Anda di halaman 1dari 24

TUGAS SISTEM SENSORI PERSEPSI LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA OTITIS MEDIA AKUT (OMA)

Oleh : A5.A KELOMPOK VII 1) Ni Made Krisna Jayanti (10) 2) I Gede Made Perwiranata (1076) 3) Ni Komang Putri Swantari (1077) 4) I Gede Agus Rama Saputra (1078)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI

2013

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan pada Otitis Media Akut (OMA) ini tepat pada waktunya. Dalam penulisan makalah ini, kami menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan dan sumber data yang kami peroleh terbatas maka makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini, kami berharap semoga makalah ini ada manfaatnya bagi kita semua. Om Santhi Santhi Santhi Om

Denpasar, Maret 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................ i DAFTAR ISI........................................................................................................................... ii BAB I ................................................................................................................................... 1 PENDAHULUAN.................................................................................................................... 1 BAB II .................................................................................................................................. 3 LAPORAN PENDAHULUAN.................................................................................................... 3

ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Otitis media atau infeksi telinga tengah banyak dijumpai dimasyarakat, penyakit ini sangat berkaitan erat dengan infeksi saluran pernapasan atas. Oleh karena itu otitis media banyak ditemukan pada bayi dan anak. Hal ini disebabkan karena pada kelompok usia tersebut sangat rentan terhadap infeksi saluran pernapasan atas, sehingga pertahanan tubuh terganggu dan merupakaan masalah kesehatan yang utama. Karena lebih sering ditemukan pada bayi dan anakanak (Soepardi Efiaty Arsyad dan Nurbaiti Iskandar, 2001). Otitis media akut (OMA) merupakan suatu infeksi akut pada mukosa telinga tengah yang diikuti dengan pembentukan nanah (mukopus). Otitis media akut paling banyak terjadi karena penyebaran infeksi lewat tuba Eustachius (rinogen), karena infeksi saluran pernafasan atas mukosa tuba Eustachius odem sehingga fungsinya terganggu. Keadaan inilah yang mempermudah masuknya kuman ke telinga tengah (Rukmini Sri, 2000). Menurut Lawrence Green (1980) dikutip dalam Bet Smart (1997), faktor yang dapat menyebabkan timbulnya OMA dibagi menjadi tiga yaitu Faktor predisposisi (predisposing factors) yakni dalam perilaku (pengetahuan, sikap dan tindakan), persepsi, faktor pendukung (enabling factors) dalam sosial ekonomi, ketersedian waktu dan faktor pendorong (reinforcing factors) terdiri dari sikap petugas, peran keluarga, emosi. Pada pasien OMA apabila tidak mendapat penanganan yang baik akan mengakibatkan komplikasi. Salah satu komplikasi yang paling berbahaya adalah penjalaran penyakit kearah intrakranial seperti meningitis, karena dapat menyebabkan kematian. Sedangkan gangguan pendengaran akibat OMA dapat memberikan kesulitan, misalnya sulit dalam mencari pekerjaan, kesulitan dalam berkomunikasi dan kesulitan dalam belajar. Oleh karena itu penanganan penyakit yang dilakukan sedini mengkin akan dapat mencegah terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan (Rukmini Sri, 2000). Untuk mencegah terjadinya komplikasi di atas perlu mengenal tanda, gejala kekambuhan dan juga perilaku tentang kebersihan telinga supaya terhindar dari terjadinya komplikasi.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah laporan pendahuluan pada pasien dengan Otitis Media Akut (OMA)? 2. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien dengan Otitis Media Akut (OMA)? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui laporan pendahuluan pada dengan Otitis Media Akut (OMA). 2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan Otitis Media Akut (OMA).

