Anda di halaman 1dari 7

Sabtu, 17 Juli 2010 00:00 Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam MENINJAU RITUAL MALAM NISHFU SYABAN Segala

puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Di sebagian kalangan masyarakat masih tersebar ritual-ritual di malam Nishfu Syaban, entah dengan shalat atau berdoa secara berjamaah. Sebenarnya amalan ini muncul karena dorongan yang terdapat dalam berbagai hadits yang menceritakan tentang keutamaan malam tersebut. Lalu bagaimanakah derajat hadits yang dimaksud? Benarkah ada amalan tertentu ketika itu? Semoga tulisan kali ini bisa menjawabnya. Meninjau Hadits Keutamaan Malam Nishfu Syaban Penulis Tuhfatul Ahwadzi (Abul Alaa Al Mubarokfuri) telah menyebutkan satu per satu hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Syaban. Awalnya beliau berkata, Ketahuilah bahwa telah terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan malam Nishfu Syaban, keseluruhannya menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-nya (landasannya). Lalu beliau merinci satu per satu hadits yang dimaksud. Pertama: Hadits Abu Musa Al Asyari, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya'ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya. (HR. Ibnu Majah no. 1390). Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata, Hadits ini munqothi (terputus sanadnya). [Berarti hadits tersebut dhoif]. Kedua: Hadits Aisyah, ia berkata,

" : : " " : : " "

Suatu saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam, beliau shalat dan memperlama sujud sampai aku menyangka bahwa beliau telah tiada. Tatkala aku memperhatikan hal itu, aku bangkit sampai aku pun menggerakkan ibu jarinya. Beliau pun bergerak dan kembali. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan merampungkan shalatnya, beliau mengatakan, Wahai Aisyah (atau Wahai Humairo), apakah kau sangka bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah mengkhianatimu? Aku menjawab, Tidak, demi Allah. Wahai Rasulullah, akan tetapi aku sangka engkau telah tiada karena sujudmu yang begitu lama. Beliau berkata kembali, Apakah engkau tahu malam apakah ini? Aku menjawab, Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau berkata, Malam ini adalah malam Nishfu Syaban. Sesungguhnya Allah azza wa jalla turun pada hamba-Nya pada malam Nishfu Syaban, lantas Dia akan memberi ampunan ampunan pada orang yang meminta ampunan dan akan merahmati orang yang memohon rahmat, Dia akan menjauh dari orang yang pendendam. Dikeluarkan oleh Al Baihaqi. Ia katakan bahwa riwayat ini mursal jayyid. Kemungkinan pula bahwa Al Alaa mengambilnya dari Makhul. [Hadits mursal adalah hadits yang dhoif karena terputus sanadnya] Ketiga: Hadits Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,


Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nishfu Syaban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.Al Mundziri dalam At Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, Dikeluarkan oleh At Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al Asyari. Al Bazzar dan Al Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu anhu dengan sanad yang tidak mengapa. Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, Pada sanad hadits Abu Musa Al Asyari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahiah dan dia dinilai dhoif. [Hadits ini adalah hadits yang dhoif] Keempat: Hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Allah azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam Nishfu Syaban, Dia mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa. Al Mundziri mengatakan, Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif/ dijarh, namun haditsnya masih dicatat). [Berarti hadits ini bermasalah].

Kelima: Hadits Makhul dari Katsir bin Murroh, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda di malam Nishfu Syaban,


