Anda di halaman 1dari 26

SKENARIO 1 DEHIDRASI Seorang remaja 19 tahun dibawa ke IGD RS YARSI karena pingsan setelah berolah raga.

Pada pemeriksaan fisik : tampak lemas, bibir dan lidah kering. Sebelum dibawa ke rumah sakit, temannya telah memberikan larutan pengganti cairan tubuh. Di RS, penderita segera diberikan infuse cairan elektrolit . Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan : Kadar Natrium : 130 mEq/l (Normal = 135-147), Kalium : 2.5 mEq/l (N = 3.5 -5.5) dan Klorida : 95 mEq/l (N= 100 106). Setelah kondisi membaik pasien diperbolehkan pulang dan dianjurkan untuk minum sesuai dengan etika Islam.

HIPOTESIS Pasien yang terkena dehidrasi yang disebabkan oleh olahraga, sakit, kekurangan darah, depresi, obat diuretic.Dehidrasi merupakan berkurangnya volume cairan dalam tubuh dan mengakibatkan terganggunya keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam dan basa. Terklasifikasi atas tiga hidrasi yaitu: hipohidrasi, hiperhidrasi, dan isohidrasi. Memiliki gejala ringan, sedang dan berat. Dehidrasi dapat ditanggulangi dengan pemberian cairan elektrolit/infuse NaCl 0.9%. dehidrasi dapat dicegah dengan minum air minimal 2.5 liter per hari dan olahraga yang tidak berlebihan.

Sasaran Belajar : LI.1. Memahami dan menjelaskan cairan tubuh LO.1.1. Memahami dan menjelaskan definisi cairan tubuh LO.1.2. Memahami dan menjelaskan klasifikasi cairan tubuh LO.1.3. Memahami dan menjelaskan kandungan cairan tubuh LO.1.4. Memahami dan menjelaskan mekanisme fisiologis keseimbangan cairan tubuh LI.2. Memahami dan menjelaskan dehidrasi LO.2.1. Memahami dan menjelaskan pengertian dehidrasi LO.2.2. Memahami dan menjelaskan penyebab dehidrasi LO.2.3. Memahami dan menjelaskan klasifikasi dehidrasi LO.2.4. Memahami dan menjelaskan gejala dehidrasi LO.2.5. Memahami dan menjelaskan mekanisme dehidrasi LO.2.6. Memahami dan menjelaskan penanggulangan dehidrasi LO.2.7. Memahami dan menjelaskan pencegahan dehidrasi LI.3. Memahami dan menjelaskan makan dan minum dalam etika Islam

LI 1. Memahami dan menjelaskan cairan tubuh LO 1.1. Memahami dan menjelaskan definisi cairan tubuh Cairan tubuh (bahasaInggris: interstitial fluid, tissue fluid, interstitium) adalah cairan suspense sel di dalam tubuh yang memiliki fungsi fisiologis tertentu. Cairan tubuh merupakan komponen penting bagi cairan ekstraseluler, termasuk plasma darah dan cairan transeluler (Anonim, 2010).Konsumsi cairan yang ideal untuk memenuhi kebutuhan harian bagi tubuh manusia adalah 1 ml air untuk setiap 1 kkal konsumsi energi tubuh atau dapat juga diketahui berdasarkan estimasi total jumlah air yang keluar dari dalam tubuh. Secara rata-rata tubuh orang dewasa akan kehilangan 2.5 L cairan per harinya. Sekitar 1.5 L cairan tubuh keluar melalui urin, 500 ml melalui keluarnya keringat, 400 ml keluar dalam bentuk uap air melalui proses respirasi (pernafasan) dan 100 ml keluar bersama dengan feces (tinja). Sehingga berdasarkan estimasi ini, konsumsi antara 8-10 gelas (1 gelas = 240 ml) biasanya dijadikan sebagai pedoman dalam pemenuhan kebutuhan cairan 1 gelas per harinya (Irawan, 2007). Cairan tubuh meliputi cairan darah, plasma jaringan, cairan sinovial pada persendian, cairan serebrospinal pada otak dan medulla spinalis, cairan dalam bola mata (aqueoushumor dan vitreous humor), cairan pleura, dan berbagai cairan yang terkandung dalam organ. Fungsi cairan dalam tubuh manusia, antara lain: 1. 2. Mengatur suhu tubuh Bila kekurangan air, suhu tubuh akan menjadi panas dan naik. Melancarkan peredaran darah Jika tubuh kita kurang cairan, maka darah akan mengental. Hal ini disebabkan cairan dalam darah tersedot untuk kebutuhan dalam tubuh. Proses tersebut akan berpengaruh pada kinerja otak dan jantung. Membuang racun dan sisa makanan Tersedianya cairan tubuh yang cukup dapat membantu mengeluarkan racun dalam tubuh. Air membersihkan racun dalam tubuh melalui keringat, air seni, dan pernafasan. Mengatur struktur dan fungsi kulit. Kecukupan air dalam tubuh berguna untuk menjaga kelembaban, kelembutan, dan elastisitas kulit akibat pengaruh suhu udara dari luar tubuh. Pencernaan Mengangkut nutrisi dan oksigen melalui darah untuk segera dikirim ke sel-sel tubuh. Konsumsi air yang cukup akan membantu kerja sistem pencernaan di dalam usus besar karena gerakan usus menjadi lebih lancar, sehingga feses pun keluar dengan lancar. Pernafasan Paru-paru memerlukan air untuk pernafasan karena paru-paru harus basah dalam bekerja memasukkan oksigen ke sel tubuh dan memompa karbondioksida keluar tubuh. Hal ini dapat dilihat apabila kita menghembuskan nafas ke kaca, maka akan terlihat cairan berupa embun dari nafas yang dihembuskan pada kaca.
4

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Sendi dan otot Cairan tubuh melindungi dan melumasi gerakan pada sendi dan otot. Otot tubuh akan mengempis apabila tubuh kekurangan cairan. Oleh sebab itu, perlu minum air dengan cukup selama beraktivitas untuk meminimalisir resiko kejang otot dan kelelahan. Pemulihan penyakit Air mendukung proses pemulihan ketika sakit karena asupan air yang memadai berfungsi untuk menggantikan cairan tubuh yang terbuang.

