Anda di halaman 1dari 7

TERJEMAHAN JURNAL ENDODONTIK

PERMANENT MIMIC MUSCULATURE AND NERVE DAMAGE CAUSED BY SODIUM HYPOCHLORITE : A CASE REPORT KERUSAKAN PERMANEN OTOT MIMIK DAN SARAF YANG DISEBABKAN OLEH NATRIUM HIPOKLORIT : LAPORAN KASUS Matthias Pelka, DMD,a and Anselm Petschelt, DMD,b Erlangen, Germany (Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod 2008;106:e80-e83)

Pembimbing : Taofik Hidayat.,drg.,SpKG Asih .,drg

Seminaris : Naomy Marsinta Uli 160112100594

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BANDUNG 2013


1

Kerusakan Permanen Otot Mimik Dan Saraf Yang Disebabkan Oleh Natrium Hipoklorit : Laporan Kasus
(Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod 2008;106:e80-e83)

Natrium hipoklorit sering digunakan sebagai larutan irigasi selama perawatan endodontik rutin. Sebelum resementasi dari mahkota post-retained pada gigi seri bagian atas lateral kiri, saluran akar diirigasi dengan natrium hipoklorit. Tidak ada pengisian saluran akar, dan puncak terbuka setelah apikoektomi sebelumnya. Nyeri tiba-tiba serta pembengkakan pada sisi kiri wajah terjadi selama pembilasan saluran akar. Tiga tahun kemudian, parastesia otot masih tetap ada di wilayah yang terkena dampak, dan kelumpuhan sebagian otot mimik di daerah ini diamati. Tidak ada tanda-tanda perbaikan.

Natrium hipoklorit (NaOCl) dalam konsentrasi yang berbeda adalah larutan irigasi yang paling banyak digunakan oleh endodontis. Zat ini melarutkan protein. Dikombinasikan dengan asam sitrat, gas klor akan dibebaskan. Natrium hipoklorit efektif terhadap mikroorganisme endodontik dalam biofilm. Namun, karena pelepasan gas klor, yang beracun ke jaringan penting, menyebabkan hemolisis, ulserasi, penghambatan neutrofil, kerusakan migrasi ke endotel dan fibroblast sel, kelemahan saraf wajah, dan nekrosis setelah ekstrusi selama perawatan saluran akar. Kami menyajikan sebuah kasus di mana NaOCl tak sengaja disuntikkan ke dalam apeks akar, melewati otot mimik dan anestesi permanen akibat kerusakan percabangan otot mimik motorik, yang tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan sampai 3 tahun kemudian.

LAPORAN KASUS

Seorang wanita 54 tahun dengan alergi penisilin dan hipotiroidisme mengunjungi poliklinik gigi pada tahun 2004 untuk konsultasi tentang kemungkinan implan di bagian atas dan bawah kiri rahang. Dari pemeriksaan

