Anda di halaman 1dari 26

PENGARUH KADMIUM (Cd) TERHADAP BAHAYA KESEHATAN SERTA KEGUNAANNYA SEBAGAI BAHAN SENSOR CAHAYA LDR YANG HEMAT

ENERGI
Evi Elfrida (3315111316) Pendidikan Kimia Reguler, Universitas Negeri Jakarta,2013 evielfrida@ymail.com Kadmium adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cd,nomor atom 48 dan massa atom 112,40 Amu. Kadmium (Cd) merupakan unsur logam,memiliki potensial ionisasi sebesar 8.994eV, dengan konfigurasi elektron [Kr]4d105s2 dan potensial elektroda standar E -0.40V. (Patnaik,2001:141) Kadmium ditemukan di Jerman 1817 oleh Friedrich Strohmeyer. Nama kadmium sendiri diambil sesuai nama latinnya dari calamine yaitu Cadmia yang merupakan seng karbonat (ZnCO3) yang ditemukan sebagai impurities (pengotor). Logam ini jumlahnya relatif kecil, tetapi dapat meningkat jumlahnya dalam lingkungan karena proses pembuangan sampah industri maupun penggunaan minyak sebagai bahan bakar.(Darmono ,2001:28). Hanya ada satu jenis mineral kadmium di alam yaitu greennockite (CdS) yang selalu ditemukan bersamaan dengan mineral spalerite (ZnS) namun sangat kecil yaitu sekitar 1% dalam bijih seng (Zn). Kadmium dihasilkan bersamaan ketika bijih seng, tembaga, dan timbal direduksi. (Sugiyarto, 2003:162). Berdasarkan pada sifat-sifat fisiknya, kadmium (Cd) merupakan logam yang lunak, berwarna putih seperti perak serta bersemu biru. Kadmium (Cd) mudah dibentuk dan lebih lunak daripada seng (Zn), namun lebih keras daripada timah (Sn). Logam ini akan kehilangan kilapnya jika berada dalam udara yang basah atau lembab serta akan cepat mengalami kerusakan bila dikenai uap amonia (NH3) dan sulfur hidroksida (SO2). Sedangkan berdasarkan pada sifat-sifat kimianya, logam kadmium (Cd) di dalam persenyawaan yang dibentuknya pada umumnya mempunyai bilangan valensi 2+ dan sangat sedikit yang mempunyai bilangan valensi 1+.(Hardiyanti,2011:1). Menurut Darmono (2001:28) unsur kadmium (Cd) dalam tanah terkandung dalam bebatuan beku, metamorfik dan sedimen. Kadar kadmium dalam tanah dipengaruhi oleh reaksi tanah dan fraksi-fraksi tanah yang bersifat dapat mengikat ion Cd. Senyawa-senyawa tertentu seperti bahan ligan dapat mempengaruhi aktivitas ion Cd. Pada saat pH tanah turun maka penyerapan kadmium (Cd) ke dalam jaringan tanaman akan tinggi. Pencemaran tanah pertanian oleh kadmium (Cd) bisa terjadi akibat pemakain pupuk fosfat yang berlebihan. Kadmium (Cd) dalam konsentrasi berlebih dapat membawa sifat racun yang merugikan semua organisme hidup, bahkan berbahaya untuk manusia. Dalam tubuh biota perairan jumlah logam yang terakumulasi akan terus mengalami peningkatan dengan adanya proses biomagnifikasi di badan perairan. Biomagnifikasi adalah peningkatan konsentrasi substansi atau senyawa dalam jaringan makhluk hidup, dengan semakin tingginya tingkatan trofik dalam jaring makanan1. Tingkatan biota dalam sistem rantai makanan turut menentukan jumlah kadmium (Cd) yang terakumulasi. (Julius,2005:15).
1

Anonim.2004.Risiko Lingkungan,Limbah dan Iptek Bersih. (Online).Tersedia:http://www.sith.itb.ac.id.Diakses pada tanggal 8 Maret 2013 pukul 18.30 WIB

Pencemaran akibat logam berat kadmium pernah terjadi di Jepang yaitu pada sungai Jintsu yang dikenal dengan kasus Itai-itai, di mana pencemaran diakibatkan oleh aktivitas pertambangan yang membuang limbah mengandung kadmium (Cd) ke dalam sungai tersebut. Melalui interaksi dengan rantai makanan akhirnya kadmium sampai pada manusia. Akibatnya, pada akhir tahun 1965 telah menimbulkan ratusan korban kematian bagi penduduk setempat.(Hartoyo,2004:92). Kadmium (Cd) umumnya ditemukan dalam pekerjaan-pekerjaan industri, digunakan secara intensif dalam proses electroplating seperti pada besi dan baja untuk mencegah terjadinya korosi. Untuk keperluan ini dipakai elektrolit larutan tetrasianokadmat(II), [Cd(CN)4]2-,yang dapat dipreparasi dari pencampuran kadmium sianida dan natrium sianida. (Sugiyarto, 2003:162). Beberapa produk berbahan kadmium seperti baterai NiCd mencemari lingkungan dan tidak efisien maka produksinya dihentikan. Namun pemanfaatan bahan kadmium sebagai sensor cahaya (LDR) untuk mendeteksi cahaya dinilai efisien dan ramah lingkungan sehingga semakin dikembangkan.

Keberadaan Unsur Kadmium (Cd) di Alam Kadmium (Cd) ditemukan di kulit bumi ataupun hasil letusan gunung vulkanik. Logam kadmium (Cd) mempunyai penyebaran sangat luas di alam, hanya ada satu jenis mineral kadmium di alam yaitu greennockite (CdS) yang selalu ditemukan bersamaan dengan mineral spalerite (ZnS). Pada bijih seng (Zn) didapatkan sekitar 0,2 sampai 0,3 % logam kadmium (Cd). Di alam kadmium (Cd) jarang sekali ditemukan dalam bentuk bebas, biasanya berada dalam bentuk kadmium oksida, kadmium klorida dan kadmium sulfat. (Patnaik,2001:180) Kandungan total kadmium (Cd) dalam tanah berkisar antara 0,01 sampai dengan 7,00 ppm. Tanah dikatakan tercemar bila kandungan kadmium (Cd) mencapai lebih dari 3,0 ppm. Sumber kadmium adalah pelapukan bahan mineral tanah, abu vulkanik, pembakaran batu bara, pembakaran sampah, pupuk mineral seperti fosfat, batu kapur dan limbah. Kadmiun terdapat di alam terutama dalam biji timbal dan seng. Karenanya, logam ini banyak dilepaskan di daerah pertambangan dan tempat peleburan logam ini. Kadmium (Cd) dapat ditemukan di dalam perairan baik di dalam sedimen maupun di dalam penyediaan air minum. (Frank, 1994:38-39). Kelimpahan Unsur Kadmium (Cd) Unsur kadmium mempunyai kelimpahan yang relatif rendah secara alamiah (dengan orde 10-6 dari kerak bumi) kadmium (Cd) jarang ditemui, namun sebagai akibat dari kemiripan dengan seng (Zn), kadmium (Cd) terdapat oleh pertukaran-pertukaran isomorf dalam hampir semua bijih seng. Isomorf adalah dua zat yg mempunyai struktur kristal yang sama. Zat-zat isomorf dapat atau tidak dapat mengkristal bersama-sama dalam campuran yg homogen2. Kelimpahan kadmium ditunjukkan pada tabel di bawah ini :

Anonim.2012. Situs Kimia Indonesia. (Online)http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/padatan1/padatan-kristalin-danamorf/.Diakses pada 9 Maret 2013 pukul 14.00)

Kelimpahan Dalam Kerak Bumi (mg/kg) Dalam Lautan Bumi (mg/L) Dalam Tubuh Manusia (%) 1,50 x 10-1 1,1 x 10-4 0,00007%

Tabel 1. Kelimpahan kadmium (Cd) di alam dan makhluk hidup (Hardiyanti.2011)

Isotop Cd-106 Cd-108 Cd-110 Cd-111 Cd-112 Cd-113 Cd-114 Cd-116

Kelimpahan Alami Relatif 1.25% 0.89% 12.49% 12.80% 24.13% 12.22% 28.73% 7.49%

Tabel 2. Isotop dan kelimpahan alami relative Kadmium (Cd) Sumber: Patnaik,2001:141

