Anda di halaman 1dari 5

SKENARIO HERPES ZOSTER

Seorang laki-laki berusia 35 tahun datang ke poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP NTB dengan keluhan timbul plenting berisi cairan di pundak kirinya yang terasa nyeri. Plenting ini disadarinya timbul sejak 1 hari sebelumnya. Nyeri dirasakan seperti ditusuktusuk dan hilang timbul. Dari anamnesis dengan pasien didapatkan sehari sebelum timbul plenting tersebut pasien merasakan badannya sedikit demam dan seperti mau flu. Dari pemeriksaan fisik dijumpai pada pundak kiri sampai lengan atas kiri pasien terdapat vesikel dan bula dengan dasar eritema disertai erosi dan pustul.

Dilihat dari jenis lesi kulit yang dialami pasien terdapat plenting (vesikel), bula dengan dasar eritema disertai erosi dan pustul pada bagian pundak kiri sampai lengan atas kiri. Adapun penjelasan mengenai status dermatologi ekstremitas pasien yang berupa efloresensi yaitu: Vesikel: peninggian kulit berbatas tegas berisi cairan dengan ukuran < 0,5 cm, sifatnya unilokuler atau multilokuler. Dapat pecah atau bergabung menjadi bula. Bula : vesikel yang berukuran >0,5 cm. Pustula: vesikel yang berisi pus dan berada di atas kulit yang meradang. Hal ini menandakan adanya kematian sel-sel pada kulit serta menandakan adanya proses peradangan pada bagian tersebut. Krusta: cairan tubuh yang mongering dapat bercampur dengan jaringan nekrotik atau benda asing. Timbulnya keluhan demam sejak sehari sebelumnya serta diikuti oleh munculnya vesikel vesikel pada kulit pasien bisa menandakan gejala prodromal yang mungkin disebabkan oleh suatu infeksi dan hal ini biasanya didapatkan pada infeksi virus varisela. Dilihat dari usia pasien yang sudah dewasa kemungkinan infeksi kali ini merupakan reaktivasi virus varisela yang pernah menginfeksi sebelumnya, meskipun tidak menutup kemungkinan merupakan infeksi yang pertama. Jika merupakan proses reaktivasi virus varisela zooster maka pasien kemungkinan sekarang mengalami herpes zooster. Beberapa gejala yang mendukung hal tersebut meliputi timbulnya lesi bersifat unilateral pada bagian pundak dan lengan kiri saja (sesuai dermatom), dirasakan adanya nyeri seperti ditusuk-tusuk pada bagian ekstremitas yang mengalami lesi. Keadaan tersebut dapat terjadi pada herpes

zooster akibat reaktivasi virus yang berada pada ganglion saraf sensoris yang kemudian menyebar ke kulit sesuai dengan dermatom yang diinervasi oleh saraf sensoris yang terkena tersebut. Alogaritma untuk mengevaluasi lesi kulit :

Akan tetapi untuk memastikan diagnosis kita harus melakukan anamnesis lebih lanjut mengenai dimana lokasi pertama kali keluhan tesebut timbul, bagaimana pola penyebarannya, evaolusi lesi kulit yang terjadi, serta riwayat penyakit dengan lesi kulit (effloresensi) serupa. Disamping itu, juga diperlukannya pemeriksaan lebih lanjut untuk dapat menegakan diagnosis kerja dan menentukan tatalaksana yan tepat.

ALUR DIAGNOSIS : Secara umum, dalam diagnosis penyakit kulit dan kelamin, digunakan cara-cara yang sama dengan cara diagnosis penyakit lain, yaitu secara klinis (meliputi anamnesis dan

pemeriksaan fisik) dan didukung oleh pemeriksaan penunjang (laboratorium, biopsi, radiologi dll.). Pada praktek, umumnya penegakan diagnosis penyakit kulit dapat dilakukan dengan alur sebagai berikut:
Kesan Umum Pemeriksaan singkat ANAMNESIS DD DD DD

PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSIS ?

ya Penatalaksanaan EVALUASI

tidak

Pemeriksaan penunjang

Alur pemeriksaan fisik pada penyakit kulit

Anamnesis Dalam diagnosis dermatologi, anamnesis memegang peranan yang sangat penting, dan dapat dimulai bersamaan dengan pemeriksaan Ujud Kelainan Kulit (UKK), baik UKK individu maupun dalam konfigurasi dan distribusinya. Sebaiknya pertanyaan dibuat dengan selalu dikonfirmasikan dengan teori, dengan mengingat diferensial diagnosis (DD) dari UKK yang teramati. Dengan cara ini, pertanyaan dapat lebih terfokus dan tidak banyak menghabiskan waktu dan tenaga. Beberapa hal penting yang perlu ditanyakan adalah: 1. Identitas: nama, umur, alamat, pekerjaan, suku/ras, agama 2. Keluhan utama: alasan pasien datang berkunjung, dengan menggunakan bahasa/istilah pasien sendiri 3. Riwayat penyakit sekarang: a) Onset: kapan mulai muncul UKK, lokasi, jumlah dan rupa b) Simptom yang menyertai: apakah terasa gatal, panas, perih, c) Gejala sistemik yang ada: demam, mual muntah, malaise