klinis, bagian atas kiri lateralis insisivus kehilangan mahkota post-retained. Gambaran radiografi menunjukkan bahwa daerah apikal dari post itu kosong dan foramen apikal terbuka, serta daerah apikal menunjukkan translusensi apikal yg berbeda (Gambar 1). Sebelum resementasi dari mahkota, dokter gigi membilas saluran akar dengan NaOCl 3% dan 0,2% klorheksidin digluconate (CHX). Selama membilas dengan NaOCl terjadi nyeri tiba-tiba dan pembengkakan sisi kiri suborbital. Dokter gigi memberikan anestesi lokal dan menyelesaikan irigasi dengan larutan CHX. Pasien diberikan kompres dingin, antibiotik, dan analgesik. Nyeri dan pembengkakan memburuk secara signifikan selama jam berikutnya dan pasien mengunjungi dokter gigi umum untuk perawatan medis lebih lanjut. Pada pemeriksaan ada sebuah area kaku pada pembengkakan wajah yang memanjang dari bawah perbatasan mandibula sampai ke mata kiri (Gambar 2). Infraorbital dan di wilayah atas kiri bibir sampai ke sudut bibir kiri, ada perubahan sensasi. Ini adalah daerah dari saraf infraorbital kiri. Di lain cabang bukal dari nervus fasialis terpengaruh. Hal ini mengakibatkan kerugian yang berbeda dari bibir atas dan fungsi pipi (sudut mulut tidak dapat ditarik oleh otot mimik). Pembukaan mulut yang terbatas sampai 20 mm. Intraoral tidak ada nekrosis di daerah apikal gigi. Rasa sakit dan bengkak tetap selama 1 minggu, dan pasien merasa sakit selama periode ini. Penelaahan 1 bulan kemudian oleh dokter gigi umum, pembengkakan hampir sembuh, pembukaan mulut meningkat, dan pasien bebas dari rasa sakit. Atas permintaan sendiri pasien pergi ke ahli saraf karena hiposensitifitas yang bertahan dan pembatasan motorik. Ahli saraf menemukan parastesia dari cabang saraf wajah kiri 3 dan 4 dengan nonsimmetris lengkung langit-langit lunak, mulut asimetris, dan hipotrophik kiri otot mimik wajah. Lengkung saraf trigeminal juga berubah di infraorbital sisi kiri wajah. Parastesia saraf infraorbital tidak berubah, dan tidak ada perbaikan cabang bukal saraf wajah yang melemah. Pasien mengajukan tuntutan hukum terhadap poliklinik gigi. Tiga tahun kemudian klinik kami terlibat dalam pengolahan pengaduan, dan kami diminta oleh pengadilan, untuk memeriksa pasien dan memberikan kesaksian tertulis ke pengadilan. Masalah utama dalam kasus ini adalah bahwa pasien mendatangi

poliklinik gigi untuk konsultasi saja dan tidak ada informed consent tentang perawatan saluran akar dengan kemungkinan efek samping negatif. Selama pemeriksaan di tahun 2007, 3 tahun setelah kecelakaan NaOCl, kami menemukan rehabilitasi prostetik implan baru menggantikan gigi depan atas, dan lateral insisif kiri yang diekstraksi digantikan oleh pontik melekat pada

implan di kedua gigi depan tengah. Pembukaan mulut yang tanpa hambatan sampai dengan 40 mm. Kami menemukan di daerah infraorbital atas kiri pengurangan sensitifitas di daerah ditandai pada Gambar. 3. Kami meminta pasien untuk senyum dan menemukan bahwa sudut kiri mulutnya tidak ditarik oleh otot mimik (Gbr. 3). Pasien melaporkan bahwa masalah ini hanya menunjukkan sedikit perbaikan setelah kecelakaan sampai dengan satu tahun. Selama dua tahun terakhir tidak ada perbaikan lebih lanjut diamati. Masalah dengan otot-otot mimik di daerah tersebut, bibir atassebelah kiri dan sudut bibir kiri menyebabkan beberapa masalah saat minum, dan pasien menyatakan tidak terkendalinya aliran air liur. Hal ini menandakan efek negatif jangka panjang dari kecelakaan NaOCl tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan, meskipun pasien mencoba untuk melatih otot-otot mimik setiap hari.

PEMBAHASAN

Natrium hipoklorit merupakan larutan irigasi endodontik yang efektif digunakan dalam konsentrasi yang berbeda, mulai dari 0,5% menjadi 6% .11,12 Natrium hipoklorit mampu mengganggu biofilm endodontik dan karena itu dipilih sebagai disinfektan dalam sistem saluran akar. Natrium hipoklorit sangat sitotoksik terhadap jaringan . Heling dkk melaporkan bahwa NaOCl dalam konsentrasi di atas 0,01% mematikan fibroblas secara in vitro. Ketika berkontak dengan jaringan, menyebabkan hemolisis dan ulserasi, menghambat neutrofil migrasi, dan kerusakan endotel dan sel-sel fibroblast . Efek racun dari NaOCl terjadi karena alkalinitas (pH 10,8-12,9) dan hipertonisitas, yang menyebabkan cedera terutama oleh oksidasi protein dan membrane lipid.

