Anda di halaman 1dari 26

Presentasi Kasus

SEORANG ANAK PEREMPUAN DENGAN PNEUMONIA

Oleh: Maulia Prismadani Mega Astriningrum G99112093/F-19-2013 G99112095/F-21-2013

Pembimbing: Ismiranti Andarini, dr., Sp.A, M. Kes.

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA 2013

HALAMAN PENGESAHAN Presentasi kasus ini disusun untuk memenuhi persyaratan kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret/RSUD DR Moewardi Surakarta. Presentasi kasus dengan judul : SEORANG ANAK PEREMPUAN DENGAN PNEUMONIA

Hari/tanggal

: Juni 2013

Oleh: Maulia Prismadani Mega Astriningrum G99112093/F-19-2013 G99112095/F-21-2013

Mengetahui dan menyetujui, Pembimbing Presentasi Kasus

Ismiranti Andarini, dr., Sp.A, M. Kes.

BAB I STATUS PASIEN I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Nama Ayah Pekerjaan Ayah Nama Ibu Pekerjaan Ibu Agama Alamat Tanggal Masuk : An. A : 2 bulan 7 hari : Perempuan : Tn. G : Buruh : Ny. S : Ibu Rumah Tangga : Islam : Baladan RT 03 RW 02 Gedong Karanganyar : 22 Juni 2013

Tanggal Pemeriksaan : 24 Juni 2013 II. ANAMNESIS Alloanamnesis diperoleh dari ibu kandung pasien tanggal 22 Juni 2013 A. Keluhan Utama B. Riwayat Penyakit Sekarang : Sesak napas :

Sejak + 1 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien batuk disertai dahak dan demam. Batuk terjadi hilang timbul sepanjang hari, tanpa disertai pilek dan demam dirasakan sumer-sumer. Selain itu pasien juga muntah saat pasien batuk, muntah sebanyak 2 kali + 1/4 gelas belimbing berupa susu dan dahak, dahak pasien berwarna kekuningan dengan konsistensi encer. Sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk dirasakan bertambah berat dan ngikil disertai dahak, tanpa disertai pilek. Selain itu, pasien juga mulai muncul sesak napas. Demam dirasakan juga semakin meningkat. Oleh ibu pasien diberikan obat sirup penurun

panas tetapi tidak kunjung membaik. Pasien masih mau minum tetapi berkurang dari sebelumnya, tersedak (-). Sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk dan sesak napas semakin bertambah berat, kemudian oleh orangtua pasien akhirnya dibawa ke dokter anak di karanganyar. Setelah dilakukan pemeriksaan, pasien langsung dirujuk ke RSUD Dr. Moewardi karena sesak napas yang bertambah berat. Saat masuk rumah sakit, pasien tampak lemah dan sesak. Saat di rumah dari pagi sampai siang ini pasien buang air besar sebanyak 4x konsistensi lembek, ampas >>, berwarna kuning, lendir (-), darah (-), nyemprot (-). BAK terakhir + 2 jam sebelum masuk rumah sakit, jumlah sedikit, berwarna kuning. C. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat alergi obat/makanan Riwayat mondok sebelumnya : disangkal : (+) ketika berumur 20 hari dan 32 hari karena sesak napas D. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat batuk pilek Riwayat alergi obat/makanan : disangkal : disangkal

E. Riwayat Kehamilan dan Prenatal Pemeriksaan rutin Frekuensi : oleh bidan di karanganyar : Trimester I : 1x/ bulan Trimester II : 2x/ bulan Trimester III : 3x/ bulan Tidak ada keluhan atau sakit selama kehamilan. Obat-obatan yang diminum selama kehamilan : vitamin dan pil penambah darah dari bidan.

