Anda di halaman 1dari 19

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Menopause Menurut arti katanya, menopause berasal dari dua kata dari bahasa Yunani yaitu men berarti bulan, pause, pausis, paudo berarti periode atau tanda berhenti, sehingga menopause diartikan sebagai berhentinya secara definitif menstruasi.8,9 Menopause secara teknis menunjukkan berhentinya menstruasi, yang dihubungkan dengan berakhirnya fungsi ovarium secara gradual, yang disebut klimakterium. Menopause adalah suatu fase dari kehidupan wanita yang ditandai dengan berakhirnya menstruasi dan berhentinya fungsi reproduksi,9 namun seorang wanita dikatakan telah mengalami menopause setelah dia tidak mengalami menstruasi minimal selama 12 bulan.10 Perempuan biasanya mengalami menopause antara 40 dan 58 tahun, dengan usia rata-rata menjadi 51 tahun.4,11. Perokok dan wanita dengan penyakit kronis cenderung mengalami menopause pada usia lebih dini.12

Tabel 1. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AWAL MULA (ONSET) MENOPAUSE12

Earlier onset

Later onset

Merokok Nulliparity Radiasi dan kemoterapi daerah pelvis Pengobatan untuk depresi Keluarga

Multiparitas Peningkatan BMI (Body Mass Index) Keluarga

Universitas Sumatera Utara

2.1.1 Patofisiologi Menopause Ovarium wanita memiliki jumlah oosit terbesar selama bulan kelima kehamilan dan memiliki sekitar 1.000.000 - 2.000.000 oosit saat lahir. Pada saat masa penuaan, proses atresia mengurangi jumlah oosit, sehingga di masa menopause seorang wanita mungkin hanya memiliki beberapa ratus hingga beberapa ribu oosit saja yang tertinggal. Ovarium tersebut memproduksi 3 hormon penting yaitu estrogen, progesteron, dan androgen.12 Estrogen secara endogen memproduksi Estrone (E1), estradiol (E2) dan estriol (E3). Estradiol (E2) diproduksi oleh folikel ovarium dominan selama siklus menstruasi bulanan dan merupakan estrogen alami yang paling ampuh. Estrone (E1) adalah bentuk dominan estrogen selama menopause. Ini diproduksi dalam jumlah kecil oleh ovarium dan kelenjar adrenal, dan terutama diturunkan oleh konversi perifer androstenedion dalam jaringan adiposa.12 Progesteron diproduksi oleh korpus luteum dan menyebabkan penebalan endometrium dalam persiapan untuk penempelan ovum yang telah dibuahi. Progesteron juga menghambat tindakan estrogen pada jaringan tertentu. Pada wanita yang anovulatori, tidak ada korpus luteum terbentuk. Oleh karena itu, estrogen sering tidak terhalangi. Hal ini dapat mengakibatkan penumpukan pada endometrium, menyebabkan perdarahan menstruasi yang tidak teratur pada fase perimenopause.4, Pembentukan korpus luteum mengawali fase sekretori di mana estrogen, progesteron, dan androgen juga dikeluarkan. Estrogen menyebabkan proliferasi seluler, sedangkan progesteron menyebabkan penebalan dan peningkatan sekresi pada

endometrium. Jika kehamilan tidak terjadi, kadar estrogen dan progesteron turun bertahap. Penurunan hormon ini memberi tanda bagi penebalan lapisan dalam rahim untuk dikeluarkan, menyebabkan perdarahan menstruasi dan memberi tanda bagi ovarium untuk

