Anda di halaman 1dari 35

TEMUAN AUDIT

(Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Internal Audit) Dosen Pengampu: Ismawati Haribowo

Disusun Oleh: Citra Nopiani Nurmala Elistiani Heva Nur Adri Septayunani Adi Zamzam Zakiyah Untari Siti Qonita Luthfiyah (1110082000095) (1110082000097) (1110082000121) (1110082000126) (1110082000127) (1110082000144) (1110082000149)

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2013

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmaanirrahiim Puji dan syukur kami Kami panjatkan kehadirat Allal SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada umat manusia, serta yang telah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya. Shalawat dan salam kami sampaikan pula kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat-sahabat dan para pengikutnya sampai akhir zaman. Alhamdulillah atas pertolongan dan kemurahan-Nya, dengan penuh rasa tanggung jawab penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Temuan Audit, sebagai salah satu tugas untuk mengikuti mata kuliah Internal Audit. Makalah ini dapat pula digunakan untuk bahan kuliah. Makalah ini telah penulis susun dengan cermat, namun demikian masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan pada makalah-makalah selanjutnya. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dorongan kepada penulis guna terselesaikannya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat sesuai dengan apa yang penulis harapkan. Dan semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin

Jakarta, Mei 2013

Penyusun

DAFTAR ISI Kata Pengantar ................................................................................................................... i Daftar isi .............................................................................................................................. ii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 2 C. TujuanPenulisan ............................................................................................. 2 D. Metode Penulisan ........................................................................................... 2 E. Sistematika Penulisan ..................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................. 4 A. Definisi Temuan Audit ................................................................................... 4 B. Sifat-sifat Temuan Audit ................................................................................ 4 C. Ciri-ciri Temuan Audit yang Baik .................................................................. 5 D. Pendekatan Untuk Mengontruksi Temuan ..................................................... 6 E. Signifikansi Temuan Audit ............................................................................ 7 F. Elemen-elemen Temuan Audit ....................................................................... 9 G. Pencatatan dan Pelaporan Temuan Audit ....................................................... 16 BAB III KESIMPULAN ..................................................................................................... 30 Daftar Pustaka .................................................................................................................... 31

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Auditor internal adalah suatu aktivitas independen yang memberikan jaminan keyakinan serta konsultasi yang dirancang untuk memberikan suatu nilai tambah serta meningkatkan kegiatan operasi organisasi. melalui auditor internal yang salah satu fungsinya sebagai pelindung asset perusahaan sangatlah strategis sehingga ia harus dapat menempatkan posisi dan memegang peranan penting dalam setiap tahap langkah perubahan dan perkembangan yang berlangsung. Auditor internal dalam menjalankan operasinya seringkali menemukan temuantemuan audit. Temuan audit adalah hal-hal yang berkaitan dengan pernyataan tentang fakta yang terjadi dalam proses pengauditan. Dalam peranannya tersebut, maka seorang auditor internal harus dapat menganalisa dengan benar setiap temuan dalam proses audit agar tidak terjadi penyalahgunaan fungsi yang sesuai dengan kebijakan perusahaan. Kemampuan auditor dalam mengidentifikasikan temuan audit, mengkomunikasikan temuan tersebut, dan menentukan kesimpulan audit merupakan merupakan keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam diri auditor. Temuan audit dihasilkan dari proses perbandingan antara apa yang seharusnya terdapat dan apa yang ternyata terdapat dalam proses pengauditan. Dari hasil perbandingan tersebut, internal auditor memiliki dasar untuk membuat laporan. Temuantemuan audit dapat diatasi dengan pengendalian internal yang berjalan dengan baik, salah satunya dengan diadakan pemeriksaan internal oleh auditor. Auditor internal bertanggung jawab untuk menguji dan menilai kecukupan dan efektivitas dari tindakan yang diambil oleh manajemen. Oleh karena itu, auditor internal harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang temuan audit dan dapat mengidentifikasi indikator kemungkinan adanya temuan audit. Berdasarkan penjelasan di atas makalah ini membahas peran sikap profesionalisme auditor internal terhadap temuan audit.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan beberapa rumusan masalah, diantaranya: 1. Apa definisi temuan audit dan sifat-sifat temuan audit? 2. Bagaimana temuan yang dikatakan baik? 3. Bagaimana pendekatan untuk menghasilkan temuan audit? 4. Bagaimana pencatatan dan pelaporan dari hasil temuan audit? 5. Apa yang dimaksud dengan tingkat signifikansi temuan audit? 6. Elemen-elemen apa saja dalam temuan audit?

C. Tujuan Penulisan Berdasrakan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui definisi temuan audit dan sifat-sifat temuan audit. 2. mengetahui ciri-ciri temuan audit yang baik. 3. Mengetahui pendekatan untuk menghasilkan temuan audit. 4. Mengetahui pencatatan dan pelaporan dari hasil temuan audit. 5. Mengetahui tingkat signifikansi temuan audit. 6. Mengetahui elemen-elemen apa saja dalam temuan audit.

D. Metode Penulisan Penyusunan makalah ini menggunakan referensi-referensi dari beberapa media atau literatur serta beberapa buku yang diedit dan diunduh secara langsung.

E. Sistematika Penulisan Untuk dapat memahami dan mengerti lebih cepat dan lebih jelas tentang maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini, maka penulis menguraikannya secara sistematis, sehingga tergambar dengan jelas isi masing-masing bab.

BAB I

PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II

PEMBAHASAN Bab ini menguraikan tentang definisi temuan audit, sifat-sifat temuan audit, pendekatan untuk menghasilkan temuan, pencatatan dan pelaporan temuan audit, tingkat signifikansi temuan audit, serta elemen-elemen temuan audit.

BAB III KESIMPULAN

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Temuan Audit Temuan audit (audit findings) menurut Sawyer adalah penyimpangan dari normanorma atau kriteria yang dapat diterima. Temuan audit menurut I Gusti Agung Ra dalam buku Audit kinerja pada sektor publik: konsep, praktik, studi kasus ialah masalah-masalah penting (material) yang ditemukan selama audit berlangsung dan masalah tersebut pantas untuk dikemukakan dan dikomunikasikan dengan entitas yang diaudit karena mempunyai dampak terhadap perbaikan dan peningkatan kinerja; ekonomi, efisiensi dan efektivitas yang diaudit. Jadi temuan audit adalah himpunan data dan informasi yang dikumpulkan, diolah dan diuji selama melaksanakan tugas audit atas kegiatan instansi tertentu yang disajikan secara analitis menurut unsur- unsurnya yang dianggap bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

B. Sifat-sifat Temuan Audit Temuan audit bisa memiliki berbagai macam bentuk dan ukuran. Misalnya, temuan-temuan tersebut dapat menggambarkan: 1. Tindakan-tindakan yang seharusnya diambil, tetapi tidak dilakukan, seperti pengiriman yang dilakukan tetapi tidak ditagih. 2. Tindakan-tindakan yang dilarang, seperti pegawai yang mengalihkan sewa dari perlengkapan perusahaan ke perusahaan kontrak pribadi untuk kepentingannya sendiri. 3. Tindakan-tindakan tercela, seperti membayar barang dan perlengkapan pada tarif yang telah diganti dengan tariff yang lebih rendah pada kontrak yang lebih menguntungkan.

4. Sistem yang tidak memuaskan, seperti diterimanya tindak lanjut yang seragam untuk klaim asuransi yang belum diterima padahal kalim tersebut bervariasi dalam jumlah dan signifikansinya. 5. Eksposur-eksposur risiko yang harus dipertimbangkan. Meskipun temuan-temuan audit seringkali disebut sebagai kekurangan (deficiency), banyak organisasi audit internal merasa bahwa istilah tersebut terlalu negatif; dan standar awal kelihatannya setuju dengan hal ini. Dalam kenyataannya, bahkan istilah temuan dianggap terlalu negatif di beberapa tempat. Kata-kata seperti kondisi dianggap lebih nyaman dan tidak memberikan ancaman, serta tidak menimbulkan tanggapan defensif di pihak klien. Walaupun sebutannya bisa bervariasi dari satu organisasi ke organisasi lain, konsep dasarnya bersifat universal. Apapun nama yang diberikan, suatu temuan audit menjelaskan sesuatu yang saat ini atau pada masa lalu mengandung kesalahan, atau sesuatu yang kemungkinan akan terjadi kesalahan.

