Anda di halaman 1dari 34

STUDY KASUS KORUPSI BURHANUDDIN

Kejahatan Korupsi Kehutanan Di Riau

KEWARGANEGARAAN IST AKPRIND YOGYAKARTA

Anggota Kelompok
Febriyanto Fitri Setyawati Nadya Alfini Rengga Adnandianta Sri Nopita Yudistira Indraprasta

Pengertian korupsi
Kejahatan atau penyimpangan berupa pelanggaran hukum yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya demi kepentingan pribadi, di mana tindakan tersebut menimbulkan kerugian yang besar bagi negara dan masyarakat.

Pengertian Korupsi menurut UndangUndang Nomor 28 Tahun 1999


Tindakan pidana yang dilakukan orang yang secara sengaja melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain suatu korporasi dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Definisi korupsi yang dipahami umum adalah merugikan negara atau institusi baik seara langsung atau tidak langsung sekaligus memperkaya diri sendiri.

Sejarah Korupsi
Secara garis besar, budaya korupsi di Indonesia tumbuh dan berkembang melalui 3 (tiga) fase sejarah, yakni ; 1. Zaman kerajaan, 2. Zaman penjajahan, 3. Zaman modern seperti sekarang ini.

Sejarah Korupsi`
1. Zaman kerajaan
Budaya korupsi di Indonesia pada prinsipnya, dilatar belakangi oleh adanya kepentingan atau motif kekuasaan dan kekayaan. Mulai terbangunnya watak opurtunisme bangsa indonesia. Hal tersebut pula yang menjadi embrio lahirnya kalangan opurtunis yang pada akhirnya juga memiliki potensi jiwa yang korup yang begitu besar dalam tatanan pemerintahan kita dikemudian hari.

Sejarah Korupsi
2. Zaman penjajahan

Budaya korupsi telah dibangun oleh para penjajah colonial (terutama oleh Belanda) selama 350 tahun. Budaya korupsi ini berkembang dikalangan tokoh-tokoh lokal yang sengaja dijadikan badut politik oleh penjajah, untuk menjalankan daerah adiministratif tertentu, semisal demang (lurah), tumenggung (setingkat kabupaten atau provinsi), dan pejabat-pejabat lainnya yang notabene merupakan orang-orang suruhan penjajah Belanda untuk menjaga dan mengawasi daerah territorial tertentu.

Sejarah Korupsi
Secara eksplisit, sesungguhnya budaya penjajah yang mempraktekkan hegemoni dan dominasi ini, menjadikankan orang Indonesia juga tak segan menindas bangsanya sendiri lewat perilaku dan praktek korupsi-nya.

Sejarah Korupsi
3. Zaman modern
Fase perkembangan praktek korupsi di zaman modern seperti sekarang ini sebenarnya dimulai saat lepasnya bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Salah satu warisan yang tertinggal adalah budaya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Penyebab Korupsi Menurut Beberapa Ahli


a. Menurut Singh (1974) menemukan dalam penelitiannya bahwa penyebab terjadinya korupsi di India adalah
Kelemahan moral (41,3%), Tekanan ekonomi (23,8%), Hambatan struktur administrasi (17,2 %), Hambatan struktur sosial (7,08 %).

Penyebab Korupsi Menurut Beberapa Ahli


b. Sementara itu Merican (1971) menyatakan sebab-sebab terjadinya korupsi adalah sebagai berikut :
Peninggalan pemerintahan kolonial. Kemiskinan dan ketidaksamaan. Gaji yang rendah. Persepsi yang populer. Pengaturan yang bertele-tele. Pengetahuan yang tidak cukup dari bidangnya.

STUDY KASUS BURHANUDDIN KEJAHATAN KORUPSI KEHUTANAN RIAU

Kejahatan Korupsi Kehutanan


Bagi bangsa Indonesia hutan merupakan modal pembangunan nasional yang banyak memiliki manfaat bagi kehidupan dan penghidupan, baik manfaat ekologi, sosial budaya maupun ekonomi dalam proporsi yang berimbang. Celah Korupsi dibidang kehutanan memang masih dimungkinkan karena hal berkaitan erat dengan Regulasi dibidang kehutanan yang membuka Ruang untuk itu.

