Anda di halaman 1dari 121
KINERJA PENYALURAN KREDIT UMUM PEDESAAN (KUPEDES) SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN USAHA NASABAH DI PT.

KINERJA PENYALURAN KREDIT UMUM PEDESAAN (KUPEDES) SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN USAHA NASABAH DI PT. BRI UNIT CITEUREUP CABANG BOGOR

Disusun Oleh :

SEVIA FITRIANINGSIH

A 14104133

CABANG BOGOR Disusun Oleh : SEVIA FITRIANINGSIH A 14104133 PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

RINGKASAN SEVIA FITRIANINGSIH. Kinerja Penyaluran Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) serta Dampaknya Terhadap Peningkatan

RINGKASAN

SEVIA FITRIANINGSIH. Kinerja Penyaluran Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) serta Dampaknya Terhadap Peningkatan Pendapatan Usaha Nasabah di PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Citeureup Cabang Bogor. Di bawah bimbingan ANNA FARIYANTI.

Kredit adalah transaksi dua pihak dimana pihak peminjam mendapat bantuan dana dengan perjanjian bahwa pada waktu yang akan datang dia harus mengembalikan dana pinjaman itu berdasarkan syarat-syarat yang telah disetujui kedua belah pihak, yaitu peminjam dan pemberi pinjaman. Kredit disalurkan melalui beberapa lembaga pembiayaan, salah satunya perbankan. Bank Rakyat Indonesia (BRI) merupakan lembaga perbankan milik pemerintah yang bertugas menyalurkan kredit. Penyaluran kredit BRI mengalami pertumbuhan yang baik pada tahun 2006. Hal ini dilihat pada indikator NPL (Non Performing Loan) dan LDR (Loan to Deposit Ratio) BRI yang mampu tumbuh diatas rata-rata perbankan. Pertumbuhan kredit BRI ini dimotori oleh segmen UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang merupakan fokus utama pengembangan bisnis BRI. Kredit yang khusus membiayai segmen UMKM adalah Kredit Umum Pedesaan (Kupedes). Kupedes disalurkan melalui unit kerja BRI yaitu BRI Unit. BRI Unit Citeureup merupakan salah satu unit kerja di wilayah BRI Kantor Cabang Bogor yang merupakan Unit terbesar kedua. BRI Unit melayani dan menyalurkan Kupedes terhadap sektor usaha seperti perdagangan, perindustrian dan jasa komersial. Sektor usaha yang paling banyak dibiayai Kupedes adalah sektor perdagangan. Hal ini karena letak BRI Unit Citeureup yang berada di pusat perekonomian Citeureup dimana terdapat banyak para pelaku usaha perdagangan. Dalam penyaluran Kupedes, BRI Unit Citeureup menghadapi beberapa kendala. Dari pihak bank, kendala yang dihadapi adalah jumlah nasabah yang menunggak setiap tahunnya. Hal ini menjadi masalah karena dapat memperbesar nilai NPL akibat kredit macet. Sedangkan, dari pihak nasabah kendala utama UMKM dalam mengajukan permohonan kredit kepada perbankan adalah besaran bunga yang dianggap terlalu tinggi dan tidak adanya agunan. Permasalahan tersebut mengindikasikan bahwa dalam penyaluran Kupedes masih terdapat ketidaksesuaian yang menyebabkan kinerja penyaluran Kupedes dinilai kurang baik. Padahal, Kupedes diberikan kepada para pelaku UMKM agar usahanya menjadi berkembang sehingga pendapatan nasabah dapat meningkat. BRI memproyeksikan pendapatan nasabah Kupedes meningkat sebesar 15-20 persen setiap bulannya setelah menerima Kupedes. Proyeksi ditetapkan dengan pertimbangan bahwa tidak semua kredit yang diberikan pihak bank digunakan untuk mengembangkan usaha. Peningkatan pendapatan usaha setiap sektor usaha

seperti sektor perdagangan, perindustrian dan jasa komersial yang dibiayai Kupedes berbeda- beda. Berdasarkan perumusan

seperti sektor perdagangan, perindustrian dan jasa komersial yang dibiayai Kupedes berbeda- beda. Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Menganalisis kinerja penyaluran Kupedes yang telah dilaksanakan, (2) Menganalisis dampak penyaluran Kupedes terhadap peningkatan pendapatan usaha dalam sektor perdagangan, sektor perindustrian dan sektor jasa komersial. Penelitian dilakukan pada BRI Unit Citeureup selama dua bulan, yaitu pada bulan Mei sampai Juni 2008, namun persiapan survei pendahuluan telah dilakukan terlebih dahulu. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive. Pemilihan responden dari nasabah Kupedes yang masih aktif dimana pengambilan responden dilakukan secara judgment sampling. Responden yang diambil menggunakan sepuluh persen yaitu 60 orang dari total populasi nasabah Kupedes dalam sector perdagangan, perindustrian dan jasa komersial. Data yang dikumpulkan akan dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Untuk mengetahui kinerja penyaluran Kupedes, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai karakteristik dan profil usaha responden. Hal ini untuk mengetahui kaitan antara karakteristik responden serta pengaruhnya terdapat kinerja penyaluran Kupedes. Secara umum responden memiliki umur antara 38 hingga 51 tahun dan sebagian besar berjenis kelamin lakil-laki dengan status menikah. Tingkat pendidikan yang dicapai cukup rendah yaitu hanya sampai tingkat sekolah dasar (SD). Profil usaha responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden melakukan kegiatan usaha dalam sektor perdagangan dengan lama usaha 9 hingga 16 tahun. Usaha yang dilakukan masih berada di lingkungan tempat tinggal dengan status usaha milik dengan modal pinjaman pada plafond Rp 25.000 hingga kurang dari Rp 50.000.000. Kinerja penyaluran Kupedes BRI Unit Citeureup bila dilihat dari target dan realisasi kredit, persentase tunggakan, jangkauan kredit dan frekuensi pinjaman dapat dinilai sudah baik. Realisasi kredit telah mampu mencapai target yang telah ditetapkan. Pada tahun 2005 realisasi kredit hanya mencapai 84,24 persen. Pada tahun 2007 realisasi kredit mencapai 100,71 persen dari target yang ditetapkan bahkan meningkat sepuluh persen pada tahun berikutnya. Selain itu, persentase tunggakan cenderung menurun dari 3,13 persen pada tahun 2005 hingga 2,33 persen untuk tahun 2007. Kupedes yang disalurkan telah dapat menjangkau berbagai sektor ekonomi di wilayah kerja BRI Unit Citeureup. Sektor ekonomi yang paling banyak dibiayai Kupedes adalah sektor perdagangan yang mencapai Rp 5.058.058.667. Efektivitas Kupedes dapat juga dilihat dari frekuensi pinjaman yang berhasil dilayani. Data Bulan Juni 2008 menunjukkan bahwa nasabah Kupedes yang pinjamannya lebih dari tiga kali adalah yang paling banyak yaitu sebesar 548 orang.

Berdasarkan penilaian nasabah kinerja penyaluran Kupedes juga sudah dinilai baik. Hal ini dapat dilihat dari

Berdasarkan penilaian nasabah kinerja penyaluran Kupedes juga sudah dinilai baik. Hal ini dapat dilihat dari tanggapan responden terhadap persyaratan awal, prosedur pinjaman, realisasi kredit, biaya administrasi, tingkat bunga, jaminan atau agunan, dan pelayanan petugas bank. Faktor yang dinilai masih kurang mendukung efektivitas penyaluran Kupedes yaitu tingkat bunga. Tingkat pendapatan responden sebagai nasabah Kupedes secara keseluruhan mengalami peningkatan sebesar 29,14 persen. Untuk tingkat perubahan pendapatan tiap sektor ekonomi, sektor perdagangan mengalami pertumbuhan yang lebih besar. Pertumbuhan tersebut sebesar 35,26 persen dan yang perubahannya terkecil adalah sektor jasa komersil dengan tingkat perubahan sebesar 18,49 persen. Namun, hal ini menunjukkan bahwa kinerja penyaluran Kupedes di BRI Unit Citeureup sudah baik. Pengembalian sebagian bunga kepada nasabah yang membayar tepat waktu (Insentif Pembayaran Tepat Waktu) perlu ditekankan kepada nasabah. Hal ini agar bunga yang harus dibayar tidak dianggap membebankan nasabah. Kemudian, pihak bank mengadakan program sertifikasi yang dilaksanakan pihak bank dengan cara kerjasama dengan BPN (Badan Pertanahan Nasional) serta pemerintah setempat. Hal ini untuk mengatasi nasabah yang menghadapi kendala dalam memenuhi agunan yang ditetapkan.

KINERJA PENYALURAN KREDIT UMUM PEDESAAN (KUPEDES) SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN USAHA NASABAH DI PT.

KINERJA PENYALURAN KREDIT UMUM PEDESAAN (KUPEDES) SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN USAHA NASABAH DI PT. BRI UNIT CITEUREUP CABANG BOGOR

Disusun Oleh :

SEVIA FITRIANINGSIH A 14104133

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

Judul : Kinerja Penyaluran Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) Serta Dampaknya Terhadap Peningkatan Pendapatan Usaha Nasabah

Judul : Kinerja Penyaluran Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) Serta

Dampaknya Terhadap Peningkatan Pendapatan Usaha Nasabah di PT.

BRI Unit Citeureup Cabang Bogor

Nama : Sevia Fitrianingsih

NRP : A14104133

Menyetujui,

Dosen Pembimbing Skripsi

Dr. Ir. Anna Fariyanti, MS NIP. 131 918 115

Mengetahui,

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP. 131 124 019

Tanggal Lulus :

PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “KINERJA PENYALURAN KREDIT UMUM PEDESAAN (KUPEDES)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG

BERJUDUL “KINERJA PENYALURAN KREDIT UMUM PEDESAAN

(KUPEDES) SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PENINGKATAN

PENDAPATAN USAHA NASABAH DI PT. BRI UNIT CITEUREP CABANG

BOGOR” ADALAH KARYA SENDIRI DAN BELUM DIAJUKAN DALAM

BENTUK APAPUN KEPADA PERGURUAN TINGGI MANAPUN. SUMBER

INFORMASI YANG BERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG

DITERBITKAN MAUPUN TIDAK DITERBITKAN DARI PENULIS LAIN

TELAH DISEBUTKAN DALAM TEKS DAN DICANTUMKAN DALAM

DAFTAR PUSTAKA DI BAGIAN AKHIR SKRIPSI INI.

Bogor, September 2008

Sevia Fitrianingsih

A14104133

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada tanggal 20 Mei 1987. Penulis

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada tanggal 20 Mei

1987. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara, dari keluarga

Bapak Ubaidillah dan Ibu Sunengsih.

Penulis menempuh pendidikan sekolah dasar di SDN Pasireurih 1, Bogor

dari tahun 1992 sampai tahun 1998. Pada tahun 1998 sampai dengan tahun 2001

penulis melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 4 Bogor. Pada tahun 2001

penulis melanjutkan pendidikan di SMU Negeri 6 Bogor dan lulus pada tahun

2004. Kemudian pada tahun yang sama, penulis diterima sebagai mahasiswa di

Program Studi Manajemen Agribisnis, Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi

Pertanian,

Fakultas Pertanian,

Institut Pertanian Bogor melalui jalur

(Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).

SPMB

KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya Penulis berhasil menyelesaikan skripsi

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya

Penulis berhasil menyelesaikan skripsi dengan judul “Kinerja Penyaluran Kredit

Umum Pedesaan (Kupedes) serta Dampaknya terhadap Peningkatan Pendapatan

Usaha

Nasabah di

PT. BRI Unit Citeureup Cabang Bogor”. Penelitian ini

bertujuan untuk menilai kinerja penyaluran Kupedes yang telah dilaksanakan.

Kinerja penyaluran Kupedes dinilai dari dua sisi yaitu berdasarkan penilaian bank

dan penilaian nasabah. Penilaian bank dinilai berdasarkan indikator target dan

realisasi

kredit,

persentase

tunggakan,

jangkauan sektor

ekonomi/usaha

dan

frekuensi pinjaman. Penilaian nasabah dilakukan dengan memberikan tanggapan

atas

parameter-parameter.

Parameter

tersebut

terdiri

dari

persyaratan

awal,

prosedur pinjaman, biaya administrasi, realisasi kredit, tingkat bunga, jaminan dan

pelayanan petugas. Penelitian ini juga bertujuan untuk melihat dampak pemberian

Kupedes terhadap peningkatan pendapatan usaha nasabah sesuai dengan tujuan

pemberian Kupedes.

