hitunglah tegangan rata-ratanya, tegangan puncaknya dan tegangan puncak-kepuncaknya. 6. 7. 8. Induktor 100 mH dipasang pada sinyal sinus berfrekuensi 3 MHz. Hitunglah besarnya reaktansi induktipnya. Kondensator 10 nF dipasang pada sinyal sinus berfrekuensi 3 MHz. Hitunglah besarnya reaktansi kapasitipnya. Rangkaian penentu frekuensi sebuah osilator terdiri dari sebuah induktor 10 mH dan sebuah kondensator 10 nF yang dipasang parallel. Hitunglah frekuensi resonansinya.

f.
1. 2. 3. I = U/R

Kunci Jawaban
I = 10/500 P = 22 x 25 T = 1/1000 I = 0,02 amper P = 100 watt T = 0,001 S P = I2 x R T = 1/f

Modul ELKA-MR.UM.001.A

34

4. 5.

300000 = ----------100 Uef = 100 volt 0,707 x Umak Umak = 100/0,707 Ur = 0,63 x Umak 89,109 Volt

= 300 meter Uef = 0,707 x Umak Umak = 141,44 Volt Ur = 0,63 x 141,44 Upp = 282,88 Volt XL = 1884000 Ur = 100 =

Upp = 2 x Umak Upp = 2 x 141,44 6. Ohm 7. 1 Xc = -----------2fC 1 Xc = --------------------18,84 x 10-2 1 f = -------------2LC 1 f = -----------------6,28 x 10-10 f = 15923,56 Hz

XL = 2 f L XL = 2 x 3,14 x 3.106 x 100-3

1 Xc = ------------------------------2 x 3,14 x 3.106 x 10.10-9 Xc = 5,3 Ohm

8.

1 f = ---------------------------------------2 x 3,14 x 10.10-3 x 10.10-9 1 f = -----------------6,28 x 10-5 f = 15,92356 KHz 105 f = -------6,28

Modul ELKA-MR.UM.001.A

35

g. Lembar Kerja
Judul: Mengukur Tegangan Bolak-balik (AC) Alat dan Bahan: 1. 2. 3. 4. Multimeter analog Osiloskop Kabel penyambung Trafo daya 220 V/9 V = 1 buah = 1 buah = secukupnya = 1 buah

Keselamatan Kerja: 1. 2. 3. Jangan meletakkan Ohm meter dan Osiloskop ditepi meja agar tidak jatuh. Dalam menggunakan meter kumparan putar (volt meter, amper meter dan ohm meter) mulailah dari batas ukur terbesar. Bacalah dan pahami petunjuk praktikum pada setiap lembar kegiatan belajar. Langkah kerja: 1. 2. Siapkan alat dan bahan yang digunakan. Nyalakan horisontalnya. 3. 4. osiloskop, kalibrasilah probe untuk vertikal pada dan Hubungkan osiloskop output

rangkaian pre-amp. Hubungkan trafo daya 220 V/12 V pada jala-jala PLN 220 V. Ukurlah tegangan sekunder trafo 12 V dengan menggunakan multimeter. Catat hasilnya.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

36

5. 6. (Ur). 7. 8.

Ukurlah

tegangan

sekunder

trafo

12

dengan

menggunakan Osiloskop. Catat hasilnya. Dari hasil ukur pada langkah 4 dan langkah 5 hitunglah besarnya tegangan maksimum (Umak) dan tegangan rata-rata Kembalikan semua alat setelah selesai praktik. Buat laporan dan kesimpulan dari hasil praktik.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

37

Kegiatan Belajar 2. a.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17.

Tujuan Kegiatan Pemelajaran


Setelah mempelajari kegiatan belajar 2, diharapkan Anda dapat: Merubah bilangan biner menjadi bilangan desimal Merubah bilangan desimal menjadi bilangan biner Merubah bilangan oktal menjadi bilangan desimal Merubah bilangan desimal menjadi bilangan oktal Merubah bilangan oktal menjadi bilangan biner Merubah bilangan biner menjadi bilangan oktal Merubah bilangan hexadesimal menjadi bilangan biner Merubah bilangan biner menjadi bilangan hexadesimal Merubah bilangan hexadesimal menjadi bilangan desimal Menjumlahkan bilangan dasan Menjumlahkan bilangan biner Menjumlahkan bilangan oktal Menjumlahkan bilangan hexadesimal Mengurangkan bilangan dasan Mengurangkan bilangan biner Menuliskan Hukum Identitas untuk fungsi OR dan fungsi Menuliskan Hukum Demorgan dari Aljabar Boolean

AND dari Aljabar Boolean

b.
Modul ELKA-MR.UM.001.A

Uraian Materi
38

1.

Sistem Bilangan Peralatan yang menggunakan system digital dalam operasinya berdasar kepada perhitungan-perhitungan yang erat kaitannya dengan penggunaan sistem bilangan. Dalam rangkaian logika kita mengenal bermacam-macam bilangan yang diantaranya adalah: Bilangan Desimal Bilangan Biner Bilangan Oktal Bilangan Hexadesimal Bilangan Desimal Pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan sistem bilangan desimal, yaitu bilangan yang terdiri dari angka-angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Dari deretan angka-angka diatas maka setelah angka 9 akan terjadi angka-angka yang lebih besar seperti 10, 11, 12, 13 dan seterusnya. Angka-angka tersebut merupakan kombinasi dari angka 0 sampai 9. Angka-angka 0 sampai 9 ini dinamakan desimal digit, dimana harga-harga dari desimal digit tersebut tergantung dari letak urutannya atau yang disebut harga tempat. Jadi bilangan desimal mempunyai 10 suku angka atau disebut juga radik. Radik adalah banyaknya suku angka atau digit yang dipergunakan dalam suatu sistim bilangan. Dengan demikian maka RADIX suatu sistem bilangan dapat ditentukan

2.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

39

dengan rumus R = n + 1. Dimana R = Radik dan n = angka akhir dari sistem bilangan. Setiap sistem bilangan mempunyai RADIX yang berbeda seperti: Sistem bilangan Biner mempunyai Radix = 2 Sistem bilangan Oktal mempunyai Radix = 8 Sistem bilangan Desimal mempunyai Radix = 10 Sistem bilangan Hexadesimal mempunyai Radix = 16

Modul ELKA-MR.UM.001.A

40

3. Bilangan Biner Perlu diketahui bahwa pada rangkaian digital atau rangkaian logika sistem operasinya menggunakan prinsip adanya dua kondisi yang pasti yaitu: Logika 1 atau 0 Ya atau Tidak High atau Low True (benar) atau False (salah) Terang atau Gelap