Untuk dapat mengidentifikasi keberadaan kadmium (Cd) di alam secara alami dapat digunakan fitoplankton Chlorella sp. Pemilihan fitoplankton Chlorella sp, dikarenakan Chlorella sp merupakan salah satu spesies fitoplankton yang memenuhi persyaratan sebagai bioindikator pencemaran perairan dan mudah dibudidayakan (Arifin, 1997). Reaksi yang Menghasilkan Unsur Kadmium (Cd) Sebagian besar kadmium (Cd) diperoleh dari leburan seng (Zn) dan endapan lumpur yang diperoleh dari pemurnian elektrolitik seng. Dalam leburan bijih seng (Zn) yang mengandung kadmium,kedua logam direduksi secara bersamaan. (Liptrot,1974:423). Zn + Cd2+ = Zn2+ + Cd E= +0.36V Karena kadmium (Cd) lebih mudah menguap dari pada seng (Zn), keduanya dapat dipisahkan dengan cara destilasi fraksional. Pemisahan juga dapat dilakukan dengan pengendapan elektrolitik selektif.Kadmium dapat diendapkan dalam voltase yang lebih rendah, karena kurang reaktif dari pada seng (Zn). Sebuah endapan kadmium seperti spons yang terbentuk yang dapat teroksidasi dan dilarutkan dalam asam sulfat encer. Kadmium sulfat kemudian dielektrolisis Logam ini disimpan di katoda, dilucuti secara teratur, dicuci dan meleleh dan ditarik ke bentuk yang diinginkan.(Patnaik,2001:141). Logam teroksidasi perlahan di udara lembab pada suhu biasa, kemudian membentuk lapisan pelindung berupa kadmium oksida (CdO). Unsur ini menggabungkan diri dengan banyak nonlogam dengan pemanasan, membentuknya menjadi biner garam. Kadmium (Cd) bergabung dengan halogen ketika dipanaskan, membentuk halida. (Patnaik,2001:143) Reaksi dengan asam nitrat panas encer memberikan oksida antara lain:

2Cd + 2HNO3 2CdO + 2NO2 + H2 4Cd + 2HNO3 4CdO + 2NO + H2 Cd + 2HNO3 CdO + N2O5 + H2 Potensial standar elektroda: Cd2 + + 2e Cd E =-0.4025V

Dengan demikian, kadmium dapat menggantikan sejumlah logam yang kurang aktif, seperti tembaga, timah, perak, merkuri, timah, dan antimon dari larutan garam: Cu2 + (aq) + Cd (s) Cd2 + (aq) + Cu (s) Kadmium dalam larutan yang diasamkan dapat dianalisis oleh berbagai instrumen teknik seperti api dan serapan atom dan ICP emisi spektrofotometri. Teknik instrumental lain untuk menganalisis logam ini meliputi analisis aktivasi neutron dan stripping voltammetry anodik. (Patnaik,2001:143) Isolasi Logam Kadmium (Cd) Bernard (2008:557) menyatakan bahwa isolasi kadmium berhubungan dengan diperolehnya kembali seng (Zn) dan kadmium (Cd) yang merupakan pengotor dalam bijih seng. Sebagian besar produksi seng (Zn) didasarkan pada bijih sulfida. Kadmium (Cd) diperoleh sebagai produk sampingan dari industri seng : 2ZnS + 3O2 2ZnO + 2SO2 ZnCO3 ZnO + CO2 Seng dibakar untuk membentuk seng oksida, ZnO,kemudian dapat direduksi dengan karbon untuk membentuk logam seng. ZnO + C Zn + CO ZnO + CO Zn + CO2 CO2 + C 2CO Kadmium diperoleh selama penyulingan seng mentah. Logam ini juga hadir sebagai ion dalam larutan seng sulfat yang mana seng diperoleh dengan elektrolisis, karena kadmium (Cd) memiliki potensial elektroda kurang negatif dari seng, yang diperoleh dengan metode elektrolit. (Liptrot,1974:423) Cd2+ + Zn Zn2+ + Cd Persenyawaan yang Dibentuk Kadmium Berdasarkan pada sifat-sifat kimianya, logam Cd didalam persenyawaan yang dibentuknya pada umumnya mempunyai bilangan valensi 2+, sangat sedikit yang mempunyai bilangan valensi 1+. (Liptrot,1974:425)

1. Senyawa Biner Kadmium Oksida Kadmium oksida memiliki struktur molekul CdO; MW 128,41,digunakan dalam elektroda baterai, digunakan dalam elektroplating. Kegunaan lain sebagai stabilisator panas, sebagai aditif untuk karet nitril dan plastik. Sifat Fisik Kadmium oksida terjadi dalam dua bentuk, bentuk alfa bersifat amorf, dan beta berbentuk kristal coklat kemerahan, densitas 6,95 g/cm3 (bentuk alfa) dan 8,15 g/cm3 (bentuk beta ), terurai pada pemanasan cepat pada 900 oC. Larut dalam air dan basa, larut dalam asam mineral. Sifat Kimia Hfo (alfa) Gfo (alfa) So (alfa) C (alfa) Hfus (alfa) Hvap(alfa)

61.76 kkal / mol 54.66 kkal / mol 13.10 kal / mol derajat 10,37 kal / mol derajat 8.0 kkal / mol 25,33 kkal / mol

Senyawa biner, oksida CdO dibentuk dengan pembakaran logamnya di udara. Asap oksida dapat diperoleh dengan pembakaran alkil, asap kadmium oksida sangat beracun. (Patnaik,2001:152) 2Cd(NO3)2 2CdO + 4NO2 + O2 Oksida menyublim pada suhu yang sangat tinggi. Kadmium (Cd) dibakar untuk menghasilkan kadmium (II) oksida. (Catton & Wilkinson,1989:401). 2Cd(s) + O2(g) 2CdO(s) Kadmium oksida juga dapat dibuat dengan beberapa rute dimulai dengan berbagai garam kadmium. Senyawa ini dapat dibuat oleh dekomposisi termal kadmium karbonat atau kadmium hidroksida. (Patnaik,2001:152): CdCO3 CdO + CO2 Cd(OH)2 H2O + CdO Dekomposisi termal berupa kadmium nitrat atau sulfat akan menghasilkan oksida. Kadmium oksida juga dapat dilakukan oleh oksidasi suhu tinggi kadmium sulfida. (Patnaik,2001:152) 2CdS + 3O2 2CdO + 2SO2 Kadmium oksida bereaksi dengan asam membentuk garam kadmium: CdO + 2HCl CdCl2 + H2O CdO + H2SO4 CdSO4 + H2O Reaksi serupa terjadi dengan asam karboksilat memproduksi karboksilat yang sesuai. Memanaskan campuran oksida dan sulfur menghasilkan kadmium sulfida :

2CdO + S O2 + 2CdS CdO perlahan menyerap karbon dioksida dari kadmium karbonat membentuk, CdCO3. Reaksi dengan silikon amorf pada suhu 900oC,dikatalisis oleh uap menghasilkan kadmium ortosilikat, Cd2SiO4. Oksida halus bereaksi dengan kadmium dimetil sulfat membentuk sulfat. (Patnaik,2001:153). Kadmium oksida berbeda secara struktural dari seng oksida (ZnO) yang mengadopsi struktur garam,yang dianggap didominasi ionik. (Liptrot,1974:420). Kadmium oksida (CdO) memiliki beberapa warna dari kuning kehijauan sampai cokelat yang mendekati hitam tergantung dengan kondisi suhu pemanasan. Warna tersebut merupakan akibat dari beberapa jenis terputusnya kisi kristal. (Sugiyarto,2003:162)

2. Hidroksida Jika larutan garam kadmium (Cd) di tambah NaOH terbentuk Kadmium hidroksida (Cd(OH)2) sebagai padatan putih (Patnaik,2001:149). Cd2+ + 2NaOH Cd(OH)2 (putih) + 2Na+ Cd2+ + 2OH- Cd(OH)2 Kadmium hidroksida mudah larut dalam amonia kuat berlebih membentuk kompleks amina [Cd(NH3)4]2+.(Sugiyarto, 2003:162) Cd(OH)2(s) + 4NH3(aq) *Cd(NH3)4]2+(aq) + 2OH-(aq) Cd(OH)2 lebih bersifat asam daripada Zn(OH)2 yang bersifat amfoter. Kadmium hidroksida secara eksklusif sebagai hidroksida yang mudah larut dalam larutan amonia dengan pembentukan kompleks ammina. Cd(OH)2 + 4NH3 [Cd(NH3)4]2+ + 2OHSifat Fisik Kadmium hidroksida berbentuk bubuk putih atau kristal,sistem kristal berupa trigonal atau heksagonal,kerapatan 4,79 g/cm3, terurai perlahan-lahan pada 130oC; larut dalam air (2,6 mg / L pada 20 oC), kadmium hidroksida juga larut dalam asam encer. (Patnaik,2001:149). Sifat Kimia Hfo 134.0 kkal / mol o Gf 113.2 kkal / mol o S 22,94 kal / mol derajat Kadmium Hidroksida dapat diendapkan dengan menambahkan setiap larutan garam . Kadmium hidroksida lebih mendasar daripada hidroksida seng. Membentuk anionik kompleks Cd (OH)4 2- ketika ditambahkan dengan larutan soda kaustik pekat akan membentuk kompleks dengan ion sianida, tiosianat dan ammonium.Reaksi dengan asam menghasilkan garam kadmium. (Patnaik,2001:149). Cd (OH)2 + 2HNO3 Cd (NO3)2 + 2H2O

