Anda di halaman 1dari 17

HIPERPROLAKTINEMIA

Oleh : ISKANDAR MUSGAMY

SUB BAGIAN FERTILITAS ENDOKRIN DAN REPRODUKSI BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013
1

HIPERPROLAKTINEMIA

Penyebab

tersering

terjadinya

amenore

sekunder

adalah

hiperprolaktinemia yakni sekitar 18,8 %. Hiperprolaktinemia merupakan keadaan dimana prolaktin meningkat secara abnormal (kadar normal prolaktin adalah 1028 g/L). Sekitar 0,4- 10 % hiperprolaktinemia terjadi pada orang normal, 9-15 % menyebabkan oligominore dan amenore sekunder, galaktore 25%, dan sekitar 43-70% mengalami amenore dan galaktore. Berbagai keadaan dapat

menyebabkan peningkatan ringan konsentrasi prolakatin serum, seperti stress, dan stimulasi payudara.1,2 Prolaktin merupakan hormon polipeptida yang terdiri dari 199 asam amino dengan berat molekul 23 kD.2 Rantai polipeptida prolaktin dihubungkan oleh dua jembatan disulfida. Pembentukan prolaktin dikode oleh gen yang terletak pada kromosom 6 p22.2, p21.3. Pit-1 merupakan faktor transkripsi yang berikatan dengan gen prolaktin sehingga memicu produksi prolaktin di hipofisis anterior.3 Struktur prolaktin menyerupai hormon pertumbuhan dan hormon plasenta laktogen.

Gambar 1. Struktur prolaktin

Prolaktin merupakan hasil produksi utama kelenjar hipofisis yang disintesa dan disekresi oleh sel-sel laktotrof dari kelenjar hipofisis anterior.1-7 Prolaktin juga dihasilkan di luar hipofisis, yaitu oleh kelenjar mammae, plasenta, uterus dan limfosit T.7 Pada kehamilan, prolaktin juga disekresi oleh sel stroma endometrium desidualis.4 Fungsi utama prolaktin adalah untuk memicu perkembangan payudara saat hamil serta merangsang dan mempertahankan proses laktasi.2,8 Secara tidak langsung prolaktin turut mengatur sekresi hormon hipofisis yang berperan pada fungsi gonad, termasuk luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH).9 Hal ini adalah karena prolaktin dapat berikatan dengan reseptor spesifik di gonad selain dari sel limfoid, dan hepar. 2, 9-11 Sekresi prolaktin bersifat pulsatil, dalam 24 jam terjadi 40 kali pengeluaran.1,9 Prolaktin akan meningkat pada saat tidur, stress, kehamilan, dan saat dilakukan stimulasi pada dinding dada. Nilai prolaktin puasa normal umumnya adalah kurang dari 30 ng/mL.2 Hormon prolaktin dikatakan berhubungan dengan hormon pertumbuhan karena susunan asam aminonya mirip dengan hormone pertumbuhan dan laktogen plasenta. Hormon-hormon ini mempunyai persamaan genom, struktur dan ciri biologi protein.4,7,11 Prolaktin merupakan hormon hipofisis yang unik, hal ini karena regulasi oleh hipotalamus adalah melalui kontrol inhibitorik oleh dopamin hipotalamus. Tidak seperti hormon hipofisis anterior lainnya, pengaruh hipotalamus dominan adalah berupa inhibitori tonik. Hipotalamus mensekresi prolactin-releaseinhibiting factor (PIF) dan prolactin-releasing factor (PRF) yang mengatur keseimbangan prolaktin dalam darah. Jika keseimbangan ini terganggu, maka terjadilah hiperprolaktinemia yang seringkali ditemukan sebagai bagian dari permasalahan endokrinologi, obstetric dan ginekologi.3,4,7,8