BAB II LAPORAN PENDAHULUAN A. Definisi Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah (Kapita selekta kedokteran, 1999). OMA (Otitis Media Akut) adalah peradangan akut atau seluruh pericilium telinga tengah (Mansjoer, 2001). OMA adalah infeksi atau inflamasi (peradangan) di telinga tengah. B. Epidemiologi Otitis Media Akut (OMA) pada anak-anak sering kali disertai infeksi pada saluran pernapasan atas. Pada penelitian Zackronik dkk di Arab Saudi tahun 2001 terhadap 112 pasien infeksi saluran pernapasanatas (ISPA) (6-35 bulan), didapatkan 30% mengalami otitis media akut dan 8% sinusitis. Epidemiologi seluruh dunia terjadinya Otitis Media berusia 1 tahun sekitar 62% sedangkan anak-anak berusia 3 tahun sekitar 83% (Zackzouk,2001). Di Amerika Serikat diperkirakan 75% anak mengalami minimal satu episode otitis media sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia 10 tahun. Insiden OMA tertinggi terjadi pada usia 2 tahun pertama kehidupan dan yang kedua pada waktu berusia 5 tahun bersamaan dengan anak masuk sekolah (Abidin,2008). Puncak usia anak mengalami OMA didapatkan pada pertengahan tahun pertama sekolah, di Swedia mendapatkan 16.611 anak penderita OMA dan didapatkan anak usia 7 tahun dengan prevalensi terbanyak. Resiko kekambuhan otitis media terjadi pada beberapa factor, antara lain usia <5 tahun, otitis prone (pasien yang mengalami otitis pertama kali pada usia <6 bulan terakhir), infeksi pernafasan, perokok, dan laki-laki (Abidin, 2008; Cassellbrent, 2005). C. Etiologi Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti
3

obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, inflamasi jaringan disekitarnya (eg : sinusitis, hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik (eg: rhinitis alergika). Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae, Hemophylus influenzae, Streptococcus pyogenes, dan Moraxella catarrhalis. D. Patofisiologi OMA sering diawali dengan infeksi saluran napas seperti radang tenggorokan / pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran eustachius. Saat bakteri melalui saluran eustachius, bakteri bisa menyebabkan infeksi saluran tersebut. Sehingga terjadilah pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel darah putih akan melawan sel-sel bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri, sedikitnya terbentuk nanah dalam telinga tengah. Pembengkakan jaringan sekitar sel eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam bergerak bebas. Cairan yang terlalu banyak tersebut, akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. E. Stadium 1.Stadium oklusi tuba eustachius
a. b. c.

Terdapat gambaran retraksi membran timpani Membran timpani berwarna normal atau keruh pucat Sukar dibedakan dengan otitis media serosa virus

2.Stadium hiperemis
a. Pembuluh darah tampak lebar dan edema pada membran timpani. b. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar

terlihat
3. Stadium supurasi a. b.

Membran timpani menonjol ke arah luar Sel epitel superfisila hancur

c. d.

Terbentuk eksudat purulen di kavum timpani Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di telinga tambah

hebat
4. Stadium perforasi a. b. c.

Membran timpani ruptur Keluar nanah dari telinga tengah Pasien lebih tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak Bila membran timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan normal kembali Bila terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan mengering Resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan bila virulensi rendah dan daya tahan tubuh baik.

5. Stadium resolusi a. b. c.

F. Pathway infeksi saluran napas menyebar ke telinga tengah bakteri masuk Nyeri Akut peradangan / infeksi Pembengkakan Sel darah putih menyerang Penumpukan nanah dan lendir Gangguan pendengaran sementara Kecemasan Hipertermi Kurang Pengetahuan

Perubahan Sensori Persepsi


5

G. Gejala Klinis Gejala klinis OMA tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. Biasanya gejala awal berupa sakit telinga tengah yang berat dan menetap. Biasa tergantung gangguan pendengaran yang bersifat sementara. Pada anak kecil dan bayi dapat mual, muntah, diare, dan demam sampai 39,50oC, gelisah, susah tidur diare, kejang, memegang telinga yang sakit. Gendang telinga mengalami peradangan yang menonjol. Keluar cairan yang awalnya mengandung darah lalu berubah menjadi cairan jernih dan akhirnya berupa nanah (jika gendang telinga robek). H. Diagnosis 1. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga tengah dengan otoskop. 2. Diagnosis OMA harus memenuhi 3 hal berikut : a. Penyakitnya muncul mendadak (akut). b. Ditemukannya tanda efusi (pengumpulan cairan) di telinga tengah. Berikut tanda-tanda terjadi efusi : 1) Menggembungnya gendang telinga. 2) Terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga. 3) Adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga. c. Adanya tanda-tada gejala peradangan telinga tengah yang dibuktikan dengan adanya salah satu tanda berikut : 1) Kemerahan pada gendang telinga 2) Nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.

