Anda di halaman 1dari 2

4.

Efek dari prosedur bedah ajuvan Beberapa prosedur bedah minor seringkali dilengkapi perawatan ortodontik, atau digunakan untuk menstabilkan hasil ortodontik. Edwards merekomendasikan fibrotomi untuk membantu pencegahan relaps berulang, namun itu harus dihindari pada porsi bukal atau labial dari gingiva yang sangat tipis. Penghilangan papilla gingiva pada daerah penutupan pencabutan meningkatkan restitusi jaringan ikat normal. Akan tetapi, mengeksisi celah gingival pada jaringan yang tipis, deficit atau menyusut, tidak direkomendasikan. Defisit gingival dan defek periodontal kadangkala terlihat pada cuspids terimpaksi yang setelah dioperasi menjadi terbuka dan reposisi. 5. Fungsi Temporormandibular Setalah perawatan ortodontik Telah dikemukakan pernyataan bawah pasien yang dirawat ortodontik mempunyai lebih banyak masalah pada TMJ daripada orang lain. Bertolak belakang dg hal itu, ada klaim bahwa pasien pasien yang dirawat ortodontik mempunyai lebih sedikit kesulitan temporomandibular. Pastinya salah satu dari hipotesis ini salah. Disayangkan bahwa beberapa studi retrospektif telah menguji hipotesis divergen ini., dan semua studi berada dalam kesepakatan tambahan. Sadowsky dan BeGole sebagai contihnya telah memeriksa subjek-subjek usia 25-55 tahun yang tealah dirawat ortodontik dengan full band appiliances 10-35 tahun sebelumnya dan membandingkan mereka dengan grup dewasa dengan maloklusi yang serupa sebelum dirawat. Grup yang telah dirawat ortodontik mempunyai lebih sedikit tanda dan gejala temporomandibular daripada grup yang belum dirawat. Tidak ada perbedaan dalam suara sendi atau kebiasaan parafungsional, walaupun grup control secara signifikan mempunyai lebih besar nyeri dan kelunakan. Allegasi telah dibuat bahwa ekstraksi bicuspidpada terapi ortodontik perdisposisi terhadap disfungsi temporomandibular , namun klaim ini belum didukung oleh studi klinis suara. Lebih jauh telah dikemukakan bahwa ekstraksi M2 kurang tepat lebih menuntun pada penampakan tanda-tanda TMJ dan gejala daripada esktraksi bicuspid. Tidak ada studi klinis terkontrol yang mendukung atau menyanggah opini tersebut. Akan tetapi telah baik didokumentasikan dalam beberapa studi penelitian klinis atau atau aturan signifikan bahwa disharmoni oklusal disebabkan banyak factor, diantaranya drifting gigi, restorasi dengan kontur buruk, penyesuaian protesa yang salaha, dan lain-lain. Perawatan ortodontik yang selesai dengan buruk sebagai tepat menimbulkan masalah, tapi oklusi buruk yang dihasilkan dengan neuromaskular tidak dapat digabungkan sebagai factor etiologi yang signifikan, seperti pada cabang ilmu gigi lainnya. Harus diingat bahwa ada lebih banyak gangguan temporomandibular yang signifikan pada aanak dengan maloklusi daripada dalam polpulasi acak. Jika pada akhir perawatan ortodontik ada sedikit perbedaan antara kasus yang terawat dengan tak terawatt, kemudian perawtan ortodontik telah membuat kontribusi signifikan pada pengurangan kelainan temporomandibular, hal ini karena pasien yang terawat punya lebih banyak gangguan pada permulaan. F. Retensi, relaps dan stabilisasi oklusal Retensi pada ortodontik adalah mempertahankan gigi yang baru digerakkan dalam posisi yang cukup lama untuk menyembuhkan dalam menstabilisasi perbaikannya. Relaps adalah sistilah yang diaplikasikan pada kehilangan koreksi yang telah diperoleh melalui perawtan ortodontik.

Stabilisasi oklusi harus mengikutsertakan homeostatis, yaitu system mastikasi harus menstabilkan sendiri setelah terapi ortodontik. Telah ada banyak ide mengenai konsep-konsep retensi. Stabilisasi ortodontik dikatkan tergantung pada angulasi dari insisif mandibular, hubungan gigi pada basis apical, hubungan oklusiposterior, dan lain-lain. Studi jangka panjang dari retensidan relaps ditemukan penyebab berbeda dari retensi, namun ada 2 faktor penting : (1) sebuah oklusi tidak harmoni dengan posisi mandibular selama penelanan tanpa sadar, dan (2)disharmoni bertumbuh setelah terapi ortodontik. Banyak studi telah mendeskripsikan relapsnya posisi gigi individual, yang mana 2 faktor ini berhubungan dengan relaps yang lebih general. Ini sangat penting saat merawat relaps untuk menghasilakn perubahan-perubahan tersebut karena intervensi ortodontik dari hal yang akan muncul jika perawatan tidak diperoleh. Riedel telah mendiskusikan beberapa penjelasan popular dari retensi dan relaps serta bukti-bukti penelitian klinis yang tersedia mengenainya. Teori 1 : gigi yang telah bergerak cenderung kembali ke posisi semula. Hal ini tidak benar untuk semua pergerakan gigi, namun benar untuk retensi. Konsep ini lebih diaplikasikan pada insisif daripada posterior, di mana intercuspasi menyembuhkan retensi. Teori 2 : Eliminasi dari penyebab maloklusi akan mencegah rekurensi. Banyak penyebab maloklusi tidak diketahui, walaupun teori ini benar untuk factor etiologi simple yang jelas, seperti mendorong lidah, menghisap jempol, abnormalitas posisi bibir, dan lain-lain. Teori 3 : Maloklusi harus dikoreksi sebagai factor aman. Rational ini popular dalam praktek, namun hanya beberapa data yang mendukung.