Anda di halaman 1dari 2

Salahkah Strategi GAP?

Ada banyak hal yang membuat kita harus mengubah strategi dalam bertarung di pasar. Salah satunya adalah krisis. Krisis ekonomi yang melanda dunia memaksa kalangan bisnis untuk melakukan perubahan agar bisa selamat melewati badai tersebut. Mereka yang tidak beradaptasi dengan cepat akan tergilas.

Saat krisis apa yang sebelumnya memberikan keuntungan maksimal bisa berubah. Misalnya saja pangsa pasar tertentu. Krisis di Amerika Serikat telah memukul keras kelas menengah dengan usia produktif. Mereka kehilangan pekerjaan dan tidak mampu membayar utang bank.

Hal tersebut juga berdampak pada para retailer. Retailer yang menyasar pangsa pasar tersebut akan kehilangan banyak, karena daya beli target pasar mereka yang menurun secara drastis. Salah satu retailer yang menghadapi masalah ini adalah Gap.

Retailer fashion ini pada era 90an sukses menggarap pasar anak muda dewasa dengan produk khakinya dan iklan swing dancing. Saat ini mereka berharap pangsa pasar tersebut kembali membeli produk Gap. Namun, banyak ahli pesimis dengan hal tersebut.

Menurut berita yang diturunkan Bloomberg saat ini kelompok umur 18-34 tahun mengalami tekanan yang lebih berat ketimbang yang lain. Mereka banyak yang kehilangan pekerjaan, terlilit utang pendidikan, dan mengalami masalah ekonomi lainnya. Sementara menurut peneliti dari WSL Strategic Retail, kelompok umur tersebut semakin enggan berbelanja.

Keengganan ini juga telah merusak penjualan retailer lainnya, termasuk Urban Outfitters Inc. dan Aeropostale Inc. Masalah ini juga sepertinya akan segera menyentuh retailer high-end seperti Nordstrom Inc. Dengan kondisi ini mereka akan kesulitan untuk mendapatkan pelanggan baru.

Saat ini para retailer percaya bahwa para pembeli usia muda lebih kuat dan akan segera pulih dari pukulan krisis. Kenyataannya, mereka tidak memiliki uang untuk dibelanjakan. Masalahnya, para retailer tidak benar-benar memperhatikan hal ini, kata Wendy Liebmann, CEO WSL menyatakan kekhawatirannya.

Meski begitu Gap sepertinya belum akan menggeser target pasarnya. Mereka tetap akan menyasar kelompok usia tersebut. Beberapa waktu yang lalu Gap meluncurkan iklan terbarunya yang menggambarkan tempat tinggal di area yang muda dan hip. Mereka juga mulai berkolaborasi dengan blogger fashion populer. Para blogger ini memasukan produk Gap seperti celana jeans berwarna dan sweater garis-garis sebagai contoh tampilan fashionable.

Para analis sepertinya kurang optimis dengan strategi yang diterapkan Gap. Menurut mereka dibutuhkan hal yang lebih kuat dari iklan cerdas untuk membuat target pasar tersebut mau membelanjakan uang mereka.

Kelompok usia yang disasar Gap usia 18-34 tahun saat ini seperti tenggelam dalam berbagai promosi penjualan. Mungkin saja mereka menerima gaya hidup dan fashion yang ditawarkan. Tapi mereka tidak mau membayar untuk itu, kata Eric Beder, analis Brean Murray Carret & Co.

Berkaca pada kondisi ini, para retailer di Indonesia sepertinya perlu waspada. Mungkin keadaan memang tidak separah di Amerika Serikat, tapi bukan berarti kita bisa santai tanpa memperhatikan perkembangan yang terjadi. Jangan sampai lengah dan akhirnya terlambat melakukan penyesuaian dalam strategi pasar kita. (www.retailcustomer experience.com)