LO 1.2. Memahami dan menjelaskan klasifikasi cairan tubuh Seluruh cairan tubuh didistribusikan diantara dua kompartemen utama, yaitu : cairan intraselular (CIS) dan cairan ekstra selular (CES). Pada orang normal dengan berat badan 70 kg, total cairan tubuh (TBF) rata-ratanya sekitar 60% berat badan atau sekitar 42 L. Persentase ini dapat berubah, bergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas. 1.Cairan Intraselular (CIS) 40% dari BB total adalah CIS. Cairan Intraselular adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang dewasa kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah cairan intraselular, sama kira-kira 25 L pada rata-rata pria dewasa (70 kg). Sebaliknya, hanya dari cairan tubuh bayi yang merupakan cairan intraselular. 2.Cairan Ekstraselular (CES) 20% dari BB total adalah CES. Cairan Ekstraselular adalah cairan diluar sel. Ukuran relatif dari (CES) dapat menurun seiring dengan bertambahnya usia. Pada bayi baru lahir, kira-kir cairan tubuh terkandung didalam cairan ekstraselular (CES). Setelah ber usia 1 tahun, volume relatif dari (CES) menurun sampai kirakira 1/3 dari volume total. Ini hampir sebanding dengan 15 L dalam rata-rata pria dewasa (70 kg). CES dibagi menjadi: a. Cairan interstisial (CIT) adalah cairan disekitar sel, pada orang dewasa volume cairan interstisial kira-kira 8L Cairan limfe termasuk dalam volume interstisial. Volume Relatif (CIT) bergantung dengan ukuran tubuh, pada bayi baru lahir volume cairan interstisial kira-kira 2 kali lebih besar dibanding orang dewasa. b. Cairan intravaskular (CIV) adalah cairan yang terkandung di dalam pembuluh darah.

Volume relatif dari (CIV) sama pada orang dewasa dan anak-anak. Rata-rata volume darah orang dewasa kira-kira 5-6 L (8% dari BB).3 L (60%) dari jumlah tersebut adalah PLASMA. Sisanya 2-3 L (40%) terdiri dari sel darah merah (SDM, atau eritrosit) yang mentranspor oksigen dan bekerja sebagai bufer tubuh yang penting; sel darah putih (SDP, atau leukosit); dan trombosit. Tapi nilai tersebut diatas dapat bervariasi pada orang yang berbeda-beda, bergantung pada jenis kelamin, berat badan dan faktor-faktor lain. Adapun fungsi dari darah adalah mencakup : - pengiriman nutrien (mis ; glokusa dan oksigen) ke jaringan - transpor produk sisa ke ginjal dan paru-paru - pengiriman antibodi dan SDP ke tempat infeksi - transpor hormon ke tempat aksinya - sirkulasi panas tubuh c. Cairan Transelular (CTS) adalah cairan yang terkandung didalam rongga khusus dari tubuh. Contoh (CTS) meliputi cairan serebrospinal, perikardial, pleural, sinovial, dan cairan intraokular serta sekresi lambung. Pada waktu tertentu volume (CTS) dapat mendekati jumlah 1 L. Namun, sejumlah besar cairan dapat saja bergerak kedalam dan keluar ruang transelular setiap harinya. Sebagai contoh, saluran gastro-intestinal (GI) secara normal mensekresi dan mereabsorbsi sampai 6-8 L per-hari.

LO 1.3 Memahami dan menjelaskan kandungan cairan tubuh 1. Air (Solvent) Air adalah senyawa utama dari tubuh manusia. Rata- rata pria dewasa hamper 60% dari berat badannya adalah air dan rata-rata wanita mengandung 55% air dari berat badannya. Factor-faktor yang mempengaruhi air tubuh meliputi: 1. Sel-sel lemak: Mengandung sedikit air, sehingga air tubuh menurun dengan peningkatan lemak tubuh. 2. Usia: Sesuai aturan, tubuh menurun dengan peningkatan usia. Bayi premature, mungkin mengandung air sebanyak 80% dari berat badannya. Sedangkan bayi lahir cukup bulan kira-kira 70% dari badannya. Dengan usia 6 bulan sampai 1 tahun, air tubuh menurun kira-kira 60%, dengan sedikit reduksi lebih lanjut selama masa kanak-kanak. Lansia dapat mengandung 45-55% air dari berat badannya. 3. Jenis kelamin wanita: Wanita mempunyai air tubuh yang kurang secara proporsional, karena lebih banyak mengandung lemak tubuh. 2. Solut (Terlarut) Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis substansi terlarut (zat terlarut): 1. Elektrolit : Substansi yang berdiasosiasi (terpisah) didalam larutan dan akan menghantarkan arus listrik. Elektrolit berdisosiasi menjadi ion positif dan negative dan diukur dengan kapasitasnya untuk saling berikatan satu sama lain. Jumlah kation anion, yang diukur dalam mEq, dalam larutan selalu sama. Kation : Ion-ion yang membentuk muatan positif dalam larutan. Kation estraselular utama adalah Natrium (Na+), sedangkan kation intraselular utama adalah Kalium (K+). Sistem pompa terdapat dinding sel tubuh yang memompa natrium ke luar dan kalium ke dalam. Anion: Ion-ion yang membentuk muatan negatif dalam larutan. Anion ekstraseluler utama adalah Klorida (Cl-), sedangkan anion utama intraseluler adalah ion Fosfat (PO43-). Karena kandungan elektrolit dari plasma dan cairan interstisial secara esensial sama, nilai elektrolit plasma menunjukan komposisi cairan ekstraseluler, yang terdiri atas cairan intraseluler dan interstisial. Namun demikian, nilai elektrolit plasma tidak selalu menunjukkan komposisi elektrolit dari cairan intraselular. Pemahaman perbedaan antara dua kompartemen ini penting dalam mengantisipasi gangguan seperti trauma jaringan atau ketidakseimbangan asam-basa. Pada situasi ini, elektrolit dapat dilepaskan dari atau bergerak ke dalam atau keluar sel, secara bermakna mengubah nilai elektrolit plasma.

Elektrolit Na+ K+ Ca++ Mg++ ClHCO3-

HPO4 2SO4-

Fungsi Menjaga keseimbangan asam-basa Peran dalam fungsi otot dan saraf Mineralisasi tulang dan gigi, meningkatkan efektivitas pembekuan darah Mengikat hormon dan reseptor Membantu proses keseimbangan natrium, sekresi asam lambung sel-sel parental Bereaksi dengan asam kuat untuk membentuk asam karbonat dan suasana garam untuk menurunkan pH Menjadi energi pada metabolisme

Ekstraseluler 142 mEq/L 4 mEq/L 2,4 mEq/L 1,2 mEq/L 103 mEq/L 28 mEq/L

Intraseluler 10 mEq/L 140 mEq/L 0,0001 mEq/L 58 mEq/L 4 mEq/L 10 mEq/L

4 mEq/L 1 mEq/L

75 mEq/L 2 mEq/L

2. Non elektrolit: Substansi seperti glukosa dan urea yang tidak berdisosiasi dalam larutan dan diukur berdasarkan berat. Non elektrolit lainnya secara klinis penting mencakup kreatinin dan bilirubin. Zat Non- Elektrolit dalam Plasma: - Fosfolipid 280 mg/dl - Kolesterol 150 mg/dl - Lemak netral 125 mg/dl - Glukosa 100 mg/ dl - Urea 15 mg/dl - Asam laktat 10 mg/dl - Asam urat 3 mg/ dl - Kreatinin 1,5 mg/ dl - Bilirubin 0,5 mg/ dl