C. Ciri-ciri Temuan Audit yang Baik Terdapat tida ciri temuan audit yang dikatakan baik, yaitu temuan audit harus didukung oleh biktu yang memadai, temuan audit harus penting (material), serta temuan audit harus mengandung unsur temuan (kondisi, kriteria, dan sebab akibat). 1. Temuan audit harus disukung oleh bukti yang memadai Ciri pertama adalah temuan audit seharusnya didukung oleh bukti yang mencukupi agar pihak yang diaudit oleh pembaca temuan audit menjadi yakin tentang kebenaran isi temuan audit. semua unsur temuan harus didukung oleh bukti yang cukup. Pengembangan temuan audit dengan dukungan bukti yang kuat akan mempermudah penyusunan laporan sekaligus mempermudah menyiapan rekomendasi untuk mengatasi permasalah entitas yang diaudit. 2. Temuan audit harus penting (material) Ciri kedua adalah temuan audit harus penting atau material. Penting dan tidaknya suatu temuan diindikasikan apabila pengguna laporan pengambil tindakan atau kebijakannya berdasarkan informasi yang ada dalam laporan atau temuan tersebut. Auditor judgment yang merupakan pertimbangan profesional auditor, juga

merupakan faktor yang dominan dalam meningkatkan tingkat materialitas atau tingkat pentingnya suatu permasalahan. 3. Temuan audit harus mengandung unsur temuan (kondisi, kriteria, dan sebab-akibat) Ciri ketiga adalah temuan audit harus menguraikan secara jelas kondisi, kriteria, dan sebab akibat. Pengalaman dilapangan menunjukan bahwa kesulitan dalam pembuatan laporan audit yang cepat dan mudah dipahami sering kali berkaitan dengan pengembangan dan pengorganisasian pengembangan tersebut dalam laporan. Sering kali sulit membedakan secara jelas penyebab yang paling dominan terhadap suatu kondisi, mengingat demikian banyak variabel penyebab. Akibat yang ditimbulkan oleh penyebab tersebut dapat bervariasi. Untuk itu auditor dituntut untuk cermat dalam menentukan hubungan sebab-akibat dalam suatu temuan audit serta menentukan penyebab yang paling dominan. Mengenai unsur temuan akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian kriteria temuan audit.

D. Pendekatan untuk Mengontruksi Temuan Mengembangkan fakta-fakta dan rincian menjadi temuan audit yang signifikan dan dapat dilaporkan untuk membutuhkan keahlian. Hal ini membutuhkan perbedaan berdasarkan pengalaman. Apa yang dianggap kelemahan serius bagi orang awam bisa jadi merupakan hal sepele bagi seorang auditor internal yang profesional. Menemukan penyimpangan-penyimpangan kecil pada proses yang sedang berjalan relatif mudah. Kesempurnaan jarang diupayakan dan harga yang yang harus dibayar untuk itu juga terlalu mahal. Upaya yang dibutuhkan untuk mencapai lima persen terakhir kemurnian bisa melebih biaya yang diperlukan untuk mencapai 95 persen yang pertama. Auditor internal harus realistis dan adil dalam pertimbangan dan kesimpulan mereka. Mereka harus memiliki naluri bisnis yang baik untuk mengembangkan temuan-temuan mereka. Karena mereka membuat dan melaporkan temuan-temuan audit, auditor internal harus mempertimbangkan faktor-faktor ini: 1. Meninjau keputusan manajemen bisa jadi tidak adil dan realistis. Auditor internal harus mempertimbangkan keadaan-keadaan yang ada pada saat kelemahan terjadi. Keputusan manajemen didasarkan pada fakta-fakta yang tersedia saat ini. Auditor internal seharusnya tidak mengkritik suatu kebijakan hanya karena mereka tidak setuju atau karena mereka memiliki informasi baru yang tidak tersedia bagi pengambil keputusan. Auditor internal seharusnya tidak mengganti pertimbangan audit dengan pertimbangan manajemen. 2. Auditor, bukan klien, harus bertanggung jawab untuk memberikan bukti. Jika sebuah temuan audit belum ditemukan secara mendalam untuk memuaskan seseorang yang objektif dan wajar, maka temuan ini tidak bisa dilaporkan.

3. Auditor internal harus tertarik pada perbaikan kinerja tetapi kinerja tersebut tidak mutlak harus dikritik hanya karena kurang dari 100 persen. 4. Auditor internal harus meninjau temuan-temuan audit. Mereka harus memeriksa dengan teliti untuk menemukan alasan-alasan yang mengandung kesalahan. Auditor internal, seperti halnya pendukung pernyataan lainnya, akan tergoda untuk merasionalkan interpretasi untuk mendukung temuan mereka. Setelah menghabiskan banyak waktu dan tenaga, auditor cenderung melindungi dan mempertahankan temuan mereka menghadapi pertanyaan-pertanyaan sempurna yang logis. Akan tetapi, temuan-temuan tersebut mungkin tidak dapat dipertahankan dengan berjalannya waktu atau bila dihadapkam pada pertanyaan-pertanyaan yang lengkap.

Menambah Logis Dalam setiap aspek usaha, konsep menambah nilai (adding value) memiliki makna baru dan lebih jelas. Definisi terbaru mengenai audit internal secara khusus menyebutkan penambahan nilai. Fungsi-fungsi yang dianggap tidak menambah nilai berisiko untuk dirampingkan, atau bahkan dihilangkan. Salah satu cara auditor internal menambah nilai adalah dengan meyakinkan bahwa temuan dan rekomendasi yang mereka berikan jelas berdampak positif bagi organisasi. Auditor internal tidak hanya harus yakin bahwa pekerjaan mereka memberikan kontribusi yang berarti bagi tujuan dan kesuksesan organisasi, mereka juga harus yakin bahwa kontribusi tersebut dipahami dan dinilai oleh yang lain. Temuan-temuan yang dihasilkan dari penelaahan awal-akhir cenderung sangat bermanfaat. Jika auditor internal mampu mendeteksi masalah-masalah kontrol potensial dalam sistem penelusuran persediaan terkomputerisasi yang baru diterapkan sebelum bukan sesudah dirancang dan diimplementasikan, organisasi bisa mendapatkan keuntungan besar. Temuan-temuan yang menghasilkan nilai terbesar seringkali mengalahkan kekuatan teknologi, memberikan perubahan yang positif, dan berorientasi ke depan. Temuan-temuan ini membantu organisasi bergerak maju dan mencapai sasaran-sasaran mereka. Temuan audit yang wajar dapat menghasilkan perbaikan dalam jumlah dolar atau rupiah yang besar, atau meningkatkan jasa, atau memperbaiki struktur dan proses organisasi. Auditor internal akan meningkatkan citra mereka sebagai penambah nilai, bukan sebagai pemakan sumber daya. Di sepanjang tahapan temuan-temuan audit, penting bagi auditor internal untuk tetap fokus menyediakan aktivitas-aktivitas dan jasajasa bernilai tinggi.

