Anda di halaman 1dari 57

Penuntun Praktikum Biokimia

BIOMEDIK II

NAMA : NIM : SEMESTER/KELOMPOK:

BAGIAN BIOKIMIA
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Alhairat Palu.

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmatNya sehubungan dengan terbitnya penuntun praktikum Biokimia untuk matakuliah Biomedik II. Dengan perkembangan metode pendidikan dalam ilmu kedokteran umumnya dan Biokimia pada khususnya, maka penuntun praktikum yang diterbitkan kali ini merupakan penuntun yang sebagian besar sama dengan penuntun praktikum sebelumnya hanya saja ada beberapa perbaikan yang disesuaikan dengan matakuliah Biomedik II. Setiap kegiatan praktikum dalam penuntun praktikum ini diusahakan sedapat mungkin berhubungan denga teori yang diberikan pada kuliah Biokimia Kedokteran, sehingga akan bermanfaat dalam memahami kuliah yang diberikan. Kami menyadari bahwa penuntun praktikum ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu petunjuk, saran dan kritik dari para pembaca sangat kami harapkan demi perbaikan pada penerbitan berikutnya. Mudah-mudahan penuntun ini memberikan manfaat yang sebaik-baiknya dalam peningkatan ilmu pengetahuan mahasiswa kedokteran.

Makassar, .. Nopember 20 Penyusun, Staf Pengajar Bagian Biokimia Fakultas Kedokteran UNHAS

TATA TERTIB PRAKTIKUM BIOKIMIA


1. 2. Mahasiswa yang berhak mengikuti praktikum adalah mereka yang telah memenuhi persyaratan administrasi dan kelengkapan peralatan praktikum Kelengkapan administrasi meliputi : a. Mengenakan baju praktikum lengkap dengan papan nama dan membawa penuntun praktikum b. Laki-laki : * Mengenakan baju berkerah Tidak berambut panjang Mengenakan celana panjang kain (bukan jeans) Mengenakan sepatu tertutup c. Perempuan : * Mengenakan baju berkerah Rok panjang kain (bukan jeans) Mengenakan sepatu tertutup Kelengkapan peralatan praktikum meliputi bahan yang ditugaskan untuk dibawa dan kotak alat yang minimal berisi 1 buah tabung reaksi, 1 buah penjepit tabung, 1 buah sikat tabung, 1 buah penjepit tabung, 1 buah korek api, 1 buah lap kasar dan lap halus, kertas label, masker, tissue, savety gloves Mahasiswa sudah harus berada dilaboratorium paling lambat 10 menit sebelum praktikum dimulai dan bagi yang terlambat akan diperbolehkan mengikuti praktikum hanya dengan izin koordinator praktikum Mahasiswa tidak diperbolehkan keluar masuk laboratorium tanpa seizin asisten yang bertugas pada saat itu. Mahasiswa tidak dibenarkan membicarakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan praktikum selama dalam laboratorium demi efisiensi waktu. Mahasiswa akan dibagi menjadi 10 regu dengan satu orang sebagai ketua regu. Setiap regu melakukan jenis percobaan yang sama pada tempatnya masing-masing dan tiap regu tidak diperkenankan mengambil pekerjaan regu mahasiswa lainnya kecuali yang telah ditetapkan oleh asisten. Ketua regu bersama anggotanya menyiapkan kotak alat beserta kelengkapannya dan alat-alat serta bahan dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk percobaan yang akan dilaksanakan yang akan disampaikan oleh asisten pembimbing atau koordinator praktikum Setiap mahasiswa harus memahami tujuan percobaan, cara kerja serta teori yang berhubungan dengan percobaan yang akan dilaksanakan. Asisten berhak menunda jalannya percobaan untuk sementara dan menganjurkan untuk memahami kembali hal-hal yang disebutkan diatas sebelum praktikum dilanjutkan kembali.
Selama praktikum, mahasiswa tidak diperbolehkan keluar masuk laboratorium tanpa seizin asisten yang bertugas pada saat itu serta tidak dibenarkan membicarakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan praktikum demi efisiensi waktu.

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
10.

11.

Percobaan yang tidak berhasil dengan baik atau gagal atas kesalahan regu yang bersangkutan, diluar tanggung jawab asisten pembimbing dan tidak diberikan kesempatan untuk mengadakan pengulangan. 12. Setiap anggota regu bertanggung jawab atas keselamatan dan kebersihan alat-alat yang digunakan dan pada akhir percobaan alat diserahkan kembali dalam keadaan lengkap dan bersih. 13. Mahasiswa yang berhalangan hadir pada praktikum dengan alasan yang jelas harus menyampaikan alasannya kepada koordinator praktikum selambat-lambatnya 2 x 24 jam 14. Laporan hasil percobaan diselesaikan dalam laboratorium selama praktikum berlangsung dan wajib menyelesaikan tugas-tugas yang telah ditetapkan sesuai dengan waktu yang akan diberikan kemudian 15. Mahasiswa yang melanggar tata tertib praktikan akan diberi sanksi mulai dari pemberian tugas sampai dengan tidak diikutkan dalam praktikum. 16. Peraturan yang tidak tercantum di atas dan dianggap perlu akan diberitahukan selanjutnya Demikianlah peraturan ini dibuat agar menjadi perhatian bagi semua pihak yang terkait. Ttd, Koordinator Praktikum

DAFTAR ISI
Halaman 2 3 4 5

KATA PENGANTAR

...........................................................................

TATA TERTIB PRAKTIKUM BIOKIMIA ................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................... STAF LABORATORIUM BIOKIMIA ........................................................... GASTROENTEROHEPATOLOGI I. II. III. IV. EMPEDU BILIRUBIN ALT/SGPT AST/SGOT

ENDOKRIN METABOLIK

I. II. III.

Metabolisme Glukosa Metabolisme Lemak (Lipid) Metabolisme Protein


........................................................................... ............................................................... ............................................................... ....................................... 4 5 7 11

UROGENITALIA A. SIFAT-SIFAT URIN B. ZAT-ZAT FISIOLOGIK URIN C. SISA-SISA METABOLISME RESPIRASI I. II. HEMOGLOBIN KESEIMBANGAN ASAM BASA

D. ZAT-ZAT PATOLOGIK DALAM URIN

STAF LABORATORIUM BIOKIMIA FK UH


STAF DOSEN
dr. H. Nurdin Mappewali,Sp BK Dr. dr. Agnes O. Kwenang,Sp BK Prof.dr.Hj.Rosdiana Natzir, Ph.D dr. Jangki Hashumal,Sp BK dr. H. Marhaen Hardjo,Mbiomed Ph.D dr. Hj.Syahrijuita Kadir,M.Kes Sp.THT dr. Bau Dilam Ardyansyah,M.BSc dr. Ika Yustisia, M.Sc dr. Ilhamuddin Aziz, M.Si. drg. Rahmat

STAF ASISTEN
Muh.Hidayat, S.Ked Supardin, S.Ked Zulkarnaen, S.Ked Aditya Zulfikar, S.Ked Rajibsman, S.Ked Siti Aminah, S.Ked Dedi kusnadi, S.Ked Gusriadi, S.Ked Kiki kusumawati S, S.Ked Kurnia andah, S.Ked Ika maghfirah, S.Ked Ita puspita dewi, S.Ked M.Farid Huzein Andi Masdipa Willies Vrisman Bambang Gunawan Sri Hardiyanti Putri Ismirawati Fitriani Syaifullah Fathur Rachman

LABORAN/STAF ADIMINISTRASI
H. Abdul Kadir St. Ramliah Elia Hj.Yetti

Diterbitkan untuk kebutuhan mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas

Makassar

GASTROENTEROHEPATOLOGI I. EMPEDU Empedu diproduksi oleh hati dan disimpan di dalam kandung empedu. Selama pencernaan, kandung empedu berkontraksi dan menyalurkan empedu ke usus kecil. Banyaknya empedu yang disalurkan tergantung dari : Jenis makanan, makin banyak makanan (lemak) maka makin banyak empedu Susunan empedu dalam hati

Perangsangan empedu tergantung dua factor : Faktor makanan Factor hormonal

Sebelum masuk ke usus kecil empedu bercampur dahulu dengan getah pancreas. Empedu bereaksi alkalis. Diantara bahan-bahan terpenting yang terdapat didalam empedu adalah garam-garam empedu (natrium glikokolat dan taurokolat), pigmen-pigmen empedu, lesitin, kolesterol dan garam-garam organic. Empedu merupakan campuran sekresi dan ekskresi. Bahan yang disekresi misalnya garam-garam empedu dan yang diekskresi adalah pigmen-pigmen empedu dan kolesterol. Garam-garam empedu membantu proses pencernaan dan penyerapan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Aktivitas tadi disebabkan karena : 1. 2. Garam empedu merendahkan tegangan permukaan dan membantu emulsifikasi lemak sehingga memudahkan pencernaan Garam empedu berikatan dengan asam lemak membentuk suatu kompleks yang lebih mudah larut dan diserap Disamping mensekresikan zat yang disintesis oleh hepar sendiri, sel-sel hepar juga mengekskresikan sejumlah zat yang dibentuk ditempat lain di dalam tubuh. Diantaranya yang terpenting adalah bilirubin, yang merupakan salah satu produk akhir utama pemecahan haemoglobin. Dimana bila sel darah merah telah melewati masa hidupnya, rata-rata 120 hari, maka membran sel darah merah pecah dan melepaskan hemoglobin yang difagositosis oleh sel-sel retikuloendoteloial system di seluruh tubuh. Disini hemoglobin akan dipecah menjadi hem dan globin, lalu cincin hem cepat dikonversi menjadi bilirubin yang dilepaskan

kedalam plasma atau disebut bilirubin I. Kemudian ada juga yang dikonjugasi oleh sel hepar menjadi bilirubin II yang dieksresikan oleh transpor aktif kedalam empedu. PERCOBAAN-PERCOBAAN EMPEDU 1. Sifat-sifat Fisis dan Reaksinya a. Catatlah warna, bau dan konsistensinya b. Tentukan pH-nya 2. Percobaan Emulsi dengan Empedu a. Ke dalam tabung reaksi masukkan 1 ml minyak dan 10 ml air b. Kedalam tabung reaksi yang lain dimasukkan 1 ml minyak, 9 ml air dan 1 ml empedu. Kedua tabung reaksi ini dikocok kuat-kuat & tempatkanlah untuk beberapa lama dirak tabung reaksi. Perhatikanlah emulsi yang terjadi. 3. Percobaan untuk Menyatakan Pigmen Empedu a. Gmellins test Kedalam tabung reaksi yang kering dimasukkan asam nitrat pekat (HNO 3) pekat kemudian dituangkan empedu sebanyak 2 ml secara hati-hati sehingga membentuk lapisan bawah. Pada batas antara kedua larutan itu akan terdapat suatu cincin berwarna biru, violet sampai merah. Ulangi percobaan ini dengan menggunakan empedu yang telah diencerkan. b. Rosenbach Modification Gmellins Test Ambillah sepotong kertas saring dan basahilah dengan aquadest. Setelah itu, tetesi beberapa tetes empedu diatas kertas saring yang telah dibasahi. Kemudian ditetesi lagi dengan 1 2 tetes asam nitrat (HNO3) pekat. Perhatikanlah warna yang terjadi. c. Smiths Test Kedalam tabung reaksi dimasukkan empedu yang sudah diencerkan. Kemudian tetesi larutan iodium 0,5% dalam alcohol, sehingga membentuk lapisan atas. Perhatikan warna cincin yang terbentuk pada batas kedua lapisan tersebut. 4. Reaksi Van den Berg c. Berat jenis dengan urinometer

Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 1 ml empedu dan 10 ml air, lalu dicampur. Kemudian tambahkan 1 ml reagen diazo dari ehrlich yang segar. Perhatikan warna yang timbul. Reaksi ini adalah dasar penentuan bilirubin dengan serum. 5. Percobaan Menyatakan Garam Empedu (Pattenkoffers Test) Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 3 ml empedu yang telah diencerkan dan 5 tetes larutan sukrosa 5%. Tuangkan 2 ml asam sulfat pekat perlahan-lahan sehingga membentuk lapisan bawah. Perhatikan warna cincin yang terbentuk pada batas kedua larutan. Dasar reaksi adalah pembentukan furfural dari sukrosa. Reaksi mana lagi yang mempunyai dasar yang sama? Apa bedanya ? Jawab :

II. PERCOBAAN BILIRUBIN (Metode Jendrassik dan Grot) DASAR : Total bilirubin ditentukan oleh reaksi dengan Diazotized sulfanilic acid, dengan adanya larutan caffeine sehingga membentuk hasil akhir pigmentazo. Dengan reaksi yang sama tetapi tanpa caffeine dapat digunakan untuk menentukan bilirubin direct. Bilirubin bereaksi dengan Diazotized sulfanilic acid dan membentuk suatu zat warna yang berwarna merah dalam larutan netral dan biru dalam larutan alkali. Bilirubin glukoronides bisa larut dalam air bereaksi langsung (Direct), sedangkan bilirubin yang bebas hanya akan bereaksi bila ada akselerator (Indirect) REAGENS : 1. 2. 3. 4. Larutan sulfanic acid (29 mmol/l C8H7NO3S; 170 mmol/l HCl) Larutan sodium nitrit (29 mmol/l NaNO2) Akselerator (130 mmol/l caffeine; 156 mmol/l sodium benzoat; 460 mmol/l sodium asetat) Larutan Fehling II (930 mmol/l potassium sodium tartrat; 1,9 mmol/l larutan sodium hidroksida)

5.

NaCl 0,9 %

ALAT : Spektrofotometer, pipet tetes, pipet mikro dan tabung reaksi CARA KERJA : Bilirubin direct Bilirubin total Sample Blanko bilirubin Sample Blanko bilirubin Larutan sulfanic acid (1) 200 l 200 l 200 l 200 l Larutan sodium nitrat (2) 1 tetes 1 tetes Akselerator (3) 1 ml 1 ml NaCl 0,9% (5) 2 ml 2 ml Sample serum/plasma 200 l 200 l 200 l 200 l Campurkanlah dengan segera. Untuk bilirubin direct inkubasi pada waktu yang tepat yaitu 5 menit dengan temperatur kamar, kemudian pindahkan kedalam kuvet dan ukur absorban sampel terhadap sampel blanko pada panjang gelombang 546 nm. Untuk Bilirubin total, inkubasi selama 10 meni t pada temperatur ruang kemudian tambahkan masing-masing 1 ml larutan Fehling (4). Campurkan dan inkubasi selama 5 menit kemudian ukur absorban sampel terhadap blanko pada panjang gelombang 578 nm. PERHITUNGAN : Konsentrasi bilirubin direct = absorban x 14,4 mg/dl Konsentrasi bilirubin total = absorban x 10,8 mg/dl Konsentrasi bilirubin indirect = bilirubin total bilirubin direct NILAI NORMAL : Bilirubin direct sampai 0,3 mg/dl Bilirubin indirect sampai 1 mg/dl

III. ALT (ALANIN TRANSAMINASE = serum glutamic piruvate transasminase = SGPT) Dasar :
ALT

L-alanin + -Ketoglutarat
LDH

L-Glutamat + Piruvat L-laktat + NAD+

Piruvat + NADH+ + H+

Kecepatan penurunan kadar NADH diukur secara fotometrik dan berbanding lurus dengan aktivitas ALT dalam bahan sampel. REAGENSIA : Working reagent :
pH 7,8 100 mM TRIS-HCl buffer

-Ketoglutarat 15 mM mM NADH mM 0,18 ukat/l

NaHCO3 LDH

10 1428

mM

L-alanin

500

ALAT-ALAT : Waterbath, pipet, tabung reaksi, spektrofotometer CARA KERJA : Kedalam tabung reaksi, pipet 1 ml reagen ALT Inkubasi selama 1 5 menit pada suhu 37 oC (waterbath) Tambahkan 100 l sampel serum/plasma Dikocok kemudian diisap pada spektrofotometer (dengan panjang gelombang 340 nm) Hasil dibaca pada spektrofotometer dalam U/L

PERHITUNGAN : Konsentrasi ALT = abs x 1745 U/L NILAI NORMAL : (perempuan) = 9 36 U/L ( 39 U/L) (laki-laki) = 9 43 U/L ( 47 U/L)

IV. AST (ASPARTAT TRANSAMINASE= Serum glutamic oksalo acetate transaminase=SGOT) Dasar :
AST

L-aspartat + 2-oksoglutarat
MDH

L-Glutamat + Oksaloasetat L-malat + NAD+

Oksaloasetat + NADH+ + H+ AST dalam bahan sample

Kecepatan penurunan kadar NADH diukur secara spektrofotometri dan berbanding lurus dengan aktifitas

10

REAGENSIA : Working reagent : TRIS-HCl buffer pH 7,8 80 Mm LDH 28 ukat/l L-Aspartat 240 mM NADH 0,18 mM 2-oksoglutarat 12 mM - MDH 10 ukat/l - Na-azide 0,3% -

11

ALAT-ALAT : Waterbath, pipet, tabung reaksi, spektrofotometer CARA KERJA : Kedalam tabung reaksi, pipet 1 ml reagen AST Inkubasi selama 1 5 menit pada suhu 37 oC (waterbath) Tambahkan 100 l sampel serum/plasma Dikocok kemudian diisap pada spektrofotometer Hasil dibaca pada spektrofotometer dalam U/L (perempuan) = 10 31 U/L ( 37 U/L) (laki-laki) = 10 34 U/L ( 31 U/L) ENDOKRIN METABOLIK I. METABOLISME GLUKOSA A. PENDAHULUAN Glukosa Darah Puasa Kadar glukosa darah memuncak pada sekitar 1 jam setelah makan, kemudian menurun seiring dengan oksidasi atau perubahan glukosa menjadi bentuk simpanan bahan bakar oleh jaringan. Dua jam setelah makan, kadar kembali ke rentang puasa. Penurunan glukosa darah ini menyebabkan pancreas menurunkan sekresi insulinnya, dan kadar insulin turun. Hati berespon terhadap sinyal hormon ini dengan memulai degradasi simpanan glikogen dan melepaskan glukosa ke dalam aliran darah. Apabila kita terus berpuasa selama 12 jam, kita masuk ke keadaan basal. Pada saat ini kadar insulin serum rendah dan glukagon meningkat. Pada pokoknya selama fase awal puasa, kadar glukosa dipertahankan dalam rentang 60 100 mg/dl, dan kadar asam lemak serta badan keton meningkat. Hati berperan penting dalam mempertahankan kadar glukosa darah, yakni dengan glikogenolisis dan glukoneogenesis. Uji Toleransi Glukosa Oral (UTGO)

NILAI NORMAL :

Harus dicurigai adanya diabetes mellitus (DM) apabila kadar glukosa plasma vena yang diambil tanpa memandang kapan saat makan terakhir jelas meningkat ( 200 mg/dl), terutama pada seseorang yang memperlihatkan tanda dan gejala klasik dari hiperglikemia kronik. Untuk memastikan diagnosis tersebut, penderita harus berpuasa satu malam (10 16 jam), dan pengukuran gula darah harus diulang. Nilai yang kurang dari 100 mg/dl masih dianggap normal. Nilai yang lebih dari 125 mg/dl mengisyaratkan diabetes mellitus. Dalam uji ini penderita yang tidak hamil dan telah berpuasa semalam, minum 50 gram glukosa dalam bentuk larutan. Dilakukan pengambilan sampel darah sebelum pemberian glukosa darah oral dan pada 30, 60, 90 dan 120 menit kemudian. Apabila salah satu dari sampel lebih besar dari 140 mg/dl, diindikasikan adanya diabetes mellitus. Penetapan kadar gula/glukosa darah merupakan salah satu pemeriksaan kimia darah paling sering dilakukan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan terhadap darah, plasma atau serum. Bermacam-macam cara digunakan dalam penetapan kadar gula darah, baik secara makro (dengan menggunakan darah vena), maupun secara mikro (darah kapiler). Cara yang sering digunakan pada dasarnya dapat dibedakan dalam beberapa golongan. 1. 2. 3. 4. Penetapan kolorimetri berdasarkan sifat mereduksi glukosa, misalnya metode Folinwu dan Somogyi Nelson Penetapan dengan Hagendorn-Jensen dan Somogyi-Schaffer-Hartmann Pembentukan kompleks berwarna oleh glukosa dengan suatu zat misalnya o-tolouidin (kolorimetri) Reaksi enzim dengan menggunakan glukosa-oksidase. Hidrogen peroksida yang terbentuk akan mengoksidasi zat kromogen seperti o-dianisidin (CH3O.C6H3.(NH2)2) Penafsiran 5. Adalah penting bahwa pemeriksaan dilakukan segera setelah pengambilan darah, sebab aktifitas glikolitik yang cara titrasi berdasarkan sifat mereduksi glukosa (iodometri), misalnya metode terdapat pada darah menyebabkan berkurangnya kadar glukosa dengan berlalunya waktu. Jika dipakai anti-koagulan harus hati-hati, sebab penggunaan garam oksalat yang berlebihan misalnya dapat memberikan hasil yang lebih rendah keadaan sebenarnya. Natrium flourida, disamping berguna sebagai antikoagulan juga dapat berfungsi sebagai pengawet.

