Anda di halaman 1dari 74

LAPORAN HASIL PENELITIAN

SURVEI AKHIR PELAKSANAAN PROYEK DHS-1 ADB 2001-2005 DAN BASELINE DATA PROGRAM MNCH 2006-2008

FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT Bekerjasama Dengan DINAS KESEHATAN PROVINSI SULAWESI UTARA 2005

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Tujuan pembangunan Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010

adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat Kesehatan masyarakat yang optimal melalui tercapainya masyarakat yang hidup dengan perilaku dan lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk

menjangkau pelayanan Kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat Kesehatan yang optimal diseluruh wilayah Republik Indonesia. Pada rencana Indonesia Sehat 2010, Menteri Kesehatan telah menyatakan ada empat pilar dalam melaksanakan sistem pelayanan kesehatan yaitu : Desentralisasi, Profesionalisme, Paradigma Sehat, Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat (JPKM). Keempat pilar tersebut diharapkan secara efektif dapat mendukung sistem kesehatan yang harus memberikan pelayanan dan memenuhi kebutuhan

penduduk selaras dengan adanya perubahan kebutuhan akibat transisi di bidang kesehatan dan krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia. Menjawab akan kebutuhan tersebut di atas, maka pemerintah Indonesia telah mendapat bantuan Pinjaman Dana dari Asian

Development Bank (ADB) dalam rangka percepatan pelaksanaan desentralisasi khususnya di bidang kesehatan melalui proyek

desentralisasi Pelayanan Kesehatan (Decentralized Health Services 1 Project-DHS-1) dengan nomor Loan 1810-INO. Proyek ini telah dimulai

sejak tahun 2001 dan yang akan berakhir pada tahun 2006 nanti, ditujukan untuk menjamin akses pelayanan kesehatan dan keluarga berencana yang bermutu bagi masyarakat khususnya bagi kelompok miskin dan rentan seiring dengan diterapkannya kebijakan pemerintah tentang desentralisasi dan otonomi daerah. Lokasi proyek meliputi Pusat dan 7 Provinsi yang mencakup seluruh kabupaten/kota di provinsi proyek, termasuk di Provinsi Sulawesi Utara dengan 5 Kabupaten/Kota. Tujuan Proyek adalah meningkatkan derajat kesehatan penduduk di seluruh kabupaten/kota di tujuh provinsi proyek melalui upaya peningkatan akses, penyediaan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan keluarga berencana dengan perhatian khusus pada kelompok miskin dan rentan. Dalam kontek desentralisasi, proyek mempunyai tujuan khusus yaitu (1). Memperkuat kapasitas daerah dalam penyediaan pelayanan kesehatan, termasuk perencanaan dan manajemen, (2). Meningkatkan mutu, efisiensi biaya, dan

kesinambungan pelayanan kesehatan dan KB di wilayah proyek, melalui pelaksanaan reformasi yang sesuai dengan kondisi daerah dan membantu investasi guna meningkatkan mutu pelayanan. Proyek akan dilaksanakan di 50 Kabupaten dan 12 Kotamadya di 7 Provinsi : Aceh, Bali, Bengkulu, Riau, SULUT dan SULTRA. Proyek akan dilaksanakan dalam dua fase, Fase Pertama, kegiatan dikonsentrasikan pada pengembangan kemampuan daerah

dalam merencanakan, mengelola dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Pemerintah dan pejabat kesehatan setempat akan

menyusun rencana pembangunan Sektor Kesehatan dan Proposal Investasi untuk memperkenalkan reformasi sektor kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan setempat. Fase kedua, proyek akan mendukung pelaksanaan proposal yang sangat beralasan secara teknis dan ekonomis, serta memenuhi kebutuhan pokok penduduk miskin dan kelompok rentan. Kerangka Konseptual

PROSES
PROYEK DHS INPUT OUTPUT

CAPACITY BUILDING
HEALTH SECTOR REFORM
- Profil Kesehatan - Perda - Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kab/Kota - Judul Proposal Kab/Kota - Renstra Kab/Kota

KEADAAN YANG LALU


Sistem Kesehatan Daerah Dan Kebutuhan Lokal

DAMPAK

B. TUJUAN Tujuan Umum: Untuk mendapatkan data hasil akhir pelaksanaan proyek DHS ADB-1

Tujuan Khusus: a. Untuk mengetahui sejauh mana indikator kesehatan masyarakat sesuai dengan yang ditetapkan pasca DHS menyangkut : 1. Proporsional Jumlah Kematian Bayi dan Ibu Diantara

Kelahiran Hidup 2. 3. 4. 5. 6. Capaian Imunisasi Angka Kesakitan Beberapa Penyakit Infeksi. Angka Kesakitan Karena Diare. Persentasi Liputan Pelayanan Antenatal (K1, K4 berkualitas) Jumlah Persalinan Yang Ditolong Petugas Kesehatan/Tenaga Terlatih 7. 8. 9. Persentasi Pemberian Fe Pada Wanita Hamil Persentasi Pemberian Vitamin A Pada BALITA Capaian Rumah Tangga Yang Mengkonsumsi Garam

Beryodium 10. Jumlah Peserta KB 11. Contact Rate per bulan

b. Untuk mengetahui pencapaian indikator manajemen pelayanan kesehatan sesuai dengan yang ditetapkan pasca proyek DHS menyangkut :

1.

Kabupaten/Kota Yang Telah Mempunyai RENSTRA Sesuai Situasi Lokal

2. 3. 4. 5.

Keterjangkauan Kaum Miskin Kepada Pelayanan Kesehatan Kontribusi APBD Bagi Kesehatan Jumlah Wanita Dalam Pengembangan SDM Kesehatan Health Sector Reform Bidang Kesehatan Menunjang SKN Lainnya

6.

Pemberdayaan Masyarakat (LSM, Sektor Swasta, serta Organisasi Profesi)

7.

Persentasi

Daerah

Proyek

Yang

Melaksanakan

SIM/SIK

Daerah, Sesuai Dengan Pedoman 8. Jumlah RS/Puskesmas Yang Melaksanakan Manajemen Mutu Prima 9. SDM Kesehatan Kab/Kota Yang Melaksanakan Perencanaan Kebutuhan Tenaga, Pelatihan/Training 10. Jumlah RS yang melaksanakan PONED dan Puskesmas yang melaksanakan PONEK

C. METODE PENELITIAN Disain Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode survey. Subjek Penelitian

1. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara Di 9 Kabupaten/kota: Manado, Bitung, Tomohon, Minahasa Selatan, Minahasa Induk, Minahasa Utara, Bolaang Mongondow, Sangihe, dan Talaud.

2. Rumah Sakit Pemerintah RS Bolaang Mongondow, RSUD Talaud, RS Sam Ratulangi Tondano, RS Manembonembo Bitung, RS Sangihe, dan RSU Prof. R. D. Kandou Manado.

3. Puskesmas Meliputi 43 PKM yaitu: 5 PKM di Manado, 5 PKM di Bitung, 3 PKM di Tomohon, 5 PKM di Minsel, 5 PKM di Minduk, 5 PKM di Minut, 5 PKM di Bolmong, 5 PKM di Sangihe, 5 PKM di Talaud 4. Stake Holders dan Institusi 5 orang stake holders di 9 kabupaten/kota 5. Masyarakat

5 anggota masyarakat di tiap PKM, total berjumlah 215 orang Disain Sampling Dinas Kesehatan Propinsi, Kabupaten/Kota Total Rumah Sakit Pemerintah Total Puskesmas Seleksi secara Proporsional random sampling sampai dengan jumlah 43 Puskesmas

Variabel Penelitian Variable kegiatan 1. Kabupaten/Kota yang telah mempunyai RENSTRA sesuai situasi lokal 2. Keterjangkauan kaum miskin kepada pelayanan kesehatan 3. Kontribusi APBD bagi kesehatan 4. Persentasi wanita dalam pengembangan SDM Kesehatan 5. Health Sector Reform dalam menunjang SKN 6. Pemberdayaan masyarakat (LSM, Sektor swasta serta organisasi profesi) 7. Persentasi Daerah Proyek yang melaksanakan SIM/SIK daerah sesuai dengan pedoman 8. Jumlah RS/Puskesmas yang melaksanakan Manajemen Mutu Prima

9. SDM kesehatan Kabupaten/Kota yang melaksanakan perencanaan kebutuhan tenaga, pelatihan/training 10. Jumlah RS yang melaksanakan PONED dan Puskesmas yang

melaksanakan PONEK

Variabel hasil 1. Proporsional Jumlah Kematian Bayi dan Ibu Diantara Kelahiran Hidup 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Jumlah Kematian Balita Prevalensi Gizi Buruk Anak Capaian Imunisasi Kematian Beberapa Penyakit Infeksi Balita Kematian Karena Diare Diantara Balita Persentasi Liputan Pelayanan Antenatal (K1, K3 berkualitas) Jumlah Persalinan Yang Ditolong Petugas Kesehatan/Tenaga Terlatih 9. Persentasi Pemberian Fe Pada Wanita Hamil

10. Persentasi Pemberian Vitamin A Pada BALITA 11. Capaian Rumah Tangga Yang Mengkonsumsi Garam Beryodium 12. Kebutuhan Tidak Terpenuhi (Unmet Needs) Pada KB 13. Contact Rate Instrumen Penelitian

Data primer : Wawancara langsung Pengamatan

Data sekunder : Data profil Data Hasil kegiatan

Pengumpulan Data dan Analisis data Data yang dikumpulkan setelah dimasukkan dalam komputer, dilakukan kliring dan pengeditan, kemudian data diolah dan dipresentasikan dalam bentuk angka, tabel, dan grafik. Dipergunakan Epi Info 6.0 dan SPSS 8.0 (for Windows) sebagai perangkat lunak untuk mengolah data. D. JANGKA WAKTU PENELITIAN Penelitian dilaksanakan selama 45 hari kerja
2005 November I II III IV

dengan jadwal

pelaksanaan masing-masing kegiatan tertera pada tabel di bawah ini.


NO 1. 2. 3. 4 5 KEGIATAN Persiapan proposal Pelatihan Survei lapangan Pengolahan data Seminar I Oktober II III IV Desember II III IV

10

Pelaporan

E. TEMPAT PENELITIAN Dilaksanakan di Propinsi Sulawesi Utara yang meliputi Dinkes Propinsi Sulut, Dinkes di 9 kab/kota; yaitu Manado, Tomohon, Bitung, Minduk, Minsel, Minut, Bolmong, Sangihe, dan Talaud serta 43 Puskesmas yang tersebar pada 9 kabupaten/kota di propinsi Sulawesi Utara. F. PELAKSANA Tim Peneliti dari Fakultas Kedokteran UNSRAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


1. Decentralized Health Services (DHS) Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom dalam rangka negara kesatuan Republik Indonesia. Pengelolaan upaya kesehatan mulai dari perencanaan,

pelaksanaan, pemantauan, sampai penilaian diselenggarakan secara terpadu, menyeluruh, dinamis, dan didukung oleh system informasi kesehatan yang mantap sehingga menjamin pelaksanaan upaya yang efektif disertai dengan pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien. Desentralisasi dilaksanakan atas dasar prinsip otonomi yang nyata, dinamis, serasi, dan bertanggung jawab. Hal ini dilakukan melalui pelimpahan tanggung jawab pengelolaan pelayanan kesehatan,

utamanya kepada Dati II. Dengan demikian pemerintah daerah makin

11

bertanggung jawab dalam perencanaan dan pembiayaan upaya pelayanan kesehatan serta lebih bermotivasi untuk secara bertahap mencukupi kebutuhan investasi, biaya operasional dan pemeliharaan pelayanan kesehatan di daerahnya termasuk dengan dana yang berasal dari penerimaan melalui fasilitas kesehatan. Desentralisasi menjanjikan banyak keuntungan, disamping banyak kendala. Salah satu dari kendala adalah otonomi yang tidak terkendali, yang dapat mengancam tercapainya tujuan pembangunan nasional. Untuk itu ditetapkan kewenangan wajib dan standar

pelayanan minimal. Kewenangan wajib seperti tertuang dalam pasal 11 ayat 2 UU no.22 thn 1999; kewenangan bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh kabupaten/kota meliputi salah satunya adalah kesehatan. Sedangkan Standar Pelayanan Minimal adalah suatu standar dengan batas-batas tertentu untuk mengukur kinerja

penyelenggaran kewenangan wajib daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar kepada masyarakat.

12

2. Maternal Neonatal Child Health Peningkatan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia adalah salah satu komitmen DepKes melalui penerapan Rencana Pengurangan Angka Kematian dan Kesakitan Ibu dan Bayi. Setelah Indonesia berhasil membuat yang investasi mendasar yang dan penting sumber dalam daya pembangunan untuk

prasarana

manusia

memberikan penghantaran Pelayanan Kesehatan Utama, indikatorindikatornya belum memperlihatkan hasil positif yang diharapkan. Meskipun adanya kemajuan di antara indikator-indikator sosial

ekonomi, Angka Kematian Ibu dan Bayi masih tinggi dengan perkiraan sekitar 334 kematian ibu per 100.000 kelahiran yang hidup - Metode Sisterhood 1997 - dan Angka Kematian Bayi sebesar 25/1000.

