Anda di halaman 1dari 17

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

7
Sistem Televisi (1)
Sistem Televisi atau lengkapnya sistem penyiaran televisi, adalah juga termasuk telekomunikasi, yang bekerja dengan satu sistem modulasi, yaitu AM dan FM. Sinyal gambar ( vision) dikirimkan dengan modulasi AM vestigial sideband, sedang sinyal suara (sound) dipancarkan dengan modulasi FM. Kedua sinyal tersebut akhirnya dipancarkan ke udara dengan bandwidth RF (radio frequency) sebesar 7 MHz (sistem-B, 625 garis) seperti ditunjukkan pada Gbr-1. Ilustrasi di samping ini menunjukkan satu sistem antena DTV (digital TV, yang di ujung menara dengan radome berwarna putih-merah) salah satu stasiun televisi di Korea. Antena TV diinstal bersama dengan antena alternatif 14 panel yang diinstal keliling menara (dengan radome berwarna putih).
V is io n c a r r ie r (A M -V S B ), 0 d B

S o u n d c a r r ie r (F M , -1 0 d B )

M H z
-1 .2 5 LSB

U SB

+ 4 .4 3

+ 5 .5

7 M H z

Gbr-1

Spektrum frekuensi sinyal TV selebar 7 MHz, (sistem-B, 625 garis).

Dalam hal sistem penyiaran televisi yang sampai saat ini masih dalam versi analog, kedua sinyal informasi tersebut dikirim, baik melalui media udara (offair) maupun melalui media kabel (televisi kabel). Pada sisi penerima, sinyal televisi yang dikirimkan tersebut diterima dengan pesawat penerima televisi yang mempunyai ukuran layar kaca

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

dengan perbandingan 4:3 untuk panjang dan tingginya. Ukuran itu disebut dengan aspect ratio. Dalam perkembangan teknologinya, ukuran layar tersebut dirancang lebih lebar, yaitu 16:9 atau 5,33 : 3, yang dikenal dengan nama sistem televisi layar lebar atau high definition television (HDTV). Sistem layar lebar inilah yang merupakan sistem televisi abad 21 yang sebetulnya telah mulai dikembangkan sejak tahun 1980-an untuk versi analognya. Seperti halnya sistem televisi konvensional (aspect ratio 4:3) dalam perkembangannya, tidak berhasil tercipta sistem yang worldwide, maka sistem televisi layar lebar inipun dalam perkembangannya tidak terwujud satu sistem yang satu untuk seluruh dunia, melainkan terdapat tiga kubu yang masing-masing menciptakan sistemnya sendirisendiri. Ketiga kubu dimaksud adalah, Jepang, kelompok negara Eropah, dan grup Amerika Serikat. Untuk Jepang yang dimotori oleh NHK, dikenal sistemnya dengan nama dagang Hi-Vision. Sedang konsorsium Eropah mempunyai sistem yang disebut dengan HD-MAC, sedang Amerika Serikat mempunyai sistem yang dikenal dengan sebutan Advanced Television. Selanjutnya, persoalan yang lebih banyak dibahas dalam teknik televisi adalah masalah videonya, karena teknik audio pada umumnya sama dengan pengolahan sinyal analog yang telah banyak dibahas sebelumnya. Berkaitan dengan teknik video itu, masalah utama adalah proses scanning yang menghasilkan struktur sinyal video dalam besaran listrik. Dalam proses menghasilkan sinyal video tersebut terjadi transfer besaran daya, yaitu dari besaran optis ke besaran elektris yang menggunakan satu device (transducer).

Gbr-2

Tabung pengambil gambar (pickup tube) jenis plumbicon dari Philips ukuran 1 inci.

Unit transducer itu dinamakan pickup device yang dapat berbentuk tabung pengambil gambar (pickup tube), perhatikan Gbr-2, atau CCD block (CCD = charge couple device) yang sekarang banyak digunakan menggantikan fungsi pickup tube. Pickup device terse-

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

but digunakan atau merupakan unit di dalam sistem kamera video yang berada tepat di belakang lensa setelah satu sistem prisma. Sistem prisma yang dimaksud digunakan untuk mendapatkan sinyal merah, biru, dan hijau dari sinyal putih yang ditangkap lensa. Pemisahan sinar putih menjadi tiga komponen sinyal warna tersebut digunakan untuk mendapatkan sinyal televisi berwarna setelah melalui pengolahan ketiganya. Proses pemisahan sinar putih menjadi sinar red, green, dan blue, ditunjukkan pada Gbr-3.