Universitas Sumatera Utara

memulai proses kembali lagi dengan mulai menumbuhkan lebih banyak folikel untuk ovum baru dan siklus baru.4,12 Ovarium pada saat menopause tidak lagi menghasilkan estradiol (E2) atau inhibin dan progesteron dalam jumlah yang bermakna, dan estrogen hanya dibentuk dalam jumlah kecil. Oleh karena itu, FSH (Folicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone) tidak lagi dihambat oleh mekanisme umpan balik negatif estrogen dan progesteron yang telah menurun dan sekresi FSH dan LH menjadi meningkat dan FSH dan LH plasma meningkat ke tingkat yang tinggi. Fluktuasi FSH dan LH serta berkurangnya kadar estrogen menyebabkan munculnya tanda dan gejala menopause, antara lain rasa hangat yang menyebar dari badan ke wajah (hot flashes), gangguan tidur, keringat di malam hari, perubahan urogenital, osteopenia/ kepadatan tulang rendah, dan lain-lain.8,11,12

2.1.2 Gejala-Gejala dan Perubahan-Perubahan yang Menyertai Menopause Terjadinya menopause pada wanita biasanya diikuti dengan berbagai gejala atau perubahan yang meliputi aspek fisik maupun psikologis yang dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan wanita tersebut.8

2.1.2.1 Perubahan Fisik Keluhan fisik yang merupakan tanda dan gejala menopause antara lain: 2.1.2.1.1 Ketidakteraturan siklus haid Tanda paling umum yang terjadi adalah fluktuasi dalam siklus haid, pola haid menjadi tidak beraturan, kadang kala muncul tepat waktu, tetapi tidak pada siklus berikutnya. Haid dapat berubah-ubah dari banyak menjadi sedikit tanpa pola tertentu. Hal ini terjadi akibat menurunnya level estrogen.8,9

Universitas Sumatera Utara

2.1.2.1.2 Serangan rasa panas (hot flashes) Serangan rasa panas (hot flashes) juga merupakan gejala lain yang umum dialami selama transisi menopause. Ini dialami oleh 75-85 % wanita Eropa dan Amerika Utara. Serangan rasa panas adalah sensasi dari panas seluruh tubuh, terjadi peningkatan suhu tubuh dan kemerahan pada wajah yang sering disertai dengan keringat pada kepala, leher, dan thorax bagian atas, jantung berdebar-debar dan perasaan tidak nyaman di seluruh tubuh. Serangan rasa panas biasanya berkisar antara satu dan lima menit dan sering diikuti oleh menggigil.4 Hal ini terjadi karena tidak adanya keseimbangan pada vasomotor.9

2.1.2.1.3 Perubahan urogenital Urogenital Estrogen Reseptor (ER) terdapat pada berbagai jaringan, termasuk urethra dan bladder. Penurunan estrogen pada menopause menyebabkan jaringan urethra mengecil sehingga dapat terjadi disuria, dan frekuensi urin meningkat. Perubahan pada vagina dan vulva juga dapat terjadi, meliputi atropi vagina, atropi cervic dan kekeringan vagina.12

2.1.2.1.4 Perubahan kulit Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika menstruasi berhenti maka kulit terasa lebih tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi menggembung seperti kantong dan lingkaran hitam di bagian ini menjadi lebih permanen dan jelas.8

2.1.2.1.5 Keringat di malam hari dan sulit tidur Keringat di malam hari terjadi berhubungan dengan hot flashes yang disertai dengan keringat yang banyak pada malam hari. Keringat ini mengganggu tidur dan dapat

Universitas Sumatera Utara

menyebabkan insomnia (sulit tidur) dan bila ini sering terjadi akan menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi.8

2.1.2.1.6 Perubahan pada rongga mulut Perubahan rongga mulut dilaporkan dapat terjadi pada pada wanita menopause (2090%), termasuk ketidaknyamanan oral (rasa sakit dan sensasi terbakar), mulut kering (xerostomia) dan persepsi rasa berubah.13,14 Etiologi dari ketidaknyamanan oral ini berhubungan dengan perubahan pada kuantitas dan kualitas saliva.6 Perubahan mukosa mulut karena berkurangnya tingkat estrogen pada epitel berkeratin bersama dengan penurunan sekresi saliva pada wanita menopause dapat terjadi bervariasi dari warna yang menjadi pucat sampai ke kondisi yang dikenal sebagai gingivostomatitis menopause, ditandai dengan gingiva kering, mengkilap dan mudah berdarah pada probing dan saat menyikat gigi, serta berkurangnya laju saliva.13,14