Penetapan yang berdasarkan reaksi reduksi merupakan cara yang tidak spesifik. Darah mengandung banyak zat yang berdaya reduksi selain glukosa ( saccharide) sehingga menyebabkan hasil yang diperoleh menjadi lebih tinggi daripada yang sebenarnya. Reaksi enzimatik dengan glukosa oksidase dianggap dapat memberi hasil yang sebenarnya, tetapi harus diperhatikan pula zat-zat yang dapat menghambat aktifitasnya. Dengan demikian, dalam menilai hasil pemeriksaan, hendaknya diperhatikan metode yang digunakan, hasil yang mendekati sebenarnya diperoleh dengan metode o-toluidin dan juga dengan glukosa oksidase. B. GLUKOSA DARAH (METODE ENZIMATIK GOD-PAP) a. Tujuan : Untuk mengetahui dan memahami metode pelaksanaan pemeriksaan Tes Glukosa Darah Puasa dan Tes Toleransi Glukosa (TTGO) dan menginterpretasi hasilnya. b. Dasar Reaksi Glukosa Oksidase (GOD) mengkatalisa oksidasi dari glukosa menurut persamaan :
GOD

Glukosa + O2 + H2O

Asam Glukonat + H2O2

Hidrogen peroksida yang terbentuk bereaksi dengan 4-aminoantipyrin dan 2,4 diklorfenol. Dengan adanya peroksidase (POD) dan menghasilkan antipyrilquinonimin, yakni suatu zat warna merah. Intensitas warna sebanding dengan kadar glukosa, diukur secara fotometrik. c. Bahan dan Alat Reagensia : 1. Reagen warna (Fosfat buffer 200 mmol/liter; GOD 250 kat; POD 20 kat; 4-aminoantipyrin 0,75 mmol/liter; 2,4-diklorofenol 1 mmol/liter) 2. Standar glukosa 100 mg/dl Alat-alat d. Cara Kerja dengan : Tambahkan kedalam tabung Sampel Serum atau plasma 20 l Larutan standar Standar 20 l Blanko Siapkan 3 buah tabung reaksi bersih dan kering. Beri tanda masing-masing tabung : Spektrofotometer, pipet, tabung reaksi

Reagensia warna 2 ml 2 ml 2 ml Campurkan baik-baik & inkubasi selama 15 menit pada temperatur kamar dalam waktu 30 menit. Ukur absorban sampel dan standar terhadap blanko pada panjang gelombang 510 nm

e. Perhitungan : Absorban sampel Kadar glukosa = ----------------------- x 100 mg/dl Absorban standar f. Nilai Normal Normoglikemia GDP < 100 mg/dl 2 jam PP < 140 mg/dl g. Pertanyaan 1.
300 280 260 240 220 200

GDPT atau TGT Diabetes GDP 100 mg/dl dan < 126 mg/dl GDP 126 mg/dl (GDPT) 2 jam PP 140 mg/dl dan < 200 2 jam PP 200 mg/dl symptom mg/dl (TGT) diabetes dan GDS 200 mg/dl

Gambarkan kurva hasil TTG penderita DM dibandingkan dengan kurva TTG orang normal ! Jelaskan mengapa demikian !
300

Jawab:

280 260 240 220 200

kadar gula (mg/dl)

180 160 140 120 100 80 60 40 20 0

kadar gula (mg/dl) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120

180 160 140 120 100 80 60 40 20 0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

110

120

waktu (menit)

waktu (menit)

2.

Mengapa pada pelaksanaan TTG orang harus dipuasakan minimal 10 jam ? Jawab :

LEMBAR KERJA MAHASISWA I. PERCOBAAN METABOLISME GLUKOSA HASIL : Gula Darah Puasa :

Uji Toleransi Glukosa Oral (UTGO) :

INTERPRETASI & PEMBAHASAN :

KESIMPULAN :

II. METABOLISME LEMAK A. PENDAHULUAN Triasilgliserol (trigliserida) adalah lemak utama dalam makanan manusia, terutama dicerna di lumen usus. Produk-produk pencernaan tersebut diubah kembali menjadi triasilgliserol di dalam epitel usus, yang dikemas dalam lipoprotein yang dikenal sebagai kilomikron, yang dieksresikan ke dalam limfe. Akhirnya kilomikron masuk ke dalam darah dan berfungsi sebagai salah satu lipoprotein utama di dalam darah. Kolesterol yang mengalir dalam darah dalam bentuk lipoprotein, berfungsi sebagai komponen stabilisasi membran sel dan sebagai precursor garam empedu serta hormon steroid. Precursor kolesterol diubah menjadi ubikuinon, dolikol, dan di kulit menjadi kolekalsiferol yaitu bentuk aktif vitamin D. Peningkatan kadar kolesterol dalam darah dikaitkan dengan pembentukan plak aterosklerotik yang dapat menyumbat pembuluh darah, menimbulkan serangan jantung dan stroke. Kolesterol LDL bersifat aterogenik, namun kadar kolesterol HDL yang tinggi bersifat protektif karena partikel HDL berperan mengeluarkan kolesterol dari jaringan dan mengeluarkannya ke hati. Kolesterol terdapat dalam jaringan dan dalam lipoprotein plasma, bisa sebagai kolesterol bebas atau tergabung dengan asam lemak rantai panjang, sebagai ester kolesterol. Kolesterol adalah hasil khas metabolisme hewan dan dengan demikian terdapat dalam segala makanan yang berasal dari hewan seperti merah telur, daging, hati dan otak. Kolesterol merupakan lipid amfipatik dan dalam keadaan demikian menjadi komponen struktural penting yang membentuk membran sel dan lapisan luar protein plasma. Ester kolesterol merupakan bentuk simpanan kolesterol yang ditemukan dalam sebagian besar jaringan tubuh. Kolesterol dalam tubuh berasal dari 2 sumber : 1. 2. Sintetis dalam tubuh kira-kira 500 mg/hari Berasal dari makanan, jumlahnya tergantung susunan makanan Sintetis dalam tubuh terjadi pada jaringan hati, korteks anak ginjal, kulit, usus, testis dan aorta. Pengeluaran kolesterol tubuh berlangsung melalui 3 cara :

1. 2. 3.

Sebagai kolesterol yang dikeluarkan bersama empedu ke lumen usus Setelah diubah menjadi asam empedu dikeluarkan ke lumen usus Diubah menjadi hormon steroid dan setelah berfungsi hormon-hormon ini dan metabolitnya dikeluarkan melalui urin. Didalam darah kolesterol terdapat dalam 2 bentuk, yaitu kolesterol bebas dan sebagai ester. Ester

kolesterol mempunyai hubungan dengan fungsi hati, sehingga kadang-kadang perlu ditetapkan tersendiri. Penetapan kadar kolesterol total dilakukan dengan beberapa cara, pada umumnya lebih mudah dari pada penetapan ester kolesterol pada umumnya penetapan dilakukan setelah diekstraksi dengan pelarut lemak. B. 1. 2. C. 1. TUJUAN Untuk mengetahui pemeriksaan fraksi lemak (kolesterol, LDL, trigliserida) Melihat pengaruh makanan berlemak terhadap peningkatan fraksi lemak. TOPIK PERCOBAAN Kolesterol (Metode Enzimatik CHOD-PAP) terbentuk dari hydrogen peroksida dan 4-aminoantipirin dengan adanya fenol dan peroksida. Reaksi :
kolesterolesterase

Dasar : Kolesterol ditemukan setelah hidrolisa enzimatik dan oksidasi. Zat warna quinoneimin

Kolesterol ester + H2O


Kolesteroksidase

kolesterol + asam lemak kolesterol-3-one +H2O2


POD

Kolesterol ester + H2O + O2 H2O2 + 4-aminoantipirin + fenol Reagens : 1.


-

turunan zat warna quinoneimin + 4 H2O2

Reagensia warna enzimatik kolesterol


Buffer fosfat 150 mmol/l Natrium fenolat 7,8 mmol/l 4-aminoantipirin 0,4 mmol/l Kolesterol esterase 1,7 mmol/l Kolesterol oksidase 1 mmol/l Peroksidase 20 kat

2.

Standar kolesterol 200 mg/dl

Alat-alat : Spektrofotometer, pipet, tabung reaksi Cara Kerja : Siapkan 3 buah tabung reaksi bersih dan kering. Beri tanda tabung reaksi masing-masing dengan: Tambahkan kedalam tabung Sampel Standar Blanko

Serum atau plasma 20 ul Larutan standard 20 ul Reagensia Warna 2,0 ml 2,0 ml 2,0 ml o Campurkan baik-baik dan biarkan selama 5 menit pada suhu 37 C atau 10 menit pada suhu ruangan. Ukur absorbansi sampel dan standar terhadap blanko pada panjang gelombang 510 nm
Absorban sampel 200 mg/dl Absorban standar

Perhitungan : Kadar Total Kolesterol =

Nilai Normal : < 220 mg/dl dan dicurigai jika 220 260 mg/dl 2. Trigliserida (Metode Enzimatik GPO-PAP) terbentuk dari hydrogen peroksida, 4-aminoantipirin dan 4-klorofenol dengan katalisator peroksidase. Reaksi :
LP (lipase)

Dasar: Trigliserida ditentukan setelah hidrolisa enzimatik dengan lipase. Zat warna quinoneimin

Trigliserida + H2O
Gliserol kinase

gliserol + asam lemak gliserol-3-fosfat + ADP


GPO

Gliserol + ATP gliserol-3-fosfat + O2

dihydroxyacetonephosphat + H2O2
POD

2H2O2 + 4-aminoantipirin + 4-klorofenol Reagens : 1. Reagens warna enzimatik kolesterol : - PIPES buffer pH 7,5 : 24 mmol/l - Adenosin Trifosfat (ATP) : 1 mmol/l - 4-aminoantipirin (PAP) : 0,5 mmol - Lipoprotein lipase (PLP) : 50 kat 2. Standar Trigliserida Cara Kerja : : 200 mg/dl

quinoneimin + HCl + 4 H2O2

- Gliserol kinase (GK) : 13 kat


Gliserol Posphat Oksigen (GPO) : 25 kat

- 2-peroksidase (POD) : 5 kat - 4-klorofenol : 6 mmol/l

Alat-alat : Spektrofotometer, pipet, tabung reaksi Siapkan 3 buah tabung reaksi bersih dan kering. Beri tanda/label masing-masing tabung dengan : Masukkan kedalam tabung Sample Standar Blanko

Serum atau plasma 20 ul Larutan standard 20 ul Reagensia warna 2,0 ml 2,0 ml 2,0 ml Campurkan dan biarkan selama 20 menit pada temperature kamar. Dalam waktu 30 menit, baca absorban sample dan standar terhadap blangko pada panjang gelombang 510 nm.
Absorban sampel 200 mg/dl Absorban standar

Perhitungan : Kadar trigliserida = Nilai Normal : Laki-laki Perempuan 3.

: 40 160 mg/dl : 35 135 mg/dl

HDL-Kolesterol (Metode Fosfotungstat) Lipoprotein) dan LDL (Low Density Lipoprotein) akan mengendap (presipitasi). Supernatant yang jernih (setelah sentrifugasi) dipergunakan untuk menentukan HDL-kolesterol dengan metode CHOD-PAP.

Dasar : Dengan asam fosfotungstat dan magnesium klorida maka kilomikron, VLDL (Very Low Density

Reagens : 1.
-

Reagens pengendap
Asam fosfotungstat 0,55 mmol/l Magnesium klorida 0,25 mmol/l

2. 3.

