Anda di halaman 1dari 14

BLOK STOMATOGNATI 2

OKLUSI DI BIDANG KEDOKTERAN GIGI

D I S U S U N OLEH: PUTERI MENTARI SIREGAR 1112012025

FAKULTAS KEDOKTERAN PRODI ILMU KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS YARSI 2013 2014

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Latar belakang penulisan makalah ini adalah sebagai persyaratan perkuliahan. Di dalam makalah ini akan dibahas mengenai oklusi di bidang kedokteran gigi. Diharapkan makalah ini dapat meningkatkan pengetahuan mengenai apa itu oklusi dan aspek-aspek yang menyertainya. Oklusi berasal dari kata occlusion, yang terdiri dari dua kata yakni oc yang berarti ke atas (up) dan clusion yang berarti menutup (closing). Jadi occlusion adalah closing up atau menutup ke atas. Dengan demikian pengertian oklusi adalah berkontaknya gigi geligi rahang atas dengan permukaan gigi geligi rahang bawah pada saat kedua rahang tersebut menutup. Pada tahun 1907, Angle menyimpulkan pandangannya bahwa oklusi merupakan dasar pengetahuan ortodonti. Bentuk tonjol gigi, mahkota, akar gigi, dan struktur jaringan pengikat gigi disusun sedemikian rupa untuk tujuan utama yaitu oklusi. Angle mendefinisikan oklusi sebagai hubungan normal dari dataran miring permukaan oklusal gigi geligi atas bawah apabila rahang atas dan rahang bawah menutup. Oklusi gigi merupakan salah satu unsur yang penting dalam pengunyahan, estetika, dan berbicara. Apabila terjadi suatu kelainan atau maloklusi maka akan menyebabkan masalah lain. Oleh karena itu, perawatan ortodonti yang dilakukan sedini mungkin akan lebih baik daripada setelah terjadi anomali, sebab apabila telah terjadi anomali perawatan memerlukan waktu, ketekunan dan biaya yang lebih.

B. TUJUAN Tujuan pembuatan makalah ini adalah: 1. Untuk memberikan pemahaman mengenai definisi oklusi, sejarahnya serta istilah sentrik. 2. Memberikan pemahaman mengenai posisi oklusal maksila dan mandibular. 3. Mengetahui istilah oklusi ideal dan oklusi normal. 4. Memberikan pemahaman mengenai klasifikasi oklusi menurut angle. 5. Mengetahui dan memahami adanya kurva kompensasi oklusi dan gigi. 6. Memahami factor yang mempengaruhi gigi-geligi dan oklusi. C. MANFAAT Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat besar dalam memberikan pemahaman mengenai oklusi di bidang kedokteran gigi secara sederhana khususnya bagi mahasiswa.

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI Oklusi berasal dari kata occludere yang mempunyai arti mendekatkan dua permukaan yang berhadapan sampai kedua pemukaan tersebut saling kontak. Batasan (definisi) oklusi biasanya berdasarkan hubungan persentuhan gigi. Adapun beberapa definisi oklusi menurut para ahli, yaitu: a. Menurut Huges dan Meyers (1972), oklusi adalah hubungan permukaan oklusal pada saat geligi rahang atas dan bawah saling bersentuhan termasuk juga adanya persentuhan gigi yang berlawanan pada relasi statik. b. Menurut Thomson (1975) dan Muhleman (1976), oklusi adalah adanya

persentuhan gigi yang membuat seimbangnya mandibula pada waktu menelan makanan. c. Menurut Ash dan Ramfjord (1982) , oklusi adalah adanya hubungan oklusi yang meliputi keadaan oklusi fungsional, oklusi parafungsional, dan oklusi

disfungsional yang menyatu dengan tatanan (sistem ) pengunyahan, ruas ( komponen) gigi dan jaringan penunjangnya, sendi temporomandibular serta komponen tatanan persarafototan (neuromuskular).

