Anda di halaman 1dari 41

Berdirilah teguh

1 Korintus 16:13 Pengantar | TB BIS FAYH Konteks | Catatan Ayat

Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! Hendaklah kalian waspada dan teguh dalam hidupmu sebagai orang Kristen. Bertindaklah dengan berani dan jadilah kuat. Waspadalah terhadap bahaya rohani! Berdirilah teguh di dalam Tuhan! Kuatkan diri dan bersikaplah sebagai orang dewasa! Berjagalah kamu, berdirilah tetap di dalam iman, lakukanlah dirimu seperti laki-laki, biarlah kamu jadi gagah. Hendaklah kamu berjaga-jaga, tetaplah berdiri di dalam iman. Bertindaklah dengan berani dan tetaplah kuat. Maka hendaklah kamu berjaga, hendaklah kamu berdiri tetap dalam iman kita; lakukanlah dirimu seperti orang laki-laki; hendaklah kamu menjadi kuat. Berjaga-lah, berdiri-lah ttap dalam perchaya, jadi-lah anak jantan, jadi-lah kuat. Djagalah kamoe, berdiri tetep dengan pertjaja, biar kamoe saperti laki-laki, dan biar kamoe koewat. Djagalah kamoe; berdirilah tetap dalam pertjaja; biarlah kalakoeanmoe saperti laki-laki; hendaklah kamoe gagah. Berdjagalah kamu, berdirilah tatap dalam 'iman, melakukanlah dirimu tjara laki 2, djadilah perkasja. Berdjaga-djagalah. Berdirilah tetap tegak dalam kepertjajaan. Hendaklah bersikap sebagai laki-laki, tetap kuat hati.

DRFT_WBTC Waspadalah. Tetaplah teguh dalam iman. Beranilah dan tetaplah kuat. TL KSI DRFT_SB BABA KL1863 KL1870 DRFT_LDK ENDE

TB_ITL_DRF Berjaga-jagalah <1127>! Berdirilah dengan teguh <4739> dalam <1722> iman <4102>! Bersikaplah sebagai laki-laki <407>! Dan tetap kuat <2901>! TL_ITL_DRF Berjagalah <1127> kamu, berdirilah tetap <4739> di <1722> dalam iman <4102>, lakukanlah <407> dirimu seperti laki-laki, biarlah kamu jadi gagah <2901>. AV# BBE MESSAGE Watch ye <1127> (5720), stand fast <4739> (5720) in <1722> the faith <4102>, quit you like men <407> (5737), be strong <2901> (5744). Be on the watch, unmoved in the faith, and be strong like men. Keep your eyes open, hold tight to your convictions, give it all you've got, be resolute,

NKJV PHILIPS RWEBSTR GWV NET NET

Watch, stand fast in the faith, be brave, be strong. Be on your guard, stand firm in the faith, live like men, be strong! Watch ye, stand fast in the faith, acquit yourselves like men, be strong. Be alert. Be firm in the Christian faith. Be courageous and strong. Stay alert, stand firm in the faith, show courage, be strong. 16:13 Stay alert, stand firm in the faith, show courage, be strong.

Teks -- 1 Korintus 16:13 (TB)


Tampilkan Strong Konteks 16:13 Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! Paralel Ref. Silang (TSK) Ref. Silang (FULL) ITL

Nama Orang, Nama Tempat, Topik/Tema Kamus


Topik/Tema Kamus: Teguh, Keteguhan | Perang, Peperangan Orang-Orang Kudus | Jaga, Berjaga-Jaga | Iman | selebihnya

Daftar Isi
Catatan Kata/Frasa Ende , Ref. Silang FULL Catatan Kata/Frasa Wycliffe Catatan Rentang Ayat SH , Topik Teologia

kecilkan semua Tafsiran/Catatan -- Catatan Kata/Frasa (per frasa)

Ende: 1Kor 16:13


Dasar nasehat-nasehat didalam kesimpulan ini, ialah: Didalam umat meradjalela pengaruhpengaruh jang sangat membahajakan kesatuan umat (1Ko 1:10-4:21) jang mengantjam kemurnian kesusilaan Indjil (1Ko 4:1-7 dan 1Ko 6:20), jang mengantjam keteguhan iman (seluruh bab 15 (1Ko 15)), maka haruslah umat waspada dan djaga diri. Djangan pula ada perselisihan (1Ko 3:1-5) setjara kekanak-kanakan karena hal-hal remeh sadja, seperti kegemilangan berpidato, keahlian duniawi dan kebidjaksanaan dunia (1Ko 1:19-21). Umat harus berpendirian teguh dalam kepertjajaan, berani terhadap segala pengaruh palsu, tetap mendjundjung tinggi dan berusaha mewudjudkan kebidjaksanaan Kristus jang tersalib (1Ko 1:18 dan 1Ko 2:1-5.

Ref. Silang FULL: 1Kor 16:13 - dengan teguh // tetap kuat


dengan teguh: 1Kor 1:8; 2Kor 1:21; Gal 5:1; Fili 1:27; 1Tes 3:8; Tit 1:9; [Lihat FULL. Tit 1:9] tetap kuat: Ef 6:10; [Lihat FULL. Ef 6:10]

kecilkan semua Tafsiran/Catatan -- Catatan Kata/Frasa (per Ayat)

Wycliffe: 1Kor 16:10-24


C. Aneka Penghargaan, Nasihat, Salam dan Berkat (16:10-24) Rencana kunjungannya mengingatkan sang rasul pada dua orang yang telah membantunya melayani di Korintus - Timotius dan Apolos.

Wycliffe: 1Kor 16:13 - bersikaplah sebagai laki-laki


13. Ayat ini mengawali serangkaian nasihat bagi jemaat di Korintus. Empat nasihat pertama memanfaatkan istilah militer; sesungguhnya bersikaplah sebagai laki-laki mengingatkan orang pada seruan untuk bertempur dari bangsa Filistin (bdg. I Sam. 4:9). Setiap perintah di dalam ayat ini dan satu perintah dalam ayat berikutnya memakai bentuk waktu sekarang, sehingga mengungkapkan serangkaian tindakan yang sifatnya berkesinambungan.

buka semua Tafsiran/Catatan -- Catatan Rentang Ayat

SH: 1Kor 16:1-24 - Manajer sekaligus pemimpin. (Minggu, 5 Oktober 2003) Manajer sekaligus pemimpin. Hamba Tuhan berfungsi ganda, yaitu sebagai manajer sekaligus sebagai pemimpin. Karunia Tuhan ini harus dijalanka...

SH: 1Kor 16:10-24 - Senior memperhatikan junior (Minggu, 2 November 1997) Senior memperhatikan junior Hubungan Paulus dan Timotius seumpama hubungan pendeta atau pekerja jemaat yang sudah senior dengan para mahasiswamahasis...

Topik Teologia: 1Kor 16:13 - -- Keselamatan Ketekunan Peringatan untuk Bertekun 1Ta 16:11 Ayu 17:9 Yeh 18:24 Hos 12:7 Mik 6:8 Mat 10:22 Mar 4:3-8 Luk 22:31-32 ...

kecilkan semua Pendahuluan / Garis Besar


Full Life: 1 Korintus (Pendahuluan Kitab)
Penulis : Paulus Tema : Masalah-Masalah Jemaat dan Pemecahannya Tanggal Penulisan: Tahun 55/56 Latar Belakang Korintus, sebuah kota kuno di Yunani, dalam banyak hal merupakan kota metropolitan Yunani yang terkemuka pada zaman Paulus. Seperti halnya banyak kota yang makmur pada masa kini, Korintus menjadi kota yang angkuh secara intelek, kaya secara materi, dan bejat secara moral. Segala macam dosa merajalela di kota ini yang terkenal karena perbuatan cabul dan hawa nafsu. Bersama dengan Priskila dan Akwila (1Kor 16:19) dan rombongan rasulinya sendiri (Kis 18:5), Paulus mendirikan jemaat Korintus itu selama delapan belas bulan pelayanannya di Korintus pada masa perjalanan misinya yang kedua (Kis 18:1-17). Jemaat di Korintus terdiri dari beberapa orang Yahudi tetapi kebanyakan adalah orang bukan Yahudi yang dahulu menyembah berhala. Setelah Paulus meninggalkan Korintus, berbagai macam masalah timbul dalam gereja yang masih muda itu, yang memerlukan wewenang dan pengajaran rasulinya melalui surat-menyurat dan kunjungan pribadi. Surat 1 Korintus ditulis selama tiga tahun pelayanannya di Efesus (Kis 20:31) pada waktu perjalanan misinya yang ketiga (Kis 18:23--21:16). Berita mengenai masalah-masalah jemaat di Korintus terdengar oleh Paulus di Efesus (1Kor 1:11); setelah itu utusan dari jemaat Korintus (1Kor 16:17) menyampaikan sepucuk surat kepada Paulus yang memohon petunjuknya atas berbagai persoalan (1Kor 7:1; bd. 1Kor 8:1; 1Kor 12:1; 1Kor 16:1). Sebagai tanggapan atas berita dan surat yang diterimanya dari Korintus, Paulus menulis surat ini. Tujuan Paulus memiliki dua alasan pokok dalam pikirannya ketika ia menulis surat ini: 1. (1) Untuk membetulkan masalah yang serius dalam jemaat di Korintus yang telah diberitahukan kepadanya. Hal-hal ini meliputi pelanggaran yang dianggap remeh oleh orang Korintus, tetapi dianggap oleh Paulus sebagai dosa serius.

2. (2) Untuk memberikan bimbingan dan instruksi atas berbagai pertanyaan yang telah ditulis oleh orang Korintus. Hal-hal ini meliputi soal doktrin dan juga perilaku dan kemurnian sebagai perorangan dan sebagai jemaat. Survai Surat kiriman ini menangani macam persoalan yang dialami oleh gereja yang para anggotanya tetap hidup "duniawi" (1Kor 3:1-3) dan tidak secara tegas memisahkan diri dari masyarakat di sekelilingnya yang menyembah berhala (2Kor 6:17) - masalah seperti sifat memecah belah (1Kor 1:10-13; 1Kor 11:17-22), toleransi terhadap dosa seperti perzinaan (1Kor 5:1-13), kebejatan seksual pada umumnya (1Kor 6:12-20), perkara hukum sekular antara orang Kristen (1Kor 6:111), pikiran manusiawi tentang kebenaran rasuli (pasal 15; 1Kor 15:1-58) dan perselisihan mengenai "kemerdekaan Kristen" (pasal 8, 10; 1Kor 8:1-13; 1Kor 10:1-33). Paulus juga menasihati orang Korintus tentang perkara yang berkaitan dengan hal membujang dan perkawinan (pasal 7; 1Kor 7:1-40), ibadah bersama, termasuk Perjamuan Kudus (pasal 11-14; 1Kor 11:1--14:40), dan pengumpulan uang bagi orang-orang kudus di Yerusalem (1Kor 16:1-4). Antara berbagai kebenaran yang paling penting dari surat 1 Korintus terdapat pengajaran Paulus mengenai manifestasi karunia Roh Kudus dalam konteks ibadah bersama (pasal 12-14; 1Kor 12:1--14:40). Lebih dari lain tempat dalam PB, pasal-pasal ini memberikan pemahaman terhadap sifat dan unsur-unsur ibadah dalam gereja mula-mula (bd. 1Kor 14:26-33). Paulus menunjukkan bahwa maksud Allah bagi gereja meliputi berbagai manifestasi Roh yang terjadi melalui orang percaya yang setia (1Kor 12:4-10) dan orang-orang yang dipanggil untuk pelayanan-pelayanan tertentu (1Kor 12:28-30) -- keanekaragaman dalam kesatuan yang disamakan dengan banyaknya fungsi dari tubuh manusia (1Kor 12:12-27). Ketika memberikan pedoman bagi fungsi bersama karunia rohani, Paulus membuat suatu perbedaan yang penting antara hal membangun pribadi dan hal membangun segenap anggota (1Kor 14:2-6,12,16-19,26), dengan menegaskan bahwa semua manifestasi dan karunia yang bersifat umum harus mengalir keluar dari kasih (pasal 13; 1Kor 13:1-13) dan berada demi pembangunan orang percaya yang sedang berhimpun (1Kor 12:7; 1Kor 14:4-6,26). Ciri-ciri Khas Lima ciri utama menandai surat ini: 1. (1) Surat ini paling berpusat pada persoalan dibandingkan dengan kitab lain dalam PB. Dalam menangani berbagai masalah dan perkara di Korintus, Paulus memberikan prinsip rohani yang jelas dan kekal (lih. Garis Besar), di mana setiap prinsip itu dapat diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh jemaat (mis. 1Kor 1:10; 1Kor 6:17,20; 1Kor 7:7; 1Kor 9:24-27; 1Kor 10:31-32; 1Kor 14:1-10; 1Kor 15:22-23). 2. (2) Secara menyeluruh ditekankan kesatuan jemaat lokal sebagai tubuh Kristus, suatu fokus yang ada dalam pembahasan tentang perpecahan, Perjamuan Kudus, dan karuniakarunia rohani. 3. (3) Surat ini berisi pengajaran PB yang paling luas mengenai berbagai pokok penting seperti pembujangan, perkawinan dan nikah ulang (pasal 7; 1Kor 7:1-40); Perjamuan Kudus (1Kor 10:16-21; 1Kor 11:17-34); berkata-kata dengan bahasa Roh, nubuat, dan

karunia rohani dalam perhimpunan bersama (pasal 12, 14; 1Kor 12:1-31; 1Kor 14:1-40); kasih agape (pasal 13; 1Kor 13:1-13); dan kebangkitan tubuh (pasal 15; 1Kor 15:1-58). 4. (4) Surat ini memberikan hikmat yang tak ternilai untuk pengawasan para gembala sidang berhubungan dengan disiplin gereja (pasal 5; 1Kor 5:1-13). 5. (5) Surat ini menekankan adanya kemungkinan untuk undur dari iman oleh mereka yang berkanjang dalam perilaku yang tidak benar dan tidak berpegang kepada Kristus dengan sungguh-sungguh (1Kor 6:9-10; 1Kor 9:24-27; 1Kor 10:5-12,20-21; 1Kor 15:1-2).

Full Life: 1 Korintus (Garis Besar)


Garis Besar 1. Pendahuluan (1Kor 1:1-9) 2. I. Pembahasan Masalah-Masalah yang Telah Diberitahukan kepada Paulus (1Kor 1:10-6:20) 1. A. Perpecahan dalam Jemaat (1Kor 1:10-4:21) 1. 1. Empat Golongan (1Kor 1:10-17) 2. 2. Penyebab Perpecahan (1Kor 1:18-4:5) 1. a. Suatu Pandangan yang Salah Mengenai Hikmat (1Kor 1:18-3:4) 2. b. Suatu Pandangan yang Salah Mengenai Pelayanan Kristen (1Kor 3:5-4:5) 3. 3. Imbauan untuk Berdamai (1Kor 4:6-21) Prinsip: Jemaat sebagai tubuh Kristus (bd. 1Kor 12:12-20) tidak boleh terpecah-belah menjadi bagian-bagian yang terpisah (1Kor 1:10,13) 2. B. Masalah-Masalah Moral dalam Jemaat (1Kor 5:1-6:20) 1. 1. Masalah Perzinaan dan Disiplin Gereja (1Kor 5:1-13) 2. 2. Masalah Perkara-Perkara Hukum Sekular di Antara Orang-Orang Kristen (1Kor 6:1-11) 3. 3. Masalah Kebejatan Seksual (1Kor 6:12-20) Prinsip: Kamu yang telah dipersatukan dengan Tuhan, hendaknya berperilaku baik supaya membawa hormat bagi Dia (1Kor 6:17,20) 3. II. Jawaban Terhadap Pertanyaan yang Ditulis Dalam Surat dari Jemaat Korintus (1Kor 7:1-16:9)

1. A. Pertanyaan Mengenai Perkawinan (1Kor 7:1-40) 1. 1. Perkawinan dan Hal Hidup Membujang (1Kor 7:1-9) 2. 2. Tanggung Jawab Kristen dalam Perkawinan (1Kor 7:10-16) 3. 3. Prinsip Kepuasan Hati (1Kor 7:17-24) 4. 4. Nasihat kepada Orang yang Tidak Menikah (1Kor 7:25-38) 5. 5. Pengarahan Tentang Nikah Ulang (1Kor 7:39-40) Prinsip: Allah memberikan sebagian orang karunia menjadi seorang suami atau istri; kepada orang lainnya, Ia berikan karunia untuk tinggal membujang demi kepentingan kerajaan-Nya (1Kor 7:7,32) 2. B. Pertanyaan Mengenai Penggunaan Kemerdekaan Kristen (1Kor 8:1-11:1) 1. 1. Masalah Makanan yang Dipersembahkan kepada Berhala (1Kor 8:1-13) 2. 2. Disiplin Paulus dalam Menggunakan Kemerdekaannya (1Kor 9:1-27) 3. 3. Peringatan Terhadap Percaya Diri yang Berlebih-lebihan (1Kor 10:1-13) 4. 4. Ketidaksesuaian Pesta Penyembahan Berhala dengan Meja Tuhan (1Kor 10:14-23) 5. 5. Beberapa Prinsip Umum dan Nasihat Praktis (1Kor 10:24-11:1) Prinsip: Lakukan segala sesuatu untuk membawa kemuliaan kepada Allah; jangan melakukan sesuatupun yang bisa menyebabkan orang lain tersandung (1Kor 10:31-32) atau mungkin saudara didiskualifikasi dari pertandingan (1Kor 9:24-27) 3. C. Pertanyaan Mengenai Ibadah Bersama (1Kor 11:2-14:40) 1. 1. Tudung Kepala Wanita dalam Jemaat (1Kor 11:2-16) 2. 2. Sikap dalam Mengikuti Perjamuan Tuhan (1Kor 11:17-34) 3. 3. Karunia-Karunia Rohani (1Kor 12:1-14:40) Prinsip: Segala sesuatu harus dilakukan secara sopan dan teratur (1Kor 14:40) 4. D. Pertanyaan Mengenai Kebangkitan (1Kor 15:1-58)