Analisa Kadmium hidroksida memiliki komposisi elemental : Cd 76.77%, H 1,38%, O 21,85%. Senyawa ini dapat diidentifikasi oleh teknik sinar-x. (Patnaik,2001:149). 3. Sulfida Senyawa sulfida diperoleh dari interaksi langsung atau pengendapan oleh H2S. Kadmium sulfida dapat disiapkan dari kationnya dengan penambahan ion sulfida. (Catton & Wilkinson,1989:401). Cd2+ + H2S CdS +2H+ Kadmium sulfida (CdS) merupakan senyawa yang tidak larut dalam air dan dijumpai sebagai mineral grinolit. Reaksi ini dapat berlangsung bolak-balik. Seng sulfida tidak berwarna, tetapi kadmium sulfida berwarna kuning oleh karena itu dapat dipakai sebagai pewarna. Senyawa ini menjadi sangat penting dalam perdagangan dan industri. (Sugiyarto, 2003:162) Sifat Fisik Kristal terbentuk sebagai dua polimorf, bentuk alfa heksagonal dan beta bentuk kubik. Kadmium sulfida larut dalam asam encer pada pemanasan atau asam pekat pada suhu biasa (dengan pembebasan H2S). (Patnaik,2001:155) Sifat Kimia Hfo 38.70 kkal / mol o Gf 37.40 kkal / mol So 15,51 kal / mol derajat Pembuatan Kadmium sulfida dapat dibuat dengan presipitasi dari larutan garam yang larut di dalamnya seperti kadmium klorida atau kadmium nitrat dengan melewati gas hidrogen sulfida. Reaksi dapat dilakukan dalam asam, netral atau alkali . 4. Halida Larutan kadmium (Cd) halida mengandung semua spesies Cd2+, CdX+, CdX2+, dan CdX3 dalam kesetimbangan. (Cotton dan Wilkinson.1989:401). Kadmium Iodida Garam kadmium (Cd) dapat larut dalam KI. CdI2 larut dalam alkohol dan dapat digunakan dalam fotografi. Sifat Fisik Kadmium iodida berwarna putih, kristalnya berbentuk heksagonal, perlahan lahan dapat berubah menjadi kuning setelah terpapar udara atau cahaya, terjadi dalam dua bentuk allotropik, bentuk alfa dan beta; kerapatan 5,67 g/cm3; meleleh pada 387 oC (bentuk alfa) dan 404 oC (bentuk beta). Dapat larut dalam air (86 g/100 mL pada 25 oC), larut juga dalaam etanol, aseton, eter, dan amonia.(Patnaik,2001:150) Sifat Kimia Hfo (alfa) Gfo (alfa)

48.59 kkal / mol 48.14 kkal / mol

So (alfa) C (alfa) Hfus (alfa) Hvap(alfa)

38.50 kal / mol derajat 17,85 kal / mol derajat 8.0 kkal / mol 25,33 kkal / mol

Pembuatan Kadmium Iodida disiapkan dengan penambahan logam kadmium, atau hidroksida, nitrat atau karbonatnya (Patnaik,2001:155) : CdO + 2HI CdI2 + H2O Senyawa tersebut dapat dibuat dengan memanaskan kadmium dengan yodium: Cd + I2 CdI2 Ketika dipanaskan dengan hidrogen, maka dikurangi menjadi kadmium logam dan hidrogen iodida: CdI2 + H2 Cd + 2HI Analisa Komposisi Elemental dari kadmium iodida adalah : Cd 30,69%, I 69.31%. Anion Iodida dapat dianalisis dengan kromatografi ion. Anion dapat diidentifikasi dengan menambahkan beberapa tetes HNO3 6M ke beberapa tetes dari larutan garam, diikuti dengan penambahan 1mL 0,1 FeCl3 metilen klorida 1mL. Sebuah lapisan bawah berwarna ungu atau merah muda menunjukkan adanya iodida. Kadmium Flourida Kadmium flourida digunakan dalam elektronik dan optik, untuk menghasilkan kristal pada laser, dalam pembuatan fosfor dan kaca, dalam pelumas, dan sebagai katalis dalam reaksi organik. (Patnaik,2001:148) Sifat fisik Kadmium klorida berbentuk kristal kubik berwarna,dengan densitas 6,33 g/cm3, meleleh pada 1.110 oC ,cukup larut dalam air, 4,35 g/100mL pada 25 oC,larut dalam asam mineral fluorida dan lainnya. (Patnaik,2001:148) Sifat Kimia Hfo Gfo So Hfus Hvap

167.4 kkal / mol 154.8 kkal / mol 18,5 kal / mol derajat 5,4 kkal / mol 55,9 kkal / mol

Kadmium flourida dibuat dengan reaksi gas fluor atau hidrogen fluorida dengan logam kadmium atau garamnya, seperti klorida, oksida atau sulfida: Cd + F2 CdF2 Cd + 2HF CdF2 + H2 CdO + 2HF CdF2 + H2O Senyawa ini juga dapat diperoleh dengan melarutkan kadmium karbonat dalam 40% larutan asam, melakukan penguapan dan pengeringan dalam ruang vakum pada suhu 150 oC. CdCO3 + 2HF CdF2 + H2O + CO2

Hal ini juga dapat dibuat dengan pencampuran kadmium klorida dan ammonium fluorida, yang diikuti dengan kristalisasi. (Patnaik,2001:149). Analisa Komposisi elemen : Cd 74.74%, 25.26% F. Logam ini dapat dianalisis oleh teknik instrumental.Fluorida dapat ditentukan oleh ion kromatografi atau dengan menggunakan elektroda fluorida. (Patnaik,2001:150) Kadmium Bromida Kadmium Bromida memiliki rumus molekul CdBr2, MW 272,22, dapat membentuk sebuah tetrahidrat, CdBr2.4H2O. Kadmium Bromida digunakan dalam litografi, ukiran, dan dalam pembuatan film fotografi. Berbentuk bubuk putih kekuningan, sistem kristal berbetuk heksagonal; higroskopis;kerapatan 5.192g/cm3, meleleh pada suhu < 568oC menguap pada suhu 844 OC, larut dalam air,alkohol, eter, aseton, dan amonia cair. (Patnaik,2001:144) Pembuatan Kadmium bromida dihasilkan oleh kadmium melalui pemanasan dengan uap bromin. Senyawa dapat dibuat dengan penambahan kadmium bromida kering dengan asam asetat glasial dan bromida asetil. Atau, dapat diperoleh dengan melarutkan kadmium atau oksida kadmium dalam asam hidrobromat. (Patnaik,2001:144) Kadmium Klorida Rumus molekul Kadmium klorida adalah CdCl2, MW 183,306. Kadmium klorida digunakan untuk pelapisan dan juga digunakan dalam alat fotokopi dan pencetakan. Berbentuk bubuk atau kristal, sistem kristal heksagonal, higroskopis, kepadatan 4,047 g/cm3.Sangat larut dalam air juga larut dalam aseton,namun sedikit larut dalam alkohol; larut pula dalam eter. (Patnaik,2001:146) Kadmium klorida (CdCl2) sangat mirip dengan seng klorida (ZnCl2) kecuali bahwa kadmium klorida lebih sedikit larut dalam pelarut organik. Dalam larutan tersebut seperti elektrolit lemah,meskipun CdCl2 terdisosiasi dalam larutan, spesies ionik seperti Cd2+ dan Cl-, CdCl+, CdCl3- dan CdCl42- juga akan terbentuk. (Liptrot,1974:422) Penambahan ion klorida berlebihan pada kadmium klorida (CdCl2) akan diperoleh ion kompleks tetraklorokadmat (II), [CdCl4]2-. Kadmium karbonat, fosfat, sianida dan ferosianida,semuanya tidak larut dalam air. Semua senyawa kadmium larut dalam larutan iodida berlebihan oleh karena terbentuk ion kompleks yang larut, tetraiodokadmat(II),[CdI4]. (Sugiyarto,2004:162) Sifat Kimia Hfo Gfo So C

93.57 kkal / mol 82.21 kkal / mol 27.55 kal / mol derajat 17,85 kal / mol derajat

Pembuatan Kadmium klorida dapat dibuat dengan memanaskan logam dengan klorin atau gas hidrogen klorida. Dalam larutan, dibentuk dengan logam atau garam, seperti oksida, hidroksida, karbonat, atau sulfida dengan asam klorida: 9

Cd + 2HCl CdCl2 + H2 CdO + 2HCl CdCl2 + H2O CdCO3 + 2HCl CdCl2 + H2O + CO2 Kadmium klorida juga dapat dibuat dengan menambahkan kadmium asetat untuk asetil klorida dalam asam asetat glasial. (Patnaik,2001:146). 5. Garam Okso dan Ion Aquo Garam dari okso seperti nitrat, sulfat, sulfit, perklorat, dan asetat larut dalam air. Ion aquo bersifat asam dan larutan garamnya terhidrolisis bagi larutan kadmium (Cd) yang lebih pekat, spesies yang utama adalah : Cd2OH3+2Cd2+(aq) + H2O(l) Cd2OH3+(aq) + H+ Dengan adanya anion pengompleks, misalnya halida, maka spesies seperti Cd(OH)Cl atau CdNO3+ dapat diperoleh. (Cotton dan Wilkinson,1989:402) Kadmium sulfat (CdSO4) Kadmium sulfat dapat dibuat dengan mereaksikan oksida, hidroksida, karbonat yang sesuai atau dengan asam sulfat encer diikuti dengan penguapan parsial dan kristalisasi, maka yang terbentuk adalah padatan kristal putih. CdSO4 digunakan sebagai pembangunan sel weston, perangkat yang konstan dan akurat. (Liptrot,1974:422) Kadmium (Cd) larut perlahan dalam asam sulfat encer untuk membentuk campuran yang mengandung ion kadmium (II) dan gas hidrogen.(Svehla.1990:235). Cd(s) + H2SO4(aq) Cd2+(aq) +SO42- (aq) + H2(g) Kadmium Asetat Kadmium asetat digunakan untuk keramik kaca dan tembikar; dalam elektroplating dalam pencelupan dan pencetakan tekstil, dan sebagai reagen analitis untuk belerang, selenium, dan telurium.Garam anhidratnya sebagai kristal berwarna sementara dihidrat adalah kristal putih padat, densitas 2,34 g/cm3.(Patnaik,2001:143). Pembuatan Kadmium asetat dibuat dengan mereaksikan kadmium oksida dengan asam asetat: CdO + 2CH3COOH- (CH3COO)2Cd + H2O Senyawa ini juga dapat dibuat dengan mereaksikan kadmium nitrat dengan asetat anhidrida. (Patnaik,2001:143) Kadmium karbonat,CdCO3 Endapan ini berupa padatan putih,dapat dibentuk saat natrium hidrogen karbonat ditambahkan ke larutan berair dari garam kadmium. Cd2+ + 2HCO3- CdCO3 + H2O + CO2 Kadmium karbonat (CdCO3) mudah terurai menjadi oksida logam dan karbon dioksida (CO2) dengan pemanasan. (Patnaik,2001:146)

