Anda di halaman 1dari 60

LAPORAN HOME VISIT PUSKESMAS TROSOBO

TINEA CORPORIS

Pembimbing : Atik Sri Wulandari,SKM.,M.Kes

Disusun oleh : Anis Sulala 05700101

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA 2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan penyusunan laporan home visit ini tepat pada waktunya. Penyusunan laporan home visit ini sebagai bagian dari tugas kepaniteraan klinik Ilmu Kedokteran Komunitas, dan sebagai salah satu syarat kelulusan pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Atas terselesaikannya laporan home visit ini, saya menyampaikan terima kasih kepada : 1. Rektor Universitas Wijaya Kusuma Surabaya 2. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Suarabaya. 3. Kepala Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya berserta staf. 4. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo beserta staf. 5. dr. B. Irawati selaku Kepala Puskesmas Trosobo Kabupaten Sidoarjo beserta staf. 6. Atik Sri Wulandari,SKM.,M.Kes selaku pembimbing yang telah memberikan arahan kepada saya. 7. Rekan rekan dokter muda dan semua pihak yang telah membantu terselesaikan laporan penelitian ini. Saya menyadari laporan ini masih jauh dari sempurna sehingga kritik dan saran yang membangun sangat saya hargai guna penyempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Trosobo, 14 Agustus 2013

Dokter Muda Kelompok C

Klinik Dokter Keluarga FK UWKS Berkas Pembinaan Keluarga Puskesmas Trosobo

No Berkas No RM Nama KK

: 01 : 06313 : Tn.M

Tanggal kunjungan pertama kali 14 Agustus 2013, Nama pembina keluarga : Anis Sulala, S.Ked Tabel 1. CATATAN KONSULTASI PEMBIMBING (diisi setiap kali selesai satu periode pembinaan ) Tanggal Tingkat Pemahaman Paraf Pembimbing Paraf Keterangan

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA Nama Kepala Keluarga Alamat lengkap Bentuk Keluarga : Tn. M : Desa Kramat Jegu RT 02 RW 06, Kecamatan Taman : Nuclear Family

Tabel 2. Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah No Nama Kedudu L/P Umur Pendi Pekerja Pasien kan dikan an klinik dalam (Y/T) keluarga 1. Tn.M KK L 58 thn STM KULI T 2. Ny. S Istri P 52 thn TDK IRT Y SKLH 3. Sdr. N Anak L 32 thn STM KULI T 4. Sdr.Y Menantu P 28 thn SMK Pegawai T Pabrik 5. An. N Cucu P 7 thn SD T 6. An. A Cucu P 21 bln T Sumber : Data Primer, Agustus 2013

Ket

Didiagnosa Tinea corporis -

LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA BAB I STATUS PENDERITA A. PENDAHULUAN Laporan ini diambil berdasarkan kasus yang diambil dari seorang penderita Tinea kasus baru, berjenis kelamin perempuan dan berusia 52 tahun, dimana penderita merupakan salah satu dari penderita Tinea yang berada di wilayah Puskesmas Trosobo, Kabupaten Sidoarjo, dengan berbagai permasalahan yang dihadapi. Mengingat kasus ini masih banyak ditemukan di masyarakat khususnya di daerah Puskesmas Trosobo Kabupaten Sidoarjo beserta permasalahannya seperti masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Tinea terutama masalah penularannya dan menjaga kebersihan. Oleh karena itu penting kiranya bagi penulis untuk memperhatikan dan mencermatinya untuk kemudian bisa menjadikannya sebagai pengalaman di lapangan. B. Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama Alamat Suku Tanggal periksa C. IDENTITAS PENDERITA : Ny. S : 52 tahun : Perempuan : IRT : Tidak sekolah : Islam : Desa Kramat Jegu RT 02 RW 06, Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo : Jawa : 14 Agustus 2013 : Gatal- gatal pada punggung ANAMNESIS 1. Keluhan Utama 2. Riwayat Penyakit Sekarang : Seorang perempuan 52 tahun dengan keluhan utama gatal gatal pada punggung. Penderita mulai merasa sering gatal sejak 2 tahun yang lalu, gatal terjadi sepanjang hari terutama saat pasien berkeringat.penderita awalnya muncul bercak merah bulat yang sangat

gatal,kemudian digaruk lama lama bercak tersebut melebar hingga kedaerah tengkuk.beraktifitas dan berkeringat. Awalnya gatal sangat mengganggu aktifitasnya dan penderita menggaruk memakai sisir rambut namun seiring berjalannya waktu penderita sudah terbiasa dengan gatalnya hanya disaat Karena gatal tak kunjung sembuh tidak kunjung sembuh penderita pergi berobat ke Puskesmas Trosobo serta memakai obat tradisional namun tak kunjung sembuh, penderita mempunyai kebiasaan ganti baju 2 hai sekali. Penderita tidak ada alergi terhadap obat maupun makanan 3. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat alergi obat/makanan Riwayat imunisasi Riwayat asma : tidak ada : tidak diketahui : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

4. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat keluarga dengan penyakit serupa Riwayat keluarga gatal-gatal Riwayat sakit sesak nafas Riwayat hipertensi & sakit gula

5. Riwayat Kebiasaan Riwayat kebiasaan pasien ganti baju setiap dua hari sekali Riwayat olah raga : jarang sekali Riwayat pengisian waktu luang bermain dengan cucu

6. Riwayat Sosial Ekonomi Penderita adalah seorang istri dari Tn. M dan seorang ibu dari 2 orang anak, dimana 1 orang diantaranya tinggal bersama pasien, yaitu Sdr.N, menantunya Sdr.Y, serta kedua cucunya yaitu An.N dan An.A . Penderita, tinggal di sebuah rumah yang berpenghuni 6 orang (penderita, suami,anak,menantu dan 2 orang cucu), sedangkan 1 anak pasien yang lain bekerja dan tidak tinggal bersama penderita. Penderita bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan penghasilan Rp 600.000 dan suami pasien adalah seorang kuli serabutan yang tidak tiap hari bekerja dengan

penghasilan Rp50.000/hari. Dan penghasilan lain diperoleh dari anaknya, dengan total penghasilan rata-rata sekitar Rp 2.000.000 7. Riwayat Gizi. Penderita makan sehari-harinya biasanya 3 kali dengan nasi, sepiring, sayur bening, dan lauk pauk seperti tahu dan tempe. Penderita jarang makan daging, ikan, dan buah. D. ANAMNESIS SISTEM 1. Kulit 2. Kepala 3. Mata 4. Hidung 5. Telinga 6. Mulut 7. Tenggorokan 8. Pernafasan 9. Kadiovaskuler : warna kulit sawo matang, kulit gatal (+),eritema hiperpigmentasi dengan batas tegas : sakit kepala (-), pusing (-), rambut kepala rontok : penglihatan kabur (-) : tersumbat (-), mimisan (-) : pendengaran berkurang (-), berdengung (-), keluar cairan (-) : sariawan (-), mulut kering (-) : sakit menelan (-), serak (-) : sesak nafas (-), batuk (-), mengi (-), batuk darah (-) : berdebar-debar (-), nyeri dada (-) BAB tidak ada keluhan 11. Genitourinaria 12. Neuropsikiatri : BAK lancar : Neurologik Psikiatrik 14. Ekstremitas : kejang (-), lumpuh (-) : emosi stabil, mudah marah (-)

10. Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), nafsu makan biasa, nyeri perut (-),

13. Muskuloskeletal : kaku sendi (-), nyeri tangan dan kaki (-), nyeri otot (-) : dalam batas normal

E. PEMERIKSAAN FISIK 1. Keadaan Umum Tampak baik, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), kesan gizi baik. 2. Tanda Vital dan Status Gizi Tanda Vital Nadi :80 x/menit, reguler Pernafasan :20 x/menit

Suhu Tensi

:36,7 oC :110/80 mmHg

Status gizi ( BMI ) : BB TB BMI 3. Kulit Warna Kepala 4. Mata Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (3mm/3mm), reflek kornea (+/+), katarak (-/-), radang/conjunctivitis/uveitis (-/-) 5. Hidung Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), deformitas hidung (-) 6. Mulut Bibir pucat (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi lidah hiperemis (-) 7. Telinga Sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping telinga dalam batas normal 8. Tenggorokan Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-) 9. Leher JVP tidak meningkat, pembesaran kelenjar tiroid & limfe (-) 10. Thoraks Simetris, retraksi interkostal (-), retraksi subkostal (-) - Cor :I : ictus cordis tak tampak P : ictus cordis tak kuat angkat P : batas kiri atas batas kanan atas batas kiri bawah :SIC II Linea Para Sternalis Sinistra : SIC II Linea Para Sternalis Dextra :SIC IV Linea Medio Clavicularis Sinistra : Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-) : tidak ada luka, rambut tidak mudah dicabut : 50 kg : 163 cm : BB = TB2 50 1,632 = 18,8 ( normal )

batas kanan bawah : SIC IV Linea Para Sternalis Dextra batas jantung kesan tidak melebar A: S1S2 tunggal - Pulmo:

I : pengembangan dada kanan sama dengan kiri P : fremitus raba kiri sama dengan kanan P : sonor/sonor A: suara dasar vesikuler (+/+) suara tambahan ronkhi (-/-), whezing (-/-) 11. Abdomen I :dinding perut sejajar dengan dinding dada P :supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba P :timpani seluruh lapang perut A :peristaltik (+) normal 12. Ektremitas: dalam batas normal