13

Indikator yang menunjukkan masalah yang harus dihadapi: meskipun kunjungan antenatal yang pertama menjangkau 90% dari ibu hamil, hanya 60% kelahiran dilakukan oleh personel yang terampil. Hingga kini, penerimaan, akses dan penggunaan perawatan darurat yang dasar dan lengkap bergantung pada jangkauan ekonomi, perilaku, sosial, budaya dan kemampuan dan pengetahuan dari wanita dan pria untuk memutuskan jika dan dimana untuk mencari pelayanan. Penyebab ini dapat berasal dari berbagai batasan finansial sampai dengan kurangnya kepastian dalam pelayanan yang memperlihatkan kebutuhan akan perbaikan yang besar karena referensi waktu dalam situasi darurat masih menjadi isu di banyak daerah, perawatan perinatal tidak menanggapi persyaratan kualitas dan masih rendahnya pengertian akan pentingnya yang persiapan kelahiran: dengan situasi kematian yang dan

meningkatkan

risiko

berhubungan

kesakitan ibu dan perinatal. Menurut WHO dan Departemen Kesehatan ada beberapa faktor yang menyebabkan AKI dan bayi, antara lain anemia (kekurangan darah), gizi, faktor budaya, ekonomi, pendidikan, dan kekerasan. Semua faktor tersebut membuat kaum ibu tidak berdaya. Untuk itulah pada peringatan hari kesehatan dunia yang jatuh pada 7 April 2005, WHO mengangkat tema Membuat setiap ibu dan anak berarti . Dan di Indonesia tema tersebut diadaptasi menjadi Ibu sehat, anak sehat, setiap saat

14

Untuk

menunjang

berbagai

upaya

kesehatan,

mutu

dan

pemerataan pelayanan kesehatan maka titik berat diletakkan pada pelayanan kesehatan dasar juga diselenggarakan secara terpadu. Pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat diikuti dengan peningkatan mutu pelayanan dan profesionalisme tenaga kesehatan. Penurunan angka kesakitan, kecacatan dan kematian serta peningkatan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan diarahkan untuk mengatasi dan mengendalikan berbagai masalah kesehatan yang ada di masyarakat meliputi berbagai penyakit infeksi menular, gangguan gizi pada golongan masyarakat yang rentan, pelaksanaan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera (HKKBS),

peningkatan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan keluarga maupun masyarakat untuk menyumbangkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). 3. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) Yodium merupakan zat gizi mikro yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental. Sekitar 75 % dari iodium ada di dalam kelenjar tiroid yang digunakan untuk mensistesis hormon tiroksin, tetraiodotironin (T4) dan Triiodotironin (T3). Iodium secara alami terdapat pada tanah dan air. Di daerah pegunungan umumnya kurang mengandung iodium karena terbawa aliran air, sungai, banjir, erosi dan lain-lain.1

15

Kebutuhan unsur iodium berbeda menurut golongan umur. WHO merekomendasikan sebagai berikut : Umur Kebutuhan (mikrogram) 0-6 bulan 40 6-12 bulan 50 1-10 tahun 70-120 >11 tahun 120-150 Ibu Hamil 175 Ibu Menyusui 200 Di dalam satu butir kapsul yodium, terdapat kandungan yodium sebesar 200 mg, yang dapat mencegah kekurangan yodium selama satu tahun. Banyak faktor yang ditimbulkan akibat kekurangan yodium. Pada fetus dapat terjadi abortus, lahir mati, anomali kongenital,

peningkatan kematian perinatal, defek psikomotor, kretin nervosa dan kretin miksodermatosa. Pada neonatus dapat terjadi gondok neonatus dan hipotiroid neonatus. Pada bayi, anak dan remaja, kekurangan yodium dapat menyebabkan gondok, hipotiroidi juvenil, gangguan fungsi mental, keterbelakangan fisik dan peningkatan kerentanan terhadap radiasi nuklir. Pada orang dewasa, kekurangan yodium dapat menyebabkan gondok dan komplikasinya, hipotiroidi, gangguan fungsi mental.2 Mengetahui berbahayanya akibat yang ditimbulkan oleh

kekurangan yodium, maka sangat perlu dilakukan upaya pencegahan. Kekurangan yodium dapat dicegah dengan beberapa upaya:
1

16

1. Konsumsi makanan seimbang, terutama dari sumber iodium seperti ikan laut, kerang, rumput laut, kepiting dan lain-lain. 2. Menggunakan garam beryodium dengan kadar 30-80 ppm setiap harinya 3. Mengkonsumsi kapsul yoodium 1 tahun sekali bagi wanita usia subur, ibu hamil, ibu menyusui khususnya di daerah endemik

Mengingat demikian besar dampak yang ditimbulkan Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), maka pemerintah telah melaksanakan upaya penanggulangan secara sungguh-sungguh yang salah satunya adalah kebijakan fortifikasi unsur yodium pada garam konsumsi. Standar (SNI) kandungan yodium dalam garam ditentukan sebesar 3080 ppm. Menurut Keppres No 9 tahun 1994, maka SNI garam konsumsi diterapkan secara wajib terhadap produsen, distributor maupun pedagang. Namun demikian tidak semua produsen garam mematuhi peraturan tersebut, sehingga masih banyak pedagang yang menjual garam yang tidak memenuhi syarat. Seperangkat dasar hukum tentang garam beryodium dan penanggulangan GAKY telah lama ada seperti UU No. 5/84 tentang perindustrian, UU No. 23/92 tentang kesehatan, UU No. 7/96 tentang pangan, UU No. 8/99 tentang perlindungan konsumen, PP No. 15/91 tentang SNI, PP No. 69/94 tentang label dan iklan pangan dan lain-lain. Namun umumnya perangkat hukum yang ada belum menyentuh pada sanksi yang tegas.

17

Oleh

karena

itu,

Prof.

Razak

Thaha
3

mengusulkan

strategi

penanggulangan GAKY sebagai berikut : 1. Law enforcement, yang

ditujukan

untuk

mengembangkan

penerapan peraturan, penggalangan kesepakatan terpadu lintas sektor. 2. Sosial enforcement, yang ditujukan untuk meningkatkan

kesertaan masyarakat/institusi pembinaan-pemantauan. 3. Service delivery, untuk menjamin ketersediaan-keterjangkauan garam beryodium melalui sistem produksi-distribusi-pemasaran yang berkesinambungan 4. Applied technology, sebagai upaya menggunakan teknologi tepat guna dalam menjamin kuantitas-kualitas ketersediaan

garam beryodium. Selanjutnya, penting untuk melakukan promosi garam beryodium pada rumah tangga, terutama pada ibu rumah tangga yang adalah penggerak / pengatur rumah tangga. Oleh karena itu perlu dipelajari hal hal apa yang kiranya dapat mendorong ibu untuk membeli dan mengkonsumsi garam beryodium, dan faktor apa yang menghambat mereka untuk menggunakan garam beryodium. Faktor ketersediaan garam beryodium di pasaran merupakan hal penting. 4. Diare
18

Diare adalah suatu gejala yang disebabkan adanya peradangan pada saluran pencernaan, yang mengakibatkan terjadinya perubahan konsistensi dan frekuensi dari tinja. Penyebab diare umumnya

makanan. Bisa karena keracunan makanan atau karena kuman dalam makanan. Kalau makanannya beracun, gejala utamanya muntah, baru diikuti diare. Kalau karena kuman pada makanan, biasanya diare dulu baru kemudian muntah. Dalam bukunya, Anies menyebutkan, diare merupakan keadaan gawat darurat sehingga harus segera

ditanggulangi sebelum kondisi dehidrasi terjadi, yaitu pertama-tama dengan memberikan banyak minum. Pemberian susu formula dan jus buah dihentikan sementara. Namun, ASI tetap dilanjutkan. Bila diare terjadi berulang kali, anak akan kehilangan banyak cairan, bahkan sejumlah mineral penting, seperti sodium, potasium, dan klorida ikut terbuang. Bila berkelanjutan, bisa terjadi ketidakseimbangan cairan tubuh sehingga timbul dehidrasi. Kondisi dehidrasi inilah yang paling dikhawatirkan meski diare pada dasarnya akan sembuh sendiri. Untuk mengatasinya, anak perlu diberi cairan sebanyak mungkin. Tidak harus larutan oralit. Bisa berupa teh manis, air gula garam, jus, sup, air tajin justru cukup efektif bagi bayi untuk mengatasi diare. Juga jauh lebih baik dibandingkan dengan oralit karena tajin mengandung glukosa polimer yang mudah diserap. Larutan gula garam dibuat dengan perbandingan dua sendok teh gula pasir dan setengah sendok teh garam untuk segelas air putih. Larutan ini, menurut Anies, diberikan

19

sedikitnya setengah gelas tiap kali anak muntah atau buang air besar. Bisa juga diberikan satu sendok makan setiap lima menit, sampai anak dapat buang air kecil secara normal.Air tajin selain cepat dicerna, juga mengandung kadar glukosa cukup tinggi, yang akan mempermudah penyerapan elektrolit. Selain itu dua macam poliglukosa dalam tepung tajin dapat menyebabkan feses lebih padat. Keuntungan lain air tajin adalah adanya kandungan proteinnya, yaitu 7 - 10 %. Sedangkan garam oralit tidak mengandung protein. Penggunaan air tajin sebagai "obat diare", tidak berbahaya untuk bayi sekalipun.4 5. Imunisasi Kata imun berasal dari bahasa Latin immunitas yang berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka terhadap kewajiban sebagai

warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik lagi, terhadap penyakit menular. Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektracunnya, yang masuk ke dalam tubuh. 5 Sesuai dengan program pemerintah, anak-anak wajib

mendapatkan imunisasi dasar terhadap tujuh macam penyakit yaitu TBC, difteria, tetanus, batuk rejan (pertusis), polio, campak (measles, morbili) dan hepatitis B. Sedangkan imunisasi terhadap penyakit lain

20

seperti gondongan (mumps), campak Jerman (rubella), tifus, radang selaput otak (meningitis) Hib, hepatitis A, cacar air (chicken pox, varicella) dan rabies tidak diwajibkan, tetapi dianjurkan. Berikut ini penjelasan mengenai beberapa vaksin yang sering diberikan pada anak:
6

a. Vaksin BCG Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena terhirupnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. Kuman ini dapat menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru-paru (paling sering terjadi), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak (yang terberat). Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja. Bila pemberian imunisasi ini "berhasil," maka setelah beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul benjolan kecil. Karena luka suntikan meninggalkan bekas, maka pada bayi perempuan, suntikan sebaiknya dilakukan di paha kanan atas. Biasanya setelah suntikan BCG diberikan, bayi tidak menderita demam. b. Vaksin DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus) Kuman difteri sangat ganas dan mudah menular. Gejalanya adalah demam tinggi dan tampak adanya selaput putih kotor pada tonsil (amandel) yang dengan cepat meluas dan menutupi jalan napas.

21

Selain itu racun yang dihasilkan kuman difteri dapat menyerang otot jantung, ginjal, dan beberapa serabut saraf. Racun dari kuman tetanus merusak sel saraf pusat tulang belakang, mengakibatkan kejang dan kaku seluruh tubuh. Pertusis (batuk 100 hari ) cukup parah bila menyerang anak balita, bahkan penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Di Indonesia vaksin terhadap difteri, pertusis, dan tetanus terdapat dalam 3 jenis kemasan, yaitu: kemasan tunggal khusus untuk tetanus, bentuk kombinasi DT, dan kombinasi DPT. Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali, yaitu sejak bayi berumur 2 bulan dengan selang waktu penyuntikan minimal selama 4 minggu. Suntikan pertama tidak memberikan perlindungan apa-apa, itu sebabnya suntikan ini harus diberikan sebanyak 3 kali. Imunisasi ulang pertama dilakukan pada usia 1 - 2 tahun atau kurang lebih 1 tahun setelah suntikan imunisasi dasar ke-3. Imunisasi ulang berikutnya dilakukan pada usia 6 tahun atau kelas 1 SD. Pada saat kelas 6 SD diberikan lagi imunisasi ulang dengan vaksin DT (tanpa P). Reaksi yang terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan nyeri di tempat suntikan selama 1-2 hari. Imunisasi ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah dan yang menderita kejang demam kompleks. c. Vaksin Polio Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak mendadak lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah

22

demam selama 2-5 hari. Terdapat 2 jenis vaksin yang beredar, dan di Indonesia yang umum diberikan adalah vaksin Sabin (kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya melalui mulut. Dibeberapa negara dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio. Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari dan selanjutnya diberikan setiap 4-6 minggu. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT. Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT.

d. Vaksin Campak (Morbili, Measles) Penyakit ini sangat mudah menular. Gejala yang khas adalah timbulnya bercak-bercak merah di kulit setelah 3-5 hari anak menderita demam, batuk, atau pilek. Bercak merah ini mula-mula timbul di pipi yang menjalar ke muka, tubuh, dan anggota badan. Bercak merah ini akan menjadi coklat kehitaman dan menghilang dalam waktu 7-10 hari. Pada stadium demam, penyakit campak sangat mudah menular. Sedangkan pada anak yang kurang gizi, penyakit ini dapat diikuti oleh komplikasi yang cukup berat seperti radang otak (encephalitis), radang paru, atau radang saluran kencing. Bayi baru lahir biasanya telah mendapat kekebalan pasif dari ibunya ketika dalam kandungan dan kekebalan ini bertahan hingga usia bayi mencapai 6 bulan.

23

Imunisasi campak diberikan kepada anak usia 9 bulan. Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. Namun adakalanya terjadi demam ringan atau sedikit bercak merah pada pipi di bawah telinga, atau pembengkakan pada tempat suntikan. e. Vaksin Hepatitis B Cara penularan hepatitis B dapat terjadi melalui mulut, transfusi darah, dan jarum suntik. Pada bayi, hepatitis B dapat tertular dari ibu melalui plasenta semasa bayi dalam kandungan atau pada saat kelahiran. Virus ini menyerang hati dan dapat menjadi kronik/menahun yang mungkin berkembang menjadi cirrhosis (pengerasan) hati dan kanker hati di kemudian hari. Imunisasi dasar hepatitis B diberikan 3 kali dengan tenggang waktu 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua, dan tenggang waktu 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga. Imunisasi ulang diberikan 5 tahun setelah pemberian imunisasi dasar.
[

f. Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) Vaksin ini masih diimpor dan harganya cukup mahal. Penyakit gondongan sebenarnya tidak berbahaya, tetapi bisa mengakibatkan komplikasi yang serius seperti radang otak dan radang buah pelir (pada pria) atau kandung telur (pada wanita) dan dapat

mengakibatkan kemandulan. Penyakit rubella sebenarnya ringan, tetapi dapat membahayakan karena dapat merusak janin dalam kandungan pada masa kehamilan muda. Imunisasi MMR diberikan satu

24

kali setelah anak berumur 15 bulan. Imunisasi ulang dilakukan setelah anak berusia 12 tahun. g. Vaksin Tifus/ Demam Tifoid Vaksin ini tidak diwajibkan dengan pertimbangan bahwa penyakit tifus tidak berbahaya pada anak dan jarang menimbulkan komplikasi. Gejala penyakit yang khas adalah demam tinggi yang dapat

berlangsung lebih dari 1 minggu disertai dengan lidah yang tampak kotor, sakit kepala, mulut kering, rasa mual, lesu, dan kadang-kadang disertai sembelit atau mencret. Ada 2 jenis vaksin demam tifoid, yaitu vaksin oral (Vivotif) dan vaksin suntikan (TyphimVi). Vaksin suntikan diberikan sekali pada anak umur 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun. Vaksin oral diberikan pada anak umur 6 tahun atau lebih. Kemasan vaksin oral terdiri dari 3 kapsul yang diminum sekali sehari dengan selang waktu 1 hari.

h. Vaksin Radang Selaput Otak Haemophilus influenzae tipe B (Hib) Penyakit ini berbahaya dan paling sering menyerang anak usia 612 bulan. Radang selaput otak Hib sering mengakibatkan cacat saraf atau kematian. Di Indonesia telah beredar 2 jenis vaksin Hib, yaitu ActHIB buatan Perancis dan Pedvax HIB buatan USA. Pedvax HIB: Imunisasi dasar diberikan 2 kali pada usia 2-14 bulan dengan selang waktu 2 bulan. Bila dosis kedua diberikan pada usia di bawah 12 bulan, maka imunisasi ulangan harus diberikan paling

25

cepat 2 bulan setelah suntikan kedua. Untuk anak yang baru mendapat imunisasi setelah berusia lebih dari 15 bulan, maka imunisasi cukup diberikan satu kali tanpa ulangan.