1. 1. P. Bagaimana Mungkin Ada Orang yang Mengatakan Bahwa Tidak Ada Kebangkitan Orang Mati? (1Kor 15:12) 5. J. Kepastian Kebangkitan (1Kor 15:1-34) 1. 2. P. Bagaimanakah Orang Mati Dibangkitkan? Dan dengan Tubuh Apakah Mereka Akan Datang Kembali? (1Kor 15:35) 6. J. Sifat Tubuh Kebangkitan (1Kor 15:35-57) 1. 3. Kesimpulan Terhadap Pertanyaan Itu (1Kor 15:58) Prinsip: Kebangkitan Kristus dari kematian menjamin kebangkitan mereka yang menjadi milik Kristus ketika Ia datang kembali (1Kor 15:22-23) 7. E. Pertanyaan Mengenai Pengumpulan Uang bagi Orang Kudus (1Kor 16:1-9) 4. Pengarahan-Pengarahan Akhir (1Kor 16:10-24)

Jerusalem: 1 Korintus (Pendahuluan Kitab)


SURAT-SURAT PAULUS PENGANTAR Kronologi kehidupan Paulus Dengan menggunakan Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus, maka tokoh ini lebih kita kenal dari pada tokoh-tokoh lain dalam Perjanjian Baru. Kedua sumber, yang masing-masing berdiri sendiri ini saling menguatkan dan melengkapi, meskipun ada kelainan-kelainan dalam soal-soal kecil. Kita malahan dapat menyusun suatu kronologi riwayat hidup Paulus secara lebih kurang teliti, karena bertepatannya beberapa peristiwa dalam riwayat hidup Paulus dengan kejadiankejadian yang kita ketahui menurut ilmu sejarah, seperti waktunya Galio menjabat prokonsul di Korintus, Kis 18:12, dan tahun Festus menggantikan Feliks, Kis 24:27-25:1, sebagai wali negeri di Palestina. Paulus dilahirkan di Tarsus di Kilikia, Kis 9:11; 21:39; 22:3, kira-kira tahun 10 Mas. dari keluarga Yahudi suku Benyamin, Rom 11:1; Flp 3:5 dan yang telah menjadi warga negara Roma, Kis 16:37 dst; 22:25-28; 23:27. Semasa mudanya Paulus dididik di Yerusalem oleh Gamaliel yang memberinya pengajaran mendalam tentang agama Yahudi sesuai dengan ajaran mazhad agama Kristen yang baru muncul, Kis 22:4 dst; 26:9-12; Gal 1:13; Flp 3:6, dan berurusan dengan pembunuhan atas diri Stefanus, Kis 7:58; 22:20; 26:10. Tetapi kira-kira tahun 34 seluruh hidup Paulus yang sedang di perjalanan ke kota Damsyik dirubah oleh penampakan Yesus yang telah bangkit dari alam maut. Tuhan yang bangkit menyatakan kepadanya benarnya agama Kristen dan bahwa tugasnya yang khas ialah mewartakan Injil kepada orang- orang bukan

Yahudi, Kis 9:3-16 dsj; Gal 1:12, 15 dst; Ef 3:2. Sejak saat itu Paulus merelakan hidupnya untuk mengabdi Kristus, yang secara pribadi telah "menangkapnya" untuk dijadikan pengikutNya, Fil 3:12. Sesudah tinggal beberapa lamanya di Arabia, Paulus kembali ke Damsyik, Gal 1:17, dan mulai mewartakan Kristus di sana, Kis 9:20. Sesudah sebentar mengunjungi Yerusalem, Gal 1:18; Kis 9:26-29, maka dalam tahun 39 Paulus pergi ke Siria dan Kilikia, Gal 1:21; Kis 9:30, sampai Barnabas mengajaknya kembali ke Antiokhia, di mana mereka mengajar bersama, Kis11:25 dst dan lihat 9:27. Dalam perjalanannya yang pertama (th 45-49) ke Siprus, Pamfilia, Pisidia dan Likaonia, Kis 13-14, Saulus mulai menggunakan nama Yunani-Latinnya Paulus untuk mengganti nama Yahudinya, yakni Saul, Kis 13:9. Karena berkarya dengan lebih baik, maka Paulus menyisihkan Barnabas, Kis 14:12. Dalam tahun 49, jadi empat belas tahun sudah bertobat, Gal 2:1, Paulus naik ke Yerusalem untuk ikut serta dalam "Konsili Para Rasul". Sebagian karena pengaruhnya Konsili itu menyetujui bahwa hukum Yahudi tidak mengikat orang-orang bukan Yahudi yang masuk Kristen, Kis 15; Gal 2:36. Tugas Paulus di antara orang-orang bukan Yahudi juga secara resmi diakui, Gal 2:7-9. Kemudian ia mengadakan perjalanan-perjalanan lagi. Perjalanan kedua (Kis 15:36-18:22) dan perjalanan ketiga (Kis 18:23 - Kis 21-17) masing-masing berlangsung dalam tahun 50-52 dan 55-58. Sehubungan dengan surat-surat Paulus perjalanan-perjalanan itu akan kita bicarakan lagi, oleh karena surat-suratnya itu ditulisnya justru selama di perjalanan-perjalanan itu. Tahun 58 ditahan di Yerusalem, Kis 21:27-23:22 dan dimasukkan ke dalam penjara sampai th 60, Kis 23:23-26. Dalam musim semi th 60 wali negeri Festus mengirimkannya ke Roma dengan pengawalan ketat, Kis 27:1-28:16. Sesudah di Roma di tahan dua tahun (th 61-63) Paulus dibebaskan karena tidak terbukti salah. Kemudian ia mungkin pergi ke negeri Spanyol, seperti yang direncanakannya, Rom 15:24, 28, tetapi surat-surat Pastoral (Tim, Tit) mengandaikan bahwa Paulus masih mengadakan perjalanan-perjalanan ke Timur. Penahanan Paulus yang kedua di Roma berakhir dengan kemartiran, sebagaimana diberitakan oleh tradisi yang paling tua; ini kiranya terjadi dalam th 67. Kepribadian Paulus Dari Kisah Para Rasul dan dari surat-surat Paulus juga mungkin mendapat gambaran jelas mengenai kepribadian dan perangai Sang Rasul. Paulus adalah seorang yang semangatnya berapi-api dan yang dalam mengejar cita- citanya tidak tahu lelah atau menghitung jerih-payahnya. Pada pokoknya cita-cita Paulus ialah cita-cita keagamaan. Satu-satunya yang menjadi pusat perhatiannya ialah Allah. Dalam mengabdi Allah sebagai hamba setiawan ia menolak segenap kompromis dalam bentuk manapun. Itulah sebabnya maka mula-mula Paulus mengejar mereka yang dianggapnya sebagai bida'ah dan musuh Allah 1Tim 1:13; bdk Kis 24:5, 14, tetapi kemudian mewartakan Kristus, setelah berkat wahyu mengerti bahwa Dialah satu-satunya penyelamatan. Semangat yang tak bersyarat itu terungkap dalam kehidupan yang terdiri atas penyangkalan diri yang mutlak dan pengabdian kepada Dia yang dikasihi Paulus. Kerja keras dan lelah, haus, penderitaan, kemiskinan dan bahaya maut, 1Kor 4:9-13; 2Kor 4:8 dst; 6:4-10; 11:23-27, tidak dipedulikan sama sekali mana kala Paulus menunaikan tugas yang dianggapnya sebagai tanggung jawabnya 1Kor 9:16 dst. Tidak ada sesuatupun dari semuanya itu yang mampu memisahkan Paulus dari kasih Allah dan Kristus, Rom 8:35-39. Sebaliknya, semuanya itu dianggapnya barang berharga oleh karena menyerupai

dirinya dengan Gurunya yang bersengsara dan tersalib, 2Kor 4:10 dst; Flp 3:10 dst. Kesadaran akan panggilannya yang tunggal membuat Paulus memiliki gairah akan yang luhur-luhur dan besar-besar. Kalau ia merasa dirinya bertanggung jawab akan semua jemaat, 2Kor 11:28; bdk Kol 1:24, dan berkata bahwa bekerja lebih dari pada yang lain-lain, 1Kor 15:10; bdk 2Kor 11:5, dan mengajak kaum beriman untuk mencontohnya, 2Tes 3:7+, maka keterangan semacam itu bukanlah kesombongan, melainkan kebanggaan orang suci yang rendah hati. Sebab Paulus juga mengakui dirinya sebagai yang paling hina di antara sekalian orang Kudus, 1Kor 15:9; Ef 3:8, karena telah menganiaya jemaat Allah; karya-karya besar yang dilaksanakannya dianggap berasal dari Tuhan yang berkarya di dalam dirinya, 1Kor 15:10; 2Kor 4:7; Flp 4:13; Kol 1:29; Ef 3:7. Semangat hatinya yang halus nampak dalam sikap Paulus terhadap kaum beriman. Ia mempercayai sungguh-sungguh orang-orang Filipo yang masuk Kristen, Flp 1:7 dst; 4:10-20; ia menaruh perasaan mendalam terhadap jemaat di Efesus, Kis 20:17-38; hatinya memanas, kalau orang-orang beriman di Galatia membiarkan dirinya dibujuk untuk meninggalkan kepercayaan sejati, Gal 1:6; 3:1-3, dan ia sedih terkejut karena ketidak-tetapan hati yang sombong pada orangorang di Korintus, 2Kor 12:11-13:10. Untuk menetapkan yang lincah-lincah Paulus tahu bagaimana bersikap ironi, 1Kor 4:8; 2Kor 11:7; 12:13, dan bahkan melontarkan teguran tegas, Gal 3:1-3; 4:11; 1Kor 3:1-3; 5:1-2; 6:5; 11:17-22; 2Kor 11:3 dst. Tetapi selalu hanya demi kebaikan kaum beriman, 2Kor 7:8-13. Dan segera Paulus memperlunak tegurannya dengan kehalusan hati yang penuh kasih sampai mengharukan hati, 2Kor 11:1-2; 12:14 dst : Bukankah hanya Pauluslah bapa mereka, 1Kor 4:14 dst; 2Kor 6:13; bdk 1Tes 2:11; Flm 10, bahkan ibu mereka, 1Tes 2:7; Gal 4:19? Maka segera pulih kembali hubungan-hubungan baik seperti dahulu, Gal 4:12-20; 2Kor 7:11-13. Sesungguhnya Paulus tidak mau pertama-tama menegur kaum beriman, tetapi para lawan yang berusaha membujuk dan menyesatkan mereka: orang-orang Yahudi yang di mana-mana melawan dan menghalangi Paulus, Kis 13:45, 50; 14:2, 19; 17:5, 13; 18:6; 19:9; 21:27, ataupun orang-orang Kristen ke-Yahudian yang ingin membebankan kuk hukum Taurat pada mereka yang oleh Paulus direbut bagi Kristus, Gal 1:7; 2:4; 6:12 dst. Terhadap golongan-golongan itu Paulus tidak kenal ampun, 1Tes 2:15 dst; Gal 5:12; Flp 3:2. Gairah mereka yang sombong dan "kedagingan" dihadapi Paulus dengan daya rohani sejati yang menyatakan diri melalui kepribadiannya yang lemah, 2Kor 10:1-12:2, dan dengan sikap jujurnya yang membuktikan Paulus tidak mencari keuntungan sendiri, Kis 18:3. Ada sementara orang yang berkata bahwa para lawan Paulus ialah para rasul di Yerusalem. Tetapi pendapat itu tidak dapat dibuktikan. Terlebih-lebih lawan Paulus itu Yalah orang-orang Yahudi yang masuk Kristen dan ingin memaksakan adat-kebiasaan sendiri kepada orang-orang lain. Mereka menyalah-gunakan nama Petrus, 1Kor 1:12, dan Yakobus, Gal 2:12 untuk menurunkan kweibawaan Paulus. Sebaliknya, Paulus sendiri selalu menghormati wewenang para rasul sejati, Gal 1:18; 2:2, walaupun mempertahankan bahwa sebagai saksi Kristus setra dengan merek, Gal 1:11 dst; 1Kor 9:1; 15:811. Kalaupun terjadi bahwa sehubungan dengan perkara tertentu Paulus menentang Petrus, Gal 2:11-14, namun Paulus selalu menyatakan dirinya orang yang suka berdamai, Kis 21:18-26. Dengan seksama ia mengorganisasi pengumpulan dana untuk orang-orang Kristen yang miskin di Yerusalem, Gal 2:10, karena ia beranggapan ini jaminan paling baik bagi persatuan antara orang-orang Kristen bekas kafir dengan Jemaat Induk di Yerusalem, 2Kor 8:14; 9:12-13; Rom 15:26 dst.

Paulus sebagai Pewarta Injil Pewartaan Paulus pertama-tama kerigma rasuli, Kis 2:22+, Kerigma itu ialah: pemberitaan tentang Yesus yang telah disalibkan tapi dibangkitkan dari alam maut, sesuai dengan Kitab Suci, 1Kor 2:2; 5:3-4; Gal 3:1. Apa yang disebutkan Paulus sebagai "Injilku", Rom 2:16; 16:25, sesungguhnya bukanlah Injilnya sendiri, melainkan Injil yang umum dipercaya, Gal 1:6-9; 2:2; Kol 1:5-7, tetapi khususnya disesuaikan dengan dan diterapkan pada pertobatan orang-orang bukan Yahudi, Gal 1:16; 2:7-9, sehaluan dengan kebijaksanaan universalis yang sudah dimulai di Anthiokhia. Paulus setia pada tradisi rasuli yang ada kalanya dikutip olehnya, 1Kor 12:23-25; 15:3-7, dan selalu diandaikannya; sudah barang tentu tradisi rasuli itu sangat berjasa bagi Paulus. Meskipun kiranya tidak pernah melihat Yesus selama hidupNya di dunia ini, bdk 2Kor 5:16+, namun Paulus sangat mengenal ajaranNya, 1Tes 4:15; 1Kor 7:10 dst; Kis 20:35. Selebihnya ia juga seorang saksi langsung dan keyakinannya yang tak tergoncangkan itu berdasar sebuah pengalaman pribadi: sebab iapun "melihat" Kristus, mula-mula di dekat Damsyik, Kis 9:17; 22:14 dst; 26:16; 1Kor 9:1; 15:8; dan selanjutnya masih beberapa kali juga, Kis 9:17; 22:14 dst; 26:16; 1Kor 9:1; 15:8, dan selanjutnya masih beberapa kali juga, Kis 26:16; 1Kor 9:1; 15:8, dan selanjutnya masih beberapa kali juga, Kis 26:16; 22:17-21, Ia telah mengalami penglihatanpenglihatan dan pernyataan-pernyataan Tuhan, 2Kor 12:1-4. Maka apa yang diterimanya dari tradisi itu sungguh-sungguh dapat dianggapnya sebagai pemberitahuan langsung oleh Tuhan, Gal 1:12; 1Kor 12:23. Ada kalanya orang berkata bahwa pengalaman-pengalaman mistik tersebut disebabkan oleh temperamen yang berlebih-lebihan dan sakit-sakitan. Tetapi dugaan itu tidak mempunyai dasar sedikitpun. Memanglah Paulus kena penyakit di Galatia, Gal 4:13- 15, tetapi penyakit itu kiranya tidak lain kecuali serangan malaria, sedangkan "duri dalam daging", 2Kor 12:7, boleh jadi permusuhan terus menerus dari pihak orang-orang Yahudi, kaum sebangsanya "secara jasmani", Rom 9:3. Paulus ternyata tidak mempunyai daya khayal yang berlebih-lebihan mengingat sedikit-sedikitnya gambaran lazim yang ia pakai: gelanggang pertandingan, 1Kor 9:24-27; Flp 3:12- 14; 2Tim 4:7 dst, laut, Ef 4:14, pertanian, 1Kor 3:6-8, dan bangunan, 1Kor 3:10- 17; Rom 15:20; Ef 2:20-22; kedua gambar terakhir suka digabungkan serta dicampur-adukkannya, 1Kor 3:9; Kol 2:7; Ef 3:17; bdk Kol 2:19; Ef 4:16. Paulus nampaknya lebih-lebih seorang intelektuil. Hati yang berapi-api bersatu-padu dengan akal jernih dan tidak segera puas; akal yang dengan teliti membentangkan kepercayaan Kristen sesuai dengan kebutuhan para pendengar. Berkat sifat Paulus itulah kita mendapat ulasan-ulasan yang mengagumkan sekitar kerigma dan yang bersesuaian dengan keadaan nyata. Sudah barang tentu jalan pikiran Paulus itu bukanlah jalan pikiran manusia dewasa ini. Ada kalanya Paulus mengemukakan dalil-dalilnya seperti para rabi mengemukakannya dan sesuai dengan metode penafsiran yang diterima Paulus dari lingkungan serta pendidikannya (misalnya: 3:16; 4:21-31). Tetapi bakat Paulus mendobrak warisan tradisionil yang terbatas itu. Dan melalui saluran-saluran yang bagi kita kurang lebih ketinggalan zaman Paulus mengalirkan suatu pengajaran yang mendalam. Memanglah Paulus adalah seorang Yahudi, tetapi seorang Yahudi yang memiliki bagian kebudayaan Yunani cukup besar. Mungkin ini mulai diperolehnya semasa mudanya di Tarsus dan kemudian di perkaya karena Paulus sering berjumpa dengan dunia Yunani-Romawi. Pengaruh dari kebudayaan Yunani itu tercermin baik dalam jalan pikiran Paulus maupun dalam bahasa serta gaya bahasanya. Ada kalanya Paulus mengutip penulis-penulis Yunani, 1Kor 15:33;