LO 1.4. Memahami dan menjelaskan mekanisme fisiologis keseimbangan cairan tubuh Keseimbangan cairan dicapai dengan masukan dan keluaran cairan yang seimbang. Karena air mengalami proses kehilangan yang tidak terelakan setiap saat melalui ginjal, kulit, dan paru-paru hal yang terpenting adalah untuk tetap mempertahankan jumlah cairan yang cukup dalam tubuh. Pengatur utama masuknya cairan adalah melalui mekanisme haus, pusat haus dikendalikan berada di otak. Sedangkan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi intraselular, sekresi angiotensin II sebagai respon dari penurunan tekanan darah dan pendarahan yang mengakibetkan penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut biasanya terjadi bersama dengan sensasi haus walaupun kadang terjadi secara sendiri. Sensasi haus akan segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi oleh tractus gastrointestinal. 1. Asupan (intake) cairan melalui 3 cara: a. Minum, jumlah perolehan secara mendasar diatur oleh rasa haus, tetapi hal ini lebih dipengaruhi oleh kebiasaan minum. Selama aktifitas dan temperature yang sedang seorang dewasa kira-kira minum 1500ml air per hari. Sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500ml air per hari, sehingga kebutuhan 1000ml sisanya diperoleh dari b. Makan yang mengandung air, daging mengandung 50% sampai 75% air dan beberapa jenis buah dan sayur mengandung 95% air c. Proses oksidasi makanan dalam tubuh (metabolisme), air metabolik yang dihasilkan melalui katabolisme mencapai sekitar 300ml. katabolisme 1gram lemak menghasilkan 1,07ml air, 1gram karbohidrat, 0,55ml air dan 1gram protein, 0,41ml air. Didalam tubuh seseorang yang sehat volume cairan tubuh dan komponen kimia dari cairan tubuh selalu berada dalam kondisi dan batas yang aman. Dalam kondisi yang normal pengeluaran cairan yang terjadi sesuai dengan pemasukannya. Kondisi sakit dapat menyebabkan gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Dalam rangka mempertahankan fungsi tubuh maka tubuh akan kehilangan cairan antara lain melalui proses penguapan ekspirasi, penguapan kulit, ginjal (urin) dan ekskresi pada proses metabolisme. 2. Keluaran (output) cairan melalui 4 proses yaitu: a. Urin, proses pembentukan urin oleh ginjal dan ekresi melalui tractus urinarius merupakan proses pengeluaran cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal pengeluaran urin sekitar 1400-1500ml per 24jam atau sekitar 30-50ml per jam. Pada orang yang sehat kemungkinan produksi urin bervariasi dalam setiap harinya. Apabila
9

aktifitas kelenjar meningkat maka produksi urin akan menurun sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan dalam tubuh. Kehilangan air terbesar melalui ginjal merupakan bagian yang tidak dapat dihindarkan, bagian yang dikendalikan oleh antidiuritik hormon (ADH). ADH dihasilkan oleh hipotalamus dan ditransportasikan ke kelenjar pituitary, darimana dilepaskan sesuai dengan kebutuhan. Hal tersebut mengatur reabsorbsi air dari tubulus distal ginjal dan mengatur jumlah urin yang di ekresi. b. IWL (Insesible Water Loss) terjadi melalui paru-paru dan kulit, melalui kulit dengan mekanisme difusi. Pada orang dewasa normalnya kehilangan cairan tubuh melalui proses ini berkisar antara 300-400ml per hari, apabila respirasi atau suhu tubuh meningkat maka IWL dapat meningkat. c. Keringat, berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas, respon ini berasal dari anterior hypothalamus sedangkan impulsnya ditransfer melalui susum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan saraf simpatis pada kulit. Cairan yang keluar melalui keringat sekitar 100ml per hari. d. Feses, pengeluaran air melalui feses berkisar antara 100-200ml per hari, yang diatur melalui proses reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon). 3. Organ yang berperan dalam pengaturan keseimbangan cairan meliputi: a. Ginjal Fungsi-fungsi utama ginjal dalam mempertahankan keseimbangan cairan: - Pengaturan volume dan osmolalitas CES melalui retensi dan eksresi selektif cairan tubuh. - Pengaturan kadar elektrolit dalam CES dengan retensi selektif substansi yang dibutuhkan. - Pengaturan pH CES melalui retensi ion-ion hidrogen. - Ekskresi sampah metabolik dan substansi toksik. Oleh karena itu gagal ginjal jelas mempengaruhi keseimbangan cairan, karena ginjal tidak dapat berfungsi. b. Jantung dan pembuluh darah Kerja pompa jantung mensirkulasi darah melalui ginjal di bawah tekanan yang sesuai untuk menghasilkan urine. Kegagalan pompa jantung ini mengganggu perfusi ginjal dan karena itu mengganggu pengaturan air dan elektrolit. c. Paru-paru

10

Melalui ekhalasi paru-paru mengeluarkan air sebanyak +300L setiap hari pada orang dewasa. Pada kondisi yang abnormal seperti hiperpnea atau batuk yang terus-menerus akan memperbanyak kehilangan air; ventilasi mekanik dengan air yang berlebihan menurunkan kehilangan air ini. d. Kelenjar pituitari Hipotalamus menghasilkan suatu substansi yaitu ADH yang disebut juga hormon penyimpan air, karena fungsinya mempertahankan tekanan osmotik sel dengan mengendalikan retensi atau ekskresi air oleh ginjal dan dengan mengatur volume darah. e. Kelenjar adrenal Aldosteron yang dihasilkan/disekresi oleh korteks adrenal (zona glomerolus). Peningkatan aldosteron ini mengakibatkan retensi natrium sehingga air juga ditahan, kehilangan kalor. Sedangkan apabila aldosteron kurang maka air akan banyak keluar karena natrium hilang. Kortisol juga menyebabkan retensi natrium. f. Kelenjar paratiroid Mengatur keseimbangan kalsium dan fosfat melalui hormon paratiroid (PTH). Sehingga dengan PTH dapat mereabsorbsi tulang, absorbsi kalsium dari usus dan reabsorbsi kalsium dari ginjal. 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan diantaranya: a. Umur, kebutuhan pemasukan cairan tubuh dipengaruhi oleh usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme dan berat badan. Bayi dan anakanak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan disbanding orang dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung b. Iklim, orang yang tinggal didaerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan dan elektrolit tubuh melalui keringat. c. Diet berpengaruh terhadap pemasukan cairan dan elektrolit. Ketika pemasukan nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini dapat menyebabkan edema. d. Stress dapat meningkatkan metabolism sel, glukosa darah dan pemecahan glikogen otot. Mekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga apabila terjadi berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.
11

e.

Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap keseimbangan cairan misalnya, trauma

(luka) seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan cairan melaui IWL. Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. f. Tindakan medis seperti suction dan nasogastrik tube berpengaruh terhadap keseimbangan cairan tubuh. g. Pengobatan seperti deuritik dan laksative dapat berpengaruh pada keseimbangan cairan tubuh. h. Pembedahan pada pasien beresiko tinggi terhadap gangguan keseimbangan cairan karena pasien mengalami kehilangan darah selama proses pembedahan. Gangguan Keseimbangan Cairan 1. Ketidakseimbangan volume a. Kekurangan volume cairan ekstraselular atau hipovolemia didefinisikan sebagai kehilangan cairan tubuh isotonik yang disertai kehilangan natrium dan air dalam jumlah yang relatif sama. Kekurangan volume isotonik seringkali diistilahkan dengan dehidrasi yang seharusnya dipakai untuk kondisi kehilangan air murni yang relatif mengakibatkan hipernatremia. Kekurangan cairan eksternal terjadi karena penurunan asupan cairan dan kelebihan pengeluaran cairan. Tubuh akan merespons kekurangan cairan tubuh dengan mengosongkan cairan vaskuler. Sebagai kompensasi akibat penurunan cairan inetrstisial, tubuh akan mengalirkan cairan keluar sel. Pengosongan cairan ini terjadi pada pasien diare dan muntah. Kehilangan cairan ekstra sel secara berlebihan menyebabkan volume ekstrasel berkurang (hipovolume) dan perubahan hematokrit. Pada keadaan dini, tidak terjadi perpindahan cairan daerah intrasel ke permukaan, sebab osmolaritasnya sama. Jika terjadi kekurangan cairan ekstrasel dalam waktu yang lama, kadar urea, nitrogen dan kreatinin meningkat dan menyebabkan perpindahan cairan intrasel ke pembuluh darah. Kekurangan cairan dalam tubuh dapat terjadi secara lambat atau cepat dan tidak selalu cepat diketahui. Kelebihan asupan pelarut seperti protein dan klorida/natrium akan menyebabkan ekskresi atau pengeluaran urine secara berlebihan serta berkeringat dalam waktu lama dan terus menerus. Hal ini dapat terjadi pada pasien dengan gangguan pada hypothalamus, kelenjar gondok, ginjal, diare, muntah secara terus-menerus dan lain-lain. b. Terdapat dua manifestasi yang ditimbulkan akibat kelebihan cairan, yaitu hipervolume (peningkatan volume darah) dan edema (kelebihan cairan pada intersitisial).
12

Normalnya, cairan interstisial tidak terikat dengan air, tetapi elastis dan hanya terdapat di antara jaringan. Kelebihan volume cairan ekstraselular dapat terjdi bila natrium dan air keduanya tertahan dengan proporsi yang kira-kira sama. Dengan terkumpulnya cairan isotonik yang berlebihan pada cairan ekstraselular (hipervolemia) maka cairan akan berpindah ke kompartemen cairan interstitial sehingga menyebabkan edema . 2. Ketidakseimbangan osmolalitas dan perubahan komposisional Ketidakseimbangan osmolalitas melibatkan kadar zat terlarut dalam cairan tubuh karena natrium merupakan zat terlarut utama yang aktif secara osmotik dalam cairan intraselular maka kebanyakan kasus hipoosmolalitas (overhidrasi) adalah hiponatremia yaitu rendahnya kadar natrium di dalam plasma. Hipernatremia adalah tingginya kadar natrium di dalam plasma. Hipokalemia yaitu keadaan dimana kadar kalium serum kurang dari 3.5mEq/L dan Hiperkalemia yaitu keadaan dimana kadar kalium serum lebih dari atau sama dengan 5.5mEq/L. Hiperkalemia akut adalah keadaan gawat medik yang perlu segera dikenali dan ditangani untuk menghindari disritmia dan gagal jantung yang fatal. LI 2. Memahami dan menjelaskan dehidrasi LO 2.1. Memahami dan menjelaskan pengertian dehidrasi Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh. Hal ini terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada pemasukan (misalnya minum). Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh. Dehidarasi dapat terjadi karena : Kekurangan zat natrium Kekurangan air Kekurangan natrium dan air Dehidrasi adalah berkurangnya cairan tubuh total, dapat berupa hilangnya air lebih banyak dari natrium (dehidrasi hipertonik), atau hilangnya air dan natrium dalam jumlah yang sama (dehidrasi isotonik), atau hilangnya natrium lebih banyak daripada air (dehidrasi hipotonik). Dehidrasi hipotonik ditandai dengan tingginya kadar natrium serum (lebih dari 145 mEq/L) dan peningkatan osmolalitas efektif serum (lebih dari 285 mosmol/liter). Dehidrasi isotonik ditandai dengan normalnya kadar natrium serum (135 145 mEq/L) dan osmolalitas efektif serum (270 285 mosmol/liter). Dehidrasi hipotonik ditandai dengan rendahnya kadar natrium serum (kurang dari 135 mEq/L) dan osmolalitas efektif serum (kurang dari 270 mosmol/liter).

13

LO 2.2. Memahami dan menjelaskan penyebab dehidrasi Dehidrasi terjadi bila kehilangan cairan sangat besar sementara pemasukan cairan sangat kurang. Beberapa kondisi yang sering menyebabkan dehidrasi antara lain : a. Diare merupakan keadaan yang paling sering menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah besar. Di seluruh dunia, 4 juta anak-anak meninggal setiap tahun karena dehidrasi akibat diare. b. Muntah sering menyebabkan dehidrasi karena sangat sulit untuk menggantikan cairan yang keluar dengan cara minum. c. Tubuh kehilangan banyak cairan saat berkeringat. Kondisi lingkungan yang panas akan menyebabkan tubuh berusaha mengatur suhu tubuh dengan mengeluarkan keringat. Bila keadaan ini berlangsung lama sementara pemasukan cairan kurang maka tubuh dapat jatuh ke dalam kondisi dehidrasi. d. Peningkatan kadar gula darah pada penderita diabetes atau kencing manis akan menyebabkan banyak gula dan air yang dikeluarkan melalui kencing sehingga penderita diabetes akan mengeluh sering kebelakang untuk kencing. e. Penderita luka bakar dapat mengalami dehidrasi akibat keluarnya cairan berlebihan pada kulit yang rusak oleh luka bakar. f. Orang yang mengalami kesulitan minum oleh karena suatu sebab rentan untuk jatuh ke kondisi dehidrasi. g. Gastroenteritis. Ini adalah penyebab paling umum dehidrasi. Jika disertai muntah dan diare, dehidrasi akan semakin mudah terjadi. h. Stomatitis Nyeri dapat membatasi asupan oral. i. Diabetic ketoasidosis (DKA) Dehidrasi ini disebabkan oleh diuresis osmotik. Penurunan berat badan disebabkan oleh kehilangan cairan yang berlebihan dan katabolisme jaringan. Rehidrasi cepat, dapat menimbulkan hasil neurologis yang buruk. DKA sangat spesifik dan memerlukan perawatan yang intensif. j. Demam penyakit. Demam mengakibatkan peningkatan insensible loss water dan dapat mempengaruhi nafsu makan. k. Pharyngitis, ini dapat mengurangi asupan oral. l. Congenital adrenal hiperplasia. berhubungan dengan hipoglikemia, hipotensi, hiperkalemia, dan hiponatremia. m. Heat stroke. Hyperpyrexia, kulit kering, dan perubahan status mental dapat terjadi. n. Cystic Fibrosis. mengakibatkan kerugian natrium dan klorida keringat, menempatkan pasien pada risiko hiponatremia, hipokloremia dan dehidrasi parah.
14