Jadi, secara umum, oklusi adalah adanya perubahan hubungan permukaan gigi geligi pada maksila dan mandibula, yang terjadi selama pergerakan mandibula dan berakhir dengan kontak penuh dari gigi geligi pada kedua rahang. Oklusi terjadi karena adanya interaksi antara dental system, skeletal system dan muscular system. Oklusi gigi geligi bukanlah merupakan keadaan yang statis selama mandibula bergerak, sehingga ada bermacam-macam bentuk oklusi, misalnya : centrik, excentrik, habitual, supra-infra, mesial, distal, lingual dan sebagainya. Oklusi merupakan fenomena kompleks yang terdiri dari gigi geligi, ligamen periodontal, rahang, sendi temporomandibular, otot dan sistem saraf. Oklusi mempunyai dua aspek dimana aspek yang pertama dalam statis yang mengarah kepada bentuk, susunan, artikulasi gigi geligi serta hubungan antara gigi geligi dengan jaringan penyangga. Aspek yang kedua adalah dinamis yang mengarah kepada fungsi

sistem stomatonagtik yang terdiri dari gigi geligi, jaringan penyangga, sendi temporomandibular, sistem neuromuskular dan nutrisi. Dikenal dua istilah oklusi yaitu oklusi ideal dan oklusi normal. B. SEJARAH OKLUSI Beberapa ahli menyatakan bahwa oklusi dibentuk oleh suatu sistem struktur yang terintegrasi antara sistem otot-otot mastikasi dan sistem neuromuskuler sendi temporomadibular dan gigi-geligi. Dari aspek sejarah perkembangannya, dikenal tiga konsep dasar oklusi yang sejauh ini diajarkan dalam pendidikan kedokteran gigi. Pertama, konsep oklusi seimbang (balanced occlusion) yang menyatakan suatu oklusi baik atau normal, bila hubungan antara kontak geligi bawah dan geligi atas memberikan tekanan yang seimbang pada kedua rahang, baik dalam kedudukan sentrik maupun eksentrik. Kedua, konsep oklusi morfologik (morphologic occlusion) yang penganutnya menilai baik-buruknya oklusi melalui hubungan antar geligi bawah dengan lawannya dirahang atas pada saat geligi tersebut berkontak. Ketiga, konsep oklusi dinamik/individual/fungsional. Oklusi yang baik atau normal harus dilihat dari segi keserasian antara komponen-komponen yang berperan dalam proses terjadinya kontak antar geligi tadi. Komponen-komponen ini antara lain ialah geligi dan jaringan ini antara lain ialah geligi dan jaringan penyangganya, otot-otot mastikasi dan sistem neuromuskularnya, serta sendi temporo mandibula. Bila semua struktur tersebut berada dalam keadaan sehat dan mampu menjalankan fungsinya dengan baik, maka oklusi tersebut dikatakan normal. C. ISTILAH SENTRIK Oklusi Sentrik adalah kata lain dari oklusi interkuspa dan menunjukkan bahwa gigi-geligi atau mandibula terletak sentral pada oklusi. Ini bukanlah istilah deskripif untuk gigigeligi atau mandibula, dan tidak satupun dari keduanya yang dapat dianggap berada pada posisi atau relasi sentral. Walaupun istilah "oklusi interkuspa tidak mencermikan kontak maksimal antara gigi-geligi, istilah ini menggambarkan oklusi interkuspa dan tidak diangggap mengindikasikan suatu posisi. Oklusi maksimal merupakan istilah yang lebih tepat tetapi istilah interkuspa sudah umum dipakai sehingga tidak perlu dicari istilah baru lainnya. Oleh karena itu, oklusi interkuspa mengindikasikan oklusi maksimal tanpa