Tit 1:12; Kis 17:28, dan ia pasti mengenal filsafat populer yang berdasar atas mazhab Stoa; dari padanya ia meminjam gagasan-gagasan (misalnya: perginya jiwa yang terpisah dari badan ke dunia ilahi 2Kor 5:6-8; "pleroma" kosmis, Kol dan Ef) dan rumus-rumus tertentu (1Kor 5:6-8; Rom 11:36; Ef 4:6). Dari mazhab Stoa yang berhaluan sinis Paulus mengambil alih apa yang disebutkan sebagai "diatribe", yalah suatu metode argumentasi yang terdiri atas pertanyaan dan jawaban pendek, Rom 3:1-9, 27-31, dan dari situpun berasal ulasan-ulasannya, di mana kata demi kata beruntun, sebagaimana lazim dalam seni pidato. Mana kala menggunakan kalimat panjang dan padat, di mana anak-anak kalimat bergelombang-gelombang desak-mendesak, Ef 1:3- 14; Kol 1:9-20, maka Paulus masih juga dapat menemukan contoh-contohnya dalam kesusasteraan keagamaan di dunia Yunani. Biasanya Paulus memakai bahasa Yunani sebagai bahasa ibu yang kedua, Kis 21:40, dan dengan mahirnya, sehingga hanya sedikit semitisme terdapat. Bahasa Yunani yang dipakai ialah bahasa Yunani yang lazim di zamannya, yakni bahasa "koine", yang baik tanpa peniruan bahasa kuno. Paulus memang tidak suka akan kehalusan yang dibuat-buat seperti lazim dalam seni pidatoo insani, sebab kekuatannya untuk meyakinkan hanya mau diambilnya dari daya Firman kepercayaan yang didukung "tanda-tanda" yang dikerjakan Roh Kudus, 1Tes 1:5; 1Kor 2:4 dst; 2Kor 11:6; Rom 15:18. Bahkan terjadi pula bahwa pengungkapannya kurang tepat dan tidak diselesaikan, 1Kor 9:15. Acuan bahasa tidak mampu menampung pemikiran yang meluap-luap dan perasaan yang terlalu hebat. Dengan kekecualian yang jarang terjadi, bdk Flm 10, Paulus biasanya mendikte surat-suratnya, Rom 16:22, sebagaimana lazim di zaman dahulu dan hanya salam terakhir ditulisnya dengan tangan sendiri, 2Tes 3:17; Gal 6:11; 1Kor 16:21; Kol 4:18. Ada bagian-bagian dalam surat-suratnya yang memberi kesan bahwa masak-masak dipikirkan (misalnya: Kol 1:15-20), tetapi kebanyakan dituliskan sekali jadi dan secara spontan tanpa dikoreksi. Kendati kekurangan-kekurangan itu, bahkan mungkin karena kekurangan-kekurangannya, gaya bahasa cekatan itu berisi secara luarbiasa. Sudah barang tentu pemikiran yang begitu mendalam dan yang terungkap dengan bahasa yang menyala itu tidak mudah dibaca (2Ptr 3:16). Namun demikian pemikiran Paulus menyajikan beberapa nas yang daya keagamaannya dan bahkan gaya sastranya barangkali tidak ada tara bandingnya dalam sejarah kesusasteraan manusia. Surat-surat yang diwariskan Paulus itu semuanya ditulis dengan alasan khusus. Ini tak pernah boleh dilupakan. Surat-surat itu bukan risalah ilmu ketuhanan, melainkan merupakan tanggapan terhadap keadaan tertentu. Surat-surat itu sungguh-sungguh surat yang sesuai dengan suratmenyurat yang lazim di zaman itu, Rom 1:1+. Namun demikian tulisan-tulisan Paulus bukan surat pribadi belaka dan bukan pula "surat" yang hanya nampaknya surat saja, sedangkan pada kenyataannya adalah karya sastra. Surat-surat Paulus berupa uraian-uraian yang ditujukan kepada pembaca-pembaca tertentu dan melalui mereka kepada semua kaum beriman. Maka dalam surat-surat itu jangan dicari kupasan-kupasan teratur dan lengkap yang mengungkapkan seluruh pemikiran Paulus. Di belakang tulisan-tulisan itu tetap membayang perkataan yang secara lisan dibawakan dan surat-surat itu seolah-olah memberi komentar atas beberapa pokok khusus. Namun demikian, nilai surat-surat Paulus tidak teratasi, apa lagi karena isi serta perbedaan- perbedaannya memungkinkan orang menemukan apa yang pokok dalam pewartaan Paulus. Tidak peduli mengapa ia menulis atau kepada siapa ia menulis, karya Paulus berdasarkan ajaran yang pada pokoknya sama. Ajaran itu berpusatkan Kristus yang wafat dan dibangkitkan. Hanya ajaran pokok itu disesuaikan, berkembang dan menjadi semakin berisi selama kehidupan Paulus yang menjadi segala-gala untuk semua orang, 1Kor 9:19-22. Ada sementara penafsir yang mengatakan bahwa Paulus sesungguhnya seorang "peramu" yang sesuai dengan keperluan

memungut pandangan- pandangan yang berlain-lainan dan ada kalanya bertentangan satu sama lain; Paulus sendiri tidak menilai pandangan-pandangan itu seolah-olah mutlak tepat dan benar; ia hanya menggunakannya saja untuk menarik hati orang kepada Kristus. Langsung bertentangan dengan pendapat dengan pendapat tersebut ada orang yang berkata tentang "kekakuan" Paulus. Menurut pendapat ini maka pemikiran Paulus sejak awal mula ditetapkan dan selanjutnya tidak mengalami perkembangan lagi. Semua sudah tetap dan selesai akibat pengalaman Paulus waktu bertobat. Kebenaran terletak di tengah kedua ujung itu : teologi Paulus memang berkembang menurut suatu garis bersinambung, tetapi sungguh ada perkembangan di bawah dorongan Roh Kudus yang membimbing karya kerasulan Paulus. Dan perkembangan benar tapi lurus akhirnya sampai kepada kepenuhan sebagaimana memuncak dalam surat-surat itu sesuai dengan urutannya dalam waktu, orang dapat mengenali tahap-tahap perkembangan pemikiran Paulus. Memanglah urutan dalam waktu itu bukanlah urutan surat-surat Paulus dalam daftar kitab-kitab Perjanjian Baru. Dalam daftar itu surat-surat itu dideretkan sesuai dengan panjangnya. 1 dan 2 Tes; th. 50-51 Surat-surat Paulus yang pertama ditujukan kepada jemaat Kristen di kota Tesalonika. Di musim panah th. 50 Paulus mewartakan Injil di kota itu waktu perjalanannya yang kedua, Kis 17:1-10. Terpaksa oleh permusuhan dari pihak orang-orang Yahudi Paulus pergi ke Berea dam daro sana ke Atena dan Korintus. Di kota terakhir inilah kiranya 1Tes ditulis selama musim dingin th 5051. Silas dan Timotius menemani Paulus di Korintus. Timotius untuk kedua kalinya pergi ke Tesalonika dan dari situ membawa berita-berita yang menggembirakan. Ini menyebabkan peluapan hati yang terungkap dalam 1Tes 1-3. Kemudian menyusullah dalam surat ini serentetan anjuran praktis, 1Tes 4:1-12; 5:12-28. Di antara kedua bagian itu disisipkan suatu jawaban atas soal tentang nasib orang-orang yang sudah meninggal dan Parusia Kristus, 1Tes 4:13-5:11. Surat 2Tes kiranya ditulis di kota Korintus juga beberapa bulan kemudian. Surat ini berisikan beberapa petunjuk praktis, 1; 2:13-3:15, dan sebuah instruksi lagi mengenai kapan Parusia akan terjadi dan mengenai "tanda-tanda" yang mesti mendahului kedatangan Tuhan, 2:1-12. Ditinjau dari segi sastra maka antara 2Tes dan 1Tes ada kesamaan yang menyolok, sehingga ada sejumlah ahli yang menganggap 2Tes sebagai pemalsuan oleh seseorang yang mencuri gagasangagasan Paulus sementara juga meniru gaya bahasanya. Tetapi sukar sekali melihat mengapa seseorang membuat pemalsuan itu. Keterangan lain lebih sederhana dan lebih masuk akal, yaitu: Paulus sendirilah yang ingin lebih jauh menjelaskan dan meluruskan pengajarannya mengenai akhir zaman, lalu menulis surat ini dnegan mengulangi beberapa keterangan dari surat pertama. Memanglah kedua tulisan itu tidak bertentangan satu sama lain, tetapi malahan saling melengkapi. Dan tradisi Gereja dahulu juga jelas mengatakan bahwa kedua surat itu ditulis oleh Paulus. Kedua surat ini tidak hanya penting oleh karen sudah memperkenalkan pangkal beberapa pikiran Paulus yang dalam surat-surat lain diperkembangkan, tetapi terutama karena ajarannya mengenai Parusia. Ternyatalah bahwa dalam tahap permulaan karya kerasulanNya pemikiran Sang Rasul berpusatkan kebangkitan Kristus dan kedatanganNya yang mulia yang membawa keselematan bagi mereka yang percaya kepadaNya, biar sudah mati sekalipun, 1Tes 4:13-18. Kedatangan Kristus yang mulia itu dilukiskan Paulus sesuai dengan apa yang lazim dalam sastra apokaliptik Yahudi dan dalam agama Kristen purba (bdk wejangan Yesus tentang akhir zaman yang termuat

dalam injil-injil sinoptik, khususnya dalam injil Mat). Sama seperti Yesus demikianpun Paulus ada kalanya menekankan dekatnya kedatangan Tuhan yang tidak mungkin diketahui kapannya dan yang menuntut bahwa orang bersiap-siaga, 1Tes 5:1-11, sehingga memberikan kesan bahwa ia sendiri serta sidang pembacanya akan mengalaminya selama masih hidup, 1Tes 4:17; tetapi ada kalanya iapun mencoba meredakan rasa cemas kaum beriman yang digelisahkan oleh pandangan semacam itu. Maka ia mengingatkan mereka bahwa Hari Tuhan belum juga tiba dan mesti didahului beberapa tanda tertentu, 2Tes 2:1-12. Bagaimana ujud tanda-tanda itu bagi kita maupun bagi para pembaca dahulu tidak jelas. Rupanya Paulus memikirkan Si Antikrist sebagai seorang pribadi yang baru akan tampil pada akhir zaman. Ungkapan "apa yang menahan dia", 2Tes 2:6, menurut sementara ahli mengenai kerajaan Romawi dan menurut sementara ahli lain pewartaan Injil, sehingga maksud keterangan itu tetap kabur juga. 1 dan 2 Kor; th. 57 Selama delapan belas bulan lebih, Kis 18:1-16, mewartakan Injil di Korintus, dari akhir th. 50 sampai pertengahan th. 52, Paulus menulis kedua suratnya kepada jemaat di Tesalonika. Sesuai dengan kebijaksanaannya yang lazim, ialah menanamkan kepercayaan Kristen di pusat-pusat besar, Paulus ingin menanamkan kepercayaan kepada Kristus di kota pelabuhan ternama yang banyak penduduknya itu juga. Dari situ kepercayaan itu dapat merambat ke seluruh Akhaia, 2Kor 1:1; 9:2. Pada kenyataannya ia berhasil mendirikan sebuah jemaat kuat di sana, terutama di kalangan masyarakat rendahan, 1Kor 1:26-28. Tetapi kota besar itu adalah sebuah sarang kebudayaan Yunani, di mana berhadap-hadapan macam-macam aliran filsafah dan agama, sedangkan kebejatan susila memberinya nama yang buruk. Perjumpaan agama Kristen dengan pusat kekafiran itu tidak dapat tidak menimbulkan banyak persoalan bagi mereka yang baru masuk Kristen. Dalam kedua surat yang dituliskannya kepada jemaat itu, Paulus berusaha memecahkan soal-soal itu. Bagaimana kedua surat itu lahir sudah cukup jelas, kendati keraguan yang masih ada mengenai beberapa hal kecil. Sebelum surat pertama yang tercantum dalam Kitab Suci telah ada surat yang mendahului, 1Kor 5:9-13. Tetapi surat, yang waktunya ditulis tidak diketahui ini tidak tersimpan. Kemudian, menjelang akhir dua setengah tahun tinggal di Efesus (th. 54-57) dalam menjelang akhir dua setengah tahun tinggal di Efesus (54-57) dalam perjalanannya yang ketiga, Kis 19:120, datanglah dari Korintus suatu utusan yang menyodorkan beberapa masalah, 1Kor 16:17, dan di samping itu Paulus menerima berita mengenai jemaat di Korintus melalui Apolos, Kis 18:27 dst; 1Kor 16:12, dan beberapa orang dari keluarga Khloe, 1Kor 1:11. Maka Paulus merasa terdorong menulis sepucuk surat lagi, yakni surat 1Kor kita. Ia ditulis sekitar Paskah th. 57 (1Kor 5:7 dst; 16:5-9 dibandingkan dengan Kis 19:21). Selang beberapa waktu muncullah di Korintus semacam krisis dan terpaksa Paulus mengunjungi jemaat sebentar dan kunjungan itu tidak menyenangkan, 2Kor 1:23-2:1; 12:14; 13:1-2. Selama kunjungan itu Paulus berjanji tidak lama lagi akan kembali untuk beberapa lamanya, 2Kor 1:15-16. Tetapi terjadi sesuatu dan rupanya kewibawaan Paulus dalam diri seorang utusannya dirongrong, 2Kor 5:10; 7:12. Maka sebagai pengganti kunjungan yang dijanjikan dahulu itu Paulus mengirim sepucuk surat tajam yang ditulisnya dengan mencucurkan "banyak air mata", 2Kor 2:3 dst, 9. Surat ini membawa hasil yang menyenangkan, 2Kor 7:8-13. Kabar gembira tentang hasil itu diterimanya dari Titus, 2Kor 2:12 dst; 7:5-16 di Makedonia, setelah Paulus terpaksa meninggalkan Efesus akibat krisis hebat di sana, yang tidak kita ketahui ujudnya, 1Kor 15:32; 2Kor 1:8-10; Kis 19:23-40. Maka

menjelang akhir th. 57 ia menulis 2Kor. Kemudian ia mengadakan perjalanan kiranya melalui Korintus, Kis 20:1 dst; bdk 2Kor 9:5; 12:14; 13:1, 10, menuju Yerusalem, tempat ia ditahan dan dipenjarakan. Ada yang berpendapat bahwa 2Kor 6:14-7:1 merupakan kepingan dari surat pertama yang hilang itu, dan 2Kor 10-13 bagian dari surat yang ditulis dengan "mencucurkan banyak air mata". Hanya sukar dibuktikan meskipun mesti diakui bahwa bagian-bagian tersebut kurang cocok dengan konteksnya sekarang, 2Kor sesungguhnya melanjutkan 6:13, sementara kesan bahwa 6:14-7:1 berupa sisipan dikuatkan oleh kesamaan menyolok antara bagian ini dengan naskahnaskah kaum Eseni yang ditemukan di Qumran. Dan juga nada keras dalam 2Kor 10-13 kurang sesuai dengan nada ramah yang meresap ke dalam sembilan bab dahulu. Akhirnya 9:1 mengherankan sedikit sesudah apa yang dikatakan dalam bab 8, sehingga orang menduga bahwa aslinya adalah dua surat kecil tersendiri mengenai pengumpulan dana. Dengan demikian tidak dikatakan bahwa bagian-bagian itu tidak berasal dari Paulus. Tetapi sangat mungkin bahwa bagian-bagian tersebut ada macam-macam asal- asulnya. Baru kemudian kiranya dikumpulkan, yakni waktu kumpulan tulisan-tulisan Paulus dibuat. Surat-surat kepada jemaat di Korintus itu dengan bagus dan tepat menyoroti watak dan semangat Paulus, tetapi juga menyajikan suatu ajaran yang penting sekali. Di dalamnya ditemukan, khususnya dalam 1Kor, informasi dan keputusan-keputusan mengenai beberapa soal yang membingungkan jemaat Kristen purba dan tentang cara hidup jemaat itu, baik sehubungan dengan keadaan umat sendiri, seperti kemurnian akhlak. 1Kor 5:1-13; 6:12-20, perkawinan dan hidup wadat, 7:1-40, pertemuan keagamaan dan perayaan Ekaristi, 11-12, penggunaan karuniakarunia Roh Kudus (kharismata, 12:1-14:40, maupun sehubungan dengan relasi jemaat dengan dunia luar, seperti naik banding ke pengadilan negeri, 6:1-11, dan memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, 8-10. Kesemuanya itu hanya berupa pemecahan soal suara hati atau pengaturan ibadat, kalau bakat Paulus tidak merobahnya menjadi kesempatan baik untuk mengemukakan pandangan mendalam mengenai kebebasan hidup Kristen, pengudusan tubuh, keunggulan kasih dan persatuan dengan Kristus. Sewaktu terpaksa membala jabatannya sebagai rasul sejati, 2Kor 10:1-13:14, Paulus mengemukakan pikiran-pikiran unggul mengenai karya kerasulan pada umumnya, 2 Kor 8-9, disinari cahaya persatuan antar-jemaat yang diidamidamkan. Seluruh ulasan mengenai kebangkitan badan, 1Kor 15, berlatar-belakang eskatologi yang menjadi landasannya. Hanya penggambaran apokaliptis seperti terdapat dalam 1Tes dan 2Tes diganti dengan pembahasan yang lebih rasionil, yang dapat membenarkan harapan yang sukar dicernakan orang-orang Yunani itu. Penyesuaian Injil dengan dunia baru yang dimasukinya itu terutama ternyata dalam cara Paulus mempertentangkan kebodohan Salib dengan hikmat Yunani. Kepada orang-orang Korintus yang terpecah- belah menjadi kelompok yang masing-masing membanggakan gurunya serta bakat- bakatnya, Paulus mengingatkan bahwa hanya ada satu Guru saja, ialah Kristus, dan hanya satu Kabar Gembira yaitu: hanya Salib saja yang menyelamatkan; dan itulah hikmat sejati, 1Kor 1:10-4:13. Dengan jalan itu maka terpaksa oleh keadaan dan tanpa meniadakan pandangan akhir zaman, Paulus sampai menekankan hidup Kristen sekarang yang merupakan persekutuan dengan Kristus yang terwujud oleh pengetahuan sejati ialah kepercayaan. Nanti sebagai akibat krisis di Galatia dan sehubungan dengan agama Yahudi Paulus masih lebih memperdalam hidup Kristen sekarang itu. Gal dan Rom; th 57-58