E. Signifikansi Temuan Audit Auditor internal harus mempertimbangkan tingkat kerusakan yang bisa atau telah disebabkan oleh suatu kondisi kelemahan sebelum mengkomunikasikannya dengan

manajemen. Untuk kebanyakan tujuan, temuan-temuan audit bisa diklasifikasikan menjadi tidak signifikan, kecil, atau besar. 1. Temuan-temuan Tidak Signifikan Temuan yang tidak signifikan (insignificant findings) adalah semacam kesalahan klerikal yang dialami semua organisasi yang tidak memerlukan tindakan formal. Dalam kenyataannya, memasukkan temuan seperti ini kedalam laporan audit formal akan menjadi tidak produktif karena akan mengaburkan temuan signifikan yang sebenarnya pada laporan, yang mengimplikasikan bahwa auditor internal tidak dapat melihat perbedaan antara setitik noda dengan noda yang menyebar. Hal ini juga akan semakin mengukuhkan citra auditor internal sebagai seorang yanghanya memerhatikan hal-hal kecil. Masalah-masalah yang tidak signifikan seharusnya tidak disembunyikan atau dilewatkan. Tidakan yang dapat dilakukan adalah: a. Mendiskusikan masalah tersebut dengan orang yang bertanggung jawab b. Melihat apakah situasi tersebut telah diperbaiki c. Mencatat hal tersebut dalam kertas kerja d. Tidak memasukan penyimpangan kecil tersebut kedalam laporan internal audit resmi. Misalnya, tidak diambilnya beberapa diskon pembelian acak oleh pegawai utang usaha dapat dianggap kesalahan yang tidak signifikan. Tetapi tidak berarti kesalahan yang klerikal yang bersifat acak tidak pernah dilaporkan. Jika kesalahan-kesalahan tersebut merupakan gejala-gejala dari masalah yang lebih besar, mungkin harus ada pelaporan. Kesalah tersebut mungkin mengidentifikasikan pelatihan karyawan yang kurang, pengawasan yang lemah, atau instruksi tertulis yang tidak jelas. Pada kasus-kasus ini kelemahan kontrol lah yang menjadi temuan audit. kesalah acak adalah murni membuktikan adanya kelemahan dan membutuhkan perhatian manajemen. 2. Temuan-temuan Kecil Temuan-temuan kecil (minor findings) perlu dilaporkan karena bukan sematamata kesalah manusiawi yang bersifat acak. Jika tidak diperbaiki, maka akan berlanjut sehingga merugikan dan walaupun tidak menggangu tujuan operasi organisasi, namun

cukup signifikan untuk diperhatikan oleh manajemen. Beberapa temuan kecil lebihh baik dilaporkan dalam surat kepada manajemen (Management Letter). Misalnya, seorang pegawai yang telah mencampuradukkan kas kecil pribadi dengan milik organisasi melanggar aturan organisasi dan pratik bisnis yang baik. Tentu hal ini harus dilaporkan dan diperbaiki, jika tidak maka akan terus berlanjut atau menyebar. 3. Temuan-temuan Besar Temuan-temuan besar (major findings) adalah temuan yang akan mengahalangi tujuan utama suatu organisasi atau suatu unit dalam organisasi. Misalnya, salah satu tujuan utama departemen utang usaha adalah hanya membayar utang usaha yang benar-benar sah. Sistem kontrol yang lemah yang bisa atau akan mengakibatkan kesalahan pembayaran yang akan mencerminkan kelemahan yang bisa menghalangi departemen mencapai tujuan utamanya. Oleh karen aitu, hal ini merupakan temuan audit yang besar dan harus dilaporkan. Memisahkan temuan audit yang besar dan kecil tidaklah mudah. Dibutuhkan pertimbangan audit yang baik untuk mebedakan keduanya. Namun jika tolok ukur yang baru saja dijabarkan bisa diterapkan secara wajar, maka ausitor internalharus mampu mengklasifikasi temuan-temuannya. Dan karen amelibatkan pertimbangan audit, keputusan akhir mengenai apakah sebuah temuan harus diklasifikasikan sebagai temuan besar atau kecil merupakan tanggung jawab auditor internal, bukan manajemen.

F. Elemen-elemen Temuan Audit Auditor internal bukanlah orang yang maha tahu dan mereka tidak bisa diharapkan untuk mengetahui semua hal tentang operasi yang sedang diaudit. Pengetahuan tentang temuan audit yang dapat dilaporkan merupakan masalah lain, karena auditor internal mempertentangkan kelayakan status quo. Mereka mencari sistem atau transaksi yang tidak memenuhi standar operasi yang berlaku. Tetapi auditor internal bisa mengharapkan adanya tantangan dan mereka harus mengetahui lebih banyak tentang temuan-temuan audit mereka. Fakta-fakta yang ditemukan auditor internal haruslah meyakinkan, kriterianya harus dapat diterima, dan logika yang digunakan juga harus meyakinkan.

Kelayakan tindakan yang mereka lakukan paling baik diukur dengan membandingkannya dengan beberapa kriteria. Sama halnya dengan pengembangan temuan audit. Jika temuan yang dikembangkan memenuhi semua standar audit dapat diterima, maka temuan tersebut akan menjadi logis, wajar, dan meyakinkan. Temuan tersebut akan memberi stimulus untuk memotivasi tindakan perbaikan. Jika ada yang hilang dari temuan yang dilaporkan, maka temuan tersebut bisa dipertentangkan dan berakibat pada tindakan yang tidak menyenangkan atau bahkan tidak ada tindakan sama sekali. Kebanyakan temuan audit harus mencakup elemen-elemen tertentu, termasuk di dalamnya latar belakang, kriteria, kondisi, penyebab, dampak, kesimpulan, dan rekomendasi. Setiap temuan audit yang mencakup elemen-elemen ini, baik eksplisit maupun implisit, akan menjadi argumen yang kuat untuk dilakukannya tindakan perbaikan. Temuan tersebut akan menunjukkan bahwa tidak ada rintangan yang dibiarkan dalam menyajikan masalah dan solusinya. Pada beberapa kasus yang unik, elemen penyebab mungkin tidak tepat. Suatu masalah mungkin diakibatkan oleh kondisi tertentu. Pembaca laporan harus diberikan informasi umum yang memadai agar dapat memahami sepenuhnya alasan-alasan mengapa auditor yakin bahwa temuan-temuan tersebut harus dilaporkan. Latar belakang juga dapat mengidentifikasi orang-orang yang berperan, hubungan organisasi, bahkan tujuan dan sasaran yang menjadi perhatian. Hal tersebut harus bisa menjelaskan secara umum lingkungan yang melingkupi operasi dan situasi yang menyebabkan auditor melaporkan temuan tersebut. Elemen-elemen temuan adalah sebagai berikut. 1. Kriteria Pengembangan temuan audit harus mencakup dua elemen penting dalam konsep kriteria: a. Tujuan dan sasaran, dapat mencakup standar-standar operasi yang mencerminkan apa yang diinginkan manajemen untuk dicapai oleh operasi yang diaudit. b. Kualitas pencapaian.

Tidak memahami saran atau tujuan operasi bagaikan menilai patung dengan matu tertutup. Mungkin saja dilakukan penilaian atas bagian yang dipegang, namun konteksnya tidak tepat. Dalam mengembangkan temuan audit, auditor internal harus dengan jelas melihat dan memahami gambaran keseluruhan, serta bagian lainnya. Dalam setiap audit atas aktivitas, sasaran-sasaran kelayakan, efisiensi, ekonomis, dan efektivitas harus tercakup. Semua sumber daya harus digunakan tanpa terbuang percuma. Untuk menentukan seberapa layak efisien, ekonomis, dan efektifnya suatu operasi, auditor internal harus memiliki tolok ukur. Mereka harus mengidentifikasi standar atau kriteria kinerja yang valid. Sebelum mereka mengkritik apa yang terjadi, mereka harus tahu apa yang seharusnya. Standar-standar operasi mungkin sudah ada di beberapa bidang organisasi. Misalnya manajemen bisa menyatakan bahwa tingkat penolakan produk-produk tertentu tidak boleh melebihi 2%. Tetapi sebelum menerima standar ini, auditor internal harus menilai validitasnya. Dasar penentuan standar mungkin harus diteliti ulang dan auditor mungkin ingin membandingkan standar dengan organisasiorganisasi srupa dan memeriksa kewajarannya dalam memenuhi sasaran-sasaran perusahaan. Di sisi lain, manajemen mungkin belum memiliki standar yang teah ditetapkan. Dalam kasus ini, auditor internal dapat berpegang pada standara sebelumnya yang menyarankan: Kecermatan profesional mencakup pengevaluasian standar operasi yang ditetapkan dan menentukan apakah standar-standar tersebut dapat diterima dan telah tercapai. Jika standar-standar tersebut tidak jelas, interpretasi yang berwenang harus didapatkan. Jika auditor internal diminta mengintrepretasikan atau memilih standarstandar operasi, mereka harus mencari kesepakatan dengan klien mengenai standar yang diperlukan untuk mengukur kinerja operasi. Standar terkait erat dengan prosedur dan praktik. Prosedur merupakan intruksi manajemen yang umumnya tertulis, sementara praktik merupakan cara segala sesuatunya dilakukan, baik benar maupun salah. Prosedur yang lemah dapat mengakibatkan kondisi yang tidak memuaskan atau praktik-praktik yang lemah dapat melanggar prosedur yang memadai. Dalam membuat temuan-temuan audit, auditor