Allah azza wa jalla mengampuni penduduk bumi kecuali musyrik dan orang yang bermusuhan. Al Mundziri berkata, Hadits ini dikeluarkan oleh Al Baihaqi, hadits ini mursal jayyid. [Berarti dhoif karena haditsnya mursal, ada sanad yang terputus]. Al Mundziri juga berkata, Dikeluarkan pula oleh Ath Thobroni dan juga Al Baihaqi dari Makhul, dari Abu Tsalabah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Allah mendatangi para hamba-Nya pada malam Nishfu Syaban, Dia akan mengampuni orang yang beriman dan menangguhkan orang-orang kafir, Dia meninggalkan orang yang pendendam. Al Baihaqi mengatakan, Hadits ini juga antara Makhul dan Abu Tsalabah adalah mursal jayyid. [Berarti hadits ini pun dhoif]. Keenam: Hadits Ali radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Apabila malam nisfu Sya'ban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: "Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit fajar. Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin Abdillah bin Muhammad bin Abi Saburoh Al Qurosyi Al Aamiri Al Madani. Ada yang menyebut namanya adalah Abdullah, ada yang mengatakan pula Muhammad. Disandarkan pada kakeknya bahwa ia dituduh memalsukan hadits, sebagaimana disebutkan dalam At Taqrib. Adz Dzahabi dalam Al Mizan mengatakan, Imam Al Bukhari dan ulama lainnya mendhoifkannya. Anak Imam Ahmad, Abdullah dan Sholih, mengatakan dari ayahnya, yaitu Imam Ahmad berkata, Dia adalah orang yang memalsukan hadits. An Nasai mengatakan, Ia adalah perowi yang matruk (dituduh dusta). [Berarti hadits ini di antara maudhu dan dhoif] Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, Haditshadits ini dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam Nishfu Syaban . Wallahu Taala alam.[1]

Keterangan Ulama Mengenai Kelemahan Hadits Keutamaan Malam Nishfu Syaban Ibnu Rajab di beberapa tempat dalam kitabnya Lathoif Al Maarif memberikan tanggapan tentang hadits-hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Syaban. Pertama: Mengenai hadits Ali tentang keutamaan shalat dan puasa Nishfu Syaban, Ibnu Rajab mengatakan bahwa hadits tersebut dhoif.[2] Kedua: Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, Hadits yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Syaban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhoifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.[3] [Tanggapan kami, Ibnu Hibban adalah di antara ulama yang dikenal mutasahil, yaitu orang yang bergampang-gampangan dalam menshahihkan hadits. Sehingga penshahihan dari sisi Ibnu Hibban perlu dicek kembali.] Ketiga: Mengenai menghidupkan malam Nishfu Syaban dengan shalat malam, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, Mengenai shalat malam di malam Nishfu Syaban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabiin (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nishfu Syaban dengan shalat.[4] Ada tanggapan bagus pula dari ulama belakangan, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Daimah (komisi fatwa di Saudi Arabia). Beliau rahimahullah mengatakan, Hadits yang menerangkan keutamaan malam nishfu Syaban adalah hadits-hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun hadits yang menerangkan mengenai keutamaan shalat pada malam nishfu syaban, semuanya adalah berdasarkan hadits palsu (maudhu). Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.[5] Begitu juga Syaikh Ibnu Baz menjelaskan, Hadits dhoif barulah bisa diamalkan dalam masalah ibadah, jika memang terdapat penguat atau pendukung dari hadits yang shahih. Adapun untuk hadits tentang menghidupkan malam nishfu syaban, tidak ada satu dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk hadits yang lemah tadi.[6] Memang sebagian ulama ada yang menshahihkan sebagian hadits yang telah dibahas oleh penulis Tuhfatul Ahwadzi. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menshahihkan hadits Abu Musa Al Asyari di atas. Beliau rahimahullah menyatakan bahwa hadits tersebut shahih karena diriwayatkan dari banyak sahabat dari berbagai jalan yang saling menguatkan, yaitu dari sahabat Muadz bin Jabal, Abu Tsalabah Al Khusyani, Abdullah bin Amru, Abu Musa Al Asyari, Abu Hurairah, Abu Bakr Ash Shifdiq, Auf bin Malik dan Aisyah. Lalu beliau rahimahullah perinci satu per satu masing-masing riwayat.[7]