I. Pemeriksaan Fisik Lakukan Inspeksi,palpasi,perkusi dan di daerah telinga,dengan menggunakan senter ataupun alat-alat lain nya apakah ada cairan yang keluar dari telinga,bagaimana warna, bau, dan jumlah.apakah ada tanda-tanda radang.

1. Kaji adanya nyeri pada telinga 2. Leher, Kaji adanya pembesaran kelenjar limfe di daerah leher 3. Dada / thorak 4. Jantung 5. Perut / abdomen 6. Genitourinaria 7. Ekstremitas 8. Sistem integumen 9. Sistem neurologi 10. Data pola kebiasaan sehari-hari

J. Pemeriksaan Diagnostik/penunjang 1. Pemeriksaan dengan atoskop (alat untuk memeriksa liang-liang gendang telinga dengan jelas). 2. Melihat ada tidaknya gendang telinga yang menggembung, perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan / agak kuning dan suram, serta cairan di liang telinga. 3. Otoskopi pneumatik (pemeriksaan telinga dengan otoskop untuk melihat gendang telinga yang dilengkapi dengan udara kecil). Untuk menilai respon gendang telinga terhadap perubahan tekanan udara. Untuk melihat berkurangnya atau tidak ada sama sekali gerakan gendang telinga. 4. Timpanogram : untuk mengukur kesesuaian dan kekuatan membran timpani. 5. Kultur dan uji sensitifitas : dilakukan timpano sintesis (aspirasi jarum dari telinga tengah melalui membran timpani). K. Komplikasi 1. Komplikasi yang serius adalah : a. Infeksi pada tulang sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis).

b. Labirinitis (infeksi pada kanalis semisirkuler). c. Kumpulan pada wajah.


d. Tuli

Tanda-tanda terjadi komplikasi : 1. Sakit kepala 2. Tuli yang terjadi secara mendadak 3. Vertigo (perasaan berputar) 4. Demam dan menggigil L. Therapy OMA umurnya adalah penyakit yang sembuh dengan sendirinya dalam 3 hari tanpa antibiotic (80% OMA). Jika gejala tidak membaik dalam 48-72 jam atau terjadi perburukan gejala, antibiotic diberikan. American Academic of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi harus segera di terapi dengan antibiotic sebagai berikut : Usia Diagnosis Pasti Diagnosis Meragukan < 6 Bulan 6 bulan 2 tahun Antibiotik Antibiotik Antibiotik Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan. 2 tahun Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan. Observasi

Gejala ringan

: nyeri telinga ringan dan demam < 39oC dalam 24 jam terakhir.

Gejala berat : nyeri telinga sedang berat / demam 39oC. Diobati dengan antibiotik per-oral, yaitu dengan : 1. Amoxilin, atau penisilin dosis tinggi untuk penderita dewasa.

2. Phenilephrine (dalam obat flu) dapat membuka tuba eustachius. 3. Jika nyeri menetap atau hebat, demam, muntah, atau diare, dan tau jika genang telinga menonjol. Dilakukan miringotomi. 4. Terapi bergantung stadium penyakit. a. Stadium Oklusi 1) Untuk membuka kembai tuba eustachius, agar tekanan di telinga tengah hilang. 2) Obat tetes telinga HCl efedrin 0,5% (anak < 12 tahun) atau HCl efedrin 1% dalam fisiologis (anak > 12 tahun dan dewasa). 3) Antibiotik jika penyebabnya kuman. b. Stadium Presupurasi 1) Diberikan antibiotik, (golongan penisilin / eritromisin) tetes hidung, analgesik. 2) Miringotomi jika, membran timpani sudah terlihat hiperemis difus. 3) Pada anak diberikan ampisilin 4 x 40 mg/ kg BB/ hari, amoxilin 4x40mg/kgBB/hari, atau eritromisin 4 x 40 mg/kg BB/hari. c. Stadium peforasi 1) Obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari dan antibiotik adekuat sampai 3 minggu. d. Stadium Supurasi Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan terjadi ruptus. e. Stadium Resolusi Bila tidak terjadi perbaikan/ pemulihan/ kesembuhan berikan antibiotik dilanjutkan sampai 3 minggu.

