Anda di halaman 1dari 3

PENDAHULUAN

Latar Belakang Salah satu tujuan pembangunan nasional termasuk pembangunan di bidang pangan dan gizi adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia sebagai modal dasar dalam pembangunan di masa

mendatang. Kesehatan dan gizi merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pembangunan nasional, sebab secara langsung berpengaruh terhadap kualitas SDM suatu negara, yang digambarkan melalui pertumbuhan ekonomi, umur harapan hidup, dan tingkat pendidikan (Depkes 2007a). Tujuan dan target utama pembangunan nasional yaitu mempercepat pembangunan manusia dan pemberantasan kemiskinan kemudian direalisasikan dalam Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs). Terdapat delapan tujuan yang diprioritaskan dalam MDGs, yakni masalah kemiskinan, pendidikan, kesetaraan gender, angka kematian anak, kesehatan ibu, beberapa penyakit menular utama, lingkungan, dan

permasalahan global terkait perdagangan, bantuan, dan utang (Stalker 2008). Target utama MDGs dalam hal menurunkan angka kematian anak adalah menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya antara tahun 1990 dan tahun 2015. Pada tahun 1990, jumlah angka kematian balita mencapai 97 kematian per 1000 kelahiran hidup, dan target tahun 2015 adalah 32 kematian per 1000 kelahiran hidup (Stalker 2008). Menurut Hardinsyah & Martianto (1988), status gizi merupakan salah satu petunjuk untuk menilai kualitas sumber daya manusia, dan perilaku konsumsi pangan seseorang akan menentukan status gizi orang tersebut. Status gizi yang baik dapat menghasilkan generasi yang sehat, kuat, dan cerdas. Selain itu, dengan meningkatnya status gizi, akan meningkatkan produktivitas kerja sehingga akan meningkatkan kualitas perekonomian bagi masyarakat dan negara. Menurut Khomsan dkk (2009), status gizi masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor yang kompleks dan saling berhubungan. Status gizi individu pada tingkat rumah tangga salah satunya dipengaruhi oleh kemampuan rumah tangga dalam menyediakan makanan yang cukup baik dari segi kualitas dan kuantitasnya, pola asuh anak, pengetahuan gizi, serta faktor sosio budaya lainnya. Periode kritis anak berada pada lima tahun pertama setelah kelahiran. Jika pertumbuhan dan perkembangan anak pada periode ini optimal, maka akan

dapat tumbuh menjadi seorang manusia yang berkualitas (Khomsan 2009). Sebaliknya, gangguan gizi yang terjadi pada periode tersebut cenderung bersifat permanen, tidak dapat dipulihkan walaupun kebutuhan gizi pada masa selanjutnya terpenuhi (Depkes 2007b). Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada hakikatnya merupakan perilaku pencegahan manusia dari berbagai penyakit. Kesehatan merupakan dambaan dan kebutuhan setiap orang, sehingga prinsip PHBS menjadi salah satu landasan dan program pembangunan kesehatan di Indonesia. Salah satu sasaran penerapan program PHBS adalah pada tatanan rumah tangga, yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan keluarga dan produktivitas kerja setiap anggota keluarga (Depkes RI 2006). Adapun beberapa penyakit yang muncul akibat rendahnya PHBS di lingkungan rumah tangga antara lain penyakit cacingan, diare, sakit gigi, sakit kulit, gizi buruk, dant lain sebagainya yang pada akhirnya akan mengakibatkan rendahnya derajat kesehatan dan rendahnya kualitas hidup sumber daya manusia. Persentase PHBS rumah tangga secara nasional pada tahun 2009 hanya mencapai 48.41% (Depkes 2007c). Cakupan PHBS di Kabupaten Bojonegoro juga masih tergolong rendah. Berdasarkan survei cepat PHBS Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2008 yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro pada 23.947 rumah yang dipantau, jumlah keluarga yang berperilaku bersih dan sehat baru mencapai 9.425 rumah (39,36%) (Dinkes 2008). Status gizi dan kesehatan balita juga dipengaruhi dari pola konsumsi pangannya. Ibu memiliki peran penting dalam membentuk pola konsumsi pangan bagi anak-anaknya sebab ibu merupakan orang yang paling dekat dengan anak. Menurut Madanijah (2003), masalah kurang gizi pada balita dapat juga disebabkan oleh perilaku ibu dalam pemilihan bahan makanan. Ibu yang memiliki pengetahuan gizi yang baik akan mempraktekkan perilaku gizi yang baik dalam hal memilih bahan makanan yang bergizi, beragam, dan berimbang untuk anakanaknya, dan sebaliknya pada ibu yang pengetahuan gizinya kurang akan cenderung memiliki perilaku gizi yang kurang baik, termasuk dalam hal memilih bahan makanan untuk anak sehingga memberikan dampak yang kurang baik pada status gizi balita. Persentase balita dengan status gizi kurang di Kabupaten Bojonegoro masih tergolong cukup tinggi, yaitu 14.22% (Renstra 2008). Oleh karena permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk meneliti tentang perilaku

hidup bersih dan sehat (PHBS) dan perilaku gizi seimbang ibu kaitannya dengan status gizi dan kesehatan balita di Kabupaten Bojonegoro. Tujuan Tujuan Umum Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan perilaku gizi seimbang ibu, serta hubungannya dengan status gizi dan kesehatan balita di Kabupaten Bojonegoro. Tujuan khusus Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk: 1. Mengidentifikasi karakteristik balita (umur, jenis kelamin, riwayat

pemberian ASI Eksklusif); dan karakteristik keluarga balita (umur orangtua, pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, besar keluarga, dan pendapatan perkapita keluarga) 2. Mempelajari pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan perilaku gizi seimbang ibu balita 3. Mempelajari tingkat kecukupan energi dan zat gizi, status gizi, dan status kesehatan balita 4. Menganalisis hubungan pengetahuan gizi ibu dengan PHBS dan perilaku gizi seimbang ibu 5. Menganalisis hubungan perilaku gizi seimbang dengan tingkat kecukupan energi dan zat gizi balita 6. Menganalisis hubungan tingkat kecukupan energi dan zat gizi dengan status gizi balita 7. Menganalisis hubungan PHBS dengan status gizi dan kesehatan balita 8. Menganalisis hubungan perilaku gizi seimbang ibu dengan status gizi dan kesehatan balita Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kaitan antara PHBS dalam lingkungan keluarga dan perilaku gizi seimbang ibu dengan status gizi dan kesehatan pada balita. Bagi pihak puskesmas setempat, diharapkan dapat memberikan masukan dalam rangka perbaikan gizi dan peningkatan status gizi balita melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan perilaku gizi seimbang ibu.