Adapun surat kepada jemaat-jemaat di Galatia dan surat kepada jemaat di Roma perlu dibicarakan bersama-sama, sebab keduanya mengupas persoalan yang sama. Surat kepada jemaat-jemaat di Galatia berupa tanggapan langsung terhadap keadaan tertentu, sedangkan surat kepada jemaat di Roma berupa sebuah risalah lebih lengkap yang dengan tenang dikarang dan mengatur gagasan-gagasan yang ditimbulkan oleh pertikaian di Galatia itu. Hubungan erat kedua surat itu adalah argumen paling kuat melawan pendapat sementara ahli yang mengemukakan bahwa surat kepada jemaat-jemaat di Galatia itu ditulis pada permulaan karya Paulus, bahkan sebelum konsili Yerusalem dalam th. 49. Menurut pendapat tersebut kunjungan kedua Paulus ke Yerusalem, yang diceritakan dalam Gal 2:1-10, adalah sama dengan kunjungan kedua yang disebut dalam Kis 11:30 dan 12:25; tetapi berbeda dengan kunjungan ketiga yang di dalam Kis 11:30 dan 12:25; tetapi berbeda dengan kunjungan ketiga yang dikisahkan Kis 15:2-30 (ini memang cukup berbeda dengan cerita Paulus dalam Gal). Selebihnya rupanya Paulus tidak tahumenahu tentang keputusan Konsili Yerusalem (Kis 15:20, 29; bdk Gal 2:6), sehingga suratnya kepada jemaat-jemaat di Galatia harus sudah ditulis sebelum Konsili Yerusalem. Untuk menyetujui pendapat itu cukuplah diandaikan bahwa "orang-orang Galatia" itu tidak lain kecuali orang-orang Likaonia dan Pisidia, yang kepadanya Injil diwartakan oleh Paulus sewaktu perjalanannya yang pertama. Pergi-pulangnya Paulus dapat juga menerangkan kedua kunjungan yang kiranya diandaikan dalam Gal 4:13. Namun demikian itu kurang berdasar. Meskipun benar bahwa sejak th. 36-25 seb. Mas. daerah Likaonia dan Pisidia dalam administrasi negara tergabung dengan daerah Galatia, namun dalam bahasa sehari-hari selama abad I Mas. daerah Galatia yang sebenarnya terus disebut demikian. Daerah Galatia terletak lebih ke utara. Khususnya sukar diterima bahwa penduduk Likaonia dan Pisidia dikatakan "orang-orang Galatia", Gal 3:1. Kecuali itu pengandaian yang sukar diterima itu tidak perlu sama sekali. Kunjungan kedua yang disebut dalam Gal 2:1-10, lebih mudah dapat disamkan dengan kunjungan ketiga yang diceritakan dalam Kis 15 (memanglah ada kesamaan yang menyolok juga) dari pada dengan yang kedua, Kis 11:30; 12:25. Kunjungan yang kedua itu nampaknya begitu kurang penting, sehingga didiamkan oleh Paulus dalam argumentasinya (Gal). Dan bahkan boleh jadi bahwa sama sekali tidak ada kunjungan kedua dalam Kis. oleh karena Lukas barangkali menggarap dua sumber berbeda-beda mengenai peristiwa yang sama (bdk Kis, Pengantar dan Kis 11:30+). Maka surat kepada jemaat-jemaat di Galatia ditulis sesudah Konsili Yerusalem. Memang Paulus tidak berkata-kata tentang keputusan yang diambil Konsili itu, tetapi boleh jadi keputusan itu sesungguhnya diambil kemudian dari itu (bdk Kis 15:1+). Kalau demikian maka mudah juga dipahami sikap Petrus yang ditegur oleh Paulus menurut Gal 2:1114. Maka orang-orang yang dialamati surat itu benar- benar penduduk daerah "Galatia" yang ditempuh Paulus dalam perjalanannya yang kedua dan yang ketiga, Kis 16:6; 18:23. Boleh jadi surat itu ditulis di kota Efesus, atau barangkali di Makedonia sekitar th. 57. Tidak lama berselang menyusullah surat kepada jemaat di Roma. Paulus sedang berada di Korintus (musim dingin th. 57/58) dan mempersiapkan diri untuk pergi ke Yerusalem. Dari sana ia mau singgah di Roma dalam perjalanan ke Spanyol, Rom 15:22-32; bdk 1Kor 16:3-6; Kis 19:21; 20:3. Paulus tidak mendirikan jemaat di Roma dan informasi-informasi yang diperolehnya tentang jemaat itu, boleh jadi mulai orang seperti Akwila, Kis 18:2 tidak lengkap tetapi separuhseparuh saja. Dari keterangan-keterangan yang tercantum dalam surat itu hanya dapat disimpulkan bahwa jemaat itu terdiri dari orang-orang bekas Yahudi dan bekas kafir dan kedua golongan itu condong saling meremehkan. Karena demikian keadaan jemaat di Roma maka Paulus menganggap baik mempersiapkan kunjungannya dengan mengirimkan sepucuk surat

melalui diakones Febe, Rom 16:1. Di dalamnya ia mengemukakan pendapatnya bagaimana mesti dipecahkan masalah hubungan antara agama Yahudi dan agama Kristen; pikirannya di bidang itu menjadi masak akibat krisis di Galatia. Dengan maksud tersebut Paulus mengatur dan memungut secara saksama dan dengan halus gagasan-gagasan yang sudah terungkap dalam Gal. Surat Gal ini berupa luapan hati, di mana pembelaan diri, 1:11-2:21, disusul sebuah pembuktian berupa ajaran, 3:1-4:31 dan peringatan-peringatan keras, 5:1 6:18. Sebaliknya, Rom berupa sebuah ulasan teratur, di mana bagian-bagiannya susul- menyusul secara tertib dengan berpedoman beberapa pokok yang terlebih dahulu diperkenalkan, lalu diuraikan. Sama seperti halnya dengan surat-surat kepada jemaat di Korintus, demikianpun tidak ada seorangpun yang sungguh-sungguh meragukan bahwa Rom ditulis oleh Paulus. Paling-paling orang menanyakan apakah bab 15 dan 16 barangkali kemudian ditambahkan. Terutama bab 16 yang berisikan banyak salam kepada macam-macam orang barangkali aslinya sebuah surat kecil kepada jemaat di Efesus. Tetapi bab 15 tidak dapat dipisahkan dari surat Rom itu, meskipun beberapa naskah menaruh Rom 16:25-27 pada akhri bab 14 sebagai kata penutup. Ada sejumlah ahli yang mempertahankan bahwa juga bab 16 karangan Paulus yang asli. Mereka mencatat bahwa Paulus dapat berkenan dengan banyak saudara dari Roma yang dahulu diusir oleh Kaisar Klaudius, lalu kembali ke Roma. Dan bagi Sang Rasul memang penting menggaris bawahi hubungan dengan jemaat yang belum mengenal Paulus itu. Adapun doksologi dalam 16:25-27 memang mempunyai ciri-ciri khas dalam gaya bahasanya. Tetapi ini tidak cukup untuk menolak keasliannya, walaupun barangkali ditulis kemudian dari Rom. Sedangkan surat-surat kepada jemaat di Korintus memperlawankan Kristus sebagai Hikmat Allah dengan hikmat dunia yang sia-sia, maka surat-surat kepada jemaat- jemaat di Galatia dan Roma mempertentangkan Kristus sebagai Pembenaran dari Allah dengan pembenaran yang oleh manusia dikirakan dapat diperoleh dengan usahanya sendiri. Di Korintus semangat Yunanilah yang membahayakan pendirian tepat karena terlalu membanggakan akal-budi manusia sendiri. Di Galatia orang- orang ke-Yahudian datang mengatakan bahwa kaum beriman harus bersunat dan menaklukkan diri kepada hukum Taurat, kalau mau diselamatkan. Paulus sekuat tenaga melawan propaganda dan ajaran itu oleh karena berarti mundur selangkah dan menyia-nyiakan karya Kristus, Gal 5:4. Dengan tidak menyangkal nilai tata penyelamatan lama Paulus menentukan batasnya, oleh karena hanya tahap sementara dalam seluruh rencana penyelamatan Allah. Gal 3:23-25. Hukum Musa pada dirinya baik dan suci, Rom 7:12, dan sungguh-sungguh menyatakan kehendak Allah. Tetapi hukum Taurat tidak memberi manusia daya batiniah untuk menepatinya; dengan jalan itu hukum Taurat tidak hanya membuat manusia menjadi sadar akan dosanya dan kebutuhannya akan pertolongan dari Pihak Allah, Gal 3:19-22; Rom 3:20; 7:7-13. Adapun pertolongan yang berupa karunia belaka itu dahulu dijanjikan kepada Abraham sebelum hukum Taurat diberikan, Gal 3:16-18; Rom 4, dan dianugerahkan oleh Yesus Kristus : kematian dan kebangkitanNya sudah menghancurkan kemanusiaan lama yang diracuni dosa Adam dan menciptakan kemanusiaan baru Yesus yang menjadi prototipnya, Rom 5:12-21. Setelah bergabung dengan Kristus melalui kepercayaan dan dijiwai oleh Roh Kudus, maka manusia selanjutnya dengan cuma-cuma menerima pembenaran sejati dan dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah, Rom 8:1-4. Memanglah kepercayaan manusia harus menjadi nyata dalam pekerjaan, tetapi pekerjaan yang dilaksanakan berkat daya Roh Kudus, Gal 5:22-25; Rom 8:5-13, itu bukan lagi pekerjaan hukum Taurat yang padanya orang-orang Yahudi dengan angkuhnya menaruh kepercayaannya. Pekerjaan-pekerjaan itu dapat dilaksanakan oleh semua yang percaya

kepada Kristus, meski datang dari kekafiran sekalipun, Gal 3:6-9, 14; Rom 4:11. Maka tata penyelamatan Musa yang bernilai sebagai persiapan sekarang sudah ketinggalan zaman. Orangorang Yahudi yang mau terus berpegang padanya sesungguhnya menempatkan diri di luar keselamatan yang sebenarnya. Allah mengizinkan mereka menjadi "buta", supaya kaum kafir dapat memperoleh keselamatan. Namun demikian orang-orang Yahudi tidak untuk selamalamanya kehilangan kepilihannya dahulu, sebab Allah memang setia; ada sementara orang-orang Yahudi, yaitu "sisa kecil" yang dinubuatkan para nabi, sudah sampai percaya: dan nanti yang lain-lainpun akan bertobat, Rom 9-11. Sementara itu semua itu kaum beriman, entah orang-orang Yahudi entah bukan Yahudi, harus menjadi satu karena kasih dan saling menolong, Rom 12:115:13. Demikianlah pandangan luas yang sudah dirintis dalam Gal dan dikembangkan dalam Rom. Dan berkat pandangan itulah maka kita mempunyai ulasan yang mengagumkan tentang masa lampau umat manusia yang berdosa, Rom 1:18-3:20, dan tentang pergumulan yang berlangsung dalam diri setiap orang, Rom 7:14-25; tentang keselamatan yang dengan cumacuma dikaruniakan, Rom 3:24 dll, daya yang terkandung dalam kematian dan kebangkitan Kristus, Rom 4:24 dst; 5:6-11, yang didalamnya orang turut serta oleh karena iman dan baptisan, Gal 3:26 dst; Rom 6:3-11; penguraian mengenai panggilan bangsa manusia menjadi anak-anak Allah, Gal 4:1-7; Rom 8:14-17, mengenai kasih Allah yang berhikmat, yang adil dan setia dalam menyelenggarakan rencana penyelamatanNya yang terlaksana tahap demi tahap, Rom 3:21-26; 8:31-39. Pandangan akhir zaman tetap tinggal; sebab kita memang diselamatkan dalam pengharapan, Rom 5:1-11; 8:24. Tetapi sama seperti dalam surat-surat kepada jemaat di Korintus, tekanan terletak pada keselamatan yang sudah dimulai sekarang; Roh yang dijanjikan sudah dimiliki sebagai "karunia-sulung, Rom 8:23, sekarang orang-orang Kristen sudah siap hidup dalam Kristus, Rom 6:11, dan Kristus hidup di dalam mereka Gal 2:20. Dengan demikian maka surat kepada jemaat di Roma menyajikan sebuah sintesa pemikiran teologis Paulus yang mengesankan, sebuah sintesa yang ada di antara yang sangat bagus. Namun demikian sintesa itu bukanlah sintesa sempurna dan lengkap dan bukan pula seluruh ajaran Paulus. Pertikaian yang dilancarkan oleh Luther mengakibatkan bahwa surat Rom ini terlaly diutamakan, hal mana sungguh merugikan, kalau surat-surat lain lain tidak diikut-sertakan sebagai pelengkap, sehingga surat Rom ditempatkan dalam sebuah sintesa yang lebih luas. Filipi; th. 56-57 Kota Filipi adalah sebuah kota penting di Makedonia dan didiami oleh orang-orang Roma yang merantau. Dalam perjalanannya yang kedua dalam th. 50 Paulus mewartakan Injil di situ, Kis 16:12-40. Selama perjalanannya yang ketiga, Paulus masih dua kali singgah di kota Filipi, yaitu di musim rontok th. 57, Kis 20:1-2, dan sekitar Paskah th. 58, Kis 20:3-6. Kaum beriman yang oleh Paulus direbut bagi Kristus di Filipi menyatakan kasih yang mengharukan hati kepada Rasul mereka dengan mengirimkan bantuan kepadanya di Tesalonika, Flp 4:16, dan kemudian di Korintus 2Kor 11:9. Dengan menulis surat ini kepada jemaat itu Paulus justru bermaksud mengucapkan terima kasih karena bantuan yang diterimanya melalui Epafroditus, utusan jemaat di Filipi, yang membawa sumbangan yang baru, Fil 4:10-20, Paulus yang pada umumnya takuttakut kalau memberi kesan seolah- olah mencari untungnya sendiri, Kis 8:3, dengan rela hati menyambut bantuan dari jemaat Filipi. Dengan jalan itu ia menyatakan menaruh kepercayaan luar biasa kepada jemaat itu.