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan KOH G. RESUME Seorang perempuan 52 tahun dengan keluhan utama gatal gatal pada punggung. Penderita mulai merasa sering gatal sejak 2 tahun yang lalu, gatal terjadi sepanjang hari terutama saat pasien berkeringat.penderita awalnya muncul bercak merah bulat yang sangat gatal,kemudian digaruk lama lama bercak tersebut melebar hingga kedaerah tengkuk.beraktifitas dan berkeringat. Awalnya gatal sangat mengganggu aktifitasnya dan penderita menggaruk memakai sisir rambut namun seiring berjalannya waktu penderita sudah terbiasa dengan gatalnya hanya disaat Karena gatal tak kunjung sembuh tidak kunjung sembuh penderita pergi berobat ke Puskesmas Trosobo serta memakai obat tradisional namun tak kunjung sembuh, penderita mempunyai kebiasaan ganti baju 2 hai sekali. Penderita tidak ada alergi terhadap obat maupun makanan Pada pemeriksaan fisik sekarang didapatkan keadaan umum baik, compos mentis, status gizi normal. Tanda vital T:110/80 mmHg, N: 80 x/menit, Rr: 20 x/menit, S:36,70C, BB:50 kg, TB:163 cm, status gizi baik. Pemeriksaan fisik diketahui dalam batas normal. :tidak dilakukan

H. PATIENT CENTERED DIAGNOSIS Diagnosis Biologis Tinea corporis kasus baru Diagnosis Sosial Ekonomi dan Budaya 1. 2. 3. 4. Kondisi lingkungan dan rumah yang tidak sehat. Status ekonomi yang kurang. Kurangnya pengertian tentang penyakit. Kurangnya menjaga kebersihan diri

I. PENATALAKSANAAN Non Medika mentosa 1. Menjaga higiens tubuh Diharapkan agar penderita menjaga kebersihan tubuhnya dengan membiasakan ganti baju setiap hari,mengganti seprei dan mencuci handuk minimal 1 minggu sekali serta handuk jangan dipakai secara bergilir dengan anggota keluarga yang lain, mandi dengan air bersih. 2. Olah raga Diharapkan penderita dapat menjaga kesehatan tubuhnya dengan melakukan olah raga ringan seperti jalan pagi hari di lingkungan sekitar.. 3. Mengurangi stress tertentu Diharapkan penderita mendapat motivasi yang adekuat dari keluarga untuk kesembuhan. Medikamentosa a. Salep 2-4/3-10 sehari 2 kali b. Ketokonazole : 1 tablet (200mg)/hari (2-3minggu)

BAB II IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSI KELUARGA A. FUNGSI KELUARGA 1. Fungsi Biologis. Keluarga terdiri dari penderita, suami, 2 orang anak, Penderita tinggal serumah dengan suami,1 anak, menantu dan 2 orang cucu. 2. Fungsi Psikologis. Ny.S tinggal serumah dengan suami,1 anak, menantu dan 2 orang cucu. Hubungan keluarga mereka terjalin cukup akrab satu dengan yang lainnya, terbukti dengan permasalahan-permasalahan yang dapat diatasi dengan baik dalam keluarga ini. Penderita bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan penghasilan Rp 600.000, namun penderita mendapatkan bantuan dana dari suami dan anaknya yang tinggal serumah. Permasalahan yang timbul dalam keluarga dipecahkan secara musyawarah, serta dibiasakan sikap saling tolong menolong. Penghasilan penderita dengan bantuan dari anak-anaknya yang lain telah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, mereka hidup bahagia dan memasrahkan semuanya kepada Tuhan. 3. Fungsi Sosial Dalam masyarakat penderita dan keluarganya hanya sebagai anggota masyarakat biasa, tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat. Dalam kesehariannya penderita seseorang yang ramah, murah senyum dan bergaul akrab dengan masyarakat di sekitarnya seperti halnya anggota masyarakat yang lain serta tidak segan membantu tetangganya yang memerlukan bantuan. Apabila ada kegiatan di lingkungannya, penderita akan ikut serta. 4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan Penghasilan keluarga berasal dari penghasilan dari penderita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan dibantu dengan suami serta

10

anaknya yang telah bekerja dengan total penghasilan rata-rata sebesar Rp 2.000.000,00 perbulannya. Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan 6 orang anggota rumah tersebut. Untuk biaya hidup sehari-hari seperti makan, minum, biaya sekolah dan iuran listrik hanya mengandalkan uang yang ada dan tidak pernah menyisihkannya uang untuk biaya-biaya mendadak (seperti biaya pengobatan dan lain-lain). Untuk kebutuhan air dengan menggunakan pompa air. Untuk memasak memakai kompor minyak. Makan sehari-hari dengan lauk, tahu, tempe, jarang dengan daging, buah dan frekuensi makan 3 kali sehari. Kalau ada keluarga yang sakit biasa berobat ke puskesmas. 5. Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi Penderita termasuk pribadi yang terbuka sehingga bila mengalami masalah penderita sering bercerita kepada anggota keluarga yang lain. B. APGAR SCORE ADAPTATION Selama ini dalam menghadapi masalah keluarga, pasien selalu pertama kali membicarakannya kepada suami dan mengungkapkan apa yang diinginkannya dan menjadi keluhannya. Penyakitnya ini tidak mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Dukungan dari keluarga kepadanya, sangat memberinya motivasi untuk sembuh , karena penderita dan keluarga yakin penyakitnya bisa sembuh total bila ia mematuhi anjuran dokter untuk menjaga kebersihan pada dirinya. PARTNERSHIP Ny. S mengerti bahwa ia adalah tulang punggung keluarga karena merupakan kepala keluarga. Selain itu keluarganya sangat mendukung dan meyakinkannya bahwa ia bisa sembuh kembali, komunikasi antar anggota keluarga masih berjalan dengan baik. GROWTH Ny. S sadar bahwa ia harus bersabar menghadapi penyakitnya.

AFFECTION

11

Ny. S merasa hubungan kasih sayang dan interaksinya dengan keluarga cukup ,. Ia menyayangi keluarganya, begitu pula sebaliknya.

RESOLVE Ny. S merasa cukup puas dengan kebersamaan dan waktu yang ia dapatkan dari keluarganya walaupun waktu yang tersedia tidak banyak karena dia harus bekerja dari pagi sampai sore.pada malam harinya penderita selalu menyempatkan diri buat sekedar berbincang bincang serta bercanda dengan anggota keluarganya.
APGAR Ny. S terhadap Keluarga Sering/ selalu Kadangkadang Jarang/tidak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke

keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru saya A Saya puas dengan cara keluarga mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Total poin = 10 fungsi keluarga dalam keadaan baik Ny. S bekerja sebagai pembantu ruamh tangga yang jam kerjanya seharian penuh, tapi penderita selalu menyempatkan waktu malam hari bersama keluarganya sehingga Ny. S tidak mengalami kesulitan untuk bertemu maupun menghabiskan waktu bersama suami,anak,menantu dan kedua cucunya.
APGAR Tn.M Terhadap Keluarga Sering/ selalu Kadangkadang Jarang/tidak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke

keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru

12

A Saya puas dengan cara keluarga

saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Total poin = 10, fungsi keluarga dalam keadaan baik Tn.M seorang kepala rumah tangga yang bekerja sebagai kuli serabutan, sehingga kalau lagi tidak bekerja, punya banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarganya.
APGAR sdr. N Terhadap Keluarga A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Sering/ selalu Kadangkadang Jarang/tidak

Total poin = 9, fungsi keluarga dalam keadaan baik


sdr. N bekerja sebagai tukang jahit dari pagi hingga sore, namun Sdr.M

sudah merasa cukup puas dengan waktu yang dihabiskan bersama keluarganya.
APGAR Sdr. Y Terhadap Keluarga A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Sering/ selalu Kadangkadang Jarang/tidak

Total poin = 9, fungsi keluarga dalam keadaan baik

13

Sdr.Y bekerja sebagai guru dari pagi hingga siang hari, sehingga Sdr.Z masih mempunyai cukup banyak waktu untuk dihabiskan bersama keluarganya. . Secara keseluruhan total poin dari APGAR keluarga Ny. S adalah 56, sehingga rata-rata APGAR dari keluarga Ny. S adalah 9,33. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga Ny. S dan keluarganya dalam keadaan baik. Hubungan antar individu dalam keluarga tersebut terjalin dengan baik. C. SCREEM SUMBER Sosial

PATHOLOGY Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga. Partisipasi mereka dalam masyarakat cukup baik. Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, hal ini dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari baik dalam keluarga maupun di lingkungan, banyak tradisi budaya yang masih diikuti. Sering mengikuti acara-acara yang bersifat hajatan, sunatan, nyadran dll. Menggunakan bahasa jawa, tata krama dan kesopanan Religius Pemahaman agama cukup. Penderita dan Agama menawarkan keluarga rajin sholat lima waktu. pengalaman spiritual yang baik untuk ketenangan individu yang tidak didapatkan dari yang lain Ekonomi Ekonomi keluarga ini tergolong menengah ke bawah, untuk kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi, meski belum mampu mencukupi kebutuhan sekunder. Edukasi Tingkat pendidikan dan pengetahuan penderita dan suami masih tergolong tinggi. Medical Tidak mampu membiayai pelayanan Pelayanan kesehatan puskesmas kesehatan yang lebih baik Dalam mencari memberikan perhatian khusus pelayanan kesehatan keluarga ini biasanya terhadap kasus penderita menggunakan Puskesmas dan hal ini mudah dijangkau karena letaknya dekat.

KET _ _

+ _

Keterangan : Edukasi (+) artinya keluarga Ny.S menghadapi permasalahan dalam bidang pendidikan. Kurangnya pendidikan dan informasi

14

tentang kesehatan menyebabkan kurangnya kesadaran akan kesehatan individu sehingga keluarga tersebut rawan akan terjadinya penyakit. Ekonomi (+) artinya keluarga Ny.S menghadapi permasalahan dalam bidang perekonomian. Minimnya pendapatan keluarga yaitu Rp.2.000.000,- /bulan yang digunakan untuk kebutuhan 6 orang anggota rumah tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kesehatan keluarga tersebut, yaitu misalnya rendahnya pemenuhan kebutuhan gizi dalam keluarga tersebut. Hal ini terbukti dari makanan sehari-hari penderita yang hanya dengan lauk tahutempe-sayur. D. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA Alamat lengkap Bentuk Keluarga : Desa Tanjung Sari RT 14 RW 02, Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo : Nuclear Family

Diagram 1. Genogram Keluarga Ny.S Dibuat tanggal 14 Agustus 2013


Tn. M Ny. S 52 Thn Penderita

Sumber : Data Primer, 12 Agustus 2013 Keterangan : Tn. A : Penderita

15

Sdr. F Ny. L

: Anak Penderita : Istri Penderita

E. Informasi Pola Interaksi Keluarga

Ny.S, 52 th

Tn. N 32 th

Tn.M, 58 th

Keterangan :

: hubungan baik : hubungan tidak baik

Hubungan antara Tn. K, istri dan anaknya baik dan dekat. Dalam keluarga ini tidak sampai terjadi konflik atau hubungan buruk antar anggota keluarga. F. Pertanyaan Sirkuler 1. Ketika penderita jatuh sakit apa yang harus dilakukan oleh suami? Jawab : suami merawat penderita dan menyiapkan kebutuhan penderita. 2. Ketika suami bertindak seperti itu apa yang dilakukan anak? Jawab : Anak mendukung apa yang dilakukan oleh ibu. 3. Kalau butuh dirawat/operasi ijin siapa yang dibutuhkan? Jawab : Keputusan bisa diambil oleh penderita sendiri atau Tn.M sebagai suaminya. 4. Siapa anggota keluarga yang terdekat dengan penderita? Jawab : Anggota keluarga yang dekat dengan penderita adalah suami. 5. Selanjutnya siapa? Jawab : Selanjutnya adalah anak penderita.

16

6. Siapa yang secara emosional jauh dari penderita? Jawab : Anak kedua, karena waktu yang dihabiskan bersama penderita sangat sedikit. 7. Siapa yang selalu tidak setuju dengan pasien? Jawab : Tidak ada, karena anggota keluarga yang lain akan mendukung segala sesuatu yang terbaik buat penderita 8. Siapa yang biasanya tidak setuju dengan anggota keluarga lainnya? Jawab : Tidak ada

17

BAB III IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN A. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga 1. Faktor Perilaku Keluarga Ny.S seorang istri. Dia tinggal bersama suami dan satu orang anak,menantu dan kedua cucunya. Penderita bekerja sebagai pembantu rumah tangga setiap harinya. Walaupun sakit, tetapi tidak menggangu aktivitas nya sehari-hari. Keluarga ini menyadari pentingnya kesehatan dan meyakini bahwa sakitnya disebabkan oleh kuman penyakit, bukan dari ilmu hitam. Mereka tidak terlalu mempercayai mitos, apalagi menyangkut masalah penyakit, lebih mempercayakan pemeriksaan atau pengobatannya pada mantri, bidan, atau dokter di puskesmas yang terletak dekat dengan rumah. Keluarga ini berusaha menjaga kebersihan lingkungan rumahnya misalnya dengan menyapu rumah dan halaman paling tidak setiap pagi dan mengepel lantai tiap 2 hari sekali 2. Faktor Non Perilaku Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga prasejahtera. Keluarga ini memiliki sumber penghasilan yaitu dari penderita sebagai pembantu,dari suami serta anaknya. Dari total semua penghasilan tersebut keluarga dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari walaupun belum semua kebutuhan dapat terpenuhi terutama kebutuhan sekunder dan tertier. Rumah yang dihuni keluarga ini kurang memadai karena masih ada kekurangan dalam pemenuhan standar kesehatan.pencahayaan ruangan kurang, dan ventilasi kurang. Rumah memiliki fasilitas jamban keluarga. Sampah keluarga dibuang ditempat pembuangan sampah yang ada di depan

18

rumah. Fasilitas kesehatan yang sering dikunjungi oleh keluarga ini jika sakit adalah Puskesmas Trosobo.

B. Identifikasi Lingkungan Rumah Gambaran Lingkungan Keluarga ini tinggal di sebuah rumah berukuran 6x8 m2 yang berdempetan dengan rumah tetangganya dan menghadap ke Selatan. Terdiri dari tiga kamar tidur, didepan ketiga kamar ada ruang tamu, dibagian belakang terdapat dapur yang bersebelahan dengan tempat cuci baju dan kamar mandi yang didalamnya terdapat wc. Terdapat satu Jendela,namun jarang dibuka.terdapat dua pintu dibagian depan rumah yang selalu dibuka,namun ventilasi dan penerangan rumah masih kurang. Lantai rumah terbuat dari keramik. Atap rumah tersusun dari genteng dan tidak ditutup langit-langit. Masing-masing kamar memiliki dipan untuk meletakan kasur. Dinding rumah terbuat dari batubata namun belum di plester aci. Perabotan rumah tangga minim. Sumber air untuk kebutuhan sehari-harinya keluarga ini menggunakan air sumur. Secara keseluruhan kebersihan rumah masih kurang. Sehari-hari keluarga memasak menggunakan kompor gas jatah dari pemerintah.

19

BAB IV DAFTAR MASALAH 1. Masalah aktif : a. Tinea korporis baru b. Resiko penularan pada anggota keluarga yang lain c. Pengetahuan penderita dan keluarga yang masih kurang tentang penyakitnya 2. Faktor resiko : a. Jarangnya ganti pakaian dan pekerjaan penderita yang mengeluarkan keringat banyak b. Lingkungan dan tempat tinggal yang tidak sehat DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN (Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)
1.Lingkungan dan rumah yang tidak sehat sehatang memadai 2. Prevensi untuk anggota keluarga lainnya

Ny.S 52 th

3. jarangnya ganti pakaian

4. Tingkat
pendidikan keluarga yang masih rendah

20

BAB V PATIENT MANAGEMENT A. PATIENT CENTERED MANAGEMENT 1. Suport Psikologis Pasien memerlukan dukungan psikologis mengenai faktor-faktor yang dapat menimbulkan kepercayaan baik pada diri sendiri maupun kepada dokternya. Antara lain dengan cara : a. Memberikan perhatian pada berbagai aspek masalah yang dihadapi. b. Memberikan perhatian pada pemecahan masalah yang ada. Memantau kondisi fisik dengan teliti dan berkesinambungan. c. Memantau kondisi fisik dengan teliti dan berkesinambungan. d. Timbulnya kepercayaan dari pasien, sehingga timbul pula kesadaran dan kesungguhan untuk mematuhi nasihat-nasihat dari dokter. Pendekatan Spiritual, diarahkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME, misalnya dengan rajin ibadah, berdoa dan memohon hanya kepada Tuhan YME. Dukungan psikososial dari keluarga dan lingkungan merupakan hal yang harus dilakukan. Bila ada masalah, evaluasi psikologis dan evaluasi kondisi sosial, dapat dijadikan titik tolak program terapi psikososial. 2. Penentraman Hati Menentramkan hati diperlukan untuk pasien dengan problem psikologis antara lain yang disebabkan oleh persepsi yang salah tentang penyakitnya, kecemasan, kekecewaan dan keterasingan yang dialami akibat penyakitnya. Menentramkan hati penderita dengan memberikan edukasi tentang penyakitnya bahwa penyakitnya tersebut bukan penyakit turunan dan dapat disembuhkan. Faktor yang paling penting untuk kesembuhannya adalah ketekunan dalam menjalani pengobatan sesuai petunjuk dokter. Selain itu juga didukung dengan makan makanan yang bergizi tinggi meskipun sederhana, istirahat yang cukup. Diharapkan pasien bisa berpikir positif, tidak berprasangka buruk terhadap penyakitnya, dan membangun semangat hidupnya sehingga bisa mendukung penyembuhan dan meningkatkan kualitas hidupnya. 3. Penjelasan, Basic Konseling dan Pendidikan Pasien

21

Diberikan penjelasan yang benar mengenai persepsi yang salah tentang Tinea. Pasien Tinea dan keluarganya perlu tahu tentang penyakit, pengobatannya, pencegahan dan penularannya. Sehingga persepsi yang salah dan merugikan bisa dihilangkan. Hal ini bisa dilakukan melalui konseling setiap kali pasien kontrol dan melalui kunjungan rumah baik oleh dokter maupun oleh petugas Yankes. Maka pasien harus diberi pengertian untuk terus mengupayakan kesembuhannya melalui program pengobatan yang dianjurkan oleh dokter. Juga harus dilakukan pendalaman terhadap berbagai masalah penderita termasuk akibat penyakitnya (Tinea) terhadap hubungan dengan keluarganya, pemberian konseling jika dibutuhkan. Penderita juga diberi penjelasan tentang pentingnya menjaga menjaga kebersihan diri,pakaian dan lingkungan dalam rumah guna mencegah pertumbuhan jamur didalam badan penghuni rumah. 4. Menimbulkan rasa percaya diri dan tanggung jawab pada diri sendiri Dokter perlu menimbulkan rasa percaya dan keyakinan pada diri pasien bahwa ia bisa melewati berbagai kesulitan dan penderitaannya. Selain itu juga ditanamkan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri mengenai kepatuhan minum obat,menjaga kebersihan badan serta bajunya.. 5. Pengobatan Medika mentosa dan non medikamentosa seperti yang tertera dalam penatalaksanaan. 6. Pencegahan dan Promosi Kesehatan Hal yang tidak boleh terlupakan adalah pencegahan dan promosi kesehatan berupa perubahan tingkah laku (mengenai ganti baju setiap kali mandi,minimal dua kali sehari), lingkungan (tempat tinggal yang tidak boleh lembab dengan penggunaan ventilasi yang cukup, pemakaian genteng kaca sehingga pencahayaan cukup dan kebersihan lingkungan rumah dan luar rumah yang bersih dengan disapu 2x/hari), meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara diet makanan bergizi dan olah raga yang teratur.

