Anda di halaman 1dari 3

SEKOLAH ? CANDU ATAUKAH MADU?

Sesuatu dikatakan sudah mati kalau tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Orang mati adalah orang yang tak lagi berfungsi sebagai orang. Kota mati adalah kota yang tak lagi berfungsi sebagai kota. Lampu mati adalah lampu yang tak lagi berfungsi sebagai lampu dan seterusnya. Bagaimana kalau sekolah mati ? Ada yang mau berpendapat? Kali ini persoalan sekolah ternyata menimbulkan berbagai dampak, baik positif maupun negatif, hal itu dapat dilihat dari berbagai sisi. Sebelumnya, apa sih itu sekolah? Istilah sekolah selalu dilekatkan kepada suatu sistem, suatu lembaga, suatu organisasi besar dengan segenap kelengkapan perangkatnya. . Dalam sejarah, ketika manusia sudah tidak mampu dan memiliki waktu untuk mentransformasi nilai-nilai hidup dan pengetahuan kepada anak-anak mereka, maka manusia mulai membutuhkan bantuan dari manusia lain. Bantuan ini kemudian termanifestasi dalam wujud salah satunya bantuan dibidang pendidikan yaitu sekolah. Berbagai hal yang bergelumit mengenai sekolah terus mencuak dan semakin mendunia. Dari kalangan bawah sampai atas membutuhkan sekolah untuk menitipkan anaknya. Maka tak salah pada saat itu sekolah dikatakan candu. Artinya sekolah membius masyarakat, membuat orang terlena dengan kenyataan yang sekarang terjadi. Apa pentingnya sekolah kalau berakhir menjadi pengangguran? Sejak dini, orang tua berbondong-bondong memasukkan anak mereka pada sekolah-sekolah favorit demi masa depan sang anak. Kegemilangan

masa depan menurut pandangan seperti itu diukur dari tingkat pendidikan. Artinya semakin tinggi sekolahnya maka berpengaruh besar terhadap peningkatan pendapatan. Anak berlomba-lomba berkompetisi, namun sayangnya hanya menghadirkan prestasi otak, bukan watak. Namun kita patut berbangga dengan banyak kemenangan prestatif pada berbagai olimpiade internasional yang berbau akademis. Namun sayangnya pula kegemilangan itu hanya mendapat sambutan dingin dari bapak daerah, tidak seperti kemenangan audisi menyanyi yang dilangsungkan di televisi yang sangat disambut hangat. Di lain sisi, siswa yang tidak mengerti benar akan makna sekolah yang sesungguhnya, mereka cenderung hanya mengikuti nafsu emosinya yang mengarah ke arah nilai nilai negatif. Begitu banyak deviasi terjadi seusai sekolah selesai. Jelas, sekolah tidak mampu menjawab berbagai ragam permasalahan bangsa karena ruh belajar berbentuk persekolahan sudah seperti komoditas yang bertulang materialisme. Persoalannya hanya karena sekolah telah menjadi pengertian stereotip, bukan suatu stigma kental dalam alam pikiran masyarakat. Tetapi dilain arti juga terlihat terang bahwa peserta didik dibebani dengan sejuta keharusan dan pembatasan yang akhirnya mempersempit ruang gerak, wawasan, dan dinamikan mereka. Selain itu, kalau anak-anak sekolah kumpul kebo, tawuran, menghisap ganja, berbuat kriminal, menjarah bus kota, salah siapa ? Kalau banyak sarjana lulusan sekolah tertinggi lantas larut jadi koruptor dan tukang peras rakyat kecil, salah siapa? Pertanyaan tadi dapat dijadikan alat ukur tentang apa yang sudah dihasilkan sekolah selama in. Apakah sekolah memang tak lebih dari suatu ilusi, semacam obsesi kehidupan kemasyakatan yang semu?

Pengibaratannya sama seperti Tuyul yang diyakini keberadaannya namun tidak seorang pun yang mampu menghadirkannya secara kasat mata di hadapan banyak orang. Dari berbagai pernyataan tadi mari kita renungkan sejenak, kita sebagai anak sekolah yang nantinya akan menjadi generasi baru bangsa, bukan generasi penerus bangsa yang akan menentukan pula mutu dari negara kita sendiri. Generasi baru bukan generasi penerus, sebab kalau generasi penerus sama saja meneruskan perjuangan para koruptor negara yang akan menenggelamkan negara ini. Dari sekolah inilah kita yang merupakan tahap awal kita dalam membangun negara kedepan yang bebas dari moral bejad para pejabat yang tak memiliki rasa tanggung jawab yang besar dan hanya mementingkan sikap egois dan keserakahanya. Buktikan bahwa sekolah itu bukan candu untuk ke depannya.