Anda di halaman 1dari 3

Analisa Prosedur Metode penentuan kadar tanin dalam teh secara titrasi permanganometri merupakan suatu metode yang

disebut dengan metode Lowenthal-Procter. Metode ini didasari oksidasi fenolat oleh larutan kalium permanganat dengan adanya indigo carmine sebagai indikator redoks untuk menunjukkan titik akhir titrasi. Bahan-bahan yang digunakan dalam penentuan kadar tanin secara titrasi permanganometri antara lain: 1. Larutan indigo carmine Indigo carmine memiliki nama IUPAC : 3,3-dioxo-2,2-bis-indolyden-5,5-disulfonic acid sodium salt. Berwujud padatan biru keunguan, dengan titik leleh di atas 300oC dan bobot molekul 466,36 g/mol. Dalam penelitian ini, indigo carmine digunakan sebagai indikator redoks yang menunjukkan titik akhir titrasi yang ditandai dengan adanya perubahan warna (Anonim, 2013). 1. Larutan gelatin Gelatin merupakan derivat dari kolagen yang terdapat pada tulang dan kulit hewan. Gelatin diperoleh dengan cara menghidrolisis kolagen tersebut. Gelatin berwujud padat, dan tidak berwarna. Gelatin biasanya digunakan sebagai gelling agent dalam berbagai bidang industry (Zhou dan Regenstein, 2004). 1. Larutan garam (NaCl) asam Natrium klorida berwujud padatan kristalin yang tidak berwarna dan tidak berbau. Memiliki titik didih 1415 K. Dapat larut dalam air dan pelarut organik (Kirk and Othmer, 1983). 1. Serbuk kaolin (bolus alba) Kaolin merupakan masa batuan yang tersusun dari material lempung dengan kandungan besi yang rendah, dan umumnya berwarna putih. Kaolin mempunyai komposisi aluminium silikat hidrat (Al2O3 2SiO2 2H2O) (Kirk and Othmer, 1983). 1. Aquades Memiliki rumus molekul H20. Berupa cairan tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau. Memiliki berat molekul 18,02 g/mol, titik didih 100oC. Senyawa ini bersifat polar (Kirk and Othmer, 1983). 1. Larutan KMnO4 Senyawa ini berwujud padatan kristalin berwarna ungu yang tidak berbau, dengan bobot molekul 158,034 g/mol, kerapatan 2,7 g/cm3 dan terdekomposisi

pada suhu 240oC. Kelarutan dalam air sebesar 6,38 g/100 ml (20oC) (Kirk and Othmer, 1983). Penentuan kadar tanin dalam teh kering, diawali dengan melakukan ekstraksi sampel teh kering yaitu teh hitam secara maserasi. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan pelarut air. Air yang digunakan adalah air kran yang telah didihkan terlebih dahulu sebanyak 1 liter. Digunakan pelarut air karena tanin dapat larut dalam air, selain itu pada saat proses produksi juga digunakan air kran sebagai pelarut. Setelah air mendidih, sampel teh hitam sebanyak 3 gram dimasukkan dan dilakukan maserasi selama 30 menit pada suhu 100oC. Hal ini dilakukan agar semua tanin dapat terekstrak sempurna dalam air. Kemudian dilakukan penyaringan untuk memisahkan ekstrak dengan ampas teh. Ekstrak teh kemudian didinginkan terlebih dahulu sebelum dilakukan analisis. Selanjutnya disiapkan 2 buah tabung erlenmeyer yaitu erlenmeyer A dan B. Pertama-tama disiapkan dahulu tabung erlenmeyer A dengan dengan cara dipipet 2 ml ekstrak teh, kemudian ditambahkan larutan indigo carmine sebanyak 5 ml yang berfungsi sebagai indikator perubahan warna yang menunjukkan tercapainya titik akhir titrasi, dan ditambahkan aquades 150 ml untuk memudahkan pengamatan saat titik akhir titrasi. Kemudian tabung erlenmeyer B disiapkan dengan cara terlebih dahulu dipipet 20 ml ekstrak teh ke dalam beaker glass, ditambahkan larutan gelatin sebanyak ml yang berfungsi untuk mengendapkan tanin. Telah diketahui bahwa tanin dapat mengompleks atau mengendap dengan protein.Kemudian ditambahkan larutan garam (NaCl) asam sebanyak ml. Hal ini dilakukan karena protein dapat diendapkan dengan tanin dengan adanya garam dan asam mineral. Selanjutnya ditambakan serbuk kaolin (bolus alba) sebanyak 2 gram atau sekitar 4 sendok spatula. Penambahan serbuk kaolin dimaksudkan untuk membantu mengikat endapan hasil reaksi yang masih terlarut dalam larutan sampel karena endapan yang terbentuk dari protein dan tanin seringkali sulit disaring dan menghasilkan filtrat yang masih keruh. Kemudian larutan tersebut dikocok-kocok agar bercampur sempurna sehingga terbentuk endapan berwarna merah bata. Selanjutnya disaring dengan menggunakan kertas saring untuk memisahkan filtrat dengan endapan. Dimana dari hasil pemisahan tersebut dapat diketahui bahwa endapan tersebut merupakan tanin dan filtratnya adalah komponen lain selain tanin. Selanjutnya filtrat diambil sebanyak ml dan dimasukkan ke dalam tabung erlenmeyer B. Kemudian ditambahkan larutan indigo carmine sebanyak 5 ml dan aquades 150 ml. Selanjutnya tabung erlenmeyer A dan B dititrasi dengan menggunakan KMnO4 sebagai titran. Titrasi dilakukan di atas motor rotary yang berfungsi untuk mengerakkan magnetik stirrer. Hal ini dilakukan untuk mempercepat reaksi redoks antara titran dengan titratnya. Titrasi dilakukan sampai titrat berubah warna dari biru menjadi kuning keemasan. Selanjutnya ditentukan volume titrasi dan dihitung kadar tanin dengan menggunakan persamaan berikut: Rumusnya lupa..tlng masukin ya.. Volume titrasi A mewakili seluruh komponen dalam sampel yang dapat

dioksidasi oleh permanganate. Sedangkan volume titrasi B mewakili komponen sampel selain tanin yang dapat dioksidasi oleh permanganat. Sehingga volume titrasi yang digunakan untuk menentukan kadar tanin adalah selisih antara volume titrasi A dengan volume titrasi B. Daftar pustaka

Zhou, P. dan Regenstein, J. M. (2004). Optimization of extraction conditions for pollock skin gelatin. Journal of Food Science, 69, C393C398. Anonim, 2013, Indigo Carmine, http://id.wikipedia.org/wiki/Indigo_carmine, diakses tanggal 1 september 2013 Kirk and Othemer, 1983, Encyclopedia of Chemical technology, McGraw Hill International Book Company, Singapore.