o. Diabetes insipidus. output urin yang berlebihan yang sangat encer dapat mengakibatkan kerugian besar air bebas dan hipernatremia. p. Tirotoksikosis. Berat badan yang diamati, meskipun nafsu makan meningkat. Diare terjadi LO 2.3. Memahami dan menjelaskan klasifikasi dehidrasi
1. Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik, dehidrasi dapat dibagi menjadi dehidrasi: Ringan : Penurunan cairan tubuh sebesar 5% dari tubuh. Membran mukosa, laju pernapasan, tekanan darah, denyut nadi, dan mata normal, denyut jantung sedikit meningkat, turgor kulit kembali normal, keluaran urin menurun. Sedang : Penurunan cairan tubuh sebesar 5-10% dari tubuh. Membran mukosa kering, laju pernapasan meningkat, tekanan darah normal(ortostatik), denyut nadi cepat dan lemah, mata cekung, denyut jantung meningkat, turgor kulit kembali lambat, keluaran urin oliguria(produksi urin sedikit). Berat : Penurunan cairan tubuh sebesar lebih dari 10% berat tubuh. Membran mukosa sangan kering, laju pernapasan meningkat & hiperapnea, tekanan darah menurun, denyut nadi sangat lemah, mata sangat cekung, denyut jantung sanga meningkat, turgor kulit tidak kembali, keluaran urin anuria (ketidakmampuan untuk buang air kecil baik karena tidak dapat menghasilkan urin atau memiliki sumbatan di sepanjang saluran kemih) 2. Berdasarkan gambaran elektrolit serum, dehidrasi dapat dibagi menjadi : a. Dehidrasi Hiponatremik atau Hipotonik : merupakan kehilangan natrium yang relatif lebih besar daripada air, dengan kadar natrium kurang dari 130 mEq/L. b. Dehidrasi Isonatremi atau Isotonik Dehidrasi isonatremik (isotonik) terjadi ketika hilangnya cairan sama dengan konsentrasi natrium dalam darah. Kadar natrium pada dehidrasi isonatremik 130-150 mEq/L (Huang et al, 2009). c. Dehidrasi Hipernatremik atau Hipertonik Dehidrasi hipernatremik (hipertonik) terjadi ketika cairan yang hilang mengandung lebih sedikit natrium daripada darah (kehilangan cairan hipotonik), kadar natrium serum > 150 mEq/L. Dehidrasi hipertonik dapat terjadi karena pemasukan (intake) elektrolit lebih banyak daripada air (Dell, 1973 dalam Suharyono, 2008).

LO 2.4. Memahami dan menjelaskan gejala dehidrasi Respon awal tubuh terhadap dehidrasi antara lain berupa rasa haus untuk meningkatkan pemasukan cairan hingga dengan penurunan produksi kencing untuk mengurangi seminimal mungkin cairan yang keluar. Air seni akan tampak lebih pekat dan berwarna gelap. Jika kondisi awal ini tidak tertanggulangi maka tubuh akan masuk ke kondisi selanjutnya yaitu : a. Mulut kering. b. Berkurangnya air mata.
15

c. Berkurangnya keringat. d. Kekakuan otot. e. Mual dan muntah. f. Kepala terasa ringan terutama saat berdiri. Selanjutnya tubuh dapat jatuh ke kondisi dehidrasi berat yang gejalanya berupa gelisah dan lemah lalu koma dan kegagalan multi organ. Dehidrasi Ringan Dehidrasi tingkatan ini dicirikan dengan tanda muka memerah, rasa yang sangat haus, kulit kering dan pecah-pecah, volume urin berkurang dengan warna lebih gelap dari biasanya, pusing dan lemah, kram otot terutama pada kaki dan tangan, kelenjar air mata berkurang kelembabannya, sering mengantuk, mulut dan lidah kering dan air liur berkurang Dehidrasi Sedang Dehidrasi tingkatan ini di tandai dengan penurunan tekanan darah, dalam kondisi tertentu gampang sekali pingsan, kontraksi kuat pada otot lengan, kaki, perut, dan punggung, kejang, perut kembung, gagal jantung, ubun-ubun cekung, denyut nadi cepat dan lemah. Dehidrasi Berat Dehidrasi pada tingkatan ini sangatlah berbahaya jika tidak segera dilakukan pertolongan dan penanganan,karna bisa mengakibatkan kematian. Tanda-tandanya adalah : kesadaran berkurang, tidak buang air kecil, tangan dan kaki dingin serta lembab, denyut nadi semakin cepat dan lemah sehingga tidak teraba, tekanan darah turun drastis sehingga tidak dapat diukur, ujung kuku, mulut, dan lidah berwarna kebiruan.
Dehidrasi Ringan 3-5 Dehidrasi Sedang 6-9 Dehidrasi Berat

Tanda dan Gejala

Kehilangan berat badan (%) Kondisi umum

10 atau lebih

Haus, sadar, gelisah

Haus, sadar, hipotensi postural

Biasanya sadar; ektremitas dingin, lembab, sianotik, kulit jari tangan dan kaki berkerut; kejang otot Cepat, sangat lemah,kadang tidak teraba

Nadi radial

Kecepatan dan tekanan normal Normal

Cepat dan lemah

Respirasi

Dalam, mungkin

Dalam dan cepat

16

cepat Fontanella anterior Tekanan darah sistolik Normal Normal Cekung Normal atau rendah: hipotensi ortostatik Cubitan kembali perlahan Cekung Tidak ada atau berkurang Jumlah berkurang dan pekat Sangat cekung Rendah, mungkin tidak terukur

Elastisitas kulit

Cubitan segera kembali Normal Ada

Cubitan tidak segera kembali

Mata Air mata

Sangat cekung Tidak ada

Keluaran kencing

Normal

Anuria/oliguria berat

LO 2.5. Memahami dan menjelaskan mekanisme dehidrasi Beberapa mekanisme bekerja sama untuk mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh. Salah satu yang terpenting adalah mekanisme dehidrasi. Jika tubuh memerlukan lebih banyak air, maka pusat saraf di otak dirangsang sehingga timbul rasa haus. Rasa haus akan bertambah kuat jika kebutuhan tubuh akan air meningkat, mendorong seseorang untuk minum dan memenuhi kebutuhannya akan cairan. Mekanisme lainnya untuk mengendalikan jumlah cairan dalam tubuh melibatkan kelenjar hipofisa di dasar otak. Jika tubuh kekurangan air, kelenjar hipofisa akan mengeluarkan suatu zat ke dalam aliran darah yang disebut hormon antidiuretik. Hormon antidiuretik merangsang ginjal untuk menahan air sebanyak mungkin. Jika tubuh kekurangan air, ginjal akan menahan air yang secara otomatis dipindahkan dari cadangan dalam sel ke dalam aliran darah untuk mempertahankan volume darah dan tekanan darah, sampai cairan dapat digantikan melalui penambahan asupan cairan. Jika tubuh kelebihan air, rasa haus ditekan dan kelenjar hipofisa hanya menghasilkan sedikit hormon antidiuretik, yang memungkinkan ginjal untuk membuang kelebihan air melalui air kemih. Sebagai kesimpulan, pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin. Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melali baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotiikus, osmoreseptor di hypothalamus, dan volumereseptor atau reseptor regang di atrium. Sedangkan dalam sistem endokrin, hormon-hormon yang berperan

17

saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II, Aldosteron, dan Vasopresin/ ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. Sementara, jika terjadi peningkatan volume cairan tubuh, maka hormone atripeptin (ANP) akan meningkatkan ekskresi volume natrium dan air .