Kondisi-kondisi tersebut dapat dilukiskan sebagai saklar yang sedang menutup (on) dan saklar yang sedang terbuka ( off). Metode bilangan yang sesuai dengan prinip kerja dari saklar tersebut adalah penerapan bilangan biner atau dalam bahasa asingnya binary number. Pada bilangan biner jumlah digitnya adalah dua yaitu 0 dan 1, sedangkan untuk sistim bilangan lainnya adalah seperti berikut ini: Bilangan biner (2 digit): 0, 1 Bilangan oktal (8 digit): 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 Bilangan desimal (10 digit) : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 Bilangan hexadesimal: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, F

Modul ELKA-MR.UM.001.A

41

Seperti sudah dijelaskan diatas bahwa bobot bilangan dari suatu sistim bilangan tergantung dari letak susunan digitnya atau disebut juga harga tempat. Harga tempat dari bilangan desimal adalah: Dst. --------- 10.000 10n --------Berdasarkan menentukan 104 harga bobot 1.000 103 tempat bilangan 100 102 10 101 1 10 maka kita dapat

diatas, dari

suatu

sistem

bilangan

tertentu. Sebagai contoh misalnya bilangan desimal 4567 atau ditulis (4567)10 mempunyai bobot bilangan sebagai berikut: Dst. --------- 10.000 --------1.000 4 x 103 100 5 x 102 10 6 x 101 1 7 x 10

Jadi (4567)10 = 4000 + 500 + 60 + 7 Harga tempat dari bilangan biner adalah:
Biner Desimal 28 256 27 128 26 64 25 32 24 16 23 8 22 4 21 2 20 1

Perlu diketahui bahwa angka biner yang dipergunakan dalam sistim bilangan biner disebut BIT (Binary Digit). Sebagai contoh misalnya:
Modul ELKA-MR.UM.001.A 42

101 = 3 BIT 1101 = 4 BIT 11101 = 5 BIT

BILANGAN BINER 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0

BILANGAN DESIMAL 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

1 1 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0

1 0 1 1

Modul ELKA-MR.UM.001.A

43

BILANGAN BINER 1 1 1 1

BILANGAN DESIMAL 15

Dari tabel diatas terlihat bahwa angka 1 bilangan biner akan bertambah besar apabila bergeser kekiri. Dengan demikian digit paling kiri merupakan angka satuan yang terbesar dan digit paling kanan merupakan angka satuan terkecil.

4.

Merubah bilangan biner menjadi bilangan desimal Dalam perhitungan operasi logika pada umumnya bilangan biner diberi tanda (....)2 sedangkan bilangan desimal diberi tanda (....)10. Adapun maksud penandaan tersebut adalah untuk membedakan jenis dan tiap-tiap sistem bilangan. Contoh: Bilangan biner (1101)2 (142)8 (96)10 (2B)16

Bilangan oktal Bilangan desimal Bilangan hexadesimal

Contoh soal: Rubahlah bilangan biner (11101)2 menjadi bilangan desimal

Modul ELKA-MR.UM.001.A

44

Soal diatas dapat diselesaikan dengan 3 cara yaitu: Cara pertama:


Biner Desimal Biner 28 256 27 128 26 64 25 32 24 16 1 23 8 1 22 4 1 21 2 0 20 1 1

Jadi bilangan biner (11101)2 = 16+8+4+1 = 29 Cara kedua: (11101)2 = (1x24) + (1x23) + (1x22) + (10x21) + (1x20) = 16+8+4+0+1 = (29)10 Cara ketiga: 1 1 1 0 1 (11101)10

1x2=2+1=3x2=6+1=7x2=14+0=14 x 2= 28+1= 29

5.

Merubah bilangan desimal menjadi bilangan biner Untuk merubah bilangan desimal menjadi bilangan biner dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: Menggunakan harga tempat dan membagi dua terus menerus bilangan desimal.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

45

Contoh: Rubahlah bilangan desimal (53)10 menjadi bilangan biner. Jawab: cara pertama dengan menggunakan harga tempat
Biner Desimal 28 256 27 128 26 64 25 32 24 16 23 8 22 4 21 2 20 1

(53)10 = 32 + 16 + 0 + 4 + 0 + 1 = 25 + 24 + 0 + 2 2 + 0 + 2 0
=1 1 0 1 0 1

Jadi (53)10 = (110101)2

Cara kedua: Dengan membagi 2 terus menerus sampai sisanya menjadi 0 atau 1 dan pembacaannya mulai dari bawah. 53/2 = 26 sisa 1 26/2 = 13 sisa 0 13/2 = 6 sisa 1 6/2 = 3 sisa 0 3/2 = 1 sisa 1 1/2 = 0 sisa 1

Modul ELKA-MR.UM.001.A

46

1 1 Jadi (53)10 = (110101)2 6. Bilangan Oktal

Dalam rangkaian logika selain bilangan desimal dan bilangan biner, kita mengenal pula bilangan oktal. Bilangan oktal mempunyai 8 buah digit yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, radik bilangan oktal adalah 8. Dalam bilangan oktal tidak angka 8 dan 9, angka selanjutnya setelah angka 7 adalah angka 10, 11, 12 dan seterusnya. Agar lebih jelas perhatikan bilangan oktal dibawah ini. 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 selanjutnya 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, selanjutnya 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27 selanjutnya 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37 dan seterusnya. Sama halnya dengan bilangan biner dan bilangan desimal, bilangan oktal mempunyai harga tempat seperti dibawah ini:
Oktal Desimal 84 409 6 83 512 82 64 81 8 80 1

7.

Merubah bilangan oktal menjadi bilangan desimal

Modul ELKA-MR.UM.001.A

47

Untuk merubah bilangan oktal menjadi bilangan desimal dapat dilakukan dengan harga tempat. Caranya adalah dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Letakkan bilangan oktal dibawah harga tempatnya 2. Kalikan masing-masing digit dari bilangan oktal sesuai dengan harga tempatnya 3. Jumlahkan hasil perkalian masing-masing digit bilangan oktal 4. Contoh: Rubahlah bilangan oktal (234)8 menjadi bilangan desimal Penyelesaian:
Oktal Desimal 82 64 81 8 80 1

4x80 = 4x1 = 4 4x81 = 4x8 = 32 4x82 = 4x64 = 128 Jumlah = 156

Jadi (234)8 = (156)10 8. Merubah bilangan desimal menjadi bilangan oktal

Modul ELKA-MR.UM.001.A

48

Merubah bilangan desimal menjadi bilangan oktal dapat dilakukan dengan menggunakan harga tempat dan membagi 8 bilangan desimal terus menerus dan hasilnya dibaca dari bawah keatas. Contoh: Rubahlah bilangan desimal (97)10 menjadi bilangan oktal Penyelesaian: angka 97 = 64 + 32 + 1
Oktal Desimal 82 64 81 8 80 1

(97)10 = 1x64 + 4x8 + 1 (97)10 = 1x82 + 4x81 + 1x80 (97)10 = (141)8 Rubahlah bilangan desimal (678)10 menjadi bilangan oktal. Soal diatas dapat diselesaikan dengan mudah dan sederhana dengan cara membagi 8 bilangan desimal secara terus menerus. 678/8 = 84 sisa 6 84/8 = 10 sisa 4 10/8 = 1 sisa 2 1/8 = 0 sisa 1
Modul ELKA-MR.UM.001.A

Dibaca dari bawah keatas = (1246)8


49

9.

