Anda di halaman 1dari 4

Penerapan Hukum Bernoulli Pada Gaya Angkat Sayap Pesawat Terbang

Hukum Bernoulli menyatakan Bahwa jumlah dari tekanan ( p ), energi kinetik per satuan volum ( 1/2 v2 ), dan energi potensial per satuan volum ( gh ) memiliki nilai yang sama pada setiap titik sepanjang suatu garis arus. Aliran udara pada sayap pesawat terbang merupakan bentuk dari fluida dinamis. Untuk fluida yang mengalir (fluida dinamis) dalam pipa mendatar, tidak terdapat perbedaan ketinggian di antara bagian-bagian fluida sehingga menghasilkan persamaan:

p1 - p2 = 1/2 ( v22 v12 )

( 1-1 )

Persamaan tersebut menyatakan bahwa v2 > v1, maka p1 > p2. Ini berarti bahwa di tempat yang kelajuan alirnya besar, tekanannya kecil. Sebaliknya, di tempat yang kelajuan airnya kecil, tekanannya besar. Dasar dari azas Bernouilli adalah: Bagaimana tekanan pada ketinggian yang sama untuk fluida yang bergerak? Dari konsep fluida statis diperoleh bahwa tekanan fluida sama pada setiap titik yang memiliki ketinggian yang sama. Dan dari konsep fluida dinamis diperoleh bahwa banyaknya fluida yang mengalir melalui pipa kecil maupun besar adalah sama. Dari kedua konsep diatas, diperoleh bahwa aliran fluida pada pipa kecil kecepatannya lebih besar dibanding aliran fluida pada pipa besar. Dan tekanan fluida paling besar terletak pada bagian yang kecepatan alirannya paling kecil, dan tekanan paling kecil terletak pada bagian yang kelajuannya paling besar. Pernyataan ini dikemukakan pertama kali oleh Daniel Bernoulli (1700 1782), sehingga asas ini dikenal dengan Azas Bernoulli. Jadi pertanyaan di atas, bisa dijawab, yakni besarnya tekanan disamaping bergantung pada luas penampang, ketinggian, juga bergantung pada kecepatan aliran fluida. Dengan memperhatikan cara burung terbang, orang kemudian berusaha menirunya untuk mewujudkan impian manusia terbang tinggi di angkasa. Pada tanggal

17 Desember 1903, di Kitty Hawk, North Carolina, Amerika Serikat, Wright bersaudara berhasil menerbangkan pesawat terbang bermesin pertama di dunia. Keduanya berhasil terbang selama 59 detik dan menempuh jarak 300 meter. Hanya beberapa puluh tahun setelah itu, tepatnya 1964, dunia telah mengenal pesawat terbang intai strategis high altitude SR-71 Blackbird dengan tiga kali kecepatan suara dan dapat menempuh jarak 4830 km. Salah satu faktor yang menyebabkan pesawat bisa terbang adalah adanya sayap. Bentuk sayap pesawat melengkung dan bagian depannya lebih tebal daripada bagian belakangnya. Bentuk sayap seperti ini dinamakan aerofoil. Ide ini ditiru dari sayap burung. Bentuk sayap burung juga seperti itu (sayap burung melengkung dan bagian depannya lebih tebal). Bedanya, sayap burung bisa dikepakkan, sedangkan sayap pesawat tidak. Burung bisa terbang karena ia mengepakkan sayapnya, sehingga ada aliran udara yang melewati kedua sisi sayap. Agar udara bisa mengalir pada kedua sisi sayap pesawat, maka pesawat harus digerakkan maju menyongsong udara. Manusia menggunakan mesin untuk menggerakan pesawat (mesin pesawat lama menggunakan baling-baling sedangkan yang modern menggunakan mesin jet).

Garis arus di bagian atas sayap lebih rapat daripada bagian bawahnya. Ini berarti kelajuan udara pada bagian atas sayap lebih besar daripada bagian bawahnya.

Gambar. 1.1 Penerapan Hukum Bernoulli pada sayap pesawat terbang Bagian depan sayap dirancang melengkung ke atas. Udara yang mengalir dari bawah berdesak-desakan dengan udara yang ada di sebelah atas. Mirip seperti air yang mengalir dari pipa yang penampangnya besar ke pipa yang penampangnya sempit.

