Anda di halaman 1dari 25

CARPAL TUNNEL SYNDROME

Pembimbing :

dr. Yudi Yuwono Wiwoho, Sp.BS

Penyusun :

Fildzah Dini Safitri (030.06.092)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Umum Pusat Angkatan Udara Periode 18 November 18 Januari 2012 Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

STATUS ILMU BEDAH SARAF SMF BEDAH SARAF RUMAH SAKIT DR. ERWAN ANTARIKSA ANGKATAN UDARA Nama Mahasiswa NIM : FILDZAH DINI SAFITRI : 030.06.092

Dokter Pembimbing : dr. YUDI YUWONO WIWOHO Sp.BS

IDENTITAS PASIEN Nama lengkap Usia : Ny. Euis Ratna : 57 tahun : Menikah Jenis kelamin Suku bangsa Agama Tanggal : Perempuan : Jawa : Islam masuk RS: 2

Status perkawinan Pekerjaan Desmber 2012 Alamat

: Pensiunan

: Kelapa II Wetan jakarta

Ruangan

: Cendrawasih

ANAMNESIS Diambil dari autoanamnesis dengan pasien, pada tanggal 2 Desember 2012 Jam 12.30 WIB

II.

Keluhan Utama Rasa nyeri dan pegal pada tangan sebelah kiri

III.

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan rasa nyeri dan pegal pada tangan sebelah kiri yang sudah dirasakan sejak 1 tahun yang belakangan ini, awalnya timbul rasa kesemutan pada telapak tangan terutama pada ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah yang kemudian rasa kesemutan itu menjalar sampai ke lengan bawah. Gejala menjadi lebih jelas apabila untuk bekerja menggunakan tangan kiri berlebihan. Sekarang pasien juga merasa terkadang tangannya menjadi baal dan menjadi kurang kuat disertai rasa pegal yang timbul saat menggenggam sesuatu terlalu lama atau sedang bilas saat buang air dengan tangan.

Sebelumnya pasien pernah melakukan pengobatan ke dokter umum dan keluhan tidak membaik, dokter juga sudah menyarankan untuk melakukan tindakan operasi, tetapi pasien takut. Jenis obat yang diminum adalah penghilang rasa nyeri (analgetik). IV. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien pernah dilakukan operasi carpal tunnel syndrome pada tangan sebelah kanan pada tahun 1994. Pasien mempunyai riwayat terjatuh pada tangan kiri berupa fr. Radius distal kiri dan di pasang gips pada tahun 2009. Pasien mempunyai riwayan DM dan Hipertensi V. Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit diabetes melitus (+) Riwayat hipertensi (+) Tidak ada riwayat keluhan yang sama pada keluarga

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu : Tampak sakit sedang : Compos Mentis : 130 / 80 mmHg : 80 x/menit, reguler : 22x/ menit, reguler, teratur : 36 0 C

STATUS GENERALIS Kepala Mata : Normosefali, simetris : CA (-/-), SI (-/-), pupil isokor

Pemeriksaan telinga : Otore (-/-), deformitas (-/-) Pemeriksaan hidung : Deformitas (-/-), rhinorrhea (-/-) Pemeriksaan mulut Leher : Bibir kering (-), faring hiperemis (-) : Tidak ada pembesaran KGB, JVP tidak meningkat Tiroid dalam batas normal

Pulmo Jantung Abdomen

: Bentuk dan gerak simetris, suara dasar vesikuler, Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-) : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-) : Supel, datar Hepar/Lien tidak teraba Timpani, BU (+), NT(-)

Ekstremitas

: Akral hangat pada kedua ekstremitas, tidak ada oedem, tes tunel (+), tes phalen (+), Jejas post operasi fr.radius.