internal harus berupaya ntuk menentukan praktik dan prosedur apa saja yang diterapkan atau yang seharusnya. Adanya prosedur yang salah atau tidak adanya prosedur yang layak bisa menjadi alasan mengapa dibutuhkan tindak perbaikan. Dibutuhkan keahlian yang memadai untuk menulis hal ini tanpa menimbulkan kesalahpahaman bagi pembaca. Hanya hal-hal penting yang seharusnya dilaporkan, hindari rincian-rincian yang tidak perlu. Misalnya saja auditor tidak menemukan adanya prosedur operasi tertulis sebagai perbandingan kondisi yang terjadi, tetapi praktik operasi melanggar praktik bisnis yang baik. Karyawan hanya menghabiskan setengah hari untuk pekerjaan mereka. Pengawasan lemah dan penggunaan meteran tidak diperiksa. Auditor membuat standar mereka sendiri berdasarkan prosedur administratif yang dapat diterima dan informasi yang dikumpulkan dari organisasi lain pada bidang yang sama. Audit yang mereka lakukan kemudian didedikasikan untuk menunjukkan akibatakibat prosedur yang tidak memadai dan merekomendasikan cara-cara untuk memperbaikinya. 2. Kondisi Istilah kondisi mengacu pada fakta-fakta yang dikumpulakn melalui observasi, pengajuan pertanyaan, analisis, verifikasi, dan investigasi yang dilakukan auditor internal. Kondisi merupakan ktaKondisi harus mampu menghadapi serangan apapun. Kondisi juga harus mencerminkan total populasi atau sistem yang ditelaah, atau dalam kasus terpisah, harus merupakan kelemahan yang signifikan. Klien harus menyepakati fakta-fakta yang disajikan meskipun mereka bisa saja memperselisihkan signifikansi yang dilekatkan auditor pada temuan-temuan tersebut. Klien bisa saja tidak menyetujui kesimpulan dan interpretasi audit, namun jangan pernah ada perbedaan dengan fakta-fakta yang mendasari kesimpulan. Suatu temuan bisa dianggap tidak layak apabila klien dengan valid menyatakan bahwa auditor internal tidak mendapatkan fakta dengan benar. Hal ini menjadi tidak relevan. Jadi, kondisi-kondisi tersebut harus dibahasa di awal dengan orang-orang yang mengetahui fakta-fakta tersebut. Setiap pertentangan tentang fakta-fakta harus dipecahkan sebelum temuan-temuan dilaporkan. Auditor internal harus

mempertahankan reputasinya dalam hal akurasi dan berbuat sesuai pengamatannya sehingga jika auditor berpendapat seperti ini atau itu, maka hal tersebut pasti benar.

Sebagai contoh penggambaran kondisi yang dilaporkan, auditor internal menggunakan pengambilan sampel secara acak dalam memilih meteran untuk pengujian. Meteran yang dipilih dilepas kemudian diperiksa di laboratorium. Pengujian menunjukkan bahwa 17% dari meteran yang diuji tidak berfungsi sama sekali dan tambahan 23% berjalan lebih lambat dibandingkan standar yang ditentukan dalam ketentuan hukum. 3. Penyebab Penyebab menjelaskan mengapa terjadi deviasi dari kriteria yang ada, mengapa sasaran tercapai, dan mengapa tujuan tidak terpenuhi. Identifikasi penyebab merupakan hal penting untuk memperbaikinya. Setiap temuan audit dapat ditelusuri penyimpangannya dari apa yang diharapkan. Masalah dapat diatasi hanya jika penyimpangan ini diidentifikasi dan penyebabnya diketahui. Menentukan penyebab merupakan latihan pemecahan masalah dan prosesnya mengikuti langkah-langkah klasik berikut: a. Kumpulkan fakta-fakta. b. Identifikasi masalah. c. Jelaskan hal-hal utama dari masalah. d. Uji penyebab-penyebab yang mungkin. e. Tetapkan tujuan-tujuan potensi tindakan perbaikan. f. Bandingkan tindakan-tindakan alternatif dengan tujuan dan secara tentatif pilih yang terbaik. g. Pikirkan keadaan-keadaan buruk yang dipicu oleh tindakan perbaikan yang telah dipilih. h. Pertimbangan bagaimana seandainya. i. Apakah terdapat kondisi-kondisimitigasi. j. Rekomendasikan kontrol untuk memastikan bahwa tindakan terbaik benar-benar telah dilakukan. Contoh berikut menggambarkan penyebab kondisi yang tidak layak: Dengan menggunakan analisisi regresi berganda, auditor menetapkan korelasi tertentu antara kondisi-kondisi operasi meteran dan usianya. Bila meteran tersebut telah beroperasi selama beberapa tahun, maka ada kecenderungan untuk melambat

dan perlahan-lahan tidak berfungsi. Setelah berbicara dengan manajer dari organisasi utilitas lainnya, auditor menyatakan bahwa praktik-praktik yang diterapkan di organisasi mereka tidak berfokus pada meteran yang telah tua, tidak memberdayakan sepenuhnya pengawas meteran, tidak membuat pengawas menyadari adanya meteran yang tidak berfungsi, atau tidak memberikan pengawasan yang dibutuhkan. 4. Dampak Dampak menjawab pertanyaan lalu kenapa. Anggaplah semua fakta telah disajikan, lalu kenapa/ siapa atau apa yang dirugikan, seberapa buruk? Apa konsekuensinya? Akibat-akibat yang merugikan haruslah signifikan, bukan hanya penyimpangan dari prosedur. Dampak merupakan elemen yang dibutuhkan untuk meyakinkan klien dan manajemen pada tingkat lebih tinggi bahwa kondisi yang tidak diinginkan jika dibiarkan terus terjadi akan berakibat buruk dan memamakan biaya yang lebih besar daripada tindakan yang dibutuhkan untuk memeprbaiki masalah tersebut. Untuk temuan-temuan keekonomisan dan efisiensi, dampak biasanya diukur dalam dolar atau rupiah. Dalam temuan-temuan efektivitas, dampak biasanya meupakan ketidakmampuan untuk menyelesaikan hasil akhir yang diinginkan atau diwajibkan. Dampak adalah hal yang membuat yakin dan sangat diperlukan untuk suatu temuan audit. Jika tidak disajikan ke manajemen dengan memadai maka kecil kemungkinannya akan diambil indak perbaikan. Sebagai contoh dampak yang signifikan, auditor internal dapat menunjukkan melalui sampel mereka bahwa telah terjadi kehilangan pendapatan sebesar $2 juta per tahun. Mereka juga menunjukkan bahwa tarif air sangat tinggi secara tidak beralasan sehingga terjadi kelebihan pendapatan setidaknya $1.5 juta setiap tahun.