10

BAB III LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Data yang muncul saat pengkajian: a. Sakit telinga/nyeri b. Penurunan/tak ada ketajaman pendengaran pada satu atau kedua telinga c. Tinitus d. Perasaan penuh pada telinga e. Suara bergema dari suara sendiri f. Bunyi letupan sewaktu menguap atau menelan g. Vertigo, pusing, gatal pada telinga h. Penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga i. Tanda-tanda vital (suhu bisa sampai 40o C), demam j. Kemampuan membaca bibir atau memakai bahasa isyarat k. Reflek kejut l. Toleransi terhadap bunyi-bunyian keras m. Tipe warna 2 jumlah cairan n. Cairan telinga; hitam, kemerahan, jernih, kuning o. Dengan otoskop tuba eustacius bengkak, merah, suram p. Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan atas, infeksi telinga sebelumnya, alergi.

11

2. Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri akut yang berhubungan dengan proses inflamasi. b. Hipertermi yang berhubungan penyakit ditandai dengan peningkatan suhu tubuh. c. Gangguan sensori persepsi berhubungan dengan perubahan sensori persepsi ditandai dengan distorsi pendengaran. d. Cemas berhubungan dengan ketidakseimbangan sensori ditandai dengan keluarnya cairan dari telinga. e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan ditandai dengan mengikuti intruksi tidak akurat.

3. Intervensi

No.

Dx.

Tujuan dan KH

Intervensi

Rasional

12

Dx. 1

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nyeri yang dirasakan klien berkurang, dengan KH: Klien mengungkapkan bahwa rasa nyeri berkurang. Klien mampu melakukan metode pengalihan suasana.

- Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya (skala), karakteristiknya

Nyeri merupakan pengalaman subyektif dan harus dijelaskan oleh pasien. Identifikasi karakteristik nyeri dan factor yang berhubungan merupakan suatu hal yang mat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan

-Mengurangi nyeri - Kompres dingin di sekitar area telinga karena rasa nyeri teralihkan oleh rasa dingin disekitar area telinga. -Atur posisi klien -Posisi yang sesuai akan membuat klien merasa lebih nyaman. -Analgesik merupakan

13

-Beri aspirin/analgesik sesuai instruki, beri sedatif sesuai indikasi

pereda nyeri yang efektif pada pasien untuk mengurangi sensasi nyeri dari dalam. -Metode pengalihan suasana dengan melakukan relaksasi

-Ajarkan Klien untuk mengalihkan suasana dengan melakukan metode relaksasi seperti menarik nafas panjang. 2 Dx. 2 Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan suhu tubuh klien dalam batas normal, dengan KH: Suhu tubuh klien 36oC 37,5oC -Pantau suhu tubuh ; perhatikan menggigil.

bisa mengurangi nyeri yang diderita klien

-Suhu 38,9oC 41,1oC menunjukan proses penyakit infeksius akut.Menggigil sering mendahului puncak suhu. -Suhu ruangan /jumlah

-Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi.

selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal -Dapat membantu

-Berikan kompres mandi hangat,hindari

mengurangi demam,catatan :

14

penggunaan alkohol.

penggunaan alkohol mungkin menyebabkan kedinginan,peningkata n suhu secara aktual. - Digunakan untuk

- Berikan antipiretik (mis: paracetamol) 3 Dx.3 Setelah diberikan asuhan keperawatan sensoris klien membaik, dengan KH: Klien akan mengalami peningkatan persepsi/sensoris pendengaran sampai pada tingkat fungsional. -Instruksikan klien untuk menggunakan teknikteknik yang aman terjadinya ketulian lebih jauh. -Observasi tanda-tanda awal kehilangan

mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus. -Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-masalah pendengaran rusak secara permanen.

diharapkan persepsi / pendengaran yang lanjut.

-Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif, maka tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilindungi.

sehingga dapat mencegah pendengaran yang

-Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik yang

-Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapat

15

diresepkan (baik itu antibiotik sistemik maupun lokal).

menyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan berlanjut.

-Ajarkan klien untuk menggunakan dan merawat alat

-Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe pemakaianserta perawatannya yang tepat.

pendengaran secara tepat. gangguan/ketulian,

Dx.4

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan klien memahami dan mendiskusikan rasa takut, dengan KH: klien menunjukkan relaksasi dan melaporkan berkurangnya ansietas ketingkat yang dapat diatasi.

-Pahami rasa takut atau ansietas klien

-Perasaan adalah nyata dan membatu pasien untuk terbuka sehingga dapat mendiskusikan dan menghadapinya.

- Kaji tingkat bahaya bagi pasien dan tingkat ansietas dengan mengamati tingkah laku seperti tangan yang mencengkram, alis yang berkerut

-Respon individu dapat bervariasi tergantung pada pola kurtural yang dipelajari. Persepsi yang menyimpang dari situasi mungkin dapat memperbesar

16

perasaan. - Observasi isi dan pola pembicaraan : cepat atau lambat, tekanan, katakata yang digunakan. -Menyediakan petunjuk mengenai faktor-faktor seperti tingkat ansietas, kemampuan untuk memahami kerusakan 5 Dx.5 Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan klien menunjukan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis, dengan KH: Klien mulai melakukan perubahan gaya hidup yang diperlukan. -Tinjau perlunya kesehatan pribadi dan kebersihan lingkungan. -Berikan informasi mengenai terapi obat obat, interaksi,efek samping dan pentingnya ketaatan pada program. -Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan otak -Memberikan pengetahuan membuat pilihan. -Meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam proses penyembuhan dan mengurangi resiko kambuhnya komplikasi. -Membantu mengontrol pemajanan lingkungan dengan mengurangi jumlah bakteri patogen yang ada. dasar dimana pasien dapat

17

4. Implementasi Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi.

5. Evaluasi a. Dx.1 : Rasa nyeri klien berkurang. b. Dx.2 : Suhu tubuh klien dalam rentang normal (36-37,50C). c. Dx.3 : Klien mengalami peningkatan persepsi sensori pendengaran. d. Dx.4 : Rasa cemas klien berkurang. e. Dx.5 : Klien mempunyai pemahaman akan proses penyakit dan prognosis.

18

BAB IV PENUTUP A. Simpulan Otitis Media Akut (OMA) merupakan suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah. Penyebab utama dari OMA adalah tersumbatnyasaluran/tuba eustachius yang bisa disebabkan oleh proses peradangan akibatinfeksi bakteri yang masuk ke dalam tuba eustachius tersebut, kejadian ISPA yang berulang pada anak juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya OMA pada anak. Stadium OMA dapat terbagi menjadi lima stadium, antara lain: StadiumHiperemi, Oklusi, Supurasi, Koalesen, dan Stadium Resolusi. Dimana manifestasi dari OMA juga tergantung pada letak stadium yang dialami oleh klien. Terapi dari OMA juga berdasar pada stadium yang dialami klien. Dari perjalanan penyakit OMA, dapat muncul beberapa masalah keperawatan yang dialami oleh klien, antara lain: gangguan rasa nyaman (nyeri), hipertermi, perubahan sensori persepsi pendengaran, kecemasan dan kurang pengetahuan.

19

DAFTAR PUSTAKA Efiaty Arsyad, S, Nurbaiti Iskandar. 1997. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan, Edisi III, Jakarta: FKUI. Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta: EGC. Doenges E. Marylin dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC. NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC. Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC. George L, Adams. 1997. BOEIS : Buku ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : EGC. Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab/UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan

Tenggorokan RSUD Dr Soetomo Surabaya Rukmin, Sri dan Sri Herawati. 1999. Teknik Pemeriksaan THT. Jakarta : EGC.

20