Sumber: www.medicastore.com

LO 2.6. Memahami dan menjelaskan penanggulangan dehidrasi Cairan harus diberikan untuk mengkoreksi jumlah kehilangan yang terakumulasi, dan juga kehilangan cairan yang sedang berlangsung. Jenis cairan yang diberikan tergantung dari cairan dan garam jenis apa yang telah hilang: 1. Jika yang telah hilang adalah darah, maka berikanlah darah. 2. Jika yang telah hilang adalah garam yang berimbang dengan cairan, berikanlah salin fisiologis. 3. Jika yang telah hilang terutama air, pada tahap awal berika dekstrosa 5%, jenis gula yang dimetabolisme dengan cepat sehingga meninggalkan sisa berupa air. 4. Jika dehidrasi berat, berikan ekspander volume (misalnya Haemaccel) Terapi diarahkan dengan kadar elektrolit serum (periksa setiap hari), terutama kadar Na: a. Tinggi > mmol/L infus dekstrosa 5%
18

b. Rendah akut 120-132 mmol/L-infus salin fisiologis Hati-hati: banyak pasien dengan hiponatremia tidak mengalami kehilangan cairan dan akan diperburuk dengan pemberian salin, misalnya pada gagal jantung, penyakit hati, SIADH (syndrome of inappropiate antidiuretic hormone secretion). Perlu hati-hati dalam memberikan salin pada pasien dengan kadar natrium yang sangat menurun, yaitu < 115 mmol/L, terutama jika di bawah pengaruh alkohol atau menderita malnutrisi, hal tersebut dapat memicu mielinosis pons sentral (sindro batang otak yang berat dan ireversibel) a. Natrium fisiologis: 2 liter salin fisiologis diberikan untuk setiap liter dekstrosa 5%. b. Pada terapi penggantian cairan yang berlangsung lama, nutrisi juga harus diberikan. Jangan memberikan kalium, karena darah sudah mengandung kalium, kecuali jika kadarnya memang rendah < 3,5 mmol/L. Terdiri dari 3 jalur pemberian cairan: 1. Jalur oral: defisit ringan dan pasien dalam keadaan sadar serta bisa menelan. Kehilangan cairan masih dalam batas normal. 2. Jalur nasogastrik: gangguan menelan pada pasien dengan keadaan stabil dan dalam terapi jangka panjang, misalnya pada pasien stroke. 3. Jalur intravena: terapi jangka pendek < 48 jam, terapi dalam jumlah besar atau kehilangan yang berfluktuasi. Fungsi saluran pencernaan terganggu. Kehilangan cairan dapat digantikan dengan cepat, misalnya 500 mL/jam, kecuali pada penderita penyakit jantung dengan risiko edema paru, kecepatan diperlambat menjadi 200 mL/ jam. Euvolemia ditandai dengan tidak adanya dehidrasi, atau gagal jantung, produksi urin normal. Rumus sederhana untuk mempertahankan euvolemia pada pasien yang tidak demam adalah: Asupan cairan/jam = produksi urin/jam + 20 mL/jam + kehilangan lainnya (misalnya fistula, diare) / jam. Terapi dehidrasi pada anak: Dehidrasi sering dikategorikan berdasarkan osmolaritasnya (gangguan distribusi air dalam tubuh dan di tingkatkan kekurangan cairan, yang dapat membantu dalam menentukan terapi cairan yang akan diberikan)

19

Berdasarkan kadar iodium serum, anak-anak mengalami: a. Dehidrasi isotonik (130-150 mg/L) b. Dehidrasi hipertonik (>150 mg/L) c. Dehidrasi hipotonik (<130 mg/L) Tingkat keparahan dehiodrasi ditentukan dari jumlah cairan tubuh yang hilang atau presentase kehilangan berat badan, sehingga dehidrasi: a. Ringan ( 30 m/kg atau <5%) b. Sedang (50-100m/kg atau 5-10%) c. Berat (100m/kg atau >10%) Menentukan derajat dehidrasi dibtuhkan untuk menentukan pengobatan mana yang sesuai, selain itu juga dilakukan pemeriksaan fisik pada anak, urin, dan berat badan Dehidrasi di atas dengan pemberian cairan yang jumlahnya dihitung sbb: 1. Previous loss atau defisit, yaitu jumlah cairan yang telah hilang biasanya berkisar antara 5-15% berat badan. 2. Normal water losses yang terdiri dari urin ditambah jumlah cairan yang hilang melalui pemnguapan pada kulit dan pernafasan. 3. Concomitant losses yaitu jumlah cairan yang hilang melalui muntah dan diare (kira kira 25 ml bb /24 jam), dengan suction, parasentesis asites, dan sebagainya. Jenis Cairan untuk Rehidrasi 1. Cairan Rehidrasi Oral (CRO) Biasanya diberikan pada penderita dehidrasi ringan dan sedang. Formula lengkap mengandung NaCl, KCl, NaHCO3, dan glukosa: oralit. CRO yang tidak mengandung keempat komponen di atas: larutan gula garam, larutan tepung beras-garam, air kelapa, berdasarkan penelitian, air tajin mengandung glukosa polimer, yaitu gula yang mudah diserap dan dicerna tubuh. Protein poliglukosa yang dikandung dalam tepung tajin pun dapat membuat feses lebih padat. 2. Cairan Rehidrasi Parental Pada pasien dengan dehidrasi berat, cairan yang diberikan secara parental jenis cairannya adalah RL (Ringer Lactate) jumlah cairan yang diberikan infuse, tergantung dari tingkat dehidrasi sesuai dengan umur dan berat badan. Rehidrasi Parental untuk Dehidrasi Berat
20

Komposisi larutan RL pada bayi (< 12 bulan): a. 1 jam pertama: 30 ml/kgbb b. 5 jam berikutnya: 70ml/kgbb Komposisi larutan RL pada anak (>12 bulan) : a. 1 jam pertama: 30 ml/kgbb b. 3 jam berikutnya: 70 ml/kgbb Jenis cairan kristaloid yang digunakan untuk rehidrasi tergantung dari jenis rehidrasinya. Pada dehidrasi isotonik dapat diberikan cairan NaCl 0,9% atau dekstrosa 5% dengan kecepatan 25-30% dari defisit cairan total perhari. Pada dehidrasi hipertonik digunakan cairan NaCl, 45%. Dehidrasi hipotonik ditatalaksanakan dengan mengatasi penyebab yang mendasari, penambahan diet natrium, dan bila perlu pemberian cairan hipertonik. LO 2.7. Memahami dan menjelaskan pencegahan dehidrasi Dehidrasi dapat dicegah dengan melakukan beberapa upaya berikut : a. Lingkungan Dehidrasi yang disebabkan oleh faktor lingkungan sangat mungkin untuk dilakukan pencegahan. Jika memungkinkan, aturlah jadual kegiatan atau aktifitas fisik yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Jangan melakukan aktifitas berlebihan pada siang hari. b. Olah raga Orang yang berolah raga pada kondisi cuaca yang panas harus minum lebih banyak cairan. c. Umur Umur muda dan tua sama beresikonya untuk mengalami dehidrasi.