Penulis

berharap

skripsi

ini

dapat

memberikan

dukungan

kontribusi

pemikiran bagi semua pihak yang berkepentingan, walaupun dalam penyajiannya

tidak luput dari berbagai kekurangan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang

membangun dengan diharapkan sebagai bahan perbaikan dan penyempurnaan di

masa mendatang.

Bogor, September 2008

Sevia Fitrianingsih

A14104133

UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini. Pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih

kepada :

1. Mama dan Papa yang telah memberikan perhatian, pengertian, dukungan dan

doa dan tulus selama ini.

2. Ibu Dr. Ir. Anna Fariyanti, MS sebagai dosen pembimbing skripsi yang selalu

meluangkan waktu disela-sela kesibukan beliau untuk memberi bimbingan,

dukungan bagi penulis.

3. Ibu Dr. Ir. Ratna Winandi, MS sebagai dosen penguji utama.

4. Bapak Arif Karyadi, SP sebagai dosen penguji wakil komisi pendidikan.

5. Ibu Ir. Yusalina,

MSi selaku dosen pembimbing akademik penulis atas

bimbingan beliau selama penulis berada di bangku kuliah.

6. Adik-adikku Dilla, Gilang dan Nindhi atas kasih sayang dan doanya adalah

kado

terindah

dukungannya.

bagi

penulis.

Serta

seluruh

keluarga

yang

atas

doa

dan

7. Teman-teman satu bimbingan Cika, Tejo, Cimay, Dina & Nia. Terima kasih

atas support yang telah diberikan pada penulis.

8. Kepala Unit serta staf PT. BRI Unit Citeureup Pak Wawan, Mas Aris, Mas

Mayang, Pak Adjo, Bu Ika, Mba Eva dll. Terima Kasih atas diizinkannya

penulis dalam pengambilan data dan informasinya.

9. Ibu Ir. Heny K. Daryanto, MS Sebagai Ketua Departemen Agribisnis dan

seluruh staf. Terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada penulis.

10. Sahabatku-sahabatku di AGB’ 41 Adisti, Ica, Neneng, Nuey, Narita, Kiki, Rizal, Tifa, Tutik, Wanti,

10. Sahabatku-sahabatku di AGB’ 41 Adisti, Ica, Neneng, Nuey, Narita, Kiki,

Rizal, Tifa, Tutik, Wanti, Yustika, Dika dan Cumie. Terima kasih atas

persahabatan serta cinta dan dukungan dari kalian semua.

11. Teman-temanku di Agribisnis 41’ Fandy, Fima, Suci, Arisman, Tere, David,

Taufik, Yanti, yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Serta teman-teman AGB’ 41 lainnya yang tidaak dapat penulis sebutkan

semuanya. Terima kasih atas persaudaraan yang telah terbina selama ini.

12. Mas Harun Al Rasyid yang telah mengisi hari-hari penulis selama satu tahun

belakangan ini. Thanks for all support and love

13. Pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, namun tidak

menghilangkan rasa terima kasih atas bantuan dan dukungan kepada penulis.

DAFTAR ISI   Halaman DAFTAR TABEL   x DAFTAR GAMBAR xi DAFTAR LAMPIRAN xii I

DAFTAR ISI

 

Halaman

DAFTAR TABEL

 

x

DAFTAR GAMBAR

xi

DAFTAR LAMPIRAN

xii

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Perumusan Masalah

6

1.3 Tujuan Penelitian

9

1.4 Kegunaan Penelitian

9

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Kupedes

10

2.1.1 Jenis Kupedes

12

2.1.2 Syarat-syarat calon nasabah Kupedes

16

2.2 Kinerja Keuangan

17

2.3 Manfaat Kredit bagi UMKM

20

2.4 Penelitian Terdahulu

21

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

25

3.1.1 Pengertian, Tujuan dan Fungsi Kredit

25

3.1.2 Analisis Kinerja

29

3.1.2.1 Analisis Kredit

29

3.1.2.2 Kinerja Penyaluran Kredit Penilaian Bank

33

3.1.2.3 Kinerja Penyaluran Kredit Penilaian Nasabah

34

3.1.2.4 Efektivitas Penyaluran Kredit UMKM

34

3.2 Dampak Kredit Terhadap Pendapatan

35

3.3 Kerangka Pemikiran Operasional

39

IV METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

43

4.2 Jenis dan Sumber Data

43

4.3 Metode

Pengambilan Responden

44

4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data

45

4.4.1 Analisis Kinerja Penyaluran Kupedes dengan Evaluasi Nilai Efektivitas

45

4.4.2 Analisis Dampak Kupedes Terhadap Peningkatan

Pendapatan Usaha

47

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

5.1 Sejarah BRI

49

5.2 Struktur Organisasi BRI

52

ii

VI

KARAKTERISTIK DAN PROFIL USAHA RESPONDEN

VI KARAKTERISTIK DAN PROFIL USAHA RESPONDEN   6.1 Karakteristik Responden 54 6.1.1 Umur dan Jenis Kelamin
 

6.1 Karakteristik Responden

54

6.1.1 Umur dan Jenis Kelamin

54

6.1.2 Status Pernikahan

56

6.1.3 Tingkat Pendidikan

57

6.2 Profil Usaha Responden

58

6.2.1 Jenis Usaha

58

6.2.2 Lama Usaha

59

6.2.3 Lokasi Usaha dan Status Usaha

60

6.2.4 Frekuensi Pinjaman

61

6.2.5 Jumlah Modal

63

VII KINERJA PENYALURAN KREDIT UMUM PEDESAAN

 

7.1 Kinerja Penyaluran Kupedes Menurut Penilaian Bank

65

7.1.1 Target dan Realisasi Kredit

65

7.1.2 Persentase Tunggakan

66

7.1.3 Jangkauan Kredit

69

7.1.4 Frekuensi Pinjaman

71

7.2 Kinerja Penyaluran Kupedes Menurut Penilaian Nasabah

71

7.2.1 Persyaratan Awal

72

7.2.2 Prosedur Pinjaman

73

7.2.3 Biaya Administrasi Pinjaman

75

7.2.4 Realisasi Kredit

77

7.2.5 Tingkat Bunga

78

7.2.6 Agunan

80

7.2.7 Pelayanan Petugas

81

7.3 Hasil Skor Penilaian Responden Nasabah Kupedes BRI Unit Citeureup Tahun 2008 Terhadap Efektivitas Penyaluran Kupedes

83

VIII ANALISIS PENDAPATAN RESPONDEN SEBELUM DAN SESUDAH MENERIMA KUPEDES

 

8.1 Pendapatan Sebelum dan Setelah Menerima Kupedes

85

8.2 Implikasi Penelitian

89

IX

KESIMPULAN DAN SARAN

9.1 Kesimpulan

92

9.2 Saran

94

DAFTAR PUSTAKA

95

LAMPIRAN

98

iii

DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1 Indikator Kinerja Industri Perbankan di Indonesia Tahun 2006 2 2.

DAFTAR TABEL

Nomor

Halaman

1

Indikator Kinerja Industri Perbankan di Indonesia Tahun 2006

2

2.

Penyaluran Kredit BRI Tahun 2006

4

3

Jumlah Tunggakan Kredit BRI Unit Citeureup Tahun 2005-2007

7

4

Skor Penilaian Efektivitas

47

5

Sebaran Responden Nasabah Kupedes BRI Unit Citeureup Tahun 2008 Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin

55

6

Sebaran Responden Nasabah Kupedes BRI Unit Citeureup Tahun 2008 Berdasarkan Satus Pernikahan

57

7

Sebaran Responden Nasabah Kupedes BRI Unit Citeureup Tahun 2008 Berdasarkan Tingkat Pendidikan

58

8

Sebaran Responden Nasabah Kupedes BRI Unit Citeureup Tahun 2008 Berdasarkan Jenis Usaha

59

9

Sebaran Responden Nasabah Kupedes BRI Unit Citeureup Tahun 2008 Berdasarkan Lama Usaha

60

10

Sebaran Responden Nasabah Kupedes BRI Unit Citeureup Tahun 2008 Berdasarkan Lokasi Usaha dan Status Usaha

61

11

Sebaran Responden Nasabah Kupedes BRI Unit Citeureup Tahun 2008 Berdasarkan Jumlah Frekuensi Pinjaman

62

12

Target dan Realisasi Kupedes di BRI Unit Citeureup Tahun 2005-2007

65

13

Persentase tunggakan terhadap sisa pinjaman di BRI Unit Citeureup Tahun 2005-2007

68

14

Jangkauan Pelayanan Kupedes BRI Unit Citeureup per Bulan Juni 2008

70

15

Frekuensi pinjaman Kupedes BRI Unit Citeureup per bulan Juni 2008

71

iv

Nomor Halaman 16 Respon Nasabah Kupedes BRI Unit Cireureup Tahun 2008 Terhadap Persyaratan Awal Penyaluran

Nomor

Halaman

16 Respon Nasabah Kupedes BRI Unit Cireureup Tahun 2008 Terhadap Persyaratan Awal Penyaluran Kupedes

73

17 Respon Nasabah Kupedes BRI Unit Cireureup Tahun 2008 Terhadap Prosedur Pinjaman Penyaluran Kupedes

74

18 Respon Nasabah Kupedes BRI Unit Cireureup Tahun 2008 Terhadap Biaya Administrasi Penyaluran Kupedes

76

19 Respon Nasabah Kupedes BRI Unit Cireureup Tahun 2008 Terhadap Realisasi Kredit Penyaluran Kupedes

77

20 Suku bunga Kupedes untuk setiap plafond kredit

78

21 Respon Nasabah Kupedes BRI Unit Cireureup Tahun 2008 Terhadap Besarnya Tingkat Bunga Penyaluran Kupedes

79

22 Respon Nasabah Kupedes BRI Unit Cireureup Tahun 2008 Terhadap Agunan Penyaluran Kupedes

81

23 Respon Nasabah Kupedes BRI Unit Cireureup Tahun 2008 Terhadap Pelayanan Petugas Dalam Penyaluran Kupedes

83

24 Skor Efektivitas Penyaluran Kupedes

83

25 Perubahan Pendapatan Usaha Nasabah Kupedes BRI Unit Citeureup Tahun 2008 Berdasarkan Sektor Usaha

87

26 Hasil Uji Statistik t-hitung Terhadap Peningkatan Pendapatan Usaha Nasabah Kupedes BRI Unit Citeureup Tahun 2008 Berdasarkan Sektor Usaha

88

v

DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1 Prosedur Umum Perkreditan 26 2 Kurva TR 36 3 Kerangka

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

1 Prosedur Umum Perkreditan

26

2 Kurva TR

36

3 Kerangka Pemikiran Operasional

42

4 Struktur Organisasi BRI

53

vi

DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1 Kuisioner 103 2 Pendapatan Sektor Perdagangan 103 3 Pendapatan

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Halaman

1 Kuisioner

103

2 Pendapatan Sektor

Perdagangan

103

3 Pendapatan Sektor Perindustrian

103

4 Pendapatan Sektor Jasa Komersial

102

5 Hasil Output Uji Statistik t-hitung

103

vii

1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN Kredit adalah transaksi dua pihak dimana pihak peminjam mendapat bantuan dana

1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN

Kredit adalah transaksi dua pihak dimana pihak peminjam mendapat

bantuan dana dengan perjanjian bahwa pada waktu yang akan datang dia harus

mengembalikan dana pinjaman itu berdasarkan syarat-syarat yang telah disetujui

kedua belah pihak, yaitu peminjam dan pemberi pinjaman (Simanjuntak, 1991).

Kredit terdiri dari nilai pokok pinjaman ditambah dengan nilai bunga yang harus

dibayar setiap bulannya. Kredit disalurkan melalui beberapa lembaga pembiayaan.