22

B. PREVENSI BEBAS TINEA UNTUK KELUARGA LAINNYA (ISTRI DAN ANAKNYA) Pada prinsipnya secara umum prevensi untuk penyakit Tinea adalah sama dengan prevensi bebas Tinea untuk penderita, namun dalam hal ini diutamakan untuk menjaga kebersihan tubuh. Misalnya dengan cara sebagai berikut : 1. Menjaga higiens tubuh Pasien diharapkan agar menjaga kebersihan tubuhnya dengan mandi dan mengganti baju minimal dua kali sehari.mengganti dan mencuci sprei minimal 1x seminggu,tidak boleh memakai handuk secara bergilir dengan anggota keluarga yang lain. 2. Istirahat yang cukup 6-8 jam sehari semalam. 3. Olah raga teratur dan makan-makanan yang bergizi. Kesemuanya ini merupakan langkah-langkah untuk meningkatkan daya tahan tubuh bagi anggota keluarga yang serumah dengan penderita agar tidak tertular infeksi Tinea dari penderita.

23

BAB VI TINJAUAN PUSTAKA TINEA CORPORIS A. LATAR BELAKANG Dermatomikosis superfisialis dapat disebabkan oleh jamur dermatofit (dermatofitosis), spesies Candida biasanya Candida albicans (kandidiasis) dan malassezia furfur (pitiriasis versikolor).1,2,3 Golongan penyakit ini cukup banyak diderita penduduk negara tropis. Insidensi dermatomikosis superfisialis d Indonesia belum didapatkan angka yang tepat. Di daerah pedalaman angka ini mungkin akan meningkat dengan variasi yang berbeda. 1 Identifikasi mayoritas jamur-jamur patogen tersebut di atas masih sanngat bergantung pada observasi langsung morfologi jamur. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan yang luas mengenai klasifikasi dan struktur jamur.1 Faktor-faktor yang memegang peranan timbunya dermatomikosis

superfisialis adalah iklim yang panas, higiene sebagian masyarakat yang masih kurang, adanya sumber penularan sekitarnya, penggunaan obat-obatan antibiotika, steroid, dan sitosyika yang meningkat, adanya penyakit kronis dan penyakit sistemik lainnya. 1,2 Hal ini yang perlu diperhatikan pada etiopatogenesis dermatomikosis superfisialis adalah spesies penyebab dermatomikosis berasal dari lingkungan, hewan, manusia, sedangkan spesies penyebab kandidiasis (Candida albicans) dan pitiriasis versikolor (Malassezia furfur) merupakan bagian dari flora normal pada manusia. 1,2,3 B. DEFINISI Tinea korporis adalah infeksi jamur dermatophytes pada kulit halus (glabrous skin) di daerah muka, leher, badan, lengan, dan gluteal. Bentuk klasik lesi biasanya anular, berbatas tegas dengan tepi polisiklis, biasa didapatkan vesikule kecil-kecil, serta skuama yang halus. Didaerah sentral biasanya menipis dan terjadi penyembuhan, sementara yang di tepi makin

24

meluas ke perifer. Kadang-kadang bagian tengahnya tidak menyembuh tetapi tetap meninggi dan tertutup skuama sehingga menjadi bercak yang besar. Lesi yang berdekatan dapat bergabung membentuk pola gyrat atau polisiklis. Didaerah muka kadang-kadang disebut juga Tinea fasialis sedangkan didaerah paha dan gluteal sering menjadi bagian dari Tinea kruris. Disamping bentuk yang klasik, bisa didapatkan variasi seperti bentuk eksematoid, herpetiform, dan lain-lain.2

C. EPIDEMIOLOGI Beberapa spesies dermatofitosis dapat menyebabkan timbulnya endemik pada area geografik tertentu, seperti T. schoenleinii yang merupakan spesies penyebab tersering tinea favosa. Penyakit ini endemik di daerah Timur Tengah, Medatirenia, Eropa Timur, Asia Selatan, dan beberapa negara di Amerika Selatan, oleh karena itu sangat jarang dijumpai di Indonesia. Selain itu, Tinea imbrikata yang disebabkan oleh T. concentricum hanya dapat ditemukan pada daerah tertentu dinegara-negara Timur Jauh, Pasifik Selatan, dan Amerika Tengah dan Selatan. Di Indonesia penyakit ini banyak ditemui di Kalimantan, Sulawesi Tengah, Kepulauan Aru dan Papua.1,4 Pada akhir abad 19 dan awal 20, M audouinii, diikuti oleh M canis merupakan penyebab utama dermatofitosis di Negara Barat dan Eropa Mediterania, sedangkan T schoenleinii adalah penyebab dominan di Eropa Timur, khususnya T tonsurans yang saat ini telah muncul sebagai agen dominan dalam banyak daerah. T tonsurans memiliki distribusi di seluruh dunia dan menyebabkan Tinea capitis, tinea corporis dan tinea unguium. 5

D. ETIOLOGI Jamur dermatofit berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual maupun seksual. Secara aseksual yaitu tanpa peleburan materi nuklear dengan struktur khusus disebut konidia dan secara seksual yaitu terjadinya

25

peleburan materi nuklear dan kemudian mengalami reduksi menjadi suatu bentuk yang disebut askus. Empat puluh tahun yang lalu, bentuk seksual ini masih belum diketahui.1 Klasifikasi jamur dermatofit berdasarkan cara reproduksi yaitu dimasukkan ke dalam kelas Deuteromycetes (fungi imperfecti), bila berkembang biak dengan aseksual konidia, dan dimasukkan ke dalam family Gymnoascaceae dan filum Ascomycota, bila bentuk seksual dapat diidentifikasi dan merupakan bentuk yang sempurna. Dikenal genus Nannizzia dan Arthroderma yang masing-masing dihubungkan dengan genus Microsporum dan Trichophyton. 2 Cara Penularan Dermatofitosis ditularkan melalui 3 cara, yaitu : 1,3,8 Antropofilik : transmisi dari manusia ke manusia. Dapat ditularkan secara langsung maupun tidak langsung, bisa melalui lantai kolam renang dan udara sekitar rumah sakit/klinik. Spesies antropofilik (E. floccosum, M. audouinii, M. ferrugineum, T. mentagrophytes var.iterdigitale) mengakibatkan radang ringan dan kronis/kambuh-kambuhan. Zoofilik : transmisi dari hewan ke manusia Umumnya kelompok spesies zoofilik (M. canis,T. metagrophytes var mentagrophytes, menimbulkan reaksi keradangan yang hebat/akut, namun menimbulkan kesembuhan cepat dan spontan. Dapat ditularkan secara kontak langsung atau tidak langsung melalui bulu binatang yang terinfeksi dan melekat di pakaian, atau sebagai kontaminan pada rumah/tempat tidur hewan, tempat makanan dan minuman dan minuman hewan. Anjing,kucing, sapi, kuda, mencit merupakan sumber penularan utama pada manusia. Geofilik : transmisi dari tanah ke manusia Umumnya kelompok spesies geofilik secara sporadis menginfeksi

manusia. Dan menimbulkan reaksi radang. M. Gypseum adalah spesies

26

geofilik

yang

paling

banyak

diisolasi

pada

manusia.Spesies

ini

menyebabkan reaksi radang hebat/akut, sembuh, jarang kambuh.. E. PATOFISIOLOGI Untuk dapat menimbulkan suatu penyakit, jamur harus dapat mengatasi pertahanan tubuh nonspesifik dan spesifik. Pada waktu menginvasi pejamu, jamur harus mempunyai kemampuan melekat pada kulit dan mukosa, serta menembus jaringan pejamu.2 Dermatofitosis mempunyai beberapa sifat khusus antara lain: (1) a) Jamur hidup di lapisan stratum korneum dan memberikan rangsangan ke jaringan di bawahnya. Reaksi jaringan tersebut bervariasi dari deskuamasi yang ringan sampai berat, bisa disertai hiperkeratosis ataupun timbulnya vesikula. Pada stratum korneum, fase pertama invasi dermatofit berupa perlekatan artrokonidia pada keratinosit. Secara in vitro, proses ini memerlukan waktu sekitar 2 jam sejak terjadi kontak. 1 Setelah spora melekat, perlu waktu 4-6 jam untuk germinasi dan penetrasi ke stratum korneum. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabangcabangnya dalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik kemudian berdifusi kedalam jaringan epidermis dan merusak keratinosit. 1

b) Bila reaksinya hebat, yang berarti penolakan tubuh yang kuat, maka sering terjadi penyembuhan spontan. Sebaliknya bila reaksinya ringan, penyakit berjalan kronis. Jamur harus mampu bertahan di dalam lingkungan pejamu dan dapat menyesuaikan diri dengan suhu serta keadaan biokimia pejamu untuk dapat berkembang biak dan menimbulkan reaksi jaringan atau radang. Dari berbagai kemampuan merupakan tersebut, dua kemampuan jamur untuk dalam menyesuaikan diri didalam lingkungan pejamu dan kemampuan mengatasi pertahanan seluler mekanisme terpenting

27

patogenesis penyakit jamur. Selain itu, faktor lain seperti ketahanan pejamu mempunyai peranan penting dalam menghambat kemampuan jamur dermatofit melakukan penetrasi pada lapisan stratum korneum yang lebih dalam. 1

c) Jamur dermatofit ini dapat tetap hidup di kulit, kuku ataupun rambut selama jaringan ini tetap berploriferasi. Hal ini yang menerangkan mengapa infeksi pada rambut dapat terus berlangsung meskipun telah dicukur. Bagian rambut yang berploriferasi tidak pernah ikut terpotong kecuali bila dicabut.

d) Kadang-kadang jamur ini bisa persisten tanpa menimbulkan gejala klinis sama sekali, terutama di daerah kaki serta kuku.