Gbr-3

Diagram prisma yang memisahkan sinar putih

menjadi sinar R, G, dan B.

Arah sinar putih dari sebelah kiri yang melalui sistem lensa, yang berfungsi untuk mengatur fokus obyek gambar dan melakukan zooming. Setelah melalui lensa, sinar obyek gambar dipisahkan oleh prisma menjadi komponen merah, biru, dan hijau yang langsung diterima oleh pickup tube masing-masing komponen sinar tersebut, yaitu jenis plumbicon. Pada pickup tube inilah terjadi transformasi besaran optik ke besaran sinyal listrik. Sinyal R, G, B ini selanjutnya diolah oleh encoder yang menghasilkan sinyal (R-Y) dan sinyal (B-Y), dimana Y adalah sinyal luminance atau hitam-putih. 7.1. Scanning Di dalam proses menghasilkan sinyal video, satu frame gambar dibagi menjadi struktur garis, sehingga satu frame tersebut seolah dipotong-potong dengan arah dari kiri ke kanan menjadi beberapa garis. Proses pemotongan itu dimulai dari ujung kiri atas gambar ke kanan dan kemudian untuk garis berikutnya dimulai dari sebelah kiri lagi. Demikan seterusnya sampai keseluruhan frame terpotong. Jadi garis pemotongan itu dari kiri

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

ke kanan mengikuti garis lurus yang miring ke kanan seperti ditunjukkan pada Gbr-4. Proses menjadikan struktur garis itu dinamakan scanning yang pada prakteknya dilakukan dengan menggunakan berkas sinar (beam) yang berasal dari sistem penembak sinar katoda (cathode ray gun), sementara bayangan gambar satu frame dilukiskan pada layar peka cahaya (bahan oksida timah hitam). Keseluruhan proses scanning itu terjadi di dalam unit tabung pengambil gambar (pickup tube) yang ditempatkan dibelakang lensa kamera.

Gbr-4

Sistem scanning yang berlangsung di dalam tabung pengambil gambar (pickup tube).

Terlihat pada Gbr-4, bahwa garis penuh scanning menunjukkan perioda aktif garis scanning yang berarti pada perioda tersebut dihasilkan sinyal gambar. Sedang garis putus yang arahnya dari kanan ke kiri menunjukkan perioda blanking sinyal gambar, yaitu saat beam kembali (retrace) ke sebelah kiri untuk mulai menghasilkan sinyal satu garis berikutnya. Pada saat retrace ini, beam dimatikan oleh sistem gun, sehingga pada layar tidak menghasilkan sinyal video. Proses ini dimungkinkan karena terjadinya simpangan beam oleh sinyal sawtooth dari sistem deflection coil, ke arah horizontal maupun vertikal. Lingkup tegangan sawtooth tersebut pada proses scanning ditunjukkan pada Gbr-5. Pada gambar nampak, bahwa waktu scanning aktif dinyatakan dengan TH' untuk scanning horizontal, sedang untuk scanning vertikal, perioda aktifnya dinyatakan dengan TV'. Dengan kombinasi tegangan sawtooth tersebut, maka gerak beam mengikuti garis lurus miring dari kiri ke kanan yang makin lama posisinya makin kebawah untuk menghasilkan sinyal gambar garis berikutnya. Setelah menyelesaikan satu frame penuh, maka beam kembali di sudut kiri atas untuk memulai satu frame gambar selanjutnya. Perlu diketahui disini, bahwa arah dari kiri ke kanan adalah arah yang dilihat dari sisi

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

pengamat (observer) layar monitor, sehingga bila dilihat dari sisi cathode ray gun, maka beam melakukan scanning dari arah kanan ke kiri dengan kemiringan lintasannya ke arah kiri seperti ditunjukkan pada Gbr-4.
1 3 5 7 9 11 13 15

'

"

Gbr-5

Lingkup tegangan sawtooth pada proses scanning.