5. Kesimpulan Kesimpulan (conclusion) harus ditunjang oleh fakta-fakta; namun harus merupakan pertimbangan professional, bukan berisi rincian yang tidak perlu. Dalam membuat kesimpulan, auditor internal jelas memiliki peluang untuk memberikan kontribusi kepada organisasi. Jika auditor internal secara konsisten menyajikan

kesimpulan yang bisa menghasilkan kinerja yang baru dan tingkatan kinerja yang lebih tinggi, menguranggi biaya dan meningkatkan kualitas ptroduksi,

menghilangkam [ekerjaan yang tidak dibutuhkan, mendayagunakan kekuatan teknologi, meningkatkan kepuasan pelanggan, merningkatkan jasa, dan meningkatkan posisi kompetitif organisasi, maka audit internal jelas bernilai. Kesimpulan dapat menekankan pemahaman auditor atas usaha organisasi dan hibungan fungsi yang diaudit terhadap perusahaan secara keseluruhan. Kesimpulan dapat dan seharusnya menyajikan tindakan potensial dan menunjukan bahwa manfaat memperbaiki kesalahaaan akan melebihi biayanya. Besarnya kerugian yang ditunjukan pada bagian dampak merupakan dasar dibutuhkannya tindakan perbaikan. Misalnya temuan menuntun auditor untuk menyimpulkan bahwa prosedur-prosedur harus diperbaiki. Meteran di atas usia tertentu harus diawasi, dan yang tidak memenuhi standar harus diganti Instruksi dan pengawasan harus diberikan kepada pengawas sehingga kinerja mereka bisa ditingkatkan. 6. Rekomendasi Rekomendasi (recommendation) menggambarkan tindakan yang mungkin dipertimbangkan manajemen untuk memperbaiki kondisi-kondisi yang salah dan untuk memperkuat kelemahan dalam sistem kontrol. Rekomendasi harus positif dan bersifat spesifik. Rekomendasi juga harus mengidentifikasi siapa yang akan terbaik. Akan tetapi rekomendasi audit membawa bibit-bibit bahaya. Jika manajemen diberi tahu mengenai tindakan yang direkomendasikan auditor, maka tindakan tersebut bisa berbalik merugikan auditor. Mengidentifikasi kondisi yang tidak memuaskan adalah tanggung jawab audit. Memperbaikinya merupakan tanggung jawab manajemen. Lebih disukai bila auditor internal mengusulkan metode tindakan perbaikan untuk pertimbangan manajemen. Rekomendasi audit seharusnya tidak dilakukan secara membabi buta, tetapi dipertimbangkan bersama-sama dengan tindakantindakan lain yang mungkin dilakukan. Auditor internal tidak mendikte manajemen: dan pada akhirnya, manajemenlah, bukan auditor internal yang harus melakukan tindakan perbaikan.

Saran yang paling memuaskan untuk menyelesaikan temuan audit adalah membahsnya dengan manajemen operasional sebelum laporan audit tertulis diterbitkan. Pada saat itu harus dicapai kesepakatan mengenai fakta-fakta dan beberapa tindakan perbaikan untuk memperbaiki kekurangan. Kemudian, laporan formal bisa berisi pernyataan ini: kami membahas temuan-temuan kami dengan manajemen; dan sebgai hasilnya, tindakan telah diambil yang kami yakin telah diperhitungkan untuk memperbaiki kondisi yang telah dijelaskan). Pendekatan ini mengambil apa pun dari auditor, dan membangun hubungan dalam pemecahan masalah antara auditor dan lien. Kami yakin bahwa bentuk laporan ini lebih disukai untuk seperangkat rekomendasi audit yang kelihatanya menekankan klien dan meempatkan auditor sebagai atasan, makhluk maha tahu yang mengeluarkan pernyataan yang di[ahat di batu granit. Misalnya: Kami telah mebahas temuan dan kesimpulan kami dengan manajemen. Sebagai hasilnya. Manajemen mengambil tindakan untuk mengganti 25.000 meteran lama atau yang tidak beroprasi dengan biaya $1 juta. Manajemen puas dengan tindakan ini karena akan menghasilkan tambahan pendapatan $2 juta setahun dan pada saat yang sama, mengurangi pendapatan tarif air sebesar $1,5 juta setiap tahun. Juga, manajemen mengambil langkah untuk mengutus sebuah tim ke beberapa organisasi utilitas, untuk memepelajari metode yang diterapkan dalam memeriksa meteran, mengawasi pemeriksaan meteran, dan mengawasi meteran untuk medeteksi meteran yang mulai rusak.

G. Pencatatan dan Pelaporan Temuan Audit Tidak setiap kelemahan yang ditemukan auditor internal harus dilaporkan. Beberapa kelemahan bersifat kecil dan tidak membutuhkan perhatian manajemen. Semua temuan audit yang bisa dilaporkan haruslah: 1. Cukup signifikan agar dapat dilaporkan ke manajemen. 2. Didokumentasikan dengan fakta, bukan opini, dan dengan bukti yang memadai, kompeten, dan relevan.

3. Secara objektif dibuat tanpa bias atau prasangka. 4. Relevan dengan masalah-masalah yang ada. 5. Cukup meyakinkan untuk memaksa dilakukannya tindakan untuk memperbaiki kondisi-kondisi yang mengandung kelemahan. Karakteristik ini akan diinterpretasikan secara subjektif. Apa yang dianggapa sebagai kelemahan signifikan bagi satu individu bisa jadi tidak dianggap signifikan bagi yang lain. Kata-kata seperti objektif, meyakinkan, wajar, dan logis memiliki konotasi yang berbeda bagi orang yang berbeda. Pengujiannya adalah untuk memproyeksikan bagaimana kelemahan-kelemahan tersebut akan diperhatikan oleh orang yang memiliki sifat wajar dan berhahti-hati pada kondisi-kondisi yang serupa. Saat auditor menyusun temuan audit dan merenungkan rekomendasi, mereka harus mewaspadai kekeliruan mereka sendiri. Mereka mungkin salah menginterpretasi, atau mereka mungkin tidak membaca prosedur dengan layak. Untuk mengecek pemahaman atas hal-hal yang mereka temukan, maka auditor internal harus berbicara dengan orang yang paling mengetahui fakta tersebut. Mereka harus mengetahui interpretasi klien dan mencatatnya dalam kertas kerja mereka. Pendapat manajer dan karyawan berpengalaman mengennai hasil-hasil tindakan yang direkomendasikan sangat disambut baik. Auditor internal yang berpengalaman akan mencari orang-orang yang memiliki pengetahuan dalam organisasiorang-orang yang memiliki pengetahuan luas mengenai operasi yang sedang diperiksadan mengatakan: Ini masalahnya. Kondisi tersebut membutuhkan koreksi atau perbaikan. Apa yang akan terjadi jika kami merekomendasikan tindakan ini? Banyak mantan auditor yang bisa menceritakan bagimana pertanyaan seperti ini mneyelamatkan mereka dari masa lalu. Pencatatan Temuan Audit Auditor internal yang ingin memastikan bahwa mereka telah sepenuhnya mempertimbangkan elemen-elemen temuan audit bisa mengandalkan pada suatu bentuk laporan atau sarana lainnya agar mereka tetap bisa menelusurinya. Laporan tersebut juga bisa menjadi sarana bagi penyelia audit guna menentukan apakah semua langkah yang diperlukan untuk menghasilkan temuan audit yang dikembangkan dengan baik telah diambil.