Merubah bilangan oktal menjadi bilangan biner Untuk merubah bilangan oktal menjadi bilangan biner dapat dilakukan dengan cara merubah setiap angka dari bilangan oktal menjadi bilangan biner 3 bit. Contoh: Rubahlah bilangan oktal (65)8 menjadi bilangan biner Penyelesaian: (65)8 6 = (110)2 5 = (101)2 Jadi (65)8 = (110 101)2

10. Merubah bilangan biner menjadi bilangan oktal Untuk merubah bilangan biner menjadi bilangan oktal dapat dilakukan dengan cara mengelompokkan bilangan biner 3 bit mulai dari sebelah kanan, kemudian kelompok tiga bit tersebut diubah kedalam bilangan dasan. Contoh: Rubahlah bilangan biner (101110111)2 menjadi bilangan oktal

Modul ELKA-MR.UM.001.A

50

Penyelesaian: (101110111)2 5 (101 110 111)2 6 7

Jadi (101110111)2 = (567)8 11. Bilangan Hexadesimal Bilangan hexadesimal mempunyai 16 suku angka/digit seperti berikut ini: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, F. Hurufhuruf A sampai F adalah sebagai pengganti dari angka-angka bilangan desimal mulai dari 10 sampai 15. (A)16 = (10)2 (B)16 = (11)2 (C)16 = (12)2 (D)16 = (13)10 (E)16 = (14)10 (F)16 = (15)10

Seperti juga halnya dengan sistem bilangan lainnya, maka sistem bilangan hexadesimal juga mempunyai harga tempat seperti dibawah ini.
Hexadesimal Desimal 163 409 6 162 256 161 16 160 1

Modul ELKA-MR.UM.001.A

51

Urutan bilangan hexadesimal dan bilangan lainnya adalah seperti dibawah ini. Persamaan bilangan Hexsadesimal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A B C D E F Desimal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Oktal 1 2 3 4 5 6 7 10 11 12 13 14 15 16 17 Biner 0001 0010 0011 0100 0101 0110 0111 1000 1001 1010 1011 1100 1101 1110 1111

Modul ELKA-MR.UM.001.A

52

12. Merubah bilangan hexadesimal menjadi bilangan biner Untuk merubah bilangan hexadesimal menjadi bilangan biner dapat ditempuh dengan cara merubah setiap digit dari bilangan hexadesimal menjadi bilangan biner 4 bit, kemudian menyusunnya berdasarkan urutannya. Bilangan hexadesimal dalam penulisannya diberi tanda (....)16 untuk membedakan dengan bilangan lainnya. Contoh: Rubahlah bilangan hexadesimal (B4C)16 menjadi bilangan biner.

Penyelesaian: (B)16 = (1011)2 (4)16 = (0100)2 (C)16 = (1100)2 Jadi bilangan hexadesimal (B4C)16 = (1011 0100 1100)2 13. Merubah bilangan biner menjadi bilangan hexadesimal Cara yang mudah untuk merubah bilangan biner menjadi bilangan hexadesimal ialah dengan cara mengelompokkan setiap 4 bit bilangan biner mulai dari digit paling kanan. Kemudian setelah dikelompokkan, tiap kelompok tersebut dirubah menjadi bilangan hexadesimal.
Modul ELKA-MR.UM.001.A 53

4 bit

Contoh: Rubahlah bilangan biner (11010101) 2 menjadi bilangan

hexadesimal. Penyelesaian: (11010101)2 kelompok sebelah kiri (1101)2 = (D)16 kelompok sebelah kanan (0101)2 = (5)16 Jadi (11010101)2 = (D5)16

Soal: Rubahlah bilangan biner (101000101011)2 menjadi bilangan hexadesimal. Penyelesaian: (101000101011)2 = (1010 0010 1011)2 = (A 2 B)16

14. Merubah desimal

bilangan

hexadesimal

menjadi

bilangan

Untuk merubah bilangan hexadesimal menjadi bilangan desimal dapat dilakukan dengan cara seperti dibawah ini. 1. Rubahlah bilangan hexadesimal menjadi bilangan desimal. (2B)16 = (.....)10

Modul ELKA-MR.UM.001.A

54

Penyelesaian: Pertama-tama ubah bilangan hexadesimal menjadi bilangan biner. (2B)16 (2)16 = (0010)2 (B)16 = (1011)2 Hasilnya adalah (2B)16 = (0010 1011)2 Selanjutnya bilangan biner (0010 1011) 2 dirubah dalam bentuk bilangan desimal = (43)10 2. Soal diatas juga dapat diselesaikan dengan menggunakan harga tempat.

Hexadesimal Desimal

163 409 6

162 256

161 16 2

160 1 B

(2B)16 = (2x161) + (11x160) = 2x16 + 11x1 = 32 + 11 = 43 Jadi bilangan hexadesimal (2B)16 = (43)10

Modul ELKA-MR.UM.001.A

55

15. Penjumlahan bilangan desimal Pada penjumlahan bilangan desimal bila hasilnya melebihi angka terbesar (angka 9), maka akan ada angka bawaan berupa digit dijumlahkan dan digit 1 tersebut harus dipindahkan dan dengan penjumlahan angka pada kolom

berikutnya. Angka bawaan berupa digit 1 yang dihasilkan tersebut dalam perhitungan logika disebut nilai pindahan atau carry. Contoh: 579 + 285 = .... ? 864 579

285 +

16. Penjumlahan bilangan biner Penjumlahan penjumlahan bilangan bilangan biner desimal, hampir yaitu sama jika pada dengan kolom

pertama kedua angka yang dijumlahkan sama dengan 0, maka hail penjumlahannya juga sama dengan 0, sedangkan bila salah satu angka yang mempunyai harga 0 atau , maka hasil penjumlahannya juga akan 0 atau 1. Tetapi apabila kedua angka yang dijumlahkan kedua-duanya mempunyai harga 1, maka hasilnya akan 0, namun ada angka pindahan yang harus ditambahkan ke kolom berikutnya dan demikian seterusnya.
Modul ELKA-MR.UM.001.A 56

Contoh: Jumlahkan (1101)2 + (1111)2 = (.....)2 Penyelesaian: 1101 1111+ 1110 0

17. Penjumlahan bilangan oktal Penjumlahan bilangan oktal pada dasarnya hampir sama dengan penjumlahan bilangan desimal, yaitu apabila hasil penjumlahan kolomnya melebihi dari angka terbesar (angka 7) maka hasilnya akan 0 dan ada angka pindahan keluaran (carry out) 1 dan angka 1 tersebut harus dipindahkan dan dijumlahkan dengan penjumlahan angka pada kolom berikutnya dan angka puluhan keluaran tersebut digeser kekiri untuk ikut ditambahkan menjadi pindahan masukan (caary in). Contoh: (345)8 + (234)8 = (....)8 Penyelesaian: (345)8 (234)8 + (612)8 18. Penjumlahan bilangan hexadesimal

