Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM APLIKASI BIOTEKNOLOGI PANGAN

ISOLASI MIKROBA

OLEH : NAMA NIM ASISTEN : EVI KUMALASARI : G311 11 012 : SURAHMAN BASRI

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN BIOTEKNOLOGI PANGAN PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Mikroba atau mikroorganisme adalah salah satu makhluk hidup yang wujudnya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang karena memiliki ukuran yang sangat kecil. Mikroorganisme dapat diperoleh dari lingkungan air, tanah, udara, substrat yang berupa bahan pangan, tanaman dan hewan. Jenis mikroorganismenya dapat berupa bakteri, khamir, jamur, kapang dan lain lain. Tidak semua mikroorganisme bersifat patogen dan merugikan bagi kehidupan manusia ada beberapa jenis bakteri yang memang dimanfaatkan dan dikembangbiakkan untuk kepentingan kehidupan manusia. Mikroba yang hidup di alam terdapat dalam bentuk populasi campuran. Sangat jarang

mikroba di alam dijumpai sebagai spesies yang tunggal. Dengan demikian, agar mikroba tersebut dapat diidentifikasikan, sehingga mudah dipelajari sifat pertumbuhan, morfologis, dan fisiologis masing-masing mikroba maka langkah pertama yang harus dilakukan yaitu spesies tersebut dipisahkan dari organisme lain yang umum dijumpai dalam habitatnya, kemudian ditumbuhkan menjadi biakan murni yaitu suatu biakan yang terdiri dari sel-sel dari satu spesies yang biasa disebut dengan isolasi mikroorganisme. Berdasarkan latar belakang tersebut maka dilakukanlah praktikum mengenai teknik isolasi pada mikroorganisme dan bagaiamana

B. Tujuan Praktikum Tujuan dilakukan praktikum mengenai isolasi mikroorganisme yaitu: 1. 2. Untuk mengetahui teknik serta proses isolasi pada mikroorganisme Untuk mengetahui karakteristik mikroorganisme yang berperan dalam pembuatan gum xanthan 3. Untuk mengetahui cara pembuatan media untuk pembiakan bakteri atau mikroba

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Bakteri Xhantomonas campestris pv. Menurut Ardiawan (2010) klasifikasi bakteri Xhantomonas campestris yakni sebagai berikut ; Divisi Kelas Ordo : Gracilicutes (Gram-negatif) : Schizomycetes nagali : Eubacteriales Buchanan (Bersel tunggal, kaku, berbentuk rantai atau merupakan kumpulan) Famili : Pseudomonadaceae (tidak berendospora, lurus memanjang atau merupakan spiral yang agak melengkung, biasanya bergerak dengan flagella yang polar, biasanya gram negatif) Genus : Xanthomonas (biasanya monotrichus, berpigmen warna kuning, yang tidak larut dalam air) Spesies : Xanthomonas campetris pv. Phaseoli

Bakteri ini berbentuk batang dengan flagellum polar, bersifat aerobic dengan ukuran 0.4-0.9 x 0.6-2.6 m. Membentuk kapsula, tidak menghasilkan spora. Biakan yang dihasilkan memiliki warna putih kekuningan, berbentuk bundar, permukaan tepi halus serta berlendir. Hampir semuanya monotrichus, bersifat gram negative yaitu bakteri yang tidak dapat diberi warna atau menyerap warna oleh pewarna crystal violet (pewarna gram), menyebabkan nekrose (kematian jaringan setempat) pada tumbuhan monokotil dan dikotil. Penyakit Busuk Hitam pada kubis disebabkan oleh bakteri