HIPERPROLAKTINEMIA ETIOLOGI Banyak penyebab hiperprolaktinemia yang perlu dipertimbangkan sebelum mendiagnosa hiperprolaktinemia sebagai suatu gangguan hipofisis. Penyebab tersering hiperprolaktinemia adalah kehamilan, hipotiroidisme, pemakaian obat antagonis dopamin (termasuk fenotiazin dan metoklopramid). Hiperprolaktinemia juga merupakan manifestasi utama dari sindrom ovarium polikistik. Penyebab tersering hiperprolaktinemia yang berasal dari hipofisis adalah mikroadenoma dan hiperprolaktinemia idiopatik.4 Penyebab terjadinya hiperprolaktinemia adalah : 1. Gangguan pada hypothalamus, misalnya hipotiroid primer, dan

insufisiensi adrenal. Mekanisme terjadinya hiperprolaktinemia dalam hal ini adalah oleh karena terjadinya peningkatan thyrotropin releasing hormone (TRH) di hipotalamus dan penurunan metabolismenya.3,5 Tiroksin mempunyai efek hambatan terhadap sekresi prolaktin.

Kekurangan hormone tiroid (hipotiroid), khususnya hipotiroid primer menyebabkan kadar TRH endogen dan TSH meningkat. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya kepekaan hipofisis pada keadaan hipotiroid. TRH merangsang laktotrof untuk mensintesis prolaktin yang berlebihan, sedangkan biosintesis Prolaktin Inhibiting Factor (PIF) menurun, sehingga wanita dengan hipotiroid akan mengalami hiperprolaktinemia.5 Meningkatnya kadar prolaktin plasma menyebabkan wanita dengan hipotiroid akan mengalami gangguan fertilitas yang berat. Hal ini akan menyebabkan gangguan siklus haid, dari oligomenore sampai amenore dan anovulasi. Pada hipotiroidisme pula, jaringan payudara akan menjadi lebih peka terhadap prolaktin, meski pada kadar yang normal sekalipun. Sehingga hiperprolaktinemia pada keadaan hipotiroidisme hampir selalu menampilkan galaktore. Pada keadaan ini sering dijumpai hingga sella

tursika melebar. Selain itu pada keadaan-keadaan seperti nyeri prahaid, galaktore atau kadar PRL yang tinggi harus dipikirkan adanya tiroid.5 Hubungan tingginya kadar prolaktin dengan hipotiroid dapat dijelaskan sebagai berikut. Akibat tidak adanya reaksi umpan balik negative dari T3 dan T4 terhadap hipofisis anterior, maka hipofisis tersebut akan melepaskan hormone pelepas tiroid dalam jumlah yang banyak, dan ini akan memicu T3 dan T4 dan juga sekresi prolaktin. Dengan demikian hipotiroid hampir selalu menimbulkan hiperprolaktinemia, yang akhirnya akan mengganggu fungsi ovarium. Kadar prolaktin yang tinggi akan menekan FSH dan LH sehingga menyebabkan gangguan pematangan folikel. Di samping itu prolaktin yang tinggi juga menyebabkan peningkatan sekresi androgen dari kelenjar adrenal yaitu

dehidroepiandrosteron sulfat (DHEAs). Kadar androgen yang tinggi ini selanjutnya akan menghambat pematangan folikel.5 2. Gangguan pada hipofisis, misalnya tumor pada hipofisis baik berupa mikro ataupun makroprolaktinoma, infiltrasi penyakit lain terhadap hipofisis seperti tuberculosis, dan sarcoidosis, hypothalamic stalk Interruption6. Hal ini dapat terjadi karena adanya gangguan atau hambatan dari transport dopamine di hypothalamus dan atau terjadinya sekresi growth hormone dan prolaktin. Suplai pendarahan abnormal pada tumor hipofisis atau tangkainya, dapat mengganggu sirkulasi hipotalamus ke tangkai hipofisis dan ke sel laktotrof.3 3. Obat-obatan. Misalnya Dopamine-receptor antagonists (phenothiazines, butyrophenones, thioxanthenes, risperidone, metoclopramide, sulpiride, pimozide), Dopamine-depleting agents (methyldopa, reserpine), Anti histamin2 (AH2) seperti cimetidine, anti hypertensi (verapamil), dan anti depresan golongan trisiklik, estrogen dan opiate. Estrogen dapat menyebabkan hiperprolaktinemia oleh karena estrogen memiliki sifat positif terhadap laktotrof. Dan obat-obat opiate menyebabkan

hiperprolaktinemia karena dapat menstimulasi reseptor opiod pada hipotalamus.2

4.