Modul ELKA-MR.UM.001.A

57

Jumlah digit atau radix dari sistem bilangan hexadesimal adalah 16. Dalam sistim bilangan hexadesimal selain terdapat angka-angka 0 sampai 9 juga terdapat huruf-huruf A sampai F yang berfungsi sebagai pengganti bilangan 10 sampai 15. Angka tertinggi dari bilangan hexadesimal adalah F atau 15. Penjumlahan pada bilangan hexadesimal juga hampir sama dengan sistem bilangan lainnya yaitu apabila hasil penjumlahan kolomnya melebihi dari angka terbesar, maka hasilnya akan 0 dan angka 1 sebagai pindahan keluaran (carry out) dipindahkan kekiri untuk ikut dijumlahkan dengan penjumlahan berikutnya menjadi pindahan masukan (carry in). Contoh: Jumlahkan (878)16 + (989)16 = (....)16 Penyelesaian: (879)16 (969)16 + (12E3)16

Modul ELKA-MR.UM.001.A

58

19. Pengurangan bilangan desimal Dalam pengurangan bilangan desimal apabila digit

pengurangnya lebih besar dari digit yang akan dikurangi, maka digit yang akan dikurangi harus pinjam (borrow) 1 dari digit disebelah kirinya yang mempunyai bobot lebih besar. Nilai pinjaman tersebut besarnya sama dengan kelipatan dari radiknya yaitu 10, 100, 1000 dan seterusnya. Contoh: (687)10 (298)10 (389)10

20. Pengurangan bilangan biner Pengurangan bilangan biner pada dasarnya hampir sama dengan pengurangan bilangan desimal, yaitu dilakukan langsung dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. b. c. d. 0 0 pinjaman masukan (borrow in) = 0 0 1 pinjaman masukan (borrow in) = 1 1 0 pinjaman masukan (borrow in) = 0 1 1 pinjaman masukan (borrow in) = 0

Modul ELKA-MR.UM.001.A

59

Pada bagian b kita pinjam (borrow in) dari digit sebelah kiri. Contoh: Kurangkan: (1011)2 (0111)2 = (....)2

Modul ELKA-MR.UM.001.A

60

Penyelesaian: (1011)2 (0111)2 (0100)2

21. Aljabar Boolean Pada dasarnya rangkaian logika (digital) dibentuk dari

beberapa gabungan komponen elektronik yang terdiri dari bermacam-macam gate (gerbang) dan rangkaian-rangkaian lainnya sehingga membentuk rangkaian elektronika yang bersifat komplek dan dalam cukup rumit. Maka untuk mempermudah menyelesaikan perhitungan,

penjabarannya dapat dilakukan dengan menggunakan sifatsifat persamaan aljabar Boolean. Pada aljabar Boolean jika kita melihat tanda + (plus), maka kita harus ingat pada bentuk OR Gate dan bila melihat tanda . (kali) kita harus ingat kepada bentuk AND Gate. Sifat-sifat berikut: 1. Hukum identitas Fungsi OR dari aljabar Boolean
Modul ELKA-MR.UM.001.A 61

persamaan

Boolean

dapat

dijelaskan

sebagai

A+0=A A+A=A A+1=1 A+=1

Modul ELKA-MR.UM.001.A

62

Fungsi AND dari aljabar Boolean A.0=0 A.A=A A.1=A A.=0

2.

Hukum Komutatif

Modul ELKA-MR.UM.001.A

63

Pada fungi OR A+B+C=C+B+A

Pada fungsi AND A.B.C=C.B.A

3.

Hukum Asosiatif Pada fungsi OR A + B + C = A + (B + C) = B + (A + C) = C + (A + B)

Pada fungsi AND A . B . C = A . (B . C) = B . (A . C) = C . (A . B)


Modul ELKA-MR.UM.001.A 64

Modul ELKA-MR.UM.001.A

65

4.

Hukum Distributif A(B + C) = AB + AC

5.

Hukum Absortif A + A.B = A Pembuktian: A + A.B = A(1 + B) =A.1 =A

6.

Hukum Demorgan A.B= A+ B Bukti dari hukum De Morgan: A.B= A+ B

Modul ELKA-MR.UM.001.A

66

Misal A = 0 dan B = 1 0.1= 0+1 1 1 = 1+0 = 1

Misal A = 1 dan B = 0 1.0= 1+0 1= 0+1 1= 1

c.
1.

Rangkuman
Bilangan desimal ialah bilangan yang terdiri dari angka-angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Dari deretan angkaangka diatas maka setelah angka 9 akan terjadi angka-angka yang lebih besar seperti 10, 11, 12, 13 dan seterusnya. 2. Pada rangkaian digital atau rangkaian logika sistem operasinya menggunakan prinsip adanya dua kondisi yang pasti yaitu : Logika 1 atau 0, Ya atau Tidak, High atau Low, True (benar) atau False (salah), Terang atau Gelap. Pada bilangan biner jumlah digitnya adalah dua yaitu 0 dan 1. 3. Bilangan oktal mempunyai 8 buah digit yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, radik bilangan oktal adalah 8. Dalam bilangan

Modul ELKA-MR.UM.001.A

67

oktal tidak angka 8 dan 9, angka selanjutnya setelah angka 7 adalah angka 10, 11, 12 dan seterusnya. 4. Bilangan hexadesimal mempunyai 16 suku angka/digit seperti berikut ini: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, F. Huruf-huruf A sampai F adalah sebagai pengganti dari angka-angka bilangan desimal mulai dari 10 sampai 15. 5. Persamaan aljabar Boolean mengenal beberapa hukum, yaitu Hukum identitas, Hukum Komutatif, Hukum Asosiatif, Hukum Distributif, Hukum Absortif dan Hukum Demorgan.

d.