F. Riwayat Kelahiran Pasien lahir di rumah sakit, lahir dengan sectio caesaria atas indikasi perdarahan, langsung menangis, gerak aktif, usia kehamilan 38 minggu, berat badan lahir 2850 gram, panjang badan ibu pasien tidak ingat. Riwayat ketuban pecah dini (-). G. Riwayat Postnatal Baru mendapatkan imunisasi 1x berupa hepatitis setelah lahir. H. Riwayat Imunisasi Status Imunisasi Jenis 0 I II III IV Hepatitis B 0 bulan Polio BCG DPT Campak Kesan : imunisasi tidak sesuai dengan jadwal DEPKES dan IDAI 2011 I. Riwayat Perkembangan a. Bahasa Bersuara aah/ooh b. Personal sosial Tersenyum : 2 bulan Kesan : perkembangan sesuai dengan umur J. Riwayat Nutrisi dan Kebiasaan Makan Anak Pasien mendapat ASI sejak lahir sampai sekarang. Minum ASI selama 20-30 menit setiap 3 jam sekali. Pasien juga mendapatkan susu formula sejak berusia 1 bulan, mendapat + 60 cc per hari. K. Riwayat Keluarga Berencana : Ibu pasien menggunakan program KB suntik.
5

: 2 bulan

L. Pohon Keluarga Generasi I

Generasi II

Generasi III An. A 2 bulan 7 hari III. PEMERIKSAAN FISIS a. Pemeriksaan Fisis KU VS : tampak lemah, tampak sesak compos mentis, gizi kesan baik : HR : 136x/menit, regular, isi tegangan cukup, simetris RR : 80x/menit, tipe thorakoabdominal t Kulit Kepala Mata Hidung Telinga Mulut Leher : 38,6C (per axiller) SiO2 : 91% : warna sawo matang, kelembaban baik, ujud kelainan kulit (-) : normocephal, lingkar kepala = 50cm, UUB belum menutup, rambut hitam tidak mudah rontok dan sukar dicabut. : reflek cahaya (+/+), pupil isokor (2mm/2mm), konjunctiva anemis (-/-), mata cekung (-/-), air mata (+/+) : nafas cuping hidung (+/+), sekret (-/-) : sekret (-/-) : sianosis (-), mukosa basah (+), uvula di tengah, tonsil T 1 T1, faring hiperemis (sde) : KGB tidak membesar

Thorax Pulmo

: normochest, retraksi (+) subcosta : I = pengembangan dada kanan sama dengan kiri P = fremitus raba dada kanan sama dengan kiri P = sonor/sonor A = SDV (+/+), ST (+/+), RBK (+/+), RBH (+/+), wheezing (-/-)

Cor

: I = ictus cordis tidak tampak P = ictus cordis tidak kuat angkat P = batas jantung kesan tidak melebar A = BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)

Abdomen : I = dinding perut sejajar dinding dada A = bising usus (+) normal P = timpani P = supel, nyeri tekan (-), hepar teraba + 2 cm bawah arcus costa dextra dan lien tidak teraba, turgor kembali cepat Ekstremitas: akral dingin edema

CRT < 2 detik Status Neurologi Kesadaran Reflek cahaya Pupil Isokor Meningeal sign o Kaku kuduk o Brudzinsky I o Brudzinsky II o Kernig Sign Reflek Fisiologis o R. Biceps : +2/+2
7

ADP teraba kuat

: compos mentis : +/+ : 2mm/2mm ::::-

o R. Triceps o R. Pattela o R. Achilles Refleks Patologis o R. Babinsky o R. Oppenheim o R. Chaddock o R. Gordon Kekuatan Motorik :

: +2/+2 : +2/+2 : +2/+2 : -/: -/: -/: -/: +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5

b. Pemeriksaan Status Gizi Secara Antropometris - Umur - Berat badan : 2 bulan 7 hari : 3100 gram

- Panjang badan : 53 cm - Lingkar Kepala : 40 cm Berdasarkan Tabel Z-score WHO 2005, didapatkan BB/U = < -3 SD PB/U = < -3 SD BB/PB = -3 SD < BB/PB < -2 SD Kesan gizi kurang dengan severe stunted secara antropometris

c. Pemeriksaan Penunjang

1) Pemeriksaan Laboratorium tanggal 22 juni 2013

2) Pemeriksaan Radiologi tanggal 22 Juni 2013

Kesan: Pneumonia IV. RESUME Anamnesis: Anak perempuan usia 2 bulan 7 hari datang dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Sejak + 1 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien batuk berdahak tanpa disertai pilek dan demam sumer-sumer. Selain itu pasien juga muntah saat pasien batuk, muntah sebanyak 2 kali + 1/4 gelas belimbing berupa susu dan dahak, dahak pasien berwarna kekuningan dengan konsistensi encer. Sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk dirasakan bertambah berat dan ngikil disertai dahak dan mulai muncul sesak napas. Demam dirasakan juga semakin meningkat. Oleh ibu pasien diberikan obat sirup penurun panas tetapi tidak kunjung membaik. Pasien masih mau minum tetapi berkurang dari sebelumnya, tersedak (-).