Neurogenik, seperti adanya luka pada dinding dada misalnya luka operasi, luka bakar, dan herpes zoster. hal ini adalah akibat refleks abnormal dari stimulasi cedera tersebut sehingga terjadi peningkatan prolaktin. Refleks tersebut berawal pada saraf intercostalis yang menjalar ke spinal cord lalu menuju mesensefalon hingga sampai pada hipotalamus yang pada akhirnya mengurangi pelepaskan dopamine.3

5.

Penurunan eliminasi prolaktin dalam tubuh. Misalnya pada gagal ginjal, dan insufisiensi hepar. Hal ini disebabkan oleh rendahnya bersihan prolaktin dalam sirkulasi sistemik tubuh dan stimulasi prolaktin langsung pada pusat.

6.

Molekul abnormal, misalnya makroprolaktinemia. Molekul abnormal ini merupakan bentuk polimerik prolaktin yang berikatan dengan IgG sehingga prolaktin tidak dapat berikatan dengan reseptornya dan tidak dapat dieliminasi

7.

Idiopatik Sekresi dan pelepasan prolaktin dimediasi oleh dopamin, dan semua

proses yang mengganggu sekresi dopamin atau mengganggu transpor dopamin ke pembuluh darah portal dapat menyebabkan hiperprolaktinemia. Terdapat 10 kali lipat peningkatan prolaktin selama kehamilan, setelah senam, makan, dan pada stimulasi dinding dada.2,10 Stress fisik dan psikologik juga dapat meningkatkan kadar prolaktin. Metoklopramid, fenotiazin, dan antagonis butirofenon dapat menye abkan peningkatan prolaktin sampai melebihi 100 g/L.7,10 Begitu juga dengan risperidon, inhibitor oksidase monoamine dan antidepresan trisiklik dapat meningkatkan kadar prolaktin melalui efeknya terhadap transpor dopamin ke pembuluh portal. Obat-obatan lainnya yang dapat meningkatkan kadar prolaktin adalah verapamil, estrogen, serotonin-reuptake inhibitor, reserpin dan metildopa, walaupun peningkatannya tidak signifikan (antara 25-100 g/L).10

Akromegali merupakan suatu kondisi yang dapat menyebabkan hiperprolaktinemia. Pada penderita akromegali, hormon prolaktin juga disekresi bersama dengan hormon pertumbuhan. Tumor hipofisis non fungsional jug dapat menekan tangkai hipofisis sehingga terjadi peningkatan prolaktin dalam kadar antara 25-100 g/L.9,10 Beberapa pasien hipotiroidisme primer dapat menderita hiperprolaktinemia ringan akibat meningkatnya sintesa TRH (thyrotropinreleasing hormone). Sedang pada penderita gagal ginjal kronik, prolaktin meningkat karena terjadi penurunan klirens hormon tersebut. Bila tidak ditemukan penyebab yang spesifik, maka ditegakkan diagnosis hiperprolaktinemia idiopatik.10 PATOFISIOLOGI Fungsi primer prolaktin adalah untuk menstimulasi sel epitel payudara untuk berproliferasi dan merangsang produksi air susu.2,8 Estrogen menstimulasi proliferasi sel laktotrof hipofisis, dan meningkatkan kuantititas sel ini pada wanita usia premenopause, terutama saat kehamilan. Namun, laktasi dihambat oleh kadar estrogen dan progesteron yang tinggi saat kehamilan. Penurunan kadar estrogen dan progesteron yang cepat pada periode pasca persalinan akan menyebabkan terjadinya laktasi. Saat laktasi dan menyusui, ovulasi dapat ditekan akibat supresi gonadotropin oleh prolaktin.2 Seperti kebanyakan hormon hipofisis anterior lainnya, prolaktin diregulasi oleh hormon hipotalamus lewat sirkulasi portal hipotalamus-hipofisis. Pada umumnya, sinyal dominan adalah bersifat inhibitorik tonik, yang menghalangi pelepasan prolaktin. Hal ini dimediasi oleh neurotransmitter dopamin, yan bekerja pada reseptor tipe-D2 yang terdapat pada sel laktotrof. Sedangkan sinyal stimulatorik dimediasi oleh hormon hipotalamus, yaitu TRH (thyrotropinreleasing hormone) dan VIP (vasoactive intestinal peptide).2,10 Keseimbangan antara kedua sinyal tersebut menentukan jumlah prolaktin yang dilepaskan dari kelenjar hipofisis anterior. Jumlah yang dikeluarkan melalui ginjal turut menentukan konsentrasi prolaktin di dalam darah.9 Maka pada hipotiroidisme (keadaan di mana kadar TRHnya tinggi) dapat terjadi hiperprolaktinemia. VIP