d) Pola penyebaran: bagaimana lokasi pemunculan UKK dari hari ke hari (misal: awalnya di dada, lalu muncul lesi serupa di punggung dan wajah, lalu menyebar ke lengan) e) Evolusi: bagaimana perubahan UKK individu (misal: awalnya bentol, lalu melebar dan bersisik) f) Faktor provokatif: misal: lesi tambah gatal bila berkeringat g) Faktor yang memperingan: misal gatal berkurang jika udara dingin h) Riwayat pengobatan dan responnya 4. Riwayat penyakit dahulu: kondisi kesehatan pada umumnya, riwayat sakit serupa, riwayat operasi/sakit berat, riwayat penggunaan obat dan jamu, riwayat lain terkait DD kondisi sekarang (misal: riwayat cacar air jika terdapat DD herpes zoster) 5. Riwayat penyakit keluarga: riwayat atopi keluarga, riwayat sakit serupa, riwayat tumor 6. Anamnesis sistem: sesuai dengan DD (demam, malaise, batuk pilek, penurunan berat badan) 7. Kebiasaan pribadi, sosial dan lingkungan: kebiasaan merokok, olahraga, orientasi seksual, pemakaian kosmetik dan perawatan kulit, rambut dan kuku, kondisi lingkungan kerja dan perumahan, paparan terhadap matahari, bahan kimia, serta kontak dengan hewan.

Pemeriksaan Kulit Pemeriksaan kulit lengkap meliputi inspeksi terhadap keseluruhan permukaan kulit, termasuk daerah yang sering terlewatkan seperti kulit kepala, kelopak mata, telinga, genital, bokong, perianal, dan area interdigital, rambut, kuku, dan membran mukosa mulut, mata, anus dan genital. Namun pada pemeriksaan rutin sehari-hari, tidak seluruh daerah kulit diperiksa kecuali ada alasan spesifik, misalnya riwayat melanoma atau keluhan tertentu. Untuk pemeriksaan kulit, diperlukan kondisi ideal berupa pencahayaan yang optimal. Sumber cahaya yang baik adalah cahaya alami yang tidak mempengaruhi penampilan warna lesi kulit. Namun sumber cahaya ini sukar didapat jika pemeriksaan dilakukan di ruangan tertutup, malam hari, atau cuaca mendung, sehingga diperlukan cahaya lampu fluoresen yang kuat. Senter diperlukan untuk membantu pemeriksaan lebih teliti, terutama memeriksa daerah kulit yang tidak terjangkau sinar ruangan, dan dapat membantu menentukan apakah ada

penonjolan atau tidak. Ruangan periksa sebaiknya juga dilengkapi dengan wastafel untuk mencuci tangan sebelum maupun sesudah pemeriksaan. Lakukan pengamatan secara visual pada lesi, kemudian lakukan palpasi untuk menentukan penonjolan, kedalaman dan konsistensi, serta tekstur permukaan kulit. Palpasi juga dilakukan untuk menentukan ada tidaknya nyeri tekan pada UKK. Umumnya palpasi dilakukan tanpa sarung tangan, namun pada kasus dengan dugaan infeksius, atau pemeriksaan di daerah anogenital dan membran mukosa, pemeriksa sebaiknya menggunakan sarung tangan. Langkah berikutnya adalah pemeriksaan menggunakan kaca pembesar (lup). Penggunaan kaca pembesar ini diperlukan untuk membantu menentukan tekstur lesi dan detil UKK misalnya skuama halus, dan dapat membantu melihat gambaran yang patognomonis tetapi sangat sulit dilihat dengan mata telanjang, seperti striae Wickham pada liken planus, atau burrow pada skabies. Jika diduga terdapat skuama halus, skalpel dapat digunakan untuk membuktikannya juga untuk mengumpulkan bahan pemeriksaan penunjang. Selanjutnya lesi tunggal diukur menggunakan penggaris atau alat pengukur lain. Ukuran ini dicatat sehingga perubahannya dapat diketahui. Berikutnya dapat dilakukan diaskopi menggunakan gelas obyek, sehingga dapat membedakan lesi eritem karena vasodilatasi dan purpura. Setelah pemeriksaan selesai dilakukan, hasil pemeriksaan perlu dicatat, mencakup lokasi dan morfologi lesi., secara deskriptif maupun dibantu dengan gambar body map. Deskripsi UKK penting dalam komunikasi dan konsultasi dermatologi, maupun dalam evaluasi kondisi pasien. Deskripsi UKK umumnya berisikan: Lokasi dan distribusi (letak lokal, distribusi: trunkal, generalisata, dermatomal) Jenis UKK primer, sekunder, atau khusus (mis. papula, makula) Warna atau istilah deskriptif tambahan (mis. pigmentasi: eritem, hiperpigmentasi, bentuk: bulat/numuler, anuler, polisiklik, permukaan: verukosa, licin, batas: tegas/tdk) Ukuran (khusus: milier, pinpoint) Susunan (berkelompok, diskret, herpetiformis, zosteriformis, linier, anuler)

Anda mungkin juga menyukai