10

Sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk dan sesak napas semakin bertambah berat, oleh orangtua pasien akhirnya dibawa ke dokter anak di karanganyar kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Moewardi karena sesak napas yang bertambah berat. Saat masuk rumah sakit, pasien tampak lemah dan sesak. Saat di rumah dari pagi sampai siang ini pasien buang air besar sebanyak 4x konsistensi lembek, ampas >>, berwarna kuning, lendir (-), darah (-), nyemprot (-). BAK terakhir + 2 jam sebelum masuk rumah sakit, jumlah sedikit, berwarna kuning. Kemudian pasien dibawa ke RSDM. Pemeriksaan fisik: Keadaan umum tampak lemah, kompos mentis, gizi baik (antropometri), suhu 38,6C. Napas cuping hidung (+), retraksi (+) subcosta, pada auskultasi pulmo didapatkan RBK (+/+) dan RBH (+/+). Pemeriksaan penunjang Hb, Ht, AL, AT, dan AE dalam batas normal. V. DAFTAR MASALAH 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. antropometris VI. DIAGNOSIS BANDING 1. Pneumonia 2. Bronkiolitis Sesak napas Batuk disertai dahak Demam Nafsu makan turun Napas cuping hidung Retraksi subcosta Auskultasi pulmo didapatkan RBK dan RBH Gizi kurang dengan severe stunted secara

11

VII.

DIAGNOSIS KERJA 1. Pneumonia 2. Gizi kurang (antropometri)

VIII.

PENATALAKSANAAN a. O2 head box 5 lpm b. Diet ASI/ASB 8x 10-15 cc via NGT (naik bertahap) c. Infus D1/4S 10cc/jam = 10 tpm mikro d. Injeksi Ampicillin 80 mg/6 jam IV e. Injeksi Chloramphenicol 80 mg/ 6 jam IV f. Parasetamol 3 x 36 mg (1,5 cc) per oral

IX.

PLANNING A. Penegakkan Diagnosis Analisis Gas Darah Foto Rontgen Thorax B. Monitoring 1. Keadaan umum dan tanda vital tiap 4 jam. 2. Balance cairan dan diuresis tiap 8 jam. C. Edukasi 1. Edukasi pasien dan keluarga tentang penyakit, kondisi pasien saat ini dan terapinya. 2. Pertahankan intake makanan minuman. 3. Kompres hangat bila demam.

X.

PROGNOSIS Ad vitam Ad sanam Ad fungsionam : dubia : dubia : dubia

12

FOLLOW UP PASIEN
Follow up S 23 Juni 2013 Batuk (+), sesak (+) demam (+) minum (+) muntah (-) BAK (+) warna kuning 24 Juni 2013 Batuk (+) berkurang, sesak (+) berkurang demam (+) minum (+) muntah (-) BAK kuning BAB (+) 1x, lembek, warna O Tampak lemah, tampak sesak, apatis, gizi kurang Tanda Vital HR : 180 x/menit RR : 32 x/menit S : 38oC (per axiler) Kepala Mata Normocephal reflek cahaya (+/+), pupil isokor (2mm/2mm), konjunctiva anemis (-/-) Hidung napas cuping hidung (+/+), sekret (-/-) Mulut sianosis (-), mukosa basah (+), pharynx hiperemis (-), tonsil Thorax T1-T1 hiperemis (-/-) retraksi (+) subcostal Cor : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-) Pulmo: SDV (+/+), ST (+/+), RBK (+/+), RBH (+/+) kuning Tampak lemah, compos Tampak lemah, compos (+) banyak, warna 25 Juni 2013 Batuk (+) berkurang, sesak (+) berkurang demam (+) kembung (+) muntah (-) BAK (+)warna kuning BAB (-)