10

Kadmium Nitrat, Cd(NO3)2 Kadmium nitrat berbentuk kristal putih atau bubuk, higroskopis, kerapatan 3,60 g/cm3; mencair pada 350 oC; sangat larut dalam air dan alkohol.Kadmium nitrat disiapkan oleh logam kadmium untuk melarutkan atau oksida nya,hidroksida, atau karbonat, jika dalam asam nitrat akan diikuti dengan kristalisasi.(Patnaik,2001:151). CdO + 2HNO3 Cd (NO3)2 + H2O Ketika hidrogen sulfida dilewatkan melalui suatu pengasaman larutan kadmium nitrat , kadmium sulfida kuning akan terbentuk. Ketika dicampur dengan larutan kaustik soda, kadmium bentuk oksida akan mengendap dari kadmium hidroksida. Komposisi unsur: Cd 47,55%, N 11,85%, O 40,60. Ion nitrat dalam larutan dapat ditentukan dengan kromatografi atau dengan menggunakan ion nitrat-selektif elektroda.( Patnaik,2001:151). Kadmium Sulfat, CdSO4 Kadmium sulfat juga membentuk dua hidrat, kadmium sulfat monohidrat, CdSO4.H2O dan kadmium oktahidrat sulfat CdSO4.8H2O . Kadmium sulfat digunakan sebagai elektrolit dalam sel standar dan elektroplating Sifat Fisik Kadmium sulfat terbentuk dari kristal ortogonal berwarna,hidrat memiliki sistem berbentuk kristal monoklinik; kerapatan 4,69 g/cm3 . Kadmium sulfat larut dalam air dan juga larut dalam etanol. Sifat Kimia Hfo 223.1 kkal / mol o Gf 196.6 kkal / mol So 29,4 kal / mol derajat Pembuatan Kadmium sulfat dibuat dengan reaksi logam kadmium atau oksida dengan asam sulfat encer: CdO + H2SO4 CdSO4 + H2 CdO + H2SO4 CdSO4 + H2O Cd (OH)2 + H2SO4 CdSO4 + 2H2O Analisa Komposisi Elemental kadmium sulfat adalah : Cd 53,92%, O 30,70%, S 15,38%. CdSO4 dilarutkan dalam air dan kadmium dianalisis dengan spektrofotometri serapan atom atau emisi. (Patnaik,2001:154). Kadmium Karbonat, CdCO3 Kadmium karbonat biasanya digunakan sebagai katalis dalam sintesis organik.Kadmium karbonat berbentuk bubuk putih padat yang akan terurai pada pemanasan di bawah 500oC. Larut dalam air dan amonia cair dan asam (dengan reaksi).(Patnaik,2001:159). Sifat Kimia Hfo 179.4 kkal / mol Gfo 160.0 kkal / mol So 22,1 kal / mol derajat

11

Kadmium karbonat diendapkan dengan menambahkan amonium karbonat berlebih ke dalam larutan kadmium klorida: CdCl2 + (NH4)2CO3 CdCO3 +? 2NH4Cl Endapan yang terbentuk disaring dan dikeringkan . Karbonat Kadmium juga dapat diperoleh dengan lambatnya penyerapan kadmium oksida dengan karbon dioksida. (Patnaik,2001:159). Kadmium karbonat terurai membentuk kadmium oksida dan karbon dioksida pada suhu 357 oC. Senyawa tersebut larut dalam asam mineral membentuk garam kadmium dan karbon dioksida: CdCO3 + 2HCl CdCl2 + CO2 + H2O Kadmium karbonat membentuk ion kompleks sianida, Cd (CN)4 2+ dalam larutan sianida. Senyawa ini larut dalam larutan garam terkonsentrasi amonium membentuk amonium kompleks. (Patnaik,2001:159). 6. Kadmium Sianida Kadmium Sianida memiliki bentuk molekul Cd(CN)2; MW 164,45. Kadmium sianida digunakan sebagai elektrolit untuk electrode posisi tipis pelapis logam kadmium pada logam untuk perlindungan terhadap korosi. (Patnaik,2001:145) Sifat Fisika Kadmium Sianida berbentuk kristal, kubik atau bubuk, kepadatan 2,226 g/cm3, sedikit larut dalam Air 1.71 g/100mL (pada 15 OC), sedikit larut dalam alkohol, larut dalam alkali,logam sianida, dan hidroksida. (Patnaik,2001:145) Pembuatan Kadmium sianida dapat dibuat dengan menambahkan larutan kadmium klorida (CdCl2) atau kadmium nitrat (Cd(NO3)2) dengan kalium sianida(KCN) atau natrium sianida (NaCN) . Endapan putih yang terbentuk kemudian disaring, dicuci dan dikeringkan. CdCl2 + 2KCN Cd(CN)2 + 2KCl Kadmium bereaksi dengan asam sianida encer membentuk hidrogen sianida : Cd (CN)2 + 2HCl CdCl2 + 2HCN Dengan asam organik, reaksi berlangsung lambat. Reaksi dengan natrium sianida atau kalium sianida dalam larutan air menghasilkan logam kompleks sianida. Misalnya, dengan kalium sianida, produknya adalah kalium tetracyanocadmate: Cd (CN)2 + 2KCN K2Cd(CN)4 Komposisi Element : Cd 68,36%, C 14,61% dan N 17,04%. Sianida dapat diekstraksi dari penyulingan kadmium sianida dan kemudian melepaskan hidrogen sianida. (Patnaik,2001:145)

12

7.

Senyawa Kompleks Sax and Lewis (1987) menyatakan bahwa kadmium(II) dapat dikomplekskan dengan dithizone yang memiliki sifat larut dalam etanol, sangat larut dalam kloroform, dan tidak larut dalam air. Struktur dithizone adalah sebagai berikut:

Gambar 1 : Struktur Dithizone (Sumber: Sax and Lewis, 1987)

Kadmium di dalam air mulai mengendap pada pH 7,8 dan dapat membentuk kompleks dengan ligan O, N, S, dan ion halida. Kompleks kadmium yang terbentuk diantaranya adalah: pada pH 2-6 terbentuk [Cd (OH)]+ dengan nama ion hidrokso kadmium(I), pada pH 7,8 terbentuk [Cd(OH)2] dengan nama ion dihidrokso kadmiat, pada pH 9-10 terbentuk [Cd(OH)3]- dengan nama ion trihidrokso kadmiat(I), pada pH 10,5 terbentuk [Cd(OH)4]2- dengan nama ion tetrahidrokso kadmiat(II). pH basa sekitar pH 7,8 ion kadmium(II) mulai mengendap (Vogel, 1985). Kadmium adalah bivalent pada hampir semua campurannya, seperti pada CdI2. CdI2 larut sebagian dalam air pada suhu di bawah suhu kamar, sehingga kadmium(II) menjadi koloid dalam larutan tersebut (Liptrot,1974:422) Beberapa reaksi pembentukan kompleks hidrokso dari CdI2 (Liptrot,1974:422) : Cd2+ + OH[CdOH]+ pada pH 2-6 + [CdOH] + OH [Cd(OH)2] pada pH 7,8 [Cd(OH)2] + OH[Cd(OH)3]pada pH 9-10 [Cd(OH)3]- + OH[Cd(OH)4]2pada pH 10,5 Reaksi H2S dengan Garam Kadmium dalam Kondisi Bervariasi Garam Kadmium (Cd) Kondisi Reaksi Warna CdS CdCl2 pH netral,suhu biasa Kristal kuning CdCl2 pH asam,larutan mendidih Kristal merah Cd(NO3)2 pH netral,suhu biasa Kristal kuning Cd(NO3)2 pH asam,larutan mendidih Kristal merah CdSO4 pH netral,suhu biasa Kristal kuning CdSO4 pH asam,larutan mendidih Kristal merah Cd(C2H4O2)2 pH asam,larutan mendidih Kristal kuning Cd(C2H4O2)2 Larutan alkalin amoniakal Larutan merah Cd(ClO4)2 pH asam,larutan mendidih Kristal kuning
Tabel 3. Penggunaan garam kadmium untuk mendapatkan kristal yang berbeda Sumber: Patnaik,2001:156