meningkatkan kadar prolaktin sebagai respons dari menyusui meningkatkan kadar adenosine 3,5-cyclic phosphate (cAMP).2

dengan

Menurunnya kadar dopamin dapat menyebabkan sekresi prolaktin yang berlebihan.2 Proses yang dapat mengganggu sintesis dopamin, transpor dopami ke kelenjar hipofisis, atau efeknya terhadap sel laktotrof, dapat mengakibatkan hiperprolaktinemia.2,8 Secara praktis, dapat diingat 3P Physiological, Pharmacological dan Pathological. Secara fisiologis, peningkatan prolaktin dapat merupakan akiba dari kehamilan dan stress. Agen farmakologik yang dapat menyebabkan hiperprolaktinemia antara lain adalah neuroleptik, dopa blockers, antidepressant dan estrogen. Penyebab patologik antara lain adalah penyakit hipotalamohipofisis, cedera tangkai hipofisis, hipotiroidisme, gagal ginjal kronis dan sirosis hati. Manifestasi klinis pada hiperprolaktinemia adalah akibat pengaruh hormon terhadap jaringan target prolaktin, yaitu sistem reproduksi dan jaringan payudara dari kedua jenis kelamin.8

Gambar 2. Bagan penyebab hiperprolaktinemia. MANIFESTASI KLINIS Gejala yang terkait dengan hiperprolaktinemia dapat disebabkan oleh beberapa faktor: efek langsung dari prolaktin yang berlebihan, seperti induksi galaktorea atau hipogonadisme; efek dari lesi struktural (seperti tumor hipofisis), yang menyebabkan gejala nyeri kepala, gangguan lapang pandang, atau yang terkait disfungsi sekresi hormon hipofisis anterior.6 Pasien biasanya datang dengan keluhan gangguan menstruasi amenorea atau oligomenorea atau siklus regular tetapi dengan infertilitas. Kadang, pasien dapat mengeluh
9

menoragia atau galaktorea. Galaktorea jarang terjadi pada wanita postmenopause akibat kurangnya estrogen.2,3 Pada fase lanjut dapat timbul gejala akibat perluasan tumor (mis. nyeri kepala, gangguan visus, dan oftalmoplegi eksterna) atau gejala-gejala akibat kegagalan kelenjar adrenal atau gangguan tiroid sekunder.3 Manifestasi klinis hiperprolaktinemia umumnya berasal dari efek prolaktin pada payudara dan fungsi gonad. Kurang lebih 90% penderita wanita dengan hiperprolaktinemia mengalami galaktorea.4 Galaktorea dapat terjadi unilateral atau bilateral, klinis atau sub-klinis, spontan atau dirangsang, dan dapat bersifat encer atau kental. Namun galaktorea bukan ciri khas dari hiperprolaktinemia karena ia dapat terjadi tanpa adanya hiperprolaktinemia.8 Gejala tersering pada wanita premenopause adalah amenorea dan infertilitas.2,3,10 Wanita amenore karena hiperprolaktinemia tidak mengalami atrofi payudara seperti pada wanita postmenopause lainnya. Pada pemeriksaan, didapatkan payudara dan areola terbentuk sempurna dengan tuberkel