STATUS NEUROLOGIS Kesadaran GCS Kepala : Compos Mentis : E4 M6 V5 (15) : Normocephaly Mata : pupil isokor STATUS LOKALIS Inspeksi Palpasi Perkusi Transluminasi : Tampak jejas post operasi pada tangan kanan : Tes tunel (+), Tes phalen (+) : (-) : (-)

TANDA RANGSANGAN MENINGEAL Kaku kuduk Brudzinski I Brudzinski II Laseque Kernig : : : : : negatif negatif negatif negatif negatif

NERVI CRANIAL NI Daya penghidu N II Ketajaman penglihatan (hitung jari) Pengenalan warna Lapang pandang (konfrontasi) Funduskopi N III, N IV, N VI Ptosis Strabismus Nistagmus Exoptalmus Enoptalmus Gerakan bola mata N. V Lateral Medial Atas lateral Atas medial Bawah medial Bawah lateral Atas Bawah : : : : : : : : dapat dilakukan dapat dilakukan dapat dilakukan dapat dilakukan dapat dilakukan dapat dilakukan dapat dilakukan dapat dilakukan : : : : : negatif tidak dilakukan tidak dilakukan negatif negatif : : : : tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan : tidak dilakukan

Mengigit (M.messeter, M temporalis) : Membuka mulut Sensibilitas o Atas o Tengah o Bawah : : : :

dapat dilakukan dapat dilakukan

tidak dilakukan : tidak dilakukan

tidak dilakukan tidak dilakukan

N. VII Pasif

Refleks masseter

Aktif

Kerutan kulit dahi Kedipan mata Mengerutkan dahi Mengerutkan alis Menutup mata dengan kuat Meringis/menyeringai Menggembungkan pipi Gerakan bersiul Daya pengecapan lidah 2/3 lidah depan

: : : : : : : : :

tidak dilakukan dapat dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan

N. VIII N. IX Mendengarkan detik arloji Tes schwabach Tes rinne Tes weber : : : : tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan

N. X N. XI N. XII

Arcus pharynx Posisi uvula

: :

tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan

Daya pengecapan lidah 1/3 belakang : Refleks muntah :

Arcus pharynx Bersuara Menelan

: : :

tidak dilakukan dapat dilakukan dapat dilakukan

Memalingkan kepala Sikap bahu Mengangkat bahu

: : :

dapat dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan

Menjulurkan lidah Atrofi lidah artikulari Tremor lidah Fasikulasi

: : : :

dapat dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan

MOTORIK Gerakan Kekuatan otot Tonus otot Trofi : : : : Normal Lemah pada bagian tangan kiri Menurun pada bagian tangan kiri -

REFLEKS FISOLOGIS Refleks tendon

o Refleks biceps o Refleks triseps o Refleks patella o Refleks achilles

: : : :

tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan

REFLEKS PATOLOGIS Hoffman trommer Babinski Chaddock Openheim Gordon Schaefer : : : : : : tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan

SENSIBILITAS Eksteroseptif o Nyeri o Suhu o Taktil Propioseptif o Vibrasi o Posisi o Tekan dalam KOORDINASI DAN KESEIMBANGAN Tes telunjuk hidung Test telunjuk telunjuk Tes tumit lutut : : : tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan : : : tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan : : : dapat dilakukan dapat dilakukan tidak dilakukan

Tes romberg Tes fukuda Disdiadokinesis

: : :

tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan

FUNGSI OTONOM Miksi Defekasi : : tidak dilakukan tidak dilakukan

FUNGSI LUHUR Fungsi bahasa Fungsi orientasi Fungsi memori Fungsi emosi Fungsi kognisi : : : : : tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan

DIAGNOSA KLINIS : dymielinitis n.medianus dextra PEMERIKSAAN PENUNJANG : Pemeriksaan laboratorium : Hb Trombosit Ht Leukosit LED Bleeding time Clotting time Ureum Creatinin : 13 gr/dl : 332.000 /mm3 : 39 % : 9200 /mm3 : 15 mm/jam : 230(1-3 menit) : 5 (2-6 menit) : 40 mg % : 0.63 mg %

GDP GDPP Hitung jenis -

: 125 mg/dl : 95 mg/dl

Eosinofil : 1 % Segmen : 76 % Limfosit : 21 % Monosit : 2 %

Pada pemeriksaan EMG (Elektromiografi), didapatkan : Diemyelintis N.Medianus kanan dan kiri