Namun sebagaimana dijelaskan oleh Abul Alaa Al Mubarakfuri, hadits Abu Musa Al Asyari adalah munqothi (terputus sanadnya). Hadits yang semisal itu pula tidak lepas dari kedhoifan. Sehingga kami lebih cenderung pada pendapat yang dipegang oleh penulis Tuhfatul Ahwadzi tersebut. Ini serasa lebih menenangkan karena dipegang oleh kebanyakan ulama. Itulah mengapa beliau, penulis Tuhfatul Ahwadzi memberi kesimpulan terakhir bahwa tidak ada hadits yang shahih yang membicarakan keutamaan bulan Syaban. Wallahu alam bish showab. Pendapat Ulama Mengenai Menghidupkan Malam Nishfu Syaban Mayoritas fuqoha berpendapat dianjurkannya menghidupkan malam nishfu syaban. Dasar dari hal ini adalah hadits dhoif yang telah diterangkan di atas, yaitu dari Abu Musa Al Asyari, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam nishfu Sya'ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya. (HR. Ibnu Majah no. 1390). Dan juga beberapa hadits dhoif lainnya jadi pegangan semacam hadits dari Ali bin Abi Tholib. Imam Al Ghozali menjelaskan tata cara tertentu dalam menghidupkan malam nishfu syaban dengan tata cara yang khusus. Namun ulama Syafiiyah mengingkari tata cara yang dimaksudkan, ulama Syafiiyah menganggapnya sebagai bidah qobihah (bidah yang jelek). Sedangkan Ats Tsauri mengatakan bahwa shalat Nishfu Syaban adalah bidah yang dibuat-buat yang qobihah (jelek) dan mungkar. Mayoritas fuqoha memakruhkan menghidupkan malam nishfu Syaban secara berjamaah. Ada pendapat yang tegas dari ulama Hanafiyah dan Malikiyah dalam hal ini, mereka menganggap menghidupkan malam Nishfu Syaban secara berjamaah adalah bidah. Para ulama yang juga melarang hal ini adalah Atho ibnu Abi Robbah, dan Ibnu Abi Malikah. Adapun Al Auzai, beliau berpendapat bahwa menghidupkan malam nishfu syaban secara berjamaah dengan shalat jamaah di masjid adalah suatu yang dimakruhkan. Alasannya, menghidupkan dengan berjamaah semacam ini tidak dinukil dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan tidak pula dari seorang sahabat pun. Sedangkan Kholid bin Midan, Luqman bin Amir, Ishaq bin Rohuyah menyunnahkan menghidupkan malam nishfu syaban secara berjamaah.[8]

Apabila kita melihat dari berbagai pendapat di atas, jika ulama tersebut menganggap dianjurkannya menghidupkan malam Nishfu Syaban, maka ada dua cara untuk menghidupkannya. Pertama, dianjurkan menghidupkan secara berjamaah di masjid dengan melaksanakan shalat, membaca kisah-kisah atau berdoa. Menghidupkan malam Nishfu Syaban semacam ini terlarang menurut mayoritas ulama. Kedua, dianjurkan menghidupkan malam Nishfu Syaban, namun tidak secara berjamaah, hanya seorang diri. Inilah pendapat salah seorang ulama negeri Syam, yaitu Al Auzai. Pendapat ini dipilih pula oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Lathoif Al Maarif.[9] Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat Nishfu Syaban, beliau rahimahullah menjawab, Jika seseorang shalat pada malam nishfu syaban sendiri atau di jamaah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 rakaat, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bidah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.[10] Ibnu Taimiyah juga mengatakan, Adapun tentang keutamaan malam Nishfu Syaban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melakukan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada contohnya di masa lalu dari beberapa ulama salaf. Inilah dijadikan sebagai hujjah sehingga tidak perlu diingkari.[11] Setelah menyebutkan perkataan Ibnu Rajab dalam Lathoif Al Maarif, Syaikh Abdul Aziz bin Baz pun lantas mengomentari pendapat Al Auzai dan Ibnu Rajab. Beliau rahimahullah mengatakan, Dalam perkataan Ibnu Rajab sendiri terdapat kata tegas bahwa tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu anhum yang shahih tentang malam Nishfu Syaban. Adapun pendapat yang dipilih oleh Al Auzai rahimahullah mengenai dianjurkannya ibadah sendirian (bukan berjamaah) dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Rajab, maka ini adalah pendapat yang aneh dan lemah. Karena sesuatu yang tidak ada landasan dalilnya sama sekali, maka tidak boleh bagi seorang muslim mengada-adakan suatu ibadah ketika itu, baik secara sendiri atau berjamaah, baik pula secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.[12] Malam Nishfu Syaban Sama Seperti Malam Lainnya Dalam masalah ini, jika memang kita memilih pendapat mayoritas ulama yang berpendapat bolehnya menghidupkan malam nishfu syaban, maka sebaiknya tidak dilakukan secara berjamaah baik dengan shalat ataupun dengan membaca secara berjamaah doa malam nishfu syaban. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.