Aktivitas Pencatatan Temuan Audit Internal (Internal Audit Record of Audit Findings) yang ditunjukkan pada Tampilan 8-1 merupakan satu contoh laporan tersebut. Laporan tersebut sesuai dengan tujuan yang telah dijelaskan dan memberi ruang untuk: 1. Mengidentifikasi organisasi yang bertanggungjawab 2. Memberi nomor identifikasi utnuk temuan tertentu dan suatu rujukan untuk kertas kerja pendukung 3. Memberi pernyataan singkat mengenai kondisi 4. Mengidentifikasi kriteria standar yang diterapkan untuk menilai kondisi 5. Menunjukkan apakah temuan tersebut merupakan pengulangan dari sesuatu ditemukan pada audit sebelumnya 6. Menyatakan arah, prosedur, atau instruksi kerja yang berkaitan dengan temuan tersebut 7. Meringkas pengujian audit dan jumlah kelemahan yang ditemukan 8. Menunjukkan penyebab--mengapa terjadi penyimpangan 9. Menjelaskan dampak, aktual maupun potensial, dari kondisi tersebut 10. Menyatakan tindakan perbaikan yang diusulkan dan/atau yang diambil 11. Mencatat pembahasan dengan karyawan klien dan mencatat tanggapan-tanggapan mereka (setuju, tidak setuju), dan sifat tindakan, jika ada, yang mereka usulkan untuk diambil

Laporan Pencatatan Temuan Audit (Record of Audit Findings--RAF) memberikan fleksibilitas karena RAF bisa diurutkan atau diurut ulang untuk memfasilitasi pelaporan formal. Laporan tersebut juga memberikan acuan untuk pembahasan, karena mencakup kebanyakan informasi yang dibutuhkan dalam satu lembar untuk menjelaskan masalah. Laporan tersebut juga berfungsi sebagai pedoman untuk mengingatkan auditor semua yang diperlukan untuk memperoleh informasi untuk temuan yang dibuat secara mendalam. RAF juga harus diselesaikan di lapangan sehingga setiap elemen yang hilang atau tidak lengkap bisa diperbaiki tanpa membutuhkan kunjungan ulang ke tempat yang diaudit. Beberapa organisasi telah memperluas penggunaan RAF melampaui dokumen kertas kerja. Mereka menggunakannya untuk mengomunikasikan temuan dengan segera ke klien dan mendapatkan tanggapan tertulis. Dengan cara ini, ketidaksepakatan dapat dipecahkan dengan segera, dan janji tindakan perbaikan bisa dibuat dalam catatan.

Tanggapan klien dan catatan tindakan yang diambil atau dijanjikan tercantum dalam lampiran RAF (Tampilan 8-2).

Tampilan 8-1 Catatan Aktivitas Audit Internal tentang Temuan Audit Contoh 1 Organisasi ________________________________________________No. RAF ____________ Referensi W/P ________ Kondisi ______________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ Standar ______________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ Sama dengan temuan pemeriksaan terakhir: Ya ______________Tidak ____________________ Prosedur atau _________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ Metode pemilihan sampel_________________________________________________________ Ukuran populasi ______ Ukuran sampel ______ Jumlah kelemahan ______ % dari sampel_____ Penyebab ____________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ Dampak ______________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ Rekomendasi __________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ Tindakan perbaikan ____________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ Pembahasan: Nama Jabatan Departemen Tanggal Auditor (1) __________________________________________________________________________ Komentar ____________________________________________________________________ (2) __________________________________________________________________________ Komentar ____________________________________________________________________ (3) __________________________________________________________________________ Komentar ____________________________________________________________________ (4) __________________________________________________________________________ Komentar ____________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________ ______________________________ Auditor _____________________________________________ ______________________________ Penyelia

Tanggal

Tanggal

Tampilan 8-2 Aktivitas Audit Internal Catatan Temuan Audit Tanggapan dan Tindakan Tanggapan Manajemen

(Gunakan halaman belakang untuk tambahan tanggapan) Nama: Tindakan perbaikan: Jabatan: Tanggal:__________

Tanggal efektif tindakan perbaikan _________________________________

Nama: Penilaian auditor:

Jabatan:

Tanggal:__________

Tindakan yan g diusulkan memuaskan ____________ Tidak Memuaskan __________________

Auditor:_____________________________________________________Tanggal:__________ Tindak lanjut tindakan perbaikan:

Auditor:_____________________________________________________Tanggal:___________ Hasil-hasil tindakan perbaikan (dievaluasi pada audit selanjutnya)

Penyelia Audit:_______________________________________________Tanggal:___________

Tampilan 8-3 Abstraksi Temuan Kantor: Subjek: Judul Laporan: Kondisi Northeast District Beban-beban Perjalanan Akuntansi Fiskal Uang muka perjalanan melebihi jumlah maksimum yang ditetapkan. Kami menenmukan bahwa 133 dari 175 akun melebihi uang muka maksimum yang diperbolehkan sebesar $2.500. saldo yang berlebihan ini berkisar dari $2.640 hingga $4.750. total kelebihan sebesar $300.000. Kebijakan perusahaan adalah memberikan dana uang muka perjalanan ke pegawai yang diotorisasi untuk melakukan perjalanan dinas. Uang muka tidak boleh melebihi beban yang diantisipasi untuk periode 45 hari. Tarif normal per diem adalah $50. Jadi, maksimum untuk 45 hari adalah $2.250. jumlah tambahan hingga $250 bisa diberikan untuk kelebihan jarak dalam mil yang diestimasikan bila pegawai menggunakan mobilnya sendiri. Prosedur perusahaan tidak membutuhkan pembenaran khusus untuk uang muka perjalanan dalam jumlah besar. Bagian Akuntansi Fiskal terutama mengandalkan pada penyelia pegawai untuk memastikan bahwa uang muka tidak melebihi kebutuhan. Ketidakkonsistenan dapat terjadi karena peermohonan uang muka disetujui oleh penyelia yang berebeda, dan tidak satu pun dari mereka mengikuti aturan yang sama. Pegawai dapat mengakumulasi uang muka dalam jumlah yang besar padahal tidak dibutuhkan. Akumulasi ini dapat merugikan posisi kas perusahaan. Lagi pula, penagihan menjadi sulit bila pegawai yang memiliki uang muka dalam jumlah besar keluar dari perusahaan. Bagian Akuntansi Fiskal saat ini sedang dalam proses untuk berupaya menagih lebih dari $15.000 dari para pegawai yang tidak lagi bekerja di perusahaan. Bagian akuntansi akan membandingkan klaim perjalanan dengan muang muka yang masih ada untuk menentukan pegawai yang menerima uang muka melebihi kebutuhan. Para pegawai tersebut akan ditanya alasannya atas kelebihan uang muka yang diberikan kepada mereka atau mengurangi uang muka hingga ke jumlah yang sama dengan beban-beban sesungguhnya. Penyelia akan diberikan instruksi khusus mengenai jumlah uang muka yang berhak mereka setujui.

Kriteria

Penyebab

Dampak:

Tanggapan Manajemen:

______________________________________________________ Manajer Audit

Beberapa organisasi mengeluarkan suatu memorandum untuk setiap temuan audit yang signifikan untuk melaporkan kondisi, kriteria, sebab, dampak, dan tanggapan manajemen. Abstraksi Temuan, yang direproduksi di Tampilan 8-3, misalnya, diadaptasi dari laporan badan pemerintah atas audit kontraktor. Memorandum ini didistribusikan secara luas di badan tersebut. Para pendukung laporan menyebutkan bahwa laporan ini memberikan banyak manfaat: 1. Manajer senior diberikan sarana pembelajaran yang cepat terhadap masalah saat ini dan tindakan yang diambil atau diperlukan untuk memecahkannya 2. Manajer lapangan tetap menerima informasi mengenai masalah-masalah yang kemungkinan mempengaruhi mereka; jadi audit internal bisa mencapai beberapa daerah dengan mengeluarkan sumber daya yang sama 3. Laporan abstraksi dianalisis secara periodik untuk menemukan trennya. Saat dibawa ke manajemen senior, keseluruhan tindakan bisa diambil untuk memulihkan tren yang merugikan. Masalah yang relatif kecil di satu bagian bisa menjadi serius bila menyebar di banyak bagian 4. Kedisiplinan dalam menyiapkan laporan abstraksi sebelum ditulis membantu auditor internal lebih memperhatikan setiap kekurangan dalam pengembangan temuan audit mereka. Kehati-hatian dalam menyiapkan abstraksi memudahkan penyiapan laporan audit final 5. Penelaahan terpusat untuk abstraksi membantu menjaga program jaminan mutu yang dirancang untuk meningkatkan audit internal

Keahlian Komunikasi Laporan ringkas sekali pun, seperti yang tampak pada RAF harus ditulis dengan baik, dan masalah-masalah harus didefinisikan dengan jelas mnenggunakan istilah-istilah yang singkat, padat, dan tepat. Jika dimungkinkan, bahasa RAF harus diekspresikan dalam nada yang positif, dan istilah-istilah yang mendorong reaksi emosional atau defensif harus dihindari. Tentu saja, sikap yang sama juga harus ditampilkan dalam komunikasi verbal sehari-hari dsan presentasi interim hasil-hasil audit. Pada saat yang sama, auditor terkadang harus terlibat dalam masalah yang sensititf dan negatif. Masalah-masalah kontrol serius, kecurangan, atau tindakantindakan ilegal harus selalu dipandang sebagai berita buruk, terlepas dari kemampuan komunikasi auditor atau objektivitas RAF.