13

Karakteristik dan Struktur Logam Kadmium (Cd)

Gambar 2.Bentuk fisik logam kadmium (Cd) Sumber :Anonim.2012. Jefferson Lab.(Online). Tersedia: //www.jlab.org/visitors/JLabbrochure. Diakses pada 8 maret 2013

Kadmium adalah logam berwarna putih perak, lunak, lentur, tahan terhadap tekanan, mengkilap, tidak larut dalam basa, mudah bereaksi dan menghasilkan kadium oksida bila dipanaskan. Kadmium dapat membentuk ion Cd2+ yang bersifat tidak stabil. Karakteristik kadmium yang lainnya adalah bila dimasukkan ke dalam larutan yang mengandung ion OH-,ion-ion Cd2+ akan mengalami pengendapan. Endapan yang terbentuk biasanya dalam bentuk senyawa terhidratasi yang berwarna putih. (Palar, 1994:25). Sifat Fisik Logam Kadmium (Cd) No Klasifikasi Sifat Unsur 1 Klasifikasi 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Struktur Kristal Massa Atom Titik lebur Titik didih Jumlah Proton / Elektron Jumlah Neutron Elektronegativitas Radius Atom Volume Atom Radius Kovalensi Massa Jenis Konduktivitas Listrik Konfigurasi Elektron Formasi Entalpi Konduktivitas Panas Potensial Ionisasi Kapasitas Panas Jari-jari atom Kepadatan pada suhu 20C Elektronegativitasmenurut Pauling Energi Inonisasi

Sifat Kadmium Logam Transisi Hexagonal 112,411 Amu 321,07 C (594,22 K , 609,93 F) 765,0 C (1038,15 K , 1409,0 F) 48 64 1.69 1.71 13.1 cm3/mol 1.41 8.65 g/cm3 14.7 x 106 ohm-1cm-1 [Kr]4d10 5s2 6.07 kJ/mol 96.8 Wm-1K-1 8.993 V 0.232 Jg-1K-1 0,92 A 8,7 g.cm -3 1.7 (1) 8,99eV (2) 16,84eV (3) 38,0Ev

Tabel 4. Sifat Fisik Logam Kadmium (Cd) Sumber :Anonim.2012. Jefferson Lab.(Online). Tersedia: //www.jlab.org/visitors/JLabbrochure. Diakses pada 8 maret 2013

14

Sifat Termokimia No Klasifikasi Sifat Unsur 1 H (g) 2 3 4 5 6 7 S (s) S (g) C (s) C (g) Hfus Hvap

Sifat Kadmium 26.72 kkal / mol 12,38 kal mol / derajat 40.08 kal / mol derajat 6,21 kal / mol derajat 4,97 kal / mol derajat 1.479 kkal / mol 23.87 kkal / mol

Tabel 5. Sifat Termokimia Kadmium (Cd) Sumber : Patnaik,2001:141

Isotop Isotop Cd-106 Cd-108 Cd-109 Cd-110 Cd-111 Cd-111m Cd-112 Cd-113

Waktu Paruh Stabil Stabil 462,0 hari Stabil Stabil 48,5 menit Stabil 9.0E15 tahun

Isotop Cd-113m Cd-114 Cd-115 Cd-115m Cd-116 Cd-117 Cd-118

Waktu Paruh 14,1 tahun Stabil 2,2 hari 44,6 hari Stabil 2,5 jam 3,4 jam

Tabel 6. Daftar Isotop Unsur Kadmium (Cd) Sumber :Anonim.2012. Jefferson Lab.(Online). Tersedia: //www.jlab.org/visitors/JLabbrochure. Diakses pada 8 maret 2013

Jumlah Tingkat Energi : 5 Energi tingkat pertama : 2 Energi tingkat kedua : 8 Energi tingkat ketiga : 18 Energi tingkat keempat: 18 Energi tingkat kelima : 2
Gambar 3. Ilustrasi penampang Kadmium (Cd) dengan massa atom 112,40 Amu Sumber :Anonim.2012. Jefferson Lab.(Online). Tersedia: //www.jlab.org/visitors/JLabbrochure. Diakses pada 8 maret 2013

(a)

(b)

Gambar 4.(a) Bentuk fisik unsur Kadmium (Cd) yang ditemukan di alam Sumber : Hardianti,2011 Gambar 4.(b) Bentuk fisik Greenockite yang ditemukan di alam Sumber : Anonim.2013.Periodic Table .(Online). Tersedia: http://periodictable.com/Elements/048/index.html. Diakses pada 10 Maret 2013

15

Kadmium (Cd) mengadopsi struktur hexagonal close-packed (HCP) dengan masing-masing atom dikelilingi oleh dua belas atom terdekat, yang menunjukkan beberapa derajat ikatan kovalen dan karenanya sifat non-logamnya lemah. (Liptrot,1974:426)

Gambar 5.Bentuk Hexagonal Close-Packed (HCP) pada kristal Kadmium Sumber :Anonim.2012. Ilmu Bahan Teknik.Program PPG Teknik Mesin Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Kegunaan Logam Kadmium (Cd) dalam Produk Industri


Paduan kadmium (Cd) diaplikasikan secara luas pada bantalan logam, solder,konduktor listrik, kabel transmisi listrik, dan perhiasan. Elektroda kadmium digunakan dalam sel fotolistrik dan lampu uap. Batang kadmium(Cd) digunakan dalam reaktor nuklir untuk menyerap energi rendah neutron. Senyawa kadmium banyak memiliki sejumlah aplikasi komersial. (Patnaik,2001:141) Kadmium (Cd) merupakan komponen campuran logam yang memiliki titik cair terendah. Unsur ini digunakan dalam campuran logam poros dengan koefisien gesek yang rendah dan tahan lama. Kadmium (Cd) juga banyak digunakan dalam aplikasi sepuhan listrik (electroplating),pembuatan solder dan digunakan dalam fosfor tabung TV hitam-putih dan fosfor hijau dalam TV bewarna. (Stwertka,2002:130). Penggunaan kadmium (Cd) yang paling besar (75 %) adalah dalam industri batu baterai (terutama baterai NiCd). Selain itu, logam ini juga untuk pembuatan alloys dengan titik lebur yang rendah, pengontrol pembelahan reaksi nuklir, dalam pigmen cat dengan membentuk beberapa garamnya seperti kadmium oksida (yang lebih dikenal sebagai kadmium merah), semikonduktor, stabilisator PVC, obat obatan seperti obat sipilis dan malaria. (Stwertka,2002:130). a. Klasifikasi kegunaan senyawa kadmium (Cd) diantaranya adalah : Menurut Abdualaziz(2011) senyawa yang mengandung unsur kadmium (Cd) memiliki kegunaan antara lain : 1) CdO (Kadmium oksida) a) Di gunakan dalam penyepuhan kayu, b) Digunakan dalam baterai c) Sebagai katalis d) Sebagai nematisida 2) CdS (Kadmium sulfida) a) Sebagai fotokonduktor dalam fotokopi, b) Seniman telah lama menggunakan sulfida Kadmium sebagai pigmen pewarna c) Digunakan dalam fosfor tabung TV hitam-putih dan fosfor hijau dalam TV bewarna d) Senyawa ini secara luas digunakan dalam pigmen untuk cat, keramik dan plastik, tinta, fosfor, dan layar neon. Aplikasi lain dari senyawa ini dalam sel

16

3) 4) 5) 6) 7) 8)

9)

solar(untuk mengubah energi matahari menjadi energi listrik), fotokonduktor (dalam xerografi), transistor film tipis,kembang api, dan detektor asap. CdI2 dan CdBr2 Senyawa ini digunakan dalam fotografi CdSO4 Sebagai pembuatan sel wseton karena memiliki potensial voltase stabil. Senyawa dietil-Cd yang digunakan pembuatan tetraetil-Pb. Senyawa Cd-stearat untuk perindustrian polivinilkorida sebagai bahan untuk stabilizer. CdS atau CdSe Digunakan sebagai bahan untuk sensor LDR (Light Dependent Resistant) [Cd(CN)4]2-,tetrasianokadmat (II) Digunakan sebagai elektrolit larutan untuk elektroplating yang dapat dipreparasi dari pencampuran kadmium sianida dan natrium sianida. Pada katode ion kadmium tereduksi menjadi logamnya yang menempel dan melapisi katode (besi/baja). Gabungan Kadmium (Cd) dan Nikel (Ni) menjadi NiCd Penggunaan paling terkenal kadmium adalah baterai isi ulang jenis NiCd meskipun pembuangan baterai ini menimbulkan masalah lingkungan

Paduan Kadmium Kadmium (Cd) banyak dipakai untuk logam paduan yeng memberikan sifat antiretak. (Sugiyarto, 2003:162) a) Kadmium (Cd) dapat ditambahkan ke paduan emas sebesar sampai 4% untuk mendapatkan warna emas hijau. b) Paduan emas (Au) 75%, tembaga (Cu) 23%, dan hasil kadmium (Cd) 2% untuk emas lampu hijau. c) Paduan emas (Au) 75%, 15% perak (Ag), tembaga (Cu) 6%, dan kadmium (Cd) 4% menghasilkan paduan hijau tua. d) Paduan Nikel (Ni) Kadmium (Cd) dalam baterai, yaitu logam kadmium (Cd) sebagai anoda, nikel (IV) oksida (NiO2) sebagai katoda,dan elektrolit KOH 20%. e) Paduan seng mengandung kadmium (Cd) dalam kisaran 0,025 - 0. 15 % digunakan sebagai anoda dalam perlindungan korosi. Fenomena Keberadaan Kadmium (Cd) yang Menguntungkan dan Merugikan Kehidupan Manusia 1. Penemuan Sensor Cahaya Lampu Otomatis LDR (Light Dependent Resistant) Berbahan Kadmium Sebagai Alternatif Krisis Energi Penemuan kadmium (Cd) di alam menurut efek kontaminasinya memang sangat berbahaya dan menjadi masalah bagi keberlangsungan makhluk hidup. Akan tetapi dengan dipelajarinya sifat khusus pada kadmium (Cd),maka logam tersebut mampu dimanfaatkan untuk kehidupan manusia bahkan dapat menjadi solusi dari permasalahan yang dialami manusia. Sistem penerangan saat ini merupakan salah satu pemakaian energi listrik yang besar. Dengan adanya lampu, kegiatan manusia bisa berlangsung 24 jam non-stop. Semakin tingginya intensitas kegiatan yang membutuhkan

17

pencahayaan, maka energi yang digunakan juga semakin lama semakin tinggi. Untuk itu perlu diupayakan penghematan energi pada sistem penerangan. Pada umumnya pengaturan penerangan menggunakan prinsip on-off dimana lampu hanya bekerja pada dua kondisi yaitu lampu menyala penuh ketika on atau off. Pengaturan penerangan dengan prinsip on-off hanya berdasarkan pada kondisi gelap terang ruangan tanpa menghiraukan kontribusi cahaya dari luar. Hal ini menyebabkan penggunaan energi listrik yang tidak efisien. (Masjanuar,2012:2) Dari pemikiran tersebut maka diciptakan sistem pengaturan penerangan ruangan agar lampu dapat menyesuaikan pencahayaannya sesuai dengan intensitas cahaya ruangan yang diinginkan. Lampu akan meredup dan atau bertambah terang ketika sensor cahaya (LDR) mendeteksi cahaya pada ruangan sehingga menghasilkan pencahayaan lampu sesuai dengan setting value atau pencahayaan yang diinginkan. (Masjanuar,2012:2)

Gambar 6. Bentuk alat sensor cahaya LDR Sumber : Anonim.2013.Periodic Table .(Online). Tersedia: http://periodictable.com/Elements/048/index.html. Diakses pada 10 Maret 2013

LDR (Light Dependent Resistant) merupakan suatu jenis tahanan yang sangat peka terhadap cahaya. Sifat dari tahanan LDR ini adalah nilai tahanannya akan berubah apabila terkena sinar atau cahaya. Apabila tidak terkena cahaya nilai tahanannya akan besar dan sebaliknya apabila terkena cahaya nilai tahanannya akan menjadi kecil (Masjanuar,2012:2). LDR(Light Dependent Resistor) memanfaatkan bahan semikonduktor yang lebih konduktif untuk listrik bila terkena cahaya yang karakteristik listriknya berubah-ubah sesuai dengan cahaya yangditerima. Bahan yang digunakan adalah Kadmium Sulfida (CdS) dan Kadmium Selenida(CdSe). Bahan-bahan ini paling sensitif terhadap cahaya dalam spektrum tampak, dengan puncaknya sekitar 0,6 m untuk CdS dan 0,75 m untuk CdSe. Sebuah LDR Kadmium Sulfida (CdS) memiliki resistansi sekitar 1 M dalam kondisi gelap gulita dan kurang dari 1K ketika ditempatkan dibawah sumber cahaya terang.(Wijaya,2012:213). Kadmium Sulfida (CdS) dan Kadmium Selenida(CdSe) menyebabkan energi dari cahaya yang jatuh lebih banyak karena banyaknya muatan yang dilepas sehingga arus listrik meningkat. CdS (Kadmium Sulfida) memiliki hambatan besar (~ 10 M) bila terkena cahaya, sebaliknya jika ada cahaya yang mengenai CdS hambatannya akan berkurang (~30 - 300 ). Pada saat bahan itu tidak terkena cahaya, konsentrasi pembawa muatan bebas redah, sehingga hambatannya tinggi, sebaliknya jika ada cahaya mengenai bahan tsb maka akan terbentuk pembawa muatan bebas (efek fotoresistivitas) dan konsentrasinya bertambah sehingga hambatannya berkurang sesuai dengan intensitas cahaya. Artinya resistansi bahan telah mengalami penurunan.(Wijaya,2012:213).

18

Gambar 7. Simbol Dan Fisik Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) (diambil dari data sheet LDR) Sumber : Masjanuar,2012

LDR (Light Dependent Resistor) berfungsi untuk mendeteksi besarnya iluminasi di dalam ruangan. Pengendali penerangan ruangan ini menggunakan LDR sebagai transducer yang mengubah energi cahaya ke energi listrik yang selanjutnya akan di olah mikrokontroller. LDR diletakkan bersama dengan lampu, dimana LDR akan di arahkan pada suatu titik, misalnya pada dinding untuk mendeteksi besarnya iluminasi dalam ruangan. (Abdillah,2008:10)

Gambar 8. Rangkaian sensor LDR Sumber : Masjanuar,2012

Karakteristik Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) adalah suatu bentuk komponen yang mempunyai perubahan resistansi yang besarnya tergantung pada cahaya akibat pengaruh adanya logam kadmium sulfide (CdS). Karakteristik LDR terdiri dari dua macam yaitu Laju Recovery dan Respon Spektral sebagai berikut : 1. Laju Recovery Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Bila sebuah Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) dibawa dari suatu ruangan dengan level kekuatan cahaya tertentu ke dalam suatu ruangan yang gelap, maka bisa kita amati bahwa nilai resistansi dari LDR tidak akan segera berubah resistansinya pada keadaan ruangan gelap tersebut. Namun LDR tersebut hanya akan bisa mencapai harga di kegelapan setelah mengalami selang waktu tertentu. Laju recovery merupakan suatu ukuran praktis dan suatu kenaikan nilai resistansi dalam waktu tertentu. Harga ini ditulis dalam K/detik, untuk LDR tipe arus harganya lebih besar dari 200K/detik(selama 20 menit pertama mulai dari level cahaya 100 lux), kecepatan tersebut akan lebih tinggi pada arah sebaliknya, yaitu pindah dari tempat gelap ke tempat terang yang memerlukan waktu kurang dari 10 ms untuk mencapai resistansi yang sesuai den-gan level cahaya 400 lux. (Wijaya,2012:213)

19

2. Respon Spektral Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) tidak mempunyai sensitivitas yang sama untuk setiap panjang gelombang cahaya yang jatuh padanya (yaitu warna). Bahan yang biasa digunakan sebagai penghantar arus listrik yaitu tembaga, aluminium, baja, emas dan perak. Dari kelima bahan tersebut tembaga merupakan penghantar yang paling banyak, digunakan karena mempunyai daya hantar yang baik. (Wijaya,2012:213). Pada keadaan gelap tanpa cahaya sama sekali, LDR memiliki nilai resistansi yang besar (sekitar beberapa Mega ohm). Nilai resistansinya ini akan semakin kecil jika cahaya yang jatuh ke permukaannya semakin terang. Pada keadaan terang benderang (siang hari) nilai resistansinya dapat mengecil , lebih kecil dari 1 KOhm. Dengan sifat LDR yang demikian maka LDR biasa digunakan sebagai sensor cahaya. Contoh penggunaannya adalah pada lampu taman dan lampu di jalan yang bisa menyala di malam hari dan padam di siang hari secara otomatis.( Masjanuar,2012:5) Aplikasi Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) dapat digunakan sebagai : Sensor pada rangkaian saklar cahaya Sensor pada lampu otomatis Sensor pada alarm brankas Sensor pada tracker cahaya matahari Sensor pada kontrol arah solar cell Sensor pada robot line follower

a. b. c. d. e.

