Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN R-LAB

Nama NPM Fakultas Program Studi Nomor Percobaan Nama Percobaan Tanggal Percobaan Minggu Percobaan : Harun Al Rasyid : 1206262235 : Teknik : Teknik Industri : KR-01 : Disipasi Kalor Hot Wire : 14 April 2013 : Minggu ke-5

LABORATORIUM FISIKA DASAR UNIT PELAKSANA PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN DASAR (UPP-IPD) UNIVERSITAS INDONESIA 2013

I.

Judul Praktikum

: Disipasi Kalor Hot Wire

II.

Tujuan Praktikum

Menggunakan hot wire sebagai sensor kecepatan aliran udara

III.

Alat dan Bahan

1. Kawat pijar (hot wire) 2. Fan 3. Voltmeter dan amperemeter 4. Adjustable power supply 5. Camrecorder 6. Unit PC beserta DAQ dan perangkat pengendali otomatis

IV.

Teori Dasar

Mari kita bayangkan suatu medan. Sebuah ruang dan kumpulan partikel di dalamnya. Partikel-partikel itu bergerak dengan kecepatan, arah dan besar, yang relative sama. Sekarang, bayangkan ada partikel lain yang bergerak dengan kecepatan berbeda. Suatu saat, partikel itu akan menabrak partikel lain; tabrakan yang bisa beruntun, mungkin juga tubrukan ke semua partikel di ruang itu. Akibat tubrukan adalah timbulnya panas, yang merupakan bentuk energi lain, hasil perubahan dari energi kinetik (gerak). Hukum kekekalan energi berlaku di sini. Secara makro, bisa dikatakan terjadi disipasi panas, fenomena keluarnya panas karena tubrukan atau gesekan, di ruang tersebut. Dewasa ini, banyak pekerjaan menggunakan electro-mechanic (semi otomatis) dengan sistem robotic (full automatic) seperti penggunaan Flexible Manufacturing Systems (FMS) dan Computerized Integrated Manufacture (CIM) dan sebagainya. Model apapun yang digunakan dalam sistem otomasi pemabrikan sangat tergantung kepada keandalan sistem kendali yang berupa sensor atau transduser.

Sensor dan transduser merupakan peralatan atau komponen yang mempunyai peranan penting dalam sebuah sistem pengaturan otomatis. Ketepatan dan kesesuaian dalam memilih sebuah sensor akan sangat menentukan kinerja dari sistem pengaturan secara otomatis. Besaran masukan pada kebanyakan sistem kendali adalah bukan besaran listrik, seperti besaran fisika, kimia, mekanis dan sebagainya. Untuk memakaikan besaran listrik pada sistem pengukuran, atau sistem manipulasi atau

sistem pengontrolan, maka biasanya besaran yang bukan listrik diubah terlebih dahulu menjadi suatu sinyal listrik melalui sebuah alat yang disebut transducer. Dalam memilih peralatan sensor dan transduser yang tepat dan sesuai dengan sistem yang akan disensor maka perlu diperhatikan persyaratan umum sensor berikut ini : (D Sharon, dkk, 1982) Linearitas Ada banyak sensor yang menghasilkan sinyal keluaran yang berubah secara kontinyu sebagai tanggapan terhadap masukan yang berubah secara kontinyu. Sebagai contoh, sebuah sensor panas dapat menghasilkan tegangan sesuai dengan panas yang dirasakannya. Dalam kasus seperti ini, biasanya dapat diketahui secara tepat bagaimana perubahan keluaran dibandingkan dengan masukannya berupa sebuah grafik. Sensitivitas Sensitivitas akan menunjukan seberapa jauh kepekaan sensor terhadap kuantitas yang diukur. Sensitivitas sering juga dinyatakan dengan bilangan yang menunjukan perubahan keluaran dibandingkan unit perubahan masukan. Beberepa sensor panas dapat memiliki kepekaan yang dinyatakan dengan satu volt per derajat, yang berarti perubahan satu derajat pada masukan akan menghasilkan perubahan satu volt pada keluarannya. Sensor panas lainnya dapat saja memiliki kepekaan dua volt per derajat, yang berarti memiliki kepakaan dua kali dari sensor yang pertama. Linieritas sensor juga mempengaruhi sensitivitas dari sensor. Apabila tanggapannya linier, maka sensitivitasnya juga akan sama untuk jangkauan pengukuran keseluruhan. Tanggapan Waktu Tanggapan waktu pada sensor menunjukan seberapa cepat tanggapannya terhadap perubahan masukan. Sebagai contoh, instrumen dengan tanggapan frekuensi yang jelek adalah sebuah termometer merkuri. Masukannya adalah temperatur dan keluarannya adalah posisi merkuri. Misalkan perubahan temperatur terjadi sedikit demi