Penelaahan Pengawasan Supervisi audit tetap merupakan kontrol kunci atas pengembangan profeisonal temuan-temuan audit. Setiap temuan yang dapat dilaporkan harus melewati penelaahan pengawasan yang ketat, baik secara manual maupun elektronik, dan penelaahan tersebut haruys dibuktikan dengan tanda tangan peneyelia atau indikasi persetujuan elektronik. Tidak ada yang begitu mengurangi kredibilitas aktivitas audit internal selain temuan yang tidak dibuat dengan mendalam sehingga mudah diserang. Sebuah temuan audit secara definisi merupakan sebuah kritik. Mekanisme bertahan alami atas kritikkritik tersebut sering kali dengan segera menghasilkan serangan terhadap kritik tersebut. Oleh karena itu, temuan audit harus mengatasi kritik. Penyelia audit bisa melihat bahwa hasil akhir dicapai dengan mendekati temuan audit melalui pertanyaan-pertanyaan berikut ini: 1. Apakah ada bagian-bagian dari temuan yang hilang? Mengapa? Apa yang bisa dilakukan untuk mencari bagian-bagian yang hilang tersebut? Apakah kekurangankekurangan ini merupakan penyajian yang buruk atau pekerjaan audit yang tidak lengkap? 2. Apakah bagian-bagian tersebut tercampur sehingga mengaburkan kejelasan? Apakah pendapat menggantikan fakta-fakta? Apakh sebab tercampur dengan akibat? Apakah rekomendasi memang menyajikan fakta-fakta? 3. Jika prosedur tidak diikuti, apakah rekomendasi hanya sekadar pernyataan bahwa prosedur tersebut seharusnya diikuti? Atau apakah rekomendasi menunjukkan mengapa prosedur tersebut tidak diikuti? Dengan kata lain, apakah akan lebih berguna untuk merekomendasikan instruksi yang lebih jelas, supervisi yang lebih ketat, pengawasan yang lebih konstan, atau sarana kontrol lain yang dengan segera akan menunjukkan penyimpangan dari prosedur? 4. Apakah kriteria audit bisa diandalkan, jelas, meyakinkan, dan objektif? Apakah kriteria tersebut dirancang untuk memenuhi suatu sasaran manajemen? Apakah masuk akal? 5. Apakah informasi mengenai penyebab sudah lengkap atau hanya informasi yang tidak mendalam? Apakah penyebab merupakan suatu keismpulan yang logis? Apakah tepat menuju masalah? Akankah penyebab setiap kali memicu dampak yang sama yang tidak diinginkan? Apakah penyebab tersebut merupakan penyebab di permukaan, atau mmerupakan penyebab dasar?

6. Apakah dampak terlalu berlebihan? Apakah logis? Apakah dianggap terlalu kecil? Apakah dikuantifikasi dengan memadai? Apakah aktiva tidak berwujud dengan memadai diakui dan dijelaskan dengan memadai? Apakah manajemen perasi setuju dengan dampak yang dilaporkan? Jika tidak, bagaimana posisinya? 7. Apakah ada keadaan-keadaan yang bisa menyebabkan temuan tersebut tidak diterima dan dibatalkan? Bisakah kondisi-kondisi tersebut dinetralisasi? 8. Apakah rekomendasi bermanfaat dan spesifik, atau sekadar menyatakan meningkatkan kontrol? Apakah rekomendasi tersebut terlalu kaku, memaksakan tindakan-tindakan yang diusulkan auditor internal? Apakah rekomendasi berkenaan dengan masa lalu tetapi mengabaikan masa datang? Apakah bersifat menghukum, ketimbang konstruktif? Apakah tidak sejalan dengan penyebabnya? Apakah mencakup sarana untuk mengawasi kondisi sehingga dampak-dampak merugikan tidak terulang lagi? 9. Apakah metode penyajian sesuai dengan Standar?

Melaporkan Temuan Audit RAF dan abstraksi telah digunakan lebih dari sekedar sebagai pencatatan temuan atau pengkomunikasian ke klien. Nyatanya, beberapa organisasi audit telah membuat ringkasan sebagai dasar utama bagi laporan audit internal. Laporan tersebut telah diakumulasikan berurutan secara logis berdasarkan pengelompokkan menurut subjek, lokasi, atau unit yang diaudit, kemudian diserahkan ke manajemen melalui ringkasan eksekutif satu halaman. Ringkasan ini menjelaskan lingkup audit, menyajikan opini secara keseluruhan, dan menyajikan penilaian auditor atas operasi yang diaudit. Ringkasan eksekutif juga menyebutkan temuan-temuan yang dapat dilaporkan. Temuantemuan yang didokumentasikan tercermin dalam RAF atau abstraksi. Format pelaporan ini menekankan pada kelemahan-kelemahan. Pelaporan ini menawarkan manfaat dari pelaporan segera setelah pekerjaan lapangan diselesaikan, tetapi apa yang diperoleh dari pelaporan yang cepat bisa jadi sia-sia bila hubungan auditor-klien tidak menguntungkan. Auditor bisa berada pada posisi memberikan kritik atau celaan, bukan sebagai pengamat objektif yang memerhatikan sisi baik maupun sisi buruk. Dampak yang tidak menguntungkan ini dapat diseimbangkan oleh keseluruhan tanggapan yang objektif pada ringkasan eksekutif. Hal tersebut juga dapat dinetralkan dengan pembahasan interim mengenai RAF dengan klien.

Tindak Lanjut Belum ada kesepakatan mengenai tanggung jawab auditor sehubungan dengan tindak lanjut. Beberapa penulis dan praktisi berpendapat bahwa auditor internal mengidentifikasi kelemahan-kelemahan dan terserah pada manajemen untuk mengambil tindakan perbaikan, menentukan kecukupannya, dan mengawasi efektivitasnya. Namun, pandangan ini tidak konsisten dengan deskripsi yang lebih luas mengenai tanggung jawab audit internal sebagaimana dinyatakan dalam pembukaan Standar. Audit internal merupakan aktivitas pemberian keyakinan yang independen, objektif dan aktivitas konsultasi yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi. Terkandung secara implisit dalam pernyataan tersebut tanggung jawab untuk mengidentifikasi dan melaporkan baik risiko aktual maupun potensial terhadap perusahaan. Auditor internal yang menyadari kelemahan dan risiko diminta melaporkannya ke tingkat manajemen yang tepat. Standar terbaru 2500.A1 menyatakan bahwa: Kepala bagian audit harus menetapkan proses tindak lanjut untuk mengawasi dan memastikan bahwa tindakan manajemen telah diimplementasikan secara efektif atau bahwa manajemen senior telah menerima risiko untuk tidak mengambil tindakan. Practice Advisory 2500.A1-1 dari Standar, Proses Tindak Lanjut, lebih jauh menyatakan: 2. Tindak lanjut oleh auditor internal didefinisikan sebagai sebuah proses untuk menentukan kecukupan, efektivitas, dan ketepatan waktu atas tindakan yang diambil oleh manajemen atas pengamatan dan rekomendasi penugasan yang dilaporkan. Pengamatan dan rekomendasi seperti ini juga mencakup yang dilakukan oleh auditor eksternal dan yang lainnya. (sumber: Red Book 440.01.1) 3. Tanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut harus didefinisikan dalam piagram tertulis aktivitas audit internal. Sifat, waktu, dan luas tindak lanjut harus ditentukan oleh kepala bagian audit. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan prosedur tindak lanjut yang tepat adalah: a. Signifikansi pengamatan atau observasi yang dilaporkan.