Reagens warna enzimatik kolesterol Standar kolesterol 100 mg/dl

Alat-alat : spektrofotometer, Sentrifuge, pipet, tabung reaksi Cara Kerja : Metode 1 : Siapkan sebuah tabung reaksi bersih dan kering Masukkan kedalam tabung Sample Serum atau plasma 200 ul Reagensia pengendap 0,5 ml Campurkan dan biarkan selama 15 menit pada temperature 20 25 oC. Sentrifuge selama 10 menit pada kecepatan 4000 rpm atau 2 menit pada kecepatan 12000 rpm. Setelah pemusingan dapat ditentukan kolesterol didalam supernatan. : Siapkan 3 buah tabung reaksi bersih dan kering. Beri tanda/label dimasing-masing tabung dengan

Masukkan kedalam tabung Sample Standar Blanko Supernatant dari sample 20 ul Larutan standard 20 ul Reagensia warna 2,0 ml 2,0 ml 2,0 ml Campurkan dan biarkan selama 15 menit pada temperature kamar. Dalam waktu 45 menit baca absorban sample dan standar terhadap blangko pada panjang gelombang 510 nm Metode 2 :

Siapkan sebuah tabung reaksi bersih dan kering Masukkan kedalam tabung Sample Serum atau plasma 300 ul Reagensia pengendap 1 tetes Campurkan dan biarkan selama 15 menit pada temperature kamar (20 25
o

C). Sentrifuge selama 15 menit pada kecepatan 2000 rpm atau 2 menit pada kecepatan 10000 rpm. Setelah pemusingan dapat ditentukan kolesterol didalam supernatan. Siapkan 3

buah tabung reaksi bersih dan kering. Beri tanda/label dimasing-masing tabung dengan : Masukkan kedalam tabung Sampel Standar Blanko Supernatant dari sample 20 ul Serum/plasma Larutan standard 20 ul Reagensia Warna 2,0 ml 2,0 ml 2,0 ml Campurkan baik-baik dan biarkan selama 5 menit pada suhu 37 oC atau 10 menit pada suhu ruangan. Ukur absorbansi sampel dan standar terhadap blanko pada panjang gelombang 500 nm Perhitungan : Kadar HDL-kolesterol = Nilai Normal : HDL-kolesterol = laki-laki Perempuan : 45 65 mg/dl : 35 55 mg/dl
Trigliserida 5 Absorban sampel 100 mg/dl Absorban standar

LDL-kolesterol = T kolesterol (HDL-kolesterol) - Rasio (Total kolesterol : HDL-kolesterol) < 5 D. 1. PERTANYAAN

Pada keadaan apa saja terjadi dislipidemia ? Jelaskan.

10

Jawab :

2. Jawab :

Gambarkan secara skematis mekanisme pencernaan lemak

LEMBAR KERJA MAHASISWA II. PERCOBAAN METABOLISME LEMAK HASIL 1. Kolesterol :

2. Trigliserida :

3. HDL-kolesterol LDL-kolesterol :

11

Rasio Total kolesterol : HDL-kolesterol =

INTERPRETASI & PEMBAHASAN 1. Kolesterol :

2.

Trigliserida :

3.

HDL-kolesterol :

KESIMPULAN :

III. METABOLISME PROTEIN A. 1. PENDAHULUAN PROTEIN PLASMA

12

Protein plasma merupakan bagian utama zat plasma, protein plasma sebenarnya merupakan campuran yang sangat kompleks yang tidak hanya terdiri dari protein sederhana tetapi juga protein campuran atau conjugated protein seperti glikoprotein dan berbagai jenis lipoprotein. Plasma normal mengandung 60 sampai 80 g/l protein. Dari jumlah ini, 30 50 gram adalah albumin dan 15 sampai 30 gram tersusun atas campuran globulin. Asam amino, yang dihasilkan dari pencernaan protein makanan, diserap melalui epitel usus dan masuk kedalam darah. Berbagai sel mengandung asam amino ini yang kemudian masuk menjadi simpanan di dalam sel. Asam amino tersebut digunakan untuk membentuk protein dan senyawa lain yang mengandung nitrogen atau dioksidasi untuk menghasilkan energi. Fibrinogen adalah prazat fibrin, zat bekuan darah, fibrinogen dapat diendapkan dengan ammonium sulfat setengah jenuh sehingga menyerupai globulin dan akan berbeda dengan globulin jika diendapkan dengan 0,75 molar Na2SO4 atau NaCl setengah jenuh. Dalam penetapan fibrinogen kuantitatif. Reaksireaksi ini dipergunakan untuk memisahkan protein ini dari globulin yang mempunyai hubungan erat lainnya. Protein serum terutama adalah fraksi albumin dan globulin, juga dalam analisis protein serum total, bila dikoreksi untuk nitrogen non protein dapat dipergunakan untuk memperkirakan seluruh albumin dan globulin total. Dalam larutan Na-sulfat 27% globulin akan mengendap, sedang albumin akan tetap tinggal dalam larutan. Cara-cara menentukan/pemisahan protein plasma : Dengan analisis nitrogen Dengan cara kalorimetri langsung Dengan cara elektroforesis tiselius, elektroforesis zone, imuno-elektroforesis Dengan cara ultrasentrifuge Dengan cara presipitasi alcohol Dengan analisis imunologi Konsentrasi kedua fraksi utama protein sering dinyatakan sebagai rasio albumin terhadap globulin (A/G), nilai normal 1,2 : 1 2. ALBUMIN

13

Albumin merupakan protein globosa yang terdiri dari rantai polipeptida tunggal dan mempunyai berat molekul kurang lebih 66.300. Dua fungsi utama albumin adalah mengangkut molekul-molekul kecil melewati plasma dan cairan ekstrasel serta memberikan tekanan osmotic di dalam kapiler. Banyak metabolit seperti asam lemak bebas dan bilirubin, kurang dapat larut dalam air. Namun metabolit ini harus diangkut bolak-balik melalui darah dari suatu alat lain yang melalui medium air sehingga dapat di metabolisis atau diekskresi. Albumin mengisi tugas ini dan berperan sebagai protein pengangkut nonspesifik. Selain itu albumin mengikat obat-obat yang tidak mudah larut seperti aspirin, digitalis, antikoagulan koumarin serta obat-obat tidur, sehingga obat-obat ini dapat dibawa secara efisien melalui peredaran darah. B. 1. 2. C. TUJUAN Mengetahui cara pemeriksaan total protein dan albumin serta interpretasinya Mengetahui profil protein plasma fisiologis dan patologis TOPIK PERCOBAAN

1. TOTAL PROTEIN (Metode Biuret) DASAR : Protein dengan ion tembaga dalam larutan alkalis menghasilkan senyawa kompleks yang berwarna ungu, intensitas warna sebanding dengan kadar protein, diukur secara fotometrik. REAGENS :
1. Reagensia Biuret (K.Na Tartrat 20 mmol/liter; KI 1 mmol/liter; CuSO 4 12 mmol/liter; NaOH 200 mmol/liter)

2. -

Larutan standar (6 gr/dl) Siapkan 3 buah tabung reaksi bersih dan kering. Beri tanda/label pada masing-masing tabung reaksi yang dipakai : Masukkan tabung Serum Larutan standar Reagens warna kedalam Sample 50 ul 2,5 ml Standar 50 ul 2,5 ml Blanko 2,5 ml

CARA KERJA :

14

Campurkan baik-baik dan biarkan selama 30 menit pada temperature kamar. Sesudah 30 menit ukurlah absorbans sample dan standar terhadap blanko pada panjang gelombang 545 nm
Absorban sampel 6 g/dl Absorban standar

PERHITUNGAN : Kadar Total Protein = NILAI NORMAL : 6,6 8,7 gr/dl

2. ALBUMIN (Metode Bromcresol Green) Dasar : Albumin dengan Bromcresol Green pada pH 4,3 membentuk kompleks warna, intensitas warna sebanding dengan kadar albumin, diukur secara fotometrik. Reagensia : 1. 2. Reagens warna buffer pH 4,3 Sodium succinat buffer 454 mmol/l Bromcresol Green 0,95 mmol/l Standar albumin 5 gr/dl

15

Alat-alat : Spektrofotometer, pipet, tabung reaksi Cara kerja : Siapkan 3 buah tabung reaksi bersih dan kering. Beri tanda/label pada masing-masing tabung dengan : Masukkan kedalam tabung Sample Standar Blanko Reagens warna 3 ml 3 ml 3 ml Sample plasma/serum 10 l Larutan standar 10 l Kocok baik-baik isi tabung. Inkubasi pada temperature kamar selama 10 menit. Kemudian ukur absorbans sample dan standar terhadap blanko pada panjang gelombang 620 nm. Perhitungan : Kadar albumin = Nilai Normal :
Absorban sampel 5 g/dl Absorban standar

Albumin = 3,5 5,5 gram/dl Globulin = 1,5 3,5 gram/dl

Rasio A/G = 1,2:1

D. 1. Jawab :

PERTANYAAN Tuliskan keadaan-keadaan yang menyebabkan hipoalbuminemia !

2.

Gambarkan skema metabolisme protein

Jawab :

LEMBAR KERJA MAHASISWA III. PERCOBAAN METABOLISME PROTEIN HASIL : 1. Total Protein :

2.

Albumin :

INTERPRETASI & PEMBAHASAN 1. Total Protein

2. Albumin

KESIMPULAN :

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. Murray RK, et.a. Biokimia Harper ed. 25 Jakarta : EGC. 2003 Stryer L. Biokimia, ed. 3, vol. 1. Jakarta : EGC. 1999 Stryer L. Biokimia, ed. 3, vol. 2. Jakarta : EGC. 1999 -------, Pedoman Kerja Boerhringer Mannheim, 1982 -------, Pedoman Kerja Dyasys, 2002/2003

6. 7.

-------, Penuntun Kerja Roche, 1985 -------, Penuntun Praktikum Biokimia Kedokteran Gigi Bagian Biokimia FK UH. Makassar, 2004 8. -------, Penuntun Praktikum Biokimia I. Bagian Biokimia FKUH. Makassar, 2002 9. -------, Biokimia Eksperimen Laboratorium. Bagian Biokimia FKUH. Jakarta : Widya Medika 2001 10. -------, Penuntun Praktikum Biokimia II. Bagian Biokimia FKUH. Makassar 2002 UROGENITALIA A. SIFAT-SIFAT URIN 1. VOLUME URIN Volume urin dalam 24 jam tergantung pada faktor fisiologik (misalnya intake cairan, suhu dan kerja fisik) dan faktor patologik (misalnya penyakit ginjal, diabetes mellitus dan sebagainya). Beberapa obat misalnya golongan diuretik, kopi, alkohol dapat pula mempengaruhi volume urin. Pada manusia, normalnya volume urin antara 600 2500 ml/24 jam. Kelainan-kelainan dalam volume urin : Poliuri Oligouri Anuri : bila volume urin > 2500 ml/24 jam : bila volume urin < 600 ml/24 jam : bila tidak terbentuk urin

Prinsip : untuk menentukan volume urin diperlukan urine yang dikumpulkan dalam 24 jam Percobaan : Urin hari pertama dibuang pada waktu yang telah ditentukan (misalnya jam 6 pagi). Semua urin mulai waktu itu sampai dengan waktu yang sama pada hari berikutnya dikumpulkan. Seluruh urin tersebut harus disimpan dalam keadaan dingin dengan toluen sebagai pengawet. 2. BERAT JENIS URIN Berat jenis urin normal antara 1,003 1,030 tergantung pada jumlah zat-zat yang larut didalamnya dan volume urin. Jumlah total zat padat dalam urin 24 jam kira-kira 50 gram. Berat jenis urin berubah terutama pada penyakit ginjal. Prinsip : untuk menentukan berat jenis urin diperlukan alat hydrometer/urinometer. Urine yang digunakan adalah urine 24 jam. Percobaan :

Tampung urin (sewaktu, pagi hari dan urin 24 jam) kedalam wadah yang telah disediakan Isilah sebuah tabung urinometer dengan urin tersebut diatas dan letakkan hidrometer didalamnya hingga urinometer pada posisi terapung. Hidrometer tidak boleh menyentuh dinding tabung. Catatlah suhu urin tersebut dengan menggunakan termometer. Tiap-tiap urinometer telah ditera pada suhu tertentu.