Kejahatan Korupsi Kehutanan


Misalnya dalam pemberian Izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan tanaman, sebut saja misalnya SK 327 tahun 2009 yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan dari wilayah yang dikeluarkan Izin tersebut ada yang bertentangan dengan Undang-undang No.26 tahun 2007 tentang RTRWN jo PP No.26 tahun 2008 Tetapi hal ini tetap saja berjalan mestinya ini bisa dikategorikan adanya perbuatan melawan hukum dengan kesewenang-wenangan mengeluarkan Izin.

Kejahatan Korupsi Kehutanan


Begitupula dalam kasus yang terjadi dengan Burhanuddin mantan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau tahun 2005-2006. Yang tersangkut kasus korupsi akibat menerbitkan Rencana Kerja Tahunan untuk beberapa perusahaan yang ada di Kabupaten Pelalawan dan di Kabupaten Siak.

Penerapan hukum
Dalam fakta persidangan1 bahwa dapat dibuktikan terjadinya pelanggaran atas dakwaan primair tersebut karena jika dilihat dari unsur delik pasal 2 ayat (1) adalah : a) Unsur Setiap orang : Yang bersangkutan adalah subyek hukum perorangan dan telah mengakui identitasnya dalam persidangan dan dalam keadaan dapat dimintai pertanggung jawaban pidananya.

Penerapan hukum
b) Unsur Yang secara melawan hukum: Bahwa yang bersangkutan telah melakukan perbuatan menerbitkan Rencana Kerja Tahunan (RKT) baik secara sendiri- sendiri ataupun bersama-sama dengan Drs. Edi Suriandi selaku kepala dinas kehutanan kabupaten pelalawan, H.Tengku Azmun Jaafar selaku bupati pelalawan, Ir.H.Amin Budiadi selaku Kepala Dinas Kabupaten Siak, H.Arwin As selaku Bupati Siak.

Penerapan hukum
c) Unsur Melakukan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi Didalam fakta persidangan ada 12 perusahaan yang diuntungkan dari pengesahan RKT yang dikeluarkan oleh Burhanuddin yaitu :

Penerapan hukum
Ada 8 perusahaan di Pelalawan : PT Mitra Tani Nusa Sejati, PT Selaras Abadi Utama, CV Alam Lestari, PT Merbau Pelalawan Lestari, PT Uniseraya, PT Rimba Mutiara Permai, PT Trio Mas FDI, PT Madukoro Dan 4 perusahaan di Siak: PT Seraya Sumber Lestari, PT Rimba Mandau Lestari, PT Bina Daya Bintara, PT Nasional Timber and Forest Product

Penerapan hukum
d) Yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara Bahwa didalam persidangan telah disampaikan oleh saksi ahli bidang akuntansi dan auditing yang bekerja sebagai PNS dari BPKP Saudara Nasrul Wathon dibawah sumpah menyatakan bahwa akibat perbuatan terdakwa mengeluarkan RKT tersebut Negara telah dirugikan, Untuk wilayah Pelalawan secara keseluruhan berjumlah : Rp.355.342.369.680,33 Untuk wilayah Siak kerugian Negara sebesar : Rp.164.238.349.722,54.

Penerapan hukum
Berdasarkan keseluruhan unsur delik dalam dakwaan yang diajukan oleh Penuntut umum dalam fakta persidangan kasus ini telah memenuhi unsur dan dapat diartikan bahwa tidak ada alasan bagi hakim untuk melepaskan ataupun membebaskan terdakwa. Selain itu Penuntut Umum menerapkan pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUH Pidana dapat diartikan yang bersangkutan tidak sendiri dalam melakukan kejahatan ini.

Keterlibatan Korperasi dan Pegawai Negeri sipil Dinas Kehutanan


Kejahatan korupsi yang terjadi ini bersifat massif dan terstruktur. Secara signifikan dalam keseluruhan fakta persidangan ada banyak celah untuk dapat dikatakan adanya konsfirasi dari korporasi yang terlibat dalam perkara ini pertanyaannya kemudian hingga saat ini belum ada korporasi yang terlibat dalam perkara ini.

Keterlibatan Korperasi dan Pegawai Negeri sipil Dinas Kehutanan


Sementara jika dilihat dari dakwaan ada dimasukkan pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUH Pidana semestinya mereka yang secara bersama menyuruhlakukan melakukan dan turut serta melakukan dapat dilakukan pemeriksaan dan didakwa dalam perkara ini hal ini belum terlihat.