Dalam hal penyaluran kredit, perbankan melalui bank merupakan salah satu media

penyaluran kredit dengan menjalankan fungsinya sebagai lembaga keuangan yang

bertugas menyalurkan dana ke masyarakat.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu lembaga perbankan milik

pemerintah yang kegiatannya bergerak dalam bidang keuangan. Usaha-usaha

utama bidang keuangan yang dikelola oleh BRI meliputi (BRI ,2007) : (a)

menghimpun dana, (b) menyalurkan dana, dan (c) menyediakan jasa bank lainnya

seperti jasa setoran telepon, listrik, air, pembayaran uang kuliah, pembayaran gaji

dan pensiun, kartu kredit, valas (valuta asing), dan jasa-jasa lainnya. Dalam

kegiatan penyaluran dana, BRI mengembalikan dana yang dikelola ke masyarakat

dalam

bentuk

kredit

atau

pinjaman

yang

diberikan

berdasarkan

prinsip

konvensional. Salah satu maksud dari pemberian kredit kepada masyarakat adalah

untuk membiayai kegiatan bisnis mikro.

Pada tahun 2006 BRI merupakan salah satu bank dengan kinerja yang

cukup baik diantara tiga bank lainnya seperti BNI, Bank Mandiri, dan BCA.

2

2 Menurut Sipahutar (2007) Bank Mandiri dan BNI hingga saat ini masih dianggap sebagai bank korporat,

Menurut Sipahutar (2007) Bank Mandiri dan BNI hingga saat ini masih dianggap

sebagai

bank

korporat,

BRI

sebagai

bank

ritel

dan

BCA

sebagai

bank

transaksional.

Bank

korporat

merupakan

bank

yang

memiliki

suatu

entitas

organisasi yang besar. Bank ritel adalah bank yang mampu memahami perilaku

konsumennya. Sedangkan BCA sebagai bank transaksional terbesar dengan tujuh

juta nasabah, 800 cabang online dan 5.500 ATM yang tersebar di tanah air, terus

berusaha

memberi

kemudahan bagi

nasabahnya

untuk melakukan

transaksi.

Kinerja empat bank tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Indikator Kinerja Industri Perbankan di Indonesia Tahun 2006

   

Indikator Kinerja

 

Bank

CAR(%)

NPL(%)

ROA(%)

LDR(%)

Laba(triliun

)

BRI

22,32

5,02

5,59

78,19

1,17

BCA

25,00

1,00

3,00

40,00

0,98

BNI

19,46

15,90

0,09

50,49

0,23

Mandiri

24,56

27,66

1,24

50,90

0,50

Perbankan

21,84

8,19

2,57

61,14

1,14

Sumber : Sipahutar, 2007

Ket: CAR = Capital Adequacy Ratio yaitu rasio kecukupan modal bank untuk usahanya

NPL

ROA = Return On Assets yaitu rasio pengembalian modal pihak bank LDR = Loan to Deposit Ratio rasio fungsi intermediasi perbankan terhadap simpanan dan kredit

= Non Performing Loan yaitu rasio kredit bermasalah

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa penyaluran kredit BRI mengalami

pertumbuhan yang baik. Hal ini dapat dilihat pada inidikator NPL dan LDR BRI

yang mampu tumbuh diatas rata-rata perbankan. Dalam hal penyaluran kredit,

LDR

(Loan

to Deposit

Ratio)

merupakan perbandingan antara

kredit

yang

disalurkan perbankan terhadap penghimpunan dana pihak ketiga. LDR menjadi

alat ukur terhadap fungsi intermediasi perbankan. Semakin tinggi nilai indikator

ini

maka

semakin

baik

pula

perbankan

melakukan

fungsi

intermediasinya,

3

3 demikian pula sebaliknya. LDR memiliki rasio antara kredit dan simpanan yaitu besar kredit yang disalurkan

demikian pula sebaliknya. LDR memiliki rasio antara kredit dan simpanan yaitu

besar kredit yang disalurkan tidak boleh melebihi jumlah simpanan yang dimiliki

pihak bank. Jumlah simpanan yang ada di bank minimal lebih dari 20 persen dari

total keseluruhan kredit yang disalurkan. NPL (Non Performing Loan) adalah

rasio kredit bermasalah yang dihadapi pihak bank. Semakin rendah nilai indikator

ini maka semakin baik kinerja perbankannya karena bank dapat meminimalisasi

kredit macet. Pada Tabel 1 terlihat bahwa dalam penyaluran kredit hanya BRI

yang nilainya tumbuh diatas pasar perbankan walaupun nilai NPL BCA masih

lebih kecil. Akan tetapi, BRI senantiasa memperbaikinya agar kinerjanya menjadi

lebih baik lagi.

Sampai dengan Desember 2007, outstanding kredit BRI mencapai Rp

113,853 triliun, meningkat sebesar Rp 23,570 triliun atau naik 26,11 persen

dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumya yang mencapai Rp 90,283

triliun. Pertumbuhan kredit BRI tetap dimotori oleh segmen UMKM (Usaha

Mikro Kecil dan Menengah) yang merupakan fokus utama pengembangan bisnis

BRI. Portofolio pinjaman UMKM di BRI mencapai 80 persen dari total portofolio

kredit BRI. Pertumbuhan kredit BRI yang tinggi tetap diikuti dengan kualitas

yang terjaga. Hal ini ditunjukkan dengan rasio NPL yang tercatat sebesar 3,44

persen. 1

Pada

tahun 2006

BRI menetapkan target portofolio

pinjaman untuk

UMKM sebesar 80 persen dan untuk non UMKM sebesar 20 persen. Kredit non

UMKM dibagi menjadi dua. Segmentasi bisnis BRI yang terdapat di New York

merupakan bagian dari penyaluran kredit dari total kredit non UMKM BRI

1 HumasBRI. 28/03/2008. BRI Konsisten Membuku Laba Terbesar. www.bri.co.id/berita/berita_detail.aspx?id=113 - 13k. Diakses pada tanggal 20 April 2008

4

4 dengan nilai 0,30 persen. Berdasarkan target yang ditetapkan, penyaluran kredit untuk UMKM telah tercapai bahkan

dengan nilai 0,30 persen. Berdasarkan target yang ditetapkan, penyaluran kredit

untuk UMKM telah tercapai bahkan terlampaui sebesar 1,40 persen (Tabel 2).

Tabel 2. Penyaluran Kredit BRI Tahun 2006

Segmentasi Bisnis

Nilai (Rp Miliar)

Persentase

Usaha Mikro

37.052.362

51,53

Usaha Kecil

10.856.677

15,10

Usaha Menengah

10.613.646

14,76

Total UMKM

58.522.685

81,40

Non UMKM

131.164.470

18,31

New York

212.398

0,30

Sumber : BRI, 2006

Sanim (2006) menyatakan peran UMKM sangat penting dalam konteks

ekonomi nasional karena beberapa alasan. Pertama, pelaku mayoritas ekonomi

nasional yang mempengaruhi setiap aktivitas masyarakat suatu bangsa. Hal ini

berarti sebagai dasar bagi pencapaian kesejahteraan ekonomi dan syarat mutlak

bagi kestabilan dan keamanan nasional (national security and stability). Kedua,

peningkatan kualitas sumber daya manusia terutama ”enterpreneurship” sehingga

menjadi ”breading ground” tumbuhnya bisnis baru. Ketiga, kemampuan yang

tinggi dalam penyerapan tenaga kerja dan menciptakan lapangan kerja baru.

Keempat, sumber pendapatan bagi mayoritas penduduk sehingga mengurangi

social

jealousy.

Kelima,

menciptakan

kompetisi

bisnis

yang

sehat

karena

jumlahnya yang besar, sekaligus sebagai alat dalam pembangunan regional dan

desentralisasi karena eksistensi penyebarannya sampai ke daerah-daerah.

Pada tahun 2001 telah diterapkan Kebijakan Umum Perkreditan (KUP)

PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero). Kebijakan ini merupakan pelaksanaan dari

Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia (BI) Nomor 27/162/KEP/DIR tanggal 31

Maret 1995 dan Surat Edaran BI Nomor 27/7/UPPB tanggal 31 Maret 1995.

Dalam

kebijakan

tersebut

dijelaskan

tentang

kewajiban

penyusunan

dan

5

5 pelaksanaan Kebijaksanaan Perkreditan Bank bagi Bank Umum. Dengan adanya kebijakan tersebut, BRI melakukan penyesuaian

pelaksanaan Kebijaksanaan Perkreditan Bank bagi Bank Umum. Dengan adanya

kebijakan

tersebut,

BRI

melakukan

penyesuaian

dan

penyempurnaan

atas

Pedoman Kerja (manual) BRI Unit bidang Kupedes yang telah ada. Hal ini tentu

saja dengan mengacu pada Kebijakan Umum Perkreditan PT. Bank Rakyat

Indonesia (Persero). Setelah itu, Pedoman Kerja BRI Unit bidang Kupedes

disesuaikan namanya menjadi Pedoman Pelaksanaan Kredit Bisnis Mikro (PPK-

BM) PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero).

Bisnis Mikro dalam PPK-BM ini merupakan salah satu segmen bisnis BRI

yang merupakan suatu sistem perbankan yang dilaksanakan oleh BRI Unit dalam

menjalankan fungsinya sebagai financial intermediary untuk pembiayaan usaha

mikro. Penyusunan PPK-BM dilakukan dengan tetap memperhatikan asas-asas

pengembangan bisnis BRI Unit. Hal ini bertujuan agar sasaran bisnis dapat

tercapai dengan strategi yang ditetapkan tanpa meninggalkan prinsip kehati-hatian

dan memenuhi asas pemberian kredit yang sehat.

Kredit yang dimaksud dalam PPK-BM adalah Kupedes (Kredit Umum Pedesaan)

yang merupakan kredit mikro yang dilayani di BRI Unit dan diberikan dalam

mata uang rupiah.

Kupedes diberikan dengan tujuan untuk mengembangkan usaha kecil.

Keistimewaan yang dimiliki Kupedes yakni adanya IPTW (Insentif Pembayaran

Tepat Waktu) bagi nasabah yang tertib membayar angsuran pinjaman setiap bulan

dengan tepat waktu selama periode tertentu. Besarnya IPTW adalah sebesar

seperempat bagian dari suku bunga dua persen untuk plafond kredit Rp 25.000

hingga kurang dari Rp 50.000.000. Keputusan akhir suatu permohonan Kupedes

6

6 ditentukan oleh BRI Unit sesuai dengan pertimbangan bank teknis ( Sound Banking Consideration ). Dengan

ditentukan oleh BRI Unit sesuai dengan pertimbangan bank teknis (Sound

Banking Consideration).

Dengan demikian, kebijakan pemberian Kupedes didasarkan pada perhitungan

dan pertimbangan bisnis yang sehat untuk dapat menjamin operasional dan

pertumbuhan BRI Unit secara berkelanjutan.

1.2 Perumusan Masalah

Kredit yang diberikan oleh BRI di tingkat Unit adalah Kupedes. Berawal

dari program pemerintah mengenai swasembada pangan nasional, kemudian BRI

ditunjuk untuk menjadi lembaga pendukung dalam pelaksanaannya. Program

Bimas

adalah

program

yang

pertama

dilaksanakan

oleh

BRI

Unit

dengan

pendekatan

terhadap

petani

sebagai

potensi

kredit

di

pedesaan.

Dalam

perjalanannya kemudian pemerintah memutuskan BRI Unit untuk menyalurkan

Kupedes.

BRI diharapkan mampu untuk

menyalurkan Kupedes

semaksimal

mungkin. Oleh sebab itu BRI Unit yang menjadi ujung tombak penyaluran

Kupedes diberi target outstanding kredit dan tunggakan dari kantor cabang yang

harus dipenuhi. Kehadiran Kupedes sebagai program untuk pemberdayaan usaha

mikro kecil dan menengah ini diharapkan bisa mengatasi masalah kesulitan modal

yang dihadapi para pelaku usaha.BRI diharapkan mampu untuk menyalurkan

Kupedes semaksimal mungkin.

BRI Unit Citeureup merupakan salah satu unit kerja di wilayah BRI

Kantor Cabang Bogor yang merupakan Unit terbesar kedua karena total asetnya

yang

meningkat.

Total

asset

yang

meningkat

memungkinkan

pihak

bank

menyalurkan kredit dalam jumlah yang lebih besar seperti Kupedes. Kinerja

7

7 penyaluran Kupedes dinilai untuk melihat kesesuaian antara harapan nasabah dengan tujuan pihak bank. BRI Unit

penyaluran Kupedes dinilai untuk melihat kesesuaian antara harapan nasabah

dengan tujuan pihak bank.