mentis, gizi kurang HR : 162 x/menit RR : 40 x/menit S : 38,5oC (per axiler) Normocephal reflek cahaya (+/+), pupil isokor (2mm/2mm), konjunctiva anemis (-/-) napas cuping hidung (+/+), sekret (-/-) sianosis (-), mukosa basah (+), pharynx hiperemis (-), tonsil T1-T1 hiperemis (-/-) retraksi (+) subcostal Cor : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-) Pulmo: SDV (+/+), ST (+/+), RBK (+/+), RBH (+/+)

mentis, gizi kurang HR : 132 x/menit RR : 44 x/menit S : 39,1oC (per axiler) Normocephal reflek cahaya (+/+), pupil isokor (2mm/2mm), konjunctiva anemis (-/-) napas cuping hidung (+/+), sekret (-/-) sianosis (-), mukosa basah (+), pharynx hiperemis (-), tonsil T1-T1 hiperemis (-/-) retraksi (+) subcostal dan intercostal Cor : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-) Pulmo: SDV (+/+), ST (+/+), RBK (+/+), RBH (+/+)

13

Abdomen

dinding perut // dinding dada, BU (+) meningkat, timpani, supel, NT (-), hepar teraba 2 cm BACD, lien tidak teraba, turgor kembali cepat

dinding perut // dinding dada, BU (+) meningkat, timpani, supel, NT (-), hepar teraba 2 cm BACD, lien tidak teraba, turgor kembali cepat Akral dingin (-) Edema (-) CRT < 2 detik A. dorsalis pedis kuat

dinding perut > dinding dada, BU (+) meningkat, timpani, supel, NT (-), hepar teraba 2 cm BACD, lien tidak teraba, turgor kembali cepat Akral dingin (-) Edema (-) CRT < 2 detik A. dorsalis pedis kuat Urinalisis: warna clear, yellow, BJ: kejernihan 7, 1.010, pH:

Ekstremitas

Akral dingin (-) Edema (-) CRT < 2 detik A. dorsalis pedis kuat

Hasil Pemeriksaan Penunjang

leukosit (-), nitrit (-), protein 75, Glukosa 50, keton (-), urobilinogen (N), bilirubin (-), eritrosit (+): 1-2/LPB, leukosit (+) 3-4/LPB, epitel squamous 1-2/LPB, silinder: 0/LPK, hyline: 0/LPK, Granulated: 01/LPK, lain-lain: kristal amorf (+), bakteri (+) Feses rutin makros: warna kuning, konsistensi lunak, lendir (-), pus (-), darah (-), cacing (-); mikros: sel epitel (-), eritrosit (-), leukosit (-), protozoa (-), telur cacing (-), kuman (+) Simpulan: Tinja lunak warna kuning, tidak ditemukan parasit dan jamur patogen Asessment 1. Pneumonia 2. Gizi kurang Terapi 1. O2 head box 5 lpm 2. Diet ASI/ASB 8x 10-15 cc via NGT (naik bertahap) 1. Pneumonia 2. Gizi kurang 1.O2 head box 5 lpm 2.Diet ASI/ASB 8x 20-30 cc via NGT (naik bertahap) 1. Pneumonia 2. Gizi kurang 1. O2 head box 5 lpm 2. Diet ASI/ASB 8x 10-15 cc via NGT (naik bertahap)

14

3. Infus D1/4S 10 tpm mikro 4. Injeksi ampicillin 80 mg/ 6 jam IV 5. Injeksi chloramphenicol 80 mg/ 6 jam IV 6. Paracetamol 3 x 36 mg (1,5 cc) per oral, bila perlu 7. Nebulizer NaCl 0,9% 3 cc/ 8 jam Plan Monitoring Edukasi - KU/VS/SiO2 tiap 4 jam - BCD tiap 8 jam Pertahankan intake makan dan minum Kompres hangat bila masih demam

3.Infus D1/4S 10 tpm mikro 4.Injeksi ampicillin 100 mg/ 6 jam IV 5.Injeksi chloramphenicol 100 mg/ 8 jam IV 6.Paracetamol 3 x 36 mg (1,5 cc) per oral, bila perlu 7.Nebulizer NaCl 0,9% 3 cc/ 8 jam Urin dan feses rutin - KU/VS/SiO2 tiap 4 jam - BCD tiap 8 jam Pertahankan intake makan dan minum Kompres hangat bila masih demam