Saksi-Saksi yang dihadirkan


Surakhmat Selaku Ketua Tim Survei RKT PT Merbau Pelalawan Lestari di Pelalawan menyatakan dalam persidangan bahwa hutan yang disurvei tersebut adalah hutan alam Dan saksi dalam melakukan survey tersebut mendapat kan uang dari perusahaan Rp. 400.000,- perhari.

Saksi-Saksi yang dihadirkan


Wahyu Idris Ketua Tim survey RKT PT Rimba Mutira Permai di Pelalawan juga menyampaikan hal yang bahwa hutan yang disurvei tersebut adalah hutan alam yang dalam survey tersebut saksi mendapatkan uang dari perusahaan sekitar 2,5-3,5 juta untuk satu orang.

Saksi-Saksi yang dihadirkan


Amrizal selaku pejabat pengesah laporan hasil produksi Dinas Kehutanan Kabupaten Pelalawan untuk perusahaan PT Triomas FDI tahun 2005-2006 dan tahun 2007 untuk 6 PT Satria Perkasa. saksi juga dalam persidangan menyatakan bahwa hutan yang disahkan tersebut adalah hutan alam dan saksi mendapatkan uang dari perusahaan sebesar satu juta perbulan selama 3 tahun.

Saksi-Saksi yang dihadirkan


Amin Budiadi selaku Kepala dinas Kehutanan Kabupaten Siak Sandra Wibawa Ketua Tim Survei RKT PT Seraya Sumber Lestari di Siak Djamalis selaku pejabat pengesah laporan hasil produksi Dinas Kehutanan Kabupaten Pelelawan Irianto selaku pejabat Pengesah Laporan Hasil produksi Dinas Kehutanan Kabupaten Pelelawan

DAFTAR PUSTAKA
Sumber cetak : Frederickson, George, H. 1984. Administrasi Negara Baru. Terjemahan. Jakarta. LP3ES. Cetakan Pertama. Sumber internet : http://id.shvoong.com/law-and-politics/criminallaw/2246296-pengertian-korupsi-dan-upayapemberantasan/#ixzz2C02K88rO, Diakses pada

tanggal 10 Desember 2012

http://www.scribd.com/doc/89885905/SEJARAH -KORUPSI, Diakses pada tanggal 10 Desember

2012

DAFTAR PUSTAKA
http://www.docstoc.com/docs/5936230/ Agus-Suradika-Korupsi-dan-Kekuasaan,

Diakses pada tanggal 10 Desember 2012 tanggal 10 Desember 2012

http://www.legalitas.org/content/perseling kuhan-birokrasi-dan-korupsi, Diakses pada http://riaucorruptiontrial.files.wordpress.c om/2012/10/korupsi-kehutanan-kasusburhanuddin.pdf, Diakses pada tanggal 15

Desember 2012

Ada yang ditanyakan ?

Kesimpulan
Korupsi adalah kejahatan atau penyimpangan berupa pelanggaran hukum yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya demi kepentingan pribadi, di mana tindakan tersebut menimbulkan kerugian yang besar bagi negara dan masyarakat.

Kesimpulan
Bahwa kejahatan dalam korupsi kehutanan berkaitan dengan perbuatan melawan hukum dalam penerbitan izin Rencana Kerja Tahunan Perusahaan. Bahwa dakwaan dan tuntutan yang telah diajukan oleh penuntut umum dalam perkara ini telah benar dan tepat oleh karena telah dapat dibuktikan dipersidangan.

Kesimpulan
Bahwa tidak ada alasan bagi hakim dalam perkara yang menyidangkan perkara korupsi Burhanuddin untuk melepaskan dan membebaskan Terdakwa oleh karena keseluruhan unsur delik dalam dakwaan dan tuntutan Penuntut Umum telah terbukti. Bahwa keterlibatan Korporasi/ Perusahaan mempunyai andil dalam keterlibatan kejahatan korupsi ini karena telah secara turut serta melakukan kejahatan dengan memohonkan izin diatas hutan alam.

Kesimpulan
Bahwa Keterlibatan PNS dalam rangkaian kejahatan ini telah nyata terlihat dan memastikan bahwa reformasi birokrasi pada dinas Kehutanan belum maksimal.