Hal yang terpenting untuk pertumbuhan jamur dermatofitosis adalah keberadaan lingkungan yang sesuai, seperti kelembaban kulit, maserasi dan adanya trauma. Pemakaian bahan-bahan material yang sifatnya oklusif dapat meningkatkan temperatur dan kelembaban kulit serta mengganggu fungsi barier dari stratum korneum, misalnya penggunaan sepatu yang tertutup menimbulkan tinea pedis dan penggunaan pakaian yang tertutup dapat menimbulkan tinea korporis terutama pada negara dengan iklim tropis. 1

Dua faktor yang berperan penting terhadap ukuran dan lamanya lesi dermatofitosis akan timbul adalah tergantung pada: (1) 1. Rerata pertumbuhan jamur 2. Epidermal turnover rate

28

Rerata pertumbuhan jamur harus sama atau melampui Epidermal turnover rate, bila tidak maka organisme tersebut akan dilepaskan atau dikeluarkan secara cepat dari stratum korneum. 1 Adanya serum faktor penghambat jamur dermatofit yang memasuki ruangan ekstravaskuler dan bersifat melindungi, sehingga jamur dermatofit hanya tumbuh di dalam lapisan keratin (stratum korneum) dan mencegah elemen jamur penetrasi ke lapisan yang lebih dalam.1 Suhu badan normal (37oC) akan menghambat pertumbuhan spesies dermatofit umumnya. Suhu badan yang lebih tinggi (41 oC) akan membunuh jamur tersebut, tetapi jamur tersebut dapat dilatih pada suhu yang lebih tinggi.1 Faktor-faktor lain yang mempengaruhi timbulnya dermatofitosis ialah: (1) Faktor usia, jenis kelamin, genetik dan ras a) Faktor usia dan jenis kelamin Terdapat perbedaan kelompok usia maupun jenis kelamin tertentu terhadap kepekaan timbulnya dermatofitosis. 1

b)

Faktor genetika Terdapat dugaan bahwa faktor genetik berperan terhadap timbulnya dermatofitosis, seperti tinea imbrikata yang diturunkan secara autosomal resesif. 1

c)

Faktor golongan darah Tidak dapat dibuktikan adanya hubungan antara kepekaan dermatofitosis dengan golongan darah tertentu. 1

d)

Faktor ras

29

Walaupun kemungkinan ada perbedaan rasial pada orangorang yang peka terhadap dermatofitosis, tetapi blm dapat dijelaskan. 1

Faktor endokrin dan metabolik Tidak didapatkan bukti nyata bahwa penderita diabetik mempunyai kepekaan terhadap dermatofitosis. Malnutrisi dan sindroma Cushing dapat menurunkan ketahanan terhadap infeksi, akibat dari depresi imunitas seluler. 1

Temperatur dan lingkungan mikro Dermatofit tumbuh jelek pada suhu 37oC, kecuali spesies T. verrucosum. Kemungkinan faktor tersebut yang menyebabkan berkurangnya penetrasi jamur dermatofit pada lapisan epidermis dan dermis yang lebih dalam. 1

Organisme kompetitif dan ko-patogen Kemampuan spesies dermatofit tertentu untuk menghasilkan penicillin like antibiotics menyebabkan jamur ini dapat meregulasi flora bakterial. Walaupun terdapat beberapa interaksi kompetitif, Staphylococcus aereus kadang-kadang bisa bekerja sebagai kopatogen, yang meningkatkan derajat keradangan pada infeksi dermatofit. 1

Menurut Elewski (1996), jamur penyebab tinea kapitis secara invivo hidup pada keratin yang terbentuk lengkap pada bagian rambut yang sudah mati. Jamur yang menyebabkan keratolisis karena adanya enzim keratinase, walaupun banyak

30

juga jamur penghasil keratinase yang tidak menyebabkan tinea kapitis (Epidermophton floccosum, T. concentricum dll). Penjelasan mengenai keratolisis masih belum diketahui, sehingga pembuktian keratolisis hanya berdasarkan pengurangan keratin secara tidak langsung. Rockman (1990) mengemukakan bahwa insiden tinea kapitis pada anak pubertas terjadi karena menurunnya asam lemak dalam sebum. Infeksi dimulai dengan invasi dermatofita melalui perifolikuler stratum korneum, hifa tumbuh ke dalam folikel dan berkembang dengan membentuk rangkaian spora dan berhenti tiba-tiba pada pertemuan antar sel yang beinti dan yang mempunyai keratin tebal. Pada ujung hifa ditemui Adamsons Fringe bagian luar inrapilari hifa membelah membentuk rantai spora ektotik. Selama pertumbuhan rambut, jamur ikut tumbuh ke arah batang rambut yang menyebabkan patahnya rambut dan terjadi alopesia. Hifa tidak ditemukan pada rambut yang terdapat di atas kulit

F. KLASIFIKASI TINEA Klasifikasi spesies penyebab dermatofit berdasarkan cara penularan : (1) Antropofilik E. floccosum M. audouinii T. mentagrophytes var. Interdigitale T. rubrum T. schoenleinii T. tonsurans T. violaceum Zoofilik M. canis M. gallinae T. mentagrophytes var mentagrophytes T. verrucosum T. equinum M. equinum Geofilik M. gypseum M. fulvum M. nanum T. ajelloi T. terrestre

Klasifikasi spesies penyebab dermatofit berdasarkan diagnosis klinis: 1 1. Tinea kapitis, disebabkan oleh:

31

Microsporum (beberapa spesies) Trichopyton (beberapa spesies kecuali T. concentricum)

2.

Tinea favosa, disebabkan oleh: T. schoenleinii T. violaceum (jarang) M. gypseum (jarang)

3. Tinea barbae, disebabkan oleh : T. mentagrophytes T. rubrum T. violaceum T. verrucosum T. megninii M.canis

4. Tinea Korporis, disebabkan oleh : T. rubrum T. mentagrophytes M. Audouinii

32

M.canis

5. Tinea imbrikata, disebabkan oleh: T.concentricum

6. Tinea Kruris, disebabkan oleh : E. Floccosum T. rubrum T. mentagrophytes

7. Tinea Pedis, disebabkan oleh: T. rubrum T. mentagrophytes E. Floccosum

8. Tinea manuum, disebabkan oleh: T. rubrum E. Floccosum T. mentagrophytes

9. Tinea unguium, disebabkan oleh:

33

T. rubrum T. mentagrophytes

Rippon membagi dermatomikosis superfisialis menjadi 9 bentuk: 1,8 1. Tinea Kapitis Sinonim : Ring worm of the scalp, trichophytosis capitis, tinea tonsuran, herpes tonsuran. 1 2. Tinea Korporis Disebut juga tinea sirsinata.1 3. Tinea Kruris 4. Tinea Pedis Sinonimnya adalah Dermatofitosis, epidermophytosis dermatofitosis, athletes foot, ringworm of the foot.2 5. Tinea manum 6. Tinea Unguium 7. Tinea imbrikata Sinonim Tinea imbrikata, tokelau, Burmese-, Chinese-, Indian-ringworm, lofa tokelau, tinea circinata tropical, gogo, Hanuman ringworm, Dajakse schurf. 1,2 8. Tinea Barbae (jarang ditemukan lagi) 9. Tinea Favosa (Tidak ada di Indonesia)

G. DIAGNOSIS

34

1. ANAMNESA DAN GEJALA KLINIS Tinea korporis adalah infeksi jamur dermatophytes pada kulit halus (glabrous skin) di daerah muka, leher, badan, lengan, dan gluteal. Bentuk klasik lesi biasanya anular, berbatas tegas dengan tepi polisiklis, biasa didapatkan vesikule kecil-kecil, serta skuama yang halus. Didaerah sentral biasanya menipis dan terjadi penyembuhan, sementara yang di tepi makin meluas ke perifer. Kadang-kadang bagian tengahnya tidak menyembuh tetapi tetap meninggi dan tertutup skuama sehingga menjadi bercak yang besar. Lesi yang berdekatan dapat bergabung membentuk pola gyrat atau polisiklis. Didaerah muka kadang-kadang disebut juga Tinea fasialis sedangkan didaerah paha dan gluteal sering menjadi bagian dari Tinea kruris. Disamping bentuk yang klasik, bisa didapatkan variasi seperti bentuk eksematoid, herpetiform, dan lain-lain.2 Bentuk klasik lesi biasanya anular, terdapat juga bentuk iris, berbatas tegas dengan tepi polisiklis, aktif (meninggi, ada papul, vesikel, meluas), serta skuama yang halus. Didaerah sentral biasanya menipis dan terjadi penyembuhan (central healing), sementara yang di tepi makin meluas ke perifer. Kadang-kadang bagian tengahnya tidak menyembuh tetapi tetap meninggi dan tertutup skuama sehingga menjadi bercak yang besar. Lesi yang berdekatan dapat bergabung membentuk pola gyrat atau polisiklis. Didaerah muka kadang-kadang disebut juga Tinea fasialis sedangkan didaerah paha dan gluteal sering menjadi bagian dari Tinea kruris. Disamping bentuk yang klasik, bisa didapatkan variasi seperti bentuk eksematoid, herpetiform, dan lain-lain. 1,2,3,6,7,8 Keluhan pada tinea korporis adalah gatal, terutama bila berkeringat. Secara klinis tampak lesi berbatas tegas, polisiklik, tepi aktif karena tanda radang lebih jelas dan polimorfi yang terdiri atas eritema, skuama, dan kadang papul dan vesikel di tepi, penyembuhan di tengah (central healing). 1,2,7,8,6

2. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Pemeriksaan Lampu Wood 1

35

Dilakukan pada ruang gelap. Pemeriksaan tinea pada lampu Wood akan memberikan hasil flouresensi positif. Pada tinea capitis, M.canis, M.audoinii, M. Distortum, M. Ferrugineum dan kadang-kadang M. Schoenleinii memberikan flouresensi putih kebiruan, sedangkan T. tonsurans dan T. violaseum tidak berflouresensi. 2,9 Pada Tinea barbae akan memberikan flouresensi berwarna kehijauan.9

b. Pewarnaan 1 Pewarnaan KOH dan Tinta Parker (berwarna blue-black)

Reaksi dasar pengecatan: 1 Fungsi KOH adalah melarutkan debris dan lemak. Pemanasan akan mempercepat reaksi ini. Pemanasan pemeriksaan. KOH 10% dapat melarutkan debris dari kerokan kulit, rambut, dan mukosa. Kadang-kadang digunakan KOH 20% yang merupakan pelarut yang lebih kuat, yang dipakai untuk spesimen kuku. Tinta Parker berwarna biru kehitaman. Penambahan tinta Parker akan mempermudah untuk melihat jamur. Pada pemeriksaan sediaan langsung atau artrospora.6 kerokan kulit atau kuku tidak boleh sampai mendidih karena akan

menyebabkan terbentuknya kristal yang akan mengganggu

menggunakan mikroskop dan KOH 20% tampak hifa panjang dan

36

Pada Tinea Kapitis dan tinea barbae, pada infeksi ektotrik terlihat artrospora yang kecil di sekitar batang rambut dan pada infeksi endotrik terlihat rantai artrospora didalam batang rambut. Pada skuama kulit kepala dijumpai hifa dan artrospora. 2 Pada Tinea Imbrikata, hifa yang tampak tidak rata, berkelok-kelok tanpa konidia. Miselium yang bercabang menyerupai tanduk rusa, mirip dengan miselium Trichophyton schoenleinii

Pewarnaan Lactophenol Cotton Blue (LCB) Reaksi dasar pengecatan: 1 Fenol berfungsi untuk mematikan jamur Asam laktat berfungsi mempertinggi efek penetrasi larutan ke dalam hifa Gliserol mengawetkan preparat dan mencegah presipitasi dari cat. Cotton blue berfungsi untuk mewarnai jamur menjadi biru. Komposisi ; Fenol Asam laktat Gliserol Cotton blue 20g 20ml 40mg 0.05g

c. Pembiakan (1) 1. Sabouraud Dextrose Agar (SDA) 1

37

Medium ini dipakai untuk menumbuhkan jamur tapi kuman tertentu kadang juga bisa tumbuh pada medium ini sehingga perlu ditambahkan antibiotik pada medium ini. Biasanya kloramfenikol.1

Tujuannya adalah untuk menentukan spesies dermatofita penyebab tinea kapitis. Media kultur yang biasa dipakai adalah agar Sabouraud;s. Jamur akan tumbuh dalam 5-14hari dan pada media RTM pertumbuhan jamur dapat dilihat dengan adanya perubahan dari kuning merah yang dimulai setelah 24-48jam, serta jelas dibaca pada hari ke 3-7. 2

Tinea

Imbrikata

disebabkan

oleh

Trichophyton

concentricum yang merupakan dermatofita antropofilik yang tumbuh lambat pada media agar Sabouraud dextrosa. Dermatofita lain biasanya tumbuh kurang lebih 1 minggu, namun spesies ini baru tumbuh 4-6 minggu, bahkan kadang sampai 8 minggu. Koloni bermula glabrosa dan putih, kemudian menjadi krem, kuning, coklat atau menjadi merah. Pertumbuhan miselium dapat berupa bulu-bulu halus sampai seperti bludru. Koloni yang tumbuh lambat ini mempunyai diameter 5-20 mm setelah 2 minggu.2

2. Dermatophyte Test Medium (DTM) 1 Media ini untuk menumbuhkan jamur dermatofita. Komposisi dari nedium ini (gram/liter): a. Peptone b. Glucose c. Cyloheximide d. Gentamicin sulphate 10g 10g 0.5g 0.1g

38

e. Chlortetracycline f. Phenol red g. Agar-agar

0.1g 0.2g 17g

Catatan: 1 Medium DTM mengandung: 1. Cyloheximide yang berfungsi sebagai anti jamur konaminan. 2. Gentamicin dan Chlortetracycline berfungsi sebagai anti kuman sehingga kuman tidak tumbuh. 3. Terdapat indikator PH phenol red dimana pada PH asam, maka phenol red akan berwarna kuning, sehingga medium berwarna kuning. Sedangkan pada PH basa, phenol red akan berwarna merah, sehingga mediumnya berwarna merah.

DTM Positif 1 1. Jamur dermatofit akan mengubah warna DTM dari kuning menjadi merah. Hal ini disebabkan karena jamur dermatofit mengeluarkan metabolit yang bersifat basa sehingga medium berwarna merah. 2. Dengan adanya perubahan warna dari kuning menjadi merah (biasanya berubah dalam 3hari) diduga jamur tersebut adalah jamur dermatofit. 3. Jamur dermatofit biasanya diidentifikasi dengan adanya bentukan khas yaitu dengan adanya makrokonidia,

39

dengan wkatu kultur selama 2minggu. Dengan adanya medium DTM, maka dapat diduga adanya jamur dermatofit dalam waktu 3hari.

d. Histopatologi Pewarnaan ini adalah pewarnaan yang tidak rutin dilakukan. Tapi bila terpaksa dilakukan, maka pewarnaan sebaiknya tidak pewarnaan H&E saja. 1

1. Pewarnaaan Haematoxylin & Eosine (H&E) Tidak semua jamur dapat dilihat dengan pengecatan ini. Reaksi dasar pengecetan : Gills Haematoxylin mewarnai sel menjadi merah. Ammonia water berfungsi untuk membirukan, karena PHnya berubah sehingga inti sel tampak berwarna biru. Eosine adalah zat yang bersifat asam ( acid dye). Keuntunganya adalah kolagen yang dihasilkan berwarna merah muda pucat, sitoplasma otot berwarna merah muda gelap, dan granula eosinofilik berwarna merah. 1

2. Pewarnaan Periodic Acid Schiff (PAS) Jamur yang tidak terwarnai oleh penegcatan Haematoxyln & Eosin, biasanya dapat diwarnai dengan pengecatan PAS.Tetapi tidak semua jamur dapat diwarnai dengan PAS, kadang diperlukan pengecatan Gomori Methenamine Silver.

40

Reaksi dasar pengecatan: Adanya Periodic acid, gugus-gugus hidroxil pada

polisakarida kompleks dinding sel jamur akan mengalami oksidasi menjadi aldehida. Derajat warna yang terjadi bergantung pada banyaknya aldehida. Aldehida bereaksi dengan reagen Schiff sehingga jamur akan berwarna merah/merah muda. Kebanyakan jamur yang dicat dengan metode ini tampak tajam dan berbea menyolok dari jaringan sekitarnya yang ercat tipis dengan counterstain Gill;s haematoxylin. 1

3. Pewarnaan Gomori Methenaine Silver (GMS) 1 Jamur yang tidak dapat diwarnai dengan H&E, diwarnai dengan GMS ini. Prinsip dasar pengecatan: a. Adanya Chronic acid, gugus-gugus hidroksil pada polisakarida kompleks dinding-dinding sel jamur akan mengalami oksidasi menjadi aldehida. Pada teknik pengecatan GMS, aldehida mereduksi kompleks Methenamine Silver nitrate. Silver yang tereduksi akan mengendap dan menyebabkan warna coklat-hitam. b. Setelah proses oksidasi, preparat ditempatkan pada larutan sodium bisulfite, yang berfungsi untuk menghilangkan sisa chronic acid pada jaringan. c. Gold chloride digunakan untuk meningkatkan intensitas warna yaitu mewarnai jaringan setelah perlakuan silver dan menghilangkan warna coklat dari jaringan. Warna terakhir adalah hitam.

41

d. Sodium thiosulfate membantu memfiksir reaksi silver dalam jaringan dengan menghentikan semua reaksi sebelumnya dan menghilangkan sisa-sisa silver nitrate. e. Light green biasanya digunakan sebagai pewarna kedua (counterstain) untuk mewarnai latar belakang jarinngan.