ActHIB: Imunisasi dasar diberikan pada usia 2-6 bulan sebanyak 3 kali dengan jarak waktu 1-2 bulan. Imunisasi ulangan diberikan 12 bulan setelah imunisasi terakhir. Bila imunisasi diberikan pada usia 1-5 tahun maka cukup diberikan satu kali tanpa ulangan. i. Vaksin Hepatitis A Walaupun gejalanya lebih nyata dan lebih berat dari hepatitis B, penyakit ini jarang menyebabkan komplikasi atau kematian. Tandatandanya adalah demam, mual, lesu, mata dan kulit kekuningan disertai warna kencing seperti air teh. Biasanya akan sembuh dalam waktu 2-3 minggu. Imunisasi dasar dengan vaksin Havrix diberikan 2 kali dengan selang waktu 2-4 minggu. Dosis ke-3 diberikan 6 bulan setelah suntikan pertama. j. Vaksin Cacar Air (Varicella) Cacar air merupakan penyakit yang sangat menular, tetapi ringan. Gejalanya khas, mula-mula timbul bintik kemerahan yang makin membesar membentuk gelembung berisi air dan akhirnya mengering dalam waktu 1 minggu. Gejala ini mula-mula muncul di daerah perut, dada dan punggung, kemudian menyebar ke muka, kepala dan anggota badan. Komplikasi yang mungkin timbul adalah radang kulit, radang paru (pneumonia), radang otak (encephalitis),

26

atau varicella kongenital bila ibu menderita varicella pada kehamilan muda. Harga vaksin (Varillix) masih mahal, karena itu

direkomendasikan diberikan pada anak berusia di atas 12 tahun yang belum pernah terkena varicella dan diulang 6-8 minggu kemudian.

6. Vitamin A Program penanggulangan masalah kurang vitamin A di Indonesia telah dilaksanakan sejak tahun 1995 dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi, untuk mencegah masalah kebutaan karena kurang Vitamin A, dan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Pemberian kapsul Vitamin A menunjang penurunan angka kesakitan dan angka kematian anak (30-50%). Dalam upaya penyediaan vitamin A yang cukup untuk tubuh ditempuh kebijaksanaan sebagai berikut :
7

1. Peningkatan konsumsi sumber vitamin A alami 2. Fortifikasi vitamin A pada bahan makanan 3. Distribusi vitamin A dosis tinggi secara berkala Dengan melakukan distribusi kapsul Vitamin A pada balita yang dilakukan secara serentak pada bulan Februari dan Agustus dimulai tahun 1982, ternyata dapat meningkatkan cakupan dan menurunkan prevalensi X1b menjadi 0,33 % (<0,5%), sehingga Indonesia mendapat Award dari Hellen Keller International (HKI), Lembaga Swadaya Masyarakat Internasional yang bergerak di bidang kesehatan, pada

27

tahun

1993.

Namun

krisis

moneter

yang

berkepanjangan

mengakibatkan timbulnya kasus gizi buruk terutama pada balita, termasuk kasus buta senja yang semula sudah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat di perkirakan akan muncul kembali. Data dari beberapa daerah telah ditemukan Xeropthalmia tingkat ringan sampai berat. Selain faktor gizi buruk, penyakit infeksi khususnya campak dan tidak mendapatkan kapsul Vitamin A secara rutin memicu timbulnya kasus-kasus xeropthalmia. Oleh karena itu pemerintah Indonesia melakukan akselerasi untuk menanggulangi masalah ini.
7

Akselerasi cakupan kapsul vitamin A adalah upaya mempercepat pencapaian cakupan distribusi vitamin A untuk semua kelompok sasaran ( bayi, balita dan ibu nifas) yang dilakukan melalui kegiatan pemasaran sosial dan mobilisasi sosial. Akselerasi ini bertujuan agar semua bayi, balita, ibu nifas mendapat dan meminum kapsul vitamin A dosis tinggi dalam upaya menurunkan prevalensi KVA. Akselerasi cakupan vitamin A dilakukan pada semua tingkatan yaitu tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi dan pusat, dan untuk mrngukur keberhasilan akselarasi tersebut dilakukan pula pemantauan dan penilaian pada semua tingkat administrasi.

Keberhasilan akselarasi ini akan berpengaruh besar pada upaya penurunan prevalensi KVA di masyarakat.
7

Penelitian yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1992 menunjukkan dari 20 juta balita di Indonesia yang berumur

28

enam bulan hingga lima tahun, setengahnya menderita kekurangan vitamin A. Sedangkan data WHO tahun 1995 menyebutkan Indonesia adalah salah satu negara di Asia yang tingkat pemenuhan terhadap vitamin A tergolong rendah. Sementara studi yang dilakukan Nutrition and Health Surveillance System (NSS), kerjasama HKI dan Departemen Kesehatan, tahun 2001 menunjukkan sekitar 50 persen anak Indonesia usia 12-23 bulan tidak mengonsumsi vitamin A dengan cukup dari makanan sehari-hari.8 Departemen Kesehatan sendiri gencar melakukan program penanggulangan kekurangan vitamin A sejak tahun 1970-an. Menurut catatan Depkes, tahun 1992 bahaya kebutaan akibat kekurangan vitamin A mampu diturunkan secara signifikan. Namun sebanyak 50,2 persen balita masih menderita kekurangan vitamin A sub-klinis yang juga sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup anak.8 Guna menanggulangi hal ini, Depkes menggandeng HKI untuk program pemberian kapsul vitamin A bagi anak usia 6-59 bulan di Indonesia. Vitamin A dosis tinggi diberikan pada balita dan ibu nifas. Pada balita diberikan dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Agustus dengan dosis 100.000 IU untuk anak 6-12 bulan dan 200.000 IU untuk anak 12-59 bulan dan ibu nifas.8

29

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN


I. Indikator Kesehatan Masyarakat Dan Pencapaian Indikator Menunjang Pelayanan Kesehatan A. Indikator kesehatan masyarakat sesuai dengan yang ditetapkan pasca DHS menyangkut : 1. Proporsional Jumlah Kematian Bayi dan Ibu

Diantara Kelahiran Hidup Proporsional jumlah kematian bayi dan ibu diantara kelahiran hidup dapat dilihat pada tabel I.1.1
Tabel. I.1.1 Proporsional Jumlah Kematian Bayi dan Ibu Diantara Kelahiran Hidup
TMH MDO AKB AKI 11 2 3 0 BTG 11 4 MINSEL 31 0 MINUT 13 2 MINDUK 27 1 BOLMONG 4 7 SANGIHE TALAUD TOTAL 3 5 13 2 116 23

Berdasarkan tabel, ditemukan angka kematian bayi di seluruh kabupaten/kota masih tinggi. Angka tertinggi terdapat di

kabupaten Minsel (31 kasus) sedangkan yang terendah di kabupaten Sangihe (3 kasus). Angka kematian ibu tertinggi di kabupaten Bolmong dan terendah di kota Manado. Diharapkan akan terjadi penurunan angka kematian bayi menjadi sekurangkurangnya 30 % di bawah data dasar daerah pada tahun 2010.

2.

Capaian Imunisasi Capaian Imunisasi dapat dilihat pada tabel I.1.2

30

Tabel I.2. Capaian Imunisasi


TMH MDO BTG MINSEL MINUT MINDUK BOLMONG SANGIHE TALAUD IMUNISAS %I 62 75 85 83.8 90 85.9 80,9 84,5 81

Capaian imunisasi di 7 kabupaten telah mencapai UCI (Universal Child Imunnization) di atas 80 %, pada Tomohon dan Manado belum mencapai UCI (< 80 %). 3. Angka Infeksi (Malaria) Angka kesakitan karena beberapa penyakit infeksi (malaria) dapat dilihat pada tabel I.1.3
Tabel I.1.3. Angka Kesakitan Karena Beberapa Penyakit Infeksi (Malaria)
MDO T MH BT G MINSEL MINUT MINDUK BOLMONG SANGIHE T ALAUD T OT AL Malaria 177 143 512 155 443 652 2235 1478 92 5887

Kesakitan

Karena

Beberapa

Penyakit

Dari hasil yang didapatkan ternyata angka kesakitan yang disebabkan karena penyakit infeksi masih sangat tinggi, yang paling tinggi berada dikabupaten Bolmong (2235 kasus),

sedangkan yang terendah berada di kabupaten Talaud (92 kasus). Berdasarkan indikator kesehatan masyarakat, pengurangan

angka prevalensi dan case fatality rate malaria sekurang kurangnya 50% dibawah data dasar daerah. 4. Angka Kesakitan Karena Diare

31

Angka kesakitan karena diare dapat dilihat pada tabel I.1.4

Tabel I.1.4. Angka Kesakitan Karena Diare


MDO T MH BT G MINSEL MINUT MINDUK BOLMONG SANGIHE T ALAUD T OT AL Diare 897 118 485 100 187 313 689 387 20 3196

Dari angka kesakitan akibat diare diatas, ternyata yang paling tinggi terjadi di kota Manado (897 kasus) dan paling rendah di kabupaten Talaud (20 kasus). 5. berkualitas) Persentasi liputan pelayanan antenatal (K1, K4 berkualitas) dapat dilihat pada tabel I.1.5
Tabel I.1.5. Persentasi Liputan Pelayanan Antenatal (K1, K4 berkualitas)
MDO T MH BIT UNG MINSEL MINUT MINDUK BOLMONG SANGIHE T ALAUD % % % 79,9 65,15 % 64,32 63,16 % 90,92 83,06 % 77,50 72,3 % 89 62,43 % 56,4 43,64 % 97 81 K 1 74,96 65,52 K 4 60,73 58,59

Persentasi Liputan Pelayanan Antenatal (K1, K4

Dari angka persentasi liputan pelayanan antenatal diatas didapat yang paling tinggi di kabupaten Talaud (97 % dan 81 %) dan terendah di kabupaten Sangihe (56,4 % dan 43,64 %). Berdasarkan indikator kesehatan masyarakat, persentase

liputan pelayanan antenatal, postnatal dan neonatal meningkat dari 75% menjadi 90%. 6. Jumlah Persalinan Yang Ditolong Petugas

Kesehatan/Tenaga Terlatih
32

Jumlah

persalinan

yang

ditolong

petugas

kesehatan/tenaga

terlatih dapat dilihat pada tabel I.1.6

Tabel I.1.6. Jumlah Persalinan Yang Ditolong Petugas Kesehatan/Tenaga Terlatih Tmh Mdo Minsel Bolmong Bitung 40% Minut Minduk Talaud 67,40% Sangihe 56,12%

66,43% 62,40% 72,47% 86,02%

72,56% 76,20%

Dari tabel diatas dapat dilihat jumlah persalinan yang ditolong petugas kesehatan rata-rata sebesar 66,62%. Dimana tertinggi di Bolmong (86,02 %) dan terendah di Bitung (40 %). Berdasarkan indikator kesehatan masyarakat, jumlah persalinan yang ditolong petugas kesehatan terlatih meningkat hingga

70%, sekurang-kurangnya 70% Puskesmas dengan pelayanan kebidanan darurat dasar, dan sekurang-kurangnya 70% rumah sakit dengan pelayanan kebidanan lanjutan, atau sekurangkurangnya 30% lebih tinggi dari data dasar daerah. 7. Persentasi Pemberian Fe Pada Wanita Hamil Persentasi pemberian fe pada wanita hamil dapat dilihat pada tabel I.1.7
Tabel I.1.7. Persentasi Pemberian Fe Pada Wanita Hamil Tmh Mdo Minsel Bolmong Bitung Minut Minduk 78,46% 86,64% 76,52% 64,97% 79,33% 69% 60% Talaud 36,80% Sangihe 70,47%

33

Persentasi pemberian Fe pada wanita hamil masih sangat rendah dikabupaten Talaud (46,80 %) dan tertinggi di kota manado (86,64 %). Dari indikator kesehatan masyarakat, prevalensi anemia

defisiensi besi diantara wanita hamil turun dari 50,9% menjadi 40%.

8.

Persentasi Pemberian Vitamin A Pada BALITA Persentasi pemberian vitamin a pada balita dapat dilihat pada

tabel I.1.8
Tabel I.1.8. Persentasi Pemberian Vitamin A Pada BALITA Tomohon Manado Minsel Bolmong Bitung 89,28% 100% 94,46% 88,96% 78,60% Minut 80% Minduk Talaud Sangihe 99,54%

42,60% 26,80%

Pemberian vitamin A berkisar 77,80 %, paling tinggi berada di Manado (100%), dan dimana terdapat 2 kabupaten yang pelaksanaannya belum mencapai rata rata yaitu Minduk (42,60%) dan Talaud (26,80%).