sedikit dan kontinyu terhadap waktu, seperti tampak pada gambar 1.2(a). Frekuensi adalah jumlah siklus dalam satu detik dan diberikan dalam satuan hertz (Hz). { 1 hertz berarti 1 siklus per detik, 1 kilohertz berarti 1000 siklus per detik]. Pada frekuensi rendah, yaitu pada saat temperatur berubah secara lambat, termometer akan mengikuti perubahan tersebut dengan setia. Single normal probe adalah suatu tipe hotwire yang paling banyak digunakan sebagai sensor untuk memberikan informasi kecepatan aliran dalam arah axial saja. Probe seperti ini terdiri dari sebuah kawat logam pendek yang halus yang disatukan pada dua kawat baja. Masing masing ujung probe dihubungkan ke sebuah sumber tegangan. Energi listrik yang mengalir pada probe tersebut akan didispasi oleh kawat menjadi energi kalor. Besarnya energi listrik yang terdisipasi sebanding dengan tegangan, arus listrik yang mengalir di probe tersebut dan lamanya waktu arus listrik mengalir. P=vi t Bila probe dihembuskan udara maka akan merubah nilai resistansi kawat sehingga merubah besarnya arus listrik yang mengalir. Semakin cepat udara yang mengalir maka perubahan nilai resistansi juga semakin besar dan arus listrik yang mengalir juga berubah. Jumlah perpindahan panas yang diterima probe dinyatakan oleh overheat ratio yang dirumuskan sebagai:

Rw = resistansi kawat pada temperatur pengoperasian (dihembuskan udara). Ra = resistansi kawat pada temperatur ambient (ruangan).

Hot wire probe harus dikalibrasi untuk menentukan persamaan yang menyatakan hubungan antara tegangan kawat (wire voltage, E) dengan kecepatan referensi (reference velocity, U) setelah persamaan diperoleh, kemudian informasi kecepatan dalam setiap percobaan dapat dievaluasi menggunakan persamaan tersebut. Persamaan yang didapat berbentuk persamaan linear atau persamaan polinomial. Perkembangan teknologi yang cepat dalam peralatan penyensoran telah memungkinkan berbagai pengukuran aliran fluida dilakukan dengan berbagai sensor yang memberikan hasil-hasil pengukuran yang akurat. Untuk pengukuran berbagai aliran turbulen, salah satu jenis sensor yang banyak digunakan adalah hot-wire anemometer. Sebelum digunakan dalam pengukuran aliran, hot-wire anemometer harus dikalibrasi untuk menentukan suatu persamaan respon kalibrasi yang menyatakan suatu hubungan antara tegangan kawat (wire voltage, E) dengan kecepatan referensi (reference velocity, U). Setelah persamaan respon kalibrasi tersebut diperoleh, kemudian informasi kecepatan dalam setiap percobaan utama dapat dievaluasi dengan menggunakan persamaan respon tersebut. Ada beberapa bentuk persamaan respon kalibrasi, diantaranya adalah persamaan simple powerlaw [1] dan persamaan extended power-law [2] yang dapat digunakan dalam konversi data. Setiap persamaan respon ini memiliki keakurasian yang dihubungkan dengan curve fit yang dihasilkan pada suatu rentang kecepatan exit yang digunakan untuk setiap percobaan. Keakurasian persamaan respon kalibrasi tersebut ditentukan oleh nilai optimum konstanta pangkat yang dipilih untuk menghasilkan suatu curve fit yang baik. Sehubungan dengan keakurasian curve fit dari persamaan respon kalibrasi tersebut, beberapa peneliti [3, 4, 5] telah mengkaji keakurasian curve fit dari persamaan simple power-law dengan rentang kecepatan referensi atau kecepatan exit yang berbeda-beda untuk menghasilkan nilai optimum konstanta pangkat selain nilai optimum (nopt = 0.5) yang disarankan oleh King [1]. King menggunakan rentang kecepatan exit moderat dari 1020 meter/detik, sementara Collis dan Williams [4,1] menyarankan nilai optimum konstanta pangkat sebesar 0.45 dengan rentang 0.02 < Re < 44 untuk menghasilkan suatu curve fit yang baik. Berbeda dengan para peneliti sebelumnya, Bruun [3] dan Swaminathan, Bacic et al.[5] menyarankan nilai optimum sebesar 0.4 0.45 pada kecepatan exit moderat tersebut digunakan untuk persamaan simple power-law. Lebih jauh, penelitian awal yang dilakukan oleh Bruun dan Tropea [6] menjelaskan bahwa persamaan extended power-

law oleh Siddall dan Davies (1972) tidak mampu memberikan suatu curve fit yang lebih akurat dibandingkan curve fit dari persamaan simple power-law bahkan untuk suatu rentang kecepatan exit yang besar [6,2]. Mempertimbangkan permasalahan pemilihan persamaan respon kalibrasi untuk rentang kecepatan exit yang berbeda-beda tersebut, studi ini bertujuan untuk menguji keakurasian curve fit kedua persamaan respon tersebut dengan suatu rentang kecepatan exit yang lebih besar. Selanjutnya, hasil pengujian yang diperoleh digunakan sebagai referensi pemilihan persamaan respon kalibrasi yang tepat dalam pengukuran aliran jet terpulsasi. Peningkatan akurasi persamaan respon yang dipilih dapat dilakukan dengan menggunakan metode look-up table [7]. Parameter-parameter yang dievaluasi meliputi normalized standard deviation, u dan sum of errors squared (SES). Kalibrasi dilakukan pada single normal hot-wire probe untuk pengukuran kecepatan satu komponen (axial velocity). Sistem hot-wire anemometer yang digunakan meliputi sebuah single normal hotwire probe, DISA 55M01 main unit, 55M11 CTA booster adapter, dan 55M05 power pack. Probe yang digunakan dioperasikan dalam suatu mode temperatur konstan untuk menyediakan respon frekuensi yang lebih tinggi. Dalam mode temperatur konstan, resistansi kawat, Rw dipertahankan konstan untuk memfasilitasi respon sesaat dari sensor inersia termal terhadap berbagai perubahan dalam kondisi aliran. Kawat pada probe adalah suatu kawat single normal yang terbuat dari material Sigmond Cohn alloy 851 (79%Pt, 15%Rh, and 6%Ru) yang disatukan pada prong dengan teknik pengelasan titik yang dilakukan di Mechanical Instrument Laboratory, the University of Queensland. Kawat probe ini memiliki kekuatan tarik maksimum, koefisien temperature dari resistivity, 20, dan resistivity, 20, masing-masing sebesar 1.724x106 kPa, 0.7x103 oC-1, dan 30x106 -cm. Panjang kawat, l adalah 2 mm dengan diameter, dw berukuran 10.16 m. Pada percobaan yang akan dilakukan yaitu mengukur tegangan kawat pada temperatur ambient dan mengukur tegangan kawat bila dialiri arus udara dengan kecepatan yang hasilkan oleh fan. Kecepatan aliran udara oleh fan akan divariasikan melalui daya yang diberikan ke fan yaitu 70 , 110 , 150 dan 190 dari daya maksimal 230 m/s.

Ada beberapa ekspresi persamaan respon kalibrasi, diantaranya adalah persamaan simple power-law dan persamaan extended power-law yang dapat digunakan dalam konversi data. Setiap persamaan respon ini memiliki keakurasian yang dihubungkan dengan curve fit yang dihasilkan pada suatu rentang kecepatan exit yang digunakan untuk setiap percobaan. Keakurasian persamaan respon kalibrasi tersebut ditentukan oleh nilai optimum konstanta pangkat yang dipilih untuk menghasilkan suatu curve fit yang baik. Sehubungan dengan keakurasian curve fit dari persamaan respon kalibrasi tersebut, beberapa peneliti telah mengkaji keakurasian curve fit dari persamaan simple power-law dengan rentang kecepatan referensi atau kecepatan exit yang berbedabeda untuk menghasilkan nilai optimum konstanta pangkat. Kalibrasi dilakukan pada single normal hot-wire probe untuk pengukuran kecepatan satu komponen (axial velocity). Sistem Hot-wire Anemometer dan Spesifikasi Single-Normal Hot-wire Probe Sistem hot-wire anemometer yang digunakan meliputi sebuah single normal hotwire probe, DISA 55M01 main unit, 55M11 CTA booster adapter, dan 55M05 power pack. Probe yang digunakan dioperasikan dalam suatu mode temperatur konstan untuk menyediakan respon frekuensi yang lebih tinggi. Dalam mode temperatur konstan, resistansi kawat, Rw dipertahankan konstan untuk memfasilitasi respon instantaneous dari inersia termal sensor terhadap berbagai perubahan dalam kondisi aliran.

Single normal hot wire sensor Kawat pada probe adalah suatu kawat single normal yang terbuat dari material Sigmond Cohn alloy 851 (79%Pt, 15%Rh, and 6%Ru). Kawat probe ini memiliki kekuatan tarik maksimum, koefisien temperatur dari resistivity dan resistivity masing-

masing sebesar 1.724x106 kPa, 0.7x10-3 oC-1, dan 30x106 cm. Panjang kawat adalah 2 mm dengan diameter, dw berukuran 10.16 m sebagaimana diilustrasikan dalam gambar. Ada tiga macam metode yang dapat digunakan dalam pengoperasian hotwire, yaitu constant current anemometer (CCA), constant temperature anemometer (CTA), dan constant voltage anemometer (CVA). Prinsip CTA adalah mempertahankan suhu konstan di atas suhu lingkungan. Daya atau panas yang dibutuhkan untuk mempertahankan suhu sensor agar konstan digunakan untuk menghitung keceptan angin. Untuk Constant Current Anemometer (CCA) perubahan kecepatan angin tergantung nilai resistansi sensor dan daya yang diberikan pada sensor selalu tetap. Keuntungan metode ini adalah distorsi elektronik sangan kecil terutama pada frekuensi yang sangat tinggi dan respon suhu tegangan yang linear. Sedangkan CVA adalah metoda yang saat ini sedang dikembangkan, dimana prinsip CVA sangat dipengaruhi oleh tegangan yang mengalir melalui kawat.

Gambar 3.2 Metode CTA

Gambar 3.3 Metode CCA

Gambar 3.4 Metode CVA

V.

Prosedur Percobaan

1. 2.

Mengaktifkan Web cam. (klik icon video pada halaman web r-Lab) Memberikan aliran udara dengan kecepatan 0 m/s , dengan mengklik pilihan drop down pada icon atur kecepatan aliran.

3.

Mengidupkan motor pengerak kipas dengan mengklik radio button pada icon menghidupkan power supply kipas.

4.

Tegangan dan Arus listrik diukur di kawat hot wire dengan cara mengklik

icon ukur.

5. Mengulang langkah 2 hingga 4 untuk kecepatan 70 , 110 , 150 , 190 dan 230 m/s

VI.

Pengolahan Data dan Evaluasi Data Pengamatan

Pengamatan I, v = 0 m/s

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

t (s) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

v (m/s) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

V (volt) 2.112 2.112 2.112 2.112 2.113 2.113 2.113 2.113 2.111 2.111

I (ampere) 54.2 54.0 54.0 53.9 53.9 53.9 53.9 53.9 53.9 53.9

V (volt) 2.5 2.45 2.4 2.35 2.3 2.25 2.2 2.15 2.1 2.05 2 1 2

Grafik Tegangan versus Waktu

10

t (s)

Pengamatan II, v = 70 m/s

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 V (volt) 2.5 2.45 2.4 2.35 2.3 2.25 2.2 2.15 2.1 2.05 2 1 2

t (s) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

v (m/s) 70 70 70 70 70 70 70 70 70 70

V (volt) 2.068 2.066 2.066 2.068 2.068 2.067 2.067 2.07 2.068 2.07

I (ampere) 55 55.1 55.2 55.3 55.4 55.6 55.7 55.7 55.8 55.6

Grafik Tegangan versus Waktu

10

t (s)

Pengamatan III, v = 110 m/s No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 t (s) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 v (m/s) 110 110 110 110 110 110 110 110 110 110 V (volt) 2.047 2.047 2.047 2.048 2.049 2.047 2.047 2.047 2.046 2.047 I (ampere) 56.1 56.2 56 55.7 55.3 54.8 54.6 54.4 54.3 54.5

V (volt) 2.5 2.45 2.4 2.35 2.3 2.25 2.2 2.15 2.1 2.05 2 1 2

Grafik Tegangan versus Waktu

t (s) 3 4 5 6 7 8 9 10

Pengamatan IV, v = 150 m/s No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 t (s) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 v (m/s) 150 150 150 150 150 150 150 150 150 150 V (volt) 2.04 2.041 2.04 2.04 2.04 2.041 2.039 2.041 2.04 2.041 I (ampere) 54.5 54.9 55.6 56.2 56.4 56.1 55.5 54.9 54.5 54.4

V (volt) 2.5 2.45 2.4 2.35 2.3 2.25 2.2 2.15 2.1 2.05 2 1 2

Grafik Tegangan versus Waktu

t (s) 3 4 5 6 7 8 9 10

Pengamatan V, v = 190 m/s No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 V (volt) 2.5 2.45 2.4 2.35 2.3 2.25 2.2 2.15 2.1 2.05 2 1 2 t (s) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 v (m/s) 190 190 190 190 190 190 190 190 190 190 V (volt) 2.036 2.036 2.036 2.036 2.036 2.037 2.036 2.036 2.036 2.036 I (ampere) 55.5 55.9 56.3 56.5 56.4 56.1 55.8 55.2 54.8 54.5

Grafik Tegangan versus Waktu

10

t (s)

Pengamatan VI, v = 230 m/s No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 t (s) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 v (m/s) 230 230 230 230 230 230 230 230 230 230 V (volt) 2.034 2.034 2.034 2.033 2.034 2.033 2.033 2.033 2.034 2.034 I (ampere) 56.6 56.1 55.4 54.9 54.6 54.5 54.6 54.7 54.9 55.3

V (volt) 2.5 2.45 2.4 2.35 2.3 2.25 2.2 2.15 2.1 2.05 2 1 2

Grafik Tegangan versus Waktu

10

t (s)

Pengolahan Data

v (m/s) 0 70 110 150 190 230

V rata-rata (volt) 2.1122 2.0678 2.0472 2.0403 2.0361 2.0336

Grafik Tegangan rata-rata terhadap Kecepatan angin


2.12

2.1

Vrata-rata (volt)

2.08

y = -0.14x + 0.30

2.06

2.04

2.02

2 0 50 100 150 200 250

v (m/s)

Tabel Least Square, x 0 70 110 150 190 230 y 2.1122 2.0678 2.0472 2.0403 2.0361 2.0336 x2 0 4900 12100 22500 36100 52900 128500 y2 4.4614 4.2758 4.1910 4.1628 4.1457 4.1355 25.372 xy 0 144.74 225.19 306.04 386.86 467.72 1530.6

750 12.337 Perhitungan Least Square, ( )( ( )( ( )( ) ( ) ) ) ( ( )( )(

) )

)( )( )(

( )( ( ) ) ( ) (

( (

)( )(

) )

Jadi, persamaan tegangan hot wire sebagai fungsi kecepatan angin adalah y = -0.14x + 0.30 y = tegangan (volt) x = kecepatan angin (m/s)

( ( (

)(

) (

)( )

)( ) )

( )

Tingkat Kesalahan Relatif = | |

= 7.14%

VII. Analisis Data dan Hasil Percobaan Bagian ini merupakan bagian analisis dari percobaan Disipasi Kalor Hotwire yang telah praktikan lakukan sebelumnya pada R-Lab. Analisis ini meliputi analisis percobaan, hasil, dan grafik. Pada bagian analisis percobaan, akan dijelaskan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi hasil atau data pengamatan selama percobaan berlangsung. Pada bagian analisis hasil, akan dianalisis data-data pengamatan dan telah diolah pada pengolahan data yang merupakan hasil dari percobaan, apakah data-data tersebut sudah sesuai dengan literatur yang telah praktikan pelajari sebelumnya atau belum akan dianalisis pula kesalahan-kesalahan yang terjadi selama percobaan berlangsung. Selain itu tujuan percobaan akan diketahui apakah telah terpenuhi atau tidak. Pada bagian analisis grafik, grafik yang merupakan hasil dari data pengamatan akan dicoba untuk dianalisis. Dari analisis grafik tersebut, akan diketahui besar kesalahan relatif yang terdapat pada data-data pengamatan hasil percobaan. Pada percobaan kali ini, praktikan melakukan percobaan R-Lab dimana praktikum dilakukan secara remote. Praktikan dapat mengakses percobaan yang diperlukana melalui sebuah komputer dengan bantuan jaringan internet. Salah satu

kelemahan dari percobaan dengan system R-Lab adalah praktikan tidak mengetahui kondisi lingkungan di sekitar lingkungan percobaan. Padahal perbedaan waktu dalam melakukan percobaan sangat mempengaruhi hasil percobaan. Data menjadi kurang akurat karena percobaan dilakukan pada system (lingkungan) yang berbeda. Selain itu, hal-hal seperti putusnya koneksi internet saat berlangsungnya percobaan sangat mempengaruhi hasil percobaan. Untuk mengetahui apakah hot wire dapat digunakan sebagai sensor kecepatan aliran udara, sistem R-Lab meletakkan hot wire satu lingkungan dengan sebuah alat penghasil kecepatan udara, dalam kasus ini fan. Fan digunakan karena dapat diatur variavel kecepatan aliran udara, dan juga stabil dalam menghasilkan udara sehingga pengukuran kecepatan dapat akuran dan aliran angin berada pada keadaan standard. Untuk membuat alliran angin setimbang antara fan dan hot wire, digunakan selang penghubung di dalam sistem R-Lab sehingga data yang diambil seakurat mungkin. Voltmeter dan Amperemter juga digunakan sebagai alat ukur variabel tegangan dan arus. Single normal probe dan Tabung Pitot diletakkan tegak lurus terhadap arah aliran dengan menggunakan angle calibrator kira-kira 1 diameter downstream di depan aparatus steady jet. Jarak antara probe dan Tabung Pitot adalah 4 mm untuk menghindari efek interferensi aliran antara satu sama lain. Posisi 1 diameter ini untuk memfasilitasi intensitas turbulensi yang rendah dan proses ekuilisasi antara tekanan statis, ps dan tekanan atmosfer, patm [9,7]. Rentang kecepatan exit yang digunakan adalah dari 2 sampai dengan 80 meter/ detik untuk memberikan kecepatan exit maksimum melebihi 50 meter/detik sebagaimana diharapkan untuk kecepatan exit pada aliran jet terpulsasi. Rentang kecepatan exit ini dibagi menjadi 10 kecepatan exit yang berbeda yang berselisih sama untuk setiap dua kecepatan yang berurutan. Heater dan pulsed jet nozzle. Saat melakukan prosedur percobaan, terdapat beberapa gejala fisis yang memengaruhi data pengamatan hasil percobaan. Gejala-gejala fisis tersebut adalah: Perubahan kondisi lingkungan setiap kali percobaan dilangsungkan pada waktu yang berbeda. Praktikan tidak dapat menentukan kondisi seperti apa yang dapat menghasilkan data pengamatan yang tepat ataupun akurat. Praktikan juga tidak mengetahui waktu yang tepat untuk melakukan percobaan. Pada percobaan ini,

