Anda di halaman 1dari 42

CLINICAL SCIENCE SESSION UVEITIS ANTERIOR

MUHAMAD WIRAWAN ADITYO 12100109003

Preseptor: dr. Gilang Mutiara Sp.M

UVEA
Uvea terdiri dari:
Iris. Badan siliar (corpus siliaris). Koroid.

Uvea anterior terdiri dari iris dan badan siliar. Uvea posterior terdiri dari koroid.

Gambar 1. Uvea

IRIS
Merupakan lanjutan dari badan siliar ke depan yang mengandung pigmen dan merupakan diafragma yang membagi bola mata menjadi dua segmen, yaitu segmen anterior dan segmen posterior, dan di tengah terdapat lubang yang dinamakan pupil. Selain itu, iris juga membagi bilik mata menjadi bilik mata depan dan bilik mata belakang

Otot-otot yang terdapat di dalam iris: Otot sfingter pupil (M. sphincter papillae), letaknya di dalam stroma dekat pupil dan dipersarafi oleh saraf parasimpatis N.III. Otot dilator pupil (M. dilator papillae), berjalan radier dari akar iris ke pupil dan dipengaruhi saraf simpatis N.III.

Vaskularisasi iris diurus oleh arteri siliaris posterior longus yang merupakan cabang dari arteri oftalmika yang membentuk jaringan pembuluh darah. Sirkulus arteriosus minoris terdapat di apeks dan terlihat dari luar. Antara kedua sirkulus beranastomose berupa pembuluh darah yang berbentuk spiral. Pembuluh darah balik mengikuti arteri kemudian masuk ke dalam vena vortikosa.

Pada permukaan anterior iris terdapat lekukan-lekukan yang berjalan radier disebut kripta. Dalam stroma terdapat sel-sel pigmen, pembuluh darah, dan serabut saraf. Permukaan anterior iris ditutup oleh endotel kecuali pada kripta, dimana pembuluh darah dalam stroma dapat berhubungan langsung dengan cairan bilik mata depan yang memungkinkan terjadinya pengaliran nutrisi ke bilik mata depan dan sebaliknya dengan cepat.

Bagian posterior dilapisi dengan 2 lapisan epitel, yang merupakan lanjutan dari pigmen retina. Warna iris tergantung dari jumlah sel-sel pigmen dalam stroma yang dapat berubahubah dan juga epitel pigmen yang jumlahnya tetap.

Gambar 2. Iris

CORPUS SILIARIS
Merupakan suatu jaringan yang berbentuk segitiga (pada potongan melintang) yang terletak melekat pada sklera, dan berhubungan erat dengan uvea posterior di sebelah belakang dan iris di sebelah depan. Badan siliar terdiri atas 2 bagian yaitu pars korona (bergerigi dan panjangnya kira-kira 2mm) dan pars plana (tidak bergerigi dan panjangnya kira-kira 4mm).

Badan siliar terdiri atas 2 bagian: Pars korona/pars plikata (panjang + 2mm)
Merupakan lapisan anterior yang terdiri atas beberapa lipatan dan diliputi 2 lapisan epitel sebagai kelanjutan dari epitel iris. Bagian yang menonjol berwarna putih karena tidak mengandung pigmen.

Pars plana (panjangnya +4mm)


Terdiri dari lapisan tipis jaringan otot dan pembuluh darah dan diliputi epitel.

Gambar 3. Corpus Siliaris

Badan siliar memiliki 3 otot badan siliar yang berperan dalam akomodasi yaitu:
Radiar muskulus siliaris, Sirkular muskulus siliaris, dan Meridioner (longitudinal) muskulus siliaris.

Badan siliar mendapat aliran darah dari pleksus siliar yang juga memperdarahi iris dan kornea. Pada badan siliar, pembuluh darah ini terutama memberikan darah pada jonjot siliar yang akan menghasilkan air mata. Sedangkan untuk vena, vaskularisasi badan siliar berhubungan dengan vena yang mengalirkan darah ke vena vortikosa.

KOROID
Koroid merupakan lapisan berwarna coklat tua, terutama terdiri dari pembuluh darah yang dihubungkan oleh jaringan ikat dan terletak antara sklera dan retina.