Xanthomonas campestris pv. Bakteri Ini menyerang banyak keluarga kubis termasuk kubis dan rumput liar seperti lobak liar. Kondisi lembab hangat Indonesia mendukung penyakit ini. Gejala pertama adalah area kuning tidak

teratur di tepi daun yang berkembang menjadi lesi berbentuk V. Lesi "V" memiliki tepi kuning dan coklat di bagian tengah dengan urat hitam. Dengan infeksi berat, maka daerah yang terkena akhirnya bergabung sehingga daun tampak seperti telah tersiram air panas atau dibakar. Sebuah penampang batang dapat mengungkapkan cincin hitam pada jaringan di mana bakteri telah melakukan serbuan. Daun yang terinfeksi kemudian cepat diserbu oleh bakteri lain yang dapat menyebabkan busuk lunak pada tanaman kubis. Infeksi bisa terjadi pada setiap tahap perkembangan tanaman, tetapi infeksi awal musim yang paling parah karena bakteri dapat terangkut bersama bibit. Kondisi optimum untuk perkembangan penyakit adalah suhu

antara 25-28 C dengan adanya air bebas atau kelembaban yang tinggi, di mana gejala muncul dalam waktu 8-10 hari setelah terinfeksi. Bibit yang terinfeksi bisa tidak menunjukkan gejala sakit atau kelihatan sehat ketika kondisi tidak mendukung perkembangan penyakit, tapi gejala muncul kembali setelah tanam dalam kondisi kurang baik (Anonim, 2010) B. Isolasi mikroba Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan menumbuhkannyadalam suatu medium buatan. Proses pemisahan atau pemurnian dari mikroorganisme lain perlu dilakukan karena semua pekerjaan mikrobiologis, misalnya telaah dan identifikasi mikroorganisme, memerlukan suatu populasi yang hanya terdiri dari satu macam mikroorganisme saja. Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya yang berasal dari campuran bermacam-maca mikroba. Hal

ini dapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu koloni sel yang tetap pada

tempatnya (Ruly, 2008). Pertumbahan mikroorganisme tergantung dari kadar air. Bahanbahan yang larut dalam air akan digunakan oleh mikroorganisme sebagai bahan makanan untuk membentuk bahan sel dan membentuk energi. Tuntutan bernagai mikroorganisme yang menyangkut susunan larutan makanan dan persyaratan lingkungan tertentu sangat berbeda-beda, karena itu diperkenalkan banyak resep untuk membuat media tumbuh

mikroorganisme (Schlegel, 1994). Menurut Dwidjoseputro (1998), beberapa faktor yang perlu

diperhatikan dalam mengisolasi mikroorganisme adalah a) Sifat dan jenis mikroorganisme b) Habitat mikroorganisme c) Medium pertumbuhan d) Cara menginokulasi dan inkubasi e) Cara mengidentifikasi f) Cara pemeliharaannya Terdapat berbagai cara mengisolasi mikroba, menurut Hadioetomo (1993) yaitu: a) Isolasi pada agar cawan Prinsip pada metode isolasi pada agar cawan adalah mengencerkan mikroorganisme sehingga diperoleh individu spesies yang dapat

dipisahkan dari organisme lainnya. Setiap koloni yang terpisah yang tampak pada cawan tersebut setelah inkubasi berasal dari satu sel

tunggal. Terdapat beberapa cara dalam metode isolasi pada agar cawan, yaitu: Metode gores kuadran, dan metode agar cawantuang.Metode gores kuadran. Bila metode ini dilakukan dengan baik akan menghasilkan terisolasinya mikroorganisme, dimana setiap koloni berasal dari satusel. Metode agar tuang. Berbeda dengan metode gores kuadran, cawan tuang menggunakan medium agar yang dicairkan dan didinginkan (500C), yang kemudian dicawankan. Pengenceran tetap perlu dilakukan sehingga pada cawan yang terakhir mengandung koloni-koloni yang terpisah di atas permukaan atau di dalam cawan. b) Isolasi pada medium cair Metode isolasi pada medium cair dilakukan bila mikroorganisme tidak dapat tumbuh pada agar cawan (medium padat), tetapi hanya dapat tumbuh pada kultur cair. Metode ini juga perlu dilakukan pengenceran dengan beberapa serial pengenceran. Semakin tinggi pengenceran peluang untuk mendapatkan satu sel semakin besar. c) Isolasi sel tunggal Metode isolasi sel tunggal dilakukan untuk mengisolasi sel mikroorganisme berukuran besar yang tidak dapat diisolasi dengan metode agar cawan/medium cair. Sel mikroorganisme dilihat dengan menggunakan perbesaran sekitar 100 kali. Kemudian sel tersebut dipisahkan dengan menggunakan pipet kapiler yang sangat halus ataupun micromanipulator, yang dilakukan secara aseptis.