'

"

Pada sistem scanning ini terdapat dua metoda, yaitu scanning dilakukan langsung satu frame gambar dari sudut kiri atas sampai berakhir pada sudut kanan bawah. Scanning metoda ini dinamakan sebagai progressive scanning. Metoda scanning yang kedua dilakukan dengan membagi satu frame gambar ini menjadi dua field, yaitu field garis-garis ganjil (odd field) dan field garis-garis genap (even field), sehingga satu frame penuh disusun dari kedua field tersebut secara berurutan. Metoda kedua ini dinamakan interlaced scanning. Gbr-4 di atas, menunjukkan proses progressive scanning.

1 3 5 7 9 11 13 15

4
2 4 6 8 10 12 14

4 3

fie ld g a n jil
Gbr-6
Sistem scanning metoda kedua, interlaced sacnning.

fie ld g e n a p

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

Pada sistem interlaced scanning, satu frame gambar dibagi menjadi dua field seperti ditunjukkan pada Gbr-6, yaitu field ganjil dan field genap. Sehingga bila jumlah garis total adalah 625 garis, maka pada field ganjil maupun field genap masing-masing dilakukan scanning sebanyak 312,5 garis = 625/2. Scanning pada field ganjil diawali pada sudut kiri atas dan berakhir pada tengah-tengah batas frame yang paling bawah. Sedang untuk field genap, scanning diawali pada titik tengah batas frame yang paling atas dan berakhir pada sudut kanan bawah seperti nampak pada gambar. Pada Gbr-6 dicontohkan jumlah garis yang tidak 625 garis sebagai ilustrasi. Pada Gbr-6 tidak dilukiskan jalur-jalur retrace garis (horizontal) untuk menyederhanakan gambar. Jalur retrace vertikal pada field ganjil, lurus keatas sehingga sampai ditengah-tengah batas frame yang paling atas untuk memulai proses scanning field genap. Sementara retrace vertikal pada field genap mulai dari sudut kanan bawah langsung ke sudut kiri atas frame untuk memulai proses scanning field ganjil. Kemudian sinyal gambar kedua field tersebut diurutkan secara waktu dan dipisahkan oleh perioda vertical blanking, yaitu perioda pada saat retrace vertikal. Pada saat reproduksi pada layar kaca monitor video (TV receiver), garis-garis field ganjil dan genap tersebut saling mengisi celah-celah masing-masing garis pada framenya yang disebut interlace seperti kita memadukan jari-jari kedua tangan kita satu diantara yang lain.

7.1-1. Menentukan pixel per-garis Telah diuraikan bahwa gambar tersusun dari garis-garis seperti diuraikan diatas. Tetapi lebih dari itu sebetulnya gambar tersebut tersusun dari elemen gambar atau biasa disebut dengan pixel (picture element) yang mempunyai ukuran tergantung dari luasan bidang gambar. Misalnya pickup tube ukuran 1 inci akan mempunyai pixel sebesar kurang lebih 0,00086 mm2, sementara layar pesawat televisi ukuran 21 inci akan mempunyai pixel berukuran 0,24 mm2. Ukuran-ukuran luas tersebut diambil dengan anggapan bahwa, pixel berbentuk lingkaran dan ditentukan dari formulasi r2, dimana r adalah jari-jari pixel serta jumlah garis aktif sebanyak 575

