Anda di halaman 1dari 2

Jakarta, Kompas - Asupan energi selama menyusui masih terabaikan oleh mayoritas ibu.

Dibandingkan saat hamil, konsumsi energi ibu menyusui lebih rendah. Akibatnya, cadangan lemak ibu menyusui rendah. Hal itu berpengaruh terhadap produksi air susu ibu. Hal tersebut disampaikan Sandra Fikawati, pengajar Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) saat mempertahankan disertasi Pengaruh Vegetarian dan Nonvegetarian terhadap Status Gizi Ibu, Durasi ASI Predominan, dan Pertumbuhan Bayi: Studi Kohort di 5 Kota dalam sidang terbuka promosi doktor, Selasa (25/6), di Kampus UI Depok. Fikawati meneliti ibu melahirkan vegetarian dan nonvegetarian di lima kota, Jakarta, Surabaya, Pontianak, Palembang, dan Pekanbaru, selama tiga tahun sejak 2009. Jumlah responden penelitian ada 42 pasang ibu-bayi vegetarian dan 43 pasang ibubayi nonvegetarian. Responden vegetarian yang diteliti ialah lakto-ovo vegetarian. Fikawati memaparkan, konsumsi gizi makro ibu menyusui vegetarian dan nonvegetarian lebih rendah dibandingkan saat hamil. Konsumsi energi ibu menyusui vegetarian sebesar 1.850 kkal dan ibu nonvegetarian 2.100 kkal. Berdasarkan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kecukupan gizi ibu menyusui adalah 2.500 kkal. Ketika hamil, umumnya porsi makan ibu lebih banyak dari biasa karena mereka berpikir asupan itu untuk memenuhi kebutuhan ibu bersangkutan dan janinnya. Setelah melahirkan, saat menyusui asupan gizi ibu turun, lebih rendah dibanding saat hamil, Fikawati menuturkan. Konsumsi protein ibu vegetarian lebih rendah dibandingkan dengan ibu nonvegetarian, tetapi jumlahnya memenuhi rekomendasi kecukupan protein. Konsumsi karbohidrat juga cukup. Kekurangan terjadi pada asupan lemak. Akibatnya, produksi air susu ibu (ASI) kurang.

Fikawati menyatakan, baik ibu vegetarian maupun nonvegetarian bisa memberikan ASI eksklusif selama enam bulan. Perilaku hidup sehat ditambah keinginan kuat memberikan ASI akan menjadi faktor berpengaruh terhadap cakupan ASI eksklusif ibu vegetarian. Suplementasi gizi Fikawati merekomendasikan Kementerian Kesehatan untuk mendorong program peningkatan gizi ibu menyusui melalui suplementasi gizi, konseling, informasi, dan edukasi. Di pedesaan, suplemen tambahan seyogianya dijual murah atau gratis. Promotor disertasi Fikawati, Prof Kusharisupeni, menuturkan, disertasi Fikawati yang mendapat yudisium cum laude memberikan jawaban terhadap perilaku ibu menyusui yang berhenti

menyusui karena merasa ASI-nya kurang. Padahal, ternyata asupan energi ibu tersebut yang masih di bawah jumlah yang direkomendasikan sehingga memengaruhi produksi ASI. (ADH)