2.1.2.1.7 Osteoporosis Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang ditandai dengan berkurangnya massa dan kepadatan tulang sehingga tulang menjadi lemah. Apabila terus berlanjut, maka tulang menjadi lebih rapuh dan bahkan dengan tekanan yang ringan saja dapat menyebabkan tulang menjadi fraktur. Osteoporosis banyak terjadi pada orang lanjut usia dan paling banyak mengenai wanita menopause.14,15 Estrogen memiliki efek protektif pada tulang dengan mencegah kehilangan tulang secara keseluruhan. Wanita yang telah mengalami menopause dapat kehilangan kepadatan tulang sampai 4-5% per tahun karena kehilangan estrogen yang terjadi pada saat menopause.12 Kehilangan tulang general pada osteoporosis dapat menyebabkan meningkatnya resorpsi tulang alveolar dan terjadinya periodontitis kronis. Meskipun osteoporosis

Universitas Sumatera Utara

bukanlah faktor etiologi periodontitis, namun dapat mempengaruhi keparahan penyakit periodontitis yang sudah ada sebelumnya.15 Menopause berhubungan dengan kondisi periodontal, namun bukan merupakan faktor risiko.14

2.1.2.2 Perubahan Psikologis Aspek psikologis yang terjadi pada lansia atau wanita menopause amat penting berperan dalam kehidupan sosial lansia. Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah tersinggung, mudah marah, ingatan menurun, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian, merasa tidak berdaya, mudah menangis, tidak sabar, tegang (tension), cemas dan depresi.8

2.2 Xerostomia Xerostomia secara harfiah mulut kering (xeros = kering dan stoma = mulut).7 Xerostomia merupakan sensasi subjektif berupa kekeringan mulut yang sering namun tidak selalu berhubungan dengan hipofungsi kelenjar saliva atau berkurangnya aliran saliva, namun adakalanya jumlah atau aliran saliva normal tetapi seseorang tetap mengeluh mulutnya kering.16,17

2.2.1 Etiologi Xerostomia Xerostomia dapat disebabkan oleh banyak faktor antara lain efek radioterapi, efek farmakologis atau efek samping obat-obatan, gangguan kelenjar saliva, gangguan sistem syaraf, faktor-faktor lokal seperti kebiasaan buruk, kelainan kongenital, defisiensi nutrisi dan hormonal, keadaan fisiologis serta penyakit sistemik.

2.2.1.1 Efek Radioterapi pada Daerah Kepala dan Leher Gangguan fungsi kelenjar saliva setelah terapi radiasi pada daerah kepala dan leher

Universitas Sumatera Utara

untuk perawatan kanker sudah banyak diketahui. Jumlah dan keparahan kerusakan jaringan kelenjar saliva tergantung dosis dan lamanya penyinaran.7,16 Tabel 2. HUBUNGAN ANTARA DOSIS PENYINARAN DAN SEKRESI SALIVA7 Dosis < 10 Gray* 10 15 Gray 15 40 Gray >40 Gray Gejala Reduksi tidak tetap sekresi ludah Hiposialia yang jelas dapat ditunjukkan Reduksi masih terus berlangsung, masih reversibel Perusakan irreversibel jaringan kelenjar dan hiposialia irreversibel

* 1 Gray = 102 rad (radiation absorbed dose)

Pengaruh radiasi lebih banyak mengenai sel asini dari kelenjar saliva serous dibandingkan dengan kelenjar saliva mukus. Penyinaran kelenjar saliva berakibat berkurangnya volume saliva, dengan terjadinya gejala-gejala antara lain: kepekatan saliva, pH saliva lebih rendah, kecepatan sekresi protein berkurang, sedang konsentrasi protein naik, konsentrasi sekresi IgA berkurang, konsentrasi elektrolit bertambah, jumlah mikroorganisme kariogenik naik, terutama Candida, laktobasilus dan streptokokus. 7,16