3. Infus D1/4S 10 tpm mikro 4. Injeksi ampicillin 100 mg/ 6 jam IV 5. Injeksi chloramphenicol 100 mg/ 8 jam IV 6. Paracetamol 3 x 36 mg (1,5 cc) per oral, bila perlu 7. Nebulizer NaCl 0,9% 3 cc/ 8 jam Kultur darah - KU/VS/SiO2 tiap 4 jam - BCD tiap 8 jam Pertahankan intake makan dan minum Kompres hangat bila masih demam

15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru. Walaupun banyak pihak yang sependapat bahwa pneumonia adalah suatu keadaan inflamasi, namun sangat sulit untuk merumuskan suatu definisi tunggal yang universal. Sehingga dapat dirumuskan bahwa pneumonia merupakan penyakit klinis, yang berdasarkan gejala dan tanda klinis, serta perjalanan penyakitnya (Rahajoe dkk., 2012) . Menurut anatomis, pneumonia pada anak dibedakan menjadi 3 yaitu pneumonia lobaris, pneumonia lobularis (bronchopneumonia), pneumonia interstisialis. Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme (virus/bakteri) dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain seperti aspirasi dan radiasi. Di negara berkembang, pneumonia pada anak terutama disebabkan oleh bakteri. Bakteri yang sering menyebabkan pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Staphylococcus aureus (Rahajoe dkk., 2012). B. Epidemiologi Infeksi pneumonia dapat dijumpai di seluruh dunia dan bersifat endemik. Prevalensi kasus yang paling banyak dijumpai biasanya pada musim panas sampai ke awal musim gugur yang dapat berlangsung satu sampai dua tahun. Infeksi tersebar luas dan satu orang ke orang lain dengan percikan air liur (droplet) sewaktu batuk, oleh sebab itu pneumonia lebih mudah menyebar pada populasi padat (Lubis, 2005). Menurut Riskedas tahun 2007, pneumonia merupakan penyakit penyebab kematian kedua setelah diare diantara balita. Hal ini menunjukkan bahwa pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian balita di Indonesia (Susi Ginting. Depkes.go.id. Akses 26 Juni 2013).

16

Gambar 1. Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 1-4 Tahun Indonesia (Susi Ginting. Depkes.go.id. Akses 26 Juni 2013). C. Klasifikasi Klasifikasi Infeksi Saluran Nafas Akut (ISPA) dalam program penanggulangan penyakit ISPA juga dibedakan untuk golongan umur kurang dari 2 bulan dan golongan umur balita 2 bulan 5 tahun (Said, 2010) : 1. Golongan umur kurang dari 2 bulan ada 2 klasifikasi yaitu: a. Pneumonia Berat. Anak dengan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam atau nafas cepat (60 kali per menit atau lebih). Tarikan dinding dada kedalam terjadi bila paru-paru menjadi kaku dan mengakibatkan perlunya tenaga untuk menarik nafas. Anak dengan tarikan dinding dada ke dalam, mempunyai resiko meninggal yang lebih besar dibanding dengan anak yang hanya menderita pernafasan cepat. Penderita pneumonia berat juga mungkin disertai tanda-tanda lain seperti : 1) Napas cuping hidung, hidung kembang kempis waktu bernafas. 2) Suara rintihan 3) Sianosis (kulit kebiru-biruan karena kekurangan oksigen). 4) Wheezing yang baru pertama dialami.