praktikan diberi kebebasan untuk melakukan percobaan kapan saja, entah itu siang, dimana suhu lingkungan tinggi; entah itu malam ataupun pagi, dimana suhu lingkungan saat itu lebih rendah dibandingkan suhu lingkungan pada siang hari. Pada percobaan Disipasi Kalor Hot Wire ini dilakukan enam kali percobaan dengan kecepatan aliran fan yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh waktu terhadap tegangan pada hot wire pada kecepatan tertentu dan bagaimana pengaruh waktu terhadap tegangan rata. Tegangan di dalam kawat akan menghasilkan energi listrik yang akan didisipasi oleh kawat menjadi energi kalor sehingga kawat akan menjadi panas. Kalor tersebut nantinya digunakan untuk mempertahankan suhu sensor agar konstan guna menghitung kecepatan angin dalam percobaan tersebut. Sedangkan perubahan kecepatan angin tergantung nilai resistansi sensor. Selain itu, percobaan ini juga dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antara kecepatan aliran udara dengan arus listrik. Ketika udara dihembuskan kepada probe, maka nilai resistansi kawat akan berubah sehingga mengubah besarnya nilai arus listrik yang mengalir. Semakin cepat udara mengalir, maka perubahan nilai arus listrik yang mengalir berubah dan nilai resistansi menjadi semakin besar. Dari hasil yang diperoleh, didapat nilai tingkat kesalahan relatif adalah 7.14%. Hal ini menunjukkan bahwa data yang diperoleh raktikan cukup baik karena kesalahan relatif yang kurang dari 25% walau tidak terlalu akurat. Ketidakakuratan data yang yang diperoleh praktikan dapat disebabkan oleh beberapa hal yang telah dijelaskan sebelumnya. Grafik tegangan terhadap waktu menunjukkan hubungan antara tegangan dan waktu yang diberikan pada kecepatan angin yang berbeda-beda sesuai dengan prosedur percobaan. Pada grafik ini, waktu berfungsi sebagai variabel X dan tegangan didefinisikan sebagai variabel Y menunjukkan bahwa kecepatan angin yang diberikan oleh fan tetap, sehingga semakin lama angin bertiup maka energi kalor menjadi lebih kecil. Jadi nilai dari tegangan listrik akan menjadi lebih kecil seiring dengan penambahan waktu yang ada. Penurunan ini terjadi karena ada disipasi dari kalor hotwire yang terjadi pada kecepatan angin tertentu.

Pada grafik kedua hubungan kecepatan aliran angin dengan tegangan, praktikan mendapat juga suatu perbandingan negatif antara tegangan dan kecepatan aliran angin. Hampir sama dengan hubungan waktu, grafik ini memperlihatkan bahwa semakin besar kecepatan aliran angin, maka akan makin menurun tegangan listrik. Untuk grafik hubungan ini, praktikan membuat dua grafik yang keduanya menggambarkan hubungan kecepatan aliran angin dengan tegangan kawat hot wire dengan konteks grafik yang berbeda. Pada grafik yang pertama menghubungkan tegangan dengan masing-masing kecepatan aliran angin dan grafik kedua

menghubungkan dengan kecepatan rata-rata.

VIII. 1.

Kesimpulan

Hot wire dapat digunakan sebagai sensor kecepatan aliran udara dengan cara menggunakan kawat sebagai sensor. Cara kerjanya dengan masing-masing ujung hotwire dihubungkan ke sebuah sumber tegangan supaya energi listrik dapat mengalir pada hotwire tersebut. Energi listrik ini akan didisipasi oleh hotwire menjadi kalor. Kalor tersebut untuk mempertahankan suhu sensor agar konstan guna menghitung kecepatan angin.

2.

Grafik menunjukkan bahwa nilai tegangan semakin kecil pada kecepatan angin yang semakin besar. Hal ini disebabkan karena semakin besar angin yang diberikan, maka gradian temperature yang melewati probe pun juga semakin besar sehingga menyebabkan kehilangan kalor yang lebih besar.

3.

Persamaan linear y = mx + b yang ada pada grafik umumnya m bernilai negatif yang menunjukkan bahwa nilai y dari percobaan tersebut semakin lama semakin kecil seiring dengan penambahan nilai x.

4. 5.

Semakin besar kecepatan angin, semakin kecil tegangan yang akan dihasilkan. Resistansi yang semakin besar dalam tegangan yang digunakan akan semakin besar sesuai dengan penambahan kecepatan angin yang ada.

6.

Energi listrik yang dihasilkan oleh tegangan dan arus dan perubahan suhu yang terjadi mengakibatkan energi kalor pada hotwire.

IX. 1. 2.

Referensi Giancoli, D.C.; Physics for Scientists & Engeeners, Third Edition, Prentice Hall, NJ, 2000. Halliday, Resnick, Walker; Fundamentals of Physics, 7th Edition, Extended Edition, John Wiley & Sons, Inc., NJ, 2005.