Akibatnya, laju udara di sebelah atas sayap meningkat. Karena laju udara meningkat, maka tekanan udara menjadi kecil. Sebaliknya, laju aliran udara di sebelah bawah sayap lebih rendah, karena udara tidak berdesak-desakan (tekanan udaranya lebih besar). Adanya perbedaan tekanan ini, membuat sayap pesawat didorong ke atas. Karena sayapnya menempel dengan badan pesawat, maka pesawat tersebut ikut terangkat.

Gambar. 1.2 Gaya-gaya yang bekerja pada pesawat terbang Ada empat macam gaya yang bekerja pada sebuah pesawat terbang yang sedang mengalami perjalanan di angkasa (lihat gambar 1.2), di antaranya: Gaya angkat (Fa), yang dipengaruhi oleh desain pesawat. Gaya berat (W), yang dipengaruhi oleh gravitasi bumi. Gaya dorong (fd), yang dipengaruhi oleh gesekan udara. Gaya hambat (fg), yang dipengaruhi oleh gesekan udara. Tinjau dengan hukum Bernoulli: Laju aliran udara pada sisi atas pesawat (v2) lebih besar dibanding laju aliran udara pada sisi bawah pesawat (v1). Maka sesuai dengan azas Bernoulli, maka tekanan udara pada sisi bawah pesawat (p1) lebih besar dari tekanan udara pada sisi atas pesawat (p2). Beda tekanan p1 - p2 menghasilkan gaya angkat sebesar

F1 F2 = ( p1 - p2 ) A ....( 1-2 )

Jika nilai p1 - p2 pada persamaan (1-1 ) kita masukkan pada persamaan (1-2 ) kita akan memperoleh :

F1 F2 = 1/2 ( v22 v12 ) A

. (1-3 )

Dari persamaan (1-3), tampak bahwa semakin besar laju pesawat, maka gaya angkat pesawat semakin besar, A adalah luas penampang total sayap dan sebagai massa jenis udara. Syarat agar pesawat bisa terangkat, maka gaya angkat pesawat (Fa) harus lebih besar dari gaya berat pesawat (W = m.g), Fa > m.g. Ketika sudah mencapai ketinggian tertentu, untuk mempertahankan ketinggian pesawat (melayang di udara), maka kelajuan pesawat harus diatur sehingga: Fa = m.g. Jika pesawat ingin bergerak mendatar dengan percepatan tertentu, maka: gaya dorong harus lebih besar dari gaya hambat (fd > fg), dan gaya angkat harus sama dengan gaya berat, (Fa = m.g). Jika pesawat ingin naik/ menambah ketinggian yang tetap, maka gaya dorong harus sama dengan gaya hambat (fd = fg), dan gaya angkat harus sama dengan gaya berat pesawat (Fa = m.g). Penyebab lain adalah momentum. Biasanya, sayap pesawat dimiringkan sedikit ke atas. Hal tersebut juga mempunyai tujuan, bukan asal miring. Udara yang mengenai permukaan bawah sayap dibelokkan ke bawah. Karena pesawat punya dua sayap, yakni di bagian kiri dan kanan, maka udara yang dibelokkan ke bawah tadi saling bertubrukan. Perubahan momentum molekul udara yang bertemu alias bertumbukkan menghasilkan gaya angkat tambahan. Bagian depan pesawat juga melengkung ke atas. Hal itu bertujuan agar prinsip Bernoulli dapat dimanfaatkan semaksilmal mungkin. Selain itu, bagian atas sayap itu melengkung ke bawah lagi, sampai ke ujungnya. Hal itu juga mempunyai tujuan. Karena bentuk sayap melengkung ke bawah sampai ke ujungnya, maka udara dipaksa oleh sayap untuk mengalir lagi ke bawah. Menurut Hukum III Newton, karena ada gaya aksi maka ada gaya reaksi. Karena sayap memaksa udara turun, maka udara harus memaksa sayap naik. Dalam hal ini, udara memberikan gaya angkat pada sayap.

Anda mungkin juga menyukai