17

b. Bukan Pneumonia Bila tidak ditemukan adanya tarikan kuat ke dalam dinding dada bagian bawah atau nafas cepat yaitu < 60 kali per menit (batuk, pilek, biasa). Tanda bahaya untuk golongan umur kurang dari 2 bulan ini adalah : kurang bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing, gizi buruk, demam/dingin. 2. Golongan umur 2 bulan 5 tahun ada 3 klasifikasi, yaitu : a. Pneumonia berat, bila disertai nafas sesak dengan adanya tarikan dada bagian bawah ke dalam waktu anak menarik nafas, dengan catatan anak harus dalam keadaan tenang, tidak menangis dan meronta. b. Pneumonia, bila hanya disertai nafas cepat dengan batasan : 1) Untuk usia 2 bulan kurang 12 bulan = 50 kali per menit. 2) Untuk usia 1 tahun 5 tahun = 40 kali per menit atau lebih. c. Bukan pneumonia, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah kedalam atau nafas cepat (batuk pilek biasa). Tanda bahaya untuk golongan umur 2 bulan 5 tahun adalah : tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing dan gizi buruk. D. Patogenesis Terjadinya kuman yang masuk bersama sekret bronkus ke dalam alveolus menyebabkan reaksi radang berupa sembab seluruh alveoli yang terkena disusul dengan infiltrasi sel-sel radang. Sebagai awal pertahanan tubuh, terjadi fagositosis kuman penyakit oleh sel-sel radang melalui proses psedopi sitoplasmik yang mengelilingi dan memakan bakteri tersebut (Mukty dan Alsagaff, 2010). Pada waktu terjadi proses infeksi, akan tampak empat zona pada daerah keradangan tersebut, yaitu : 1. Zona luar Alveoli yang terisi kuman pneumokokus (streptococcus pneumonia) dan cairan sembab.

18

2. Zona permukaan konsolidasi Terdiri dari PMN dan beberapa eksudasi sel darah merah 3. Zona konsolidasi yang luas Daerah terjadinya fagositosis yang aktif dengan jumlah PMN yang banyak. 4. Zona resolusi 5. Daerah terjadinya resolusi dengan banyak bakteri yang mati, leukosit dan makrofag alveolar. (Mukty dan Alsagaff, 2010)

Gambar 2. Host defenses dan air-exchange surface saluran pernapasan (Ami, 1999).

19

E. Manifestasi klinis Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat-ringannya infeksi, secara umum gambaran klinis pneumonia sebagai berikut (Said, 2010): a. Gejala infeksi umum, yaitu demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan nafsu makan, keluhan Gastro Intestinal Tarcktus (GIT) seperti mual, muntah atau diare: kadang-kadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner. b. Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk, sesak napas, retraksi dada, takipnea, napas cuping hidung, air hunger, merintih, dan sianosis. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda klinis seperti pekak perkusi, suara napas melemah, dan ronki, akan tetapi pada neonatus dan bayi kecil, gejala dan tanda pneumonia lebih beragam dan tidak selalu jelas terlihat. Pada perkusi dan auskultasi paru umumnya tidak ditemukan kelainan. F. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan darah menunjukkan leukositosis dengan predomeran PMN dapat ditemukan leukopenia yang mengarah pada prognosis buruk dengan anemia ringan. Pemeriksaan radiologis memberi gambaran bervariasi : 1. Bercak konsolidasi merata pada bronkopneumonia 2. Bercak konsolidasi satu lobus pada pneumonia loans Pemeriksaan (Mansjoer, dkk., 2000) G. Tatalaksana Manajemen pneumonia pada anak berdasarkan usianya dibagi menjadi 2, yaitu usia dibawah 2 bulan dan diatas 2 bulan (Dadiyanto, 2012). mikrobiologi/spesimen usap tenggorok, sekresi nasofaring, bilasan bronkus, atau sputum, darah, aspirasi trakea, atau fungi.

20

Manajemen pneumonia anak dibawah 2 bulan

Gambar 3. Manajemen pneumonia pada anak usia 2 bulan (Dadiyanto, 2012).

21

Manajemen pneumonia anak diatas 2 bulan

Gambar 4. Manajemen pneumonia pada anak usia > 2 bulan (Dadiyanto, 2012). Terapi Umum Pneumonia 1. Pemberian Oksigen secara kanula nasal,head boxatau masker, untuk mempertahankan saturasi O2diatas 92% (rekomendasi A) 2. Bila memerlukan infus, jumlah cairan yang diberikan 80% dari kebutuhan, dan monitor elektrolit untuk SIADH (rekomendasi C) 3. Antibiotik : a. umur < 2 bulan kombinasi golongan penisilin (ampisilin atau amoksisilin) dengan golongan aminoglikosid b. umur > 2 bulan kombinasi golongan penisilin dengan kloramfenikol atau antibiotika golongan sefalosporin c. lama pemberian 10-14 hari