b. Tingkat upaya dan biaya yang dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi yang dilaporkan. c. Risiko-risiko yan mungkin terjadi bila tindakan perbaikan gagal dilakukan. d. Kompleksitas tindakan perbaikan. e. Periode waktu yang terlibat. Kelemahan yang dilaporkan, yang dianggap valid oleh manajemen, jelas telah menggambarkan risiko bagi perusahaan. Kondisi ini tetap menjadi risiko hingga selesai diperbaiki. Kegagalan untuk mengawasi risiko tersebut hingga dikoreksi, atau hingga manajemen senior atau dewan telah menyatakan bahwa mereka akan menanggung risiko tersebut, harus dianggap sebagai tanggung jawab audit yang tidak dilaksanakan. Argumen lain yang menyatakan bahwa auditor tidak harus melakukan tindak lanjut atas tindakan perbaikan adalah mereka adalah staf dan bukan lini. Pernyataan ini sudah jelas, auditor internal memang seharusnya tidak melakukan fungsi lini. Namun menindaklanjuti tindakan perbaikan bukanlah fungsi lini. Justru hal ini merupakan fungsi staf yang dirancang untuk menilai tindakan lini. Auditor internal melaksanakan tanggung jawab mereka dengan menilai kinerja fungsi lini dalam mengurangi risiko bagi perusahaan. Kecukupan Tindakan Perbaikan Temuan-temuan audit dan tindakan yang diperlukan untuk mengimplementasikannya memiliki banyak variasi bentuk dan ukuran sehingga tidak ada aturan kaku bagi kelayakan tindakan perbaikan yang bisa diterapkan di segala situasi. Secara umum, tindakan perbaikan seharusnya: 1. 2. 3. 4. Responsif terhadap kelemahan yang dilaporkan Lengkap dalam memperbaiki semua aspek material dari kelemahan yang ada Berkelanjtan efektivitasnya Diawasi untuk mencegah terulang lagi

Berikut ini tindakan perbaikan tidak memenuhi empat kriteria: Sebuah organisasi menggunakan berbagai macam bahan peledak dalam operasinya. Penanganan bahan peledak tersebut, seperti yang kita perkirakan membutuhkan kehati-hatian dan pengalaman yang cukup. Hal ini semakin disadari saat seorang pekerja yang lalai dan kurang terlatih secara tak sengajah meledakan tanganya dan menyebabkan seorang pekerja lainya menjadi buta.

Setelah kejadian itu dibuat kebijakan organisasi yaitu untuk semua karyawan yang menangani bahan peledak harus menyelesaikan pelatihan, memiliki sertifikasi dalam penanganan bahan peledak, dan membawa kartu yang membuktikan sertifikasi mereka. Karyawan tersebut harus memperoleh sertifikat ulang setiap tahun setelah diuji pengetahuan dan kemampuan mereka dalam menangani bahan peledak. Auditor internal memeriksa prosedur sertifikasi dan status sertifikasi sejumlah karyawan. Meraka menemukan bahwa tidak ada sistem yang menginformasikan

karyawan atau penyelia mereka bahwa mereka harus mengikuti ujian tahunan. Mereka juga menanyakan 30 dari 100 karyawan dan menemukan bahwa 2 orang tidak memiliki sertifikasi sama sekali dan sertifikasi untuk tiga karyawan telah habis masa berlakunya. Kelima karyawan tersebut terlibat dalam penanganan bahan peledak sehari-hari. Auditor internal dengan segera melaporkan temuan mereka. Sebagai

tanggapanya, manejer produksi meminta kelima orang tersebut diuji dan diberikan sertifikasi. Iya kemudian melaporkan informasi tersebut ke auditor internal, dengan menyatakan bahwa iya telah memperbaiki kondisi kelemahan yang ada. Tindakan perbaikan tidak mamadai sama sekali dan ditolak auditor internal karna alsan-alasan berikut ini: 1. Tindakan tersebut tidak responsif. Tindakan perbaikan tidak berhubungan dengan kontrol atas sertifikasi. 2. Tindakan tersebut tidak lengkap. Hanya karywan yang diperiksa auditor yang diambil tindakan. 3. Tindakan tersebut tidak berkelanjutan. Tidak ada sistem yang diterapkan untuk memastikan bahwa para karyawan dan peyelia mereka diinformasikan mengenai pengguhan masa berlaku sertifikat mereka. 4. Tindakan tersebut tidak diawasi. Tidak adaketentuan, kecuali oleh audit internal priodik, untuk memastikan bahwa orang yang menanggani bahan peledak telah dilatih dan diberi sertifikasi. Auditor menjelaskan kelemahan dalam tindakan perbaikan tersebut ke manajemen oprasional. Hasilnya, langkah-langkah tambahan berikut ini diambil: 1. Catatan kartu berisi nama-nama dan tanggal masa berlaku sertifikasi untuk setiap karyawan dibuat dalam dokumen pengigat depan departemen personalia, yang

bertanggung jawab untuk pelatihan dan serifikasi. Kartu tersebut kemudian ditempatkan dalam dokumen tunggu dan dihapuskan hanya setelah diterima bukti adanya sertifikasi ulang. 2. Semua 100 karyawan dicek untuk mengetahui keabsahan danpembaruan kartu sertifikasi. 3. Satu bulan sebelum masa berlakusertifikasi habis, manajer setiapkaryawan akan diberi tahu bahwa sertifikasi ulang sudah harus dilakukan. Mereka juga akan diberi tahu jika ada sertifikasi karywan yang diizinkan habis meskipun pemberitahuan tanggal

sertifikasi ulanmg telah diberikan. 4. Kepala bagian keamanan menginstruksikan para insinyur, yang berkelililng pabrik mencari pelanggaran keamanan, untuik memverifikasi apakah setiaporang yang terlihat menaggani bahan peledak memiliki kartu bukti serifikat terbaru.

BAB III KESIMPULAN Temuan audit adalah himpunan data dan informasi yang dikumpulkan, diolah dan diuji selama melaksanakan tugas audit atas kegiatan instansi tertentu yang disajikan secara analitis menurut unsur- unsurnya yang dianggap bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Dan untuk memahami lebih lanjut mengenai temuan audit, maka auditor harus mengetahui terlebih dahulu sifat temuan audit, temuan audit yang dapat dilaporkan, pendekatan untuk mengkronstruksi temuan, tingkat signifikan dari temuan audit, elemenelemen temuan audit serta pencatatan dan pelaporan temuan audit. Jadi, dalam mengolah hasil temuan diawali dengan memahami definisi dari temuan audit dan sifat temuan audit, kemudian melakukan pendekatan untuk mengonstruksi temuan, setelah itu menilai tingkat signifikansi temuan audit berdasarkan elemen-elemen audit. Setelah itu hasil temuan dicatat dan dilaporkan setelah auditor memahami kriteria temuan audit apa saja yang dapat dilaporkan. Temuan audit dilaporkan kepada pihak yang berkepentingan agar dijadikan evaluasi terhadap pengendalian organisasi dalam

mengidentifikasi kelemahan organisasi yang kemudian dari hasil laporan audit tersebut dijadikan acuan dari tindak lanjut yaitu tindakan perbaikan untuk memperbaiki kelemahan organisasi.

DAFTAR PUSTAKA I Gusti Agung Rai. 2008. Audit Kinerja pada Sektor Publik: Konsep, Praktik, dan Studi Kasus. Jakarta: Salemba Empat. Sawyer. Lawrence B, Mortimer A. Dittenhofer, dkk. 2006. Internal Auditing Buku 1 Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat.
http://www.scribd.com/doc/139481325/Temuan-Audit-Audit-Findings http://ffirmann.wordpress.com/2010/01/09/temuan-audit/