9. Garam Beryodium

Capaian Rumah Tangga Yang Mengkonsumsi

Capaian rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium dapat dilihat pada tabel I.1.9
Tabel I.1.9. Capaian Rumah Tangga Yang Mengkonsumsi Garam Beryodium

34

Tomohon Manado Minsel Bolmong Bitung 14,50% 39,20% 20%

Minut -

Minduk Talaud 40%

Sangihe -

Dari data diatas didapatkan rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium paling banyak berada di Talaud (40%), dan yang paling rendah berada di Tomohon (14,5%). Ada 5

kabupaten yang tidak mempunyai data. Berdasarkan indikator kesehatan masyarakat, persentase rumah tangga yang

mengkonsumsi garam beryodium meningkat dari 63,5% menjadi 90%. 10. Jumlah Peserta KB Jumlah peserta KB dapat dilihat pada tabel I.1.10
Tabel I.1.10. Jumlah Peserta KB Tomohon Manado Minsel Bolmong Bitung 53% 46,76% 58,86% 81,43% 57% Minut Minduk 48,16% 63,58% Talaud 40% Sangihe 31,52%

Jumlah peserta KB di masing masing kabupaten tidak merata, dikarenakan usaha KB yang dilaksanakan di PKM masih terbatas pada pembatasan dan kelahiran pengobatan sedangkan kegiatan belum nasehat dapat

perkawinan

kemandulan

dilaksanakan. Paling banyak

Paling banyak ada di Bolmong

(81,43%), dan yang paling rendah di Sangihe (31,52%). Kebutuhan yang tidak terpenuhi (Unmet needs) pada KB 30% lebih rendah daripada data dasar saat ini (atau sekurangkurangnya 75% daerah dalam proyek memenuhi indikator ini. 11. Contact Rate per bulan

35

Contact Rate per bulan dapat dilihat pada tabel I.1.11


Tabel I.1.11. Contact Rate per bulan Tomohon Manado Minsel Bolmong Bitung Minut Minduk 767 org 1739 org 307 org 1033 org 1915 org 2164 org 914 org Talaud 392 org Sangihe 739 org

Jumlah pengunjung PKM per bulan di setiap wilayah cukup banyak dikarenakan sebagian besar masyarakat ( 76 % ) menilai bahwa kualitas pelayanan PKM cukup memuaskan. Pengunjung PKM terbanyak ada di daerah Minduk (2164) dan paling sedikit berada di Minsel (307). Peningkatan contack rate (orang berhubungan dengan fasilitas kesehatan sekurang-kurangnya 60% atau 25% lebih tinggi dari data dasar Daerah (atau sekurang-kurangnya 75% Daerah dalam Proyek memenuhi indikator ini)

B.

Pencapaian indikator manajemen pelayanan kesehatan sesuai dengan yang ditetapkan pasca proyek DHS :

1.

Kabupaten/Kota Yang Telah Mempunyai RENSTRA Sesuai Situasi Lokal Kabupaten/Kota yang telah mempunyai RENSTRA sesuai situasi lokal dapat dilihat pada tabel I.2.1
Tabel I.2.1. Kabupaten/Kota Yang Telah Mempunyai RENSTRA Sesuai Situasi Lokal

Keterangan Renstra

MDO +

BTG +

TMH +

MINDUK +

MINUT +

MINSEL +

BOLMONG +

SANGIHE +

TALAUD +

Dari data diatas dapat dilihat bahwa dari 9 kabupaten/kota di propinsi Sulawesi Utara seluruhnya (100%) telah menyusun rencana strategik pembangunan kesehatan.
36

2. Kesehatan

Keterjangkauan Kaum Miskin Kepada Pelayanan Keterjangkauan kaum miskin kepada pelayanan kesehatan dapat dilihat pada tabel I.2.2
Tabel I.2.2. Keterjangkauan Kaum Miskin Kepada Pelayanan Kesehatan

Keterangan
Jml Gakin yg datang berobat tiap bulan

MDO

BTG

TMH

MINDUK

MINUT

MINSEL

BOLMONG

SANGIHE

TALAUD

1319

1054

1148

1394

649

355

5883

874

389

% dari jml pengunjung keseluruhan Pelayanan kartu miskin dari PKM: Tanpa kartu miskin 3 2 1 3 3 2 3 5 5 1 4 1 4 5 22,5% 34,6% 45,60% 6,46% 12,45% 10,15% 22,81% 36,16% 13,31%

Dari data yang ada dapat dilihat bahwa pelayanan kesehatan pada kaum miskin pada setiap kabupaten belum merata. Juga pelayanan kartu miskin dari 3 kabupaten belum ada. Jumlah GAKIN yang datang berobat di PKM rata-rata 820 per bulan yang merupakan 22,67 % dari jumlah pengunjung PKM. Angka tertinggi berada di daerah Tomohon (45, 60%), dan terendah di Minsel (10,15%) Peningkatan keterjangkauan kaum miskin kepada pelayanan kesehatan sekurang-kurangnya 80% atau 50% lebih tinggi dari data dasar daerah (atau sekurang-kurangnya 75% Daerah dalam Proyek memenuhi indikator ini) 3. Kontribusi APBD Bagi Kesehatan

37

Kontribusi APBD bagi kesehatan dapat dilihat pada tabel I.2.3


Tabel I.2.3. Kontribusi APBD Bagi Kesehatan
MDO BTG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD

1,19 %

7,60 %

1,60 %

1,80 %

1,80 %

7%

2,99 %

2,26 %

2,40 %

Kontribusi APBD di setiap kabupaten / kota masih rendah. Angka tertinggi berada di daerah Bitung (7,6%), dan terendah di Manado (1,19%). Kesinambungan ratio anggaran pemerintah Daerah bagi kesehatan terhadap keseluruhan pengeluaran publik sekurangkurangnya 5% pada tahun 2010. 4. Kesehatan Jumlah wanita dalam pengembangan SDM kesehatan dapat dilihat pada tabel I.2.4
Tabel I.2.4. Jumlah Wanita Dalam Pengembangan SDM Kesehatan
MDO Perempuan Jumlah w anita dalam struktur organisasi 380 20 BTG 234 11 TMH 13 4 MINDUK 371 9 MINUT MINSEL 11 4 BOLMONG 325 19 SANGIHE TALAUD 239 2 6

Jumlah

Wanita

Dalam

Pengembangan

SDM

Peranan wanita dalam pengembangan SDM kesehatan cukup tinggi dan berimbang dengan pria. Paling tinggi ada di daerah Manado (20 orang), dan terendah di Sangihe (2 orang). Sekurang-kurangnya 50 % peserta dari semua kegiatan pelatihan dan beasiswa dalam Proyek adalah wanita. 5. Health Sector Reform Bidang Kesehatan Menunjang SKN Lainnya belum ada. 6. Pemberdayaan Masyarakat (LSM, Sektor Swasta, serta Organisasi Profesi)

38

Pemberdayaan masyarakat (lsm, sektor swasta, serta organisasi profesi) dapat dilihat pada tabel I.2.5
Tabel I.2.5. Pemberdayaan Masyarakat (LSM, Sektor Swasta, serta Organisasi Profesi)
MDO Jumlah LSM kesehatan 3 5 4 2 0 2 4 2 0 BTG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD

LSM, sektor swasta, serta organisasi profesi yang terlibat dalam riset operasional, implementasi, pelatihan, monitoring, dan evaluasi kegiatan pelayanan kesehatan masih kurang jumlahnya. Tertinggi berada di Bitung (5 LSM), dan terendah ada di Minduk, Minsel, dan Sangihe masing-masing 2 LSM. Berdasarkan indikator manajemen pelayanan kesehatan baik LSM, sektor swasta, serta organisasi profesi terlibat dalam riset operasional, implementasi, pelatihan, monitoring dan evalusi kegiatan proyek (sekurang-kurangnya 5% dari kegiatan proyek) 7. Persentasi Daerah Proyek Yang Melaksanakan

SIM/SIK Daerah, Sesuai Dengan Pedoman Persentasi daerah proyek yang melaksanakan SIM/SIK daerah, sesuai dengan pedoman dapat dilihat pada tabel I.2.6
Tabel I.2.6. Persentasi Daerah Proyek Yang Melaksanakan SIM/SIK Daerah, Sesuai Dengan Pedoman
Manado Jlh % 5 100 Tomohon Jlh % 1 33,3 Bitung Jlh % 4 80 Minut Jlh % 4 80 Minsel Jlh % 5 100 Minduk Jlh % 5 100 Bolmong Jlh % 4 80 Sangihe Jlh % 4 80 Talaud Jlh % 4 80

Dari data di atas dapat dilihat bahwa hampir semua telah melakukan SIM/SIK daerah sesuai pedoman. Ada beberapa daerah yang mencapai 100%, yaitu Manado, Minsel, dan Minduk. Terendah berada di Tomohon (33,3%). Sekurang-kurangnya 75% daerah proyek melaksanakan SIM/SIK Daerah, Internet dan Web-Links, dengan perangkat lunak khusus monitoring dan evaluasi.

39

8.

Jumlah Manajemen Mutu Prima

RS/Puskesmas

Yang

Melaksanakan

Jumlah RS/Puskesmas yang melaksanakan manajemen mutu prima dapat dilihat pada tabel I.2.7
Tabel I.2.7. Jumlah RS/Puskesmas Yang Melaksanakan Manajemen Mutu Prima
PKM RS Manado Jlh % 5 100 Ya Tomohon Jlh % 3 100 Jlh 5 Bitung % 100 Ya Minut Jlh 5 % 100 Jlh 5 Minsel % 100 Minduk Jlh % 5 100 Tidak Bolmong Jlh % 5 100 Ya Sangihe Jlh % 5 100 Ya Jlh 5 Talaud % 100 Tidak

Dari

data

di

atas

diketahui

semua

puskesmas

di

setiap

kabupaten / kota telah melaksanakan manajemen mutu prima. Rumah Sakit yang melaksanakan manajemen mutu prima hampir semua, kecuali RS Sam Ratulangi di Minduk dan BPRS Talaud. 9. SDM SDM kesehatan Kesehatan kab/kota Kab/Kota Yang Melaksanakan perencanaan

Perencanaan Kebutuhan Tenaga, Pelatihan/Training yang melaksanakan kebutuhan tenaga, pelatihan/training dapat dilihat pada tabel I.2.8
Tabel I.2.8. SDM Kesehatan Kab/Kota Yang Melaksanakan Perencanaan Kebutuhan Tenaga, Pelatihan/Training
Manado Perencanaan Kebutuhan Tenaga Pelatihan Ya 10 Tomohon Ya 7 Bitung Ya 3 Minut Tidak Minsel Tidak Minduk Tidak Bolmong Tidak Sangihe Ya 7 Talaud Ya 10

Dari data yang ada, dapat dilihat bahwa SDM kesehatan yang melaksanakan perencanaan kesehatan sebanyak 55,5% ( 5 kabupaten / kota ). Yang belum melaksanakan ada 4 kabupaten / kota, yaitu Minut, Minduk, Minsel, dan Bolmong. 10. Jumlah RS yang melaksanakan PONED dan

Puskesmas yang melaksanakan PONEK Jumlah RS yang melaksanakan PONED dan Puskesmas yang melaksanakan PONEK dapat dilihat pada tabel I.2.9

40

Tabel I.2.9. Jumlah RS yang melaksanakan PONED dan Puskesmas yang melaksanakan PONEK
Manado Jlh 9 Tomohon Jlh 3 Bitung Jlh 6 1 Minut Jlh 4 Minsel Jlh 8 Minduk Jlh 16 1 Bolmong Jlh 11 Sangihe Jlh 4 Talaud Jlh 0 -

PKM RS

Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa sebagian besar telah melaksanakan PONEK di puskesmas, kecuali di Talaud, sedangkan di Rumah Sakit, hanya Minduk dan Bitung yang melaksanakan PONED.

II. Capacity Building di Institusi Pelayanan Kesehatan II.1 Dinas Kesehatan Hasil dari survey di dinas kesehatan kabupaten kota diperoleh data sebagai berikut: Daerah yang memiliki RENSTRA dapat dilihat pada Tabel II.1.1
Tabel II.1.1. Daerah yang memiliki RENSTRA
Keterangan MDO BTG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD

Renstra

Dari 9 kabupaten/kota di propinsi Sulawesi Utara seluruhnya (100%) telah menyusun rencana strategik pembangunan kesehatan. Daerah yang menyusun proposal sesuai kebutuhan masyarakat dapat dilihat pada tabel II.1.2
Tabel II.1.2 Daerah yang menyusun proposal sesuai kebutuhan masyarakat
KETERANGAN Proposal sesuai kebutuhan m asyarakat + + + + + + + + MDO BTG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD

Hampir semua daerah telah menyusun proposal yang disusun sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kecuali kabupaten Minahasa Induk. Dari data yang didapat ada 5 kabupaten/kota dalam satu tahun yang baru sekali menyusun proposal, dan sisanya telah menyusun lebih dari 1 proposal dalam setahun. Berdasarkan jumlah proposal

41

yang disusun dalam satu tahun ternyata ditemukan kabupaten/kota yang menyusun lebih dari 1 proposal tidak dapat melaksanakan seluruh proposal yang disusun. Sedangkan yang menyusun 1 proposal dalam 1 tahun dapat dilaksanakan. Daerah yang melibatkan Dinkes dalam menyusun PERDA tentang kesehatan dapat dilihat pada tabel II.1.3
Tabel II.1.3 Daerah yang melibatkan Dinkes dalam menyusun PERDA
PERTANYAAN Keterlibatan DinKes dalam penyusunan PERDA MDO Ya BTG Ya TMH Ya MINDUK Ya MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD Tidak Ya Ya Ya Ya

Dari data ditemukan hanya 6 kabupaten/kota yang memiliki PERDA kesehatan, yang mana jumlah PERDA yang dibuat dalam 1 tahun sebanyak 1 kali ada 2 kabupaten/kota, 2 kali ada 4 kabupaten/kota, tidak pernah sama sekali ada 3 kabupaten/kota. Keterlibatan Dinas Kesehatan dalam penyusunan PERDA 88,89% di seluruh kabupaten/kota. Daerah yang menyusun profil kesehatan dapat dilihat pada tabel II.1.4
Tabel II.1.4. Daerah yang menyusun profil kesehatan
PERTANYAAN Profil kesehatan Profil kesehatan per tahun Profil kesehatan diselesaikan tepat waktu MANADO BITUNG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Tidak Ya Ya Tidak

Seluruh dinas kesehatan se kabupaten/kota telah memiliki profil kesehatan yang dibuat setiap tahun. Daerah yang menyelesaikan profil kesehatan Talaud. setiap waktu ada 6 daerah, dan sisanya tidak menyelesaikan tepat waktu ada 3 daerah yaitu Bolmong, Sangihe, dan

Data GAKIN pada daerah penelitian dapat dilihat pada tabel II.1.5
42

Tabel II.1.5 Data GAKIN pada tiap daerah Keterangan


Jumlah Gakin yang datang berobat tiap bulan MANADO BITUNG TOMOHON MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD

1319

1054

1148

1394

649

355

5883

874

389

% dari jumlah pengunjung keseluruhan Pelayanan kartu miskin dari PKM: Tanpa kartu miskin 3 1 2 5 1 1 22,5% 34,6% 45,60% 6,46% 12,45 % 10,15 % 22,81% 36,16% 13,31%

Dari data yang ada, seluruh dinkes memiliki pasien GAKIN. Subsidi GAKIN dari Pemda diterima oleh 4 Dinkes (44,44%), sisanya tidak menerima. Jumlah subsidi GAKIN bervariasi, paling banyak di kota Bitung, yaitu sebanyak 1 milyar rupiah, paling sedikit di kota Manado yaitu sebanyak 380 juta, namun ada 6 dinkes (66,6%) yang tidak menerima subsidi GAKIN. Persentase APBD untuk sektor kesehatan ditiap daerah dapat dilihat pada tabel II.1.6
Tabel II.1.6 Persentase APBD untuk sektor kesehatan
MDO BTG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD

1,19 %

7,60 %

1,60 %

1,80 %

1,80 %

7%

2,99 %

2,26 %

2,40 %

Persentase APBD untuk sektor kesehatan di tiap daerah rata-rata 3,18%, dimana persentase tertinggi ada di daerah Bitung (7,6%) dan terendah ada di daerah Manado (1,19%).

Tenaga kerja kesehatan di tiap daerah dapat dilihat di tabel II.1.7


Tabel II.1.7 Tenaga kerja kesehatan di tiap daerah

43

KETERANGAN J um lah tenaga kesehatan Latar belakang pendidikan: D3 S1 S2 S3 lainnya

MDO BTG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD 479 302 64 15 4 0 396 88 95 17 0 0 26 2 6 4 0 14 435 12 58 2 0 0 422 21 3 3 0 0 15 522 69 35 3 0 415 347 55 39 3 0 22 195 31 9 2 0 153

Jumlah total tenaga kesehatan di 9 dinkes adalah 2749 orang. Dari jumlah ini, yang memiliki latar belakang pendidikan D3 berjumlah 324 orang (11,78%), 260 orang S1 (9,45%), 35 orang S2 (1,27%), dan sisanya SMU/sederajat dan D1 berjumlah 1015 (36,92%). Dari 7 daerah yang memiliki data, jumlah tenaga kesehatan dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 559 orang (rata-rata 80 orang), dan perempuan 1573 orang (rata-rata 225 orang). Dua daerah yang tidak memiliki data adalah Minut dan Talaud. Jumlah perempuan yang terdapat dalam struktur organisasi hanya 75 orang (2,73% dari total tenaga kesehatan). Jumlah PKM yang memenuhi standar pada tiap daerah dapat dilihat pada tabel II.1.8
Tabel II.1.8 Jumlah PKM yang memenuhi standar
KETERANGAN J um lah PKM yang m em enuhi standar 3 2 2 16 4 8 26 0 8 MDO BTG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD

Jumlah PKM yang memenuhi standar di tiap daerah adalah 69 PKM (rata-rata 7 PKM tiap daerah), yang paling banyak ada di Bolmong (26 PKM), yang paling sedikit di Tomohon dan Bitung (masing-masing 2 PKM).

Jumlah LSM kesehatan di tiap daerah dapat dilihat pada tabel II.1.9
Tabel II.1.9 Jumlah LSM kesehatan

44

MDO Jumlah LSM kesehatan 3

BTG TMH 5 4

MINDUK 2

MINUT 0

MINSEL 2

BOLMONG SANGIHE TALAUD 4 2 0

Jumlah total LSM yang terlibat dalam aktivitas kesehatan adalah 39, rata-rata 6 LSM tiap daerah. Jumlah LSM terbanyak ada di Bitung, yaitu 5 LSM, dan yang paling sedikit ada di Minduk, Sangihe, dan Minsel yaitu 2 LSM. Puskesmas yang telah melaksanakan PONED dan RS yang melaksanakan PONEK dapat dilihat pada tabel II.1.10
Tabel II.1.10 Puskesmas yang telah melaksanakan PONED dan RS yang melaksanakan PONEK
Manado Jlh 9 Tomohon Jlh 3 Bitung Jlh 6 1 Minut Jlh 4 Minsel Jlh 8 Minduk Jlh 16 1 Bolmong Jlh 11 Sangihe Jlh 4 Talaud Jlh 0 -

PKM RS

Jumlah PKM yang telah melaksanakan PONED ada 65 PKM, ratarata 8 PKM tiap daerah. Paling banyak ada di Minduk (16 PONED), dan yang paling sedikit ada di Tomohon (3 PONED). Tenaga surveilans telah dimiliki di semua Dinkes. Daerah yang telah memiliki SK Komisi Kesehatan Daerah ada 6 daerah. Daerah yang belum adalah Talaud, Minsel, dan Minut.

II.2 Rumah Sakit Survey dilakukan terhadap 6 Rumah Sakit pemerintah yang terdapat di Sulawesi Utara, yaitu RS. Bolaang Mongondow, RSUD. Talaud, RS. Sam Ratulangi Tondano, RS. Manembonembo Bitung, RS. Sangihe, dan RSU. Prof. R. D. Kandou Manado. RS yang menerapkan manajemen mutu di tiap daerah dapat dilihat pada tabel II.2.1
Tabel II.2.1. RS Yang Menerapkan Manajemen Mutu

45

RSUP Prof KANDOU RS Ya

RS MANEMBONEMBO Ya

RS SAM RATULANGI Tidak

BPRS BOLMONG Ya

RS LIUN KENDAGE Ya

BPRS TALAUD Tidak

Berdasarkan hasil survey, didapatkan bahwa 83% Rumah Sakit telah menerapkan manajemen mutu, dan 16% belum. Yang telah menerapkan manajemen mutu adalah RS. Bolaang Mongondow yang telah menerapkan manajemen mutu sejak tahun 1990, RS. Talaud, RS. Manembonembo Bitung sejak tahun 2000, RS. Sangihe sejak tahun 2003, dan RSU. Prof. R. D. Kandou Manado sejak tahun 1990. yang belum menerapkan manajemen mutu adalah RS. Sam Ratulangi Tondano. Data GAKIN yang berkunjung di RS dapat dilihat pada tabel II.2.2
Tabel II.2.2 Data GAKIN yang berkunjung di RS
KETERANGAN J um lah Gakin yang dilayani setiap bulan prosentase Gakin dan bukan gakin

RUMAH SAKIT
MANEMBO-NEMBO SAMRAT TDO BOLMONG SANGIHE TALAUD PROF. KANDOU 0 0 415 65% / 35% 0 0 373 41.50% 9 3.71% 2500 45%

Jumlah GAKIN yang dilayani setiap pada 4 Rumah Sakit bulan rata rata 824 0rang, dengan jumlah terbanyak pada RSU. Prof. R. D. Kandou Manado. Prosentase GAKIN dan bukan GAKIN mencapai 61,9%. Data jumlah GAKIN ini hanya dimiliki oleh 4 Rumah Sakit, sedangkan 2 Rumah Sakit lainnya yaitu RS. Bolaang Mongondow dan RS. Manembonembo tidak memberikan data. Dana yang disediakan untuk GAKIN per tahun merupakan klaim ASKES (sesuai dengan jumlah kasus), sehingga tidak satupun Rumah Sakit yang menyebutkan angka nominal.

II. 3 Puskesmas Jumlah GAKIN yang datang berobat per bulan dapat dilihat pada tabel II.3.1

46

Tabel II.3.1 Jumlah GAKIN yang datang berobat per bulan


KETERANGAN Jumlah Gakin yang datang berobat tiap bulan % dari jml pengunjung keseluruhan TOMOHO N 383 45,60 MANAD O 264 22,50 MINSEL 71 10,15 BOLMON G 1177 22,81 BITUNG 271 41,68 MINUT 130 15,56 MINDU K 279 8,07 TALAU D 78 16,6 SANGIH E 175 36,16

Dari data yang ada, jumlah GAKIN yang datang berobat perbulan rata-rata berjumlah 197 orang. Jumlah pengunjung terbanyak ada di puskesmas Lansot Tomohon, yaitu 803 orang GAKIN sebulan. Jumlah pengunjung GAKIN di atas adalah sekitar 22,91% terhadap total pengunjung puskesmas setiap bulannya. Dari total 43 PKM, hanya 14 PKM (32%) yang semua GAKIN di wilayahnya telah mendapat kartu GAKIN. Dari data yang ada, ditemukan bahwa prosentase persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan rata-rata berkisar 66,46% dari total persalinan. Terdapat 3 PKM (6,97%) yang prosentase persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan adalah 100%, yaitu PKM Amurang, Tatelu, dan Tamako. Dari data, cakupan K1 rata-rata berkisar 72,51%. Ada 3 PKM (9,3%) yang cakupan K1 berjumlah 100%, yaitu Motoling, Motoboi Kecil, dan Bitung Selatan. Cakupan K4 rata-rata berkisar 65,06%, dan terdapat 1 PKM (2,3%) yang cakupan K4 berkisar 100%, yaitu PKM Lirung. Data mengenai jumlah AKB dan AKI di tiap kabupaten / kota dapat dilihat pada tabel II.3.2
Tabel II.3.2 Jumlah AKB dan AKI tiap kabupaten / kota
TMH MDO AKB AKI 11 2 3 0 BTG 11 4 MINSEL 31 0 MINUT 13 2 MINDUK 27 1 BOLMONG 4 7 SANGIHE TALAUD TOTAL 3 5 13 2 116 23

Dari data yang ada, terdapat rata-rata 4 kematian bayi dari 29 PKM, disamping itu ada 14 PKM (32,55%) yang tidak terdapat kematian bayi. Penyebab kematian bayi di PKM yaitu BBLR 6 kasus, lilitan tali

47

pusat 2 kasus, IUFD 6 kasus, asfiksia 5 kasus, maserasi 2 kasus, kelainan kongenital 4 kasus, dan sepsis 1 kasus. Kematian ibu hanya terdapat pada 12 PKM dari total 43 PKM (27, 90%) yang diteliti, dengan jumlah rata-rata kematian 2 orang. Penyebab kematian adalah eklampsia 2 kasus, PEB 1kasus, syok 1 kasus, KPD 1 kasus, perdarahan 1 kasus, dan retensi plasenta 1 kasus. Jumlah tenaga dokter yang ada di 43 PKM adalah 151 orang sehingga tiap PKM rata-rata memiliki 3 tenaga dokter. Data mengenai perencanaan kebutuhan tenaga kerja serta pelatihan yang diikuti di tiap kabupaten / kota dapat dilihat pada tabel II.3.3
Tabel II.3.3 Tabel perencanaan kebutuhan tenaga kerja serta pelatihan yang diikuti
Manado Perencanaan Kebutuhan Tenaga Pelatihan Ya 10 Tomohon Ya 7 Bitung Ya 3 Minut Tidak Minsel Tidak 11 Minduk Tidak 10 Bolmong Tidak 10 Sangihe Ya 7 Talaud Ya 10

Pelatihan yang pernah diikuti dari 43 PKM terdapat 26 PKM(60,46 %) yang tenaga kerjanya telah engikuti berbagai pelatihan sisanya 17 PKM (39,53 %) yang belum pernah. Dari data yang ada, terdapat 2 daerah ( Manado dan Tomohon) dimana tenaga kesehatan di PKM tersaebut semuanya (100 %) telah mengikuti berbagai pelatihan. Upaya kesehatan wajib telah dilaksanakan oleh semua PKM. Data mengenai bantuan dana operasional yang diterima oleh PKM dapat dilihat pada tabel II.3.4
Tabel II.3.4 Data mengenai bantuan dana operasional yang diterima oleh PKM

Bantuan dana operasional TOMOHON MANADO MINSEL BOLMONG BITUNG MINUT MINDUK Pem da Tkt II : a. Ada b. Tidak Pem da Tkt I : a. Ada b. Tidak 3 1 5 5 5 2 3 4 1 1 4 5 5 5 5 5 2 3

TALAUD 5 2 3

SANGIHE 4 1 4

Dari data yang ada, 17 PKM (39,53 %) yang mendapatkan bantuan dana operasional dari PEMDA TKT II, dimana PKM di Talaud

48

mendapat dari

100

bantuan

tersebut.

Sedangkan

bantuan

dana

operasional dari PEMDA TKT I hanya terdapat pada 5 PKM (11,62 5) 43 PKM yang ada, dan yang paling banyak mendapat dana tersebut yaitu PKM di Tomohon (66,66 %). Dan yang mendapat bantuan dana operasional dari Pusat yaitu 13 PKM (30,23 %) dari 43 PKM yang ada, dan PKM di Tomohon mendapat 66,66% dana tersebut.

