Anda di halaman 1dari 4

Kelompok No.

Tugas

:171 (Ade Melani 1203000064; Tedi Kurniadi 1203001109) : 08

Social Paradigms and Organisational Analysis 1. Assumptions about the Nature of Social Science
Penulis berargumen bahwa mengkonseptualisasikan ilmu sosial ke dalam empat asumsi yang berkaitan dengan ontology, epistemology, human nature dan methodology merupakan langkah yang tepat. a. Ontology Asumsi dari sebuah sifat ontology adalah asumsi yang memperhatikan esensi dari fenomena yang diamati. b. Epistemology Asumsi dari sebuah sifat epistemology adalah asumsi mengenai dasar dari ilmu pengetahuan, yaitu mengenai bagaimana seseorang mulai memahami dunia dan mengkomunikasikannya sebagai sebuah pengetahuan kepada sesama manusia. c. Human nature Ssumsi mengenai sifat dasar manusia yang dihubungkan dengan asumsi ontology dan epistemology merupakan hubungan antara manusia dengan lingkungannya d. Methodology Implikasi dari ketiga asumsi diatas. Adanya perbedaan asumsi tersebut menyebabkan ilmuwan sosial memiliki metodologi yang berbeda-beda. Penulis memberikan sebuah ilustrasi mengenai pandangan keempat hal asumsi tersebut yang selama ini menjadi bahan perdebatan dalam filosofi sosial.

The Strands of Debate


Subjectivist Nominalism
Pandangan ini menyatakan bahwa dunia sosial terbentuk dari nama, konsep dan label yang digunakan untuk membentuk struktur kenyataan.

Ontological

Objectivist Realism
Pandangan ini menyatakan bahwa dunia sosial terbentuk dari strukturstruktur secara independen tanpa adanya campur tangan manusia.

Anti-positivism
Menyatakan bahwa dunia sosial secara esensial relative dan hanya dapat dipahami dari sudut pandang individu yang secara langsung terlibat dalam aktifitas yang dipelajari.

Epistemological

Positivism
Menjelaskan dan memprediksi apa yang terjadi dalam dunia sosial dengan mencari keteraturan dan hubungan sebab akibat diantara elemen-elemen pokoknya.

Voluntarism
Menganggap manusia memiliki kebebasan dalam melakukan aktifitasnya.

Human Nature

Determinism
Menganggap manusia dan aktifitasnya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dimana dia berada.

Ideographic

Methodological

Nomothetic

Untuk memahami dunia sosial, maka diperlukan pengetahuan mengenai subjek yang sedang dipelajari secara langsung. Bersifat kualitatif.

Menggunakan suatu sample atau data sebagai objek penelitian. Bersifat kuantitatif

Tabel 1. Perdebatan sisi objektif dan subjektif dari keempat asumsi.

Analyzing Assumptions about the Nature of Social Science


Keempat perdebatan tersebut tercermin dalam dua tradisi intelektual utama, yaitu sociological positivism yang mencoba menganggap dunia sosial sebagai lazimya dunia nyata (alam). Tradisi ini mengadaptasi pendekatan realist, posititvist, deterministic dan penggunaan metodologi nomothetic. Sementara, German Idealism merupakan kebalikan dari tradisi sociological positivism. Tradisi ini berdasarkan pernyataan bahwa realita fundamental dunia ada pada semangat dan ide daripada data dari pengertian persepsi. Tradisi ini mengadaptasi pendekatan nominalist, anti-positivist, voluntarist dan penggunaan metodologi ideographic. Namun demikian, selama lebih dari 70 tahun terakhir, telah terjadi interaksi diantara dua tradisi ini, sehingga menimbulkan pandangan yang berada pada keduanya.

2. Assumptions about the Nature of Society


Perbedaan teori cenderung merefleksikan perbedaan perspektif, isu dan masalah dan secara umum berdasarkan sekumpulan asumsi yang menggambarkan pandangan subjek yang sedang diamati.

The Order-Conflict Debate

Perbedaan pendekatan terhadap sosiologi yang dinyatakan oleh Dahrendorf (1959) dan Lockwood (1956) berfokus pada pemisahan antara penjelasan sifat keteraturan sosial dan masalah perubahan, konfik dan penggunaan paksaan dalam struktur sosial. Namun toeri ini semakin ditinggalkan karena menurut Cohen, Dahendorf telah salah dalam menganggap keteraturan dan konflik sebagai sesuatu yang terpisah. Sehingga menurutnya, hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dan terkait antara satu sama lain. Tabel di bawah ini menggambarkan dua teori masyarakat, yaitu keteraturan (order) dan konflik (conflict). Order Stabilitas Integrasi Koordinasi fungsionalitas Konsensus (persetujuan umum) Conflict Perubahan Konflik Disintegrasi Penggunaan paksaan kekerasan

atau

Tabel 2. Dua teori masyarakat: order dan conflict.