2.2.1.2 Efek Samping Obat-obatan Banyak sekali obat yang mempengaruhi sekresi saliva.7 Lebih dari 600 obat dilaporkan dapat menyebabkan xerostomia sebagai efek samping.17,18 Pada tabel 3 dicantumkan kelompok obat-obatan yang dapat menyebabkan terjadinya mulut kering. Obat-obat tersebut mempengaruhi aliran saliva dengan meniru aksi sistem syaraf autonom atau dengan secara langsung beraksi pada proses seluler yang diperlukan untuk salivasi. Obat-obatan tersebut juga dapat secara tidak langsung mempengaruhi saliva

Universitas Sumatera Utara

dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit atau dengan mempengaruhi aliran darah ke kelenjar.16 Tabel 3. OBAT-OBATAN YANG MENYEBABKAN MULUT KERING16

Analgesic mixtures Anticonvulsants Antiemetics Antihistamins Antihypertensives Antinauseants Antiparkinsons Antipruritics

Antispasmodics Cold medications Diuretics Decongentans Expectorants Muscle relaxants Psycho tropics drugs Sedatives

Obat-obat tersebut mempengaruhi aliran saliva dengan meniru aksi sistem syaraf autonom atau dengan secara langsung beraksi pada proses seluler yang diperlukan untuk salivasi. Obat-obatan juga dapat secara tidak langsung mempengaruhi saliva dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit atau dengan mempengaruhi aliran darah ke kelenjar.16 Kekeringan mulut akibat efek samping obat-obatan dapat hilang beberapa bulan setelah obat-obatan tersebut dihentikan dan apabila obat tersebut digunakan jangka panjang maka kekeringan mulut dapat bersifat irreversibel.2

2.2.1.3 Gangguan Kelenjar Saliva Ada beberapa penyakit lokal tertentu yang mempengaruhi kelenjar saliva dan menyebabkan berkurangnya aliran saliva. Sialodenitis kronis lebih sering mempengaruhi kelenjar submandibula dan parotis. Penyakit ini menyebabkan degenerasi dari sel asini dan penyumbatan duktus.19

Universitas Sumatera Utara

Kista-kista dan tumor kelenjar saliva, baik yang jinak maupun ganas dapat menyebabkan penekanan pada struktur-struktur duktus dari kelenjar saliva dan dengan demikian mempengaruhi sekresi saliva.19 Sindroma Sjogren merupakan penyakit autoimun jaringan ikat yang dapat mempengaruhi kelenjar airmata dan kelenjar saliva. Sel-sel asini kelenjar saliva rusak karena infiltrasi limfosit sehingga sekresinya berkurang.19

2.2.1.4 Gangguan Sistem Syaraf Gangguan pada sistem syaraf pusat dan atau perifer dapat mempengaruhi kecepatan sekresi saliva. Kelainan syaraf yang diikuti gejala degenerasi, seperti sklerosis multipel, juga akan mengakibatkan turunnya pengeluaran atau sekresi saliva. Sebaliknya gangguan pada sistem syaraf juga dapat mengakibatkan naiknya sekresi saliva. Contohnya adalah penyakit Parkinson.7

2.2.1.5 Kebiasaan Buruk Bernafas melalui mulut biasanya disertai pembesaran dan peradangan gingiva

terutama daerah anterior, biasanya akibat maloklusi, hambatan pada nasal, deviasi septum nasi atau pembesaran kelenjar adenoid. Kebiasan buruk penderita yang lain adalah merokok, baik dengan menggunakan pipa, tembakau ataupun cerutu, karena biasanya nikotin merangsang sekresi saliva, kandungan nikotin yang terlalu tinggi dapat menyebabkan terhambatnya sekresi saliva. Pola makan diet tinggi protein mempunyai efek diuretik sehingga juga dapat menimbulkan xerostomia.20