Bila suhu urin tidak sama dengan suhu tera, lakukanlah koreksi dengan cara tambahkan 0,001 pada angka yang dinyatakan hidrometer bagi tiap penambahan suhu 3 oC diatas suhu tera atau kurangi 0,001 pada angka yang dinyatakan hidrometer bagi tiap penambahan suhu 3 oC dibawah suhu tera.

Kemudian bacalah skala pada meniskus bawah urin dan hitunglah dengan menggunakan rumus berikut : BJ urin sesungguhnya = BJ ukur +
(suhu urin suhu tera) x 0,001 3

Kalikan dua angka terakhir berat jenis urin sesungguhnya tersebut diatas dengan koefisien Log (2,6). Hasilnya diperoleh secara kasar jumlah zat padat total dalam 1 liter urin (gram)

3.

PH URIN Urin dapat bersifat asam, netral atau basa dengan pH antara 4,7 8,0. Tetapi urin yang dikumpulkan

selama 24 jam biasanya bersifat asam. Urin yang diambil pada waktu-waktu tertentu mempunyai pH yang berbeda-beda. Beberapa waktu setelah makan, urin akan bersifat netral bahkan alkalis. Ini disebut alkalin tide. Bila dibiarkan untuk waktu lama, urin dapat mengalami ammoniacal fermentation atau acid fermentation. Hal ini disebabkan oleh bakteri dan pH urin menjadi basa. Prinsip : pH urin ditentukan dengan indikator universal, urine yang digunakan adalah urine 24 jam Percobaan : Celupkan secarik strip indikator universal ke dalam urin sewaktu dan 24 jam kemudian bacalah pH urin tersebut. 4. BAU, WARNA DAN KEKERUHAN Urin yang baru dikeluarkan mempunyai bau khas. Bila urin mengalami dekomposisi, timbul bau amonia yang tidak enak. Pada penderita diabetes mellitus dengan ketosis maka urin akan berbau aseton.

Warna urin berbeda-beda sesuai dengan kepekatannya, tetapi dalam keadaan normal urin berwarna kuning muda. Warna terutama disebabkan oleh pigmen urokrom yang berwarna kuning & sejumlah kecil oleh urobilin & hematoporfirin. Dalam keadaan demam karena pemekatan, warna urin berubah menjadi kuning tua atau agak coklat. Pada penyakit hati, pigmen empedu dapat menyebabkan urin menjadi hijau, coklat atau kuning tua. Darah/hemoglobin menyebabkan warna urin merah, sedangkan methemoglobin atau asam hemogentisat menyebabkan warna urin coklat tua. Urin normal biasanya jernih pada waktu dikeluarkan, tetapi bila dibiarkan dalam waktu lama akan timbul kekeruhan disebabkan oleh nukleoprotein, mukoid atau sel-sel epitel. Selain itu pada urin yang alkalis, kekeruhan dapat disebabkan oleh endapan fosfat sedangkan pada urin asam biasanya disebabkan oleh endapan urat. Percobaan : Catatlah bau, warna dan kekeruhan urin sewaktu, pagi hari dan urin 24 jam. LEMBAR KERJA MAHASISWA 1. Hasil : Volume total urin 24 jam = ..................... ml Kesimpulan : Volume Urin

2. Hasil :

Berat Jenis Urin Berat jenis urine yang terukur = ..................... Suhu urine = ................ oC Berat jenis urine sesungguhnya = Jumlah zat padat total = Kesimpulan :

3.

pH urin Hasil : pH urin = ..................... Kesimpulan :

4. Hasil :

Bau, warna dan kekeruhan Bau = ........................................... Warna = ....................................... Kekeruhan = ................................................ Kesimpulan :

B. 1. KLORIDA

ZAT-ZAT FISIOLOGIK URIN

Klorida merupakan zat padat yang jumlahnya terbanyak kedua setelah urea dalam urin. ekskresi melalui urin utamanya dalam bentuk NaCl sekitar 10 15 gr/24 jam tergantung intake. Dengan menentukan jumlah klorida maka kita dapat menentukan jumlah NaCl yang diekresikan melalui urin. ekskresinya menurun pada perspirasi berlebihan, retensi natrium, radang ginjal menahun, diare dan sebagainya. Sedangkan pada insufisiensi korteks adrenal, ekskresinya akan bertambah. Percobaan : Siapkan sebuah tabung reaksi bersih dan kering. Masukkan 5 ml urin kedalam tabung reaksi tersebut. Tambahkan beberapa tetes HNO3 encer (4 tetes) dan beberapa tetes AgNO3 2% (4 tetes). Perhatikan apa yang terjadi, endapan putih yang terbentuk adalah perak klorida yang larut dalam amonia. Catat dan gambar. 2. BELERANG

Dalam keadaan normal, 1 gram belerang dikeluarkan dalam 24 jam. Belerang adalah zat sisa metabolisme asam amino yang mengandung S, tiosulfat, tiosianat, sulfida dan sebagainya. Belerang yang diekskresi terdapat dalam 2 bentuk yakni : belerang yang tak teroksidasi (belerang netral) belerang yang teroksidasi (oxidized sulfur) sulfat anorganik sulfat eterial

Belerang teroksidasi ada 2 bentuk yaitu : Sulfat anorganik adalah bagian terbesar dari belerang teroksidasi. Sedangkan sulfat eterial yang terpenting dalam urin adalah indikan. Indikan merupakan zat yang berasal dari pembusukan triptofan dalam usus atau ditempat lain dalam tubuh. Jumlah indikan yang diekskresi dalam urin kira-kira 10 20 mg/24 jam. Ekskresi indikan meninggi pada beberapa keadaan seperti stagnasi usus, pembusukan dalam usus meningkat dan pada pemecahan protein jaringan atau protein cairan tubuh (abses, gangren, emfisema dan sebagainya). Percobaan : 1. Sulfat Anorganik Siapkan sebuah tabung reaksi bersih & kering. Masukkan 10 ml urin kemudian tambahkan 1 ml HCl encer dan 1 ml BaCl2 setelah itu kocok. Terbentuknya endapan putih menunjukkan BaSO4 yang terbentuk 2. Belerang yang tak-teroksidasi Dasar : Dengan adanya katalisator Zn, belerang yang terdapat dalam urin bereaksi dengan HCl encer menghasilkan gas H2S, yang baunya sangat khas dimana gas ini dapat diidentifikasi dengan menghitamnya kertas saring yang telah direndam dengan Pb asetat membntuk PbS (endapan hitam) 3. Siapkan sebuah tabung reaksi bersih & kering. Masukkan 10 ml urin lalu masukkan sebutir Zn & sedikit HCl encer Tutup tabung tersebut dengan kertas saring yang dibasahi dengan Pb-asetat. Kertas saring akan tampak berwarna hitam Indikan (tes obermeyer) Tujuan : memeriksa adanya indikan (potassium indoksil sulfat) dalam urine

Dasar : -

pereaksi obermeyer (FeCl3 dalam HCl pekat) akan mengoksidasi gugus indoksil membentuk warna biru indigo yang larut dalam kloroform

Masukkan 5 ml urin kedalam tabung reaksi bersih dan kering. Tambahkan sejumlah pereaksi obermeyer (5 ml), biarkan beberapa menit Lalu tambahkan 3 ml kloroform. Campur dengan membolak-balikkannya kira-kira 10 kali. Jangan mengocoknya! Kloroform akan mengekstraksi biru indigo yang terbentuk. Warna biru akan lebih nyata bila cairan diatas ekstrak kloroform dibuang dan ditambah dengan air

3.

FOSFAT Pada umumnya jumlah ekskresi fosfat melalui urin kira-kira 1,1 gram/24 jam. Sebagian besar dalam

bentuk fosfat anorganik dan hanya 1 4 % dalam bentuk fosfat organik. Jumlah fosfat meningkat pada beberapa penyakit, misalnya hiperparatiroidisme, pada beberapa penyakit tulang seperti osteomalasia, ricketsia dan sebagainya. Sedangkan ekskresi fosfat menurun pada hipoparatiroidisme, penyakit ginjal, kehamilan dan lain-lain. Percobaan : Siapkan sebuah tabung reaksi bersih dan kering lalu masukkan 5 ml urin. Tambahkan 1 ml larutan urea 10% dan 10 ml pereaksi molibdat spesial Campur dan tambahkan 1 ml larutan ferosulfat spesial. Warna biru yang terbentuk menunjukkan adanya fosfat. 4. AMONIA Amonia merupakan hasil akhir metabolisme protein yang mengandung N. Ini merupakan kedua yang terpenting setelah urea. Dalam urin, amonia terdapat dalam bentuk garam amonium dan jumlahnya kirakira 0,7 gram/24 jam atau 2,5 4,5 % dari nitrogen total/24 jam. Percobaan : Siapkan sebuah tabung reaksi bersih dan kering. Masukkan larutan natrium hidroksida (NaOH) pada beberapa ml urin (2 ml) sehingga reaksinya alkalis (caranya dengan melihat perubahan warna dari kertas lakmus, jika kertas lakmus berubah menjadi biru hentikan penambahan NaOH) Panaskan, perhatikan bau yang timbul dan uji uap yang terbentuk dengan kertas lakmus yang dibasahi.

LEMBAR KERJA MAHASISWA 1. KLORIDA Hasil :

Kesimpulan : 2. BELERANG Hasil :

Kesimpulan :

3. FOSFAT Hasil :

Kesimpulan :

4. AMONIA Hasil :

Kesimpulan :

C. 1. UREA

SISA-SISA METABOLISME

Urea merupakan komponen terbanyak zat padat dalam urin. urea merupakan sisa metabolisme asam amino. Biosintesis urea dari asam amino terjadi dalam 4 tahap, yaitu : (1) Transaminasi, (2) Deaminasi oksidatif, (3) Pengangkutan amonia, dan (4) Reaksi pada siklus urea.