Regulation and Radical Change


Istilah sociology of regulation menjelaskan tentang masyarakat yang berfokus terutama pada penekanan kesatuan dan kebersamaan. Teori ini mencoba untuk menjelaskan mengapa masyarakat cenderung untuk tetap bersama daripada terpecah belah. Sedangkan istilah sociology of radical change berfokus pada penjelasan mengenai perubahan radikal, konflik struktural, cara/tipe dominasi dan kontradiksi struktural yang menjadi karakter masyarakat modern. Di bawah ini merupakan tabel yang menggambarkan perbedaan antara

dua teori, yaitu peraturan (regulation) dan perubahan radikal (radical change). Regulation Radical Change Status quo Perubahan radikal Keteraturan sosial Konflik structural Konsensus Cara/tipe dominasi Kesatuan dan kebersamaan sosial Kontradiksi Solidaritas Emansipasi Kepuasan akan kebutuhan Pencabutan (hak) Aktualitas Potensialitas Tabel 3. Dimensi keteraturan dan perubahan radikal. Two Dimensions: Four Paradigms Asumsi tentang sifat ilmu dapat dikaji dari dalam dimensi subjectiveobjective dan asumsi tentang sifat masyarakat dapat dikaji dalam regulation-radical change. Tabel di bawah ini dimensi menggambarkan hubungan antara dua dimensi tersebut untuk menganalisa teori sosial. The Sociology Radical Change Radical humanist Interpretive of The Sociology Of Regulation Radical strukturalist Functionalist

Subjective Objective

Tabel 4. Empat paradigma terhadap analisa teori sosial. The Nature of the Four Paradigms Penulis menyarankan untuk mengamati pekerjaan pada subjek dalam hal keempat asumsi dasar tersebut. Paradigma-paradigma tersebut mendefinisikan empat pandangan dunia sosial berdasarkan asumsi meta-theoretical yang berbeda yang menjadi sifat ilmu masyarakat. Satu hal yang penting untuk ditekankan adalah fakta bahwa keempat paradigma tersebut bersifat mutually-exclusive. Paradigma-paradigma tersebut menawarkan pandangan alternative kenyataan sosial dan memahami semua sifat paradigma tersebut adalah memahami empat pandangan yang berbeda mengenai masyarakat. The Functionalist Paradigm Paradigma ini merepresentasikan sebuah perspektif yang bersumber pada sociology of regulation dan mendekati subjek permasalahan dari sudut pandang objektif. Pendekatan paradigma ini terhadap ilmu sosial cenderung mengasumsikan bahwa dunia sosial tersusun dari hasil empiris yang secara relatif bersifat konkret. Functionalist paradigm telah dipengaruhi oleh elemen dari tradisi idealis Jerman terhadap pemikiran sosial. Pendekatan ini merefleksikan asumsi tentang sifat ilmu sosial yang bertentangan dengan sociological positivism. The Interpretive Paradigm Interpretive Paradigm berfokus pada pemahaman dunia sebagaimana adanya, pemahaman sifat dasar dunia sosial pada tingkat pengalaman subjektif. Pendekatannya terhadap ilmu sosial cenderung nominalist, anti-positivist, voluntarist dan ideographic.

The Radical Humanist Paradigm Radical Humanist Paradigm berfokus pada pengembangan sosiologi perubahan radikal (radical change) dari sebuah pandangan subjectivist. Kecenderungan paradigma ini berada pada pandangan masyarakat sebagai anti-human dan berfokus pada artikulasi cara dimana manusia dapat melebihi ikatan spiritual dan belenggu yang mengikat mereka ke dalam pola sosial yang ada dan hingga mereka menyadari potensi besarnya. The Radical Structuralist Paradigm Teori yang berada dalam paradigma ini menganjurkan sociology of radical change dari sebuah sudut pandang subjectivist. Paradigma ini berfokus pada kesadaran sebagai dasar untuk kritik radikal masyarakat dan hubungan struktural dalam dunia sosial nyata. Terdapat perdebatan dalam paradigma ini dimana salah satu teori berfokus pada kontradiksi internal, sedangkan teori lainnya berfokus pada struktur dan analisa dari kuatnya suatu hubungan. Exploring Social Theory Dalam penjelasan mengenai keempat paradigma ini, bab berikutnya lebih mengetengahkan skema analitikal dan mencoba menunjukkan kekuatan paradigma tersebut sebagai alat untuk mengekplorasi teori sosial. Diharapkan, diskusi ini akan berlaku adil terhadap sifat kompleks utama dari paradigma tersebut dan susunan/hubungan dari asumsi-asumsi tersebut yang akan merefleksikan dan membangun hubungan antara perspektif yang mendominasi analisa sosial saat ini.