2.2.1.6 Kelainan Kongenital Kelainan kongenital murni pada kelenjar saliva sangat jarang terjadi. Aplasia

Universitas Sumatera Utara

ataupun malformasi kelenjar liur dapat terjadi unilateral ataupun bilateral. Kelainan kongenital ini sering disertai dengan kelainan kongenital lain, seperti sumbing palatum atau mandibulofacial dysostosis.21

2.2.1.7 Defisiensi Nutrisi dan Hormonal Defisiensi nutrisi, seperti anemia pernisiosa, anemia defisiensi zat besi, defisiensi vitamin A dan B dapat menyebabkan xerostomia.2 Defisiensi hormonal, seperti menopause dapat menyebabkan timbulnya xerostomia akibat defisiensi hormon estrogen. Hal ini dapat terjadi selama atau sesudah menopause.7,22

2.2.1.8 Kesehatan Umum Menurun dan Penyakit Sistemik Demam, diare yang lama atau pengeluaran urine yang melampaui batas, misalnya pada penderita diabetes atau penyakit lain yang dapat menyebabkan dehidrasi dapat juga menyebabkan xerostomia. Gangguan dalam pengaturan air dan elektrolit yang diikuti oleh terjadinya keseimbangan air yang negatif, dapat menyebabkan turunnya sekresi saliva, sehingga kebutuhan pambasahan mulut meningkat.7 Kesehatan umum yang menurun pada penderita-penderita lanjut usia dapat menyebabkan berkurangnya sekresi saliva yang mengakibatkan meningkatnya risiko terhadap radang mulut. Juga pada gangguan pada pengaturan elektrolit, seperti pada penderita penyakit ginjal yang melakukan hemodialisis, dapat mengalami rasa tidak enak karena kekeringan di mulut yang terus-menerus.7 Gangguan emosional, seperti stres, putus asa dan rasa takut, dapat menyebabkan menurunnya sekresi saliva. Ini terbukti antara lain pada waktu ujian lisan, waktu berpidato.7 Banyak penyakit sistemik lain seperti Sjogrens syndrome, diabetes mellitus, diabetes

Universitas Sumatera Utara

insipidus, sarcoidosis, infeksi HIV, graft-versus-host disease, psychogenic disorders juga dapat mengakibatkan xerostomia.17

2.2.2 Patogenesis Xerostomia Jumlah seluruh saliva tiap 24 jam diperkirakan berkisar antara 500 600 ml, dan separuhnya dihasilkan dalam keadaan istirahat, di bawah pengaruh rangsangan dengan pH sekitar 6 sampai 7. Saliva adalah sekresi eksokrin mukoserous berwarna bening dengan sifat sedikit asam yang dihasilkan dan disekresikan oleh tiga pasang kelenjar besar saliva yaitu kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis, serta beberapa kelenjar saliva kecil. Kelenjar saliva dibangun dari lobus yang terdiri dari asinus, duktus interkalalata (ID), dan duktus striata (DS). Hasil sekresi saliva dikumpulkan di dalam sel-sel sekretori, yang dalam kelompok asinus, yang diatur mengelilingi lumen atau suatu lubang, dimana produkproduk sekresi diserahkan, dan hasil sekresi ditimbun di dalam sel-sel asinar dalam glandula sekresi. Derajat asam dan kapasitas bufer saliva sering dipengaruhi perubahanperubahan yang disebabkan oleh karena irama siang dan malam, diet, dan rangsangan kecepatan sekresi7 Sekresi saliva terjadi di bawah kontrol saraf parasimpatis dan simpatis. Saraf parasimpatis menyebabkan sekresi saliva cair, glandula parotis mengeluarkan saliva yang encer. Rangsangan saraf simpatis menyebabkan vasokontriksi dan sekresi saliva sedikit pada bahan organik dari kelenjar submandibula. Produksi relatif glandula submandibula adalah 70%, dan glandula sublingualis 30%. Produksi atau sekresi setiap jenis kelenjar saliva terhadap volume cairan sangat bergantung pada sifat rangsangan. Perasaan mulut kering terjadi bila kecepatan resorpsi air oleh mukosa mulut bersama-sama dengan penguapan air kurang dari 0,06 ml/ menit (3ml/ jam), akan timbul keluhan mulut kering.