4. Pewarnaan GMS- H&E 1 Jika dicat dengan GMS saja, maka latar belakang akan terlihat hijau. Dengan mengganti counterstain light green dengan pengecatan H&E, maka latar belakangnya akan terlihat, sehingga reaksi jaringan lebih mudah untuk diamati. Untuk pengecatan jamur, pengecatan ini terpenting bila dibandingkan dengan jaringan lainnya. Prinsip kerjanya adalah dari pengecatan GMS H&E sama dengan prinsip kerja pengecatan GMS dan diberi counterstain dengan H&E. H. DIAGNOSA BANDING Tinea Corporis Diagnosa banding dari Tinea korporis, adalah: 1,2,6 Psoriasis vulgaris Pitiriasis rosea Morbus Hansen tipe tuberkuloid Dermatitis kontak alergi

I.

PENATALAKSANAAN

42

. 1. Umum

1. Lesi masih basah/infeksi sekunder 1,8 Kompres solutio sodium chlorida 0.9% 3-5 hari. Antibiotika oral 5-7 hari

2. Mengurangi dan mengobati faktor-faktor predisposisi Terutama mengurangi atau mencegah keadaan yang mengakibatkan lembab dan maserasi.1,8

2. Pengobatan Topikal Indikasi: 1,8 1. Bila lesi tidak luas (pada Tinea korporis, Tinea kruris, Tinea manum, Tinea pedis ringan)8 2. Bila ringan 3. Onikomikosis Tipe SWO Tipe DLSO, lesi < 2/3 distal dan 3 kuku.

Pengobatan umumnya minimal selama 3 minggu (2 minggu sesudah KOH negatif/klinis membaik), untuk mencegah kekambuhan pada obat anti jamur yang umunya bersifat fungistatik.8 Untuk obat fungisidal dioleskan cukup 1-2minggu, tanpa diteruskan 1-2 minggu sesudah klinis sembuh/KOH negatif.
1,8

Obat Topikal yang digunakan:

43

a) Salep Whitfield sehari 2 kali Berisi Acidum Salicylicum 3% + acidum benzoic 6% dalam vaselin album. AAV II Acidum Salicylicum 6% + acidum benzoic 12% (Full Strength Whitfield Oinment) konsentrasinya 2 kali AAV I, tidak dianjurkan dipakai. 1 Asidum salisilikum 4%, asidum benzoikum 4% dalam tinture.1

b) Salep 2-4/3-10 sehari 2 kali (Acidum salisylicum 2-3% + sulfur presipitatum 4-10% dalam vaseline album). 1,8

- Kerja asidum salisilikum sebagai keratolitik, sedang asidum benzoikum sebagai anti jamur dan anti bakteri. Sulfur presipitatum memberi efek sinergisme sehingga menguatkan kerja asidum salisilikum sebagai keratolitik. Kedua obat di atas hanya untuk dermatofitosis saja, sedangkan bentuk tinkture untuk dermatofitosis dan pitiriasis versikolor.1

c) Imidazol Kerjanya menghambat sintesa ergosterol pada 14 alfa dimethilasi laosterol, sehingga menghambat permeabilitas membran sel jamur yang sensitif. Berspektrum luas dan fungistatik terhadap kasus

dermatofitosis, kandidiasis,pitiriasis versikolor.1

Sediaan yang ada : 1

44

a. Sediaan yang dioleskan 2 kali sehari Klotrimazol 1% Mikonazol nitrat 2% Isokonazol nitrat 1% Sulkonazol 1%

b. Sediaan yang dioleskan 1 kali sehari Tiokonazol 1% Ketokonazol 2% Bifonazol 1% Sertakonazol 2%

Shampo ketokonazol 1-2% dipakai sebagai obat tambahan untuk tinea kapitis, untuk memercepat penyembuhan, mencegah kekambuhan, dan mencegah penularan. Dipakai 2-3kali seminggu, didiamkan selama 5 menit baru dicuci.1

d)

Campuran undersilenik (krim, ointment, powder, tinkture) Suatu asam lemak organikdan garamnya (asam undesilenik + zink undesilenat) dengan konsentrasi 2-10%. Hanya untuk dermatofitosis ringan terutama sering untuk tinea pedis. 1

e) Shampo Selenium sulfat 1.8%, Lotion Selenium Sulfat 2.5%. 1

45

Untuk kasus pitiriasis versikolor, dermatitis seboroika, dan pitiriasis kapitis.

Shampo dioleskan dibadan atau lotion pada daerah yang terkena, dibiarkan selama 10menit lalu dicuci. Dilakukan selama 7 hari atau dioleskan 2kali/minggu selama 24minggu atau 1kali/minggu selama 2 minggu.

Penderita sering mengeluh bau yanng keras dan terasa pedih pada kulit setelah diolesi.

Shampo tersebut juga dipakai sebagai obat tambahan pada Tinea Kapitis untuk mempercepat penyembuhan, mencegah kekambuhan, dan mencegah penularan. Dipakai 2-3kali seminggu didiamkan selama 5 menit baru dicuci.

f) Shampo zink pirithion 1% Mempunyai efek bakteriostatik dan fungistatik. Penggunaannya dan cara pakainya sama dengan shampo selenium sulfide. Dapat dioleskan 5 menit/hari setelah mandi sore kemudian dicuci. Digunakan selama 14 hari atau selama 4 minggu. 1

g) Golongan Alilamin Kerjanya fungisidal dengan menghambat enzim jamur. 2,3 epoksidasi Skwalene, sehingga kadar skwelene menumpuk yang menyebabkan bersifat fungisidal primer dan kadar ergosterol menurun. Bentuk topikal untuk dermatofitosis. Semuanya dioleskan 1 kali sehari pada Tinea Korporis, Tinea Kruris, selama 1-2 minggu. Pada Tinea Pedis dan Tinea Amnuum perlu 2-4minggu, tidak perlu dilanjutkan 1-2minggu sesudah klinis membaiak/KOH negatif oleh karena fungisidal

46

primer, dan obat masih bekerja 1-2 minggu sesudah tidak memakai obat. 1

II.9.3. Pengobatan Oral Indikasi: 1,8 a. Lesi luas b. Tinea kapitis, Tinea Imbrikata, Tinea Unguium, dan Tinea Barbae c. Tinea Korporis/kruris/pedis/manuum yang

berat/luas/sering kambuh/tidak sembuh dengan obat topikal/mengenai daerah berambut. d. Onikomikosis DLSO 2/3 distal atau lebih 3 kuku yang terkena. Mengenai lunula (bentuk PSO, TDO atau kandida

onikhia) e. Dermatomikosis superfisialis pada penderita

imunokompromais berat.

Cara pemberian: 8 a. Tergantung obat oral yang digunakan, lokasi dan penyebab. b. Lama pemberian: Obat fungistatik Obat fungisidal : 2-4 minggu : 1-2 minggu

47

Jenis-jenis obat oral yang diberikan: 1,8 a. Griseofulvin Anak : 10mg/kgBB/hari (microsize) 5,5mg/kgBB/hari microsize) Dewasa : 500-1000mg/hari (ultra

- Griseofulvin merupakan antibiotik dari Penicillium griseofulvum. 1

- Mekanisme kerja dikatakan: 1

Griseofulvin, belum jelas

1. Berkaitan dengan keratin, sehingga menjadi resisten terhadap jamur. 2. Menghambat proses mitosis jamur dan berhenti pada metaphase hinga mempengaruhi pembelahan sel. 3. Langsung pada dinda hife (Curling effect) 4. Vasodilator lemah dan menghambat khemotaksis leukosit, termasuk anti keradangan dan imunomodulator.1

b. Golongan Azol: 1 Mekanisme kerja obat-obatan golongan azol ini adalah menghambat biosintesis ergosterol pada 14 alfa 48

demethil lanosterol mengakibatkan penumpukan 14 alfa methilsterol yang mempengaruhi fungsi sistem enzim yang berhubungan dengan membran lain seperti sintesis dinding sel yang sangat penting untuk pertumbuhan jamur. Umumnya aktivitas anti jamurnya berspektrum luas dan fungistik. Sterol 14 demethilasi tergantung pada sistem enzim mikrosomal cytochrome P-450. Potensi obat azol berikatan dengan enzim p-450 manusia, mempunyai dampak pada keamanan dan efek samping obat azol. 1

Jenis obat-obatan yang termasuk golongan Azol: 1. Imidazol Ketokonazole Anak Dewasa : : 3-6mg/kgBB/hari 1tablet (200mg)/hari (2-

3minggu)

2. Triazol 2.1 Itrakonazole Anak Dewasa : : 3-5mg/kgBB/hari 1 kapsul (100mg)/hari

- Itrakonazole digunakan untuk Pulse treatment (pengobatan denyut) adalah pemberian obat dengan dosis tingggi dalam waktu singkat sehingga menimbulkan efek fungisidal sekunder oleh karena

49

terjadi fungitoksik sehingga penderita akan lebih patuh dan tidak sering lupa, akibatnya kesembuhan lebih baik dan kekambuhan jarang terjadi. 1

- Itrakonazole diminum 1 minggu, kemudian 3minggu istirahat (1 siklus). 1

- Penatalaksanaan terapi denyut: (1) a. Tinea korporis/kruris: Itrakonazole 2 kapsul/hari, 1minggu.

b. Tinea pedis plantaris/manuum Itrakonazole 2 kali 2 kapsul/hari, 1minggu.

c. Tinea Kapitis Itrakonazole 5mg/kgBB/hari selama 1 minggu, dapat diulang 2-3 siklus selang 3 minggu. <10kg 10-20kg 21-30kg 31-40kg kapsul/hari <40kg : 2 kapsul/hari : 50mg/hari : 100mg/ alternating days : 100mg/hari : 1 kapsul/hari, alternating dengan 2

50

d. Onikomikosis Itrakonazole 400mg/hari (2 x 2 kapsul/hari) 7 hari, istirahat 3 minggu/siklus. Kuku tangan Kuku kaki : 2-3 siklus : 3-4 siklus

2.2 Flukonazole (50, 150mg/kapsul) Dapat digunakan sebagai terapi denyut, namun ikatan dengan kulit, kuku, dan rambut tidak lama sehingga lebih baik tidak digunakan. 1

Golongan Azol ini akan diabsorpsi dengan baik bila: 1 1. Ketokonazole diminum dengan makan tinggi lemak, absorbsi berkurang bila akhlorhidria atau makan tingi karbohidrat. 2. Itrakonazol diminum saat makan atau sesudah makan, tidak larut dalam air, lipofilik, absorbsi berkurang bila asam lambung berkurang 3. Flukonazol tidak dipengaruhi makanan ataupun keasaman asam lambung, larut dalam air.