BRI Unit melayani dan menyalurkan Kupedes terhadap sektor usaha

seperti perdagangan, perindustrian dan jasa komersial. Sektor usaha yang paling

banyak dibiayai Kupedes adalah sektor perdagangan. Hal ini karena letak BRI

Unit Citeureup yang berada di pusat perekonomian Citeureup dimana terdapat

banyak para pelaku usaha perdagangan. Dalam penyaluran Kupedes, BRI Unit

Citeureup menghadapi beberapa kendala. Dari pihak bank, kendala yang dihadapi

adalah jumlah nasabah yang menunggak setiap tahunnya. Hal ini menjadi masalah

karena dapat memperbesar nilai NPL akibat kredit macet sehingga menyebabkan

kinerja tidak baik. Pada tahun 2007 jumlah nasabah yang menunggak mengalami

peningkatan sebesar 1,09 persen dari tahun sebelumnya. Hal ini dapat dilihat pada

Tabel 3.

Tabel 3. Jumlah Tunggakan Kredit BRI Unit Citeureup Tahun 2005-2007

 

Jumlah nasabah menunggak (orang)

Persentase

Tahun

(%)

2005

79

13,88

2006

78

14,08

2007

91

15,17

Sumber : BRI Unit Citeureup, 2007

Dari pihak nasabah sebagai pelaku usaha, kendala utama UMKM dalam

mengajukan permohonan kredit kepada perbankan adalah besaran bunga yang

dianggap terlalu tinggi. Bagi UMKM, tingginya suku bunga menjadi penghambat

aksesibilitas UMKM untuk pembiayaan yang bersumber

dari perbankan. Salah

satu temuan survei BI tahun 2005 mengenai profil UMKM di Indonesia adalah

bahwa UMKM masih enggan mengambil kredit ke bank karena tidak adanya

agunan (untuk deditur mikro) dan terlalu tingginya suku bunga bank (untuk

8

8 debitur kecil dan menengah). Survei BI tersebut juga mendukung realita jumlah UMKM di Indonesia hanya

debitur kecil dan menengah). Survei BI tersebut juga mendukung realita jumlah

UMKM di Indonesia hanya sekitar 12 persen saja yang mengambil kredit bank.

Hal ini disebabkan karena untuk kredit diatas 50 juta, pada umumnya bank telah

mensyaratkan dilengkapinya berbagai dokumen yang masih jarang dimiliki oleh

UMKM. 2

Permasalahan tersebut merupakan keluhan nasabah yang mengindikasikan

bahwa

dalam

penyaluran

Kupedes

masih

terdapat

ketidaksesuaian

yang

menyebabkan kinerja penyaluran Kupedes dinilai kurang baik. Walaupun terdapat

beberapa usaha yang telah dilakukan BRI untuk memudahkan nasabah dalam

permohonan kredit seperti sistem bunga yang flat dan jangka waktu pinjaman

yang dapat ditentukan sendiri oleh nasabah. Pemberian Kupedes ini dimaksudkan

untuk mengembangkan usaha kecil sehingga diharapkan dapat meningkatkan

pendapatan usaha. Meningkatnya pendapatan usaha setelah menerima Kupedes

merupakan faktor

yang dinilai sangat penting oleh nasabah (Subiyakto dan

Setyawan, 2006). BRI memproyeksikan pendapatan nasabah Kupedes meningkat

sebesar

15-20

persen

setiap

bulannya

setelah menerima

Kupedes.

Proyeksi

ditetapkan dengan pertimbangan bahwa tidak semua kredit yang diberikan pihak

bank digunakan untuk mengembangkan usaha. Peningkatan pendapatan usaha

setiap sektor usaha seperti sektor perdagangan, perindustrian dan jasa komersial

yang dibiayai Kupedes berbeda- beda. Untuk itu, penelitian ini merumuskan

masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana kinerja penyaluran Kupedes yang telah dilaksanakan ?

2 Djoko Retnadi (Koordinator Perencana Bisnis Mikro dan Ritel, Kantor Pusat BRI). 18/05/2007. www.indomp3z.us/archive/index.php/t-19054.html-19k-. Peran Kredit UMKM 2007, Peluang dan

Tantangan

Diakses pada tanggal 24 April 2008.

9

9 2. Bagaimana dampak penyaluran Kupedes terhadap peningkatan pendapatan usaha dalam sektor perdagangan,

2.

Bagaimana dampak penyaluran Kupedes terhadap peningkatan pendapatan

usaha

dalam

sektor

perdagangan,

sektor

perindustrian,

dan

sektor

jasa

komersial ?

 

1.3

Tujuan Penelitian

 

Sesuai dengan perumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan dari

penelitian yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut :

1.

Menganalisis kinerja penyaluran Kupedes

 

2.

Menganalisis dampak penyaluran Kupedes terhadap peningkatan pendapatan

usaha

dalam

sektor

perdagangan,

sektor

perindustrian

dan

sektor

jasa

komersial

 

1.4

Manfaat Penelitian

 

Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi

penelitian selanjutnya sebagai salah satu sumber informasi. Bagi pihak bank dapat

memberikan manfaat sebagai gambaran tentang keadaan perkreditan bagi para

pengambil

keputusan untuk menetapkan

kebijakan-kebijakan

yang

berkaitan

dengan kredit, khususnya dalam menyalurkan kredit yang lebih efektif bagi usaha

mikro dan menengah. Bagi penulis, penelitian ini berguna untuk menambah

pengetahuan dan pengalaman serta mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku

kuliah.

10

10 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Kupedes Surat keputusan Direksi BRI Nokep: S.62-DIR/ADK/09/2001 tanggal 18

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Kupedes

Surat keputusan Direksi BRI Nokep: S.62-DIR/ADK/09/2001 tanggal 18

September 2001 menjelaskan tentang pedoman pelaksanaan kredit bisnis mikro

(PPK-BM). Kupedes adalah fasilitas kredit bersifat umum, individual, selektif dan

berbunga

wajar

yang

bertujuan

untuk

mengembangkan

atau

meningkatkan

UMKIM yang layak. Dari pengertian diatas Kupedes adalah salah satu segmen

bisnis

yang

ada

di

BRI

yang

merupakan

suatu

sistem

perbankan

yang

dilaksanakan oleh BRI unit dalam menjalankan fungsinya sebagai financial

intermediary untuk pembiayaan usaha mikro.

Dalam Kupedes BRI, terdapat beberapa pengelompokan, pengelompokan

dilakukan berdasarkan sektor dan segmen bisnis yang dijalankan oleh pengusaha

kecil.

Sektor dan segmen Kupedes digolongkan berdasarkan kegunaan atau

berdasarkan kegunaan segmen dari kredit yang diberikan, yaitu Kupedes modal

kerja / usaha (eksploitasi) dan Kupedes investasi.

Kupedes juga terbagi menjadi

sektor-sektor seperti : Kupedes eksploitasi agribisnis, Kupedes eksploitasi non

agribisnis, Kupedes investasi agribisnis dan Kupedes investasi non agribisnis.

Untuk Kupedes eksploitasi agribisnis terdapat beberapa sektor yaitu eksploitasi

pertanian, eksploitasi perindustrian, eksploitasi perdagangan, dan eksploitasi jasa

lainnya, dan untuk Kupedes investasi agribisnis antara lain : Kupedes investasi

pertanian,

investasi

perindustrian,

investasi

perdagangan,

dan

investasi

jasa

lainnya. Agribisnis dalam hal ini merupakan usaha dari hulu sampai hilir yang

dibiayai oleh Kupedes.

11

11 Pada umumnya, sasaran pemberian Kupedes (BRI 2007) ditujukan kepada golongan masyarakat pengusaha dan golongan

Pada umumnya, sasaran pemberian Kupedes (BRI 2007) ditujukan kepada

golongan masyarakat pengusaha dan golongan masyarakat berpenghasilan tetap

yaitu:

1. Pengusaha, yaitu semua pengusaha yang bergerak di berbagai sektor ekonomi

yang ada di wilyah kerja BRI Unit, seperti sektor pertanian, perindustrian,

perdagangan

dan

jasa

lainnya

diberikan Kupedes.

yang

usahanya

benar-benar

layak

untuk

2. Golongan Masyarakat Berpenghasilan Tetap

a. Pegawai Negeri yang dimaksudkan dalam peraturan pemerintah (PP) no 6

tahun 1974 bab I pasal 1 adalah:

1)

Pegawai Negeri Sipil

2)

Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian

3)

Pegawai Badan Usaha Milik Negara.

4)

Pegawai Perusahaan daerah

b. Pensiunan dari golongan masyarakat berpenghasilan tetap tersebut pada

butir 2.a

c. Pegawai tetap dari perusahaan swasta.

Dalam jumlah terbatas, direksi BRI mengambil kebijakan agar Kupedes

dapat pula diberikan kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan tetap.

Sebagai kredit skala mikro, prosedur Kupedes sangat mudah dan sederhana,

namun dalam penyalurannya perlu pemahaman secara tepat dari pejabat kredit lini

yang menyangkut kebijakan dan prinsip-prinsip dasar pemberian Kupedes yaitu

(BRI, 2007) :

12

12 1. Umum, yaitu dapat diberikan kepada siapa saja, dalam arti tidak dibatasi dalam sektor ekonomi

1. Umum, yaitu dapat diberikan kepada siapa saja, dalam arti tidak dibatasi

dalam sektor ekonomi tertentu, keanggotaan tertentu, kelompok masyarakat

tertentu, sepanjang calon nasabah yang bersangkutan telah memenuhi segala

ketentuan persyaratan yang telah ditetapkan.

2. Individual, yaitu pemberian Kupedes dilakukan dengan melalui pendekatan

secara individual dan kasus perkasus, bukan berbentuk paket (massal).

3. Selektif, yaitu Kupedes dilaksanakan secara selektif kepada nasabah yang

usahanya dinilai layak dan putusan kredit harus sesuai dengan pertimbangan

bank teknis.

4. Bisnis, yaitu keputusan akhir atas suatu permohonan Kupedes ditentukan oleh

BRI Unit sesuai dengan pertimbangan bank teknis.

2.1.1. Jenis Kupedes

Berdasarkan

(BRI 2007) :

tujuan

penggunaannya

1. Kupedes Modal Kerja

Kupedes

dapat

dibagi

menjadi

Kupedes modal kerja diberikan kepada pengusaha dan golongan berpenghasilan

tetap sebagi tambahan dana/pembiayaan untuk mencukupi kebutuhan modal kerja

usahanya atau untuk membiayai keperluan konsumtif maupun non konsumtif

(produktif)

a.

Sektor pertanian, yaitu untuk membiayai semua kegiatan pertanian dan

kegiatan lainnya yang terkait dan menunjang pada hasil usaha bercocok

tanam

seperti

pengecer

pupuk/obat-obatan,

pengusaha

mikro

yang

13

13 mengumpulkan segala hasil pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan dan memasarkan kembali dengan atau tanpa proses

mengumpulkan segala hasil pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan

dan memasarkan kembali dengan atau tanpa proses lebih lanjut.

b. Sektor perindustrian yaitu untuk pembiayaan pengolahan bahan mentah

menjadi barang

setengah

jadi,

pengolahan

bahan setengah

jadi

atau

menjadi barang jadi, pengolahan bahan setengah jadi menjadi barang jadi.

c. Sektor perdagangan yaitu untuk pembiayaan, pembelian, penjualan dan

pemasaran barang dagangan misalnya perdagangan sembako (sembilan

bahan pokok), material bangunan, batik atau kain dan sebaginya. Dalam

hal ini tidak termasuk pembelian, penjualan dan pemasaran hasil langsung

pertanian seperti yang dimaksudkan pada butir a di atas.

d. Sektor jasa, yaitu untuk pembiayaan usaha bersifat pelayanan jasa kepada

umum, misalnya usaha bengkel, salon, penjahit tansportasi dan lain-lain.

e. Sektor Golongan Berpenghasilan Tetap (GBT) yaitu untuk pembiayaan

konsumtif

dan

produktif

yang

pendapatan (gaji) nasabah.

2. Kupedes Investasi

pengembaliannya

didasarkan

pada

Kupedes

ini

diberikan

kepada

pengusaha

untuk

pembiayaan

pembangunan

prasarana

dan

sarana

atau

peralatan

produksi.

Sedangkan

bagi

golongan

berpenghasilan tetap, kredit tersebut dapat dipergunakan untuk pembelian atau

pembangunan rumah, pembelian kendaraan bermotor dan lain-lain yang bersifat

produktif.