Waktu menulis surat itu Paulus sedang dalam tahanan, Flp 1:7, 12-17. Lama sekali orang beranggapan bahwa ini penahanan pertama di Roma. Tetapi hubungan yang begitu mudah dan demikian kerap kelihatannya, 2:25-30, antara jemaat Filipi dan Paulus sedang Paulus ditemani Epafroditus, mengherankan, seandainya Paulus sungguh di Roma yang terlalu jauh letaknya. Seandainya Paulus berada di Roma (atau di Kaisarea di Palestina, tempat ia juga pernah ditahan sebagaimana diketahui), maka sukar dipahami bahwa bantuan berupa uang yang dikirim jemaat di Filipi melalui Epafroditus itu merupakan kesempatan pertama yang mereka peroleh untuk menolong Sang Rasul setelah mengamalkan kasihnya waktu perjalanan Paulus yang kedua, 4:10, 16. Sebab memanglah Paulus masih singgah dua kali pada mereka dalam perjalanannya yang ketiga. Hanya lebih mudah dimengerti, kalau Paulus menulis surat itu sebelum kedua kunjungan tersebut. Kiranya Paulus berada di Efesus selama th. 56/57 sementara mengharapkan dapat pergi ke Makedonia sesudah dilepaskan (bdk Flp 1:26; 2:19-24 dan Kis 19:21 dst; 20:1; 1Kor 16:5). Kenyataan bahwa Paulus berkata tentang "Pretorium" (terj.: istana) dalam Flp 1:13 dan tentang "rumah/keluarga Kaisar" (terj.: istana Kaisar) dalam 4:22, tidak perlu menjadi kesulitan. Sebab di kota-kota besar, khususnya di Efesus, ada pasukan pengawal pribadi, sama seperti di Roma sendiri yang mengawal wali negeri. Memanglah kita tahu apa-apa tentang penahanan Paulus di Efesus. Tetapi inipun tak perlu menjadi kesulitan yang tak teratasi. Sebab Lukas hanya menceritakan sedikit saja tentang ketiga tahun Paulus tinggal di kota itu, sedangkan Palus sendiri menyiratkan bahwa di sana menghadapi kesulitan berat, 1Kor 15:32; 2Kor 1:8-10. Kalau hipotesa tersebut diterima maka Flp perlu dipisahkan dari Kol, Ef, dan Flm dan didekatkan pada "surat-surat besar", khususnya pada 1Kor. Kedua surat ini tidak bertentangan satu sama lai, tetapi sebaliknya sangat berdekatan baik dari segi sastra maupun dari segi ajaran. Hanya Flp kurang berupa ajaran. Ini lebih- lebih berupa peluapan hati, tukar berita dan peringatan terhadap "pekerja- pekerja jahat", yang di mana-mana merongrong karya Sang Rasul, sehingga boleh jadi juga menyerang jemaat terkasih di Filipi; terutama Flp berupa seruan supaya kaum beriman bersatu dalam kerendahan hati. Seruan itulah yang bagi kita menghasilkan 2:6-11 mengenai perendahan Kristus. Boleh jadi madah yang mengharukan hati itu dikutip oleh Paulus atau merupakan ciptaan Paulus sendiri. Tetapi bagaimanapun juga lagu itu memberikan kesaksian yang berharga mengenai kepercayaan umat Kristen pruba akan kepra-adaan ilahi Yesus. Tidak ada orang yang meragukan bahwa Flp benar-benar dikarang oleh Paulus. Hanya dapat dipersoalkan apakah surat itu barangkali penggabungan beberapa surat kecil yang aslinya tersendiri. Tetapi ini berupa dugaan belaka. Ef, Kol, Flm; th. 61-63. Surat kepada jemaat di Efesus, kepada jemaat di Kolose dan kepada Filemon ternyata sebuah kelompok tersendiri. Ketiga karangan itu sangat erat hubungannya; baik Kol 4:9 maupun Flm 12 berkata tentang Onesimus yang mau dikirim Paulus; Tikhikus disebut dalam Kol 4:7 dst dan dalam Ef 6:21 dst; teman- teman Paulus yang sama tampil dalam Kol 4:10-14 dan dalam Flm 2324; ditinjau dari segi sastra dan dari segi ajaran ada banyak kesamaan antara Ef dan Kol; Paulus masih dipenjara, Flm 1:9 dst; 13, 23; Kol 4:3, 10, 18; Ef 3:1; 4:1; 6:20, dan tentu saja di Roma (antara th. 61 dan 63), dan bukan di Kaisarea atau di Efesus. Kalau di Kaisarea sukar menerangkan bahwa Markus dan Onesimus ada pada Paulus, sedangkan tentang kehadiran Lukas di Efesus bersama Paulus tidak ada berita apapun. Kecuali itu perbedaan gaya bahasa dan

kemajuan dalam ajaran mengandaikan jangka waktu cukup lama antara "surat-surat besar" (Kor, Gal, Rom) dan Ef serta Kol. Dalam jangka waktu itu timbullah sebuah krisis. Dari Kolose, di mana Paulus sendiri tidak mewartakan Injil, 1:4; 2:1, datanglah wakilnya Epafras, 1:7, membawa berita yang mengkhawatirkan, Paulus menjadi prihatin dan segera menanggapi berita itu dengan sepucuk surat kepada jemaat di Kolose; surat itu dibawa ke sana oleh Tikhikus. Tetapi reaksinya terhadap bahaya yang baru itu memperdalam pikiran Sang Rasul. Sama seperti Rom dipakai untuk mengatur pikiran- pikiran yang tercetus dalam Gal, demikianpun sekarang Paulus menulis sepucuk surat lain lagi, di sana ia menyusun ajarannya dengan berpedoman sebuah titik pandangan yang dipaksakan kepadanya oleh pertikaian di Kolose. Sintesa yang mengagumkan itu tidak lain kecuali "surat kepada jemaat di Efesus". Hanya judul semacam itu (yang dalam surat sendiri tidak pasti juga, bdk Ef 1:1+) dapat menipu. Paulus sesungguhnya tidak menulis kepada orang-orang Efesus, tempat ia tinggal selama tiga tahun, melainkan kepada kaum berimann pada umumnya, bdk Ef 1:15; 3:2-4, khususnya kepada jemaat-jemaat di lembahlembah pegunungan Lisia tempat surat itu diedarkan, Kol 4:16. Sementara ahli pernah menolak keaslian kedua surat tersebut. Tetapi Kol dewasa ini lebih umum diterima sebagai karangan Paulus dan pendapat itu memang cukup berdasar. Gagasan-gagasan utama Paulus terdapat dalam Kol, dan kalau ada juga pikiran-pikiran baru maka halnya mudah dijelaskan dengan menunjuk kepada keadaan baru yang harus dihadapi Paulus. Hal yang sama dapat dikatakan tentang Ef juga, tetapi surat ini tetap sangat diragukan keasliannya. Namun demikian karena surat itu ternyata hasil seorang pemikir yang berbakat maka sukar diterima bahwa dikarang oleh seorang murid Paulus. Sudah barang tentu gaya bahasa Kol dan Ef yang bertutur panjang, ada kalanya berlebih-lebihan, itu berbeda sekali dengan pemikiran pendek, padat dan tegang seperti terdapat dalam surat yang dahulu. Tetapi hal itu cukup dapat diterangkan juga, oleh karena Paulus kini mengamati ufuk baru yang jauh lebih luas. Selebihnya Paulus menggunakan macam-macam gaya bahasa dan dalam 2Kor 9:8-14 atau Rom 3:23-26 dll sudah terdapat contoh-contoh gaya bahasa kontemplatip dan lebih kurang liturgis yang sepenuhpenuhnya berkembang dalam Kol dan Ef. Satu-satunya kesulitan yang sesungguhnya berasal dari kenyataan bahwa beberapa bagian dari Ef lebih kurang secara harafiah dan ada kalanya secara salah memungut pengungkapan-pengungkapan dari Kol. Hanya Paulus tidak pernah menulis surat-suratnya dengan tangannya sendiri dari awal sampai akhir. Maka gejala tersebut dapat diterangkan dengan berkata bahwa seorang murid memainkan peranan besar dalam menyusun Ef. Adapun bahaya yang mengancam di Kolose berasal dari pemikiran berlebih-lebihan berdasarkan pandangan-pandangan Yahudi, Kol 2:16, yang bercampur-baur dengan filsafaf ke-Yunanian. Pemikiran-pemikiran berlebih-lebihan tersebut memberi kepada daya-daya sorgawi yang memimpin jalannya jagat raya sebuah peranan begitu penting sehingga menurunkan kedudukan utama Kristus. Paulus menerima saja adanya daya-daya semacam itu tanpa meragukan kegiatannya; ia bahkan menyamakannya dengan malaikat-malaikat yang terdapat dalam tradisi Yahudi, bdk 2:15. Hanya ia menerimanya untuk menempatkannya di tempatnya yang wajar dalam rencana penyelamatan Allah. Mereka telah berperan sebagai pengantara dan pengurus hukum Taurat. Tetapi kini peranannya sudah habis sama sekali. Dengan menciptakan suatu dunia baru maka Kristus Kirios sendiri menangani pemerintahan dunia semesta. PeninggianNya di sorga sudah menempatkan Kristus di atas daya-daya kosmis yang telah dilucuti kekuasaannya dahulu, 2:15. Memanglah sejak awal penciptaan Kristus sudah menguasai kekuasaan-kekuasaan

itu, sebab Dialah Anak dan Gambar Bapa. Tetapi dalam ciptaan baru Kristus menguasai dayadaya itu sebagai Kepalanya dan secara depinitip, oleh karena telah mempersatukan di dalam diriNya segenap "Ple-roma", artinya kepenuhan beradanya, baik beradanya Allah maupun beradanya dunia di dalam Allah, 1:13-20. Oleh karena sudah dibebaskan dari "unsur-unsur dunia" (terj.: roh-roh dunia), 2:8, 20, berkat persatuannya dengan Kepala dan oleh karena mengambil bagian dalam KepenuhannNya, 2:10, maka orang- orang Kristen tidak perlu menaklukkan diri kepada kekuasaan lalim "unsur-unsur dunia" itu dengan menepati macammacam aturan yang sudah ketinggalan zaman dan tidak berguna lagi, 2:16-23. Melalui baptisan mereka sudah dipersatukan dengan Kristus yang wafat dan bangkit, 2:11-13 dan menjadi anggota TubuhNya. Dan hidup baru hanya mereka terima dari Kristus yang menjadi Kepala yang menghidupkan, 2:19. Memanglah Paulus tetap menaruh minat utamanya pada keselamatan Kristen, tetapi karena pertikaian itu ia memperluas karya Kristus sampai merangkum seluruh dunia dan jagat raya. Di samping bangsa manusia yang diselamatkan itu seluruh jagat raya yang menjadi latar belakang dan rangka umat manusia dimasukkan Paulus ke dalam karya Kristus. Maka jagat raya secara tak langsung ditempatkan juga di bawah kekuasaan satu-satunya Tuhan, ialah Kristus. Pemikiran semacam itulah mengakibatkan bahwa gagasan "Tubuh Kristus" yang dirintis dahulu, 1Kor 12:12+, diperkembangkan lebih jauh dengan menekankan Kristus sebagai kepala Tubuh-Nya; bahwa karya penyelamatan diperluas sampai merangkum dunia semesta; bahwa pemandangan diperlebar sehingga Kristus terutama dilihat sebagai pemenang sorgawi, sedangkan Gereja sebagai persatuan menyeluruh dibangun menuju Kristus sorgawi; bahwa eskatologi yang sudah terujud lebih ditekankan, bdk Ef 2:6+. Pemandangan seperti di atas terulang dalam Ef. Tetapi usaha untuk menaruh daya- daya sorgawi yang terlalu dinilai itu pada tempatnya yang wajar sudah menghasilkan buahnya, Ef 1:20-22. Maka perhatian terutama diarahkan kepada Gereja. Ia merupakan Tubuh Kristus yang meluas sampai menjadi Jagat raya baru, Kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu, 1:23+. Dalam pemandangan yang paling tinggi yang merupakan puncak segenap karyanya ini Paulus memungut beberapa pikiran dari masa dahulu untuk menempatkannya di dalam sintesa yang dicapainya. Teristimewanya ia memikirkan kembali persoalan yang dibahasnya dalam surat kepada jemaat di Roma, yang berupa puncak dalam tahap pemikirannya dahulu. Ia tidak hanya dengan sepintas lalu meningkatkan pandangannya mengenai keadaan lampau bangsa manusia yang berdosa dan keselamatan yang dengan cuma-cuma dianugerahkan melalui Kristus, 2:1-10, tetapi juga memikirkan kembali masalah hubungan antara bangsa-agama Yahudi dan jemaat Kristen yang dahulu menggelisahkannya, Rom 9-11. Dan kini persoalan itu dilihatnya dengan berlatar belakang eskatologis yang sudah terlaksana: kini kedua kelompok itu nampak baginya sebagai bersatu karena diperdamaikan di dalam satu orang Manusia baru, sehingga bersamasama di perjalanan menuju Bapa, Ef 2:11-22. Dan justru kenyataan bahwa kaum kafir juga dapat memperoleh keselamatan Israel dalam diri Kristus itu adalah "rahasia khendak Allah", 1:9; 3:3-6, 96:19; Kol 1:27; 2:2; 4:3. Dan mengingat rahasia itulah Paulus pada akhir hidupnya dapat mengemukakan pikiran yang tidak ada tara bandingnya: mengingat Hikmat Allah tak berbatas yang menyatakan diri dalam rahasia itu, 3:9 dst; Kol. 2:3; mengenai kasih Kristus yang tak terselami, yang nampak pula dalam rahasia itu, Ef 3:18 dst; tentang dirinya sendiri, yang terhina di antara para rasul namun oleh Allah dengan cuma-cuma dipilih menjadi pelayan rahasiaNya itu, 1:3-14. Dan akhir- tujuan rahasia itu tidak lain kecuali pernikahan Kristus dengan bangsa yang selamat, ialah Gereja, 5:22-23.

Surat kepada Filemon ditulis pada waktu yang sama dengan ditulisnya Kol dan Ef. Ia dialamatkan kepada seorang Kristen yang oleh Paulus sendiri ditobatkan, ay 9. Di dalam surat kecil itu Paulus memberitahukan bahwa seorang budak bernama Onesimus yang melarikan diri dan oleh Paulus direbut bagi Kristus akan kembali kepada majikannya, ay 10. Dengan tangannya sendiri ay 19, Paulus menulis surat kecil ini yang dengan bagusnya menyoroti kehalusan hati Paulus. Ini juga penting oleh karena memberitakan kepada kita bagaimana Paulus memecahkan masalah perbudakan, Rom 6:15+; meskipun hubungan sosial antara majikan dan budak tetap sama seperti dahulu, namun seorang majikan Kristen dan seorang budak Kristen selanjutnya harus hidup sebagai bersaudara untuk mengabdi Majikan yang sama, ay 16 bdk Kol 3:22-4:1. 1Tim, Tit, 2Tim ; th 65-67 Surat-surat kepada Timotius dan surat kepada Titus sangat berdekatan satu sama lain karena isi, latar belakang historis dan bentuknya. Dua di antaranya rupanya ditulis di Makedonia: yang satu dialamatkan kepada Timotius, yang waktu di Efesus, 1Tim 1:3, di mana Paulus berharap tidak lama lagi dapat bertemu dengannya, 3:14; 4:13, sedangkan yang lain dialamatkan kepada Titus yang oleh Paulus ditinggalkan di pulau Kreta, Tit 1:5. Paulus merencanakan tinggal di Nikopolis ( di Epirus) selama musim dingin dan Titus hendaknya berkumpul dengannya di situ, Tit 3:12. Waktu menulis 2Tim Paulus sedang di penjara di Roma, 1:8, 16 dst; 2:9, setelah singgah di Troas, 4:13 dan Miletus, 4:20. Keadaan Paulus gawat sekali, 4:16, dan ia merasa bahwa ajalnya sudah dekat, 4:6- 8, 18. Ia seorang diri dan mendesak supaya Timotius secepat mungkin datang, 4:9- 16, 21. Meskipun ada kesamaan kecil namun keadaan itu tidak berkesusaian dengan penahanan Paulus di Roma selama th. 61-63 dan tidak pula dengan perjalanan yang mendahuluinya. Ada cukup banyak ahli yang mengambil kesimpulan bahwa ketiga surat itu bukan karangan Paulus, seorang lain mau menjiplak Paulus dan mengkhayalkan catatan-catatan mengenai hal-ihwal Paulus supaya karangan- karangannya nampaknya bersifat historis dan dapat disebar-luaskan dengan nama dan kewibawaan Paulus. Tetapi hipotesa semacam itu tidak perlu sama sekali. Tidak ada bukti satupun bahwa Paulus mati selama penahanannya yang pertama; sebaliknya Kis 28:30 menyarankan bahwa ia dibebaskan. Jadi Paulus dapat mengadakan perjalanan-perjalanan lain lagi, barangkali lebih dahulu di negeri Spanyol sebagaimana ia merencanakannya, Rom 15:24, 28, dan kemudian di sebelah timur, sebagaimana juga direncankan, Flm 22. Mudah saja 1Tim dan Tit ditinggalkan sekitar th. 65 selama suatu perjalanan melalui pulau Kreta, Asia Kecil, Makedonia dan Yunani. Keadaan yang tampil dalam 2Tim adalah situasi penahanan baru yang kali ini berakhir dengan sial. Surat yang merupakan nasehat Paulus ini kiranya ditulis tidak lama sebelum kemartiran Paulus dalam th. 67. Ketiga surat tersebut dialamatkan kepada dua murid Paulus yang paling setiawan, Kis 16:1+; 2Kor 2:13+. Di dalamnya termuat sejumlah petunjuk bagaimana mengorganisasi jemaat-jemaat Kristen yang oleh Paulus dipercayakan kepada mereka. Itulah sebabnya maka sejak abad XVIII surat-surat itu biasanya disebut "Surat-surat Pastoral (Gembala)." Beberapa ahli berpendapat bahwa surat-surat itu mengandaikan tahap perkembangan dalam tata pemerintahan umat yang baru terjadi sesudah Paulus mati. Tetapi pendapat ini kurang tepat. Sebab surat-surat itu sebenarnya mengandaikan sebuah tahap perkembangan umat yang sangat mungkin sudah tercapai menjelang akhir hidup Paulus. Sebutan "episkopos" (penilik) masih searti dengan sebutan "presbiter" (terj. penatua) Tit 1:5-7, seperti juga dahulu, Kis 20:17 dan 28, sesuai dengan susunan jemaat-jemaat dahulu yang dipimpin oleh sebuah dewan penatua, Tit 1:5+. Belum ada