Dibagi menjadi 4 lapisan: Suprakoroid


Mengandung lamella (merupakan membran tipis).

Pembuluh darah (stratum vasculosa)


Lapisan luar: pembuluh darah besar. Lapisan dalam: pembuluh darah sedang.

Lamina koriokapiler
Mendistribusikan nutrisi untuk bagian terluar retina.

Lamina vitrea, lamina elastika/basalis/membran Bruch


Merupakan membran non-selular, ada 2 lapisan:
Lamella elastika eksterna (sangat tipis). Lamella kutikula interna (lebih tebal).

Gambar 4. Lapisan-Lapisan Koroid

Lapisan pembuluh darah besar terutama terdiri dari anastomose arteri dan vena. Arteri berasal dari arteri siliaris brevis dan vena bermuara ke vena vortikosa. Koroid melekat pada pinggir N.II dan berakhir di ora serrata.

UVEITIS

DEFINISI
Uveitis dinyatakan sebagai inflamasi choroid (choroiditis), ciliary body (intermediate uveitis, cyclitis, peripheral uveitis, atau pars planitis), atau iris (iritis, iridocyclitis).

Berdasarkan anatomi menjadi 3 : 1. Uveitis anterior. 2. Uveitis intermediate. 3. Uveitis posterior.

uveitis

diklasifikasikan

Gambar 5. Pembagian Uveitis

ETIOLOGI
1. 2. 3. 4. 5. Eksogen. Infeksi sekunder. Endogen. Alergi. Konstitusi.

UVEITIS ANTERIOR
Uveitis anterior adalah radang pada traktus uvealis bagian depan. Uveitis anterior dapat dibagi menjadi 2 yaitu: 1. Iritis, bila peradangan hanya mengenai iris saja. 2. Iridosiklitis bila peradangan mengenai iris dan bagian depan corpus siliaris (pars plicata).

EPIDEMIOLOGI
Di Amerika bentuk tersering dari uveitis adalah uveitis anterior sekitar 90%. Setiap tahunnya insidensi uveitis sekitar 8 per 100.000 populasi. Tidak ada perbedaan ras maupun jenis kelamin untuk kejadian uveitis. Dapat terjadi pada semua umur (pasien ratarata berumur 45 tahun).

KLASIFIKASI
Secara onset dan durasi, dapat dibagi menjadi : 1. Akut, biasanya mendadak dan waktunya kurang dari 3 bulan sejak awal serangan. Memiliki gejala seperti fotofobia, nyeri kemerahan, penglihatan menurun, dan lakrimasi. 2. Kronik, bila sudah lebih dari 3 bulan sejak awal serangan, biasanya asimptomatik walaupun eksaserbasi akut dapat terjadi. Gejalanya seperti kemerahan yang ringan dan adanya floaters.

Tabel 1. Perbedaan uveitis bentuk granulomatosa dan nongranulomatosa.

ETIOLOGI
Penyebab uveitis anterior akut nongranulomatosa diantaranya trauma, diare kronis, penyakit Reiter, herpes simpleks, sindrom Bechet, sindrom Posner Schlosman, pascabedah, infeksi adenovirus, parotitis, influenza, dan klamidia. Nongranulomatosa uveitis anterior kronis dapat disebabkan oleh arthritis rheumatoid dan Fuchs heterokromik. Granulomatosa akut dapat terjadi akibat sarkoiditis, sifilis, tuberculosis, virus, jamur (histoplasmosis), atau parasit.

PATOFISIOLOGI
Patofisiologi uveitis anterior sebenarnya belum diketahui. Inflamasi pada iris dan ciliary body menyebabkan pecahnya blood occular barrier. Kondisi ini menyebabkan protein dan sel darah putih berekstravasasi ke aqueous, menghasilkan iritis yaitu terdapat tanda-tanda sel dan flare.

TANDA DAN GEJALA


Tanda-tanda yang dapat ditemukan pada uveitis anterior antara lain : 1. Injeksi silier. 2. Keratitic Precipitate (KP), adalah deposit seluler pada endotel kornea. 3. Aqueous cell : - < 5 = +/- 5-10 = +1 - 11-20 = +2 - 21-50 = +3 - >50 = + 4 - Hipopion. Aqueous cell dilihat dengan menggunakan slit lamp dengan cara cahanyanya diarahkan oblique dengan ukuran 3 mm x 1 mm dengan intensitas cahaya dan pembesaran maksimal.