Adapun sektor-sektor ekonomi yang dibiayai sebagai berikut:

a. Sektor pertanian, yaitu untuk membiayai pembelian alat-alat pertanian

seperti bajak, traktor, alat perontok padi, alat sortasi, mesin parut kelapa,

14

14 pembuatan gudang, lantai jemur, pembelian bibit tanaman keras (tidak habis dalam satu kali panen seperti

pembuatan gudang, lantai jemur, pembelian bibit tanaman keras (tidak

habis dalam satu kali panen seperti jeruk, karet, kelapa, teh kopi) atau

untuk pembelian bibit ayam petelor, sapi perah, sapi kerja dan lain

sebagainya.

b. Sektor perindustrian yaitu untuk pembiayaan pengadaan alat-alat produksi

seperti mesin-mesin, wadah tungku

dan lain-lain, pembangunan atau

perbaikan bangunan pabrik, tempat usaha, tempat jemuran dan sebagainya

asal tujuannya tidak untuk mengolah hasil langsung pertanian.

c. Sektor perdagangan yaitu untuk pembiayaan pembelian alat-alat berjualan,

perbaikan, perluasan tempat berjualan atau pembangunan tempat berjualan

/pembangunan/ perluasan/perbaikan gudang yang tidak bertujuan untuk

memperdagangkan/menempatkan hasil-hasil langsung pertanian sebagai

barang/ benda dominan.

d. Sektor jasa, yaitu untuk pembiayaan pembelian alat-alat perbengkelan,

mesin jahit, salon, pembelian kendaraan, pembangunan atau perbaikan

bangunan bengkel atau salon.

e. Sektor Golongan Berpenghasilan Tetap (GBT) yaitu

dipergunakan untuk

pembiayaan investasi yang pengembaliannya didasarkan dari pendapatan

(gaji) . Dilihat dari tujuan penggunaannya,maka jenis Kupedes investasi

diberikan untuk tujuan yang bersifat non konsumtif yaitu barang-barang

berwujud

yang fisiknya dapat dilihat secara nyata seperti pembelian

kendaraan

bermotor

guna

memperlancar

pekerjaan,

pembangunan/pembelian rumah tinggal, pembelian perabot rumah tangga,

pembelian peralatan kerja, pembelian tanah.

15

15 Dalam pegajuan peminjaman Kupedes, unsur agunan dikatakan sebagai the second way out bagi BRI Unit

Dalam pegajuan peminjaman Kupedes, unsur agunan dikatakan sebagai

the second way out bagi BRI Unit pada setiap pemberian kupedes. Namun

demikian

penilaian

dan

evaluasi

terhadap

agunan

ini

harus

cermat

karena

merupakan pembayaran terakhir yang diharapkan oleh BRI Unit, apabila kredit

menjadi bermasalah atau macet.

Agunan Kupedes bagi golongan Pengusaha:

Setiap agunan dari golongan pengusaha dipersyaratkan untuk dapat menyediakan

agunan yang nilainya harus mengcover seluruh jumlah pinjamannya (pokok dan

bunga)

a. Bila ditinjau dari sumber pembiayaan, agunan Kupedes dibedakan menjadi

dua macam yaitu:

1)

Agunan

pokok

adalah

proyek/usaha

yang

dibiayai

kredit

yang

merupakan seluruh kekayaan (aktiva) baik

yang tergolong aktiva

lancar maupun aktiva tetap yang disajikan dalam neraca perusahaan

nasabah yang bersangkutan.

 

2)

Agunan tambahan adalah agunan lainnya yang tidak termasuk dalam

batasan pengertian proyek seperti pada agunan pokok di atas, misalnya

aktiva tetap/lancar di luar perusahaan / proyek yang dibiayai kredit

atau dicantumkan dalam neraca perusahaan yang akan dibiayai kredit.

b. Ditinjau dari sifat barang atau bendanya, agunan dapat dibedakan

sebagai berikut:

A. Benda bergerak yang terdiri dari :

sebagai

1. Benda bergerak berwujud, antara lain: Kendaraan bermotor baik

didarat, laut sungai maupun di danau yang bukti kepemilikannya berupa

16

16 BPKB (yang didarat) dan surat keterangan dari kepala desa/ lurah (untuk yang diair atau sungai)

BPKB (yang didarat) dan surat keterangan dari kepala desa/ lurah (untuk

yang

diair

atau

sungai)

dan

atau

dari

instansi

yang

berwenang.

Persediaan barang dagangan dengan kepemilikan berupa kuitansi/ faktur

pembelian atau surat keterangan dari kepala desa/ lurah.

2. Benda tidak bergerak tidak berwujud antara lain: Deposito yang

dikeluarkan oleh BRI Unit, tabungan atas nama yang bersangkutan, hak

sewa/ menempati toko/ kios dengan bukti surat ijin tempat usaha (SITU),

Surat Penunjukan Tempat Usaha (SPTU).

B. Benda

tidak

bergerak

meliputi

tanah

pemilikannya berupa sertifikat

dan

bangunan

yang

bukti

2.1.2. Syarat-Syarat Calon Nasabah Kupedes

Ditinjau dari dua golongan sasaran Kupedes, maka untuk masing-masing

golongan mempunyai persyaratan yang berbeda dan harus dipenuhi sebelum

kreditnya diproses (BRI, 2007) yaitu:

Persyaratan untuk calon nasabah pengusaha baru/nasabah lama lancar :

1)

Penduduk yang berdomisili dalam wilayah kerja BRI Unit setempat yang

dibuktikan dengan KTP atau surat keterangan penduduk yang dibuat kepala

desa setempat. Khusus untuk calon nasabah kupedes tertentu dimungkinkan

untuk dilayani BRI Unit diluar domisili nasabah yang bersangkutan setalah

mendapat putusan ijin prinsip dari Kantor Cabang/Kantor Wilayah/Kantor

Pusat.

2)

Mempunyai usaha yang layak dan mempunyai karakter yang baik untuk

dibiayai dengan Kupedes.

17

17 3) Bagi calon nasabah yang sudah mempunyai surat izin usaha dari instansi yang berwenang, cukup

3)

Bagi calon nasabah yang sudah mempunyai surat izin usaha dari instansi yang

berwenang, cukup melampirkan copy surat izin usaha tersebut.

4)

Bagi calon nasabah yang belum mempunyai surat izin usaha, maka:

b. Untuk permohonan Kupedes sampai dengan 2 juta cukup dengan foto

copy KTP dengan menunjukkan pula KTP aslinya pada petugas BRI Unit

pada saat pendaftaran.

c. Untuk permohonan Kupedes diatas 2 juta cukup dengan membawa surat

keterangan usaha dari Kepala Desa/Kelurahan

5)

Tidak sedang menikmati kredit lainnya di Kantor Cabang BRI atau di BRI

Unit lainnya.

6)

Dapat menyediakan agunan kebendaan, baik berupa benda bergerak maupun

benda tidak bergerak.

7)

Wajib membuka rekening tabungan di BRI unit yang bersangkutan

2.2.

Kinerja Keuangan

Kinerja (performance) menjadi isu dunia saat ini. Hal tersebut terjadi

sebagai konsekuensi tuntutan masyarakat terhadap kebutuhan akan pelayanan

prima atau pelayanan yang bermutu tinggi.

Mutu tidak terpisahkan dari standar, karena kinerja diukur berdasarkan standar.

Pengertian kinerja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah merupakan

kata benda yang artinya:

1. Sesuatu yang dicapai

2. Prestasi yang diperlihatkan

18

18 Penilaian kinerja menurut Mulyadi (1997) adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional suatu

Penilaian

kinerja

menurut

Mulyadi

(1997)

adalah

penentuan

secara

periodik

efektivitas

operasional

suatu

organisasi,

bagian

organisasi

dan

karyawannya

berdasarkan

sasaran,

standar

dan

kriteria

yang

ditetapkan

sebelumnya. Organisasi pada dasarnya dijalankan oleh manusia maka penilaian

kinerja

sesungguhnya

merupakan

penilaian

atas

prilaku

manusia

dalam

melaksanakan

peran

yang

mereka

mainkan

dalam

organisasi.

Sedangkan

pengertian kinerja keuangan adalah penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat

mengukur keberhasilan suatu perusahaan.

Pengukuran kinerja

memerlukan indikator

untuk dijadikan penilaian

kinerja

tersebut. Indikator memiliki karakteristik sebagai berikut 3 :

1. Sahih (Valid) artinya indikator benar-benar dapat dipakai untuk mengukur

aspek-aspek yang akan dinilai

2. Dapat dipercaya (Reliable): mampu menunjukkan hasil yang sama pada saat

yang

berulang

kali,

untuk

waktu

sekarang

maupun

yang

akan

datang

3. Peka (Sensitive): cukup peka untuk mengukur sehingga jumlahnya tidak perlu

banyak

4. Spesifik (Specific) memberikan gambaran perubahan ukuran yang jelas dan

tidak tumpang tindih

5. Relevan: sesuai dengan aspek kegiatan yang akan diukur dan kritikal

3 Heru Subekti. 20/02/2003. Indikator Kinerja . www.kmpk.ugm.ac.id/data/SPMKK/6d-. Diakses pada tanggal 23 Juni 2008

19

19 Dalam mengukur kinerja keuangan perlu perusahaan dengan pusat pertanggungjawaban. dikaitkan antara Dalam melihat

Dalam

mengukur

kinerja

keuangan perlu

perusahaan

dengan

pusat

pertanggungjawaban.

dikaitkan

antara

Dalam

melihat

organisasi

organisasi

perusahaan dapat diketahui besarnya tanggungjawab manajer yang diwujudkan

dalam bentuk prestasi kerja keuangan 4 . Indikator kinerja keuangan, kususnya

perbankan dapat dilihat melalui beberapa indikator sebagai berikut (Sipahutar,

2007) :

1)

DPK (Dana Pihak Ketiga)

DPK merupakan indikator penilaian kemampuan bank untuk menghimpun

banyaknya

dana pihak

semakin baik.

ketiga.

Semakin tinggi

nilai DPK,

maka kinerjanya

2)

LDR (Loan to Deposit Ratio)

 

LDR

merupakan

indikator

yang

menjadi

tolak

ukur

terhadap

fungsi

intermediasi perbankan. Semakin tinggi nilai indikator kinerja ini, maka

kinerja bank tersebut semakin baik.

 

3)

NPL (Non Performing Loan)

 

Indikator ini menunjukkan rasio kredit bermasalah yang terjadi di perbankan.

Semakin rendah nilai NPL maka kinerja bank tersebut adalah semakin baik.

4)

CAR (Capital Adequacy Ratio)

 

Indikator CAR menunjukkan rasio kecukupan modal perbankan. Semakin

tinggi nilai indikator kinerja ini, maka kinerja bank tersebut semakin baik.

5)

ROA (Return On Assets)

 

ROA merupakan indikator penilaian profotabilitas perbankan. Semakin tinggi

nilai indikator kinerja ini, maka kinerja bank tersebut semakin baik.

4 Sucipto.

Diakses pada tanggal 23 Juni 2008

Penilaian

Kinerja

Keuangan.

library.usu.ac.id/download/fe/akuntansi-sucipto.pdf

20

20 6) Laba Dalam penilaian kinerja, semakin tinggi laba perbankan maka kinerja bank tersebut semakin baik.

6)

Laba

Dalam penilaian kinerja, semakin tinggi laba perbankan maka kinerja bank

tersebut semakin baik.

7)

Total Aset

Semakin tinggi total asset

yang dimiliki perbankan, maka kinerja bank

tersebut semakin baik.

8)

Penyaluran Kredit

Semakin tinggi jumlah kredit yang disalurkan perbankan, maka kinerja bank

tersebut semakin baik.

Dalam penilaian penyaluran kredit, indikator yang dapat dilihat adalah nilai

NPL dan LDR. Semakin tinggi nilai LDR berarti kinerjanya baik. Sedangkan

untuk NPL, semakin kecil nilainya maka kinerjanya semakin baik karena

dapat meminimalisasi rasio kredit bermasalah.

2.3.

Manfaat Kredit Bagi UMKM

Dalam perekonomian modern, sektor perbankan telah dikenal sebagai

lembaga keuangan sangat strategis yang mempunyai peran menentukan arah dan

perkembangan perekonomian suatu wilayah atau daerah. Salah satu fungsi dan

peran perbankan dalam pembangunan tersebut terhadap pengusaha kecil adalah

turut membantu usaha dengan pemberian kredit.