sama sekali seorang "uskup" yang seorang diri menjadi pemimpin tertinggi jemaat. Tokoh semacam itu baru tampil dalam surat-surat Ignasius dari Anthiokia. Hanya perkembangan ke jurusan itu sudah dirintiskan : meskipun beberapa jemaat dipercayakan kepada Timotius dan Titus yang tidak terikat pada satu di antaranya, Tit 1:5, namun kedua wakil Paulus itu memegang kewibawaan rasuli, yang tidak lama lagi harus diserahkan kepada orang-orang lain oleh karena para rasul menghilang. Dan tidak lama kemudian kewibawaan rasuli itu diberi kepada ketua sebuah dewan penatua, dan ketua itu tidak lain kecuali uskup. Tahap peralihan sebagaimana tampil dalam surat-surat pastoral justru menjadi bukti bahwa surat-surat itu benar-benar karangan Paulus. Sebab dengan maksud apa seorang pemalsu dapat mengkhayalkan tahap semacam itu? Perlu diperhatikan juga bahwa "penilik" dan "penatua" itu bukan hanya pengurus harta-benda dan perkara materiil lain, tetapi juga dan terutama bertugas mengajar dan memimpin, 1Tim 3:2, 5; 5:17; Tit 1:7, 9. Dengan demikian maka "penilik" dan "penatua" itu sungguh-sungguh moyang dari uskup dan iman dalam Gereja Katolik sekarang. Sementara ahli berpendapat bahwa desakan untuk berpegang teguh pada "ajaran sehat", 1Tim 1:10 dll, dan memelihara "depositum fidei" (terj.: apa yang dipercayakan kepadamu), 1Tim 6:20; 2Tim 1:14, tidak layak bagi Paulus, seorang pemikir teologis yang berani dan orisinil. Tetapi keterangan dan desakan semacam itu nampaknya sesuai sekali dengan Sang Rasul yang dekat pada ajalnya dan memperingati pembantu-pembantunya yang masih muda berhubung dengan pemikiran- pemikiran yang membahayakan. Sebab Paulus sudah mengamati bahwa jemaatjemaat itu ada selara untuk pembaharuan-pembaharuan yang dapat menghancurkan iman, 1Tim 1:19. Dan ini tentu saja bukan ajaran dari gnostik dalam abad II yang mau ditentang oleh seorang pemalsu yang menyamar sebagai Paulus. "Soal-soal yang dicari-cari", 1Tim 6:4, "dongengdongeng dan silsilah yang tiada putus- putusnya", 1Tim 1:4, "dongeng-dongeng Yahudi", Tit 1:14 dan "percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat", Tit 3:9, yang bercampur dengan aturan- aturan askese yang keras, 1Tim 4:3, kiranya berasal dari orang-orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani dan suka mencampurkan segala sesuatunya. Paulus terpaksa sudah menghadapi mereka waktu krisis dalam jemaat di Kolose. Sudah barang tentu bahasa yang dipakai dalam surat-surat ini tidak mempunyai ciri-ciri bahasa Paulus. Gaya bahasanya sangat lancar, berbeda sekali dengan gaya yang berapi-api dan yang kekayaannya melimpah-limpah, seperti yang dipakai oleh Paulus dalam surat-suratnya dahulu. Bahkan perbendaharaan katapun berbeda dengan perbendaharaan kata yang lazim pada Paulu. Ada orang yang berkata, bahwa usia lanjut Paulus dan keadaannya sebagai orang tahanan dapat menjelaskan gejala semacam itu. Tetapi antara Kol, Ef dan Tim, Tit hanya ada jangka waktu paling- paling empat-lima tahun, sedangkan 1Tim dan Tit tidak ditulis dalam penjara. Juga usaha untuk membeda-bedakan dalam surat-surat pastoral beberapa surat-surat kecil baik yang berasal dari Paulus maupun yang bukan karangannya tidak sampai meyakinkan. Dari sebab itu sebaikbaiknya diandaikan bahwa seorang murid-penulis Sang Rasul berperan dalam menyusun suratsurat pastoral, sama seperti halnya dengan Ef. Kepada penulis itu Paulus memberikan kebebasan lebih besar dari yang lazim. Memang Lukas menyertai Paulus, 2Tim 4:11, dan ada orang yang mengira dapat menemukan kesamaan khusus antara gaya bahasa Lukas dan gaya bahasa suratsurat pastoral. Ibr ; th. 67

Berbeda dengan semua surat lain, surat kepada orang-orang Ibrani sejak dahulu diragukan keasliannya. Bahwasannya surat ini termasuk Kitab Suci jarang dipersoalkan, tetapi dalam Gereja barat sampai akhir abad IV tidak diterima sebagai karangan Paulus, namun bentuk literer surat itu dipersoalkan (Klemens dari Aleksandria, Origenes). Memanglah bahasa dan gaya bahasa surat kepada orang-orang Ibrani adalah murni dan lancar dan pasti bukan bahasa atau gaya bahasa Paulus. Caranya surat ini mengutip dan menggunakan Perjanjian Lama bukanlah cara Paulus. Alamat dan kata pembuka yang lazim dalam surat-surat Paulus tidak ada sama sekali. Ajaran yang termuat dalam karangan itu mempunyai keserupaan dengan ajaran Paulus, tetapi sekaligus ajaran itu cukup asli, sehingga sukar diterima bahwa langsung berasal dari Paulus sendiri. Maka banyak ahli katolik dan bukan katolik dewasa ini sependapat dalam mengakui bahwa surat ini bukan karangan Paulus seperti surat-surat lain adalah karangannya, walaupun secara langsung atau tidak langsung Paulus mempengaruhi Ibr. Dan pengaruh itu begitu rupa sehingga dapat dipertanggung-jawabkan bahwa secara tradisionil surat itu dikelompokkan bersama dengan surat-surat Paulus. Tetapi perbedaan muncul kalau dipersoalkan siapa sesungguhnya penulis Ibr yang tidak bernama itu. Segala macam nama sudah dikemukakan., misalnya Barnabas, Silas, Aristion, dll. Yang kiranya paling kena ialah Apolos, seorang Yahudi dari Aleksandria, yang kefasihan, semangat kerasulan dan kemahirannya dalam Alkitab dipuji oleh Lukas, Kis 18:24-28. Bakat-bakat itu ternyata tampil jelas dalam surat kepada orang-orang Ibrani; bahasa dan pimikirannya berbau bahasa dan pemikiran Aleksandria (Filo); kefasihannya dalam membela agama Kristen meyakinkan, sedangkan seluruh argumentasinya berdasar penafsiran Perjanjian Lama. Seperti nama pengarangnya tidak dikenal dengan pasti, demikianpun halnya dengan tempat ditulisnya surat ini dan orang-orang yang dialamati. Rupanya pengarang tinggal di Italia, 13:24, dan menulis suratnya sebelum Bait Allah di Yerusalem dihancurkan (th. 70). Sebab itu ia berkata tentang ibadat dalam Bait Allah seolah-olah sesuatu yang masih terus berlangsung, 8:4 dst, dan ia menasehati pembacanya sehubungan dengan godaan untuk kembali ke ibadat itu. Tentu saja pengarang menekankan bahwa ibadat Musa mempunyai ciri sementara saja, tetapi sama sekali tidak berkata tentang bencana yang terjadi dalam th. 70, meskipun kejadian itu memang sangat mendukung pendapatnya. Selebihnya pengarang pasti menggunakan surat-surat yang ditulis Paulus dalam penjara (Ef, Flp, Kol). Maka surat kepada orang-orang Ibrani boleh diberi bertanggal sesudah th. 63, kiranya sekitar th. 67, kalau orang menerima bahwa apa yang dikatakan tentang krisis yang mendekat, sebagaimana dapat dirasakan dalam seruannya supaya sidang pembaca berpegang teguh pada kepercayaannya, 10:25 dll, mengenai gejala yang mendahului perang Yahudi. Meskipun judul surat ini, ialah: "Kepada orang-orang Ibrani" baru muncul selama abad II, namun sangat cocok dengan isi karangan itu. Surat ini tidak hanya mengandalkan bahwa para pembaca berkenalan baik dengan Perjanjian Lama, tetapi juga bahwa mereka bekas Yahudi. Oleh karena Ibr begitu menekankan ibadat dan liturgi, maka orang bahkan berpikir kepada bekas imam-imam Yahudi, bdk Kis 6:7. Setelah masuk Kristen imam-imam itu terpaksa meninggalkan kota suci dan mengungsi ke tempat lain, barangkali ke salah satu kota di pantai, misalnya Kaisarea atau Antiokhia. Tetapi pengasingan itu memberati mereka, sehingga dengan rindu mengenangkan ibadat bersemarak yang diselenggarakan oleh kaum Lewi dan yang merekapun melayaninya dahulu. Kepercayaannya yang baru, yang masih kurang kuat dan kurang terdidik, mengecewakan

mereka, apa lagi oleh karena terganggu oleh penganiayaan akibat kepercayaan itu. Maka timbullah godaan hebat untuk mengundurkan diri. Surat kepada orang-orang Ibrani sekuat tenaga berusaha mencegah mereka dari menjadi murtad, 10; 19:39. Untuk mengobarkan semangat kaum buangan yang menjadi lesu dan kendor itu, maka Ibr menyajikan pandangan unggul mengenai hidup Kristen, yang dipikirkan sebagai sebuah ziarah, suatu perjalanan menuju istirahat yang dijanjikan, sebuah perjalanan ke Tanah Air dengan dibimbing oleh Kristus yang melebihi Musa, 3:1-6, dan dengan disinari cahaya imankepercayaan yang sudah memimpin para bapa bangsanya, orang-orang Yahudi waktu keluaran dan semua orang suci dari Perjanjian Lama, 3:7-4:11; 11. Dengan imamat lama dan ibadat kaum Lewi yang dirindukan sidang pembaca, si pengarang memperlawankan diri Kristus yang menjadi Imam menurut peraturan Melkisedek dan melebihi imamat Harun,

Ende: 1 Korintus (Pendahuluan Kitab)


SURAT PERTAMA RASUL PAULUS KEPADA UMAT KORINTUS KATA PENGANTAR Kota Korintus jang termasjhur dalam sedjarah Junani kuno, musna dari bumi dalam perang dengan orang Roma, dalam tahun 146 seb. Kr. Dalam tahun 44 ia dilahirkan kembali oleh kaisar Sesar sebagai suatu kolonisasi Romawi, tempat menampung para bekas pradjurit. Letaknja pada genting tanah, hanja 8 km lebarnja, jang menghubung Semenandjung Peloponesus dengan daratan Junani, dengan pelabuhan jang baik disebelah-menjebelah genting tanah itu, membuat kota itu mendjadi pusat lalu- lintas Laut-Tengah dan kota dagang jang ramai. Pemerintahan Roma mengangkatnja mendjadi ibu kota propinsi Achaja. Dizaman Paulus penduduknja kira-kira 600.000 orang, sebagian besar terdiri dari orang-orang Romawi dan Junani, tetapi terdapat golongan-golongan dari hampir segala bangsa keliling Laut-Tengah. Golongan Jahudi rupanja sangat besar djuga. Tidak ada penduduk asli, melainkan semua pendatang, sehingga segenap penduduk merupakan suatu tjampuran pelbagai bangsa dan persatuan kemasjarakatan longgar sadja. Tiap-tiap golongan ada agamanja dan memelihara kebudajaannja sendiri. Susunan sosialpun aneh. Dua pertiga dari penduduk terdiri dari budak-belian atau bekas budakbelian. Rakjat djelata jang lain umumnja miskin pula. Djumlah orang-orang kaja tidak besar. Kota ini dewasa itu terkenal djuga dimana-mana sebagai jang paling buruk achlaknja dalam segala bidang. Perajaan ibadat kepada Afrodite, dewi agung kota itu, jang tiap-tiap hari dilakukan, setjara resmi bergandengan dengan pertjabulan umum. Dapat dimengerti bahwa Paulus, ketika ia tiba disitu dalam tahun 50 atau 51, lalu dari dekat mengenal kerendahan taraf kesusilaan itu, harapannja akan berhasil disini sangat ketjil. Rupanja perlu Kristus sendiri menabahkannja. Pada suatu malam Tuhan menampakkan diri kepadanja serta berkata: djangan engkau takut-takut; berbitjaralah dan djangan mendiamkan diri; Aku tetap sertamu; tak seorangpun jang akan berhasil berbuat djahat padamu; sebab kaum milikku dikota ini djumlahnja banjak sekali (Kis. Ras. 18:9). Lalu Paulus tinggal kira-kira 18 bulan. Pada golongan Jahudi ia

berhasil sedikit sekali, tetapi dari golongan-golongan lain, chususnja dari orang Junani "banjak jang pertjaja dan dipermandikan" (Kis. Ras.18:8). Umat berkembang pesat dan kegiatan serta semangat iman nampak baik sekali. Paulus dibantu oleh Silas dan Timoteus. Tentang perkundjungan Paulus jang pertama kepada Korintus dan terdirinja umat disitu batjalah Kis. Ras. 18:1-17. Perkembangan umat selandjutnja dan chususnja perkembangan batiniah, kita akan saksikan dalam membatja kedua surat kepada umat itu, jang ditulis 6 dan 7 tahun sesudah umat mulai didirikan. Sesudah Paulus meninggalkan Korintus, datang disitu seorang bernama Apolos sebagai pengadjar Indjil. Ia seorang Jahudi jang lahir dan dididik di Aleksandria, berpendidikan tinggi, pandai berpidato dan mahir dalam Kitab Kudus. la sudah tahu banjak tentang Kristus dan Indjil, tetapi hanja dipermandikan dengan permandian Joanes Pemandi. Ia tiba di Efesus ketika Paulus tidak ada disitu, tetapi mempeladjari Indjil lebih luas dan dalam pada Priskila dan Akuila, dan dipermandikan disitu. Lalu ia pergi mengadjar ke Korintus. Batja Kis. Ras. 18: 23-28. Karena kemahirannja dan keindahan gaja bitjaranja, orang-orang Korintus merasa amat tertarik kepadanja. Ia berhasil mejakinkan baik orang Jahudi maupun penduduk-penduduk lain, sampai banjak bertobat. Sementara itu Paulus memulai perdjalanannja jang ketiga dalam tahun 54. Kira- kira dalam tahun 55 ia sampai ke Efesus dan menetap disitu 2 atau 3 tahun. Apolos pergi bertemu dengan dia disitu, tentu untuk memberi laporan tentang pekerdjaannja dan keadaan umat di Korintus. Dari I Kor. 5:9-13 dapat diduga, bahwa waktu itu Paulus sudah menulis satu surat kepada umat itu, jang tidak tersimpan. Kemudian, dalam tahun 56 atau permulaan 57, datang suatu utusan dari umat Korintus ke Efesus untuk memperbintjangkan kesulitan-kesulitan dalam umat dan mengantar suatu surat dengan persoalan-persoalan untuk dipetjahkan dengan resmi oleh Paulus. Hal itu mendjadi alasan bagi Paulus untuk menulis surat jang berdjudul "Surat pertama R.P. kepada umat Korintus", singkatnja: I Kor. Surat ini kaja berisi dan penting sekali, karena didalamnja beberapa misteri pokok dibitjarakan setjara luas dan mendalam. Paulus berbitjara sebagai "gembala sedjati" atas nama Kristus kepada umat Kristus, karena tjintanja kepada Kristus dan umat. Djiwa Kristus jang telah mendjadi djiwa Paulus mendjiwai seluruh surat, dan tak boleh tidah mendjiwai tiap pembatja jang berminat. Surat ini mendjadi pedoman tak ternilai bagi pimpinan Geredja untuk segala abad, dan bagi masing-masing pribadi mendjadi sumber pengetahuan dan pengertian jang mendalam, lagi dorongan untuk menghajati Indjil dalam tjinta murni kepada Allah, Kristus dan sesama manusia. Seperti Paulus didorong oleh tjinta Kristus, demikian pembatja merasa terdorong oleh tjinta Kristus jang hidup dalam Paulus. Tidak mengherankan bahwa umat jang begitu pesat tumbuhnja menundjukkan lagi tjiri-tjiri kekanak-kanakan dan keremadjaan. Tak mungkin matang dalam keseluruhannja dalam kira-kira 5 tahun. Biarpun Roh Kudus melimpah-limpahkan kurnia-kurnia jang istimewa kepada umat ini, adjaranadjaran dan tjita-tjita Indjil tidak segera meresap dalam-dalam sampai segala tjara berpikir,

perasaan dan kebiasaan kafir melenjap sampai dengan akarnja. Kita akan menjaksikan itu dalam membatja surat, dan tentu dengan banjak faedah bagi diri kita sendiri, setjara meluas dan memperdalam pandangan kita, untuk mengetahui bagaimana patut dan dapat kita mewudjudkan tjita-tjita Indjil dengan sempurna. Tidak perlu kami memaparkan disini hal-hal itu dalam perintjian- perintjiannja.