Universitas Sumatera Utara

Bila produksi saliva berkurang dari 20 ml/ hari dan berlangsung pada waktu yang lama, maka keadaan ini disebut xerostomia.7

Gambar 1. Kelenjar Saliva8

Produksi saliva yang berkurang selalu disertai dengan perubahan dalam komposisi saliva yang mengakibatkan sebagian besar fungsi saliva tidak dapat berjalan lancar, sehingga mengakibatkan timbulnya beberapa keluhan pada penderita mulut kering. Gajala klinis dan komplikasi oral yang terkait dengan xerostomia meliputi saliva yang berbusa, kental atau bertalian, bibir kering dan pecah, rasa terbakar, lidah berfisur dan bernodul, pipi yang kering dan pucat, kelenjar saliva bengkak dan sakit, rasa haus yang meningkat, sulit mengunyah, sulit menelan (disfagia), sulit berbicara (disfoni) dan gangguan pengecapan.19 Akibat xerostomia dapat meningkatkan infeksi oral seperti kandidiasis dan infeksi oropharing, meningkatkan penumpukan plak penumpukan mukus, meningkatkan insiden karies, terjadi perubahan flora normal dan perubahan mukosa di rongga mulut.3

Universitas Sumatera Utara

Umumnya penderita xerostomia sangat sulit untuk memakan makanan kering seperti biskuit, pemakaian gigi palsu mempunyai masalah pada retensi gigi palsu, luka akibat gigi palsu dan tidak lengket ke palatum, rasa terbakar kronis, halitosis dan tidak tahan makan makanan pedas. Keluhan xerostomia umumnya lebih banyak pada malam hari karena produksi saliva berada pada circadian level paling rendah selama tidur, dapat juga disebabkan karena bernafas melalui mulut. Kesulitan berbicara dan makan dapat mengganggu interaksi sosial dan menyebabkan menghindari pertemuan sosial.23 Xerostomia sangat sering disebabkan oleh obat-obatan, lebih dari 600 obat yang umum digunakan yang dapat menyebabkan gangguan pada mulut atau berkurangnya fungsi kelenjar saliva. Mekanisme xerostomia yang disebabkan obat-obatan meningkatkan pH optimal menjadi 7,4. Ace-inhibitor adalah salah satu obat yang menyebabkan xerostomia.18 2.2.3 Diagnosis Xerostomia Diagnosis Xerostomia ditentukan berdasarkan anamnesis yang terarah, pemeriksaan klinis dalam rongga mulut dan pemeriksaan laboratorium. Dalam melakukan anamnesis dengan penderita dapat diajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan terarah yang dapat menentukan penyebab dan mendiagnosis xerostomia. Pemeriksaan klinis dapat dilakukan dengan melihat gajala-gejala klinis yang tampak dalam rongga mulut. Gambaran-gambaran klinis tersebut, antara lain: hilangnya genangan saliva pada dasar mulut, mukosa terasa lengket bila disentuh oleh jari ataupun ujung gagang instrumen. Mukosa mulut juga terlihat memerah dan pada kasus-kasus yang lebih lanjut permukaan dorsal lidah terlihat berfisur dan berlobul.2,17 Ada beberapa pemeriksaan laboratoris pada kelenjar saliva sebagai pemeriksaan penunjang diagnosis. Pemeriksaan tersebut adalah: pemeriksaan jumlah sekresi saliva, sialography, dan biopsi. Pemeriksaan jumlah sekresi saliva atau sialometri dapat dilakukan