Montgomery yang hiperplastik. Bila dilakukan pemijatan dari arah perifer menuju areola untuk mengosongkan duktus laktaris, diikuti dengan penekanan areola untuk mengosongkan sinus laktaris, dapat ditemukan galaktorea.3 Efek prolaktin terhadap gonad kemungkinan disebabkan oleh gangguan pulsatilitas normal dari gonadotrophin-releasing hormone (GnRH) dan perubahan sekresi luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH). Hal ini akan berakibat pada anovulasi, dengan gejala amenorea atau oligomenorea dan infertilitas.4 Biasanya penderita mengalami oligomenorea, namun dapat juga mengalami menstruasi teratur.4,8 Hiperprolaktinemia juga akan mengakibatkan osteoporosis sekunder yaitu penurunan densitas mineral tulang pada tulang punggung. Setelah nilai prolaktin kembali ke nilai normal, densitas tulang dapat meningkat kembali tetapi tidak mencapai nilai normal.2,4,10 Manifestasi klinis akibat peningkatan kadar prolaktin dapat dibagi dalam 2 kelompok, yakni yang diakibatkan secara langsung oleh kadar prolaktin yang berlebihan dan manifestasi klinis akibat hipogonadisme.9
10

DIAGNOSIS Kemungkinan kehamilan harus selalu disingkirkan, kecuali pada pasien pascamenopause atau pada pasien yang telah menjalani histerektomi. Hiperprolaktinemia merupakan hal normal pada pasca persalinan. Sampe sebaiknya tidak diambil pada saat tidak puasa, setelah aktivitas olahraga yang berlebihan, pada penderita sindroma ovarium polikistik, setelah riwayat operasi atau trauma pada dinding dada, atau pada penderita dengan gagal ginjal atau sirosis hati. Namun, kondisi-kondisi tersebut biasanya menunjukkan kadar prolaktin kurang dari 50 ng/mL.2,4 Hal serupa dapat ditemukan pada penderita hipotiroidisme dan pemakai obat yang menekan kadar dopamin atau memblokir reseptor dopamin sentral. Pemeriksaan hormone prolaktin sebaiknya dilakukan pada saat puasa, istirahat, dan pada jam 10 malam. Anamnesis terarah mengenai riwayat pemakaian obat-obatan juga sebaiknya dilakukan karena banyak obat dapat mengakibatkan

hiperprolaktinemia, dengan kadar prolaktin kurang dari 100 ng/mL.5,6 Obat-obat tersebut antara lain adalah: 2 Antagonis reseptor dopamin (fenotiazin, butirofenon, risperidon, metoklopramid, sulpiride) Dopamine-depleting agents (metildopa, reserpin) Lain-lain (isoniazid, antidepresan trisiklik, verapamil, estrogen, opiat) Setelah menyingkirkan kemungkinan tersebut di atas dan menyingkirkan suat lesi hipotalamus, tiga kemungkinan diagnosis harus dipertimbangkan: mikroadenom (lebih sering pada wanita premenopause), makro-adenoma (lebih serin wanita postmenopause), atau tidak ada tumor sama sekali. Jika tidak dapat ditegakka adanya suatu lesi tumor, maka didiagnosis sebagai hiperprolaktinemia idiopatik Dikatakan suatu mikoradenoma adalah bila diameter terbesar tumor kurang dari 10 mm (diameter maksimal suatu kelenjar hipofisis yang normal adalah 10 mm) dan dikatakan makroadenoma jika ukurannya lebih atau sama dengan 10 mm. Kadar normal prolaktin adalah di bawah nilai 18 ng/mL (360 mU/L).2,3,7 Prolaktinom biasanya disertai dengan kadar prolaktin lebih dari 250
11