Wycliffe: 1 Korintus (Pendahuluan Kitab)

PENDAHULUAN 1 KORINTUS
Kota Korintus. Korintus merupakan sebuah pusat perdagangan kaya yang terletak pada sebuah tanah genting sempit yang menghubungkan daratan utama Yunani dengan kepulauan Peloponesos. Sejarahnya dapat dibagi menjadi dua bagian. Kota yang menurut legenda merupakan tempat di mana kendaraan Yason dibuat ini dihancurkan oleh panglima Romawi yang bernama Lucius Mumius Akhayus pada tahun 146 sM. Peristiwa ini menandai akhir dari bagian pertama sejarah kota itu. Akan tetapi, kota yang mempunyai letak demikian strategis tentu dibangun kembali. Maka pada tahun 46 sM kota yang baru didirikan oleh Yulius Caesar dan memperoleh status jajahan Romawi. Kota ini dengan cepat kembali menjadi kota perdagangan penting dan juga dalam banyak hal menjadi kota Yunani yang terkemuka. Pentingnya kota ini pasti telah mempengaruhi rasul Paulus di dalam usahanya menyebarkan Injil. Sebagai pusat perdagangan dari utara ke selatan dan dari timur ke barat serta berpenduduk campuran - Roma, Yunani, dan Asia - Korintus merupakan pusat yang strategis. Sesungguhnya Korintus pernah dinamakan "Kerajaan Roma mini; Kerajaan Roma yang diperkecil menjadi sebuah Negara: (ICC, hlm. xiii). Sebuah pesan yang diberikan dan didengar di Korintus dapat mencapai wilayah-wilayah yang jauh di bagian bumi yang didiami manusia. Maka tidaklah mengherankan bahwa rasul Paulus didorong oleh Firman (bdg. Kis. 18:5) untuk bersaksi di kota ini. Di samping tekanan di dalam dirinya yang berasal dari Tuhan dan dari Firman-Nya mungkin ada tekanan dari luar - pintu yang terbuka di kota kosmopolitan tersebut. Dan akhirnya, keadaan moral Korintus menjadikan kota itu ladang yang subur untuk memberitakan kabar baik tentang Mesias. Kota yang lama memiliki Kuil Afrodit yang terkenal, di mana sekitar seribu orang pelacur yang dianggap suci disediakan bagi para penganut agama itu. Kebiasaan yang sama, bahkan mungkin juga kuil yang sama, tetap ada di kota yang baru. Kata Yunani Korinthiazomai yang secara harfiah berarti bertindak seperti orang Korintus, akhirnya berarti "melakukan percabulan" (bdg. LSJ, hlm. 981). "Setiap orang Yunani," kata Moffatt, "pasti mengetahui apa maksudnya sebutan `gadis Korintus"' (MNT, loc.cit). Penafsir Skotlandia yang terkemuka, William Barclay, pernah mengatakan, "Aelian, penulis Yunani, menceritakan kepada kita bahwa jika ada orang Korintus yang ditampilkan di panggung pertunjukan Yunani, maka peran yang diberikan kepadanya pastilah peran orang mabuk" (William Barclay, The Letters to the Corinthians, hlm. 3). Tidak perlu menambahkan lagi acuan dan ilustrasi; Korintus terkenal karena segala kerusakan akhlak dan kebejatan moral. Pantaslah bahwa Paulus berada di Korintus ketika menulis surat ke Roma. Tidak ada kota lain yang dapat memberikan dorongan lebih kuat kepadanya untuk menulis tentang dosa manusia, dan tidak ada kota lain yang dapat memberikan ilustrasi yang lebih cocok tentang hal itu. Memandang ke luar

dari rumah Gayus sangat mungkin merupakan kesempatan membuat daftar perbuatan jahat manusia sebagaimana terdapat dalam Roma 1:18-32. Jadi, dari latar belakang semacam inilah muncul surat rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus, yaitu surat tentang pengudusan. Seakan-akan seorang zaman sekarang mengirimkan surat pengudusan kepada sekelompok orang percaya di Paris atau Singapura. Asal-usul Gereja. Kisah pendirian gereja di Korintus disampaikan oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul 18:1-17. Paulus tiba di kota ini dalam perjalanan keduanya untuk memberitakan Injil pada tahun 50 M dan dia merupakan orang pertama yang memberitakan Injil Kristus di kota itu. Ketika tinggal di sana dan bekerja sama dengan Akwila dan Priska, Paulus mengawali pelayanannya di rumah ibadah Yahudi, suatu pelayanan yang berlangsung selama delapan belas bulan. Sebuah keterangan menarik diberikan di dalam Kisah Para Rasul 18:4 tentang metode yang dipakai oleh rasul Paulus ketika berkhotbah, "Setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani." Di dalam naskah tertentu terdapat frasa menyelipkan nama Tuhan Yesus yang pasti mengacu kepada penerapan Perjanjian Lama kepada Kristus. Dengan kata lain, Paulus memberitakan Yesus dari Nazaret sebagai penggenapan dari nubuat tentang Mesias. Dengan demikian, Paulus mengikuti metode Tuhan Yesus sendiri yang di jalan menuju Emaus bersama dua orang murid, mulai menjelaskan bagaimana Alkitab sejak Musa dan kemudian para nabi membicarakan diri-Nya (bdg. Luk. 24:27). Tanggapan terhadap khotbah Paulus berbeda dengan tanggapan terhadap ajaran Yesus. Sebagian besar dari para pendengar Paulus tidak terdorong untuk mengetahui kebenaran itu: mereka terdorong untuk melawan kebenaran tersebut. Karena itu Paulus terpaksa pergi (Kis. 18:6). Setelah pindah ke rumah Titus Yustus (mungkin sama dengan Gayus pada I Kor. 1:14 dan Rm. 16:23: William Ramsay, Pictures of the Apostolic Church, hlm. 205). Paulus melanjutkan memberitakan Injil "dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar" (I Kor. 2:3). Siapa yang tidak akan takut atau gentar dalam situasi semacam itu? Tempat pertemuan kelompok kecil itu adalah di sebelah rumah Ibadah yahudi! Sekalipun demikian, Tuhan menghampiri Paulus di dalam suatu penglihatan dan menguatkan dia dengan janji bahwa Tuhan mempunyai "banyak umat" di Korintus (bdg. Kis. 8:9, 10). Janji ini pastilah sangat menghibur sang rasul pada tahun-tahun kemudian, manakala kebebasan moral orang-orang percaya mungkin membuat dia meragukan ketepatan pelayanannya di sana. Sesudah mengakhiri pelayanannya di Korintus, Paulus kembali ke Yerusalem dan Antiokhia. Kepenulisan Surat Ini. Bukti-bukti dari luar maupun dari dalam surat ini sendiri bahwa Paulus yang menulisnya demikian kuat sehingga tidak perlu kita memberikan perhatian yang terlalu besar pada masalah ini. Klemen dari Roma. yang menulis pada sekitar tahun 95 M, menyebutkan bahwa surat ini ditulis oleh "Paulus, sang Rasul yang berbahagia." Ini merupakan kutipan paling awal di mana seorang penulis Perjanjian Baru disebut namanya (ICC, hlm. xvii). Ignasius, Polikarpus, dan lain-lain memberikan banyak bukti tambahan dari luar. Bukti dari dalam surat ini sendiri - gaya Penulisan, perbendaharaan kata dan isi - sesuai dengan apa yang diketahui tentang Paulus dan Korintus. Surat ini asli ditulis oleh Rasul Paulus. Tempat Penulisan. Paulus menulis surat ini dari Efesus (I Kor. 16:8). bukan dari Filipi sebagaimana dikemukakan kalangan tertentu.

Tanggal Penulisan. Tanggal penulisan tidak dapat dipastikan, tetapi tampaknya kemungkinan surat ini ditulis pada bagian belakangan dari masa tinggal Paulus yang cukup lama di Efesus (bdg. Kis. 19:1-20:1). Jika demikian maka tanggal penulisan surat ini adalah sekitar tahun 55 M. Alasan Penulisan Surat Ini. Sebelum memberikan gagasan mengenai alasan penulisan surat ini, akan lebih baik jika kita membuat garis besar urutan kontak dan korespondensi Paulus dengan jemaat di Korintus. Sekalipun nyaris semua butir di dalam garis besar berikut masih dipersoalkan, bukanlah maksud dari pendahuluan singkat ini untuk mempertahankan butir-butir tersebut. 1. Kontak pertama Paulus adalah yang sudah disebutkan di atas, yaitu kunjungan di mana kabar baik untuk pertama kalinya disampaikan kepada orang-orang Korintus. Menurut 2:1, 3:2, dan 11:2, tampaknya kunjungan tersebut merupakan satu-satunya kunjungan sebelum surat Korintus yang pertama ditulis. 2. Sesudah kunjungan pertama itu, Paulus menulis sebuah surat kepada jemaat tersebut dan surat itu tidak ditemukan (bdg. 5:9). 3. Ketika Paulus memperoleh berita-berita yang tidak menyenangkan dari orang-orang percaya dan sebuah surat yang meminta keterangan, Paulus menulis I Korintus ini. 4. Rupanya persoalan-persoalan di dalam jemaat itu tidak dapat diselesaikan oleh surat tersebut sehingga Paulus terpaksa harus mengunjungi mereka di dalam suatu kunjungan yang tergesagesa dan tidak enak (bdg. II Kor. 2:1; 12:14; 13:1, 2). 5. Sesudah kunjungan yang tidak enak ini sang rasul menulis surat ketiga yang keras sekali kepada jemaat ini, surat mana ia sebutkan di dalam II Korintus 2:4. 6. Kekhawatiran sang rasul terhadap jemaat tersebut demikian besar sehingga dia tidak sabar menunggu kedatangan Titus, pembawa surat yang keras itu, di Troas, tetapi bergegas pergi ke Makedonia. Di sana dia menjumpai Titus dan mendengar darinya bahwa surat itu telah membawa hasil; segala sesuatu dalam keadaan baik di Korintus. Dari Makedonia Paulus menulis surat II Korintus yang kanonik (bdg. II Kor. 2:13; 7:6-16). 7. Sesudah itu sang rasul menindaklanjuti dengan kunjungan terakhirnya sesuai yang tercatat ke jemaat itu (bdg. Kis. 20:1-4). Alasan penulisan surat I Korintus dapat ditelusuri sampai kepada beberapa hal. Yang pertama, sang. rasul telah menerima dari dua sumber laporan mengenai adanya perpecahan di kalangan jemaat (bdg. I Kor. 1:11; 16:17). Unsur-unsur asing yang lebih serius mungkin adalah golongan Yudaisme (bdg. 1:12; 9:1). Yang kedua, dari gereja di Korintus, datang Stefanas, Fortunatus dan Akhaikus ke Efesus (bdg. 16:176). Tiga serangkai ini membawa surat yang berisi beberapa buah pertanyaan dari jemaat kepada sang rasul. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dilihat pada frasa kunci yang diulang-ulang, "sekarang tentang" (peri de; 7:1, 25; 8:1; 12:1; 16:1, 12). Yang ketiga, beberapa pokok bahasan tertentu tampaknya hanya merupakan "ungkapan spontan dari kekhawatiran sang Rasul tentang Jemaat di Korintus ini" (ICC, hlm. xxi).

Ciri-ciri Khas Surat Ini. Mungkin ciri yang paling menonjol dari surat ini ialah penekanannya pada kehidupan gereja lokal. Tatanan dan berbagai persoalan gereja mula-mula dihadapi oleh pembaca. Jika surat Roma dapat disebut sebagai tulisan teologis, I Korintus pasti merupakan karya praktis. Jika di dalam surat Roma rasul Paulus lebih mirip dengan seorang guru besar Teologi Alkitabiah modem, di dalam I Korintus dia lebih tampak sebagai gembala pengajar yang berhadapan dengan masalah-masalah pemeliharaan jemaat yang berada di garis depan pertempuran rohani Kristen. Dalam pada itu, penekanan surat ini tidak sepenuhnya bersifat praktis. Pasal paling penting di dalam Perjanjian Baru yang membahas kebangkitan Yesus Kristus mungkin adalah I Korintus 15, dan tentu bagian yang paling penting di dalam Perjanjian Baru yang membahas karuniakarunia rohani adalah I Korintus 12; 13; 14. Dan, tentu saja, surat hebat ini paling terkenal karena liriknya yang indah tentang kasih, I Korintus 13. Di sini kita dapat menyaksikan betapa tingginya seseorang dapat mencapai karya tulis rohani apabila diangkat oleh Roh Kudus Allah. Keunggulan manusia Paulus memancar melalui surat ini dengan kecemerlangan yang sulit dilukiskan. Akhirnya, mungkin penting juga untuk diketahui bahwa surat ini merupakan surat Paulus yang paling panjang. Pola Surat. Argumentasi Paulus jelas dan gamblang, pokok demi pokok dibahas secara teratur dengan pembagian-pembagian yang ditandai secara jelas. Garis besar berikut dipergunakan di dalam pemaparan ini.

Wycliffe: 1 Korintus (Garis Besar)

GARIS BESAR 1 KORINTUS


1. I. Pendahuluan (1:1-9). 1. A. Salam (1:1-3) 2. B. Ucapan Syukur (1:4-9). 2. II. Aneka Perpecahan di Dalam Jemaat (1:10-4:21). 1. A. Fakta Adanya Perpecahan (1:10-17) 2. B. Sebab-sebab Terjadinya Perpecahan (1:18-4:5). 1. 1. Sebab 1: Salah Pengertian tentang Berita Kristen (1:18-3:4). 2. 2. Sebab 2: Salah Pengertian tentang pelayanan (3:5-4:5) 3. C. Penerapan dan Kesimpulan (4:6-21). 3. III. Aneka Kekacauan di dalam Jemaat (5:1-6:20) 1. A. Ketiadaan Disiplin (5:1-13) 2. B. Mencari Keadilan pada Orang Kafir (6:1-11). 3. C. Kelemahan Moral di Dalam Gereja (6:12-20). 4. IV. Aneka Kesulitan di Dalam Jemaat (7:1-15:58) 1. A. Nasihat Mengenai Pernikahan (7:1-40) 1. 1. Pendahuluan (7:1-7) 2. 2. Masalah-masalah Pernikahan (7:8-38)

3. 3. Sisipan (7:39, 40) 2. B. Nasihat Mengenai Hal-hal yang Dipersembahkan Kepada Berhala (8:1-11:1) 1. 1. Prinsip-prinsipnya (8:1-13) 2. 2. Ilustrasi Tentang Prinsip-prinsip Tersebut (9:1-27) 3. 3. Nasihat dan Penerapan kepada Jemaat di Korintus (10:1-11:1) 3. C. Nasihat Tentang Tudung Penutup Kepala Perempuan Ketika Kebaktian Umum (11:2-16). 1. 1. Alasan Teologis (11:2-6) 2. 2. Alasan-alasan Alkitabiah (11:7-12) 3. 3. Alasan Jasmaniah (11:3-16) 4. D. Nasihat Tentang Perjamuan Kudus (11:17-34) 1. 1. Kejengkelan Paulus (11:17-22) 2. 2. Peninjauan Kembali Nasihat yang Pernah Diberikan (11:23-26) 3. 3. Penerapan Kepada Jemaat di Korintus (11:27-34) 5. E. Nasihat Tentang Karunia-karunia Roh (12:1-14:40) 1. 1. Keabsahan Ucapan (12:1-3) 2. 2. Kesatuan Karunia-karunia Roh (12:4-11) 3. 3. Keragaman Karunia-karunia Roh (12:12-31a) 4. 4. Keutamaan Kasih di Atas Semua Karunia (12:31b-13:13) 5. 5. Keunggulan dari Bernubuat dan Ibadah Umum Gereja (14:1-36) 6. 6. Kesimpulan (14:37-40) 6. F. Nasihat Mengenai Doktrin Kebangkitan (15:1-58) 1. 1. Kepastian Kebangkitan (15:1-34) 2. 2. Pertimbangan Terhadap Beberapa Keberatan (15:35-57) 3. 3. Imbauan Penutup (15:58) 5. V. Kesimpulan: Masalah-masalah Praktis dan Pribadi (16:1-24) 1. A. Mengumpulkan Sumbangan Untuk Orang Miskin (16:1-24) 2. B. Kunjungan yang Direncanakan Paulus (16:5-9) 3. C. Aneka Penghargaan. Nasihat, Salam dan Berkat (16:10-24).

BIS: 1 Korintus (Pendahuluan Kitab)


SURAT PAULUS YANG PERTAMA KEPADA JEMAAT DI KORINTUS PENGANTAR Surat Paulus Yang Pertama Kepada Jemaat di Korintus ditulis untuk membahas persoalanpersoalan yang timbul di dalam jemaat yang telah didirikan oleh Paulus di Korintus itu. Persoalan-persoalan tersebut adalah mengenai kehidupan dan kepercayaan Kristen. Pada waktu itu Korintus adalah sebuah kota Yunani, ibukota provinsi Akhaya yang termasuk wilayah pemerintahan Roma. Kota ini, yang penduduknya terdiri dari banyak macam bangsa, terkenal karena kemajuannya dalam perdagangan, kebudayaannya yang tinggi, tetapi juga karena keadaan susilanya yang rendah dan karena adanya bermacam-macam agama di situ. Yang terutama menjadi pikiran Rasul Paulus ialah persoalan tentang perpecahan dan kebejatan di dalam jemaat, dan tentang persoalan-persoalan seks dan perkawinan, persoalan hati nurani, tata

tertib dalam jemaat, karunia-karunia Roh Allah, dan tentang bangkitnya orang mati. Dengan pandangan yang dalam, Paulus menunjukkan bagaimana Kabar Baik dari Allah itu menyoroti persoalan-persoalan tersebut. Pasal 13 (1Kor 13:1-13) melukiskan ciri-ciri kasih yang sejati. Pasal ini mungkin merupakan pasal yang paling terkenal di antara semua pasal lainnya di buku ini. Isi 1. Pendahuluan 1Kor 1:1-9 2. Keretakan dalam gereja 1Kor 1:10-4:21 3. Soal seks dan kehidupan keluarga 1Kor 5:1-7:40 4. Orang Kristen dan orang yang tidak menyembah Allah 1Kor 8:1-11:1 5. Kehidupan jemaat dan ibadah 1Kor 11:2-14:40 6. Perihal bangkitnya Kristus dan orang-orang Kristen dari kematian 1Kor 15:1-58 7. Sumbangan untuk orang-orang Kristen di Yudea 1Kor 16:1-4 8. Hal-hal pribadi dan penutup 1Kor 16:5-24

Ajaran: 1 Korintus (Pendahuluan Kitab)


Tujuan Supaya orang-orang Kristen mengerti ajaran-ajaran utama dalam Kitab I Korintus, dan melakukannya di dalam kehidupan mereka. Pendahuluan Penulis : Rasul Paulus. Tahun : Sekitar tahun 56 sesudah Masehi. Penerima : Orang-orang Kristen di kota Korintus. (Dan juga orang-orang Kristen di seluruh dunia). Isi Kitab: Kitab I Korintus terbagi atas 16 pasal. Di dalamnya kita dapat melihat ajaran tentang cara-cara kehidupan anggota gereja. I. Ajaran-ajaran utama dalam Kitab I Korintus