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

karena diambil sebagai contoh bahasan adalah sistem-B, 625 garis. Jumlah garis sebanyak 575 tersebut, adalah yang nampak pada layar. Untuk menentukan jumlah pixel pada setiap garis aktif, nilai 575 tersebut dikalikan dengan nilai aspect ratio 4/3. Hasilnya adalah 766,67 pixel. Dengan jumlah itu, maka jumlah pixel untuk satu frame gambar adalah 766,67 x 575 440.833 pixel. Sementara untuk CCD yang jumlah pixelnya ditentukan oleh ukuran elemen mosfetnya, maka jumlah tersebut cenderung dapat ditingkatkan. Satu contoh ilustrasi misalnya, untuk CCD jenis FT (frame transfer) yang digunakan pada satu kamera produk Eropa, mempunyai jumlah sebesar 474.000 pixel. Jenis yang lain, yaitu CCD jenis FIT (frame interline transfer) yang digunakan pada kamera produk Jepang, mempunyai pixel sebanyak 600.000 pixel. Untuk tambahan informasi, bahwa jenis CCD yang lain adalah CCD IT (interline transfer) yang juga banyak digunakan pada kamera produk Jepang. Disamping ukuran pixel dinyatakan dalam ukuran luasannya, pixel (pe = picture element) juga dapat dinyatakan dalam ukuran waktu, yaitu dalam ns ( nanosekon = 10-9 sekon). Nilai ini tidak berubah besarnya seperti dalam ukuran luasnya terhadap ukuran layar pickup tube maupun layar CRT (cathode ray tube) TV receiver. Ukuran dalam waktu tersebut berkisar 67,76 ns yang tertentu dari, Ukuran pe = (waktu perioda aktif garis)/(jumlah pixel per garis) = (64 - 12) / 766,67 sekon = 0,0678 s 70 ns Berkaitan erat dengan jumlah pixel/garis, terdapat satu pengertian, yaitu resolusi (resolution) yang didefinisikan sebagai kemampuan tayangan detil (detail) satu pick- up device untuk satu frame gambar. Atau dengan kata lain kemampuan pickup de-vice menunjukkan ketajaman gambar. Resolusi dinyatakan dengan satuan sejumlah garis televisi, misalnya 600 TV lines, 750 TV lines, dsb. Ternyata resolusi seban- ding dengan jumlah pixel/garis. Makin tinggi jumlah pixel/garis, makin tinggi juga tingkat resolusinya.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

7.1-2. Cacat scanning Mengapa karena proses scanning pada pickup device kemudian dapat dihasilkan sinyal elektris, yaitu sinyal video ?. Hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Sistem cathode gun seperti dilukiskan pada Gbr-4 diilustrasikan kembali pada Gbr-7 dengan model rangkaian listrik untuk lebih memudahkan uraian.
r e s is to r y a n g m e w a k ili p ix e l

+ 4 5 v o lt

beam

k a to d a

O u tp u t k e p rea m p

Gbr-7

Sistem scanning pada pickup tube

Beam yang melakukan scanning bermuatan negatif, keluar dari sistem katoda dengan mendapat percepatan dari sistem anoda yang bertegangan positif tinggi untuk sampai pada layar pickup tube. Sementara layar pickup tube sendiri yang bersifat pendar (fluorecent) mempunyai potensial positif sebesar +45 volt. Dengan sampainya beam pada layar, maka akan terbentuk lingkaran tertutup (close loop) rangkaian listrik dc, sehingga mengalir arus. Untuk setiap pixel yang terkena bayangan gambar, adalah sebuah resistor dengan nilai resistansi tertentu yang tergantung besarnya pada nilai intensitas sinar gambar yang jatuh padanya. Dengan demikian, pada lingkaran tertutup yang terbentuk itu, setiap saat akan mengalir arus yang berubah-ubah sesuai pada nilai resistansi saat itu. Dengan kata lain, arus yang mengalir sebanding dengan bayangan yang jatuh pada pickup tube tersebut, sehingga sinyal video dapat dihasilkan. Output pickup tube diambil dari metal yang meling-kari layar di bagian depan pickup tube (perhatikan Gbr-2).

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

Selanjutnya, mengenai cacat yang timbul dari proses scanning, adalah disebabkan karena ukuran beam yang relatif lebih besar dari ukuran pixel. Karena kondisi itu, maka ketika beam bergerak melewati batas bayangan yang tajam perubahannya (dari gelap ke terang), maka beam akan berada diatas dua bayangan itu pada perbatasannya seperti ditunjukkan pada Gbr-8(a). Hasilnya adalah gambar yang tidak tajam atau terdapat warna abu-abu yang berubah gradasinya. Ini terjadi pada perubahan hitam ke warna putih dan sebaliknya, seperti ditunjukkan pada Gbr-8(d). Cacat scanning yang diuraikan diatas adalah cacat scanning ke arah horizontal. Demikian juga cacat ini akan terjadi pada arah scanning vertikal. Reproduksi video yang dihasilkannya ditunjukkan pada Gbr-9 dan Gbr-10.