Pharmakokinetik obat golongan azol oral adalah: 1 Setelah minum obat, maka efek obat akan tetap ada;

51

1. Pada kulit: a. Ketokonazole b. Itrakonazole c. Flukonazol : sampai minimum 2 minggu : sampai 2-4minggu : sampai 10 hari

2. Pada kuku: a. Ketokonazole b. Itrakonazole c. Flukonazol : tak terdeteksi : sampai 9 bulan : sampai 5 bulan

3. Pada rambut: Azole lebih baik untuk tinea kapitis oleh karena infeksi spesies Trichophyton, sedang infeksi M.canis lebih baik dengan Griseofulvin.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian terapi oral golongan Azol, adalah: 1 1. Ketokonazole dan Itrakonazole tidak boleh

diminum bersama antihstamin terfenadine dan astemizole karena efek kedua antihistamin tersebut akan meningkat menyebabkan cardiac dysrhytmia yang dapat fatal. Namun Flukonazole tidak mempengaruhi kedua antihistamin tersebut, namun tetap harus berhati-hati.

52

2. Untuk wanita hamil, karena ketiga azol tersebut termasuk kategori C.

c. Terbinafine 8 Anak 10-20-kg 20-40kg Dewasa : : : : 3-6mg/kgBB/hari 62.5 mg (1/4 tablet)/hari 125mg (1/2 tablet)/hari 1 tablet (250mg)/hari

Diberikan

hingga

klinis

membaik

dan

hasil

pemeriksaan laboraturium negatif. 6

- Terbinafin merupakan golongan alilamin, bersifat fungisidal terhadap jamur dermatofit dan C. Parapsilosis. 1 - Mekanisme kerjanya dengan menghambat

biosinthesis ergosterol jamur pada tingkat enzim epoksidase skwalene (tahap dini). Akibat hambatan epoksidase skwalen adalah menumpuknya skwalen intrasekuler (ini yang menimbulkan efek fungisidal primer dan juga defesiensi ergosterol, menyebabkan lemahnya membran intraseluluer. Epoksidase skwalene tidak mempengaruhi sistem cytochrome P450, sehingga tidak mempengaruhi biosinthesis kholesterol atau hormon steroid. 1 Absorbsi : tidak dipengaruhi oleh makanan. 1

53

Pharmakokinetik obat oral Terbinafin Efek pengobatan tetap berlangsung, walaupun obat sudah dihentikan, yaitu: 1 Dikulit : sampai 6 minggu Di kuku Di rambut M.canis. : sampai 6 bulan : lebih baik untuk tinea Kapitis

karena infeksi spesies Trichophyton dari pada karena

- Hal penting untuk wanita hamil : tidak berpengaruh pada bayinya, amun sebaiknya tidak diberikan. 1 I. PENCEGAHAN 1,8 1. Infeksi jamur dipercepat karena udara panas, lembab, dan maserasi. Bila faktor lingkungsn tidak dapat dirubah, maka kemungkinan sembuh kurang cepat dan lebih sering kambuh. 2. Hindari penggunaan pakaian yang terlalu ketat dan sebaiknya dari bahan katun. 3. Memakai sandal karet/plastik ditempat umum, kolam renang, kamar ganti umum, tempat olahraga/kebugaran dan kamar hotel. 4. Mengobati atau mengurangi faktor-faktor predisposisi penyakit yang mendasari, misalkan diabetes melitus. 5. Hewan peliharaan (kucing, anjing, dll) yang terinfeksi jamur dermatofit harus diobati juga. 6. Minum obat sesuai aturan secara teratur. 7. Baju dan handuk sering diganti dan dicuci dengan air panas.

J. KEGAGALAN PENGOBATAN 1,8 Kegagalan pengobatan diperkirakan:

54

a. Diagnosis yang tidak tepat b. Pemakaian obat yang tidak tepat (memilih obat, dosis, dan cara pemakaian) c. Pemakaian obat yang tidak teratur d. Ada infeksi sekunder yang luput diobati. e. Reinfeksi f. Resistensi obat.

BAB VII PENUTUP A. KESIMPULAN 1. Segi Biologis : Ny. S (52 tahun), menderita penyakit TINEA Kasus baru. Status gizi Ny. S berdasarkan BMI termasuk dalam kategori normal Rumah dan lingkungan sekitar keluarga Ny. S tidak sehat. Hubungan antara anggota keluarga dan anggota masyarakat yang terjalin cukup akrab, harmonis, dan hangat Pengetahuan akan Tinea yang masih kurang yang berhubungan dengan tingkat pendidikan yang masih rendah 2. Segi Psikologis :

55

Tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi obat yang baik, mendukung untuk penyembuhan penyakit tersebut 3. Segi Sosial : Ekonomi keluarga termasuk menengah dengan begitu kebutuhan sehari-hari primer sudah dapat tercukupi. Namun rumah belum sesuai dengan standart kesehatan. 4. Segi fisik : B. SARAN 1. Untuk masalah medis (Tinea) dilakukan langkah-langkah : Preventif : penderita hendaknya ganti baju setiap kali mandi. Harus rajin membersihkan rumah. Rajin menjemur bantal, guling dan kasur. Menjaga Hygiene dan sanitasi. Membuka jendela pagi hari agar sinar matahari pagi dapat masuk terutama ke kamar tidur. Diharapkan menggunakan genteng kaca, membersihkan rumah, menguras bak mandi minimal 1 minggu sekali. Promotif menangani. Kuratif : saat ini penderita memasuki pengobatan menggunakan obat mikonazole. Rehabilitatif : mengembalikan kepercayaan diri Ny. S sehingga tetap memiliki semangat untuk sembuh. 2. Untuk masalah lingkungan tempat tinggal dan rumah yang tidak sehat dilakukan langkah-langkah : Promotif : edukasi penderita dan anggota keluarga untuk membuka jendela tiap pagi, penggunaan genteng kaca, dan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan rumah. Lantai hendaknya disapu minimal 2x sehari (pagi dan sore). 3. Untuk masalah persepsi mengenai penyakit Tinea, dilakukan langkahlangkah : : edukasi penderita dan keluarga mengenai Tinea dan oleh petugas kesehatan atau dokter yang pengobatannya Rumah dan lingkungan sekitar keluarga Ny. S tidak sehat.

56

Promotif : Memberikan pengertian kepada penderita dan anggota keluarga mengenai penyakit Tinea bahwa penyakit Tinea bukan penyakit keturunan dan disembuhkan. merupakan penyakit yang dapat

DAFTAR PUSTAKA 1. Ervianti,E, Zurkarnain,I, Kawilarang,P, Suyono,Sunarso, penyunting. Simposium Penatalaksanaan Dermatomikosis Superfisialis Masa Kini. Surabaya: Balai Penerbit FK UNAIR/RSUD Dr. Soetomo dengan PERDOSKI; 2002.h.1-8, 17-21, 25, 28-31, 45-57. 2. Cholis,M, Nasution, M,A, Rusmawardiana. K,M, Geodadi,M, Budimulia, U,Redjeki S, Subakir, dkk, penyunting. Dermatomikosis Superfisialis. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pedoman Untuk Dokter dan Mahasiswa Kedokteran; h.7-8, 22-25, 29-31, 34-52. 3. HO, king-man, Cheng, tin-sik. Common Superficial Fungal Infectionsa Short Review.Medical Buletin. 2010; 15(11); 23-27.

57

4. Karakoca, Y, Endogru, E, Erdemir A,T, Kiremitchi, U, Gurel, Salih, et. al. Generalized Inflammatory Tinea Corporis. Case Report. J Turk Acad Dermatol. 2010; 4(4): 04402c. 5. Ameen, M. Epidemiology of Superficial Fungal Infections. Clinic in Dermatology. 2010; 28; 97-201. 6. Sugito, TL, Hakim, L, Suseno U S, dkk, penyunting. Panduan Pelayanan Medis Dokter Spesialis Kulit Dan Kelamin. Jakarta. Balai Penerbit Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia; 2011.h. 9698. 7. Budimulja,U. Penyunting. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Bab Mikosis Superfisialis. Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.h.92-95. 8. Suyono,S, Ervianti,E, Zurkarnain,I, penyunting. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-3. Surabaya: RSUD Dr. Soetomo; 2005.h.59-67, 79, 81. 9. Siregar,S.R, penyunting. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi ke2. Palembang: EGC; 2005.h.16-17.

LAMPIRAN FOTO

58

RUMAH TAMPAK DEPAN

RUANG TAMU

Pintu Masuk Rumah

59

Penyakit penderita

60