1. Pasal 1-4 (1Kor 1:1-4:21). Pengajaran tentang kenyataan bahwa setiap orang Kristen hanyalah milik Tuhan Yesus Dalam bagian ini Rasul Paulus menegur orang-orang Kristen karena adanya perpecahan dan iri hati atau pertengkaran. Pendalaman a. Bacalah pasal 1Kor 1:10. _Tanyakan_: Apakah sebabnya terjadi perpecahan di antara jemaat Korintus? Dan apakah yang dikatakan Rasul Paulus tentang perpecahan itu? b. Bacalah pasal 1Kor 3:3. _Tanyakan_: Apakah yang menunjukkan seseorang masih hidup secara duniawi? c. Bacalah pasal 1Kor 4:6. _Tanyakan_: Apakah yang dikatakan Rasul Paulus tentang kesombongan? 2. Pasal 5-6 (1Kor 5:1-6:20). Pengajaran tentang kehidupan moral di dalam jemaat Di dalam bagian ini, Rasul Paulus menjelaskan persoalan yang timbul dalam jemaat karena percabulan dan mencari keadilan pada orang-orang yang tidak beriman. Pendalaman a. Bacalah pasal 1Kor 5:11-13. _Tanyakan_: Apakah yang diperintahkan Allah kepada orang Kristen? b. Bacalah pasal 1Kor 6:6-11. _Tanyakan_: Bagaimanakah perintah Allah? c. Bacalah pasal 1Kor 6:12-20. _Tanyakan_: Mengapakah Rasul Paulus melarang percabulan? Siapakah yang empunya tubuh orang Kristen? 3. Pasal 7-16 (1Kor 7:1-16:24). Pengajaran tentang kemerdekaan orang Kristen dan kehidupan dalam ibadah Di bagian ini, Rasul Paulus menjawab pertanyaan dari jemaat tentang kemerdekaan orang Kristen, sikap dalam kebaktian dan mengenai karunia-karunia Roh, juga tentang kebangkitan orang-orang percaya. Pendalaman a. Bacalah pasal 1Kor 7:8-13. _Tanyakan_: Bagaimanakah perintah Allah tentang pernikahan? Mengapakah orang Kristen tidak boleh bercerai? b. Bacalah pasal 1Kor 8:8-9. _Tanyakan_: "Apakah makanan membawa seseorang lebih dekat kepada Allah?"

c. Bacalah pasal 1Kor 15:12-19. _Tanyakan_: Mengapakah pengakuan akan kebangkitan orang percaya itu penting? d. Bacalah pasal 1Kor 15:57-58. _Tanyakan_: Apakah jerih payah dalam melayani Tuhan Yesus itu sia-sia? II. Kesimpulan Melalui Kitab I Korintus, Allah mengajarkan arti kehidupan menjadi murid Tuhan Yesus dan bagaimana kehidupan sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan (orang Kristen). Pertanyaan-pertanyaan yang Dapat Digunakan untuk Tanya Jawab 1. 2. 3. 4. Siapakah yang menulis Kitab I Korintus? Apakah tujuan Kitab I Korintus? Apakah arti kebangkitan orang percaya dalam iman Kristen? Bagaimanakah seharusnya kehidupan orang yang sudah diselamatkan?

Intisari: 1 Korintus (Pendahuluan Kitab)


Surat kepada gereja yang terpecah belah BAGAIMANA GEREJA DI KORINTUS DIMULAI. Paulus pertama kali mengunjungi Korintus pada perjalanan misionarisnya yang kedua (Kis. 18:1). Sejumlah orang Yahudi, termasuk Krispus yang menjadi kepala rumah ibadat, dan banyak orang bukan Yahudi menjadi Kristen. Paulus memulai sebuah sekolah Alkitab untuk mereka, yang letaknya strategis dan mencolok karena berdampingan dengan rumah ibadat (Kis. 18:1-18). Ia tinggal di sana selama delapan belas bulan dan digantikan oleh Apolos sebagai guru Alkitab. BAGAIMANA BERITA TENTANG GEREJA DI KORINTUS SAMPAI KEPADA PAULUS. Paulus sedang berada di suatu tempat di Asia (1 Kor. 16:19), mungkin di Efesus (16:8), pada akhir masa perjalanan misionarisnya yang kedua, ketika Stefanus dan dua orang kawannya datang dengan membawa sepucuk surat dari jemaat di Korintus (16:17 dan 7:1). SEBUAH GEREJA YANG TERPECAH BELAH. 1. Mereka terpecah karena soal kepemimpinan (1:12). 2. Mereka terpecah karena standar moral (5:1-8). 3. Mereka terpecah karena kasus pendakwa dan terdakwa (6:1-8). 4. Mereka terpecah karena kasus orang Kristen yang lemah dan yang kuat (8:7-12). 5. Mereka terpecah antara yang kaya dan yang miskin (11:17-22). 6. Bahkan karunia Roh menjadikan mereka terpecah belah (12:12-26 ). EMPAT PUCUK SURAT UNTUK JEMAAT KORINTUS? Rupanya Paulus menulis empat pucuk surat kepada jemaat di Korintus: kita hanya memiliki surat kedua dan yang terakhir. 1. Surat pertama disebut dalam 5:9; "Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu". Akan tetapi

tidak ada lagi yang dapat kita ketahui mengenai surat itu. 2. Suratnya yang kedua adalah Surat I Korintus kita ini. 3. Surat yang ketiga tampaknya disebut-sebut dalam I I Korintus 2:3, 4 dan seringkali disebut "surat yang sangat menyedihkan". Surat ini boleh jadi I Korintus, tetapi surat itu tidak benarbenar cocok dengan apa yang disebut oleh Paulus sebagai "surat yang sangat menyedihkan". 4. Surat yang keempat adalah Surat 11 Korintus. PERTANYAAN-PERTANYAAN ANDA TERJAWAB. I Korintus sangat besar nilainya, karena surat itu menjawab banyak pertanyaan yang banyak ditanyakan dewasa ini: o Bagaimana sikap yang benar terhadap para pemimpin kita? o Di mana letak pendidikan dalam kehidupan Kristen? o Bagaimana tentang disiplin gerejawi? o Bolehkah Kristen membawa Kristen lain ke pengadilan? o Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap agama-agama lain? o Apa yang dimaksud dengan kebebasan? o Bolehkah wanita berdoa di gereja? o Apa karunia-karunia Roh itu? o Karunia Roh mana yang paling penting? o Apa yang terjadi setelah kematian? Mempelajari surat ini dengan saksama akan mengungkapkan jawaban atas pertanyaanpertanyaan di atas dan banyak pertanyaan lainnya.

Pesan
Surat ini disusun bagaikan elips dengan dua "titik pusat",bukannya satu. 1. Skandal gereja yang terpecah (pasal 1-4) Gereja terpecah ke dalam empat golongan dengan "nama" yang berbeda-beda: o Saya golongan Paulus o Saya golongan Petrus o Saya golongan Apolos o Saya golongan Kristus Bagian mengenai kelemahan dalam pasal 1 mungkin ditujukan kepada apa yang dikatakan oleh para pengritik tentang Paulus (lihat 2Kor 10:10) dan bagian tentang hikmat dalam pasal yang sama mungkin ditujukan kepada Apolos dan pendidikannya (Kis. Kis 18:24). Paulus menggunakan lima sebutan yang mencolok bagi dirinya dan para pemimpin gereja lainnya untuk menunjukkan bagaimana seharusnya sikap kita: o Sebagai pelayan (diakonia). 1Ko 3:5 o Sebagai kawan sekerja. 1Ko 3:9 o Sebagai ahli bangunan. 1Ko 3:10 o Sebagai hamba, pembantu. 1Ko 4:1 o Sebagai orang yang dipercaya. 1Ko 4:1

2. Kebingungan mengenai kebebasan (pasal 8-10) o Orang Kristen 'yang kuat' berpendapat bahwa mereka bebas memakan makanan dalam rumah-rumah berhala di Korintus, sekalipun orang Kristen 'yang lemah' dibingungkan dan dilemahkan oleh perbuatan mereka. o Wanita-wanita 'yang bebas' merasa boleh menanggalkan kerudung walaupun sebagian pria Kristen tradisional berpikir bahwa mereka terlalu maju. Paulus memarahi hal-hal tersebut. Ia mengambil contoh sederhana: haknya untuk menerima upah bagi pekerjaannya sebagai seorang pengkhotbah. Ia membuat tujuh argumentasi yang mendukung prinsip membayar pengkhotbah: o Contoh dari para rasul. 1Ko 9:5 o Ilustrasi tentang seorang prajurit. 1Ko 9:7 o Ilustrasi tentang seorang tukang kebun. 1Ko 9:7 o Ilustrasi tentang seorang gembala. 1Ko 9:7 o Ajaran hukum Taurat. 1Ko 9:8 o Contoh dari para imam di Bait Allah. 1Ko 9:13 o Pengajaran dari Yesus sendiri. 1Ko 9:14 Dan setelah membuktikan haknya atas upah, ia menolak untuk dibayar (1Ko 9:15). Maksudnya jelas: Walau aku mempunyai hak, tidak berarti bahwa aku harus menggunakannya. Dan inilah prinsipnya: 'Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang'. (1Ko 9:19)

Penerapan
1. Kepandaian manusia pasti bertentangan dengan hikmat Allah. 2. Orang Kristen yang mengidolakan pemimpin mereka: o memecah belah gereja o menipu pemimpin mereka o meremehkan Allah 3. Disiplin gereja, yang kini banyak dilupakan: o memulihkan para pemberontak o memperingatkan mereka yang tidak mantap o menjadi saksi bagi dunia o memuliakan Allah 4. Orang Kristen dibebaskan: o bukan untuk menyenangkan diri sendiri o tetapi supaya dapat melayani Allah o dan dapat memenangkan orang lain 5. Kebangkitan merupakan hakikat kekristenan. o kebangkitan BUKAN sebagai pilihan tambahan

Tema-tema Kunci
o Bacalah dengan saksama 1Ko 1:17 sampai 1Ko 2:13, dan catatlah hal-hal yang berhubungan dengan hikmat, kuasa, kebodohan atau kelemahan. Paulus menggunakan masing-masing ini dalam dua cara: sebagaimana dilihat oleh manusia dan sebagaimana Allah melihatnya. Coba jelaskan semua pokok ini. o Dalam pasal 5 dan 6 Paulus mulai mengajukan tujuh pertanyaan dengan 'Tidak tahukah kamu?': - sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan. 1Ko 5:6 - orang kudus akan menghakimi dunia. 1Ko 6:2 - kita akan menghakimi malaikat-malaikat. 1Ko 6:3 - orang-orang yang tidak benar tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. 1Ko 6:9 - tubuhmu adalah anggota Kristus. 1Ko 6:15 - siapa yang mengikatkan dirinya dengan pelacur, menjadi satu tubuh dengan dia. 1Ko 6:16 - tubuhmu adalah bait Roh Kudus. 1Ko 6:19 Atas dasar apa Paulus berharap agar orang Kristen di Korintus mengetahui ketujuh prinsip ini? Jika kita tahu ketujuh prinsip ini, apa pengaruhnya atas tingkah laku kita? o Empat dasar injil. Dalam 1Ko 15:3-5 Paulus mempersingkat Injil menjadi empat dasar pengajaran. 1. Kristus mati untuk dosa-dosa kita sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab suci. 2. Ia dikuburkan. 3. Ia dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab suci. 4. Ia menampakkan diri... Selidikilah dalam seluruh Perjanjian Lama dan tunjukkan bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa kita sesuai dengan kitab suci dan bahwa Kristus dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan kitab suci. o Pasal 15 mengenai kebangkitan. Apa konsekuensi dari kepercayaan yang tidak mengakui adanya kebangkitan (ayat 12-19)? Perhatikan tiga pasangan yang mencolok yang ditunjukkan oleh Paulus dalam ayat 45-49: 1. Adam pertama dan Adam terakhir. 2. Manusia pertama dan Manusia kedua. 3. Manusia dari debu dan Manusia dari surga. Mengapa Yesus dikatakan Adam terakhir, tetapi Manusia kedua? (Pelajarilah dengan saksama Rom 5:6-21 untuk lebih mendalami hal yang sangat kontras antara Adam dan Kristus).

Garis Besar Intisari: 1 Korintus (Pendahuluan Kitab)

[1] PENGANTAR 1Ko 1:1-9 1Ko 1:1-3 Salam 1Ko 1:4-9 Beberapa komentar yang mengejutkan [2] SKANDAL GEREJA YANG TERPECAH 1Ko 1:10-4:21 1Ko 1:10-31 Manusia dipermuliakan: Kristus disalibkan 1Ko 2:1-3:4 Hikmat rohani 1Ko 3:5-4:5 Pikirkan tentang para pemimpin seperti ini 1Ko 4:6-21 Kesombongan luar biasa, kemiskinan dan kuasa [3] SKANDAL IMORALITAS 1Ko 5:1-6:20 1Ko 5:1-13 Skandal seksual yang memalukan 1Ko 6:1-8 Skandal peradilan 1Ko 6:9-20 Kesucian bagi Bait Roh Kudus [4] PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG PERKAWINAN 1Ko 7:1-40 1Ko 7:1-9 Tentang hak dan kewajiban 1Ko 7:10-24 Tentang perceraian 1Ko 7:25-38 Bagaimana tentang orang-orang yang melajang? 1Ko 7:39-40 Ringkasan [5] DIBEBASKAN... TETAPI SEBERAPA BEBAS? 1Ko 8:1-11:1 1Ko 8:1-13 Dibebaskan dari penyembahan berhala, tetapi... 1Ko 9:1-27 Bebas dari pengaruh masyarakat, tetapi... 1Ko 10:1-13 Bebas karena anugerah Allah, tetapi... 1Ko 10:14-11:1 Bebas untuk melayani manusia dan menyukakan Allah [6] KEKACAUAN DALAM IBADAH DI GEREJA 1Ko 11:2-14:40 1Ko 11:2-16 Rambut panjang, topi dan kerudung 1Ko 11:17-34 Perjamuan Kudus: dalam gereja yang terpecah? 1Ko 12:1-31 Karunia-karunia Roh 1Ko 13:1-13 Karunia yang terbesar 1Ko 14:1-40 Bahasa lidah dan nubuatan [7] KEBANGKITAN 1Ko 15:1-58

1Ko 15:1-11 Inilah kabar baik 1Ko 15:12-19 Jika Kristus tidak bangkit... 1Ko 15:20-34 Tetapi Ia telah bangkit dan kita pun akan dibangkitkan 1Ko 15:35-50 Apa arti kebangkitan 1Ko 15:51-58 Kemuliaan kebangkitan [8] KESIMPULAN 1Ko 16:1-24 1Ko 16:1-9 Rencana-rencana Paulus 1Ko 16:10-20 Beberapa orang penting 1Ko 16:21-24 Salam pribadi Advanced Commentary (Kamus, Lagu-Lagu Himne, Gambar, Ilustrasi Khotbah, Pertanyaan-Pertanyaan, dll)

1 Korintus 16:13
Konteks TB (1974) SABDAweb 1Kor 16:13 BIS (1985) SABDAweb 1Kor 16:13 TL (1954) SABDAweb 1Kor 16:13 MILT (2008) WBTC Draft (2006) SABDAweb 1Kor 16:13 KSI (2000) SABDAweb 1Kor 16:13 FAYH (1989) Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh l dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! m

Hendaklah kalian waspada dan teguh dalam hidupmu sebagai orang Kristen. Bertindaklah dengan berani dan jadilah kuat.

Berjagalah kamu, berdirilah tetap di dalam iman, lakukanlah dirimu seperti laki-laki, biarlah kamu jadi gagah.

Berjaga-jagalah, berdirilah teguh di dalam iman! Bertindaklah seperti pria, jadilah kuat! Waspadalah. Tetaplah teguh dalam iman. Beranilah dan tetaplah kuat.

Hendaklah kamu berjaga-jaga, tetaplah berdiri di dalam iman. Bertindaklah dengan berani dan tetaplah kuat.

Waspadalah terhadap bahaya rohani! Berdirilah teguh di dalam Tuhan! Kuatkan diri dan bersikaplah sebagai orang dewasa!

SABDAweb 1Kor 16:13 ENDE (1969) SABDAweb 1Kor 16:13 Shellabear Draft (1912)

Berdjaga-djagalah. Berdirilah tetap tegak dalam kepertjajaan. Hendaklah bersikap sebagai laki-laki, tetap kuat hati.

Maka hendaklah kamu berjaga, hendaklah kamu berdiri tetap dalam iman kita; lakukanlah dirimu seperti orang laki-laki; hendaklah kamu menjadi kuat.

SABDAweb 1Kor 16:13 Melayu BABA Berjaga-lah, berdiri-lah ttap dalam perchaya, jadi-lah anak jantan, jadi-lah kuat. (1913) SABDAweb 1Kor 16:13 Klinkert 1879 (1879) SABDAweb 1Kor 16:13 Klinkert 1863 (1863) SABDAweb 1Kor 16:13 Leydekker Draft (1733) SABDAweb 1Kor 16:13

Djagalah kamoe; berdirilah tetap dalam pertjaja; biarlah kalakoeanmoe saperti laki-laki; hendaklah kamoe gagah.

Djagalah kamoe, berdiri tetep dengan pertjaja, biar kamoe saperti laki-laki, dan biar kamoe koewat.

Berdjagalah kamu, berdirilah tatap dalam 'iman, melakukanlah dirimu tjara laki 2, djadilah perkasja.