RESUME Pasien Perempuan, 59 tahun datang dengan keluhan rasa nyeri dan pegal pada tangan sebelah kiri yang sudah dirasakan sejak 1 tahun belakangan ini, awalnya timbul rasa kesemutan pada telapak tangan terutama pada ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah yang kemudian rasa kesemutan itu menjalar sampai ke lengan bawah. Gejala menjadi lebih jelas apabila untuk bekerja menggunakan tangan kiri berlebihan. Sekarang pasien juga merasa terkadang tangannya menjadi baal dan menjadi kurang kuat disertai rasa pegal yang timbul saat menggenggam sesuatu terlalu lama atau sedang bilas setelah buang air dengan tangannya. Sebelumnya pasien pernah melakukan pengobatan ke dokter umum dan keluhan tidak membaik, dokter juga sudah menyarankan untuk melakukan tindakan operasi, tetapi pasien takut. Jenis obat yang diminum adalah penghilang rasa nyeri (analgetik). Pasien pernah dilakukan operasi carpal tunnel syndrome pada tangan sebelah kanan pada tahun 1994. Pasien mempunyai riwayat terjatuh pada tangan kiri berupa fr. Radius distal kiri dan di pasang gips pada tahun 2009. Pasien mempunyai riwayat DM dan Hipertensi. Riwayat keluarga mempunyai riwayat DM dan Hipertensi. Pada pemeriksaan EMG (Elektromiografi), didapatkan : Diemyelintis N.Medianus kanan dan kiri

Tidakan yang dilakukan terhadap pasien adalah di konsul dr. Yudi Yuwono, Sp. BS untuk dilakukan tindakan operasi pembedahan dan konsul ke dokter anestesi, untuk mempersiapkan operasi. DIAGNOSA KERJA : Carpal tunnel syndrome sinistra dengan post pasang gips fr. Radius distal sinistra PENATALAKSANAAN: Konsul dr. Yudi Yuwono, Sp. BS Rawat Pro operasi release carpal tunnel syndrome : Instruksi Persiapan operasi CTS: Surat ijin operasi Konsul anestesi Hubungi / dijadwalkan ke OK Puasa 8 jam sebelum operasi 1 jam pre-operasi injeksi ceftizoxime 2 gram IV (sebelumnya dilakukan skin test)

Penemuan Pembedahan (2 Desember 2012) : Laporan tindakan bedah : Pasien telentang diatas meja operasi dengan sedasi ringan Asepsis dan antisepsis daerah lapangan operasi dan sekitarnya Infiltrasi anestesi local disepanjang rencana insisi kulit dengan lidokain dan bupivakain Insisi linier di palmar tangan sinistra sehingga tebukanya ligament carpi

transversum Pendarahan dirawat dengan kauter Pasang spinder kulit Insisi diperdalam sampai teridentifikasi flexor retinaculum (ligamentum carpi transversum)

Di lakukan penutupa ligament carpi transversum searah N. medianus yang terletak di bawahnya Perdarahan dirawat Luka operasi ditutup lapis demi lapis. (Operasi selesai)

Instruksi post op (2 Desember 2012) : Awasi KU, kesadaran, tanda vital Diit bebas, minum bebas Mobilisasi duduk, jalan

Obat-obatan : Inj. Ceftizoxime 1 x 2 g IV Inj. Tramadol 3 x 1 IV Inj. Ondansentron 8mg 3 x 1 ampul IV Inj. Transamin 3 x 500 mg IV Inj. Ranitidin 2 x 1 IV Inj. Adona 3 x 1 ampul IV Inj. Vit K 3 x 1 ampul IV Inj. Metifer 3 x 1 ampul IV Inj. Ikaneuron 1 x 1 ampul drip IVFD

Infus RL 8 jam/kolf Bila tidak ada keluhan malam ini boleh rawat jalan Obat pulang : Cespan 2 x 200g tab Mefinal 3 x 500g tab Inj. Adona 3 x 1 tab Inj. Vit K 3 x 1 tab Kalnex 3 x 500g tab

Metifer 3 x 500mg tab Ikaneuron 5000 1 x 1 tab LAMPIRAN FOTO :

FOLLOW UP 3 Desember 2012 S : Keluhan nyeri (-) O : KU Baik , Compos Mentis, Afebris Status Lokalis : Luka operasi tenang, nyeri luka operasi saja A : Post Op CT Release hari ke 3 P : Ganti balut 4 Desember 2012

S : Keluhan nyeri (-) O : KU Baik , Compos Mentis, Afebris Status Neurologis: Tidak ada perburukan Status Lokalis : Luka operasi bagus A : Kontrol hari ke-7 post op CT Release P : App hecting + GV Th/ Aufix 2 x 200g Metifer 3 x 500mg tab Ikaneuron 5000 1 x 1 tab Enervon C 1 x 1