Dehidrasi bukan kondisi yang tidak dapat dicegah namun bila terjadi dan tertangani dengan baik maka kondisi yang tidak diinginkan bisa dihindari. Dehidrasi kerap kali menyebabkan kulit jadi tipis dan lebih cepat kelihatan berkerut. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dehidrasi pada kulit, yaitu dengan minum banyak cairan, normalnya disarankan untuk mengkonsumsi paling sedikit 8 gelas cairan sehari, minum minuman berenergi dapat mendorong orang-orang aktif, lebih banyak minum cairan karena kandungan rasa dan sodium tinggi di dalamnya, hindari minuman berkafein dan yang mengandung alkohol, keduanya sama-sama dapat menyebabkan dehidrasi, hindari minuman yang mengandung carbonat karena pembakaran bisa menyebabkan penggelembungan atau perasaan penuh dan mencegah pemenuhan konsumsi cairan, mengenakan pakaian berwarna terang, yang menyerap dan berukuran pas, usahakan berada di tempat yang sejuk, terlindungi dari matahari dan lindungi kulit dengan sunblock kapan saja selebihnya, menyadari dan mempersiapkan
21

adalah cara termudah untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Di hari yang panas, untuk orang yang sedang beraktivitas bisa mengalami dehidrasi hanya dalam waktu 15 menit. Jenis cairan kristaloid yang digunakan untuk rehidrasi tergantung dari jenis dehidrasinya. LI 3. Memahami dan menjelaskan makan dan minum dalam etika islam Adab-adab makan yang Rasulullah SAW ajarkan adalah : 1. Tidak mencela makanan yang tidak disukai. Abu Hurairah ra. berkata : Rasulullah SAW tidak pernah sedikit pun mencela makanan. Bila beliau berselera, beliau memakannya. Dan jika beliau tidak menyukainya, maka beliau meninggalkannya. (HR. Bukhari Muslim) Dari Jabir ra. bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada keluarganya (istrinya) tentang lauk pauk. Mereka menjawab : Kami hanya punya cuka. Lalu beliau memintanya dan makan dengannya, seraya bersabda : Sebaik-baik lauk pauk ialah cuka (al-khall), sebaik-baik lauk pauk adalah (yang mengandung) cuka. (HR. Muslim) Penelitian Dr. Masaru Emoto dari Jepang dalam bukunya The True Power of Water menemukan bahwa unsur air ternyata hidup. Air mampu merespon stimulus dari manusia berupa lisan maupun tulisan. Ketika diucapkan kalimat yang baik atau ditempelkan tulisan dengan kalimat positif, maka air tersebut akan membentuk struktur kristal yang indah dan bisa memiliki daya sembuh untuk berbagai penyakit. Sebaliknya, jika diucapkan maupun ditempelkan kalimat umpatan, celaan atau kalimat negatif lainnya, maka air tersebut akan membentuk struktur kristal yang jelek dan bisa berpengaruh negatif terhadap kesehatan. 2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang tertidur sedang di kedua tangannya terdapat bekas gajih/lemak (karena tidak dicuci) dan ketika bangun pagi ia menderita suatu penyakit, maka hendaklah dia tidak menyalahkan kecuali dirinya sendiri. 3. Membaca Basmalah dan Hamdalah. Rasulullah SAW bersabda : Jika seseorang di antara kamu hendak makan, maka sebutlah nama Allah SWT. Dan jika ia lupa menyebut nama-Nya pada awalnya, maka bacalah, Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan menyebut nama Allah SWT pada awalnya dan pada akhirnya). (HR. Abu Dawud) Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW tersenyum, beliau menjelaskan ketika seorang Muslim tidak membaca Basmalah sebelum makan, maka syaitan akan ikut makan dengannya. Namun, ketika Muslim tersebut teringat dan menyebut nama Allah SWT, maka syaitan pun langsung memuntahkan makanan yang sudah dimakannya. Rasulullah SAW juga bersabda : Sesungguhnya Allah SWT meridhai seorang hamba yang ketika makan suatu makanan lalu dia mengucapkan Alhamdulillah. Dan apabila dia minum suatu minuman maka dia pun mengucapkan Alhamdulillah. (HR. Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)
22

4. Makan menggunakan tangan kanan. Abdullah bin Umar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : Jika salah seorang diantaramu makan, maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya dan jika ia minum maka hendaklah minum dengan tangan kanannya. Sebab syaitan itu makan dan minum dengan tangan kirinya. (HR. Muslim) Kedua tangan manusia mengeluarkan tiga macam enzim, tetapi konsentrasi di tangan kanan lebih banyak daripada tangan kiri. Enzim tersebut sangat membantu dalam proses pencernaan makanan. 5. Tidak bersandar ketika makan. Rasulullah SAW bersabda : Aku tidak makan dengan posisi bersandar (muttaki-an). (HR. Bukhari) Muttaki-an ada yang menafsirkan duduk bersilang kaki dan ada pula yang menafsirkan bersandar kepada sesuatu, baik itu bersandar di atas salah satu tangan atau bersandar pada bantal. Ada pula yang menafsirkan bersandar pada sisi badan. Rasulullah SAW jika makan, tidak makan dengan menggunakan alas duduk seperti bantal duduk sebagaimana orang-orang yang ingin makan banyak dengan menu makanan yang variatif. Rasulullah SAW menjadikan makannya sebagai ibadah kepada Allah SWT. Karenanya beliau duduk tanpa alas dan mengambil makanan secukupnya. 6. Memakan makanan yang terdekat dahulu. Umar bin Abi Salamah ra. bercerita : Saat aku belia, aku pernah berada di kamar Rasulullah SAW dan kedua tanganku seringkali mengacak-acak piring-piring. Rasulullah SAW bersabda kepadaku, Nak, bacalah Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari makanan baik yang terdekat. (HR. Bukhari) 7. Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Dari Mikdam bin Madikarib ra. menyatakan pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : Tiada memenuhi anak Adam suatu tempat yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah untuk anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak ada cara lain, maka sepertiga (dari perutnya) untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minuman dan sepertiganya lagi untuk bernafas. (HR. Tirmidzi dan Hakim) 8. Menjilat tangan ketika makan tanpa sendok atau garpu. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Jika salah seorang diantaramu makan, maka hendaklah ia menjilati jari-jemarinya, sebab ia tidak mengetahui dari jemari mana munculnya keberkahan. (HR. Muslim) Dalam hadits riwayat Imam Muslim pula, Kaab bin Malik ra. memberikan kesaksian bahwa ia pernah melihat Rasulullah SAW makan dengan menggunakan tiga jarinya dan beliau menjilatinya selesai makan.
23