ng/mL, kecil kemungkina terjadi prolaktinoma bila kadar prolaktin kurang dari 100 ng/mL.2 Nilai prolakti serum pada pasien mikroadenoma biasanya kurang dari 200 ng/mL dan pada pasie makroadenoma biasanya nilainya lebih dari 200 ng/mL. Jika kadar prolaktin adalah lebih dari 100 ng/mL atau kurang dari 250 ng/mL, harus dilakukan pemeriksaan radiologi, khususnya MRI. Jika dengan MRI, diagnosis adenoma masih tidak dapat ditegakkan, maka didiagnosis sebagai hiperprolaktinemia idiopatik.2,3 Derajat peningkatan prolaktin serum dapat membantu membedakan penyebabnya: minimal (hingga 1000 mU/l) mungkin terkait dengan stress, hipotirodisme dan sindrom ovarium polikistik; sedang (hingga 5000 mU/l) terkait dengan mikroprolaktinoma dan sindrom gangguan tangkai hipofisis, peningkatan di atas 10000 mU/l umumnya indikasi akan suatu makroadenoma hipofisis.4 Secara umum, hiperprolaktinemia ditemukan pada pasien dengan keluhan utama seperti amenorea, galaktorea, dan infertilitas. Kadang dibutuhkan pengukuran kadar prolaktin puasa. Untuk mendeteksi hipotiroid, dilakukan pengukuran hormone TSH. Perlu dilakukan pengukuran kadar ureum kreatinin untuk mendeteksi gagal ginjal. Tes kehamilan perlu dilakukan, kecuali pada pasien yang telah menopause atau pada pasien yang telah dilakukan histerektomi. Pasien dengan makroadenoma perlu dievaluasi untuk mencari suatu hipohipofisisme.3

12

Gambar 3. Alur diagnosis hiperprolaktinemia MRI merupakan pemeriksaan penunjang gold standard bagi penderita hiperprolaktinemia yang telah dipastikan penyebabnya bukan proses fisiologis, kehamilan, obat obatan atau hipotiroidisme. MRI dapat mendeteksi adenoma sampai ukuran sekecil 3-5 mm.2,8,9 Anatomi kelenjar hipofisis paling baik dilihat dengan pemeriksaan MRI. Dengan MRI dapat dilihat kiasma optik, sinus kavernosus, dan hipofisis itu sendiri (baik kelenjar normal atau suatu tumor), dan tangkainya. Maka dapat diketahui hubungan antara struktur-struktur tersebut.3 Jika tidak ada fasilitas MRI, dapat dipakai CT scan namun resolusinya kurang bagus dibanding MRI sendiri, CT scan tidak dapat mendeteksi mikroadenoma.3,8,9 Pengukuran tunggal kadar prolaktin dalam satu sampel darah cukup untuk menunjukkan suatu hiperprolaktinemia. Namun karena sifat alami sekresi prolaktin yang pulsatil dan sekresi prolaktin dapat dipengaruhi stress, maka hasil
13

25-40 g/L perlu diulang sebelum ditegakkan diagnosis hiperprolaktinemia. Kebanyakan penyebab hiperprolaktinemia dapat disingkirkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisis, tes kehamilan, penilaian fungsi tiroid dan fungsi ginjal. Dalam kasus prolaktinoma, diagnosa ditegakkan dengan pemeriksaan MRI atau CT scan sebagai alternatif.10