Sedangkan bagaimanakah menghidupkan malam tersebut secara sendiri-sendiri atau dengan jamaah tersendiri? Jawabnya, sebagian ulama membolehkan hal ini. Namun yang lebih menenangkan hati kami, tidak perlu malam Nishfu Syaban diistimewakan dari malam-malam lainnya. Karena sekali lagi, dasar yang dibangun dalam masalah keutamaan malam nishfu Syaban dan shalatnya adalah dalil-dalil yang lemah atau hanya dari riwayat tabiin saja, tidak ada hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan atsar sahabat yang shahih yang menerangkan hal ini. Jadi di sini bukan maksud kami adalah tidak perlu melaksanakan shalat di malam Nishfu Syaban. Bukan sama sekali. Maksud kami adalah jangan khususkan malam Nishfu Syaban lebih dari malam-malam lainnya. Perkataan yang amat bagus dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, beliau rahimahullah mengatakan, Malam Nishfu Syaban sebenarnya seperti malam-malam lainnya. Janganlah malam tersebut dikhususkan dengan shalat tertentu. Jangan pula mengkhususkan puasa tertentu ketika itu. Namun catatan yang perlu diperhatikan, kami sama sekali tidak katakan, Barangsiapa yang biasa bangun shalat malam, janganlah ia bangun pada malam Nishfu Syaban. Atau barangsiapa yang biasa berpuasa pada ayyamul biid (tanggal 13, 14, 15 H), janganlah ia berpuasa pada hari Nishfu Syaban (15 Hijriyah). Ingat, yang kami maksudkan adalah janganlah mengkhususkan malam Nishfu Syaban dengan shalat tertentu atau siang harinya dengan puasa tertentu.[13] Dalam hadits-hadits tentang keutamaan malam Nishfu Syaban disebutkan bahwa Allah akan mendatangi hamba-Nya atau akan turun ke langit dunia. Perlu diketahui bahwa turunnya Allah di sini tidak hanya pada malam Nishfu Syaban. Sebagaimana disebutkan dalam Bukhari-Muslim bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap 1/3 malam terakhir, bukan pada malam Nishfu Syaban saja. Oleh karenanya, sebenarnya keutamaan malam Nishfu Syaban sudah masuk pada keumuman malam, jadi tidak perlu diistimewakan. Abdullah bin Al Mubarok pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Syaban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Syaban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam Nishfu Syaban saja, -pen). Dikeluarkan oleh Abu Utsman Ash Shobuni dalam Itiqod Ahlis Sunnah (92). Al Aqili rahimahullah mengatakan, Mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Syaban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Syaban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah. Disebutkan dalam Adh Dhuafa (3/29).[14] Semoga sajian ini bermanfaat untuk memperbaiki amal ibadah kita