Anda di halaman 1dari 6

A.

JUDUL PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN TEKNIK THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA B. LATAR BELAKANG Pendidikan memegang peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Tinggi rendahnya kualitas pendidikan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kualitas peserta didik, sarana dan prasarananya, model pembelajaran, atau faktor lingkungan. Kualitas pendidikan yang penting untuk diperhatikan salah satunya adalah pendidikan matematika. Matematika adalah segala sumber ilmu yang lain. Dengan kata lain banyak ilmu-ilmu penemuan dan perkembangannya bergantung dari matematika. Matematika juga merupakan suatu alat untuk mengembangkan kemampuan berpikir, karena itu matematika sangat diperlukan. Baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sehingga matematika perlu diberikan pada jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Matematika sendiri telah berkembang sangat pesat. Mengingat efektivitas dan efisiensinya untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika, tidak mungkin kita menjejali siswa dengan setumpuk matematika (Hudojo,2003:27). Sedangkan pembelajaran matematika memiliki beberapa tujuan yang harus dicapai, yaitu mengembangkan kemampuan pemahaman konsep, kemampuan penalaran dan komunikasi, dan kemampuan pemecahan masalah. Kemampuan pemecahan masalah sangat penting artinya bagi siswa dan masa depannya (Wena, 2009:53). Para ahli pembelajaran sependapat bahwa kemampuan pemecahan masalah dalam batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan disiplin ilmu yang diajarkan (Suharsono,1991). Menurut Arends (1997) : it is strange that we expect student to solve problem yet seldom teach then about problem solving , yang berarti dalam mengajar guru selalu menuntut siswa untuk belajar dan jarang memberikan pelajaran tentang bagaimana siswa untuk belajar, guru juga menuntut siswa untuk menyelesaikan masalah, tapi jarang mengajarkan bagaimana siswa seharusnya menyelesaikan masalah (Trianto, 2009 : 7).

Menurut Pendapat Bruner (dalam Dahar 1988:125), bahwa berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Suatu konsekuensi logis, karena dengan berusaha untuk mencari pemecahan masalah secara mandiri akan memberikan suatu pengalaman konkret, dengan pengalaman tersebut dapat digunakan pula memecahkan masalah-masalah serupa, karena pengalaman itu memberikan makna tersendiri bagi peserta didik. Menurut James dan James, sebagaimana dikutip oleh Suherman (2003:16), mendefinisikan matematika sebagai ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dalam jumlah yang banyak dan terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri. Geometri merupakan cabang matematika yang membahas tentang pola-pola visual, menghubungkan matematika dengan dunia nyata, dan menempati posisi khusus dalam kurikulum matematika, karena geometri memuat banyak konsep di dalamnya. Dari sudut pandang matematik, geometri menyediakan pendekatan-pendekatan untuk pemecahan masalah, misalnya gambar-gambar, diagram, sistem koordinat, vektor, dan transformasi. Tujuan dari pembelajaran geometri diharapkan peserta didik dapat memperoleh rasa percaya diri mengenai kemampuan matematika, menjadi pemecah masalah yang baik, dapat berkomunikasi secara matematik, dan dapat bernalar secara matematik. Tuntutan dalam dunia pendidikan sudah banyak berubah. Kita tidak bisa lagi mempertahankan metode biasa yang sering digunakan di sekolah. Teori penelitian dan pelaksanaan kegiatan belajar membuktikan bahwa guru harus mengubah metode pengajaran. Strategi yang paling banyak digunakan untuk mengaktifkan siswa adalah melibatkan siswa dalam diskusi. Tetapi strategi ini tidak terlalu efektif walaupun guru sudah berusaha dan mendorong siswa untuk ikut berpartisipasi. Kebanyakan siswa lebih terpaku sebagai penonton. Sementara arena kelas dikuasai oleh segelincir siswa. Salah satu model pembelajaran bagi siswa untuk berinteraksi satu sama lain adalah model pembelajaran kooperatif. Menurut Suherman (2003:260), dalam pembelajaran kooperatif para peserta didik dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, ataupun tanggung jawab sehingga tercipta sikap bekerjasama dan saling membantu. Sedangkan menurut Lie (2002:28), bahwa model pembelajaran cooperative learning tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya

dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prosedur pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif. Hobri (2010:27) mengatakan bahwa kriteria keefektifan suatu model dikaitkan dengan empat hal, yaitu (1) ketuntasan hasil belajar peserta didik, (2) aktivitas peserta didik dan guru menunjukkan kategori baik, (3) kemampuan guru mengelola pembelajaran baik, dan (4) respon peserta didik dan guru positif. Teknik model pembelajaran kooperatif salah satunya yaitu think pair share (TPS) yang dikembangkan oleh Frank Lyman adalah teknik model pembelajaran kooperatif yang diartikan sebagai Berpikir-Berpasangan-Berbagi (Lie, 2002:56). Think Pair Share memberikan kesempatan peserta didik untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain, melatih dalam mengoptimalkan potensi, dan dapat membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dalam diskusi tersebut, think pair share dapat memberikan waktu yang lebih banyak ke peserta didik dalam berpikir, merespon, dan saling membantu (Miftahul huda,2011:134). Peneliti melakukan studi pendahuluan di salah satu sekolah yang ada di Kota Serang. Dalam pembelajaran matematika guru di SMP tersebut masih menggunakan model pembelajaran biasa. Peserta didik cenderung diam dan kurang aktif selama proses pembelajaran. Mereka cenderung sulit untuk menyampaikan gagasan atau informasi kepada orang lain baik dalam bentuk gambar, grafik, atau tabel. Contoh Instrumen yang peneliti gunakan dalam studi pendahuluan, yaitu :
Pak mamat ingin membuat 50 buah layang-layang untuk dijual. Setiap layanglayang mempunyai ukuran diagonal 15 cm dan 20 cm. Dibutuhkan kertas untuk membuat layang-layang tersebut. Jika kertas yang tersedia berbentuk persegi panjang. Setiap lembar kertas berukuran panjang 90 cm dan lebarnya 60 cm. Berapa lembar kertaskah paling sedikit dibutuhkan pak mamat untuk membuat 50 buah layang-layang tersebut.

Dari 5 soal pemecahan masalah siswa hanya mampu mengerjakan 2 soal. Rata-rata siswa menjawab soal-soal pemecahan masalah langsung ke jawabannya, tanpa melalui langkahlangkah pemecahan masalah (Memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, melakukan perhitungan, memeriksa kembali). Hasil dari studi pendahuluan 50 % siswa mendapatkan nilai sangat rendah, 30% sedang, dan 20% tinggi. Rata-rata nilai siswa dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Sekolah.

Ini semakin menguatkan bahwa siswa di sekolah tersebut, masih belum bisa menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah. Dari permasalahan mengenai model pembelajaran yang kurang maksimal, sikap peserta didik yang kurang aktif selama proses pembelajaran, dan media belajar yang belum banyak digunakan dalam menyampaikan materi pembelajaran. Peneliti tertarik untuk menyampaikan gagasan baru dengan penelitian yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dengan menggunakan Teknik Think Pair Share (TPS) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa C. RUMUSAN MASALAH 1. Apakah kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan teknik think pair share lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran biasa ? 2. Apakah peningkatan kemampuan pemecahan matematis siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif dengan teknik think pair share lebih baik daripada yang diajarkan dengan pembelajaran biasa? D. BATASAN MASALAH Mengingat terbatasnya kemampuan pemecahan masalah penelitian ini baik ditinjau dari segi pengetahuan, waktu dan agar penelitian ini hasilnya memberikan gambaran yang lebih jelas dan khusus maka penelitian ini dibuat pembatasan masalah, antara lain: 1. Penelitian dilakukan di SMPN 8 Kota Serang kelas VII tahun ajaran 2013/2014 2. Indikator pemecahan masalah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu NCTM (National Council of Teacher of Mathematics) (2000) yaitu : a. Membangun pengetahuan matematika yang baru guna menyelesaikan masalah b. Menyelesaikan masalah yang timbul dalam matematika dan dalam konteks yang lain c. Menggunakan dan menyesuaikan berbagai strategi dalam menyelesaikan masalah d. Mereflesikan proses pemecahan masalah matematika siswa

E. TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan teknik think pair share lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran biasa 2. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan matematik siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif dengan teknik think pair share lebih baik daripada yang diajarkan dengan metode biasa

F. MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi: 1. Sekolah Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang model pembelajaran kooperatif dengan teknik think pair share (TPS) pada pembelajaran matematika. Sehingga diharapkan bisa meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah 2. Siswa Model pembelajaran kooperatif dengan teknik t hink pair share (TPS) pada pembelajaran matematika: a. Dapat melatih kerjasama dan interaksi dengan peserta didik dan guru. b. Membantu dalam mengorganisasikan gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya baik berbentuk tulisan ataupun lisan.

c. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa sehingga siswa dapat memyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan pemecahan masalah. Khususnya dalam kehidupan sehari-hari 3. Guru Agar menjadi bahan masukkan pada guru supaya lebih kreatif dalam menyampaikan pembelajaran di kelas sehingga siswa tidak merasa bosen dalam proses pembelajaran