Wijaya (2002) menjelaskan bahwa pengusaha kecil dan masyarakat kecil

membutuhkan layanan kredit yang lain, yang tidak berorientasi kepada ada

tidaknya

agunan

atau

jaminan

tetapi

lebih

menekankan

pengembangan

21

21 kewirausahaan masyarakat. Secara umum kredit yang diperlukan masyarakat adalah : 1) Kredit yang murah yaitu

kewirausahaan masyarakat. Secara umum kredit yang diperlukan masyarakat

adalah :

1)

Kredit yang murah yaitu bunga dan biaya-biaya lainnya haruslah serendah-

rendahnya.

 

2)

Kemudahan untuk memperolehnya dengan prosedur yang sederhana dan tidak

berbelit-belit.

 

3)

Ketepatan waktu dalam arti penerimaan pinjaman juga diperlukan karena

kalau

jumlah

yang

diberikan

terlalu

kecil

tidak

dapat

memenuhi

kebutuhannya, sebaliknya apabila terlalu besar akan dipergunakan untuk

tujuan lain.

 

2.5

Penelitian Terdahulu

 

Beberapa studi terdahulu

telah banyak

mempelajari mengenai

kredit

perbankan

maupun

non

perbankan

serta

menganalisis

dampaknya

terhadap

pendapatan baik usaha maupun pendapatan rumah tangga. Penelitian Rachmina

(1994) yang berjudul Analisis Permintaan Kredit Pada Industri Kecil menjelaskan

bahwa faktor yang paling dominan mendorong pengusaha industri untuk menjadi

debitur pada suatu sumber kredit yaitu faktor kemudahan dan pelayanan dengan

persentase 41,07 persen. Kemudian faktor pertimbangan ekonomi sebesar 30,36

persen dan kombinasi keduanya sebesar 12,5 persen. Faktor kemudahan dan

pelayan meliputi kemudahan administrasi, prosedur yang relatif cepat dan tidak

berbelit, syarat pembukuan tidak rumit, serta pelayanan yang baik dan bersifat

kekeluargaan Sedangkan faktor pertimbangan ekonomi meliputi tingkat bunga

relatif rendah, jangka waktu kredit, besar plafond kredit, dan adanya dukungan

22

22 usaha. Faktor orang lain misalnya karena ada kenalan pada bank tersebut, didatangi pihak bank, atau

usaha. Faktor orang lain misalnya

karena ada kenalan pada bank tersebut,

didatangi pihak bank, atau disarankan oleh tetangga/teman/saudara.

Berdasarkan

penelitian

Pardosi (1998)

tentang

efektivitas

penyaluran

kredit pembinaan peningkatan pendapatan petani dan nelayan kecil (P4K) dan

analisis pendapatan petani pengguna kredit, menyimpulkan bahwa (1) penyaluran

kredit cukup efektif berdasarkan kriteria penilaian yang digunakan (persyaratan

awal, prosedur pinjaman, realisasi kredit, biaya administrasi, tingkat bunga,

pelayanan, dan pembinaan kepada nasabah, jarak/lokasi pelayanan), (2) Proyek

P4K

telah

memberi

dampak

yang

positif

terhadap

keluarga petani-nelayan kecil (PNK).

peningkatan pendapatan

Hidayat (2004) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa pembiayaan

yang telah diberikan oleh BMT Koppontren Hubbul Wathon dapat dirasakan

manfaatnya oleh nasabah sesuai dengan apa yang diharapkannya. Namun, dampak

yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan pihak BMT. Hal ini

karena Efektivitas atas pembiayaan yang dilakukan belum sepenuhnya tercapai.

Penilaian efektivitas dilakukan dengan menggunakan skala likert, efektivitas yang

belum tercapai sepenuhnya disebabkan oleh rendahnya frekuensi pinjaman serta

tunggakan pembiayaan yang semakin meningkat.

Kusafarida (2003) menyimpulkan bahwa keefektivan penyaluran kredit

dilihat dari besarnya pinjaman nasabah, rendahnya jumlah tunggakan yang dilihat

dari rasio KAP (perbandingan total kredit bermasalah dengan jumlah pinjaman

yang

diberikan),

golongan

sasaran,

dan

jangkauan

pelayanan.

Berdasarkan

penilaian nasabah, maka pengelolaan dan penyaluran kredit di BPR Syariah sudah

efektif daripada di BPR Konvensional.

Efektivitas

menurut

nasabah dilihat

23

23 berdasarkan persyaratan awal, prosedur pinjaman, lama realisasi, lokasi bank, jenis dan besar pinjaman kredit,

berdasarkan persyaratan awal, prosedur pinjaman, lama realisasi, lokasi bank,

jenis dan besar pinjaman kredit, pelayanan petugas, tingkat pengetahuan dan

partisipasi, dan hubungan batin atau komunikasi pihak bank dengan masyarakat

luas.

Penelitian Tarmidi (2006) mengenai efektivitas pengelolaan kredit mikro

Program

Penanggulangan

Kemiskinan

di

Perkotaan

(P2KP)

dan

analisis

pendapatan

keluarga

miskin

di

kota

Depok,

Jawa

Barat

mengkaji

kinerja

pengelolaan kredit mikro

P2KP dilihat dari kinerja aktivitas, kinerja keuangan

Unit Pengelola Keuangan (UPK) dan efektivitas penyaluran kredit. Kinerja

aktivitas

(target

dan

realisasi,

jangkauan

pelayanan,

frekuensi

pinjaman,

pengembalian

kredit)

secara

umum

dikategorikan

baik

malupun

kinerja

pengembalian

kredit dalam hal ini tunggakan adalah sangat buruk. Kinerja

pengelolaan keuangan selama satu tahun dinilai masih baik karena tujuh dari dua

belas UPK berkategori baik. Sementara itu, berdasarkan hasil penilaian respon

dari nasabah dan pihak UPK, penyaluran kredit P2KP dikategorikan efektif.

Namun, pencapaian tujuan kredit masih jauh dari harapan yang ditandai dari

belum adanya dampak positif kreduit mikro terhadap peningkatan pendapatan

keluarga miskin baik dari sisi usaha maupun non usaha.

Penelitian Novitasari (2006) mengenai Analisis Kinerja Kredit Umum

Pedesaaan dan Dampaknya Terhadap Peningkatan Pendapatan Rumah tangga

Kecil di BRI Unit Kreo. Dalam hasil penelitiannya, kinerja kredit bank dinilai

bagus sedangkan untuk nasabah faktor agunan dan bunga masih dirasa cukup

berat. Selain itu, tingkat perubahan pendapatan usaha responden Kupedes lebih

24

24 besar bila Kupedes. dibandingkan dengan tingkat perubahan pendapatan usaha non Dalam penelitian ini, penulis melakukan

besar

bila

Kupedes.

dibandingkan

dengan

tingkat

perubahan

pendapatan

usaha

non

Dalam

penelitian

ini,

penulis

melakukan analisis

Kupedes

dengan

menilai

efektivitasnya

serta

dampak

kinerja

penyaluran

Kupedes

terhadap

peningkatan pendapatan usaha dengan menggunakan metode analisis yang hampir

sama

dengan

penelitian

sebelumnya.

Penelitian

ini

dilakukan di BRI

Unit

Citeureup dengan melakukan penilaian baik dari pihak pemberi kredit (bank) dan

dari pihak penerima kredit (nasabah). Dalam

hal ini responden dari pihak

penerima kredit adalah nasabah yang sedang aktif dalam Kupedes.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah responden

yang diambil berdasarkan tiga sektor ekonomi yang ada di BRI Unit Citeureup

yaitu

Sektor Perdagangan, Sektor Perindustrian, dan Sektor Jasa Komersial

(penelitian terdahulu terdapat responden dari sektor pertanian). Selain itu, dalam

penelitian ini akan dilihat dampak penyaluran Kupedes terhadap pendapatan usaha

responden

khuhusnya

dalam Sektor

Perdagangan,

Sektor

Perindustrian,

dan

Sektor Jasa Komersial (penelitian terdahulu menganalisis pendapatan usaha dan

non usaha seluruh empat sektor ekonomi) dan tidak membandingkan dengan

pelaku usaha yang tidak mengambil Kupedes.

25

25 III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Pengertian, Tujuan dan Fungsi Kredit Kredit

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1

Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1

Pengertian, Tujuan dan Fungsi Kredit

Kredit

berasal

dari

bahasa

Latin

Credere

yang

berarti

Percaya.

Maksudnya si pemberi kredit percaya kepada si penerima kredit, bahwa kredit

yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai perjanjian. Inilah sebabnya

sampai batas-batas tertentu dasar kredit yang utama ialah kepercayaan dari semua

pihak yang bersangkutan dengan perkreditan tersebut. Kredit yang pada dasarnya

tergantung pada tiga hal, yaitu: Pertama, kepercayaan bahwa posisi materi dari si

peminjam

mampu

mengembalikan

modal

yang

dipinjam

tersebut.

Kedua,

kepercayaan

bahwa

si

peminjam

akan

mengembalikan

uangnya,

Ketiga,

kepercayaan bahwa hukum-hukum yang sah dapat melindungi semua pihak yang

terlibat dalam transaksi kredit apabila ada yang dirugikan karena ada persyaratan

yang di langgar (Kadarsan, 1992). Kredit dilihat dari tujuannya terdiri dari kredit

konsumtif, kredit produktif dan kredit perdagangan. Kredit konsumtif yaitu kredit

yang digunakan untuk dikonsumsi secara pribadi. Kredit produktif yaitu kredit

yang digunakan untuk peningkatan usaha atau produksi atau investasi. Kredit

perdagangan yaitu kredit yang diberikan kepada pedagang dan digunakan untuk

membiayai aktivitas perdagangannya. Sedangkan dari segi jangka waktu, kredit

terbagi atas 3 bagian yaitu kredit jangka pendek adalah kredit yang memiliki

jangka waktu kurang dari 1 tahun dan biasanya digunakan untuk keperluan modal

kerja. Kemudian kredit jangka menengah adalah merupakan kredit dengan jangka

waktu kreditnya berkisar antara 1 tahun sampai dengan 3 tahun dan biasanya

kredit ini digunakan untuk melakukan investasi. Sedangkan kredit jangka panjang

26

26 adalah kredit yang masa pengembaliannya paling panjang yakni di atas 3 tahun atau 5 tahun

adalah kredit yang masa pengembaliannya paling panjang yakni di atas 3 tahun

atau 5 tahun (Kasmir, 2007).

Menurut UU Pokok Perbankan No. 10 tahun 1998 dirumuskan bahwa kredit

adalah penyediaan uang atau

tagihan

yang dapat dibersamakan dengan

itu

berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan

pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah

jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Keuntungan merupakan tujuan dari pemberian kredit dalam bentuk bunga

yang diterima. Selain itu, pemberian suatu fasilitas kredit mempunyai beberapa

tujuan yang hendak dicapai yang tentunya tergantung dari tujuan bank itu sendiri.

Adapun prosedur umum penyaluran kredit dapat dilihat pada Gambar 1.

Permohonan kredit

Pencairan Kredit

dilihat pada Gambar 1. Permohonan kredit Pencairan Kredit persyaratan kredit Pemenuhan Pengisian Formulir Permohonan

persyaratan kredit

1. Permohonan kredit Pencairan Kredit persyaratan kredit Pemenuhan Pengisian Formulir Permohonan Kredit Penilaian
1. Permohonan kredit Pencairan Kredit persyaratan kredit Pemenuhan Pengisian Formulir Permohonan Kredit Penilaian
1. Permohonan kredit Pencairan Kredit persyaratan kredit Pemenuhan Pengisian Formulir Permohonan Kredit Penilaian
1. Permohonan kredit Pencairan Kredit persyaratan kredit Pemenuhan Pengisian Formulir Permohonan Kredit Penilaian

Pemenuhan 1. Permohonan kredit Pencairan Kredit persyaratan kredit Pengisian Formulir Permohonan Kredit Penilaian dan Analisis

Pengisian Formulir Permohonan Kreditkredit Pencairan Kredit persyaratan kredit Pemenuhan Penilaian dan Analisis Permohonan Kredit Keputusan Atas

Penilaian dan Analisis Permohonan Kreditkredit Pemenuhan Pengisian Formulir Permohonan Kredit Keputusan Atas Permohonan Kredit Pelunasan Kredit

Keputusan Atas Permohonan KreditPermohonan Kredit Penilaian dan Analisis Permohonan Kredit Pelunasan Kredit Pengawasan Kredit Gambar 1. Prosedur Umum

Pelunasan Kredit

Kredit Keputusan Atas Permohonan Kredit Pelunasan Kredit Pengawasan Kredit Gambar 1. Prosedur Umum Penyaluran Kredit

Pengawasan KreditKredit Keputusan Atas Permohonan Kredit Pelunasan Kredit Gambar 1. Prosedur Umum Penyaluran Kredit Sumber : Urusan

Gambar 1. Prosedur Umum Penyaluran Kredit Sumber : Urusan Kredit Bank Indonesia, 2000

Dalam praktiknya tujuan pemberian suatu kredit sebagai berikut :

1. Mencari keuntungan

Tujuan utama pemberian kredit adalah untuk memperoleh keuntungan. Hasil

keuntungan ini diperoleh dalam bentuk bunga yang diterima oleh bank

sebagai balas jasa dan biaya administrasi kredit yang dibebankan kepada

nasabah.