bergantung pada posisi gigi-geligi atau mandibular. Oklusi sentrik mempunyai kemungkinan kerancuan. Relasi sentrik adalah sinonim dan relasi retrusi mandibular terhadap maksila. Disini, mandibular telah terdorong ke belakang dan karena itu tidak ada alasan untuk menyebut mandibular berada pada posisi sentral. Kerancuan istilah ini makin bertambah dengan diperkenalkannya kata sifat tegang dan tidak tegang. Bagi beberapa orang, gerak terdorong ke belakang dapat memicu rasa tegang pada otot, sedangkan pada orang lain dorongan ini tidak mungkin dilakukan karena lelah dan kakunya otot. Untuk mendapatkannya otot harus sehat dan hubungan tersebut sangat bermanfaat karena dengan adanya otot yang sehat, gerakan ini dapat direproduksi. Relasi sentrik juga disebut sebagai posisi kondilus mandibular yang paling belakang, paling tengah, dan paling atas, yang menggambarkan relasi retrusi dari kondilus terhadap fossa glenoid. D. POSISI OKLUSAL MAKSILA MANDIBULA Oklusi sentrik adalah posisi kontak maksimal dari gigi geligi pada waktu mandibula dalam keadaan sentrik, yaitu kedua kondisi berada dalam posisi bilateral simetris di dalam fossanya. Sentris atau tidaknya posisi mandibula ini sangat ditentukan oleh panduan yang diberikan oleh kontak antara gigi pada saat pertama berkontak. Keadaan ini akan mudah berubah bila terdapat gigi supra posisi ataupun overhanging restoration. Kontak gigi geligi karena gerakan mandibula dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Intercupal Contact Position (ICP), adalah kontak maksimal antara gigi geligi dengan antagonisnya 2. Retruded Contact Position (RCP), adalah kontak maksimal antara gigi geligi pada saat mandibula bergerak lebih ke posterior dari ICP, namun RB masih mampu bergerak secara terbatas ke lateral. 3. Protrusif Contact Position (PCP) adalah kontak gigi geligi anterior pada saat RB digerakkan ke anterior 4. Working Side Contact Position (WSCP) adalah kontak gigi geligi pada saat RB digerakkan ke lateral. Selain klasifikasi diatas, secara umum pola oklusi akibat gerakan RB dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Bilateral balanced occlusion, bila gigi geligi posterior pada kerja dan sisi keseimbangan, keduanya dalam keadaan kontak

2. Unilateral balanced occlusion, bila gigi geligi posterior pada sisi kerja kontak dan sisi keseimbangan tidak kontak 3. Mutually protected occlusion, dijupai kontak ringan pada gigi geligi anterior, sedang pada gigi posterior 4. Tidak dapat ditetapkan, bila tidak dikelompokkan dalamklasifikasi diatas. Oklusi memiliki 2 aspek. Aspek yang pertama adalah statis yang mengarah kepada bentuk, susunan, dan artikulasi gigi geligi pada dan antara lengkung gigi, dan hubungan antara gigi geligi dengan jaringan penyangga. Aspek yang kedua adalah dinamis yang mengarah kepada fungsi system stomatognatik ang terdiri dari gigi geligi, jaringan penyangga, sendi E. ISTILAH OKLUSI IDEAL DAN OKLUSI NORMAL Oklusi Ideal Merupakan konsep teoretis dari struktur oklusal dan hubungan fungsional yang mencakup prinsip dan karakteristik ideal yang harus dimiliki suatu keadaan oklusi. Menurut Kamus Kedokteran Gigi, oklusi ideal adalah keadaan beroklusinya semua gigi, kecuali insisivus central bawah dan molar tiga atas, beroklusi dengan dua gigi di lengkung antagonisnya dan didasarkan pada bentuk gigi yang tidak mengalami keausan. Syarat lain untuk mendapatkan oklusi ideal antara lain: Bentuk korona gigi berkembang dengan normal dengan perbandingan yang tepat antara dimensi mesio-distal atau buko-lingual Tulang, otot, jaringan disekitar gigi anatomis mempunyai perbandingan yang normal Semua bagian yang membentuk gigi geligi geometris dan anatomis, satu dan secara bersama-sama memenuhi hubungan yang tertentu Gigi geligi terhadap mandibula dan cranium mempunyai hubungan geometris dan anatomis yang tertentu Karena gigi dapat mengalami atrisi akibat fungsi pengunyahan, maka bentuk gigi ideal jarang dijumpai. Oklusi ini jarang ditemukan pada gigi geligi asli yang belum diperbaiki. Oklusi Normal Leory Johnson menggambarkan oklusi normal sebagai suatu kondisi oklusi yang berfungsi secara harmonis dengan proses metabolic untuk mempertahankan struktur penyangga gigi dan rahang berada dalam keadaan sehat. Oklusi dikatakan normal jika: Susunan gigi di dalam lengkung gigi teratur dengan baik