22

d. evaluasi pemberian antibiotika dilakukan 48-72 jam 4. Anti piretik dan analgesik diberikan bila perlu 5. Chest physiotherapy tidak terlihat manfaatnya (rekomendasi B) 6. Minimal handling untuk mengurangi metabolisme dan kebutuhan oksigen 7. Monitor HR,Suhu RR dan saturasi oksigen paling tidak tiap 4 jam (rekomendasi D). (Dadiyanto, 2012)

23

BAB III ANALISIS KASUS Anak perempuan usia 2 bulan 7 hari yang didiagnosis dengan pneumonia, berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan: A. Anamnesis Anak perempuan usia 2 bulan 7 hari datang dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Sejak + 1 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien batuk berdahak tanpa disertai pilek dan demam sumer-sumer. Selain itu pasien juga muntah saat pasien batuk, muntah sebanyak 2 kali + 1/4 gelas belimbing berupa susu dan dahak, dahak pasien berwarna kekuningan dengan konsistensi encer. Sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk dirasakan bertambah berat dan ngikil disertai dahak dan mulai muncul sesak napas. Demam dirasakan juga semakin meningkat. Oleh ibu pasien diberikan obat sirup penurun panas tetapi tidak kunjung membaik. Pasien masih mau minum tetapi berkurang dari sebelumnya, tersedak (-). Sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk dan sesak napas semakin bertambah berat, oleh orangtua pasien akhirnya dibawa ke dokter anak di karanganyar kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Moewardi karena sesak napas yang bertambah berat. Saat masuk rumah sakit, pasien tampak lemah dan sesak. Riwayat penyakit dahulu pasien pernah mondok 2x saat usia 20 hari dan 32 hari karena sesak napas. B. Pemeriksaan Fisik 1. Kesadaran : tampak lemah, compos mentis 2. Tanda vital HR RR to SiO2 : 136x/menit, regular, isi tegangan cukup, simetris : 80x/menit, tipe thorakoabdominal : 38,6C (per axiller) : 91%

24

3. Didapatkan napas cuping hidung. 4. Pulmo Inspeksi Palpasi Perkusi : pengembangan dada kanan sama dengan kiri : fremitus raba dada kanan sama dengan kiri :sonor/sonor

Auskultasi : SDV (+/+), ST (+/+), RBK (+/+), RBH (+/+), wheezing (-/-) C. Pemeriksaan Penunjang Hasil pemeriksaan penunjang laboratorium darah didapatkan Hb, Ht, AL, AT, dan AE dalam batas normal. Sedangkan untuk pemeriksaan radiologi didapatkan kesan pneumonia Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang pada pasien ini menyokong ke arah pneumonia. Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini merujuk pada rekomendasi UKK Respirologi yaitu pasien berusia > 2 bulan lini pertama berupa ampicillin bila dalam 3 hari tidak membaik dapat ditambahkan chloramphenicol. Dosis pemberian ampicillin adalah 100mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 dosis yang diberikan setiap 6 jam. Dosis pemberian chloramphenicol adalah 100mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 dosis yang diberikan setiap 6 jam. Kemudian diberikan oksigen head box 5 lpm untuk mencukupi kebutuhan oksigen akibat sesak napas yang dialami oleh pasien. Karena pasien mengalami demam, pasien diberikan paracetamol sirup dengan dosis 10-15 mg/kgBB diberikan sebanyak 3x dalam sehari.

25

DAFTAR PUSTAKA Ami, Ben. 1999. Bacterial Pneumonia in Neonates and Older Children. In : Taussig LM, Landau LI. Buku Pediatric Respiratory Medicine. Saint Louis : Mosby. Dadiyanto, Dwi. 2012. Tatalaksana Pneumonia pada Anak. Pediatrica Indonesiana Vol. 51. Depkes RI. 2010. Buletin Pneumonia. Dibuka :

http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/BULETIN %20PNEUMONIA.pdf. / 2013 / 06/ 26. Lubis, Helmi. 2005. Pneumonia Mikoplasma. Medan : Universitas Sumatera Utara. Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Fakultas Kedokteran Indonesia Mukty Abdul, H dan Alsagaff Hood. 2010. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Erlangga. Rahajoe, Nastiti dkk. 2012. Buku Ajar Respirologi Anak. Jakarta : Sagung Seto. Said M UI. 2010. Pneumonia. In : Rahajoe N.N., Supriyatno B.,

Setyanto D.B. (eds). Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi I. Jakarta : FK

26