Menurut Nuniek (2001), isolasi mikroba dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara penggoresan dan cara penaburan. 1) Isolasi mikroba dengan cara penggoresan Tujuan utama dari penggoresan ini adalah untuk menghasilkan koloni-koloni bakteri yang terpisah dengan baik dari suspensi sel yang pekat. Cara ini lebih menguntungkan bila ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tapi memerlukan ketrampilan yang diperoleh dengan latihan.

Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Ada beberapa teknik goresan, antara lain : a) Goresan T b) Goresan kuadran c) Goresan radian d) Goresan sinambung 2) Isolasi mikroba dengan cara penaburan Cara penaburan ( pour plate) merupakan cara yang kedua di samping penggoresan untuk memperoleh biakan murni dari biakan

campuran mikroba. Cara ini berbeda dari cara penggoresan dimana media agar diinokulasi dalam keadaan tetap cair yaitu pada suhu 450C, dan demikian pula koloni-koloni akan berkembang di seluruh media, tidak hanya pada permukaan. Untuk beberapa tujuan hal ini menguntungkan, contohnya dalam mempelajari pertumbuhan koloni streptococcal pada sel-sel darah merah. Supaya koloni yang tumbuh dalam cawan tidak terlalu banyak ataupun sedikit maka contoh diencerkan hingga beberapa kali pengenceran dan ditaburkan pada beberapa cawan (Nuniek, 2001).

Khusus ntuk isolasi khamir dan jamur dikenal beberapa teknik inokulasi yaitu : a) Teknik pengenceran b) Teknik Hansen c) Teknik Lindner d) Mikromanipulator (Nuniek, 2001). C. Media GPB (Glucose Pepton Broth) Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media. D. Larutan Fisiologis Larutan pengencer/ larutan fisiologis adalah larutan yang digunakan untuk mengencerkan contoh pada analisis mikrobiologi. Pengenceran dilakukan untuk memperoleh contoh dengan jumlah mikroba terbaik untuk dapat dihitung yaitu antara 30 sampai 300 sel mikroba per ml. Pengenceran biasanya dilakukan 1:10, 1:100, 1:1000, dan seterusnya.Larutan Fisiologis ini lebih tepatnya medium setengah padat karena mengandung 0,9 % NACl yang terkandung didalamnya. Medium sintetis juga bias dibilang bagian dari larutan fisiologis karena Larutan fisiologis ini sudah diketahui jumlah, jenis dan takarannya (Agustin, 2013).

E. Gum Xhantan Xanthan Gum merupakan rangkaian polisakarida yang tersusun atas rantai panjang tiga macam gula sederhana (heteropolimer). Xanthan gum berupa bubuk berwarna krem yang dengan cepat larut dalam air panas atau air dingin membentuk larutan kental yang tidak tiksotrofik. Xanthan gum pada konsentrasi rendah larutannya kental, pada perubahan suhu terjadi sedikit perubahan kekentalannya, mantap pada rentangan pH yang luas, mantap pada keadaan beku. Xanthan gum dinyatakan aman digunakan

dalam pangan sebagai pemantap, pengemulsi, pengental, dan pendorong buih pada pangan. Xanthan gum dapat membentuk larutan kental pada konsentrasi rendah (0,1% 0,2%). Pada konsentrasi 2% - 3% terbentuk gel. Xanthan gum dapat dicampur dengan protein atau polisakarida lain. Xanthan gum ini membentuk film yang liat dan lentur (Alfauzia, 2012).

III. METODELOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Praktikum Bioteknologi Pangan mengenai isolasi mikroba ini dilaksanakan pada hari kamis-jumat tanggal 12-13 september 2013 pukul 09.50-16.00 WITA. Bertempat di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Pangan, Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar. B. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut : a. b. c. d. e. gelas ukur bulb timbangan analitik pipet volume erlenmeyer f. g. h. i. j. cawan petri tabung reaksi gunting bunsen spatula

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut : a. b. c. kubis alkohol 96% NDA Agar) d. GPB Broth) e. aquadest (Glukosa Pepton (Nutrient Dekstrose f. g. h. kapas putih tissue aluminium foil

C. Prosedur Praktikum Prosedur praktikum yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. 2. Disiapkan alat dan bahan praktikum Disterilisasi alat berupa cawan petri, pipet volume, dan tabung reaksi dengan cara dimasukkan ke dalam inkubator hingga suhu mencapai 121oC. 3. Ditimbang bahan Na sebanyak 4,6 gram dan dekstrosa sebanyak 2 gram. 4. Dibuat media tumbuh bakteri dalam erlenmeyer yaitu Na sebanyak 4,6 gram dalam 200 ml aquadest kemudian ditambahkan 1% dekstrosa dari 200 ml aquadest atau setara dengan 2 gram. 5. Media dipanaskan di hot plate dengan menggunakan magnetik stirer sehingga homogen. 6. Setelah media mendidih kemudian ditutup dengan kapas dan aluminium foil. 7. Media yang telah jadi, kembali disterilisasi dalam inkubator dengan suhu 121oC. 8. 9. Disiapkan cawan petri dan tabung reaksi yang telah disterilkan Media dituangkan ke dalam cawan petri, untuk menjaga kesterilannya digunakan bunsen pada alat-alat yang akan digunakan di ruang inokulasi. 10. Sambil menunggu media padat, selanjutnya dilakukan isolasi bakteri Untuk isolasi Xanthomonas campestris dari daun kubis, daun yang diambil adalah yang terserang black-rote (kerusakan bentuk V).

11.

Daun dipotong-potong kecil (1-2 cm) kotorannya dibersihkan dengan aquadest murni di dalam erlenmeyer.

12.

Daun kubis yang telah dicuci dimasukkan dalam medium GPB (Glukosa Pepton Broth). Dilakukan inkubasi pada suhu kamar

selama 6 jam (sampai keruh). 13. Suspensi yang dihasilkan diinokulasikan ke dalam medium NDA (Nutrient Dekstrose Agar) yang telah padat kemudian diinkubasi pada suhu 28
o

selama

48

jam.

Koloni

yang

tumbuh

(terpilih)

didestreak-out lalu diinkubasi kembali selama 48 jam.

IV. PENUTUP

A. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diperoleh dari kegiatan praktikum yang telah dilakukan yaitu B. Saran Sebaiknya kegiatan praktikum selanjutnya lebih berlangsung secara efisien dan tertib agar tidak ada kegaduhan selama proses praktikum berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

Agustin,

Feny Maulia. 2013. Larutan Fisiologis. fma.blogspot.com/2013/01/larutan-fisiologis.html. tanggal 18 september 2013.

http://creation-ofDiakses pada

Anonim, 2010. Departement of Agriculture : Black root of brassicas fact sheetind.http://www.indopetani.com/eng/downloads/publication/black_ rot_of_brassicas_fact_sheetind_2010_09_14.pdf. diakses pada tanggal 17 september 2013. Ardiawan, 2010.Patogen Kedelai Xhantomonas campestris. http://ardiawan1990.blogspot.com/2010/10/phatogen-kedelai-xanthomonascampestris.html. Diakses pada tanggal 17 september 2013. Hadioetomo, R. S. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Gramedia, Jakarta. Nuniek, T. 2001.Diktat Kuliah Mikrobiologi Industri . Teknik Kimia FTI-ITS : Jakarta Schlegel, Hans G. 1994. Mikrobiologi Umum. UGM, Yogyakarta. Ruly,2008. Media Pertumbuhan Mikroorganisme. http://duniamikro.blogspot.com/2008/08/media-pertumbuhanmikroorganisme.html. Diakses pada Tanggal 17 September . Wadimas. 2013. Pengertian Isolasi Mikroorganisme.http://www.scribd. com/doc/61657536/PENGERTIAN-ISOLASI-MIKROORGANISME. Diakses pada tanggal 18 september 2013.

Alfauzia, 2012. Itp Xanthan Gum. alfauzia.blogspot.com/2012/06/itp-xanthangum.html. Diakses pada tanggal 18 september 2013.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang