Anda di halaman 1dari 4

TEORI Maserasi merupakan proses penyarian yang paling sederhana dan banyak digunakan untuk menyari bahan obat

yang berupa serbuk simplisia halus (Voight,1994). Teknik penyarian dengan metode maserasi dilakukan dengan merendam simplisia dengan cairan penyari tertentu. Karena perbedaaan konsentrasi di luar dan di dalam sel, cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam dan di luar sel, maka larutan yang pekat didesak keluar. Peristiwa ini terjadi berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel (Depkes RI, 1986). Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang larut dalam cairan penyari dan tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari (Depkes RI, 1986). Cairan penyari yang biasa digunakan untuk maserasi adalah pelarut yang bersifat non polar, semipolar dan polar. Pemilihan cairan penyari harus mempertimbangkan bentuk dan faktor cairan penyari yang baik. Penyari harus memenuhi kriteria, yaitu murah dan mudah diperoleh, stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar, selektif (hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki) dan tidak mempengaruhi zat berkhasiat (Depkes RI, 1986). Pada maserasi, sejauh mungkin dihindari penggunaan logam berat tanpa lapisan karena dapat membentuk senyawa kompleks dengan kandungan kimia tanaman yang mempunyai gugus ortohidroksi atau hidroksikarbonil dalam molekulnya, misalnya flavonoid, antosianin, tanin dan senyawa fenol lain (Depkes RI, 1986). Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian cara maserasi adalah pengerjaan yang lama dan penyariannya kurang sempurna (Depkes RI, 1986). Proses maserasi selesai bila keseimbangan antara bahan yang diekstraksi pada bagian dalam sel dengan yang masuk ke dalam cairan telah tercapai maka proses difusi segera berakhir. Semakin besar perbandingan simplisia terhadap cairan pengekstraksi akan semakin banyak hasil yang diperoleh (Voight, 1994). Pada penyarian dengan maserasi perlu dilakukan pengadukan untuk meratakan konsentrasi larutan di luar butir serbuk simplisia sehingga dengan pengadukan tersebut tetap

terjaga adanya derajat perbedaaan konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara larutan di dalam sel dengan di luar sel (Depkes RI, 1986).

PROSEDUR 500 gram rimpang kunyit dimasukkan ke dalam blender agar menjadi serbuk. Kemudian dimasukkan ke dalam maserator yang sudah dilapisi dengan kapas yang telah dibasahi dengan etanol sebelumnya. Rimpang kunyit yang telah diblender dimasukkan ke dalam maserator dan ditambahkan etanol 96% sambil diaduk. Didiamkan selama 3x24 jam dan pelarutnya diganti setiap 24 jam. Ekstrak cair yang diperoleh ditampung di dalam botol. Volume ekstrak cair yang diperoleh diukur dan kemudian dipekatkan dengan rotavapor sehingga diperoleh ekstrak kental.

DATA PENGAMATAN a) Ekstraksi Metabolit Sekunder - Simplisia - Metode ekstraksi - Parameter Ekstrak : Curcuma domestica rhizom : Maserasi :

1. Organoleptik Ekstrak Bentuk Warna Bau Rasa : Cair : Kuning-orange : Khas kunyit : Tidak berasa

2. Rendemen Ekstrak Volume ekstrak kental Berat cawan kosong Berat cawan + ekstrak Berat cawan + ekstrak (setelah penguapan) Berat simplisia awal Rendemen ekstrak : 55,8 ml : 107,81 g : 159,43 g : 154,73 g : 500 g : 9,384 %

PEMBAHASAN Pada praktikum ini dilakukan proses pemisahan dan identifikasi senyawa kurkumin pada serbuk simplisia Curcumae domesticae Rhizoma. Proses pemisahan ini