5 Desember 2012 S : Kadang-kadang timbul nyeri, sudah mengangkat barang berat O : KU Baik , Compos Mentis, Afebris Status Neurologis: Tidak ada perburukan Status Lokalis : Luka bekas operasi kering A : Kontrol post op CT Release P : GV Konsul fisioterapi Terapi obat diteruskan

TINJAUAN PUSTAKA

Carpal Tunnel Syndrome


Carpal tunnel syndrome adalah keadaan nervus medianus tertekan di daerah pergelangan tangan sehingga menimbulkan rasa nyeri, parestesia, dan kelelahan otot tangan. Tempat penekanan nervus medianus lainnya adalah di daerah siku. Ini menyebabkan sindrom pronator, yaitu pada gerak pronasi lengan bawah secara maksimal akan menimbulkan rasa nyeri. CTS lebih sering pada wanita, puncaknya pada usia 42 tahun (40-60 tahun). Risiko untuk menderita CTS sekitar 10% pada populasi dewasa.

I. Anatomi

Terowongan carpal merupakan kompartemen anatomi yang terletak di dasar pergelangan tangan. Sembilan tendon fleksor dan saraf median melewati terowongan karpal yang pada tiga sisinya dikelilingi oleh tulang karpal yang membentuk lengkungan. Saraf dan tendon menyediakan fungsi, perasaan, dan gerakan untuk beberapa jari. Otototot fleksor jari dan pergelangan tangan termasuk tendon mereka berasal di lengan bawah di epikondilus medial sendi siku dan menempel pada Metaphalangeal (MP), interphalangeal proksimal (PIP), dan interphalangeal distal tulang jari-jari dan jempol (BSI). Terowongan carpal sekitar selebar ibu jari dan batas yang terletak di lipatan kulit pergelangan tangan distal distal dan meluas ke telapak untuksekitar 2 cm.

Figure. 2 anatomi wrist

Saraf median dapat dikompresi dengan penurunan ukuran kanal, peningkatan ukuran isi (seperti pembengkakan jaringan pelumas di sekitar tendon fleksor), atau keduanya. Cukup

melenturkan pergelangan tangan ke 90 derajat akan mengurangi ukuran kanal. Kompresi saraf median karena dijalankan dalam untuk ligamen karpal transversal (TCL) menyebabkan atrofi eminensia tenar, kelemahan fleksor polisis brevis, polisis opponens, polisis brevis abductor, serta kehilangan sensori dalam distribusi saraf median distal ligamentum karpal transversal. Ada cabang sensorik superfisial saraf median, yang cabang proksimal ke TCL dan perjalanan dangkal untuk itu. Cabang ini Oleh karena itu terhindar, dan innervates telapak ke arah jempol. II. PATOFISIOLOGI Sindroma Terowongan Karpal terjadi perlahan-lahan (kronis). Pada jaringan pelindung tendon yaitu tenosynovium membengkak, dicurigai karena cairan synovial yang berfungsi melindungi dan melumasi tendon tertimbun, terjadi juga penebalan fleksor retinakulum. Kedua keadaan ini akan menekan n.Medianus. Tekanan yang berulang-ulang dan lama pada n.Medianus akan menyebabkan tekanan intrafasikuler meninggi. Keadaan ini menyebabkan perlambatan aliran vena. Kongesti ini lama-lama akan mengganggu nutrisi intrafasikuler, selanjutnya terjadi anoksia yang akan merusak endotel, menimbulkan kebocoran protein sehingga terjadi edema epineural. Hipotesa ini dapat menerangkan keluhan yang sering pada Sindroma Terowongan Karpal yaitu berupa rasa nyeri dan sembab terutama malam atau pagi hari, yang akan berkurang setelah tangan yang bersangkutan digerak-gerakan atau diurut, mungkin karena perbaikan dari gangguan vaskuler ini. Bila keadaan berlanjut terjadi fibrosis epineural dan merusak serabut saraf. Selanjutnya saraf menjadi atrofi dan diganti jaringan ikat sehingga fungsi n.Medianus akan terganggu. Pada Sindroma Terowongan Karpal yang akut, biasa terjadi kompresi yang melebihi tekanan perfusi kapiler, sehingga terjadi gangguan mikrosirkulasi saraf. Saraf menjadi iskemik, terjadi peninggian tekanan fasikuler yang juga akan memperberat keadaan iskemik ini. Selanjutnya terjadi pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan edema yang menimbulkan terganggunya sawar darah saraf dan selanjutnya merusak saraf tersebut. Pengaruh mekanik/tekanan langsung pada saraf tepi dapat pula menimbulkan invaginasi nodus Ranvier dan demieliminasi setempat sehingga

konduksi saraf terganggu. Selainnya dari faktor mekanik dan vaskuler ini mungkin ada keadaan lain yang membuat n.Medianus menderita dalam terowongan karpal.

III. Etiologi
Sebagian besar kasus CTS (>50%) bersifat idiopatik, terutama pada penderita lanjut usia. Selain itu gerakan yang berulang-ulang pada pergelangan tangan dapat menambah resiko Carpal Tunnel Syndrom. Berbagai kondisi dapat berkontribusi sebagai penyebab, yaitu: 1. Herediter (keturunan) 2. Trauma (trauma langsung pada pergelangan tangan, pekerjaan dengan gerakan mengetuk atau fleksi dan ekstensi pergelangan tangan yang berulang) 3. Infeksi (tuberculosis) 4. Metabolik (Asam urat) 5. Endokrin (terapi estrogen dan androgen, diabetes mellitus, kehamilan) 6. Keganasan 7. Penyakit kolagen pembuluh darah (artritis reumatoid, polimialgiareumatika) 8. Degenerasi (osteoartitis) 9. Tumor IV. GEJALA KLINIS a) Gangguan sensorik Pada tahap awal gejala umumnya berupa gangguan sensorik saja. Gejala awal biasanya adalah parestesia, kurang merasa (numbness) atau rasa jari seperti terkena aliran listrik (tingling) pada jari dan setengah sisi radial jari, walaupun kadang-kadang dirasakan mengenai seluruh jari, keluhan parestesia biasanya lebih menonjol di malam hari. Gejala lainya adalah nyeri ditangan yang juga dirasakan lebih memberat di malam hari sehingga sering membangunkan penderita dari tidurnya. Rasa nyeri umunya agak berkurang bila penderita memijat atau menggerak-gerakan tanganya atau dengan meletakan tanganya pada posisi yang lebih tinggi. Nyeri juga akan

berkurang bila penderita lebih banyak mengistirahatkan tanganya. Bila penyakit berlanjut rasa nyeri dapat bertambah berat dengan frekuensi serangan yang semakin sering bahkan dapat menetap. Kadang-kadang nyeri dapat terasa sampai kelengan atas dan leher, sedangkan parestesia umumnya terbatas di daerah distal pergelangan tangan. Dapat pula dijumpai pembengkakan dan kekakuan pada jari-jari tangan dan pergalangan tangan terutama di pagi hari. Gejala ini akan berkurang setelah penderita menggunakan tanganya. Hiperetesia dapat dijumpai pada daerah yang implus sensoriknya diinervasi oleh nevus medianus.

Figure 3. sign and symptoms b) Gangguan motoris Pada tahap lebih lanjut penderita mengeluh jari-jarinya menjadi kurang terampil misalnya saat atau memungut benda-benda kecil. Kelemahan pada tangan juga sering dinyatakan dengan keluhan adanya kesulitan yang penderita sewaktu menggenggam. Pada penderita CTS ini pada tahap lanjut dapat dijumpai atrofi otot-otot thenar dan otot-otot lainya yang diinervasi oleh nervus medianus. Klasifikasi stadium: NO 1 2 3 4 STADIUM STK Asimptomatik Ringan Sedang Berat Berat sekali GEJALA (+), Intermitten (+/-), kontinyu Selalu ada Tanda-tanda Phalen & Tinel (+) Phalen & Tinel (+) Defisit neurologis (+/-) Atrofi tenar

V. PEMERIKSAAN Untuk itu dapat dilakukan beberapa pemeriksaan dan tes provokasi untuk mempertajam diagnosis. 1. Tes Phalen (Phalens test) Penderita diminta untuk fleksi palmar secara maksimal. Bila sebelum 60 detik timbul rasa kebas, kesemutan atau seperti kena listrik pada daerah distribusi n.Medianus, tes dinyatakan positif. Banyak penulis yang menyatakan tes ini baik untuk diagnosis Sindroma terowongan karpal, dengan sensitifitas 75% dan spesifisitas 95%. (Pemeriksaan ini juga dilakukan serentak pada kedua tangan agar dapat dibandingkan). Walaupun Sindroma Terowongan Karpal banyak yang bilateral, tangan mana yang lebih dahulu positif dapat menentukan bahwa Sindroma Terowongan Karpal pada tangan tersebut lebih berat dari tangan yang satu lagi. (Tes ini tak dapat dinilai bila ada gangguan pergerakan sendi). 2. Tanda dari Tinel (Tinels sign) Dengan mengetok n.Medianus melalui fleksor retinakulum di lipat pergelangan tangan, tepat lateral tendo palmaris longus, dalam posisi sedikit dorsofleksi, timbul rasa seperti kena listrik atau nyeri pada daerah distribusi n.Medianus, distal pergelangan, tes dinyatakan positif. Ketokan sebaiknya dengan perkusi yang cukup besar sehingga dapat mengetok seluruh fleksor retinakulum. Ketokan dengan jari biasanya kurang memadai. Bila rasa nyeri yang timbul menjalar ke arah proksimal, mungkin jebakan terletak proksimal dari terowongan karpal. Dan bila rasa nyeri menjalar ke distal dan proksimal, mungkin ada suatu double crush yaitu jebakan terjadi di terowongan karpal dan juga di proksimal terowongan karpal. Tes ini memiliki sensitifitas 64% dan spesifisitas mencapai 99% untuk mendiagnosis Sindroma Terowongan Karpal. 3. Tanda mengibaskan tangan (Flick sign) Penderita diminta mengibaskan tangannya atau menggerak-gerakan jarinya. Bila dengan cara ini keluhannya berkurang atau menghilang maka akan mendukung diagnosis Sindroma Terowongan Karpal. 6. Tes ekstensi pergelangan (Wrist extension test)

Penderita diminta ekstensi dorsal pergelangan secara maksimal. Bila sebelum 60 detik timbul rasa kebas, semutan atau seperti kena listrik pada daerah distribusi n.Medianus, dinyatakan tes positif hal ini dapat menyokong diagnosis Sindroma Terowongan Karpal. (sebaiknya pemeriksaan dilakukan serentak pada kedua tangan sehingga dapat dibandingkan). Bila ada gangguan pergerakan sendi (arthritis, ankylose dll) tes ini tak dapat dinilai. 7. Tes bendungan (Tourniquet test) Dengan melakukan bendungan memakai alat pemeriksa tekanan darah (tensimeter) proksimal siku sedikit diatas tekanan sistolik. Bila dalam 60 detik timbul rasa kesemutan, kebas atau seperti kena listrik pada derah distribusi n.Medianus, tes dinyatakan positif hal ini menyokong untuk diagnosis Sindroma Terowongan Karpal. (Tes ini akan positif pula pada beberapa penyakit lain misalnya penyakit Raynaud). 8. Tes Tekanan (Pressure test) Dengan memakai ibu jari, n.Medianus di pergelangan (tempat memeriksa tanda dari Tinel) ditekan dengan lembut. Bila dalam waktu < 120 detik timbul rasa kesemutan, kebas, seperti kena listrik ataupun nyeri di daerah distribusi n.Medianus dinyatakan tes positif, menyokong untuk diagnosis Sindroma Terowongan Karpal. (Pemeriksaan dilakukan serentak pada kedua tangan).

VI.Pemeriksaan Penunjang
1. Elektrofisiologi Diagnostik Electromyography (EMG) : dapat ditemukan gelombang tajam, potensial fibrilasi dan aktivitas insrsional yang meningkat. Kecepatan hantar saraf : sinyal akan tertangkap lebih lambat dan lemah.

2. Pencitraan MRI USG : terdapat peningkatan area cross-sectional dari nervus medianus di carpal tunnel dibandingkan dengan kontrol.