Gigi dengan kontak proksimal Hubungan seimbang antara gigi dan tulang rahang terhadap cranium dan muscular di sekitarnya Kurva spee normal Ketika gigi berada dalam kontak oklusal, terdapat maksimal interdigitasi dan minimal overbite dan overjet Cusp mesio-bukal molar 1 maksila berada di groove mesio-bukal molar 1 mandibula dan cusp disto-bukal molar 1 maksila berada di embrasure antara molar 1 dan 2 mandibla dan seluruh jaringan periodontal secara harmonis dengan kepala dan wajah

F. KLASIFIKASI DARI OKLUSI GIGI GELIGI Klasifikasi berikut berdasarkan pada klasifikasi Edward Angle (1899) walaupun berbeda dalam beberapa aspek yang penting. Ini adalah klasifikasi dari hubungan antero-posterior lengkung gigi-gigi atas dan bawah, dan tidak melibatkan hubungan lateral serta vertikal, gigi berjejal dan malposisi lokal dari gigi-gigi. 1. Kelas 1 Hubungan ideal yang bisa ditolerir. Ini adalah hubungan antero-posterior yang sedemikian rupa, dengan gigi-gigi berada pada posisi yang tepat di lengkung rahang, ujung gigi kaninus atas berada pada bidang vertikal yang sama seperti ujung distal gigi kaninus bawah. Gigi-gigi premolar atas berinterdigitasi dengan cara yang sama dengan gigi-gigi premolar bawah, dan tonjol antero-bukal dari molar pertama atas tetap beroklusi dengan alur (groove) bukal dari molar pertama bawah tetap. Jika insisivus berada pada inklinasi yang tepat, overjet inisisal adalah sebesar 3 mm.

2. Kelas 2

Pada hubungan kelas 2, lengkung gigi bawah terletak lebih posterior daripada lengkung gigi atas dibandingkan pada hubungan kelas 1. Karena itulah, keadaan ini kadang disebut sebagai hubungan postnormal. Ada dua tipe hubungan kelas 2 yang umum dijumpai, dan karena itu, dikelompokkan menjadi dua divisi.

3. Kelas 3 Pada hubungan kelas 3, lengkung gigi bawah terletak lebih anterior terhadap lengkung gigi atas dibandingkan pada hubungan kelas 1. Oleh karena itu, hubungan ini kadang-kadang disebut juga sebagai hubungan prenormal.

Ada dua tipe utama dari hubungan kelas 3. Yang pertama, biasanya disebut kelas 3 sejati, dimana rahang bawah berpindah dari posisi istirahat ke oklusi kelas 3 pada saat penutupan normal. Pada tipe yang kedua, gigi-gigi insisivus terletak sedemikian rupa sehingga gerak menutup mandibula menyebabkan insisivus bawah berkontak dengan insisivus atas sebelum mencapai oklusi sentrik. Oleh karena itu, mandibula akan bergerak ke depan pada penutupan translokasi, menuju ke posisi interkuspal. Tipe hubungan semacam ini biasanya disebut kelas 3 postural atau kelas 3 dengan pergeseran. Pada masing-masing tipe hubungan oklusal, malposisi gigi setempat bisa mempengaruhi hubungan dasar dari kedua lengkung gigi. Jadi, rincian interkuspal dari gigi-gigi tidak sama dengan klasifikasi keseluruhan dari hubungan lengkung gigi.

Jika banyak gigi yang malposisi, akan sulit bahkan tidak mungkin untuk menentukan klasifikasi oklusi. Disamping itu, asimetris bisa menyebabkan hubungan pada satu sisi rahang berbeda dari sisi yang lain. Pada situasi semacam ini, oklusi perlu dideskripsikan dengan kata-kata, bukan hanya dengan klasifikasi verbal saja. Segitiga Sama Sisi Bonwill Pada tahun 1899 untuk pertama kalinya, Bonwill menjelaskan bahwa pada orang dewasa laki-laki, umumnya jarak antara titik tengah dari gigi seri tengah mandibula dan pusat-pusat di mana lengan masing-masing sekitar 10,16 cm (empat inci) panjangnya. Itu disebut segitiga sama sisi Bonwill.