4. Anterior vitrous cell, sebaiknya dibandingkan dengan aqueous cell. Pada iritis jumah aqueous cell jauh melebihi vitreous cell. 5. Aqueous Tyndall karena penghamburan cahaya (efek Tyndall terjadi karena adanya protein yang bocor ke aqueous humour melalui pembuluh darah iris yang rusak. Jika tidak ada sel, aqueus flare bukan indikasi adanya peradangan dan tidak memerlukan pengobatan. Cara melihatnya sama dengan cara melihat dari aqueous cell. Dapat dibagi menjadi :
faint : hanya terdeteksi = +1. moderate : iris jernih = +2. marked : iris berkabut, kabur = +3. padat dengan eksudat fibrin = +4.

6. Nodul iris, merupakan gambaran dari inflamasi granulamatous dan dapat dibagi menjadi:
Koeppe nodul, berbentuk kecil dan berada di tepi pupil. Busacca nodul, biasanya jarang dan terletak jauh dari pupil.

Gejala pada uveitis anterior adalah mata sakit, merah, fotofobia, dan penglihatan turun ringan dengan mata berair. Keluhan sukar melihat dekat pada pasien uveitis terjadi akibat ikut meradangnya otot-otot akomodasi.

Gambar 6. Fine keratic precipitates in a patient with ankylosing spondylitisassociated acute anterior uveitis.

Gambar 7. Small stellate keratic precipitates with fine filaments in a patient with Fuchs heterochromic iridocyclitis

Gambar 8. Acute anterior uveitis with plasmoid aqueous and hypopyon in a patient with ulcerative colitis

Gambar 9. Fuchs heterochromic iridocyclitis with cataract and iris heterochromia

Gambar 10. Iris atrophy in a patient with herpes simplex virusassociated anterior uveitis

TERAPI
1. Midriatik.
Short acting:
Tropicamide (0,5 % dan 1 % ) : durasi 6 jam. Cyclopentolate (0,5 % dan 1 %) : durasi 24 jam. Phenylepinephrine (2,5 % dan 10 %): durasi 3 jam.

Long acting:
Atrophine 1 %: durasi 2 minggu.

2. Steroid
Lokal: tetes mata, atau suntikan sub konjungtiva 2x1 minggu. Sistemik: dosis tinggi singkat dengan pemberian kortison/hidrokortison diberikan single dose 12 tablet selang sehari selama 5 kali, kemudian diturunkan setiap kali 2 tablet.

3. Analgetika untuk menghilangkan rasa sakit.

4. Penderita dirawat istirahat.


5. Mata yang sakit ditutup.

KOMPLIKASI
1. 2. 3. 4. 5. Ablasio retina, Kekeruhan vitreus, Retinitis proliferans, Katarak, dan Kerusakan korpus siliaris

Sekuele yang diantaranya:

dapat

terjadi

pada

uveitis,

Seluruh pinggiran iris melekat pada lensa yang disebut seclusion papillae. Pupil tertutup membran yang disebut occlusio papillae. Seluruh bagian posterior iris melekat pada lensa synechia posterior totalis. Akibat occlusio/seclusion papillae maka cairan bilik mata terhalang ke depan, sehingga iris terdorong ke depan disebut iris bombe. Sudut bilik mata depan menjadi kecil, sehingga dapat timbul glaukoma.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ernawan H, Lubis NT, Emran N. Uvea dan Traktus Uvealis. Dalam: Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-3. Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung; 2002. h. 244-76. Ilyas S. Uveitis. Dalam: Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-3. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2005. h. 94-5.

2.

3.

Shock JP, Harper RA. Dalam: Vaughan DG & Asburys. General Ophthalmology. Edisi ke-16. San francisco: Mc Graw Hill; 2004. h. 154169.
Moore KL, Dalley AF. Clinical Oriented Anatomy. Edisi ke-4. New York: Lipincot William & Wilkins; 2004. h. 370. Junqueira, LC. Histologi Dasar. Edisi Ke-8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1998. h. 370-78.

4. 5.