III. Pemanfaatan sarana Pelayanan Kesehatan oleh Masyarakat Dari hasil survei yang dilakukan di 5 wilayah kerja masingmasing puskesmas yang ada di kota Manado, diperoleh hasil sebagai berikut : Kunjungan masyarakat ke puskemas semuanya telah lebih dari 1 kali yakni sebanyak 8% sudah berkunjung 2 kali, 16% sudah berkunjung 3 kali, dan 76% sudah berkunjung banyak kali. Sebagian besar masyarakat (76%) menilai bahwa kualitas pelayanan puskesmas sudah baik; 24% menilai cukup dan tidak ada masyarakat yang menilai jelek. Semua masyarakat (100%) menilai bahwa biaya pelayanan puskesmas masih terjangkau dan murah. Sebagian besar masyarakat (96%) sudah pernah mengikuti penyuluhan kesehatan yang dilakukan petugas puskesmas dan 4 % masyarakat tidak pernah. Penyuluhan yang diikuti yakni tentang gizi (20%), KB (28%), penyakit diare (8%), kesehatan lingkunagan (48%), penyakit kusta (4%), dan penyakit demam berdarah (4%). Sebagian masyarakat (48%) sudah pernah dikunjungi petugas puskesmas dirumah masing-masing, dan ada 52% masyarakat yang tidak pernah dikunjungi. Jarak antara rumah penduduk ke puskesmas, sebagian besar (96%) adalah < 5 km, dan 4% berjarak > 5 km.

49

Jenis transportasi yang digunakan masyarakat ke puskesmas adalah sebagian besar (48%) jalan kaki, 28% naik motor, 24% naik mobil. Waktu yang ditempuh untuk menuju ke puskesmas adalah semuanya (100%) < 1 jam. Sebagian besar masyarakat (88%) menjawab sudah ada pelayanan kartu GAKIN di puskesmas, dan sisanya 12% menjawab tidak ada pelayanan. Sebagian besar masyarakat (84%) menilai pelayanan puskesmas sudah memadai, dan ada 16% masyarakat menilai tidak memadai. Sebagian masyarakat (60%) mengambil resep obat di puskesmas dan ada 40% masyarakat mengambil resep obat di luar puskesmas. Dari hasil survei yang dilakukan di 5 wilayah kerja masingmasing puskesmas yang ada di kota Tomohon, diperoleh hasil sebagai berikut : Ada 6,67% masyarakat yang berkunjung ke puskesmas hanya 1 kali; 6,67% berkunjung 2 kali, 26,66% berkunjung 3 kali, dan 60% sudah berkunjung banyak kali. Sebagian besar masyarakat (66,67%) menilai bahwa kualitas pelayanan puskesmas sudah baik; 33,33% menilai cukup dan tidak ada masyarakat yang menilai jelek. Semua masyarakat (100%) menilai bahwa biaya pelayanan puskesmas masih terjangkau; 93,33% masyarakat menilai murah, dan ada 6,67% menilai masih mahal. Sebagian masyarakat (60%) sudah pernah mengikuti penyuluhan kesehatan yang dilakukan petugas puskesmas dan 40% masyarakat tidak pernah. Penyuluhan yang diikuti yakni tentang gizi (33,33%), KB (33,33%), (46,67%). penyakit diare (46,67%), dan kesehatan lingkungan

50

Sebagian masyarakat (33,33%) belum pernah dikunjungi petugas puskesmas dirumah masing-masing, dan 66,67% sudah pernah dikunjungi. Jarak antara rumah penduduk ke puskesmas, sebagian besar (86,67%) adalah < 5 km, dan 13,33 % berjarak > 5 km. Jenis transportasi yang digunakan masyarakat ke puskesmas adalah semuanya (100%) naik mobil. Waktu yang ditempuh untuk menuju ke puskesmas adalah semuanya (100%) < 1 jam. Sebagian besar masyarakat (86,67%) menjawab belum ada pelayanan kartu GAKIN di puskesmas, dan sisanya 13,33% menjawab sudah dilayani. Semua masyarakat (100%) menilai pelayanan puskesmas sudah memadai; dan sebagian besar masyarakat (93,33%) mengambil resep obat di puskesmas, dan ada 6,67% masyarakat yang mengambil resep obat diluar puskesmas. Dari hasil survei yang dilakukan di 5 wilayah kerja masingmasing puskesmas yang ada di kota Bitung, diperoleh hasil sebagai berikut : Kunjungan masyarakat ke puskemas semuanya telah lebih dari 1 kali yakni sebanyak 4% sudah 2 kali berkunjung, 4% sudah 3 kali berkunjung, dan 92% sudah banyak kali berkunjung. Sebagian besar masyarakat (88%) menilai bahwa kualitas pelayanan puskesmas sudah baik; 12% menilai cukup dan tidak ada masyarakat yang menilai jelek. Semua masyarakat (100%) menilai bahwa biaya pelayanan puskesmas masih terjangkau; 96% menilai murah dan ada 4% menilai mahal. Sebagian besar masyarakat (88%) sudah pernah mengikuti penyuluhan kesehatan yang dilakukan petugas puskesmas dan ada
51

12% masyarakat yang tidak pernah. Penyuluhan yang diikuti yakni tentang gizi (32%), KB (24%), penyakit diare (16%), kesehatan lingkunagan (32%), dan penyakit malaria (16%). Sebagian dikunjungi. Jarak antara rumah penduduk ke puskesmas, sebagian besar (84%) adalah < 5 km, dan 16% berjarak > 5 km. Jenis transportasi yang digunakan masyarakat ke puskesmas adalah 24% jalan kaki, 56% naik motor, 8% naik mobil, dan ada 12% menggunakan perahu. Waktu yang ditempuh untuk menuju ke puskesmas adalah < 1 jam (80%) dan > 1 jam (20%). Sebagian masyarakat (64%) menjawab pelayanan kartu GAKIN di puskesmas sudah dilayani, dan 36% menjawab tidak ada pelayanan. Semua masyarakat (100%) menilai pelayanan puskesmas sudah memadai; dan sebagian masyarakat (52%) mengambil resep obat di puskesmas dan ada 48% masyarakat yang mengambil resep obat diluar puskesmas. Dari hasil survei yang dilakukan di 5 wilayah kerja masingmasing puskesmas yang ada di kabupaten Minahasa Induk, diperoleh hasil sebagai berikut : Ada 8% masyarakat yang berkunjung ke puskemas hanya 1 kali; 12% sudah berkunjung 3 kali, dan 80% sudah berkunjung banyak kali. Sebagian besar masyarakat (80%) menilai bahwa kualitas pelayanan puskesmas sudah baik; 20% menilai cukup dan tidak ada masyarakat yang menilai jelek. Semua masyarakat (100%) menilai bahwa biaya pelayanan puskesmas masih terjangkau; 96 % menilai murah dan ada 4% menilai mahal.
52

masyarakat

(68%)

pernah

dikunjungi

petugas

puskesmas dirumah masing-masing, dan sisanya (32%) tidak pernah

Sebagian besar masyarakat (76%) sudah pernah mengikuti penyuluhan kesehatan yang dilakukan petugas puskesmas dan ada 24% masyarakat yang tidak pernah. Penyuluhan yang diikuti yakni tentang gizi (44%), KB (40%), penyakit diare (24%), kesehatan lingkunagan (64%), penyakit demam berdarah (16%), penyakit malaria (8%), imunisasi (4%), dan kesehatan ibu hamil dan bayi (4%). Sebagian masyarakat (52%) sudah pernah dikunjungi petugas puskesmas dirumah masing-masing, dan ada 48% tidak pernah dikunjungi. Jarak antara rumah penduduk ke puskesmas, sebagian besar (84%) adalah < 5 km, dan 16% berjarak > 5 km. Jenis transportasi yang digunakan masyarakat ke puskesmas adalah 32% jalan kaki, 8% naik motor, dan 60% naik mobil. Waktu yang ditempuh untuk menuju ke puskesmas adalah semuanya (100%) < 1 jam. Sebagian masyarakat (44%) menjawab sudah ada pelayanan kartu GAKIN di puskesmas, dan 56% menjawab tidak ada pelayanan. Sebagian besar masyarakat (72%) menilai bahwa pelayanan puskesmas sudah memadai; dan sisanya 28% menilai belum memadai. Sebagian masyarakat (44%) masih mengambil resep obat di luar puskesmas, puskesmas. Dari hasil survei yang dilakukan di 5 wilayah kerja masingmasing puskesmas yang ada di kabupaten Minahasa Utara,diperoleh hasil sebagai berikut : Ada 20% masyarakat yang berkunjung ke puskemas hanya 1 kali; 12% berkunjung 2 kali; 8% berkunjung 3 kali; dan 60% sudah berkunjung banyak kali. dan 56% masyarakat mengambil resep obat di

53

Sebagian masyarakat (44%) menilai bahwa kualitas pelayanan puskesmas sudah baik; 56% menilai cukup dan tidak ada masyarakat yang menilai jelek. Semua masyarakat (100%) menilai bahwa biaya pelayanan puskesmas masih terjangkau; 96 % menilai murah dan ada 4% yang menilai mahal. Sebagian besar masyarakat (72%) sudah pernah mengikuti penyuluhan kesehatan yang dilakukan petugas puskesmas dan 28% masyarakat tidak pernah. Penyuluhan yang diikuti yakni tentang gizi (48%), KB (8%), penyakit diare (8%), kesehatan lingkunagan (36%), penyakit kusta (8%), dan penyakit TBC (4%). Sebagian masyarakat (48%) sudah pernah dikunjungi petugas puskesmas dirumah masing-masing, dan 52% masyarakat tidak pernah dikunjungi. Jarak antara rumah penduduk ke puskesmas, sebagian besar (56%) adalah < 5 km, dan 44% berjarak > 5 km. Jenis transportasi yang digunakan masyarakat ke puskesmas adalah 4% jalan kaki, 48% naik motor, dan 48% naik mobil. Waktu yang ditempuh untuk menuju ke puskesmas adalah < 1 jam (76%) dan > 1 jam (24%). Sebagian pelayanan. Sebagian besar masyarakat (84%) menilai bahwa pelayanan puskesmas sudah memadai; dan sisanya 16% menilai belum memadai. Sebagian masyarakat (16%) masih mengambil resep obat di luar puskesmas, puskesmas. dan 84% masyarakat mengambil resep obat di besar masyarakat (80%) menjawab sudah ada pelayanan kartu GAKIN di puskesmas, dan 20% menjawab tidak ada

54

Dari hasil survei yang dilakukan di 5 wilayah kerja masingmasing puskesmas yang ada di kabupaten Minahasa Selatan, diperoleh hasil sebagai berikut : Ada 4% masyarakat yang berkunjung ke puskemas hanya 1 kali; 16% sudah berkunjung 2 kali; 8% sudah berkunjung 3 kali, dan 72% sudah berkunjung banyak kali. Sebagian besar masyarakat (92%) menilai bahwa kualitas pelayanan puskesmas sudah baik; 8% menilai cukup dan tidak ada masyarakat yang menilai jelek. Semua masyarakat (100%) menilai bahwa biaya pelayanan puskesmas masih terjangkau dan murah. Sebagian besar masyarakat (84%) sudah pernah mengikuti penyuluhan kesehatan yang dilakukan petugas puskesmas dan 16% masyarakat tidak pernah. Penyuluhan yang diikuti yakni tentang gizi (48%), KB (72%), penyakit diare (48%), kesehatan lingkunagan (72%), penyakit demam berdarah (4%), penyakit kulit (4%), dan penyakit mata (8%). Sebagian masyarakat (44%) sudah pernah dikunjungi petugas puskesmas dirumah masing-masing, dan 56% tidak pernah dikunjungi. Jarak antara rumah penduduk ke puskesmas, sebagian besar (68%) adalah < 5 km, dan 32% berjarak > 5 km. Jenis transportasi yang digunakan masyarakat ke puskesmas adalah 36% jalan kaki, 36% naik motor, dan 28% naik mobil. Waktu yang ditempuh untuk menuju ke puskesmas adalah < 1 jam (96%) dan > 1 jam (4%). Sebagian dilayani. Sebagian besar masyarakat (96%) menilai bahwa pelayanan puskesmas sudah memadai; dan sisanya 4% menilai belum memadai. besar masyarakat (96%) menjawab sudah ada pelayanan kartu GAKIN di puskesmas, dan 4% menjawab tidak

55

Sebagian masyarakat (36%) masih mengambil resep obat di luar puskesmas, puskesmas. Dari hasil survei yang dilakukan di 5 wilayah kerja masingmasing puskesmas yang ada di kabupaten Bolaang Mongondow, diperoleh hasil sebagai berikut : Semua masyarakat (100%) sudah berkunjung ke puskemas banyak kali. Sebagian besar masyarakat (96%) menilai bahwa kualitas pelayanan puskesmas sudah baik; 4% menilai cukup dan tidak ada masyarakat yang menilai jelek. Semua masyarakat (100%) menilai bahwa biaya pelayanan puskesmas masih terjangkau; 96% masyarakat menilai murah dan 4% menilai mahal. Sebagian besar masyarakat (80%) sudah pernah mengikuti penyuluhan kesehatan yang dilakukan petugas puskesmas dan 20% masyarakat tidak pernah. Penyuluhan yang diikuti yakni tentang gizi (32%), KB (48%), penyakit diare (28%), kesehatan lingkunagan (56%), imunisasi (12%), dan kesehatan ibu hamil dan balita (4%). Sebagian besar masyarakat (72%) sudah pernah dikunjungi petugas puskesmas dirumah masing-masing, dan 28% tidak pernah dikunjungi. Jarak antara rumah penduduk ke puskesmas, sebagian besar (96%) adalah < 5 km, dan 4% berjarak > 5 km. Jenis transportasi yang digunakan masyarakat ke puskesmas adalah 80% jalan kaki, dan 20% naik motor. Waktu yang ditempuh untuk menuju ke puskesmas adalah semuanya (100%) < 1 jam. dan 64% masyarakat mengambil resep obat di

56

Sebagian pelayanan.

besar

masyarakat

(92%)

menjawab

sudah

ada

pelayanan kartu GAKIN di puskesmas, dan 8% menjawab tidak ada Semua masyarakat (100%) menilai bahwa pelayanan puskesmas sudah memadai. Sebagian masyarakat (20%) mengambil resep obat di luar puskesmas, puskesmas. Dari hasil survei yang dilakukan di 5 wilayah kerja masingmasing puskesmas yang ada di kabupaten Sangihe, diperoleh hasil sebagai berikut : Semua masyarakat (100%) sudah berkunjung ke puskesmas banyak kali. Sebagian besar masyarakat (96%) menilai bahwa kualitas pelayanan puskesmas sudah baik; 4% menilai cukup dan tidak ada masyarakat yang menilai jelek. Semua masyarakat (100%) menilai bahwa biaya pelayanan puskesmas masih terjangkau dan murah. Sebagian besar masyarakat (72%) sudah pernah mengikuti penyuluhan kesehatan yang dilakukan petugas puskesmas dan 28% masyarakat tidak pernah. Penyuluhan yang diikuti yakni tentang gizi (16%), KB (48%), penyakit diare (4%), dan kesehatan lingkungan (32%). Sebagian masyarakat (48%) sudah pernah dikunjungi petugas puskesmas dirumah masing-masing, dan 52% tidak pernah dikunjungi. Jarak antara rumah penduduk ke puskesmas sebagian besar (80%) adalah < 5 km, dan 20% berjarak > 5 km. Jenis transportasi yang digunakan masyarakat ke puskesmas adalah 24% jalan kaki, 68% naik motor, dan 8% naik mobil. dan 80% masyarakat mengambil resep obat di

57

Waktu yang ditempuh untuk menuju ke puskesmas adalah semuanya (100%) < 1 jam. Semua masyarakat (100%) menjawab pelayanan kartu GAKIN di puskesmas sudah dilayani. Semua masyarakat (100%) menilai bahwa pelayanan puskesmas sudah memadai. Sebagian masyarakat (48%) masih mengambil resep obat di luar puskesmas, puskesmas. Dari hasil survei yang dilakukan di 5 wilayah kerja masingmasing puskesmas yang ada di kabupaten Talaud, diperoleh hasil sebagai berikut : Ada 4% masyarakat yang berkunjung ke puskemas hanya 1 kali; 8% sudah berkunjung 2 kali; 4% sudah berkunjung 3 kali, dan 84% sudah berkunjung banyak kali. Sebagian besar masyarakat (92%) menilai bahwa kualitas pelayanan puskesmas sudah baik; 8% menilai cukup dan tidak ada masyarakat yang menilai jelek. Semua masyarakat (100%) menilai bahwa biaya pelayanan puskesmas masih terjangkau dan murah. Semua masyarakat (100%) sudah pernah mengikuti penyuluhan kesehatan yang dilakukan petugas puskesmas. Penyuluhan yang diikuti yakni tentang gizi (80%), KB (76%), penyakit diare (76%), kesehatan lingkunagan (80%), dan imunisasi (20%). Sebagian besar masyarakat (80%) sudah pernah dikunjungi petugas puskesmas dirumah masing-masing, dan 20% tidak pernah dikunjungi. Jarak antara rumah penduduk ke puskesmas, sebagian besar (92%) adalah < 5 km, dan 8% berjarak > 5 km. dan 52% masyarakat mengambil resep obat di

58

Jenis transportasi yang digunakan masyarakat ke puskesmas adalah 56% jalan kaki, dan 44% naik motor. Waktu yang ditempuh untuk menuju ke puskesmas adalah < 1 jam (96%) dan > 1 jam (4%). Semua masyarakat (100%) menjawab sudah ada pelayanan kartu GAKIN di puskesmas. Semua masyarakat (100%) menilai bahwa pelayanan puskesmas sudah memadai, dan semuanya mengambil resep obat di puskesmas. Dari hasil survei pada 9 kabupaten/kota tersebut didapatkan data keseluruhan sebagai berikut : Ada 4,64% masyarakat yang berkunjung ke puskesmas hanya 1 kali; 6,05% berkunjung 2 kali; 7,91% berkunjung 3 kali, dan 81,40% sudah berkunjung banyak kali. Sebagian besar masyarakat (81,86%) menilai bahwa kualitas pelayanan puskesmas sudah baik; 18,14% menilai cukup dan tidak ada masyarakat yang menilai jelek. Semua masyarakat (100%) menilai bahwa biaya pelayanan puskesmas masih terjangkau; 97,67% menilai murah dan ada 2,33% menilai mahal. Sebagian besar masyarakat (81,86%) sudah pernah mengikuti penyuluhan kesehatan yang dilakukan petugas puskesmas dan ada 18,14% belum pernah mengikuti. Penyuluhan yang diikuti yakni tentang demam gizi (39,53%), KB (42,33%), penyakit penyakit malaria diare (27,91%), imunisasi kesehatan lingkunagan (52,09%), penyakit kusta (1,39%), penyakit berdarah (2,79%), (2,79%), (4,19%), kesehatan ibu hamil dan balita (0,93%), penyakit TBC (0,46%), penyalit kulit (0,46%), dan penyakit mata (0,93%). Sebagian besar masyarakat (55,81%) sudah pernah dikunjungi petugas puskesmas dirumah masing-masing, dan 44,19% tidak pernah dikunjungi.
59

Jarak antara rumah penduduk ke puskesmas, sebagian besar (82,33%) adalah < 5 km, dan 17,67% berjarak > 5 km. Jenis transportasi yang digunakan masyarakat ke puskesmas adalah 35,35% jalan kaki, 35,81% naik motor, 27,44% naik mobil, dan ada 1,39% menggunakan perahu. Waktu yang ditempuh untuk menuju ke puskesmas adalah < 1 jam (93,95%) dan > 1 jam (6,05%). Sebagian besar masyarakat (78,14%) menjawab sudah ada pelayanan kartu GAKIN di puskesmas, dan ada 21,86% masyarakat yang menjawab belum ada pelayanan. Sebagian besar masyarakat (92,56%) menilai bahwa pelayanan puskesmas sudah memadai, dan ada 7,44% yang menilai belum memadai. Sebagian besar masyarakat (67,44%) mengambil resep obat hanya di puskesmas dan ada 32,56% yang mengambil resep obat di luar puskesmas. IV. Keterkaitan Stake Holder dalam Penyusunan Kebijakan Kesehatan di Daerah Data mengenai anggota komisi yang sudah pernah mendengar tentang bantuan proyek kesehatan daerah (DHS-ADB) dapat dilihat pada tabel IV.1.
Tabel IV.1 Anggota komisi yang sudah pernah mendengar tentang bantuan proyek kesehatan daerah (DHS-ADB)
PERTANYAAN Bantuan proyek pem bangunan kesehatan daerah (DHS - ABD) Ya Tidak MDO BTG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD 5 5 5 5 5 4 1 4 1 5 2 3

Dari 9 kabupaten kota, terdapat 5 daerah (55,5%) yang sudah mendengar tentang bantuan proyek pembangunan kesehatan daerah (DHS-ADB). Ada 3 daerah yang hanya sebagian anggota komisi pernah mendengar tentang bantuan proyek pembangunan kesehatan daerah

60

(DHS-ADB), yaitu daerah Minahasa Selatan dan Bolaang Mongondow masing-masing 80%, dan Talaud 40%. Terdapat 1 daerah yang semua anggota komisi tidak pernah mendengar tentang bantuan proyek pembangunan Minahasa Utara. Data mengenai anggota komisi yang pernah diundang rapat dengan Dinas Kesehatan, dapat dilihat pada tabel IV.2
Tabel IV.2 Anggota komisi yang pernah diundang rapat dengan Dinas Kesehatan
PERTANYAAN Diundang rapat dengan DINKES Ya / brp kali Tidak MDO BTG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD 5 4 1 5 5 5 5 5 2 5

kesehatan

daerah

(DHS-ADB),

yaitu

kabupaten

Dari data, terdapat 4 daerah (44,4%) yang semua anggota komisi pernah diundang rapat dengan Dinas Kesehatan, yaitu Manado, Tomohon, Minduk, dan Bolmong. Di Bitung, hanya 80% anggota yang diundang rapat, di Sangihe 40% yang diundang. Sisanya tidak pernah diundang rapat. Data mengenai anggota komisi yang terlibat dalam penyusunan anggaran kesehatan daerah, dapat dilihat pada tabel IV.3
Tabel IV.3 Anggota komisi yang terlibat dalam penyusunan anggaran kesehatan daerah
PERTANYAAN Terlibat penyusunan anggaran kesehatan daerah Ada Tidak MDO BTG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD 5 3 2 5 5 5 5 5 1 4 5

Ada 3 daerah (33,3%) yang semua anggota komisi terlibat dalam penyusunan anggaran kesehatan daerah, sedangkan ada 4 (44,4%) daerah yang tidak terlibat. Di Bitung, 60% anggota komisi terlibat dalam penyusunan anggaran kesehatan daerah, dan di Sangihe hanya 20% anggota komisi yang terlibat dalam penyusunan anggaran kesehatan daerah.

61

Data mengenai anggota komisi yang pernah diundang rapat dengan Dinas Kesehatan dapat dilihat pada tabel !V.4
Tabel IV.4 anggota komisi yang pernah diundang rapat dengan Dinas Kesehatan
PERTANYAAN Diundang rapat dengan DINKES Ya / kali Tidak MDO BTG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD 5 4 1 5 5 5 5 5 2 5

Terdapat

daerah

(44,4%)

yang

semua

anggota

komisi

melakukan koordinasi antar komite dengan Dinkes. Di Tomohon, 60% anggota pernah melakukan kordinasi dengan Dinkes. Sisanya tidak melakukan kordinasi. Data mengenai anggota komisi yang pernah mendengar tentang KIA/KB, pemberian tablet Fe dan vitamin dari Puskesmas dapat dilihat pada tabel IV.5
Tabel IV.5 Anggota komisi yang pernah mendengar tentang KIA/KB, pemberian tablet Fe dan vitamin dari Puskesmas
PERTANYAAN KIA / KB Tablet Fe dan Vitam in A dari puskesm as Ya Ya Tidak MDO BTG TMH MINDUK MINUT MINSEL BOLMONG SANGIHE TALAUD 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 2 4 1 5 5 5 5 -

Hampir semua (66,6%) pernah mendengar tentang KIA/KB, di Bolmong 40% pernah mendengar tentang KIA/KB dan 60% tidak pernah. Kemudian ada 2 daerah (22,2%) yang sama sekali tidak pernah mendengar tentang KIA/KB Dari data yang didapat ada 7 daerah (77,7%) yang pernah mendengar ada pemberian tablet Fe dan vit A dari puskesmas. DiBolmong 80% pernah mendengar ada pemberian tablet Fe dari puskesmas, dan 20% tidak pernah mendengar. Di Minut dan Talaud tidak memiliki komisi pembangunan kesehatan.

62

63

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


A. KESIMPULAN Dari hasil penelitian dapat disimpulkan : Semua kabupaten/kota di propinsi sulawesi utara telah mempunyai RENSTRA sesuai situasi lokal. Pelayanan kaum miskin di setiap kabupaten belum merata. Jumlah gakin yang datang berobat per bulan 22,67 % dari jumlah pengunjung PKM. Kontribusi APBD untuk sektor kesehatan di tiap daerah rata rata 3,18 % dimana persentasi tertinggi ada di daerah Bitung (7,6 %) dan terendah di Manado (1,19 %) Dari semua kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Utara peranan wanita dalam pengembangan SDM kesehatan cukup tinggi dan berimbang dengan pria. Semua PKM di setiap kabupaten/kota telah melaksanakan managemen mutu prima. Sebagian besar puskesmas telah melaksanakan PONEK kecuali di kabupaten Talaud, sedangkan di rumah sakit hanya Minduk dan Bitung yang melaksanakan PONED. Angka kematian bayi di seluruh kabupaten/kota masih tinggi. Angka kematian ibu tertinggi di kabupaten Bolmong dan terendah di kota Manado. Pemberian vitamin A berkisar 77,80 %, dimana terdapat 2 kabupaten ( Minduk dan Talaud ) yang pelaksanaannya masih di bawah rata-rata. Capaian imunisasi tertinggi terdapat di kabupaten Minut (90%) dan terendah pada kota Tomohon (62%).

64

Persentasi liputan pelayanan antenatal care paling tinggi di kabupaten Talaud (K1:97%, K4:81%) dan terendah di kabupaten Sangihe (K1:56,4%, K4:43,64%). Jumlah persalinan yang ditolong petugas kesehatan tertinggi di Bolmong (86,02%) dan terendah di Bitung (40%). Pemberian Fe pada wanita hamil masih sangat rendah di kabupaten talaud (46,80%) dan tertinggi di kota manado (86,64%). Jumlah pengujung puskesmas per bulan cukup banyak (75%) dan menilai bahwa kualitas pelayanan PKM cukup memuaskan. B. SARAN RENSTRA yang telah dimiliki tiap kabupaten / kota sebaiknya dimaksimalkan masyarakat Untuk memaksimalkan pelayanan keluarga miskin, sebaiknya dilaksanakan pendataan keluarga miskin agar supaya pemberian kartu miskin dapat dilakukan dengan tepat Kontribusi APBD untuk sektor kesehatan di tiap kabupaten / kota sebaiknya ditinjau kembali dengan memperhatikan derajat kesehatan yang telah dicapai. Untuk itu diharapkan peran Komite Kesehatan di kabupaten / kota yang bersangkutan Peranan wanita dalam pengembangan SDM di tiap daerah sebaiknya terus Semua PKM yang telah melaksanakan managemen mutu prima tetap mempertahankan managemen yang ada untuk lebih meningkatkan derajat kesehatan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan

65

Puskesmas yang telah melaksanakan PONEK, dan rumah sakit yang telah melaksanakan PONED bagi agar terus meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat,

sedangkan untuk puskesmas dan rumah sakit yang belum melaksanakan PONEK atau PONED untuk dapat segera mengusahakan pengadaannya Angka kematian yang bayi ada, yang yang masih tinggi di seluruh kabupaten/kota harus diturunkan dengan memaksimalkan kemampuan membutuhkan kerjasama berbagai pihak terkait, seperti dinas Kesehatan, komisi kesehatan, puskesmas dan rumah sakit Pemberian vitamin A sudah meningkatkan angka yang cukup baik, dan sebaiknya tetap ditingkatkan untuk mencapai angka 100% Capaian imunisasi, persentasi pelayanan antenatal care di kabupaten/kota, jumlah persalinan yang ditolong petugas kesehatan, dan pemberian Fe pada wanita hamil yang masih rendah harus lebih ditingkatkan dengan memaksimalkan peran puskesmas, sedangkan untuk capaian di beberapa kabupaten/kota yang sudah baik harus dapat dipertahankan Mengingat jumlah pengunjung puskesmas yang masih banyak, maka peran puskesmas harus terus ditingkatkan, namun harus tetap meningkatkan segi promotif dan preventif di daerahnya.

66

KEPUSTAKAAN
1. Garam beryodium. Available on http://www.dinkes_dki_jakarta.com/artikel/2004 2. WHO. Kesehatan keluarga dan masyarakat. Edisi 6 Desember 2005. Available on: http;//www.who.or.id.ind/ourworks.asp?id=ow3
3.

Siswono. Membuat ibu dan anak berarti dapat kurangi aki Available on: http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.

4. Suharto T. Waspadai GAKY. Available on http://www.gizi.net/cgi-net/artikel106.htm 5. Suyono H. Menjaga kesehatan balita. Available on http://www.indomedia.com/intisari/1998/oktober/balita.htm. 7. Kecukupan vitamin a tekan angka kematian, Harian Sinar Harapan. 2003 8. Pedoman suplementasi kapsul vitamin A, Indonesian Nutrition Network.2001

67

LAMPIRAN

KUISIONER SURVEY AKHIR PELAKSANAAN PROYEK DHS-1 ADB DAN BASELINE DATA PROGRAM MNCH UNTUK DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA: ________________________
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Rencana Stratejik Pembangunan Kesehatan: a. Ada b. Tidak

Jumlah Proposal yang dibuat dalam satu tahun: . . . . . . . . . . . Jumlah Proposal yang dilaksanakan dalam satu tahun: . . . . . . . . . . . Penyusunan Proposal melibatkan berbagai elemen masyarakat: a. Ya Proposal dibahas dalam seminar: a. Ya Struktur Organisasi sekarang: Dapat berfungsi dengan baik: a. Ya b. Tidak a. Ya b. Tidak b. Tidak b. Tidak Proposal sesuai kebutuhan masyarakat: a. Ya b. Tidak

Dapat menyelesaikan berbagai masalah kesehatan: Sistem Koordinasi: a. Baik b. Buruk

Berapa Perda Kesehatan yang dibuat dalam satu tahun : . . . . . . . . Keterlibatan Dinas Kesehatan dalam penyusunan Perda: a. Ada b. Tidak a. Ya b. Tidak a. Ya b. Tidak b. Tidak b. Tidak

10. Profil Kesehatan: a. Ada

11. Profil Kesehatan dibuat setiap tahun:

12. Profil Kesehatan diselesaikan tepat waktu:

13. Jumlah Keluarga Miskin (Gakin) didaerah (Data Kesehatan): a. Ada 14. Prosentase APBD untuk Sektor Kesehatan: . . . . . % 15. Dana Subsidi untuk Gakin dari Pemda: a. Ada b. Tidak 16. Jika ada (poin 15), berapa besarnya: Rp. . . . . . . . . . . . . . . . . 17. Jumlah Tenaga Kesehatan yang ada sekarang: . . . . . . . . orang

68

Latar belakang pendidikan: D3 =... org, S1 =... org, S2 =... org, S3 =... org, lainnya = org Umur: <20 thn = ..org, 20-30 thn = ..org, 31-40 thn = ..org, 41-50 thn = ..org, >50 thn = ..org Jenis Kelamin: Laki-laki = . . . org, Perempuan = . . . org Lama/Masa Kerja: <5 thn = ... org, 5-15 thn = ... org, 16-25 thn = ... org, >25 thn = ... org Jumlah Wanita yang adal dalam Struktur Organisasi = . . . org

18. Jumlah Tenaga Kesehatan yang telah mengikuti berbagai pelatihan = . . . org 19. Jenis Latihan dan Frekuensinya (poin 18): a. b. c. d. e. ............................... ............................... ............................... ............................... ............................... Dalam Negeri: D3 = ... org, S1 = ... org, S2 = ... org, S3 = ... org, lainnya = org Luar Negeri: D3 = ... org, S1 = ... org, S2 = ... org, S3 = ... org, lainnya = org b. Tidak

20. Beasiswa yang telah disediakan untuk berapa orang setahun:

21. Pernahkah Survei Kesehatan Daerah (SURKESDA) dilakukan: a. Ya 22. Kalau pernah (poin 21), sudah berapa kali: . . . . . . . . . . . . . . .

23. Jumlah Puskesmas yang telah memiliki fasilitas sesuai standar: . . . . . . . . . . . . 24. Apakah telah ada Tenaga Surveilans: a. Ya b. Tidak 25. Kalau ada (poin 24), jumlah berapa orang: . . . . . . . 26. Jumlah Puskesmas yang mempunyai Tenaga Dokter: . . . . . . . 27. Jumlah Desa yang mempunyai Tenaga Bidan: . . . . . . . 28. Apa sudah pernah merekrut Tenaga Dokter: a. Ya 29. Kalau ya (poin 28), jumlah berapa orang: . . . . . . . 30. Proses Seleksi perekrutan (poin 28) bagaimana: a. Pemda b. Dinkes 31. Apa sudah pernah merekrut Tenaga Bidan: a. Ya 32. Kalau ya (poin 31), jumlah berapa orang: . . . . . . . 33. Proses Seleksi perekrutan (poin 31) bagaimana: a. Pemda b. Dinkes 34. Jumlah LSM yang terlibat dalam aktivitas kesehatan: . . . . . . . . . . . . 35. Jumlah Puskesmas yang melaksanakan Perawatan Dasar Obstetrik Essensial (PONED): . . . . 36. Apa telah ada SK District Health Committee (DHC) dari Bupati/Walikota: a. Ada b. Tidak b. Tidak b. Tidak

69

KUISIONER SURVEY AKHIR PELAKSANAAN PROYEK DHS-1 ADB DAN BASELINE DATA PROGRAM MNCH
UNTUK DINAS KESEHATAN PROPINSI SULAWESI UTARA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Rencana Stratejik Pembangunan Kesehatan: a. Ada b. Tidak

Jumlah Proposal yang dibuat dalam satu tahun: . . . . . . . . . . . Jumlah Proposal yang dilaksanakan dalam satu tahun: . . . . . . . . . . . Penyusunan Proposal melibatkan berbagai elemen masyarakat: a. Ya Proposal dibahas dalam seminar: a. Ya Struktur Organisasi sekarang: Dapat berfungsi dengan baik: a. Ya b. Tidak a. Ya b. Tidak b. Tidak b. Tidak Proposal sesuai kebutuhan masyarakat: a. Ya b. Tidak

Dapat menyelesaikan berbagai masalah kesehatan: Sistem Koordinasi: a. Baik b. Buruk

8. 9.

Berapa Perda Kesehatan yang dibuat dalam satu tahun : . . . . . . . . Keterlibatan Dinas Kesehatan dalam penyusunan Perda: a. Ada a. Ya b. Tidak a. Ya b. Tidak b. Tidak b. Tidak

10. Profil Kesehatan Propinsi dibuat setiap tahun:

11. Profil Kesehatan Propinsi diselesaikan tepat waktu: 13. Prosentase APBD untuk Sektor Kesehatan: . . . . . % 14. Dana Subsidi untuk Gakin dari Pemda Sulut: a. Ada

12. Jumlah Keluarga Miskin (Gakin) di Prop. Sulut (Data Kesehatan): a. Ada b. Tidak

15. Jika ada (poin 14), berapa besarnya: Rp. . . . . . . . . . . . . . . . . 16. Jumlah Tenaga Kesehatan yang ada sekarang: . . . . . . . . orang Latar belakang pendidikan: D3 =... org, S1 = ... org, S2 = ... org, S3 = ... org, lainnya = org Umur: <20 thn = ..org, 20-30 thn = ..org, 31-40 thn = ..org, 41-50 thn = ..org, >50 thn = ..org Jenis Kelamin: Laki-laki = . . . org, Perempuan = . . . org Lama/Masa Kerja: <5 thn = ... org, 5-15 thn = ... org, 16-25 thn = ... org, >25 thn = ... org Jumlah Wanita yang adal dalam Struktur Organisasi = . . . org

17. Jumlah Tenaga Kesehatan yang telah mengikuti berbagai pelatihan = . . . org 18. Jenis Latihan dan Frekuensinya (poin 17): a. b. c. d. e. ............................... ............................... ............................... ............................... ...............................

19. Beasiswa yang telah disediakan untuk berapa orang setahun:

70

Dalam Negeri: D3 = ... org, S1 = ... org, S2 = ... org, S3 = ... org, lainnya = org Luar Negeri: D3 = ... org, S1 = ... org, S2 = ... org, S3 = ... org, lainnya = org b. Tidak

20. Pernahkah Survei Kesehatan Daerah (SURKESDA) dilakukan: a. Ya 21. Kalau pernah (poin 20), sudah berapa kali: . . . . . . . . . . . . . . .

71

KUISIONER SURVEY AKHIR PELAKSANAAN PROYEK DHS-1 ADB DAN BASELINE DATA PROGRAM MNCH UNTUK RUMAH SAKIT : . . . . . . . . . . . . . . . .
1. 2. 3. 4. 5. 6. Apa telah menerapkan Management Mutu : a. Ya Kalau Ya, sejak kapan : .. Apakah fasilitas sesuai standar telah dipenuhi : a. Sudah b. Belum Apa telah ada Rencana Strategik Rumah Sakit : a. Ya b. Tidak b. Tidak Berapa Perda yang berkaitan dengan Rumah Sakit : . Apa proses Penyusunan Perda melibatkan Rumah Sakit : a. Ya Struktur organisasi yang ada : Berjalan efektif dan efisien Koordinasi 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. : a. Ya : a. Baik b. Tidak b. Buruk b. Tidak

Berapa jumlah Gakin yang dilayani setiap bulan : .. Prosentase Gakin dan bukan penderita Gakin : % Berapa Dana yang disediakan Gakin pertahun : Rp. .. Apakah Perda untuk tariff Rumah Sakit telah memadai : a. Ya Apakah ada bantuan peralatan medis dari DHS : a. Ada b. Tidak Apakah pernah ada Renovasi dan Rehabilitasi : a. Ya Kalau Ya, dananya berasal dari mana : a. Pemda b. Pusat Apakah pernah mendapatkan paket Peralatan Medis Esensial : a. Ya Apakah telah menjalankan Sistem Informasi Management Rumah Sakit : a. Ya b. Tidak - Pusat : ..% - Pemda Tkt I : ..% - Pemda Tkt II : % - Swadaya : % b. Tidak b. Tidak b. Tidak

14. Sumber Pendanaan Rumah Sakit :

15. Jumlah Tenaga yang ada : . 16. Jumlah Dokter Umum Dokter Ahli Perawat Bidan Ponek RS : .. : .. : .. : .. :

72

KUISIONER SURVEY AKHIR PELAKSANAAN PROYEK DHS-1 ADB


DAN BASELINE DATA PROGRAM MNCH UNTUK PUSKESMAS . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1. 2. 3. 4. Berapa jumlah Gakin yang datang berobat tiap bulan : . Berapa prosentasinya dari pengunjung Puskesmas keseluruhan : .% Apa semua gakin telah mendapat Kartu Miskin : a. Ya Cakupan : K1 :%, GI 6. 7. 8. 9. 10. K4:..%, b. Tidak Pertolongan persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan berapa persen .% Imunisasi:.%, KB:.% Malaria : Diare: ZI :.. DOTS : .

5. AKB : . AKI :

Jumlah kunjungan penderita setiap bulan : .. Prosentase dengan jumlah penduduk : ..% Sosialisasi JPKM : a. Ada b. Tidak b. Tidak Apa ada bantuan peralatan medis dari DHS : a. Ada Berapa tenaga dokter yang ada : .. Jumlah tenaga kesehatan yang ada sekarang : Latar belakang pendidikan : SMP : ., SMA : .., Akademi/D3 : S1 : , Lainnya : .. Umur : <20 thn : 20-30 thn : . .31-40 thn : 41-50 thn: > 50 thn .. Lama kerja: <5thn: 5-15 thn : ... 16-25 thn:... >25 than : ... Pelatihan yang pernah diikuti : ..

11.

Jumlah Posyandu : Pustu : Polindes : Dana Sehat : POD :

12. Peralatan Medis Esensial (stetoskop, alat sterilisasi, mini lab kit, oksigen, Bidan Kit, alat-alat kebidanan darurat) : a. Ada b. Tidak
13. Komputer : a. Ada b. Tidak a. Ada a. Ada b. Tidak b. Tidak b. Tidak : . buah : ..buah : ...buah b. Tidak b. Tidak b. Tidak b. Tidak a. Ada a. Ada Sistem Informasi management Puskesmas (SIMPUS) telah berjalan : a. Ya b. Tidak 14. Transportasi : Mobil : Motor :

Perahu : a. Ada

15. Upaya Kesehatan wajib dilaksanakan : a. Ya

16. Bantuan Dana Operasional : Pemda Tingkat II : a. Ada Pemda Tingkat I : Pusat :

73

KUISIONER RISET OPERASIONAL PROYEK DHS-1 ADB

UNTUK STAKE HOLDER KOMISI PEMBANGUNAN KESEHATAN


1. 2. 3. 4. 5. Pernah anda mendengar tentang bantuan Proyek Pembangunan Kesehatan daerah (DHS- ADB)? a. Ya b. Tidak b. Tidak Pernah rapat Interen Komite ? a. Ada

Kalau ada sudah berapa kali Apa pernah rapat dengan DPR untuk bahas masalah kesehatn ? a. Ya b. Tidak Pernah Rapat dengan Dinas Kesehatan : diundang Kalau ya berapa kali . Bagaiman peran anda dalam menyusun Kebijakan Kesehatan a. b. c. 5. Penentu Pemberi saran Tidak ada peran b. Tidak a. Ya b. Tidak

Penyusunan Anggaran Kesehatan Daerah : terlibat a. Ya Insentif yang diberikan : a. Ada b. Tidak Besarnya : Cukup Kurang

6. 8.

Koordinasi antar Komite dengan Dinas Kesehatan : a. Ada Bagaimana Penetuan Anggota Komite Kesehatan : a. b. c. Seleksi ketat Penunjukkan Asal-asalan

b. Tidak

9.

Pernakah anda mendengar tentang KIA/KB ? Kalau Pernah : - Apa kegiatan KIA/KB - Apa tujuan KIA/KB

10. Apa anda pernah mengetahui tentang pemberi Tablet Fe dan Vitamin A dari Puskesmas

74