Tugas
Buatlah rangkaian gerbang digital yang menggunakan gerbang digital AND, OR dan NOT untuk membuktikan kebenaran hukum De Morgan.

e.
1. 2. 3. (.....)10

Tes Formatif
Ubahlah bilangan biner (1111)2 menjadi bilangan desimal Ubahlah bilangan desimal (85)10 menjadi bilangan biner (.....)2 Ubahlah bilangan oktal (125)8 menjadi bilangan desimal (.....)10

Modul ELKA-MR.UM.001.A

68

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Ubahlah bilangan desimal (76)10 menjadi bilangan oktal (.....)8 Ubahlah bilangan oktal (94)8 menjadi bilangan biner (.....)2 Ubahlah bilangan biner (111011011)2 menjadi bilangan oktal (.....)8 Ubahlah bilangan hexadesimal (A2B)16 menjadi bilangan biner (.....)2 Ubahlah bilangan biner (111101101010) 2 menjadi bilangan hexadesimal (.....)16 Ubahlah bilangan hexadesimal (3F5) 16 menjadi bilangan desimal (.....)10 Ubahlah bilangan hexadesimal (8C)16 menjadi bilangan Jumlahkan bilangan biner (110111)2 + (11001)2 Kurangkan bilangan biner (110111)2 (11001)2 Jumlahkan bilangan oktal (123)8 + (456)8 Kurangkan bilangan oktal (456)8 - (123)8 Jumlahkan bilangan hexadesimal (465)16 + (231)16 oktal (.....)8

f.
1. 2. 3. 4. (15)10

Kunci Jawaban
(1010101)2 (85)10 (114)8
69

Modul ELKA-MR.UM.001.A

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

(110100)2 (733)8 (101000101011)2 (F6A)16 (788)10 (1014)8 (1010000)2 (11110)2 (612)8 (333)8 (696)16

g.

Lembar Kerja
Judul: Membuktikan Hukum Distributif Alat dan bahan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Multimeter Catu daya DC 5 V stabil Breadboard (papan rangkaian) Kabel-kabel penyambung LED IC gerbang OR IC gerbang AND = 1 buah = 1 buah = 1 buah = secukupnya = 2 buah = 1 buah = 1 buah

Modul ELKA-MR.UM.001.A

70

Keselamatan Kerja: 1. 2. batas ukur terbesar 3. Bacalah dan pahami petunjuk praktikum pada setiap lembar kegiatan belajar Langkah kerja: 1. 2. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan Buatlah rangkaian gerbang digital seperti gambar skema dibawah ini: Jangan meletakkan Multimeter (Ohm meter) ditepi meja agar tidak jatuh Dalam menggunakan meter kumparan putar (volt meter, amper meter dan ohm meter) mulailah dari

3. diatas A 0 0 0 0
Modul ELKA-MR.UM.001.A

Buatlah tabel kebenaran dari rangkaian B 0 0 1 1 C 0 1 0 1 B+C A(B + C)

71

1 1 1 1 4.

0 0 1 1

0 1 0 1 Berilah catu daya 5 V pada rangkaian

tersebut, amati nyalanya LED. 5. Berilah pada input A, B, C sinyal 0 atau 1 ( tegangan 0 V atau 5 V) sesuai dengan tabel kebenaran, amati nyala LED. Jika LED mati berarti logic 0, jika LED menyala berarti logic 1. Isikan dalam tabel diatas. 6. Buatlah rangkaian gerbang digital seperti gambar skema dibawah ini:

Modul ELKA-MR.UM.001.A

72

7. diatas A 0 0 0 0 1 1 1 1 8. B 0 0 1 1 0 0 1 1

Buatlah tabel kebenaran dari rangkaian C 0 1 0 1 0 1 0 1 A.B A.C AB + AC

Berilah catu daya 5 V pada rangkaian tersebut, amati nyalanya LED.

9.

Berilah pada input A, B, C sinyal 0 atau 1 ( tegangan 0 V atau 5 V) sesuai dengan tabel kebenaran, amati nyala LED. Jika LED mati berarti logic 0, jika LED menyala berarti logic 1. Isikan dalam tabel diatas.

10.

Dari langkah 2 s/d. langkah 9 apakah hasil

output kedua rangkaian diatas sama, sebab menurut hukum Distributif A(B + C) = AB + AC Buat kesimpulan dari pengamatan saudara. 11. Kembalikan semua alat dan bahan.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

73

Kegiatan Belajar 3. a. Tujuan Kegiatan Pemelajaran


Setelah mempelajari kegiatan belajar 3, diharapkan Anda dapat: 1. 2. 3. 4. Menuliskan rumus untuk menghitung penguatan daya sebuah Amplifier secara logaritmis. Menuliskan rumus untuk menghitung penguatan tegangan sebuah Amplifier secara logaritmis. Menghitung besarnya penguatan daya sebuah Amplifier dalam satuan desibel jika daya input dan daya output diketahui. Menghitung besarnya penguatan tegangan sebuah Amplifier dalam satuan desibel jika tegangan input dan tegangan output diketahui.

b. Uraian materi
1. Decibel Misalkan sebuah penguat Audio mengeluarkan daya bunyi 100 mW, kemudian daya itu kita naikkan menjadi 1 Watt. Berarti ada penambahan daya 900 mW. Kenaikan daya itu 10 kali. Telinga kita bisa merasakan kenaikan kuat bunyi itu. Misalkan lagi bahwa penguat Audio mengeluarkan daya bunyi 1 Watt. Kemudian daya itu kita naikkan menjadi 10 Watt. Berarti ada penambahan daya 9 Watt. Kenaikan daya itu 10 kali. Telinga kita juga bisa merasakan kenaikan kuat bunyi itu.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

74

Modul ELKA-MR.UM.001.A

75

Ternyata bahwa telinga orang mengindera kenaikkan yang sama dari dua peristiwa diatas, sebab yang diindera bukanlah penambahan daya, melainkan yang diindera adalah perbandingan antara daya-daya bunyi. Dalam kedua peristiwa tersebut perbandingan kuat bunyi adalah sama yaitu 10. Tetapi telinga kita merasakan seakan-akan kuat bunyi dinaikkan bukan 10 kali, melainkan log10 10 = 1 kali. Berdasarkan pengalaman dari peristiwa diatas, maka jikalau dalam teknik komunikasi (juga dalam teknik Audio ), kita hendak menyatakan perbandingan daya, perbandingan tegangan dan perbandingan arus sebaiknya secara logaritma. Satuan yang dipakai untuk menyatakan perbandingan secara logaritma adalah Bel. Contoh: Daya D2 = 100 W dan daya D1 = 0,1 W berapa Bel-kah D2 lebih besar dari D1? Penyelesaian: log10 D2/D1 = log10 100/0,1 = log10 1000 = 3 Bel
Modul ELKA-MR.UM.001.A 76

Untuk keperluan praktek satuan Bel ternyata terlampau besar, maka dipakailah satuan yang 1/10 nya, yaitu decibel. 1 Bel = 10 decibel, disingkat = 10 dB.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

77

Jika daya input pada suatu rangkaian ataupun pada suatu sistem adalah Di dan daya outputnya adalah Do, maka bandingan daya itu ada: dB = 10 log10 Do/Di Contoh: Daya input Di = 1 mW daya output Do = 40 W. Hitunglah berapa dB perbandingan daya tersebut. Penyelesaian: Bandingan daya = 10 log10 Do/Di (dB) = 10 log10 40/0,001 = 10 log10 40000 = 46 dB Jika daya input Di sama dengan daya output Do, maka dalam hal ini tidak terjadi penguatan. Jadi penguatan dayanya Do/Di = 1 atau kalau dijadikan dB = 10 log10 Di/Do = 10 log10 1 = 0 dB. 0 dB adalah sesuai dengan bandingan daya 1:1