2. Fenomena Kasus Pencemaran Besar Akibat Kadmium (Cd) Pada Penyakit Itai-Itai Penyakit itai-itai ( /ouch ouch sickness) adalah kasus massal keracunan kadmium (Cd) yang didokumentasikan di Prefektur Toyama, Jepang. Keracunan kadmium ini menyebabkan pelunakan tulang dan gagal ginjal. Nama penyakit ini berdasarkan kata dalam bahasa Jepang yaitu nyeri (itai) yang disebabkan pada persendian dan tulang belakang. Istilah penyakit itai-itai ini diciptakan oleh penduduk setempat. Kadmium ini dicemarkan ke sungai oleh pertambangan perusahaan-perusahaan di pegunungan. Kasus keracunan kadmium dilaporkan terjadi di sungai Jinzu di Toyama Jepang pada tahun 1980-an yang menyebabkan penyakit Itai-itai pada penduduk wanita umur 40 tahun .(Darmono, 2001:30) Mekanisme Toksisitas Kadmium Sebagian besar kadmium masuk ke tubuh melalui saluran pencernaan,tetapi keluar lagi melalui faeses sekitar 3-4 minggu kemudian, dan sebagian kecil dikeluarkan melalui urin. Sekitar 5% dari diet kadmium, diabsorpsi dalam tubuh. Kadmium dalam tubuh terakumulasi di dalam hati dan ginjal terutama terikat sebagai metalotionein. Metalotionein mengandung unsur sistein, dimana kadmium terikat dalam gugus sulfhidril dalam enzim seperti karboksil sisteinil, histidil, hidroksil, dan fosfatil dari protein dan purin. Kemungkinan besar pengaruh toksisitas kadmium disebabkan oleh interaksi antara kadmium dan protein tersebut, sehingga

20

menimbulkan hambatan terhadap aktivitas kerja enzim dalam tubuh (Darmono, 2001:35) Plasma enzim yang diketahui dihambat oleh kadmium adalah aktivitas dari enzim, terjadinya defisiensi enzim ini dapat menyebabkan gangguan dalam paruparu. Proses toksisitas kadmium dalam tubuh jika dibuat dalam diagram adalahsebagai berikut (Darmono, 2001:35): Kadmium saluran pernapasan dan pencernaan diadsorpsi tubuh terakumulasi di hati dan ginjal Kerja enzim terganggu

Gangguan kesehatan

Efek Toksisitas Kadmium Kadmium dapat menimbulkan efek yang negatif terhadap tubuh manusia seperti kerusakan pada ginjal dan jantung, selain itu kadmium juga dapat menimbulkan kanker paru-paru, gangguan sistem reproduksi, dan anemia (Palar,1994:28). Kadmium lebih beracun bila terhirup melalui saluran pernapasan dari pada melalui saluran pencernaan. Kasus keracunan akut kadmium kebanyakan dari mengisap debu dan asap kadmium, terutama kadmium oksida (CdO). Beberapa jam setelah mengisap CdO, korban akan mengeluh gangguan saluran pernapasan, muntah, kepala pusing, sakit pinggang, bahkan kadmium dapat menyebabkan kematian yang disebabkan karena terjadinya gangguan di paru-paru. Kadmium juga dapat menyebabkan keracunan kronis, hal ini terjadi karena kadmium yang masuk masih dapat ditoleransi oleh tubuh pada saat itu, akan tetapi jika sudah melebihi ambang batas toleransi tubuh maka efek yang ditimbulkan akan lebih parah dari pada keracunan akut seperti kerusakan sistem ginjal, sistem respirasi, sistem sirkulasi darah, dan jantung (Darmono, 2001:30). Keracunan kronis terjadi bila terpapar kadmium dalam jangka waktu yang lama. Kadmium menyebabkan nefrotoksisitas, yaitu gejala proteinuria, glikosuria, dan aminoasidiuria yang disertai dengan penurunan laju filtrasi glumerolus ginjal. Kadmium dapat menyebabkan osteomalasea karena terjadinya gangguan daya keseimbangan kandungan kalsium dan fosfat dalam ginjal. (Jimmy,2002:12).

Gambar 11. Seorang Wanita Penderita Itai-Itai Disease (Sumber: Darmono,2001).

21

Bahaya Kontaminasi Kadmium (Cd) Terhadap Keberlangsungan Makhluk Hidup a. Bahaya Kadmium Bagi Kesehatan Manusia Kadmium (Cd) merupakan salah satu jenis logam berat yang berbahaya karena unsur ini berisiko tinggi terhadap pembuluh darah. Logam ini memiliki tendensi untuk bioakumulasi3. Keracunan yang disebabkan oleh kadmium dapat bersifat akut dan kronis. Logam kadmium (Cd) merupakan logam asing dalam tubuh dan tidak dibutuhkan dalam proses metabolisme.Keracunan kadmium (Cd) dapat mempengaruhi otot polos pembuluh darah. Akibatnya tekanan darah menjadi tinggi yang kemudian bisa menyebabkan terjadinya gagal jantung dan kerusakan ginjal. Kadmium (Cd) merupakan salah satu jenis logam berat yang berbahaya karena elemen ini berisiko tinggi terhadap pembuluh darah. Kadmium (Cd) berpengaruh terhadap manusia dalam jangka waktu panjang dan dapat terakumulasi pada tubuh khususnya hati dan ginjal (Palar, 2008:27). Kadmium (Cd) dalam tubuh terakumulasi dalam hati dan terutama terikat sebagai metalotionein mengandung unsur sistein, dimana Kadmium (Cd) terikat dalam gugus sufhidril (-SH) dalam enzim seperti karboksil sisteinil, histidil, hidroksil, dan fosfatil dari protein purin. Kemungkinan besar pengaruh toksisitas kadmium (Cd) disebabkan oleh interaksi antara kadmium (Cd) dan protein tersebut, sehingga menimbulkan hambatan terhadap aktivitas kerja enzim dalam tubuh (Darmono, 2001:29). Menurut Peraturan Pemerintah RI No 20 Tahun 1990,bila jumlah Cd yang terakumulasi melebihi ambang batas maka biota dari level tertentu dalam rantai makanan akan mengalami kematian bahkan kemusnahan (Palar, 1994). Karena kadmium (Cd) merupakan bahan beracun yang menyebabkan keracunan kronik pada manusia, maka tingkat maksimun yang diperbolehkan di perairan adalah 0,01 mg/L. Menurut Palar (1994), efek kronis akibat toksisitas kadmium (Cd) pada manusia dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok yaitu : 1. Efek kadmium (Cd) terhadap hati Hati adalah organ utama yang terkena bahaya kadmium (Cd) karena fungsi hati adalah penting untuk pencegahan toksisitas dalam tubuh secara keseluruhan yang disebabkan oleh logam berat. Sekitar setengah dari kadmium (Cd) diserap sistemik dengan cepat terakumulasi dalam hati. (Yusuf Ersan,2006:11) 2. Efek kadmium (Cd) terhadap ginjal Kerusakan yang terjadi pada sistem ginjal dapat dideteksi dari tingkat jumlah atau jumlah kandungan protein yang terdapat dalam urine. Petunjuk kerusakan yang dapat terjadi pada ginjal akibat logam kadmium (Cd) yaitu terjadinya asam amniouria dan glokosuria, dan ketidaknormalan kandungan asam urat kalsium dan fosfor dalam urine. Akumulasi logam kadmium (Cd) dalam ginjal membentuk komplek dengan protein. Waktu paruh dari kadmium dalam tubuh 7-30 tahun dan menembus ginjal terutama setelah terjadi kerusakan.

Dikri,Abdlanov. 2011.Perbedaan Bioakumulasi,biokonsentrasi dan Biomagnifikasi.(Online). http://abdilanov.blogspot.com/2011/11/perbedaan-bioakumulasi-biokonsentrasi.html. Diakses pada tanggal 10 Maret 2013 pukul 19.20 WIB

22

3. Efek kadmium (Cd) terhadap paru Keracunan yang disebabkan oleh peristiwa terhirupnya uap dan atau debu kadmium (Cd) juga mengakibatkan kerusakan terhadap organ respirasi paru-paru. 4. Efek kadmium (Cd) terhadap tulang Efek keracunan kadmium (Cd) juga dapat mengakibatkan kerapuhan pada tulang. Gejala rasa sakit pada tulang sehingga menyulitkan untuk berjalan. 5. Efek kadmium (Cd) terhadap sistem reproduksi Daya racun yang dimiliki oleh kadmium (Cd) juga mempengaruhi sistem reproduksi dan organ-organnya. Pada konsentrasi tertentu kadmium (Cd) dapat mematikan sel-sel sperma pada laki-laki. Hal inilah yang menjadi dasar bahwa akibat terpapar oleh uap logam kadmium (Cd) dapat mengakibatkan impotensi. Kadmium (Cd), lebih beracun bila terhisap melalui saluran pernafasan daripada saluran pencernaan. Kematian disebabkan karena terjadinya edema paruparu. Gejala akan terjadi setelah selang waktu beberapa lama. Kadmium (Cd) pada keadaan kronis menyebabkan nefrotoksisitas, yaitu gejala proteinuria, glikosuria, dan aminoasidiuria disertai dengan penurunan laju filtrasi glumerolus ginjal. Kasus keracunan kadmium (Cd) kronis juga menyebabkan gangguan kardiovaskuler dan hipertensi. Hal tersebut terjadi karena tingginya afinitas jaringan ginjal terhadap kadmium (Cd). Kadmium (Cd) dapat menyebabkan osteomalasea karena terjadinya gangguan daya keseimbangan kandungan kalsium dan fosfat dalam ginjal. (Stwertka,2002:130) Paparan logam berat telah diketahui dapat berpengaruh pada kesehatan anak-anak dengan ditemukannya kadar tinggi dari logam berat kadmium (Cd) dalam urin dan diduga anak-anak tersebut cenderung lebih memiliki gangguan belajar dan atau memerlukan pendidikan khusus. Kadmium (Cd) terjadi secara alami dalam beberapa jenis tanah. Anak-anak paling mungkin terpapar logam berat tersebut melalui makanan seperti biji-bijian, sayuran dan panganan dari akar tumbuhan, serta melalui asap tembakau (rokok). Beberapa mainan anak dan perhiasan juga telah ditemukan mengandung kadmium (Cd). (Stwertka,2002:130) Metabolisme (Absorbsi, Distribusi dan Ekskresi) Kadmium dalam Tubuh Menurut Widowati (2008), kadmium (Cd) dapat masuk ke dalam tubuh hewan atau manusia melalui berbagai cara, yaitu: a. Dari udara yang tercemar, misalnya asap rokok b. Dari udara yang terkontaminasi asap pembakaran batu bara c. Melalui wadah/tempat berlapis kadmium (Cd) yang digunakan untuk tempat makanan atau minuman d. Melalui kontaminasi perairan dan hasil perairan yang tercemar kadmium e. Melalui rantai makanan f. Melalui konsumsi daging yang diberi obat anthelminthes yang mengandung kadmium.