Gambar 4. Gambaran pemeriksaan MRI yang menunjukkan mikroadenoma dan makroadenoma. Mikroadenoma (anak panah, Gambar 3A) merupakan suatu massa intrasellar hipodens, dengan diameter 4 mm. Makroadenoma (anak panah, Gambar 4B) merupakan massa, dengan diameter 1 cm, dengan perluasan ke kiasma optik. PENATALAKSANAAN Tujuan terapi adalah untuk meredakan gejala hiperprolaktinemia atau mengurangi ukuran tumor. Penatalaksanaan sebaiknya memperhatikan penyebab terjadinya hiperprolaktinemia, seperti dengan menghentikan obat obatan yang mengakibatkan hiperprolaktinemia dan pada penderita dengan hipotiroidisme dengan memberikan terapi hormone replacement.3 Medikamentosa Dopamine agonist, bromocriptine mesylate merupakan obat pilihan utama Bromocriptine dapat menurunkan kadar prolaktin sebanyak 70-100%, dan memulihkan proses ovulasi pada wanita usia premenopause. Pada pasien
14

dengan intoleransi bromocriptine atau resisten terhadap obat tersebut, dapat diberikan cabergoline. Terapi diberikan selama 12-24 bulan dan dihentikan jika kadar prolaktin telah kembali ke nilai normal. Bromocriptine juga dapat digunakan untuk mengecilkan ukuran makroadenoma. Jika pengobatan medikamentosa gagal, maka indikasi untuk dilakukan operasi.2,9 Operasi Indikasi untuk suatu operasi hipofisis antara lain adalah pasien dengan intoleransi obat, tumor yang resisten terhadap terapi medikamentosa, atau pada pasien dengan gangguan lapangan pandang yang persisten meskipun telah diberikan terapi medikamentosa (manifestasi akibat penekanan tumor).3,9 Pasien dengan hiperprolaktinemia dan tumor hipofisis kecil dapat diobati dengan operasi Samada, atau dengan pendekatan transfenoidal.3

Gambar 5. Penanganan Hiperprolaktinemia

15

KOMPLIKASI Komplikasi tergantung dari ukuran tumor dan efek fisiologik dari kondisi tersebut; komplikasi hiperprolaktinemia antara lain adalah kebutaan, pendarahan, osteoporosis, dan infertilitas.2 PROGNOSIS Sebanyak 9095 % pasien dengan mikroadenoma mengalami penurunan sekresi prolaktin secara gradual, jika konsisten dengan pengobatan minimal selama 7 tahun.2 Sepertiga pasien dengan hiperprolaktinemia dapat mengalami resolusi tanpa pengobatan.2,3 Angka rekurensi hiperprolaktinemia adalah 80%, dan bila terjadi maka pasien memerlukan terapi medis jangka panjang.3

16

DAFTAR PUSTAKA

1.

Edmonds D.K., 2007, Dewhurst`s Textbook of Obstetrics and Ginaecology Blackwell Publising

2.

Shenenberger D., Hyperprolactinemia, [August] 2001, [cited 2009 May], Available from : http://www.emedicine.com

3.

Thorner M.O., Hyperprolactinemia, [October] 2003, [cited 2009 May], Available from : http://www.endotext.com

4.

J.R.E., Prolactin and Reproductive Medicine. In: Current Opinion in Obstetrics and Gynecology, Lippincott, Manchester, UK; 2004:331-7

5. 6.

Prawirohardjo, 1999, Ilmu Kandungan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta Hamilton-Fairley D., 2004., Lecture Notes Obstetrics and Ginaecology Second Edition, Blackwell Publising

7.

Bachelot A., Binart N., Reproductive Role of Prolactin. In Reproduction Review, [December] 2006, [cited 2009 May], Available from:

http://www.reproduction-online.org

8.

Rajasoorya C., Hyperprolactinaemia and its Clinical Significance. In: Singapore Medical Journal 2001, 61(9):398-401

9.

Serri O., Chik C.L., Ur E., Ezzat S., Diagnosis and management of hyperprolactinemia. In: Canadian Medical Association Journal 2003, 169(6):575-81

10.

Schlechte J.A., Prolactinoma. In: The New England of Journal of Medicine 2003, 349:2035-41

11.

Goffin V., Bernichtein S., Touraine P., Kelly P.A., Development and potential clinical uses of human prolactin receptor antagonists, [September] 2005, [cited 2009 May], Available from: http://edrv.endojournals.org

17

Anda mungkin juga menyukai