Modul ELKA-MR.UM.001.A

78

Jika terjadi pelemahan, dalam hal ini Do<Di, maka akan memperoleh bandingan yang berbalikan dari bandingan untuk penguatan. Contoh: Daya input Di = 2 W daya output Do = 1 W. Hitunglah berapa dB perbandingan daya tersebut.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

79

Penyelesaian: Bandingan daya = 10 log10 Di/Do (dB) = 10 log10 2/1 = 10 log10 2 = 3 dB Tetapi karena disini terjadi suatu pelemahan, maka dipakailah tanda (negatif). Jadi penguatannya ada3 dB. Dalam teknik elektronika banyak dilakukan pengukuran tegangan input maupun tegangan output, bandingan daya dalam harga-harga tegangan adalah:

Vi

Ri

Vo

Ro

Di = Vi2/Ri dB = 10 log10

Do = Vo2/Ro

Vo2/Ro Di/Do = 10 log10 ------------Vi2/Ri

dB = 10 log10 (Vo2/Ro x Ri/Vi2) Karena Ro = Ri, maka persamaan menjadi dB = (Vo2/ Vi2) dB = 10 log10 (Vo/ Vi)2 10 log 10

dB = 20 log10 Vo/ Vi
Modul ELKA-MR.UM.001.A 80

dB = 20 log10 (Vo/ Vi) Contoh: Tegangan sinyal input Vi = 5 mV, tegangan sinyal output Vo = 5 V. Hitunglah penguatan tegangannya dalam satuan dB.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

81

Penyelesaian: Penguatan tegangan (Av) = 20 log10 (Vo/ Vi) = 20 log10 (5/ 0,005 ) = 20 log10 1000 = 20 x 3 = 60 dB

c. Rangkuman
1. 2. Rumus untuk menghitung penguatan daya sebuah Amplifier secara logaritmis adalah dB = 10 log10 Do/Di. Rumus untuk menghitung penguatan tegangan sebuah Amplifier secara logaritmis adalah dB = 20 log10 Vo/Vi.

d. Tugas
Ukurlah besarnya penguatan tegangan sinyal Audio dalam satuan dB sebuah pre-amp penguat Audio mVpp frekuensi 1000 Hz dari AFG. yang diberi sinyal input 100

e. Tes Formatif
6. 7. 8. Tuliskan rumus penguatan daya sinyal Audio sebuah Amplifier dalam satuan dB Tuliskan rumus penguatan tegangan sinyal Audio sebuah Amplifier dalam satuan dB Sebuah pre-Amplifier auido diberi sinyal input dari AFG 100 mVpp dengan frekuensi 1000 Hz. Pada outputnya

Modul ELKA-MR.UM.001.A

82

terukur tegangan sinyal sebesar 4 Vpp. Hitunglah penguatan tegangannya dalam satuan dB. 9. Sebuah Power Amplifier Audio Hitunglah besarnya daya inputnya. menghasilkan daya output pada loud speaker 100 W. Penguatan dayanya 10 dB.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

83

f. Kunci Jawaban
6. Av= 20 log10 Vo/Vi (dB) 7. AD = 10 log10 Do/Di (dB) 8. Diketahui : Vi = 100 mVpp, Vo = 4 Vpp Av= 20 log10 Vo/Vi Av= 20 log10 40 AD = 10 log10 Do/Di 10/10 = log10 100/Di 100/Di = anti log10 1 Di = 10 W 9. Diketahui: Do = 100 W Av = 20 log10 (4 Vpp/0,1 Vpp) Av = 20. 1,6 AD = 10 dB 10 = 10 log10 100 /Di 1 = log10 100/Di 100/Di = 10 Di = 100/10 Av = 32 dB

g. Lembar Kerja
Judul: Mengukur Penguatan Tegangan Alat dan Bahan: 6. Catu daya DC 0 12 volt 8. Osiloskop (CRO) 9. Multimeter 10. 11. Kabel jumper Rangkaian pre-amp = 1 buah = 1 buah = 1 buah = secukupnya = 1 buah 7. Audio Frekuensi Generator (AFG) = 1 buah

Keselamatan Kerja:

Modul ELKA-MR.UM.001.A

84

6. Bacalah dan pahami petunjuk praktikum pada setiap lembar kegiatan belajar 7. Dalam menggunakan meter kumparan putar (volt meter, amper meter dan ohm meter), mulailah dari batas ukur yang besar 8. Hati-hati dalam menggunakan catu daya DC, tepatkan tegangannya sesuai dengan tegangan kerja rangkaian pre-amp 9. Jangan meletakkan alat-alat ukur Multimeter (Ohm meter), Osiloskop, AFG dan catu daya ditepi meja agar tidak jatuh. Langkah kerja: 1. 2. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. Nyalakan catu daya DC, tepatkan tegangannya sesuai dengan tegangan rangkaian pre-amp (misalnya 12 volt). Hubungkan kutub positip (+) dan kutub negatip (-) catu daya pada kutub positip (+) dan kutub negatip (-) rangkaian pre-amp. 3. Nyalakan horisontalnya. 4. Nyalakan gelombang osiloskop, kalibrasilah probe untuk vertikal pada dan Hubungkan AFG, tepatkan dengan osiloskop output Hz

rangkaian pre-amp. frekuensinya pada 1000 sinus tegangan output 100 mVpp.

Hubungkan output AFG pada input rangkaian pre-amp seperti gambar blok dibawah ini:

Modul ELKA-MR.UM.001.A

85

5.

Amati bentuk gelombang yang ada pada osiloskop, aturlah tombol-tombol yang ada di osiloskop untuk menampilkan bentuk gelombang yang diam.

6.

Aturlah potensio volume pre-amp agar didapat bentuk gelombang output pre-amp yang maksimum tanpa cacat. Catatlah: Vomaks = ..... Vpp

7. 8. 9. 10.