G. KURVA KOMPENSASI OKLUSI DAN GIGI Semua permukaan lengkung gigi sesuai dengan lekukan. Jika dilihat dari aspek oklusal, setiap lengkung gigi berbentuk huruf U. Tepi insisal dan ujung cusp bukal mengikuti garis melengkung di sekitar tepi luar dari lengkung gigi; ujung cusp lingual gigi posterior mengikuti garis melengkung hampir sejajar dengan ujung cusp bukal. Antara cusp bukal dan lingual adalah alur sulcular, yang berjalan anteroposterior seluruh panjang gigi posterior. Lengkung mandibula cekung, sementara dan lengkung rahang atas cembung. Antara satu lengkungan dengan lengkungan dikompensasi oleh lengkungan lain, maka disebut kurva kompensasi. Dalam pemuatan gigi tiruan, bidang oklusal merupakan pedoman yang penting dalam penyusun gigi posterior dengan tujuan agar mastikasi menjadi efisien.Karena adanya

inklinasi sagital dari gigi-geligi posterior tersebut, maka bidang oklusal akan membentuk lengkung oklusal. Dari sisi lateral, penyusunan morfologis ini disebut kurva Spee atau disut juga kurva kompensasi dimulai dari kaninus hingga molar. Secara fisiologis, terdapat kecenderungan alami bahwa kurva ini akan semakin dalam pada masa pertumbuhan. Pertumbuhan RB ke arah bawah dan depan terkadang berlangsung lebih cepat dan lama daripada RA. Jadi, selama masa pertumbuhan, kedalaman kurva Spee masih akan berubah-ubah hingga kurva menjadi relative stabil pada dewasa muda. Perubahan Kurva Spee secara patologis dapat menyebabkan berbagai hal. Perubahan ini terjadi pada beberapa situasi seperti adanya geligi yang rotasi, tipping maupun ekstrusi. Melakukan rotasi terhadap gigi yang sudah mengalami perubahan pada bidang oklusal dapat mengakibatkan terjadi gangguan gerak protrusive posterior. Gangguan tersebut selanjutnya akan memulai terjadinya aktivitas abnormal levator mandibula terutama otot masseter dan temporal yang selanjutnya dapat menyebabkan keausan, fraktur rotasi dan disfungsi TMJ. Tiga dimensi lengkung kurva pada gigi manusia 1. Kurva Spee (kurva anteroposterior dari bidang oklusal) Graf Von Spee menggambarkan kelengkungan permukaan oklusal gigi dari ujung caninus mandibula yang berjalan posterior mengikuti cusp bukal gigi posterior mandibula. Kurva ini berada dalam bidang sagital saja. Efek dari Kurva Spee ditentukan dengan membandingkan bidang tiap gigi dalam kurva dengan jalur putaran condycle. Lebih menyimpang bidang tiap gigi dari arah jalur putaran condycle, semakin besar tinggi puncak. Lebih sejajar bidang tiap gigi dari jalur putaran condycle, semakin pendek tinggi puncak. Kedalaman kurva Spee dan kurva kompensasi merupakan hal yang penting dalam prosedur perawatan. Kurva Spee dapat dijadikan referensi dalam merekonstruksi oklusal pada kasus kehilangan gigi posterior sebagian atau seluruhnya. Tujuan utama yang paling penting adalah dalam hal ini untuk mendapatkan stabilitas gigi tiruan. Perlu diperhatikan jika pada pasien yang telah mengalami penurunan dimensi vertical, maka pembuatan cusp gigi yang tajam dengan kurva yang datar adalah kontraindikasi karena dapat mengurangi freeway space. Pembuatan cups yang tajam, dalam, dan curam yang tidak mengikuti kurva spee dalam bentuk fisiologis yang sebelumnya mengakibatkan pengaruh traumatik pada jaringan