Gbr-8

Ukuran beam yang lebih besar dari pixel.

(a )

(b )

Gbr-9

Cacat scanning ke arah vertikal satu gambar balok condong : (a) asli; (b) reproduksi.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB


(a )

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I


(b )

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

Gbr-10

Cacat scanning ke arah vertikal satu gambar balok mendatar : (a) asli; (b) reproduksi.

Cacat atau distorsi karena scanning ini dapat dikompensasi, tetapi hanya distorsi yang ke arah horizontal, sementara distorsi scanning ke arah vertikal hampir tidak dapat dikompensasi. Kompensasi untuk distorsi horizontal dapat dilakukan dengan mengatur tanggapan frekuensi penguat video yang digunakan, yaitu dengan menaikkan response frekuensi tingginya.

7.2. Sinkronisasi Pengiriman Gambar Setelah sinyal gambar diperoleh melalui proses scanning seperti diuraikan di atas, proses selanjutnya adalah pengiriman atau penyalurannya ke peralatan reproduksi, yaitu sis-tem monitor atau pesawat penerima televisi, disamping untuk keperluan perekaman. Di sisi penerima sinyal gambar ditayangkan oleh CRT ( cathode ray tube) dengan cara yang sama saat diambil oleh pickup device, yaitu juga garis demi garis. Dengan demikian ha-rus terdapat sinkronisasi antara sisi kirim dan sisi terima. Sinkronisasi diperlukan oleh sistem scanning di sisi penerima, yaitu CRT-nya. Jadi sinkronisasi yang diperlukan ada-lah kearah horizontal (sapuan garis dari kiri ke kanan) maupun ke arah vertikal (pengge-seran sapuan garis dari atas ke bawah). Dalam hal ini, sinyal sinkronisasi juga harus dikirimkan bersama-sama sinyal gambarnya. Kemungkinan yang ada, yaitu menempat-kan sinyal sinkronisasi tersebut pada perioda sinyal blanking gambar, yaitu pada saat beam menjalani waktu retrace. Hubungan sinyal video, sinyal sinkronisasi, dan tegang-an sawtooth untuk proses scanning, ditunjukkan pada Gbr-11.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

10

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

Gbr-11

Hubungan antara sinyal video dengan sinyal sawtooth.

Terlihat pada Gbr-11, bahwa sinyal sinkronisasi atau disebut dengan synch signal berbentuk pulsa mengarah kebawah yang mempunyai level sebesar 0,3 volt, sehingga level sinyal video keseluruhan distandarkan sebesar 1 volt peak-peak. Sinyal sinkronisasi yang ditujukkan pada Gbr-11, adalah sinyal sinkronisasi horizontal. Sementara untuk sinyal sinkronisasi vertikal, diletakkan pada saat perioda blanking vertikal seperti ditunjukkan pada Gbr-12. Sinyal sinkronisasi vertikal juga berbentuk pulsa dengan lebar 2,5 x lebar pulsa horizontal sync atau 2,5H.

Gbr-12

Sinyal sinkronisasi vertikal dengan lebar 2,5H yang

ditempatkan pada perioda vertical blanking.

Terlihat pada Gbr-12, bahwa pulsa sinkronisasi vertikal terletak pada garis ke-1 sampai garis ke-2,5 untuk field pertama atau ganjil, dan pada garis ke-312,5 sampai garis ke315 untuk field kedua atau genap. Terlihat bahwa, pulsa sinkronisasi vertikal dipotong (serrated) menjadi lima pulsa. Tujuan membuat menjadi lima pulsa tersebut adalah agar generator pulsa sinkronisasi horizontal di sisi terima tetap mendapatkan trigger sinkronisasi pada saat pulsa sinkronisasi vertikal tersebut. Disamping itu, pada saat sebelum dan sesudah pulsa sinkronisasi vertikal, terdapat lima pulsa yang disebut sebagai equalizing pulse yang keseluruhannya mempunyai waktu 2,5H juga. Fungsi dari pulsa ini adalah untuk menyamakan saat sinkronisasi horizontal field pertama dengan field