Kebanyakan urea dibentuk di dalam hati dan pada penyakit hati berat, nitrogen urea darah (BUN) turun dan NH3 darah meninggi. Enzim yang terlibat dalam sintesis urea adalah ornitin karbamoiltransferase. Defisiensi enzim ini akan menyebabkan keracunan NH3 (kongenital), sekalipun orang-orang yang heterozigot untuk defisiensi ini. Ekskresi urea dalam urin jumlahnya sangat dipengaruhi oleh 3 hal yakni intake makanan berprotein tinggi, metabolisme protein dalam tubuh dan kemampuan ginjal dalam filtrasi dan reabsorpsi urea. Pada penderita gagal ginjal dimana terjadi gangguan pada filtrasi urea akan menyebabkan terjadinya peninggian urea dalam darah yang disebut uremia. 2. ASAM URAT Asam urat dibentuk dari pemecahan purin dan dengan sintesis langsung dari 5-fosforibosil pirofosfat (5-PRPP) dan glutamin. Kadar asam urat darah normal pada manusia adalah sekitar 4 mg/dl (0,24 mmol/l). Pada manusia asam urat diekskresi melalui urin, tetapi pada mamalia yang lain asam urat dioksidasi menjadi allantoin sebelum diekskresi. Ekskresi asam urat melalui urin jumlahnya dipengaruhi olehh intake makanan sehingga kurang tepat dalam mengekspresikan laju filtrasi glomerulus. Dalam urin, asam urat dapat membentuk kristal yang mengendap dan menyebabkan batu ginjal. Peningkatan asam urat dalam darah (hiperurisemia) dan urin terjadi pada peningkatan intake makanan kaya purin yang meningkat pada penderita anemia hemolitik, kanker, dan penderita penyakit sendi. Hiperurisemia juga terjadi pada penderita gagal ginjal. 3. KREATININ Kreatinin disintesis didalam hati dari asam amino methionin, glisin dan arginin. Dalam otot rangka, kreatinin difosforilasi menjadi fosforil kreatinin yang merupakan simpanan energi penting untuk sintesis

10

ATP. Kreatinin di dalam urine dibentuk dari fosforilkreatinin. Kreatinin tidak dikonversi secara langsung menjadi kreatin. Kecepatan ekskresi kreatinin relatif konstan setiap hari, jumlahnya tidak dipengaruhi oleh intake makanan dan tidak direabsorpsi oleh ginjal. Hal ini memungkinkan ekskresi kreatinin menunjukkan kemampuan laju filtrasi glomerolus yang dinyatakan sebagai kreatinin klirens. a. 1. 2. b. 1. Tujuan Mengetahui metode pemeriksaan sisa-sisa metabolisme, yaitu urea, asam urat dan kreatinin Menginterpretasi hasil pemeriksaan sisa metabolisme dalam urin Percobaan Penentuan kadar Urea (Metode Berthelot)

Dasar : Urea dihidrolisis oleh adanya air dan urease menjadi amonia dan karbondioksida. Dalam reaksi berthelot ion amonium bereaksi dengan hipoklorit dan salisilat untuk membentuk zat warna yang dihasilkan (turunan indophenol) dapat diperkuat dengan menambahkan sejumlah kecil natrium nitroprussid. Intensitas warna sebanding dengan kadar urea diukur secara fotometrik. Reaksi :
urease

Urea + H2O 2NH4+ + CO324+ 2NH + salisilat + hipoklorit Metode 1 : Reagensia :

turunan indofenol

a. Reagens warna (fosfat buffer pH = 6,8 20 mM;sodium salisilat 61 mM;sodium nitroprussid 3,4 mM;EDTA-Na2 1,34 mM; urease 23 U/ml; stabilizer) b. Standar urea 40 mg/dl dan Larutan hypoklorit c. Sample serum/urin pengenceran 50 kali Alat-alat : Spektrofotometer, kuvet, waterbath, pipet dan tabung reaksi Cara kerja : Siapkan 3 buah tabung reaksi bersih dan kering. Beri label pada setiap tabung dengan : Masukkan tabung Reagen warna kedalam Sampel 1 ml Standa r 1 ml Blanko 1 ml

11

Sampel serum/urine yg sdh 10 l diencerkan 50 kali (1 dlm 49) Standar urea 10 l Campurkan segera, kemudian inkubasikan dalam waterbath selama 3 menit pada suhu 37 C/selama 5 menit pada suhu 20-25 oC Larutan hypoklorit 1 ml 1 ml 1 ml Campurkan segera, kemudian biarkan selama 5 menit pada suhu 37 oC atau selama 10 menit pada suhu 20-25 oC Baca absorbansi sampel pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 578 nm (range panjang gelombang 570 600 nm)
Absorban sampel 40 mg/dl Absorban standar

Perhitungan :

Sampel serum/plasma, kadar urea = Sampel urine, kadar urea =

Absorban sampel 2 g/dl Absorban standar

Fp = 50, jadi kadar urea urine = abs x fp x [standar] = abs x [(50 x 40 mg/dl) / 1000 g/dl] Nilai normal : Metode 2 : Reagensia :
a. b. suspensiurease3,5KU/l standarurea40mg/dl d. c. reagen fenol(150 mmol/liter fenol; 0,47 mmol/liter natrium nitroprussid) larutanhipoklorit(13mmol/literNaOCl;130mmol/literNaOH)

Sampel serum/plasma, kadar urea = 10 50 mg/dl Sampel urine, kadar urea = 20 35 g/24 jam

Cara kerja : Siapkan 3 buah tabung reaksi bersih dan kering. Beri label pada setiap tabung dengan : Masukkan kedalam Sampel Standar Blanko tabung Suspensi urease 100 l 100 l 100 l Reagen fenol salisilat 1 ml 1 ml 1 ml Sampel serum 10 l Standar urea 10 l Campurkan segera, kemudian inkubasikan dalam waterbath selama 15 menit pada suhu 37 oC Larutan hypoklorit 1 ml 1 ml 1 ml

12

Campurkan segera, kemudian biarkan pada suhu ruang selama 15 menit pada suhu 37 oC. Baca absorbansi sampel pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 620 nm

2. Penentuan kadar Asam Urat (Metode enzimatik Urikase PAP) Dasar : Asam urat diubah secara kuantitatif oleh uricase sehingga menghasilkan hidrogen peroksida. Dengan adanya enzim peroksidase, H2O2 akan mengoksidasi 3,5-dikloro-2-hidroksi benzena sulfanic acid (DCHBS) dan 4-aminoantipyrin membentuk zat warna merah derivat quinoneimin. Intensitas warna yang terjadi sebanding dengan konsentrasi asam urat dan diukur secara fotometrik. Reaksi :
Uricase

Asam urat + H2O + O2


POD

Allantoin + CO2 + H2O2


zat warna merah (turunan quinoneimin) + 4 H2O

2H2O2 + 4-aminoantipyrin +3,5-dikloro-2-hidroksi sulphonat

Reagensia : a. Reagens warna (Buffer pH=7 120 mM; 3,5-dikloro-2-hidroksi benzena sulfanic acid (DCHBS) 3,5 mM; 4-aminoantipyrin 0,4 mM; EDTA Na2.H2O 0,9 mM; K3Fe(CN)6 0,1 mM; Uricase 120 U/L; Peroksidase 350 U/L; Ascorbat-oksidase 7000 U/L; Stabilizers tidak reaktif) b. Standar asam urat 8 mg/dl Alat-alat : Spektrofotometer, kuvet, pipet, waterbath dan tabung reaksi Cara Kerja : Siapkan 3 buah tabung reaksi bersih dan kering. Beri label pada masing-masing tabung reaksi dengan : Masukkan kedalam tabung Reagens warna Standar asam urat Sampel serum/urine yang sudah diencerkan 1:10 (larutkan 1 ml urine dalam 10 ml aquadest)
ruangan

Sampel 1 ml 20 l

Standa r 1 ml 20 l -

Blanko 1 ml -

Campurkan segera, biarkan pada suhu ruang selama 5 menit pada suhu 37 oC atau 10 menit pada suhu

Baca absorbans pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 510 nm Atau Sampel Standa Blanko

Masukkan kedalam tabung

13

Reagens warna 2 ml Standar asam urat Sampel serum/urine yang sudah diencerkan 1:10 (larutkan 1 ml 40 l urine dalam 10 ml aquadest) Campurkan segera, biarkan pada suhu ruang selama 15
o

r 2 ml 40 l -

2 ml -

menit pada suhu 37

C. Baca absorbans pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 510 nm


Absorban sampel 8 mg/dl Absorban standar

Perhitungan : Kadar asam urat serum = Kadar asam urat urin =

Absorban sampel 88 mg/dl fp Absorban standar

Dalam hal ini, fp = faktor pengenceran = 11 Jadi, 88 = fp x 8 Nilai Normal :Asam urat serum = laki-laki = 3,4 7 mg/dl Perempuan = 2,4 5,7 mg/dl Asam urat urin = 250 750 mg/24 jam 3. Penentuan kadar Kreatinin (Metode Jaffe tanpa deproteinisasi) Kreatinin (anhidrida kreatin) banyak terdapat dalam jaringan otot. Kreatin fosfat merupakan cadangan ikatan fosfat berenergi tinggi dalam otot. Kreatinin terutama dibentuk didalam otot dan diekskresi melalui ginjal. Ekskresi kreatinin pada seseorang dalam 24 jam dari hari ke hari tetap dan berhubungan dengan berat badan orang itu. DASAR : Kreatinin dengan asam pikrat dalam suasana alkali bereaksi membentuk suatu senyawa kompleks berwarna kuning orange. Intensitas warna yang dihasilkan sebanding dengan kadar kreatinin diukur secara fotometrik. REAGENS :
1. mol/l Asam pikrat 0,035 2. Natrium hidroksida 0,32 mol/l 3. mg/dl Standar kreatinin 2

ALAT-ALAT : Spektrofotometer, pipet, tabung reaksi, stopwatch CARA KERJA : Sebelumnya buatlah larutan pikrat alkali sesuai dengan kebutuhan, dengan mencampur reagens 1 dan 2 dengan perbandingan 1 : 1 (tahan selama 6 jam pada temperatur kamar dalam botol berwarna gelap).