Penemuan kesehatan modern menunjukkan bahwa ketika kita makan dengan jari dan menjilati jari untuk membersihkannya, maka jari tersebut mengeluarkan enzim yang sangat membantu bagi kelancaran pencernaan. 9. Membuang kotoran dari makanan yang terjatuh lalu memakannya. Dari Anas bin Malik ra. berkata bahwa Rasulullah SAW sering makan dengan menjilati ketiga jarinya (Ibu jari, telunjuk dan jari tengah), seraya bersabda : Apabila ada makananmu yang terjatuh, maka buanglah kotorannya dan hendaklah ia memakannya serta tidak membiarkannya untuk syaitan. Dan beliau juga memerintahkan kami untuk menjilati piring seraya bersabda : Sesungguhnya kamu tidak mengetahui pada makanan yang mana adanya berkah itu. (HR. Muslim) Islam melarang hal-hal yang mubazir, termasuk dalam hal makanan. Seringkali kita menyaksikan orang yang mengambil makanan berlebihan sehingga tidak habis dimakan. Makanan yang mubazir itu akhirnya dibiarkan untuk syaitan, padahal bisa jadi sebenarnya pada makanan tersebut terdapat keberkahan. Oleh karena itu, ketika mengambil makanan harus berdasarkan perhitungan bahwa makanan tersebut akan habis dimakan. 10. Makan dan minum sambil duduk. Rasulullah SAW suatu ketika melarang seorang lelaki minum sambil berdiri. Berkata Qatadah : Bagaimana dengan makan? Rasul menjawab : Itu lebih buruk lagi. (HR. Muslim) 11. Tidak bernafas ketika minum dan menjauhkan mulut dari tempat minum ketika bernafas. Dari Abu Al-Mutsni Al-Jahni ra berkata, aku pernah berada di rumah Marwan bin Hakam, tibatiba datang kepadanya Abu Said ra. Marwan berkata kepadanya : Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah SAW melarang bernafas di tempat minum?. Abu Said menjawab : Ya. Ada seseorang pernah berkata kepada Rasulullah SAW, Aku tidak kenyang dengan air hanya satu kali nafas. Lalu Rasulullah SAW bersabda, Jauhkanlah tempat air (gelas) dari mulutmu, lalu bernafaslah! Orang itu berkata lagi, Sesungguhnya aku melihat ada kotoran pada tempat minum itu. Lalu Rasulullah SAW bersabda, Kalau begitu, tumpahkanlah! (HR. Abu Dawud) Dan juga dari Ibnu Abbas ra. berkata : Rasulullah SAW telah melarang untuk menghirup udara di dalam gelas (ketika minum) dan meniup di dalamnya. (HR. Tirmidzi) Rasulullah SAW melarang bernafas ketika minum. Apabila minum sambil bernafas, tubuh kita mengeluarkan CO2 (Karbondioksida), apabila bercampur dengan H2O (Air) dapat menjadi H2CO3 (Cuka) sehingga menyebabkan minuman menjadi acidic (Asam). Hal ini dapat terjadi juga ketika meniup air panas. Makanan dan minuman panas sebaiknya tidak didinginkan dengan ditiup, tapi cukup dikipas.

24

12. Tidak berprasangka buruk jika makan ditemani orang yang berpenyakit. Dari Jabir ra. bahwa Rasulullah SAW pernah memegang tangan orang yang majdzum (kusta), beliau meletakkan tangannya pada piring makan seraya bersabda : Makanlah, yakinlah kepada Allah SWT dan bertawakkallah. (HR. Abu Dawud) 13. Tidak duduk pada meja yang dihidangkan makanan haram. Dari Jabir ra. bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia tidak duduk pada meja makan yang padanya diedarkan minuman khamr. (HR. Imam Tirmidzi) 14. Mendoakan yang mengundang makan. Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah SAW pernah datang ke Saad bin Ubadah ra. yang menghidangkan roti dan mentega. Rasulullah SAW memakannya, lalu beliau bersabda : Telah berbuka di sisimu orang-orang yang berpuasa. Hidanganmu telah dimakan oleh orang-orang shalih (baik) dan malaikat pun mendoakan kebaikan untukmu. (HR. Ahmad dan Abu Dawud) 15. Menutup tempat makan dan minum. Dari Jabir ra. bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : Tutuplah tempat makanan dan tempat minuman! (HR. Bukhari Muslim) Menutup tempat makan dan minum sangat bermanfaat untuk menghindarkan makanan dari polusi udara, kotoran atau zat-zat berbahaya yang dapat masuk ke dalam makanan atau minuman yang tidak titutupi.

25

DAFTAR PUSTAKA Sawanharu (2010). Definisi Taberl Cairan. Diakses dari: http://www.scribd.com/doc/42713163/Definisi-taberl-cairan, 20 Februari 2013 09:23 pm Sasmiyanto (2012). Pemenuhan Kebutuhan Dasar Cairan dan Elektrolit. Diakses dari: http://www.slideshare.net/sasmiyanto/cairan-dan-elektrolit-13105216, 20 Februari 2013 09:35 pm Chris, Tony (2010). Komposisi Elektrolit Cairan Tubuh. Diakses dari: http://www.scribd.com/doc/40409708/Komposisi-Elektrolit-Cairan-Tubuh, 20 Februari 2013 09:45 pm Wirawan, I Made Cock (2009). Dehidrasi. Diakses dari: http://www.blogdokter.net/2009/06/20/dehidrasi/, 20 Februari 2013 10:05 pm Pertiwi, Dian (2011). Cairan Tubuh. Diakses dari:

http://sayaitudian.blogspot.com/2011/05/cairan-tubuh.html, 20 Februari 2013 10.15 pm Wahyuni, Sri (2009). Makalah GUS (Genitourinary System). Diakses dari: http://www.scribd.com/doc/20271597/makalah-GUS-genitourinary-system, 20 Februari 2013 10:25 pm Ramadan, Gilang, dkk (2011). Asuhan Keperawatan Gerontik dengan Gangguan Cairan dan Elektrolit. Diakses dari: http://nonamenino.blogspot.com/2012/03/asuhan-keperawatangerontik-dengan.html, 20 Februari 2013 10:40 pm Fauzie (2011). Makalah Dehidrasi. Diakses dari: http://fauziethenurse.wordpress.com/2011/05/21/makalah-dehidrasi/, 20 Februari 2013 10:50 pm Dira (2012). Klasifikasi Dehidrasi Versi WHO. Diakses dari: http://kridahusada.blogspot.com/2012/03/klasifikasi-dehidrasi-versi-who.html, 20 Februari 2013 11:27 am Xaxu (2012). Adab Makan dan Minum. Diakses dari: http://www.slideshare.net/xaxu/adabmakan-dan-minum-dalam-islam, 20 Februari 2013 11:31 am

26

Anda mungkin juga menyukai