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

11

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

kedua atau membuat tetap kontinyu urutannya, sehingga tidak terjadi saat diskontinyu pergantiannya. Dengan proses sinkronisasi ini, maka proses scanning satu gambar pada sisi pengirim akan diikuti tepat oleh proses scanning di sisi penerima seperti ditunjukkan pada Gbr-13. Disamping itu bila terjadi kerusakan sinyal sinkronisasi, maka proses reproduksi gambar juga akan terganggu. Rusaknya sinkronisasi horizontal, akan menyebabkan gambar nampak tercabik-cabik, sedang rusaknya sinkronisasi vertikal, maka gambar akan turun kebawah frame demi frame yang disebut dengan rolling. Akibat rusaknya sinkronisasi horizontal, yaitu gambar tercabik-cabik ke arah kanan tepat pada garis yang mengalami kerusakan sinkronisasi (tidak keseluruhan frame). Kerusakan sinkronisasi horizontal adalah termasuk disebabkan karena bila pulsa sinkronisasi vertikal tidak dipotong-potong menjadi lima pulsa. Kerusakan frame gambar yang terjadi ditunjukkan pada ilustrasi Gbr-14.
s is i k ir im s is i te r im a

A
Gbr-13

A
tr a n s m is i

Proses sinkronisasi yang terjadi antara pengirim dan penerima


k e r u s a k a n s in k r o n is a s i p a d a p e r io d a p u ls a s in k r o n is a s i v e r tik a l

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

12

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

Gbr-14

Kerusakan tayangan frame gambar karena

pulsa sinkronisasi vertkal tidak dipotong-potong (serrated).

Nampak pada Gbr-13, bahwa antara sisi kirim dan sisi terima terdapat media transmisi yang menghubungkannya. Media ini dapat berbentuk kabel koaksial maupun udara. Melalui kabel koaksial, sinyal video dapat berbentuk sinyal baseband (misalnya dari kamera ke video monitor), ataupun gelombang RF (misalnya pada sistem televisi kabel). Kalau media udara biasa digunakan untuk penyiaran. Gbr-15 menunjukkan satu kamera tipe ENG (electronic news gathering) dimana proses scanning terjadi. Kamera tipe ini sudah menggunakan CCD block sebagai pengganti pickup tube seperti diuraikan di atas. Gbr-16 menunjukkan diagram peletakan CCD chip dalam kamera.

Gbr-15

Kamera ENG yang sudah menggunakan

CCD chip.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

13

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

Gbr-16

Diagram peletakan CCD chip di kamera

7.2-1. Beberapa Sistem Garis Terdapat beberapa sistem garis yang pernah dirancang di dunia ini, tetapi beberapa darinya kemudian tidak dioperasikan lagi untuk sistem televisi negara bersangkutan yang merancangnya. Jumlah garis ternyata akan mempengarugi lebar bidang sinyal video yang dihasilkan, yaitu berbanding lurus. Makin banyak jumlah garis yang digunakan, makin lebar spektrum sinyal videonya. Beberapa sistem garis tersebut ditabulasikan pada Tabel-1. Dari sistem garis yang disebutkan dalam Tabel-1, sistem garis 400 dan 819 yang sekarang tidak dioperasikan lagi. Sistem yang dioperasikan adalah sistem 525 garis yang disebut sebagai Sistem-M, sedang sistem 625 garis dinamakan Sistem-B. Bila sistem warnanya menggunakan PAL seperti di Indonesia, maka secara lengkap sistem televisinya adalah, Sistem PAL-B. Demikian juga karena di Perancis menggunakan sistem warna SECAM dan 625 garis, maka sistem di sama disebut sebagai Sistem SECAM-B. Tabel-1
Item Negara Perancang Inggris USA Eropa Barat Eropa Timur Perancis