Ukurlah

tegangan

sinyal

input

pre-amp

dengan

menggunakan osiloskop. Catatlah: Vi = .... mVpp. Dari hasil pengukuran pada langkah 6 dan 7, hitunglah penguatan tegangan rangkaian pre-amp dalam satuan dB. Buat kesimpulan dari hasil praktik Saudara. Kembalikan semua alat dan bahan.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

86

BAB. III EVALUASI


A. Tes Tertulis
A. Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang benar! Soal nomor 1 sampai nomor 5 berdasarkan ranah Afektif (Sikap) 1. Jika teman Anda hendak mengukur tegangan AC dengan menggunakan multimeter tetapi salah dalam meletakkan selektor yaitu pada Ohm, maka sikap Anda ialah: a. b. c. d. Mendiamkan saja agar multimeternya rusak Masa bodoh Pura-pura tidak tahu Memperingatkan pada teman kalau salah dalam meletakkan selektor 2. Jika anda hendak mengukur arus DC, tetapi oleh guru Pembimbing diberi volt meter DC, maka sikap Anda sebaiknya: a. Diamkan saja karena kelalaian guru pembimbing b. Masa bodoh c. Pura-pura tidak tahu d. Minta ganti alat ukur karena yang diberikan salah

Modul ELKA-MR.UM.001.A

87

3. Anda tahu bahwa pada saat teman Anda membawa alat ukur elektronik secara ditumpuk sampai empat buah, maka sebaiknya Anda: a. b. c. d. Memperingatkan jangan sampai diulangi lagi dan membantu membawakan beberapa buah Masa bodoh Pura-pura tidak tahu Diamkan saja biar jatuh

4. Jika Anda sedang melaksanakan praktik pengukuran, sebaiknya dilakukan sambil: a. Berdiri b. Duduk c. Duduk diatas meja d. Jongkok diatas kursi 5. Untuk mendapatkan hasil ukur yang tepat, maka Anda harus: a. b. c. d. Memilih asal saja tanpa diteliti dulu Langsung melaksanakan pengukuran Memilih alat ukur yang baik dan sesuai kegunaannya Memilih alat ukur yang bagus bentuknya

B. Soal nomor 6 sampai nomor 25 berdasarkan ranah Koknitif (Pengetahuan) 6.


Modul ELKA-MR.UM.001.A

Rumus hukum Ohm yang benar adalah:


88

a. U = I x R b. U = I/R c. U = R/I d. I = U x R 7. a. b. c. d. 8. a. b. c. d. 9. a. b. c. d.
Modul ELKA-MR.UM.001.A

Rumus daya listrik yang ada pada resistor yang dilalui arus adalah: P=IxR P = I2 x R P = I2/R P = I x R2 Tegangan yang ada pada sebuah resistor 1000 Ohm adalah 30 volt, maka besarnya arus yang mengalir adalah: mA 30 mA 300 mA 3000 mA Gelombang sinus mempunyai frekuensi 1000 Hz, maka waktu satu getarnya adalah: 0,001 detik 0,01 detik 0,1 detik 1 detik
89

10. a. 1 meter b. 10 meter c. 100 meter d. 1000 meter 11. a. 141,4 Veff b. 70,7 Veff c. 35,35 Veff d. 14,14 Veff 12. a. 127,4 Vmaks b. 227,2 Vmaks c. 330,6 Vmaks d. 349,2 Vmaks 13. induktif sebesar:
Modul ELKA-MR.UM.001.A

Gelombang sinus mempunyai frekuensi 3 MHz,

maka panjang gelombangnya adalah:

Tegangan bolak-balik yang terukur diosiloskop

sebesar 100 Vpp, maka besarnya tegangan efektip adalah:

Tegangan rata-rata dari tegangan bolak-balik

220 V, maka tegangan maksimumnya adalah:

Arus bolak-balik yang mengalir pada induktor

100 mH berfrekuensi 1000 Hz, maka akan menghasilkan reaktansi

90

a. 314 Ohm b. 628 Ohm c. 1000 Ohm d. 10000 Ohm 14. kondensator a. 159 Ohm b. 15,9 Ohm c. 1,59 Ohm d. 0,159 Ohm 15. Sebuah induktor 10 mH diparallel engan Arus 100 F bolak-balik berfrekuensi yang 1000 mengalir Hz, maka pada akan

menghasilkan reaktansi kapaitif sebesar:

kondensator 10 F, maka akan beresonansi pada frekuensi: a. 503,52 Hz b. 5035,2 Hz c. 50352 Hz d. 503520 Hz

Modul ELKA-MR.UM.001.A

91

16. resistor akan:

Arus bolak-balik yang mengalir pada sebuah

a. Sefasa dengan tegangannya b. Tertinggal 90o terhadap tegangannya c. Mendahului 90o terhadap tegangannya d. Berbeda fasa 180o terhadap tegangannya 17. induktor akan: a. b. c. d. 18. Sefasa dengan tegangannya Tertinggal 90o terhadap tegangannya Mendahului 90o terhadap tegangannya Berbeda fasa 180o terhadap tegangannya Arus bolak-balik yang mengalir pada sebuah Arus bolak-balik yang mengalir pada sebuah

kondensator akan: a. Sefasa dengan tegangannya b. Tertinggal 90o terhadap tegangannya c. Mendahului 90o terhadap tegangannya d. Berbeda fasa 180o terhadap tegangannya 19. dasan: a. 9 b. 10
Modul ELKA-MR.UM.001.A 92

Bilangan biner (1100)2 sama dengan bilangan

c. 11 d. 12 20. biner: a. (111111)2 b. (110111)2 c. (101111)2 d. (111110)2 21. dasan: a. 64 b. 83 c. 94 d. 105 22. oktal: a. (102)8 b. (103)8 c. (151)8 d. (183)8 23. biner:
Modul ELKA-MR.UM.001.A 93

Bilangan dasan (63)10 sama dengan bilangan

Bilangan oktal (123)8 sama dengan bilangan

Bilangan dasan (105)10 sama dengan bilangan

Bilangan oktal (94)8 sama dengan bilangan

a. (10010100)2 b. (10101010)2 c. (11101100)2 d. (11111001)2 24. bilangan dasan: a. 44 b. 64 c. 76 d. 86 25. mVpp, a. 40 dB b. 32 dB c. 20 dB d. 16 dB C. Soal nomor 26 sampai nomor 30 berdasarkan ranah Psikomotor (Keterampilan) 26. Pemancar AM mengudara dengan panjang gelombang 60 meter. Hitunglah frekuensi pancarannya. Sebuah penguat Audio outputnya mengeluarkan diberi sinyal input 100 4 Vpp. Besarnya Bilangan hexadesimal (4C)16 sama dengan

sinyal

penguatan tegangannya adalah:

Modul ELKA-MR.UM.001.A

94

27. 28.

Sebuah induktor 1 mH dipasang pada sumber sinyal AC Rangkaian penentu frekuensi sebuah osilator terdiri dari L

berfrekuensi 10000 Hz. Hitunglah nilai reaktansi induktifnya. dan C yang diparallel. Jika nilai C = 100 pF dan frekuensi resonansinya 1 MHz. Hitunglah nilai L nya. 29. 30. Rubahlah bilangan oktal (234)8 menjadi bilangan biner (......)2. Jumlahkan bilangan biner (110)2 + (1110)2 = (.....)2

Modul ELKA-MR.UM.001.A

95

B. Tes Praktik
Ukurlah tegangan puncak-kepuncak dari tegangan bolak-balik yang dikeluarkan oleh lilitan sekunder sebuah trafo daya 220 V/30 V dengan memakai osiloskop. Konversikan hasil pengukuran tersebut kedalam tegangan efektip dan tegangan rata-ratanya. Setelah itu ukurlah tegangan sekunder trafo tersebut menggunakan volt meter digital. Apakah hasilnya sama dengan hasil konversi tegangan efektip.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

96

KUNCI JAWABAN
A. Tes Tertulis
No. Soal 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. Jawaban
D D A B C A B B A C C D B C A A B C D A B C A C B F = 300000000/ F = 300000000/60

Skor Maksimu m
2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 10

Perolehan Skor

Modul ELKA-MR.UM.001.A

97

No. Soal 27. 28.