dilakukan dengan menggunakan tiga metode, yaitu maserasi, ekstraksi cair-cair, kromatografi lapis tipis (KLT) dan KLT preparatif. Metode pertama yaitu maserasi dimana cara penyariannya yang sederhana dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Pada proses maserasi ini, penyari yang digunakan adalah etanol karena kurkumin yang bersifat non polar dapat larut dalam etanol. Hal ini dapat terjadi karena etanol memiliki sifat yang cenderung non polar jika dibandingkan dengan air (H2O). Etanol (C2H5OH) memiliki dua gugus berbeda, yaitu gugus hidroksi (OH) yang bersifat polar dan gugus alkana (C2H5) yang cenderung bersifat non polar yang dapat melarutkan kurkumin. Proses pertama saat maserasi yaitu serbuk kunyit ditimbang 500 gram lalu ditambahkan etanol 96% sebanyak 1,2 L kemudian dimasukkan ke dalam maserator di tempat yang terlindung dari cahaya. Hal ini perlu dilakukan agar kurkumin tidak mengalami penguraian akibat kontak dengan cahaya. Sebelumnya maserator telah dilapisi dengan kapas yang dibasahi dengan pelarut etanol sebelumnya. Kapas tersebut berfungsi sebagai penyaring maserat dari serbuk simplisia yang terendam. Kapas harus dibasahi terlebih dahulu dengan etanol untuk mengkondisikan kapas agar

mempermudah dan mempercepat proses penyaringan setelah perendaman. Jika tidak dilakukan penjenuhan terlebih dahulu, maka larutan simplisia yang akan disaring akan menjenuhkan kapas terlebih dahulu, akibatnya akan memperlambat proses penyaringan. Cairan penyari yaitu etanol 96% akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung analit, analit akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan berisi analit di dalam sel dengan yang diluar sel, maka larutan yang lebih pekat akan terdesak keluar. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang hingga terjadi kesetimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Serbuk simplisia direndam selama 3 hari dengan pengadukan berulang sekali sehari. Perendaman dilakukan agar zat pengotor dapat mengendap sedangkan dilakukan pengadukan tujuannya untuk meratakan konsentrasi di luar butir-butir serbuk simplisia dan menjaga perbedaan konsentrasi sekecil-kecilnya antara larutan di dalam sel dan di luar sel. Pada hari pertama setelah perendaman, katup maserator dibuka dan diperoleh ekstrak cair sebanyak 600 mL. Kemudian ditambahkan lagi 1 liter etanol 96 % dan didiamkan selama 24 jam. Keesokan harinya katup maserator dibuka dan maserat ditampung dalam botol dan diperoleh total ekstrak cair yang diperoleh dengan hari pertama perendaman sebanyak 1350 mL. Ekstrak cair yang diperoleh berwarna kuningorange dengan bau kunyit yang khas.

Kemudian ekstrak cair yang diperoleh tersebut dipekatkan dengan rotavapor sampai ekstrak menjadi kental. Vaccuum Rotary Evaporator adalah alat yang berfungsi untuk memisahkan suatu larutan dari pelarutnya sehingga dihasilkan ekstrak dengan kandungan kimia tertentu sesuai yang diinginkan. Cairan yang ingin diuapkan biasanya ditempatkan dalam suatu labu yang kemudian dipanaskan dengan bantuan penangas, dan diputar. Uap cairan yang dihasilkan didinginkan oleh suatu pendingin (kondensor) dan ditampung pada suatu tempat (receiver flask). Evaporasi yaitu proses pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat. Ekstrak kental yang diperoleh dari total 1350 mL ekstrak cair adalah 55,8 mL atau sama dengan 51,62 gram diletakkan pada cawan penguap yang telah diukur massanya. Ekstrak kental tersebut diuapkan di atas water bath dan setelah penguapan diperoleh total ekstrak kental sebanyak 46,92 gram. Penguapan bertujuan untuk menguapkan pelarut etanol yang mungkin masih terdapat dalam ekstrak kental. Setelah menjadi ekstrak kental, prosedur selanjutnya adalah pemeriksaan parameter ekstrak untuk mengetahui kualitas ekstrak dilihat dari sifat fisik dan kandungan kimianya. Parameter yang diperiksa adalah organoleptik ekstrak, randemen ekstrak, bobot jenis ekstrak, kadar air ekstrak, pola kromatografi lapis tipis, dan pola dinamolisis. DAFTAR PUSTAKA Voight, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Edisi Kelima. Yogyakarta : Penerbit Gadjah Mada University Press. Depkes RI. 1986. Sedian Galenik. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.