Sistem Garis Televisi

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

14

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

Jumlah garis Bandwidth video (MHz) Bandwidth RF (MHz) Sound Carrier relatif thd Vision Carrier (MHz) Interlaced Frekuensi garis (Hz) Frekuensi field (Hz) Frekuensi frame (Hz) Modulasi Vision Modulasi Sound -

405 3 5 - 3,5 2/1 10.125 50 25 Positif AM

525 4 6 + 4,5 2/1 15.750 60 30 Negatif FM

625 5 7 + 5,5 2/1 15.625 50 25 Negatif FM

625 6 8 + 6,5 2/1 15.625 50 25 Negatif FM

819 10,4 14 + 11,15 2/1 20.475 50 50 Positif AM

Pada Tabel-1 disebutkan bahwa, modulasi vision posisf atau negatif. Maksudnya adalah polaritas sinyal video tersebut. Bila polaritas negatif, maka level puncak sinyal sinkronisasi berada pada level atau prosentasi modulasi yang rendah. Sementara pada puncak sinyal gambar, prosentasi modulasi pada nilai yang terbesar. 7.3. Bandwidth Sinyal Video Bandwidth spektrum sinyal video dapat ditentukan dari frekuensi horizontal ( = fH ) dan frekuensi frame ( = fV ) sistem garis yang dioperasikan, yang umumnya bekerja dengan sistem interlaced scanning. Nilai bandwidth tersebut tertentu dari hubungan, Bv = fH x fV ................................................................ (7-1)

Sehingga untuk Sistem-B, yaitu dengan, fH = 15.625 Hz, fV = 50 Hz, interlaced scanning, maka bandwidth sinyal video yang dihasilkan adalah, MHz.

Tetapi nilai bandwidth tersebut dapat juga dihitung secara pendekatan dari ukuran pixel layar pickup tube yang bersangkutan. Data yang diperlukan juga spesifikasi sistem garis yang digunakan dan ukuran aspect ratio yang dioperasikan, yaitu,

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

15

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

Jumlah garis scanning Jumlah garis aktif Format scanning Aspect ratio Perhitungan pertama adalah, menentukan ukuran pixel dalam satuan waktu ( = T PE ). Kemudian, akibat dari variasi sinyal yang terjadi, maka frekuensi sinyal akan mencapai nilai yang paling tinggi bila terjadi perubahan dari sinyal hitam (level paling rendah) ke sinyal putih (level paling tinggi) atau sebaliknya. Pada saat itu perioda sinyal nilainya mencapai, TP = 2 TPE ........................................................................... (7-2)

Dan kemudian, frekuensi sinyal video yang paling tinggi adalah, fmax =
1 TP

...........................................................................

(7-3)

Karena ukuran diameter beam yang melakukan scanning tidak sebesar ukuran pixel ( > pixel ), maka terjadilah penurunan resolusi vertikal dibandingkan hasil perhitungan di atas. Penurunan itu ditunjukkan oleh satu faktor, yaitu factor Kell yang besarnya sekitar , sehingga bandwidth yang sebenarnya adalah, BV = x
1 TP

...

(7-4)

Misalnya untuk sistem-B, maka jumlah pixel total pada layar adalah, 766,67 x 575 440.833 pixel ( = pe) Pixel total tersebut dikirimkan dalam waktu, = waktu 1 garis aktif x jumlah garis aktif = (64 12) s x 575 = 29.900 s Jadi waktu 1 pe ( = TPE), = waktu total / jumlah total pe = 29.900 / 440.833

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

16

Jurusan Elektro-FTI-PKK-Modul 7 UNIVERSITAS MERCU BUANA

_____________________________________________________________________________________

= 0,067826138 s Sesuai rumus (7-2), (7-3), dan (7-4), maka bandwidth sinyal video sistem-B sebesar, B = x
1 x 2 xTPE TP

= 4,9145 MHz 5 MHz

Daftar Kepustakaan
1. Kennedy, George; Electronic Communication Systems, McGraw-Hill Co., Singapore, 1988. 2. Roddy, Dennis & Coolen,John; Electronic Communications, Prentice-Hall of India Ltd, New Delhi, 1981.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

HIDAYANTO DJAMAL SISTEM KOMUNIKASI I

17