Keuntungan

ini

penting

untuk

kelangsungan

hidup

bank,

27

27 disamping itu keuntungan juga dapat membesarkan usaha bank. Bagi bank yang terus-menerus menderita kerugian, maka

disamping itu keuntungan juga dapat membesarkan usaha bank. Bagi bank

yang terus-menerus menderita kerugian, maka besar kemungkinan bank

tersebut akan dilikuidir (dibubarkan). Oleh karena itu sangat penting bagi

bank untuk memperbesar keuntungannya mengingat biaya operasional bank

juga relatif cukup besar.

2. Membantu usaha nasabah

Tujuan

selanjutnya

adalah

untuk

membantu

usaha

nasabah

yang

memerlukan dana, baik dana untuk investasi maupun dana untuk modal

kerja.

Dengan

dana

tersebut,

maka

pihak

debitur

akan

dapat

mengembangkan dan memperluas

usahanya.

maupun nasabah sama-sama diuntungkan.

3. Membantu pemerintah

Dalam

hal ini baik bank

Tujuan lainnya adalah membantu pemerintah dalam berbagai bidang. Bagi

pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan oleh pihak perbankan

maka

semakin

baik,

mengingat

semakin banyak

kredit

berarti adanya

kucuran dana dalam rangka peningkatan pembangunan di berbagai sektor

terutama sektor riil.

Disamping memiliki tujuan pemberian suatu fasilitas kredit juga memiliki

suatu fungsi yang sangat luas. Fungsi kredit yang secara luas tersebut antara lain :

1. Untuk meningkatkan daya guna uang

Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang, maksudnya jika

uang hanya disimpan saja di rumah tidak akan menghasilkan sesuatu yang

berguna. Dengan diberikannya kredit uang tersebut menjadi berguna untuk

28

28 menghasilkan barang atau jasa oleh si penerima kredit. Kemudian juga dapat memberikan penghasilan tambahan kepada

menghasilkan barang atau jasa oleh si penerima kredit. Kemudian juga dapat

memberikan penghasilan tambahan kepada pemilik dana.

2. Untuk meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang

Dalam hal ini uang yang diberikan atau disalurkan akan beredar dari satu

wilayah ke wilayah lainnya sehingga, suatu daerah yang kekurangan uang

dengan memperoleh kredit maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan

uang dari daerah lainnya.

3. Untuk meningkatkan daya guna barang

Kredit yang diberikan oleh bank akan dapat digunakan oleh si debitur untuk

mengolah

barang

yang

semula

tidak

berguna

menjadi

berguna

atau

bermanfaat.

4. Meningkatkan peredaran barang

Kredit dapat pula menambah atau memperlancar arus barang dari satu wilayah

ke wilayah lainnya, sehingga jumlah barang yang beredar dari satu wilayah ke

wilayah

lainnya bertambah atau

kredit dapat pula meningkatkan

jumlah

barang yang beredar. Kredit untuk meningkatkan peredaran barang biasanya

untuk kredit perdagangan atau kredit ekspor impor.

5. Sebagai alat stabilitas ekonomi

Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai alat stabilitas ekonomi,

karena dengan adanya kredit yang diberikan akan menambah jumlah barang

yang diperlukan oleh masyarakat. Kredit dapat pula membantu mengekspor

barang dari dalam negeri ke luar negeri sehingga dapat meningkatkan devisa

negara.

29

29 6. Untuk meningkatkan kegairahan berusaha Bagi si penerima kredit tentu akan dapat meningkatkan kegairahan berusaha,

6. Untuk meningkatkan kegairahan berusaha

Bagi si penerima kredit tentu akan dapat meningkatkan kegairahan berusaha,

apalagi bagi nasabah yang memang modalnya pas-pasan. Dengan memperoleh

kredit

nasabah

usahanya.

bergairah

untuk

dapat

memperbesar

atau

memperluas

7. Untuk meningkatkan pemerataan pendapatan

Semakin banyak kredit yang disalurkan maka akan semakin baik, terutama

dalam hal meningkatkan pendapatan. Jika sebuah kredit diberikan untuk

membangun pabrik, maka pabrik tersebut tentu membutuhkan tenaga kerja

sehingga dapat pula mengurangi pengangguran.

8. Untuk meningkatkan hubungan internasional

Dalam

hal

pinjaman

internasional

akan

dapat

meningkatkan

saling

membutuhkan antara si penerima kredit dengan si pemberi kredit. Pemberian

kredit oleh negara lain akan meningkatkan kerjasama di bidang lainnya,

sehingga dapat pula tercipta perdamaian dunia.

3.1.2 Analisis Kinerja

3.1.2.1 Analisis Kredit

Setelah pihak bank menerima formulir permohonan dari calon nasabah kredit

maka

bank

akan

melakukan

beberapa

pemeriksaan

di

lapangan

dengan

memperhatikan hal-hal berikut (Keown, 2004) :

1. Aspek 5C

Pada

dasarnya,

prinsip

yang

dipakai

dalam

penilaian

nasabah

atau

menganalisis calon nasabah kredit merupakan prinsip pemberian kredit yang

30

30 sudah umum dikenal dengan analisis 5C yaitu Character, Capacity, Capital, Condition, dan Collateral, yang secara

sudah umum dikenal dengan analisis 5C yaitu Character, Capacity, Capital,

Condition, dan Collateral, yang secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut :

a) Character

Keadaan watak dan sifat calon nasabah baik dalam kehidupan pribadi maupun

dalam

lingkungan

usahanya.

Penilaian

ini

merupakan

penilaian

terhadap

kejujuran,

ketulusan,

kepatuhan akan janji, serta kemauan untuk membayar

kembali hutang-hutangnya.

b)

Capacity

Kemampuan

yang

dimiliki

calon

nasabah

untuk

membuat

rencana

dan

mewujudkan rencana tersebut menjadi kenyataan, termasuk dalam menjalankan

usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan.

c) Capital

Dana

yang

dimiliki

calon

nasabah

untuk

menjalankan

dan

memelihara

kelangsungan

usahanya.

Adapun

penilaian

terhadap

hal

ini

adalah

untuk

mengetahui keadaan permodalan, sumber-sumber dana dan penggunaannya.

d) Condition

Keadaan sosial ekonomi suatu saat yang mungkin dapat mempengaruhi maju

mundurnya usaha calon nasabah. Penilaian terhadap kondisi dimaksudkan untuk

mengetahui sampai sejauh mana

kondisi ekonomi itu

berpengaruh terhadap

kegiatan usaha calon nasabah dan bagaimana calon nasabah tersebut mengatasi

dan mengantisipasinya, sehingga usahanya tetap hidup dan berkembang.

e) Collateral

Barang-barang yang diserahkan calon nasabah sebagai agunan kredit yang

akan diterimanya. Tujuan penilaian ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh

31

31 mana risiko tidak terpenuhinya kewajiban finansial kepada bank dapat ditutup oleh nilai agunan yang diserahkan

mana risiko tidak terpenuhinya kewajiban finansial kepada bank dapat ditutup

oleh nilai agunan yang diserahkan calon nasabah. Penilaian terhadap barang

agunan ini meliputi jenis atau macam barang, nilainya, lokasinya, bukti pemilikian

dan status hukumnya.

2. Aspek Usaha

Dalam hal ini petugas bank melakukan kegiatan pemeriksaan di tempat

nasabah. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap prospek usaha dengan mencakup

hal-hal sebagai berikut :

a) Produksi

Meliputi lokasi usaha yang strategis atau tidak, jenis usaha seperti : usaha

industri, perdagangan/jasa lainnya, pertanian. Kemudian tersedianya bahan baku

yang meliputi kualitas dan kontinuitasnya, serta tenaga kerja, baik dalam jumlah

maupun kualitasnya.

b) Pemasaran

Dalam pemasaran meliputi keadaan yang lalu, saat ini, yang direncanakan,

serta

faktor-faktor

pendukung

pengembangan

pemasarannya.

Lalu

daerah

pemasaran (lokal atau keluar daerah), jumlah usaha sejenis, penguasaan pasar

dibanding usaha sejenis yang sudah ada, prospek dari usaha sejenis, dan jaringan

distribusi pemasaran.

c) Manajemen

Meliputi pengalaman dan latar belakang pendidikan calon nasabah, kemudian

tersedianya

catatan-catatan

dari

usaha

mengenai

hutang-piutang,

catatan

pembelian barang,

penjualan.

catatan persediaan barang, dan perhitungan harga pokok

32

32 d) Keuangan Meliputi rencana penggunaan kredit serta keadaan permodalan sekarang yang mencakup taksiran nilai

d) Keuangan

Meliputi rencana penggunaan kredit serta keadaan permodalan sekarang yang

mencakup taksiran nilai persediaan barang, jumlah piutang, jumlah hutang, lama

perputaran modal serta kebutuhan tambahan modal.

e) Kemampuan membayar kembali (repayment capacity)

Meliputi perhitungan laba/rugi dari usaha yang ada saat ini, proyeksi besarnya

laba/rugi sesuai rencana perluasan usaha yang dihitung dari hasil penjualan, biaya-

biaya, dan pendapatan. Kemudian perhitungan laba/rugi yang dibuat per periode

(setahun) serta perhitungan kemampuan membayar kembali sebesar 75% dari laba

bersih.

3. Aspek agunan

Agunan yang diserahkan oleh calon nasabah merupakan cara kedua bagi pihak

bank apabila pada saat jatuh tempo ternyata nasabah tidak dapat melunasi

kreditnya, maka pihak bank dapat mencairkan agunan tersebut untuk menutup

kreditnya. Nilai taksiran barang agunan dibagi menjadi dua macam yaitu :

a) Nilai Pasar Wajar (NPW)

Nilai Pasar Wajar (NPW) adalah nilai atau harga suatu barang agunan yang

berlaku dipasar pada saat penilaian dilakukan.

b) Nilai Taksiran Harga Lelang Sita (THLS)/ Nilai Likuidasi (NL)

Nilai Likuidasi /THLS adalah nilai/harga perkiraan terhadap barang agunan

apabila akan dijual secara mudah, cepat dan segera, baik dilakukan secara damai

maupun melalui lelang.

33

33 3.1.2.2 Kinerja Penyaluran Kredit Penilaian Bank Bank Rakyat Indonesia sebagai salah satu lembaga yang fokus

3.1.2.2 Kinerja Penyaluran Kredit Penilaian Bank

Bank

Rakyat

Indonesia

sebagai

salah

satu

lembaga

yang

fokus

dalam

penyaluran kredit untuk usaha kecil diharapkan dapat melakukan perannya agar

pengusaha

kecil

dapat

meningkatkan

serta

mengembangkan

usahanya

yang

kemudian berdampak pada meningkatnya pendapatan mereka. Dalam hal ini perlu

dilakukan penilaian kinerja kredit yang diberikan pihak bank apakah sudah baik

atau belum.

Penilaian kinerja kredit menurut pihak bank dilihat dari efektivitas penyaluran

kredit yang dinilai berdasarkan aspek-aspek sebagai berikut (Pardosi, 1998) :

1. Target dan realisasi kredit, yaitu jumlah permohonan kredit yang diterima dan

direalisir oleh BRI dan jumlah kredit yang telah disalurkan kepada usaha

mikro dan kecil. Semakin besar persentase realisasi kredit maka kinerja kredit

dinilai baik.