14

Siapkan 2 buah tabung reaksi bersih dan kering. Beri tanda pada tabung reaksi : Tambahkan kedalam tabung Sampel Standar Larutan pikrat alkali 2 ml 2 ml Sampel serum/urine yang diencerkan 1:49 200 l Standar 200 l Campurkan baik-baik dan biarkan selama 30 detik pada temperatur kamar. Kemudian ukur absorbansinya. Diamkan selama 2 menit. Ukurlah kembali absorbansi sampel dan standar terhadap blanko (aquadest) pada panjang gelombang 492 nm
Asp 2 Asp 1 2 mg/dl Ast 2 Ast 1

PERHITUNGAN : Kadar kreatinin =

Kadar kreatinin urine = Kreatinin klirens =

Asp2 - Asp1 100 mg/dl Ast 2 - Ast1

kreatinin urin 1440 kreatinin serum 24

Keterangan : Asp1 = absorbansi sampel pada waktu 30 detik Asp2 = absorbansi sampel pada waktu 2 menit Ast1 = Absorbansi standar pada waktu 30 detik Ast2 = absorbansi standar pada waktu 2 menit Dimana, fp = faktor pengenceran = 50. Jadi, 100 = fp x 2 NILAI NORMAL : Serum = Laki-laki Perempuan Urin = Laki-laki Perempuan < 50 tahun) (> 50 tahun) < 1,3 mg/dl < 1,4 mg/dl < 1,1 mg/dl : 20 26 mg/kg BB/24 jam : 14 22 mg/kg BB/24 jam

LEMBAR KERJA MAHASISWA 1. Penentuan kadar urea Hasil :

15

Kesimpulan :

2. Penentuan kadar Asam urat Hasil :

Kesimpulan :

3. Hasil :

Penentuan Kreatinin

Kesimpulan :

D. ZAT-ZAT PATOLOGIK DALAM URIN 1. GLUKOSA Pada keadaan normal, tidak lebih dari 1 gram glukosa diekskresi dalam 24 jam. bila kadar glukosa dalam urin tinggi disebut glukosuria. Pada keadaan fisiologik, glukosuria dapat terjadi setelah makan banyak karbohidrat ( alimentary glukosuria). Sedangkan, pada keadaan patologik glukosuria dapat disebabkan oleh :

16

Ambang ginjal untuk glukosa menurun. Pada keadaan ini, gula darah dalam batas-batas normal. Hal ini terjadi pada beberapa kelainan ginjal dan disebut renal diabetes. Gangguan metabolisme karbohidrat. Ini menyebabkan kadar glukosa darah meningkat sehingga ambang ginjal dilampaui dan glukosa dikeluarkan kedalam urin. misalnya, terdapat pada penyakit diabetes mellitus, hipopituitarisme dan hiperadrenalisme.

Tujuan : memeriksa kadar gula dalam urine secara semikuantitatif Dasar : dalam suasana alkalis ion kupri akan direduksi menjadi kuprooksida oleh gula yang memiliki gugus aldehide atau keton bebas. Kuprooksida yang terbentuk bersifat tidak larut dan berwarna merah. Banyaknya endapan merah yang terbentuk sebanding dengan kadar gula yang terdapat dalam urine. Percobaan : Siapkan sebuah tabung reaksi bersih & kering. Masukkan 2,5 ml pereaksi benedict & campurlah dengan 4 tetes urin Panaskan selama 5 menit pada penangas air mendidih atau didihkan diatas api kecil selama 1 menit. Biarkanlah menjadi dingin perlahan-lahan Penafsiran : Warna Biru/hijau keruh Hijau/kuning hijau Kuning/kuning kehijauan Jingga Merah bata 2. ZAT-ZAT KETON Yang termasuk zat-zat keton ialah asam asetoasetat, -hidroksibutirat dan aseton. Zat-zat ini merupakan zat antara pada pemecahan asam lemak didalam hati dan selanjutnya mengalami pemecahan pada jaringan ekstrahepatik. Pada beberapa keadaan patologik, terjadi penimbunan zat-zat keton dalam darah (ketonemia) dan dikeluarkan melalui urin dalam jumlah besar (ketonuria). Keadaan ini disebut ketosis. Penilaian 0 + ++ +++ ++++ Kadar < 0,5 g% 0,5 1 g% 1 2 g% > 2 g%

17

Percobaan : Siapkan sebuah tabung reaksi bersih dan kering. Masukkan 5 ml urin kedalamnya Bubuhkan kristal amonium sulfat sampai jenuh (penambahan diteruskan sedikit demi sedikit, jika dikocok kristal amonium sulfat tidak larut lagi maka hentikan penambahan) Tambahkan 23 tetes Na-nitroprussid 5% dan 1 2 ml amonium hidroksida pekat. Campur dan biarkan selama setengah jam. Terbentuknya warna ungu menyatakan adanya zat-zat keton. 3. PROTEIN Dalam keadaan normal, tidak lebih dari 30 200 mg protein diekskresi dalam 24 jam. yang dimaksud dengan proteinuria ialah terdapatnya protein dalam jumlah yang abnormal dalam urin. urin normal tidak memberi hasil positif dengan tes-tes terhadap protein yang biasa dikerjakan. Percobaan : Siapkan sebuah tabung reaksi bersih dan kering. Masukkan 2 ml urin kedalamnya dan tambahkan 4 tetes larutan asam sulfosalisilat 10%. Kekeruhan atau presipitat menyatakan adanya albumin atau globulin, presipitat akan bertambah pada pemanasan. 4. DARAH Bila dalam urin terdapat darah, keadaan ini disebut hematuria atau hemoglobinuria. Hematuria terjadi karena darah masuk kedalam urin, misalnya pada radang atau kerusakan ginjal dan saluran kemih. Sedangkan hemoglobinuria terjadi karena hemolisis sehingga hemoblin dibebaskan. Ini dapat terjadi pada penyakit malaria, reaksi transfusi atau kongenital. Darah dapat kita periksa secara mikroskopis atau kimia. Secara kimia yaitu dengan tes yang kita kenal sebagai benzidin test/orthotoluidine test atau dapat pula dengan menggunakan tes guaiak. Cara kerja : a. Tes guaiak : Siapkan tabung reaksi kosong dan bersih. Pipetkan 2 ml urin kedalamnya dan 3 ml reagen guaiak 1% dalam alkohol. Tambahkan 1 ml H2O2 3%. Warna merah yang terbentuk menunjukkan hasil tes positif Siapkan tabung reaksi kosong dan bersih. Pipetkan 2 ml urin yang telah dimasak (diatas penangas air mendidih) kedalam tabung reaksi, dinginkan. Kemudian tambahkan 1 ml reagen guaiak 1%

18

dalam alkohol dan 1 ml H2O2 3%. Warna merah yang terbentuk menunjukkan hasil tes positif dan catat perbedaannya b. Tes orthotoluidin/benzidin: Siapkan tabung reaksi kosong dan bersih. Pipetkan 1 ml urin kedalam tabung reaksi. Kemudian tambahkan 1 ml reagen orthotoluidin 1% dalam asam asetat glasial dan 1 ml H2O2 3%. Warna biru kehijauan yang terbentuk menunjukkan hasil tes positif 5. BILIRUBIN Bilirubin normalnya tidak terdapat dalam urin. pada keadaan-keadaan patologik seperti hepatitis dan batu empedu maka bilirubin akan meninggi kadarnya didalam darah dan kemudian akan diekskresikan melalui urin. Percobaan : Siapkan tabung reaksi bersih dan kering. Masukkan 5 ml urin dan 3 ml BaCl2 10%. Campur kemudian saring Bentangkan kertas saring tersebut diatas corong biarkan hingga kering. Teteskan 2 3 tetes reagen fouchet diatas kertas saring berisi endapan tersebut. Terbentuknya warna hijau menandakan bilirubin positif LEMBAR KERJA MAHASISWA 1. Hasil : Zat-zat keton

Kesimpulan :

2.

Protein

19

Hasil :

Kesimpulan : 3. Hasil : Darah

Kesimpulan :

4. Hasil :

Bilirubin

Kesimpulan :

5. Hasil :

Glukosa

20

Kesimpulan :

RESPIRASI
PRAKTIKUM 1. HEMOGLOBIN Pendahuluan Hemoglobin merupakan protein yang terdapat didalam sel darah merah (SDM)/ Red Blood Cell (RBC) dan berfungsi antara lain untuk : 1. 2. 3. 4. Mengikat dan membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh Mengikat dan membawa karbondioksida dari seluruh jaringan tubuh ke paru-paru Memberi warna merah pada darah Mempertahankan keseimbangan asam basa dari tubuh Hemoglobin merupakan protein tetramer kompak yang setiap manomernya terikat pada gugus prostetik heme dan keseluruhannya mempunyai berat molekul 64,450 Dalton. Darah mengandung 7,8 sampai 11,2 mMol hemoglobin monomer/L (12,6 sampai 18,4 g/dl) tergantung pada umur dan jenis kelamin individu. Hemoglobin dapat mengikat 4 atom oksigen per tetramer (satu pada tiap subunit heme). Atom oksigen terikat pada atom Fe+2, yang terdapat pada heme, pada ikatan koordinasi lima. Hemoglobin yang terikat pada oksigen disebut hemoglobin teroksigenasi atau oksihemoglobin (HbO2), sedangkan hemoglobin yang telah melepaskan oksigen disebut deoksihemoglobin (Hb). Hemoglobin juga dapat mengikat gas hasil pembakaran yang tidak sempurna yaitu karbonmonoksida (CO) dan disebut karbonmonoksida hemoglobin (HbCO). Ikatan Hb dengan CO 200 kali lebih kuat daripada ikatan Hb dengan oksigen dan akibatnya Hb tidak dapat lagi mengikat, membawa dan mendistribusikan oksigen ke jaringan. Dalam keadaan lain, muatan atom Fe yang terdapat pada pusat heme dapat berubah menjadi Fe+3. Hal ini dapat terjadi karena oksidasi oleh senyawa-senyawa pengoksidasi. Hemoglobinnya disebut hemoglobin teroksidasi atau methemoglobin (metHb) atau Hb(Fe+3). Dalam bentuk ini Hb tidak dapat mengikat

21

oksigen atau kehilangan fungsinya yang amat penting. Beberapa derivat dari Hb, misalnya oksiHb, Hb dan HbCO dapat dibedakan dengan melakukan pengenceran, dan pada pengenceran ini oksiHb terlihat berwarna merah kekuning-kuningan, Hb berwarna merah kecoklatan dan HbCO berwarna merah terang (carmine tint). Untuk lebih jelas lagi setiap derivat Hb dapat pula dibedakan dengan menggunakan spektroskop, yaitu suatu teknik berdasarkan perbedaan absorpsi warna-warna tertentu dari spectrum cahaya putih. Bila suatu larutan berisi suatu zat warna diletakkan antara lain tersebut dan sumber cahaya, maka akan terlihat daerah (pita) berwarna hitam pada bagian spectrum tempat terjadinya penyerapan warna tersebut. Dengan menentukan letak serta intensitas pita-pita absorpsi itu, maka dapat ditemukan pigmen apa yang sedang diperiksa itu. Pada spektroskop yang tidak dilengkapi dengan skala panjang gelombang cahaya, letak pita absorpsi itu ditentukan dengan membandingkan dengan garis-garis fraunhofer itu akan terletak pada perkiraan : B = 687 mu, C = 656 mu, D = 589 mu, b = 517 mu, F = 486 mu, dan G = 431 mu. Diagram spectrum matahari dengan garis-garis Fraunhofer dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
B Merah 700 C jingga 600 D kuning hijau 500 E b F G biru ungu 400

Tujuan praktikum : a. b. c. d. Percobaan : I. 1. HEMOGLOBIN UJI OKSIHEMOGLOBIN DAN DEOKSIHEMOGLOBIN (HbO2) dan terurai kembali menjadi O2 dan deoksihemoglobin Memperlihatkan bahwa Hb dapat mengikat dan melepaskan oksigen Memperlihatkan bahwa ikatan Hb dengan karbonmonoksida jauh lebih kuat dibandingkan ikatan Hb dengan O2 Memperlihatkan bahwa besi dalam molekulHb bila dioksidasi akan menjadi MetHb & tidak dapat mengikat oksigen lagi Penetapan kadar Hb kuantitatif (cara sianmethemoglobin)

A. TUJUAN : Membuktikan hemoglobin dapat mengikat oksigen membentuk oksihemoglobin

22

B.