23

Absorpsi kadmium melalui gastrointestinal4 lebih rendah dibandingkan absorpsi melalui respirasi, yaitu sekitar 5-8%. Absorpsi kadmium (Cd) meningkat bila terjadi defisiensi kalsium (Ca), besi (Fe) dan rendahnya protein dalam makanan. Defisiensi kalsium (Ca) akan merangsang sintesis ikatan Ca-protein sehingga akan meningkatkan absorpsi kadmium, sedangkan kecukupan seng dalam makanan dapat menurunkan absorpsi kadmium. Hal ini diduga karena seng merangsang produksi metalotionin. (Palar, 2008:28). Kadmium (Cd) ditransportasikan dalam darah yang berikatan dengan sel darah merah dan protein berat molekul tinggi dalam plasma, khususnya oleh albumin. Sejumlah kecil kadmium (Cd) dalam darah mungkin ditransportasikan oleh metalotionin . (Zulkarnain,2008:30) b. Bahaya Kadmium (Cd) Bagi Lingkungan Ekosistem Dalam strata lingkungan, kadmium dan persenyawaannya ditemukan dalam banyak lapisan. Secara sederhana dapat diketahui bahwa kandungan kadmium akan dapat dijumpai di daerah-daerah penimbunan sampah dan aliran hujan, selain dalam air buangan (Palar, 2008:28). Kadmium (Cd) sangat mengadsorbsi bahan organik ke dalam tanah. Ketika kadmium (Cd) berada di tanah dapat sangat berbahaya, karena penyerapan melalui tanaman akan meningkat. Tanah yang diasamkan meningkatkan penyerapan kadmium oleh tanaman. Hal ini adalah potensi bahaya bagi hewan yang mengkonsumsi tanaman tersebut.(Liong,2009:2) Cacing tanah dan organisme tanah lainnya kemungkinan besar peka terhadap keracunan kadmium (Cd). Hewan organisme tersebut bisa mati pada konsentrasi yang sangat rendah dan hal ini memiliki konsekuensi pada struktur tanah.Dalam ekosistem perairan,kadmium (Cd) dapat terakumulasi dalam kerang, tiram, udang, lobster dan ikan. Kerentanan terhadap kadmium dapat sangat bervariasi antara organisme akuatik. Organisme air asing yang dikenal lebih tahan terhadap keracunan kadmium (Cd) daripada organisme air tawar. Hewan yang makan atau minum kadmium kadang-kadang mendapatkan tekanan darah tinggi, penyakit hati dan saraf atau kerusakan otak. (Liong,2009:4)

Gastrointestinal adalah hal yang berkaitan dengan sistem pencernaan, terutama lambung dan usus (Anonim.Kamus Kesehatan. http://kamuskesehatan.com/arti/gastrointestinal/.Diakses pada tanggal 14 Maret 2013 pukul 19.30)

24

DAFTAR PUSTAKA
Abdillah,Syarif.2008. Sistem Keamanan Ruangan dengan Sensor LDR dan Handphone. Tugas Akhir pada Jurusan Fisika FMIPA,Universitas Sumatera Utara.hal.10. Abdualaziz,dkk.2001.Cadmium Toxicity and Cell Stress Response,Review Article in Departemen of Zoology,College of Science,King Saud University,Saudi Arabia. Anonim. 2004.One Energy Centre Nicd Batteries. (Online).Tersedia: http://www.Hardingenergy.com. Diakses pada 10 Maret 2013 Anonim, 2006. Periodic Table: Cadmium. (Online).Tersedia : http: www.chemicalelements.com/elements/cd.html.Diakses pada 10 Maret 2013 Anonim. 2011. Datasheet LDR. (Online).Tersedia :www.alldatasheet.com. (Online). Diakses pada tanggal 15 Maret 2013 Anonim.2012. Jefferson Lab.(Online).Tersedia: //www.jlab.org/visitors/JLabbrochure. Diakses pada 8 maret 2011. Arifin. 1997. Studi Interaksi antara Kadmium dan Fitoplankton Lingkungan Laut, Thesis, Program Pasca Sarjana Program Studi Kimia FMIPA UGM,Yogyakarta. Bernard AM, Ouled Amor A, Lauwerys RR. 2008. Cadmium & Its Adverse Effects On Human Health. Department of Public Health, Catholic University of Louvain, Belgium.hal.558-563. C. Lu, Frank. 1994. Toksikologi Dasar : Asas, Organ Sasaran, dan Penilaian Risiko. Edisi Kedua. Jakarta: UI Press.hal.38-39. Cotton dan Wilkinson.1989.Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI-Press.hal.401-402 Departemen Lingkungan Hidup. 1995. Peraturan Pemerintah RI No.20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air. Yogyakarta : Biro Lingkungan Hidup, Setwilda Prop.Daerah Istimewa Yogyakarta Darmono. 2001. Logam dalam Sistem Biologi Mahkluk Hidup. Jakarta : UI Press.28-35. Hardiyanti,Nerista. 2011.Kelimpahan dan Keberadaan Unsur Kadmium di Alam Beserta Pemanfaatannya dan Metode Isolasinya.Skripsi pada Universitas Brawijaya Malang:Tidak diterbitkan.hal 1-8. Haryoto.2004.Kinetika Bioakumulasi Logam Berat Kadmium Oleh Fitoplankton Chlorella Sp Lingkungan Perairan Laut. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, Vol. 5, No. 2 pada Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.hal.92. Jimmy, M. Gani, A,A. Asnawati., 2002. Profil Kandungan Logam Berat Kadmium (Cd) dan Krom (Cr) dalam Daging Kupang Beras (Tellina versicolor). Tugas Akhir pada Jurusan Kimia FMIPA Universitas Jember.hal.12. Julius,Marinus. 2005. Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Dan Kadmium (Cd) Dalam Air, Sedimen dan Organ Tubuh Ikan Sokang (Triacanthus nieuhofi) Di Perairan Ancol,

25

Teluk Jakarta. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan,Institut Pertanian Bogor.hal.15 Liong,Syarifuddin et al.2009. Dinamika Akumulasi Kadmium Pada Tanaman Kangkung Darat (Ipomoae reptans Poir). Indonesia Chimica Acta,Vol. 2 No. 1,Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.hal.1-7. Liptrot,G.F.1974. Modern Iorganic Chemistry. London : The English Language Book Society and Mills & Boon Limited.420,422-423. Masjanuar Riyan,dkk. 2012. Dimmer Lampu Pada Penerangan Ruangan Menggunakan Led yang Dilengkapi dengan Otomatisasi Dan Emergency. Jurnal Penelitian Sains dan Teknologi pada Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.hal.2-5. Palar, H . 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat.Rineka Cipta. Bandung. hal.25-28

Patnaik,Pratyot.2001.Handbook of NN.Donnelley. hal.141-159.

Inorganic

Chemicals.

New
th

York:

Sax N.I., dan R.J. Lewis. 1987. Hawleys Condensed Chemical Dictionary, 12 ed, Van Nostrand Reinhold Co. New York. Hal.138. Stwertka,Albert. 2002. A uide to The Elements.New York: Oxford University Press.hal.130 Sudarmaji, Mukono J, dan Corie I. P. 2006. Toksikologi Logam Berat B3 Dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan, VOL. 2, NO. 2. (Online).Tersedia : http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-2-03.pdf. Diakses pada 10 Maret 2013. Sugiyarto, Kristian. 2003. Kimia Anorganik I, Yogyakarta: JICA Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.hal.162. Svehla,G.,Vogel.1990.Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro Semimikro,Edisi kelima. Jakarta: PT.Kalman Media Pusaka.hal 235-237. dan

Widowati W, Sastiono A, Jusuf R. R. 2008. Efek Toksik Logam Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran. Penerbit Andi. Yogyakarta. Wijaya,Sastra.2012.Optoelektronika. Diktat Elektronika I pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.hal.213 Yusuf Ersan.2006. Effects of Cadmium Compounds (Cadmium Para Hydroxybenzoate and Cadmium Chloride) on the Liver of Mature Mice, Jurnal Penelitian Sains & Teknologi. Kafkas University, Arts and Sciences Faculty, Biology Department, 36100 Kars TURKEY. Zulkarnain.2008. Efektifitas Biji Kelor (Moringa oleifera Lamk.) dalam Mengurangi Kadar Kadmium (II). Skripsi pada Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Malang.hal.30.

26

Anda mungkin juga menyukai