penyangga sehingga jaringan periodontal dan tulang resopsi, dan kehilangan lebih lanjut pada gigi sisa. 2. Kurva Wilson (kurva dari sisi ke sisi) Kurva wilson adalah kurva imajiner, medio-lateral dalam arah pada setiap sisi lengkung berisi tips titik puncak pada gigi rahang bawah. dalam oklusi sentrik, gigi anterior rahang atas tumpang tindih dengan gigi rahang bawah sekitar 2 mm. 3. Kurva Monson Monson pada tahun 1920 menghubungkan kurva spee atau kelengkungan di bidang sagital dengan lekukan kompensasi terkait dalam bidang vertikal dan mengusulkan bahwa pada rata-rata pada orang dewasa bentuk lengkung mandibula sesuai sendiri ke suatu bagian dari lingkup 10,16 cm dengan jari-jari tengahnya di glabella tersebut. kurva Monson didasarkan pada teori bola oklusi. itu menunjukkan bahwa gigi mandibula bergerak di atas permukaan gigi rahang atas seperti pada permukaan lingkaran dengan diameter 20,32 cm (8 inci). Sudut Inklinasi Gigi Individual Inklinasi masing-masing gigi terhadap bidang oklusal berbeda-beda. Inklinasi masingmasing gigi meliputi inklinasi mesiodistal dan bukolingual atau bukopalatal. Inklinasi gigi 1 Tepi incisal menempel bidang oklusi Axis gigi dari sisi labial miring, membentuk sudut 5 derajat terhadap garis median Inklinasi gigi 2 Tepi incisal terletak 1-2 mm diatas bidang oklusal Axis gigi dari sisi labial lebih miring/membentuk sudut lebih dari 5 derajat dibanding gigi 1 H. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GIGI-GELIGI DAN OKLUSI Gigi-gigi dan jaringan pendukungnya berkembang akibat pengaruh genetik. Pengaruh genetic ini tidak selalu baik untuk kesehatan atau fungsi yang adekuat. Besar dan jumlah gigi-geligi tidak selalu tertampung oleh tulang yang tersedia. Akibatnya, gigi akan berjejal dan memudahkan terjadinya karies, lesi epitel interdental, lesi peridontium, dan

gangguan oklusi, yang semuanya saling berkaitan. Otot-otot mastikasi dan orofasial serta fungsi saraf yang mengontrolnya berperilaku sesuai dengan pola endogen dan memberi respons terhadap banyak sekali rangsangan untuk menyediakan gerakan yang diperlukan oleh sistem. Gerakan ini sering harus bersikap protektif dan kadang-kadang berbahaya akibat banyak faktor. Sistem mastikasi dapat dipengaruhi oleh faktor sistemik, diet, dan emosi, serta oleh prosedur operasi dan restorasi yang tidak selalu membantu terciptanya fungsi yang optimal. Faktor genetik dan lingkungan, alam dan pemeliharaan, juga berperan dalam kesehatan sistem mastikasi, khususnya oklusi. Oklusi pada masing-masing individu tidaklah sama. Dapat disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi oklusi gigi manusia antara lain: Variasi genetik Perkembangan gigi-geligi secara acak Adanya gigi-gigi supernumerary Otot-otot dan jaringan sekitar rongga mulut Kebiasaan Trauma

KESIMPULAN
1. Oklusi adalah perubahan hubungan permukaan gigi geligi pada maksila dan mandibula. 2. Oklusi terjadi karena adanya interaksi antara dental system, skeletal system dan muscular sistem. 3. Kurva kompensasi adalah hubungan antara satu lengkungan pada rahang dengan lengkungan lain yang dikompensasi. 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi oklusi antara lain faktor genetic, perkembangan gigigeligi secara acak, adanya gigi supernumerary, otot-otot dan jaringan sekitar rongga mulut, kebiasaan dan trauma.

DAFTAR PUSTAKA
Chandra. 2004. Textbook of Dental and Oral Anatomy Physiology and Occlusion. New Delhi: Jaypee Brothers Publishers Hamzah, Zahreni drg, dkk. 2009. Buku Petunjuk Praktikum Fisiologi Blog Stomatognatik. Jember: Unej Hamzah, Zahreni; dkk. 2008. Petunjuk Praktikum Fisiologi Manusia. Jember : Bag. Biomedik Lab Fisiologi Manusia FKG Universitas Jember. Soeyoto; Wiyono, Adi; Nindyo P. Aris. Iwarp.com/konsultasi.html. Thomson, Hamish. 2007. Oklusi Edisi 2. Jakarta: EGC 2009. Gigi dan Mulut. http://rssm.