VII. Penatalaksanaan
Istirahatkan pergelangan tangan, menghindari gerakan berulang/berlebihan pergelangan tangan dan tangan yang dapat mengeksaserbasi gejala. 1. Bidai pergelangan tangan : biasanya digunakan pada pasien dengan gejala ringan sampai sedang yang berlangsung kurang dari 1 tahun. Digunakan untuk mereposisi tangan supaya tidak fleksi dan ekstensi tangan.

Figure. 4 bidai pergelangan tangan 2. Obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID). Berfungsi untuk menghilangkan nyeri jika terdapat peradangan. Contoh: ibuprofen, ketoprofen, dan naproxen. 3. Kortikosteroid. Disuntikan langsung ke carpal tunnel untuk menghilangkan nyeri. lnjeksi steroid. Deksametason 1-4 mg 1 atau hidrokortison 10-25 mg atau metilprednisolon 20 mg atau 40 mg diinjeksikan ke dalam terowongan karpal. Tindakan operasi dapat dipertimbangkan bila hasil terapi belum memuaskan setelah diberi 3 kali suntikan. Digunakan untuk menghilangkan nyeri dan mengurangi peradangan, sehingga mengurangi tekanan.

4. Operasi. Jika gejala CTS menetap disarankan untuk melakukan operasi carpal tunnel. Bertujuan untuk mengurangi tekanan di carpal tunnel yaitu dengan cara membelah lapisan transcutaneus (TCL/Transcutaneus layer). Pembedahan dilakukan untuk melebarkan kanalis karpalis dengan melepaskan ligamentum yang menjerat/menjepit atap dari kanalis karpalis, dibuka kemudian dilebarkan

ruangannya sehingga dapat menurunkan tekanan pada nervus medianus.

Figure. 5 terapi operatif

VIII.

DIAGNOSA BANDING

1. De quervein Syndrome 2. CRS (Cervical Root Syndrome) 3. Pronator teres Syndrome

IX. PROGNOSA STK derajat ringan: dengan pemberian obat oral, imobilisasi dan injeksi kortison serta rehabilitasi medik memberikan kesembuhan 80 %. STK sedang dan berat: bila injeksi kortison dan imobilisasi tidak bermanfaat, maka disarankan operasi. Kekambuhan setelah operasi 10 %.

TINJAUAN PUSTAKA
1. Viera AJ. Management of carpal tunnel syndrome. Am Fam Physician. 2003;68:265-72. 2. Ebenbichler GR, Resch KL, et al. Ultrasound treatment for treating carpal tunnel syndrome: randomised sham controlled trial. BMJ 1998;316:7315. 3. Diagnosis of the carpal tunnel syndrome [editorial]. Lancet 1985;9:8548. 4. Miller AL, Birdsall TC. Etiology and conservative treatment of carpal tunnel syndrome. Alt Med Rev 1997;2(1):26-35. 5. Mumenthaler M. Lesions of the peripheral nerves: median nerve. Neurology: a textbook for physicians and students with 185 self-testing questions 2 nd ed. ThiemeStraton, New York, 1983:415-9. 6. Kao SY. Carpal tunnel syndrome as an occupational disease. J Am Board Fam Pract 2003;16(6):533-42. 7. tevens JC, Sun S, Beard CM, O'Fallon WM, Kurband LT. Carpal tunnel syndrome in Rochester, Minnesota, 1961 to 1980. Neurology 1988;38:134-8.

8. Occupational disease surveillance: carpal tunnel syndrome. MMWR Morb Mortal Wkly Rep 1989;38:485-489. 9. DeKrom MCTFM, Knipschild PG, Kester ADM, et al. Carpal tunnel syndrome: prevalence in the general population. J Clin Epidemiol 1992;45:3736. 10. Dammers JWHH, Veering MM, Vermeulen M. Injection with methyl prednisolone proximal to the carpal tunnel: randomised double blind trial. BMJ 1999;319:8846. 11. Wibowo BS. Electrophysiological evaluation of carpal tunnel syndrome in jakarta. Neurona 2000;18:24-6. 12. Katz JN, Simmons BP. Carpal Tunnel Syndrome. N Engl J Med 2002;346;23:180711. 13. Moeliono F. Etiologi, diagnosis dan terapi sindroma terowongan karpal (s.t.k) atau (carpal tunnel syndrome/cts). Neurona 1993;10:16-27.