Universitas Sumatera Utara

dengan menampung saliva selama 3-5 menit dengan bantuan perangkat penampung saliva. Laju aliran saliva normal yang tidak distimulasi dari kelenjar parotis adalah sekitar 0,4-1,5 ml/ menit. Laju aliran saliva normal yang tidak distimulasi keadaan istirahat seluruh saliva 0,3-0,5 ml/ menit dan yang distimulasi adalah 1-2 ml/ menit. Jika laju aliran saliva kurang dari 0,1ml/ menit maka keadaan ini dikatakan sebagai xerostomia, meskipun aliran berkurang mungkin tidak selalu dikaitkan dengan keluhan kekeringan pada mulut.24 Sialography dan biopsi dilakukan untuk membantu diagnosis penyebab xerostomia. Sialography merupakan gambaran radiografis dari kelenjar saliva beserta duktusnya. Sialography dilakukan untuk memeriksa apakah ada penyumbatan atau kerusakan pada duktus yang mengakibatkan terjadinya xerostomia. Biopsi terhadap kelenjar saliva biasanya dilakukan untuk mambantu diagnosa xerostomia akibat Sjorgrens syndrome.2,17

2.3 Xerostomia pada Wanita Menopause Menopause merupakan suatu tahap dimana wanita tidak lagi mendapatkan siklus menstruasi yang menunjukkan berakhirnya kemampuan wanita untuk bereproduksi. Secara normal wanita akan mengalami menopause antara usia 40 tahun sampai 50 tahun. Pada saat menopause, wanita akan mengalami perubahan-perubahan di dalam organ tubuhnya yang disebabkan oleh bertambahnya usia.8 Secara singkat dapat dikatakan bahwa menopause merupakan suatu proses peralihan dari masa produktif menuju perubahan secara perlahan-lahan ke masa non produktif yang disebabkan oleh berkurangnya hormon estrogen dan progesteron seiring dengan bertambahnya usia. Sehubungan dengan terjadinya menopause pada lansia maka biasanya hal itu diikuti dengan berbagai gejolak atau perubahan yang meliputi aspek fisik maupun psikologis yang dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan si lansia tersebut.8

Universitas Sumatera Utara

Salah satu perubahan aspek fisik yang dapat terjadi adalah perubahan pada mulut antara lain mulut kering (xerostomia), rasa terbakar, gingiva bengkak, merah dan berdarah dan perubahan indra perasa selama menopause.8,25 Xerostomia pada wanita menopause terjadi karena adanya perubahan hormonal yang terjadi pada masa menopause. Perubahan hormonal yang terjadi tersebut mempengaruhi sekresi saliva, aliran saliva dapat berkurang sehingga menyebabkan terjadinya xerostomia.7,22 Hormon seks steroid (estrogen, progesteron, androgen dll) berperan penting dalam fisiologi rongga mulut manusia. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jaringan lunak mulut sensitif terhadap perubahan level hormon seks steroid dalam darah pada wanita. Estrogen dikenal berfungsi mengatur pertumbuhan sel, diferensiasi dan fungsi dalam jaringan reproduksi maupun non-reproduksi. Efek dari estrogen dimediasi oleh estrogen reseptor (ER), yang terdiri dari dua subtipe yaitu ER dan ER. Namun hanya ER yang terdapat pada jaringan oral termasuk epitel oral dan kelenjar saliva. ER pada epitel oral dan kelenjar saliva menunjukkan bahwa estrogen dapat secara langsung meregulasi fisiologi jaringan oral dengan pengikatan ke ER subtipe.26 Beberapa penyakit dan gangguan pada rongga mulut, seperti gingivitis deskuamatif, menunjukkan kecendrungan ER-positif pada perempuan dan sampel dari lesi ini tampak. Hal ini menunjukkan peran estrogen dalam etiologi penyakit oral. Demikian pula selama kehamilan, keparahan inflamasi gingiva meningkat dan ada risiko tinggi untuk pengembangan gingival granuloma piogenik.26 Estrogen juga dikenal untuk berfungsi mengatur maturasi epitel pada organ target klasik seperti kelenjar susu dan endometrium, dan juga maturasi epitel oral. Oleh sebab itu penurunan kadar estrogen pada wanita yang telah mengalami menopause dapat