Masalah rasa sakit mendadak selama saluran akar dibilas, pembengkakan yang luas dari sisi kiri wajah, dan efek merugikan pada saraf dan otot yang dijelaskan di atas adalah khas untuk natrium hipoklorit, dan telah berulang kali dipublikasikan dalam literatur selama 30 tahun terakhir. Kelanjutan langsung dari kecelakaan ini termasuk sakit luar biasa parah tiba-tiba selama 2-5 menit, mungkin berhubungan dengan kerusakan jaringan dan distensi, serta

pembengkakan langsung dari jaringan sekitar. Beberapa hari edema meningkat dan ekimosis terjadi, disertai dengan nekrosis jaringan dan parastesia, selain infeksi sekunder dan kemungkinan obstruksi jalan napas dari edema di beberapa kasus. Kasus endodontik pertama diterbitkan pada tahun 1974, melaporkan kecelakaan natrium hipoklorit yang secara tidak sengaja disuntikkan melampaui apeks akar. Ada beberapa kasus menunjukkan kelemahan dari cabang nervus fasialis karena ekstravasasi dari NaOCl ke jaringan lunak. Kasus-kasus melaporkan kelemahan wajah dalam waktu kurang lebih 6 bulan setelah insiden. Hanya 1 kasus yang melaporkan paraesthesia jangka panjang selama 6 bulan setelah secara tidak sengaja disuntikkan NaOCl. Kasus ini adalah yang pertama menunjukkan kelemahan saraf permanen wajah setelah injeksi sengaja NaOCl. Manifestasi klinis dalam kasus ini adalah konsisten dengan kerusakan jaringan lunak yang parah karena kimia yang tiba-tiba membakar, ekstrusi NaOCl ke dalam jaringan ikat. Anatomi apikal ini gigi tidak normal (Gambar 1), jadi mungkin kombinasi dari kerusakan tulang periapikal karena sebelumnya akar dibedah reseksi, saluran akar tidak terisi, dan tekanan tinggi selama irigasi menyebabkan mudah masuknya NaOCl ke dalam jaringan lunak dari sisi kiri wajah. Diikuti irigasi dengan CHX tidak dapat menghilangkan atau menetralisir NaOCl tersebut. Beberapa penulis telah menunjukkan bahwa kombinasi dari "apex terbuka" dengan radiografis apikal terlihat tembus, sangat berkorelasi dengan risiko injeksi tidak sengaja larutan irigasi di luar apeks akar. Manajemen komplikasi yang berkaitan dengan insiden NaOCl telah dijelaskan sebelumnya. Sebagai irrigant alternatif untuk membilas saluran akar selama perawatan endodontik adalah larutan CHX -2% 0,1%. Efek antimikroba

dari CHX yang terkenal, dan efek samping dari CHX selama perawatan endodontik belum dilaporkan.

SIMPULAN

Kasus ini menunjukkan bahwa NaOCl tidak sengaja disuntikkan melampaui apeks mampu menghasilkan kelemahan permanen otot wajah dan saraf trigeminal. Karena fakta ini dan sejumlah kasus yang dilaporkan, sangat penting untuk menyertakan efek samping dari NaOCl ke dalam informasi tertulis yang normal diberikan kepada pasien sebelum perawatan endodontik. Tanpa persetujuan tertulis tersebut, NaOCl tidak boleh digunakan sebagai larutan irigasi selama terapi endodontik. Dalam kasus endodontik ini, foramen apikal terbuka lebar dalam kombinasi radiografis apikal tembus, CHX mungkin menjadi alternatif yang lebih baik dari NaOCl untuk irigasi. Jika NaOCl digunakan meskipun setelah rekomendasi ini, seharusnya dilakukan dengan rentang panjang yang cermat.

Gambar. 1. Rincian dari sebuah foto panoramik menunjukkan gigi 22 sebelum kecelakaan NaOCl. Ruang antara pin dan apeks akar kosong. Translusensi apikal menunjukkan khas situasi setelah bedah reseksi akar.

Gambar. 2. Sehari setelah kecelakaan itu. Sisi kiri menunjukkan wajah membengkak dari infraorbital ke mandibula. Hanya sedikit hematoma bisa dilihat.

Gambar. 3. Tiga tahun setelah kecelakaan NaOCl. Kelemahan dari otot-otot mimik dari sisi kiri wajah jelas terlihat. Mencoba tertawa mengarah ke sudut kiri bibir menggantung karena kelemahan dari persarafan motorik oleh saraf wajah. Di wilayah abu-abu-ditandai ada hipoestesia permanen.