DASAR Dalam keadaan tereduksi Fe dalam molekul Hb dapat mengikat dan melepaskan oksigen tergantung pada tekanan O2 dan CO2 Hb(Fe+2) + O2
DeoksiHb

Hb(Fe+2)O2
OksiHb

Untuk mereduksi oksi Hb menjadi deoksi Hb digunakan larutan stokes C. D. 1. BAHAN DAN PEREAKSI 1. Darah segar CARA KERJA Oksihemoglobin a. Ke dalam sebuah tabung reaksi encerkan 2 ml darah dengan 6 ml air suling. Campur dengan baik dan perhatikan warna kekuning-kuningan dari oksihemoglobin yang terbentuk. b. Bagi 2 isi tabung sehingga masing-masing berisi 4 ml. Gunakan tabung 1 sebagai kontrol 2. Pembentukan Deoksihemoglobin a. Isi tabung ketiga dengan 2 ml pereaksi stokes dan tambahkan NH4OH secukupnya untuk melarutkan endapan yang segera terbentuk. Campuran ini merupakan pereduksi yang amat kuat. b. Masukkan beberapa tetes larutan stokes kedalam tabung 2. Terlihat perubahan warna karena terbentuknya deoksihemoglobin. Bandingkan dengan tabung 1 c. Pindahkan 2 ml larutan deoksihemoglobin ke tabung lain sebagai kontrol 3. Pembentukan kembali Oksihemoglobin dari Deoksihemoglobin a. Kocok kuat-kuat tabung yang berisi deoksihemoglobin, maka akan kembali terjadi oksigenasi dari udara. Perhatikan dan catat warna HbO2 yang kembali terbentuk b. Oksigenasi dan deoksigenasi ini dapat dilakukan berulang-ulang E. Hasil Warna terbentuk yang HASIL Tabung 1 OksiHb Tabung 2 DeoksiHb Tabung 3 Reoksigenasi DeoksiHb 2. Pereaksi stokes 3. Larutan NH4OH

23

F.

KESIMPULAN

......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... .................................................... G. PERTANYAAN Peristiwa faal apakah yang ditiru dari percobaan ini ? Jawaban :

2. A.

UJI KARBONMONOKSIDA HEMOGLOBIN (HbCO) TUJUAN : Membuktikan bahwa Hb dapat mengikat CO yang ikatannya lebih kuat daripada Hb dengan O2

B. DASAR : Gas CO yang berasal dari proses-proses pembakaran yang tidak sempurna dapat mengikat Hb membentuk HbCO. Ikatan ini sangat kuat (kurang lebih 200 kali lebih kuat dibanding ikatan Hb dengan O2). HbCO berwarna merah terang HbO2 + CO HbCO + stokes C.
1.

HbCO + O2 tidak bereaksi


(tetap berwarna merah terang)

BAHAN DAN PEREAKSI


Darah segar 2. Sumber gas CO 3. Pereaksi stokes 4. NH4OH

D. 1. 2.

CARA KERJA Encerkan 2 ml darah dengan 8 ml air suling. Bagi 2 darah encer tersebut (masing-masing 5 ml) dalam 2 tabung reaksi Pada tabung 1 alirkan gas CO (dalam lemari asam). Oksihemoglobin akan berubah menjadi karbonmonoksida hemoglobin. Bandingkan kedua warna tabung tadi

24

3. 4. 5. E.

Pindahkan masing-masing 1 ml dari tabung 1 (berisi HbCO) kedalam tabung 3 dan tabung 4 dan masing-masing 1 ml dari tabung 2 (berisi HbO2) kedalam tabung 5 dan 6 Tambahkan pereaksi stokes pada tabung 3 dan 5. Perhatikan hasil yang diperoleh Encerkan isi tabung ke-4 dan ke-6 dengan 4 ml air suling. Bandingkan warna kedua cairan itu. OksiHb berwarna kekuning-kuningan, sedang HbCO berwarna kemerahan (carmine tint) HASIL KarbonmonoksidaHb

Tabung OksiHb Warna sebelum penambahan pereaksi stokes Warna setelah penambahan pereaksi stokes F. KESIMPULAN

PERTANYAAN Gejala-gejala apakah yang terlihat pada seseorang yang keracunan CO Jawaban :

3. A. B.
Hb

UJI METHEMOGLOBIN TUJUAN : Memperlihatkan bila besi dalam molekul Hb dioksidasi menjadi Fe+3 maka terbentuk metHb yang tidak lagi dapat mengikat O2 DASAR Hb(Fe+2) + K3Fe(CN)6
oksidator

Hb(Fe+3) + K4Fe(CN)6
metHb

metHb tidak dapat lagi mengikat O2

25

C. D. 1. 2.

BAHAN DAN PEREAKSI


1. Darah segar 2. Pereaksi K3Fe(CN)6 3. Pereaksi stokes

CARA KERJA Encerkan 1 ml darah dengan 4 ml air suling kedalam tabung reaksi Ke dalam tabung itu ditambahkan beberapa tetes K 3(Fe(CN)6 33%. Perhatikan & catat perubahan warna yang terjadi. Kemudian tambahkan pereaksi stokes kedalam tabung tersebut & kocok kuat-kuat. Perubahan apakah yang terlihat?

3.

Encerkan 3 ml darah dengan 3 ml air suling dan panaskan sebentar. Lalu tambahkan 6 ml K3Fe(CN)6. Campur dengan membalik-balikkannya. Perhatikan gelembung-gelembung oksigen yang terbentuk

E.

HASIL Warna tabung 1 + K3(Fe(CN)6 Gelembung udara Warna tabung 2

Tabung + K3(Fe(CN)6 Pengocokan kuat + stokes Pengocokan kuat F.

KESIMPULAN

......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... G. PERTANYAAN Percobaan ini terdiri atas 2 bagian, apakah perbedaan dari ke-2 percobaan itu ? Jawaban :

26

4. A.

PENETAPAN

KADAR

Hb

DALAM

DARAH

(METODE

SIANMETHEMOGLOBIN) DASAR : Derivat-derivat hemoglobin dalam darah diubah oleh kalium hexacianoferat (III) dan kalium cianida menjadi cianmethemoglobin (HbCN). Intensitas warna sebanding dengan kadar hemoglobin, diukur secara fotometrik. Hb + Fe(CN)63MetHb + KCN B. ml) C. D. ALAT-ALAT : Spektrofotometer, pipet, tabung reaksi CARA KERJA Drabkins reagent 5 ml Darah 20l Bilas pipet dengan campuran pereaksi, campurkan benar-benar. Sesudah 3 menit pindahkan isi tabung reaksi ke dalam kuvet dan baca absorbans pada panjang gelombang 546 nm E. F.
25 gr/dl -

MetHb MetHbCN

REAGENS : Drabkins reagent (NaHCO3 1000 mg; K3Fe(CN)6 200 mg; KCN 50 mg/1000

PERHITUNGAN Kadar Hb = absorbans x 36,8 gr/dl NILAI NORMAL


Laki-laki :14 18 gr/dl 11 14 gr/dl Anak tahun):12 16 gr/dl (6 tahun 12 Anak tahun):10 15 gr/dl Anak (2 tahun 6 tahun) : (1 bulan 2 Perempuan :12 16 gr/dl Bayi (0 4 minggu):16

G.

KESIMPULAN

27

H.

PERTANYAAN 1. Apakah yang dimaksud dengan anemia ? 2. Sebutkan pembagian anemia berdasarkan etiologi dan morfogiknya ? Jawaban :

PRAKTIKUM II KESEIMBANGAN ASAM BASA A. PENDAHULUAN Keseimbangan asam-basa adalah homeostasis dari kadar ion hidrogen pada cairan tubuh. Asam terus menerus diproduksi dalam metabolisme normal. Meskipun banyak terbentuk asam sebagai hasil metabolisme namun kadar ion hidrogen cairan tubuh tetap rendah. Walaupun kadarnya rendah, kadar ion hidrogen yang stabil perlu dipertahankan agar fungsi sel dapat berjalan normal karena sedikit fluktuasi (naik-turun) mempunyai efek yang penting terhadap aktifitas enzim selular, karena efek terhadap enzim selular inilah maka perubahan ion hidrogen (H+) yang relatif kecil berpengaruh besar terhadap hidup

28

seseorang. Untuk itu diperlukan suatu substansi yang mengurangi perubahan pH akibat penambahan asam maupun basa yang disebut sebagai penyangga (buffer) Pengendalian pH cairan tubuh berpusat terutama pada fungsi paru-paru dan ginjal, tempat pengeluaran kelebihan (H+). Paru-paru berfungsi mengurangi pCO2 dalam darah. Sedangkan ginjal bertugas mempertahankan HCO3- dari darah sebanyak yang diperlukan dan meningkatkan jumlahnya dengan jalan mengubah CO2 menjadi HCO3- dan H+ B. 1. 2. C. TUJUAN Mengetahui metode pemeriksaan pH darah dan urine Mengetahui pengaruh minuman berkarbonat (soft drink) terhadap pH urine CARA KERJA

Ambil darah vena sebanyak 3 cc dan urine. Ukur pH-nya sesegera mungkin dan kemudian beri minum softdrink (fanta, sprite). Setelah 15 menit, 30 menit, 45 menit dan 60 menit. Ukur kembali pH darah dan pH urine D. HASIL PENGAMATAN pH 30 menit pH 45 menit pH 60 menit Sampe pH sebelum pH 15 menit l uji coba Darah Urine E. KESIMPULAN

F. 1.

PERTANYAAN Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan dan penurunan pH darah dan urine ?

Jawab:

29

. 2. Jawab: Jelaskan perbedaan mekanisme terjadinya asidosis metabolic dan alkalosis metabolic?

DAFTAR PUSTAKA 1. Murray RK, et.a. Biokimia Harper ed. 25 Jakarta : EGC. 2003 2. Stryer L. Biokimia, ed. 3, vol. 1. Jakarta : EGC. 1999 3. Stryer L. Biokimia, ed. 3, vol. 2. Jakarta : EGC. 1999 4. -------, Pedoman Kerja Boerhringer Mannheim, 1982

30

5. -------, Pedoman Kerja Dyasys, 2002/2003 6. -------, Penuntun Kerja Roche, 1985 7. -------, Penuntun Praktikum Biokimia Kedokteran Gigi Bagian Biokimia FK UH. Makassar, 2004 8. -------, Penuntun Praktikum Biokimia I. Bagian Biokimia FKUH. Makassar, 2002 9. -------, Biokimia Eksperimen Laboratorium. Bagian Biokimia FKUH. Jakarta : Widya Medika 2001 10.-------, Penuntun Praktikum Biokimia II. Bagian Biokimia FKUH. Makassar 2002

31