Jawaban
F = 5000000 Hz F = 5 MHz XL = 2 f L XL = 2x3,14x10000x1.10-3 XL = 62,8 Ohm fr = 1/(2 L C) 1.106= 1/(2x3,14 Lx100.10-12) 1.106= 1/(6,28x10.10-6 L) 1.106= 1/(62,8x10-6 L) 1.106x62,8x10-6 L = 1 1 L = 1/62,8 L = 0,0159 L 62,8 x L =

Skor Maksimu m
10 10

Perolehan Skor

29. 30.

L = (0,0159)2 L = 0,000253 = 253 x 10-6 H L = 253 H (234)8 = (010011100)2 (110)2 + (1110)2 = (10100)2 Jumlah

10 10 100

Modul ELKA-MR.UM.001.A

98

B.
Nama Peserta No. Induk Program Keahlian

Lembar Penilaian Tes Praktik

: . : . : . : . PEDOMAN PENILAIAN

Nama Jenis Pekerjaan

No.
1

Aspek Penilaian
2

Skor Maks.
3

Skor Peroleha n
4

Keterangan
5

1.

Perencanaan 2.1. Persiapan alat dan bahan 2.2. Menganalisa jenis pekerjaan Sub total Kebenaran Pengukuran 2.1. Ketepatan pembacaan hasil pengukuran 2.2. Ketepatan menghitung Sub total Keselamatan Kerja 3.1. Mentaati ketentuan keselamatan kerja Sub total 5. Ketepatan Waktu

5 5 10 25 15 40 10 10 20 20

2.

3.

4. Sub total

Modul ELKA-MR.UM.001.A

99

7. Sikap/Etos Kerja 7.1. Tanggung jawab 5. 7.2. Ketelitian 7.3. Inisiatif 7.4. Kemandirian Sub total 9. Laporan 9.1. Sistimatika 6. penyusunan laporan 9.2. Kelengkapan bukti fisik Sub total Total

2 3 3 2 10 4 6 10 100

KRITERIA PENILAIAN

No . 1.

Aspek Penilaian Perencanaan 1.1Persiapan alat dan bahan

Kriteria Penilaian

Sko r

Alat

dan bahan disiapkan sesuai kebutuhan Alat dan bahan disiapkan tidak sesuai kebutuhan

5 1 5 1 25 10 15 5

1.2Menganalisa jenis pekerjaan

Merencanakan

sesuai

rangkaian Tidak merencanakan sesuai dengan rangkaian 2. Kebenaran Pengukuran 2.1. Ketepatan pembacaan hasil pengukuran

Pengukuran tepat Pengukuran kurang tepat Menghitung tepat Menghitung kurang tepat

2.2.Ketepatan menghitung

Modul ELKA-MR.UM.001.A

100

No . 3.

Aspek Penilaian Keselamatan Kerja 3.1.Mentaati ketentuan keselamatan kerja Ketepatan Waktu

Kriteria Penilaian Mentaati keselamatan kerja Kurang mentaati keselamatan kerja Waktu yang dipergunakan kurang dari yang disediakan Waktu yang dipergunakan tepat dari yang disediakan Waktu yang dipergunakan lebih dari yang disediakan

Sko r 10 5 20 15 5

4.

5.

Sikap/Etos Kerja 5.1. Tanggung jawab

Membereskan kembali alat

dan bahan yang dipergunakan Tidak membereskan alat dan bahan yang dipergunakan 5.2.Ketelitian

2 1 3 1 3 1 2 1

Tidak banyak melakukan


kesalahan kerja kerja

Banyak melakukan kesalahan


5.3.Inisiatif

Memiliki inisiatif bekerja Kurang/tidak memiliki inisiatif


kerja

5.4.Kemandirian

Bekerja tanpa banyak

diperintah Bekerja dengan banyak diperintah

Modul ELKA-MR.UM.001.A

101

Modul ELKA-MR.UM.001.A

102

Lembar Penilaian Akhir: Untuk mendapatkan nilai akhir (NA), maka nilai teori dan nilai praktik dibobot yaitu nilai teori 30% dan nilai praktik 70%. NILAI (N) Praktik Bobot (NP) (70%xNP)

Teori (NT)

Bobot (30%xNT )

Nilai Akhir (NA) = (30%xNt) + (70% x NP)

Kesimpulan: Berdasarkan perolehan nilai akhir (NA) yang diperoleh Siswa 7,00/< 7,00 *), maka Siswa tersebut dapat/belum dapat *) melanjutkan mempelajari modul berikutnya. ......................., ..................... 200 Pembimbing

---------------*) Coret salah satu

Modul ELKA-MR.UM.001.A

103

BAB. IV PENUTUP
Setelah menyelesaikan modul ini, maka Anda berhak untuk mengikuti tes praktik untuk menguji kompetensi yang telah dipelajari. Dan apabila Anda dinyatakan memenuhi syarat kelulusan dari hasil evalusi dalam modul ini, maka Anda berhak untuk melanjutkan ke topik/modul berikutnya. Mintalah pada Pengajar/Instruktur untuk melakukan uji kompetensi dengan sistem penilaiannya dilakukan langsung dari pihak dunia industri atau asosiasi profesi yang berkompeten apabila Anda telah menyelesaikan suatu kompetensi tertentu. Atau apabila Anda telah menyelesaikan seluruh evaluasi dari setiap modul, maka hasil yang berupa nilai dari instruktur atau berupa porto folio dapat dijadikan sebagai bahan verifikasi bagi pihak industri atau asosiasi profesi. Kemudian selanjutnya hasil tersebut dapat dijadikan sebagai penentu standard pemenuhan kompetensi tertentu dan bila memenuhi syarat Anda berhak mendapatkan sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh dunia industri atau asosiasi profesi.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

104

Modul ELKA-MR.UM.001.A

105

DAFTAR PUSTAKA
Dedy Rusmadi, 2000, Seri Elektronika: DIGITAL DAN RANGKAIAN, Penerbit CV. PIONIR JAYA, Bandung Wasito S, 1980, Pelajaran Elektronika, Penguat Frekuensi Tinggi, Jilid 2a, Penerbit Karya Utama, Jakarta Wasito S, 1979, Pelajaran Elektronika, Tehnik Transmisi, Jilid 2B, Penerbit Karya Utama, Jakarta M. Afandi dan Agus Ponidjo, 1978, Ilmu Listrik 2, Proyek Pengadaan Buku/Diktat Pendidikan Menengah Teknologi. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Indonesia.

Modul ELKA-MR.UM.001.A

106

Anda mungkin juga menyukai