2. tunggakan,

Persentase

yaitu

perhitungan

tunggakan

kredit

dengan

membandingkan jumlah kredit bermasalah per outstanding (sisa kredit) yang

dinyatakan dalam persen. Semakin kecil persentase tunggakan maka kinerja

kredit dinilai baik.

3. Jangkauan kredit, yaitu beragamnya sektor perekonomian yang mendapat

saluran kredit. Semakin beragamnya sektor ekonomi yang dapat disentuh oleh

pihak bank maka kinerja kredit dinilai baik.

4. Frekuensi pinjaman, yaitu jumlah transaksi yang telah dilakukan pengusaha

kecil sejak mereka mengambil kredit. Hal ini dilihat dari banyaknya transaksi

(pinjaman dan pengembalian). Semakin tinggi persentase pinjaman maka

kinerja kredit dinilai baik.

34

34 3.1.2.3 Kinerja Penyaluran Kredit Penilaian Nasabah Selain penilaian kinerja kredit yang dilakukan pihak bank maka

3.1.2.3 Kinerja Penyaluran Kredit Penilaian Nasabah

Selain penilaian kinerja kredit yang dilakukan pihak bank maka perlu juga

dilakukan penilaian kinerja kredit menurut penilaian nasabah. Nilai efektivitas

dari sisi nasabah dinilai berdasarkan aspek-aspek berikut :

1. Persyaratan awal, yaitu ketentuan yang harus dipenuhi oleh seorang calon

nasabah untuk mendapatkan kredit.

2. Prosedur pinjaman, yaitu tahapan yang harus dilalui sejak proses permohonan

kredit hingga realisasi kredit kepada nasabah.

3. Realisasi kredit, yaitu cairnya kredit setelah melalui tahapan proses dengan

melihat ketepatan pada setiap proses yang dilakukan.

4. Biaya administrasi, yaitu biaya yang dikeluarkan selama proses permohonan

kredit sampai direalisasikan.

5. Tingkat bunga, yaitu biaya yang dibebankan kepada nasabah sebagai bentuk

dukungan operasional kegiatan bagi bank.

6. Agunan, yaitu sumber pembayaran terakhir yang diharapkan oleh bank apabila

pengembalian kredit bermasalah atau macet.

7. Pelayanan petugas, yaitu pelayan yang diberikan bank kepada nasabah mulai

dari proses permohonan hingga pengembalian kredit.

3.1.2.4 Efektivitas Penyaluran Kredit UMKM

Efektivitas didefinisikan para pakar dengan kalimat yang berbeda-beda

tergantung pendekatan yang digunakan mereka masing-masing. Kamus Besar

Indonesia (2005) mendefinisikan efektivitas sama dengan keefektifan yaitu suatu

sifat atau keadaan yang mempunyai efek, pengaruh, akibat, atau memberikan hasil

35

35 yang memuaskan dengan memanfaatkan waktu dan cara dengan sebaik-baiknya. Menurut The New Grolier Webster International

yang memuaskan dengan memanfaatkan waktu dan cara dengan sebaik-baiknya.

Menurut The New Grolier Webster International Dictionary of the English

Language dalam Pardosi (1998), efektivitas adalah kata benda (noun) yang

berasal daru effective yang artinya sejauh mana hasil atau tujuan sudah dapat

dicapai. Anthony, Dearden dan Bedford (1996) mengatakan bahwa efektivitas

adalah hubungan antara keluaran suatu pusat pertanggungjawaban dengan tujuan

yang

harus dicapainya.

Semakin

besar

kontribusi keluaran

yang

dihasilkan

terhadap nilai pencapaian tersebut, maka dapat dikatakan semakin efektif unit

tersebut.

Usaha mikro kecil dan menengah membutuhkan bantuan atau tambahan

modal dalam pengembangan usahanya. Para pelaku usaha dapat memperoleh

bantuan modal kredit baik dari lembaga keuangan bank maupun non bank. Salah

satunya

adalah

lembaga

keuangan bank

yang

tidak

hanya

bertujuan untuk

menerapkan prinsip efisiensi dari sisi perusahaan, tetapi juga harus menerapkan

prinsip

efektivitas.

Menurut

Soetrisno

(1986)

dalam

Pardosi

(1998),

untuk

menolong

usaha

permodalan

masyarakat

pedesaan,

aspek

efektivitas

harus

terlebih dahulu dicapai tanpa mengabaikan aspek efisiensi. Penilaian efektivitas

ini dapat dilihat berdasarkan persepsi nasabah lembaga keuangan tersebut dan

juga berdasarkan penilaian dari pihak lembaga keuangan dengan tetap mengacu

pada aturan-aturan yang telah ditetapkan.

3.2 Dampak Kredit Terhadap Pendapatan

Pendapatan adalah selisih dari penerimaan penjualan produk, yang didapat

dari hasil perkalian harga dan kuantitas dengan biaya yang dikeluarkan untuk

menghasilkan output (Pappas, James.L dan Mark Hirschey, 1995). Pendapatan

36

36 terdiri dari penerimaan total dan pengeluaran total (TC). Penerimaan total (TR) adalah jumlah seluruh penerimaan

terdiri dari penerimaan total dan pengeluaran total (TC). Penerimaan total (TR)

adalah jumlah seluruh penerimaan perusahaan dari hasil penjualan sejumlah

produk (barang yang dihasilkan). Cara untuk menghitung penerimaan total dapat

dilakukan dengan mengalikan jumlah produk dengan harga jual produk per unit.

Kita ketahui bahwa proses produksi yang dilakukan oleh seorang produsen akan

menghasilkan sejumlah barang, atau produk. Produk inilah yang merupakan

jumlah barang yang akan dijual dan hasilnya merupakan jumlah penerimaan bagi

seorang

produsen.

Jadi

pengertian

penerimaan

adalah

sejumlah

uang

yang

diterima oleh perusahaan atas penjualan produk yang dihasilkan. Dalam ilmu

ekonomi penerimaan diistilahkan revenue. Untuk membuat grafik TR dibutuhkan

dua sumbu yaitu sumbu tegak untuk penerimaan total, penerimaan rata-rata dan

penerimaan marginal dan sumbu mendatar untuk jumlah produk. terlihat seperti

grafik berikut :

dan penerimaan marginal dan sumbu mendatar untuk jumlah produk. terlihat seperti grafik berikut : Gambar 2.

Gambar 2. Kurva TR

37

37 Keterangan: 1. Kurva TR berbentuk garis lurus, yang menunjukkan semakin banyak jumlah produk dijual semakin

Keterangan:

1. Kurva TR berbentuk garis lurus, yang menunjukkan semakin banyak jumlah produk dijual semakin besar penerimaan totalnya.

2.

Grafik AR = MR = P berbentuk garis mendatar, berarti grafik AR berimpit

dengan grafik MR dan berimpit dengan grafik harga.

Sedangkan

pengeluaran

(Total

Biaya)

adalah

biaya

total

untuk

menghasilkan tingkat output tertentu. Biaya, bagi perusahaan yang kegiatannya

memproduksi barang, adalah nilai input yang digunakan untuk memproduksi

outputnya (Lipsey dkk, 1995). Produksi berlangsung dengan jalan mengolah

masukan (input) menjadi keluaran (output). Masukan merupakan pengorbanan

biaya yang tidak dapat dihindarkan untuk melakukan kegiatan produksi.

Setiap pengusaha harus dapat menghitung biaya produksi agar dapat

menetapkan harga

pokok barang

yang dihasilkan.

Untuk menghitung biaya

produksi terlebih dahulu harus dipahami pengertiannya.Biaya produksi adalah

sejumlah pengorbanan ekonomis yang harus dikorbankan untuk memproduksi

suatu

barang.

Menetapkan

biaya

produksi

berdasarkan

pengertian

tersebut

memerlukan kecermatan karena ada yang mudah diidentifikasikan, tetapi ada juga

yang sulit diidentifikasikan dan hitungannya.

Biaya produksi dapat meliputi unsur-unsur sebagai berikut:

a. Bahan baku atau bahan dasar termasuk bahan setengah jadi

b Bahan-bahan pembantu atau penolong

c Upah tenaga kerja dari tenaga kerja kuli hingga direktur.

d Penyusutan peralatan produksi

e Uang modal, sewa

38

38 f Biaya penunjang seperti biaya angkut, biaya administrasi, pemeliharaan, biaya listrik, biaya keamanan dan

f

Biaya penunjang seperti biaya angkut, biaya administrasi, pemeliharaan,

biaya listrik, biaya keamanan dan asuransi

g.

Biaya pemasaran seperti biaya iklan

h.

Pajak

Berdasarkan teori antisipasi pendapatan, bank layak memberikan kredit

jangka panjang yang pelunasannya dijadwalkan sesuai dengan ketetapan waktu.

Jadwal pembayaran dalam bentuk angsuran pokok dan bunga akan menajdi

supplier arus kas secara teratur dan akhirnya kebutuhan likuiditas pun terpenuhi.

Pada dasarnya teori ini, tidak pernah menolak argumentasi commercial loan

theory maupun shiftability theory melainkan menambahkan seyogyanya tidak

hanya memperhatikan aktiva lancar tetapi adalah penting membuat antisipasi atas

uang

kas

atau

likuiditas

yang

hendak

masuk.

Teori

antisipasi

pendapatan

mengutamakan

likuiditas

dalam

arti

dinamis.

Ini

berarti

bank

dapat

mengantisipasi kewajiban segera tiba dan memprediksikan alat-alat lancar yang

akan masuk. Bank dilengkapi sistem informasi manajemen yang memadai agar

dapat menyusun rencana yang memadai pula. Perencanaan mudah dalam kondisi

perekonomian makro stabil.

Dengan demikian terungkap teori antisipasi pendapatan menyadari benar

akan perkembangan ekonomi dan jenis-jenis pinjaman tertentu lebih berkembang

dari

pada

jenis-jenis

pinjaman

lainnya.

Seperti

pinjaman

produktif

dalam

perekonomian kian tumbuh cenderung lebih berkembang dibandingkan pinjaman

39

39 konsumtif. Singkatnya, teori antisipasi pinjaman jangka panjang. 5 pendapatan menjadi dasar 3.3 Kerangka Pemikiran

konsumtif.

Singkatnya,

teori antisipasi

pinjaman jangka panjang. 5

pendapatan menjadi dasar

3.3 Kerangka Pemikiran Operasional

eksistensi

Kredit disalurkan melalui berbagai macam lembaga pembiayaan, salah

satunya

adalah

perbankan.

Bank

menyalurkan

kredit

dengan

menjalankan

fungsinya sebagai lembaga penyalur dana ke masyarakat. Penyaluran kredit

diharapkan efektif agar dapat meningkatkan kesejahteraan. Penilaian efektivitas

penyaluran kredit dapat dilihat dari dua sisi yaitu dari phak bank dan dari pihak

nasabah.

Pihak

bank

sebagai

media

penyaluran

kredit

menilai

efektivitas

penyaluran kredit dari beberapa parameter seperti target dana dan realisasi kredit,

persentase tunggakan ,jangkauan kredit dan frekuensi pinjaman. Nasabah sebagai

peminjam kredit menilai efektivitas penyaluran kredit dari perameter- parameter

seperti persyaratan awal, prosedur pinjaman, realisasi kredit, biaya , administrasi,

tingkat bunga, agunan dan pelayanan petugas.

Efektivitas penyaluran kredit turut mempengaruhi besarnya pendapatan yang

diterima.

Efektivitas

penyaluran

kredit

memberikan

dampak

pada

jumlah

pendapatan nasabah. Pendapatan yang diterima juga dipengaruhi oleh besaran

input dan output yang dikeluarkan. Pada penelitian ini salah satu bank yang

menjalankan

fungsi

sebagai

media

penyaluran

kredit

adalah

BRI.

Dalam

penyaluran kredit BRI mengalami pertumbuhan yang baik, pertumbuhan kredit

5 Iman Mulyana.

10/10/2007. Teori Antisipasi Pendapatan.

40

40 BRI ini tetap dimotori oleh segmen UMKM. Kredit untuk membiayai segmen UMKM di BRI adalah

BRI ini tetap dimotori oleh segmen UMKM. Kredit untuk membiayai segmen

UMKM di BRI adalah Kupedes.

Kupedes merupakan produk kredit

BRI

yang

disalurkan

kerjanya

dengan

tujuan