Universitas Sumatera Utara

menyebabkan atropi epitel oral yang rawan terhadap perubahan inflamasi. Secara klinis, wanita menopause mungkin menunjukkan gejala-gejala ketidaknyamanan oral ditandai dengan sensasi terbakar, sensasi kekeringan oral dan penurunan sekresi saliva.26 Kekeringan oral dapat menyebabkan gangguan dalam berbicara, makan dan pengecapan, predisposisi luka pada mukosa, abrasi dan infeksi. Sejumlah penelitian telah yang menunjukkan bahwa terapi hormon pengganti (hormone replacement therapy/ HRT) dapat meringankan ketidaknyamanan oral ini pada wanita yang telah mengalami menopause, yang menunjukkan peran hormon seks perempuan dalam pemeliharaan jaringan oral.26 Perubahan hormonal dapat mempengaruhi komposisi saliva. Penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa sekresi protein dan komponen non organik dari saliva berhubungan dengan hormon. Penelitian baru-baru ini telah mengindentifikasi ER pada mukus serous dan acini dan duktus sel pada kelenjar saliva minor, parotid dan kelenjar submandibula. ER dapat berperan penting dalam pemeliharaan dan fungsi kelenjar saliva. Distribusi ER dapat menunjukkan efek estrogen pada komposisi non organik saliva dan efek positif dari HRT pada sekresi saliva. Penelitian baru-baru ini menunjukkan progesteron reseptor pada kedua sel duktus dan acini, yang diketahui mempunyai peran yang signifikan dalam penyesuaian komposisi saliva.26 Perubahan pada kelenjar saliva berkaitan dengan usia, namun tidak ada pembuktian bahwa xerostomia semata-mata adalah hasil dari penuaan. Dari penyebab lain yang diamati, yang paling sering berkaitan dengan xerostomia adalah menopause dan kondisi depresi tertentu. Menopause terjadi pada wanita usia 40 - 50 tahun. Banyak wanita menopause menderita perubahan dalam suasana hati terutama gangguan depresi, yang telah dikaitkan

Universitas Sumatera Utara

dengan xerostomia, meskipun hubungan kausal antara kedua faktor dan xerostomia belum jelas.3 Perubahan pada jumlah dan jenis hormon seks selama perimenopause dan menopause pada wanita meningkatkan risiko pengembangan autoimun (misalnya, rheumatoid arthritis) dan penyakit kardiovaskuler, dengan xerostomia berat (kekeringan mulut) sering menyertai kondisi ini. Komplikasi oral xerostomia adalah kerentanan terhadap karies gigi dan infeksi candida, sedangkan keberadaan faktor rheumatoid dikaitkan dengan radang gingiva kronis dan kehilangan tulang alveolar yang lebih besar dari normal.12

Universitas Sumatera Utara

KERANGKA TEORI Menopause

Gejala menopause

Fisik

Psikologis

Hot flashes

Perubahan kulit

Perubahan Urogenital

Keringat di malam hari dan sulit tidur

Perubahan rongga mulut

Ketidaknyamanan oral

Osteoporosis

Persepsi rasa berubah

Perubahan mukosa

Mulut kering (xerostomia)

Universitas Sumatera Utara

KERANGKA KONSEP

Wanita menopause Tidak mempunyai penyakit sistemik yang menyebabkan xerostomia Tidak menggunakan obat-obatan yang menyebabkan xerostomia Tidak sedang menjalani radioterapi daerah kepala dan leher

Xerostomia

Universitas Sumatera Utara