Anda di halaman 1dari 3

Pengobatan tradisional menurut Keputusan Menkes RI No.

1076/MENKES/SK/VII/2003 adalah pengobatan atau perawatan yg mengacu pada pengalaman, ketrampilan, turun temurun, sesuai dengan norma yang berlaku dimasyarakat. Sedangkat obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan, berupa tumbuhan, bahan hewan, mineral, sediaan galenik atau campuran, turun temurun telah digunakan untuk pengobatan. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa baik pengobatan ataupun obat tradisional, keduanya didapat dari warisan turun temurun atau warisan nenek moyang yang sarat akan unsur kepercayaan dan kepatuhan yang tinggi oleh para pelakunya. Dan juga, kepercayaan ini telah ada dan dianut jauh sebelum pengobatan modern dikembangkan, bahkan sejak Sebelum Masehi (SM). Sedangkan pengembangan pengobatan modern baru dilakukan tahun 1400. Tidak dipungkiri pula, beberapa obat tradisional memiliki khasiat yang nyata. Hal ini dibuktikan dengan penelitian ilmiah terhadap tanaman-tanaman tersebut, misalnya daun sirsak terbukti memiliki efek sitostatik, akar pasak bumi mengandung senyawa etanolik (steroid) yang dapat meningkatkan testosterone pria, dan daun jambu biji mengandung astringent sebagai penggumpal protein sehingga baik sebagai antidiare. Hanya saja obat-obat tersebut belum melalui uji klinis sehingga masih belum diketahui keamanannya untuk dikonsumsi oleh pasien. Inilah dilema seputar pengobatan tradisional dengan pemakaia obat-obat tradisional. Sebagai dokter yang menjunjung tinggi kaidah dasar bioetik dalam menjalankan profesi, perlu adanya sikap bijaksana yang harus diperhatikan ketika menghadapi permasalahan yang bersinggungan dengan pengobatan tradisional. Melarang sepenuhnya, bukan cara yang tepat karena hingga saat ini peminat pengobatan tradisional masih sangat banyak dan terkadang hasil pengobatan tersebut juga membawa kesembuhan. Jumlah peminat yang tinggi dikarenakan tarif pengobatan yang terjangkau, asumsi pengobatan alami tidak berefek samping, dorongan psikologi akan kepercayaan dan fakta kesembuhan dari pengalaman kerabat/ masyarakat setempat. Sulit bagi dokter untuk melarang sedangkan bukti kesembuhan sudah dinyatakan oleh pasien, baik itu sembuh secara medis maupun psikis atau ketika dihadapkan dengan kondisi ekonomi pasien. Sedikit banyak, pengobatan tradisional juga memgang peranan penting dalam pengupayaan kesehatan masyarakat sehingga pengembangannya diharapkan mampu menunjang pengobatan modern yang telah terbukti efektivitasnya secara ilmiah.

Menurut UU Kesehatan No.23 th 1992 Pasal 47: 1) Pengobat tradisional merupakan salah satu upaya pengobatan dan atau perawatan cara lain diluar ilmu kedokteran dan atau ilmu keperawatan. 2) Pengobat tradisional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) perlu dibina dan diawasi untuk diarahkan agar menjadi pengobat atau perawatan cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat keamanannya. 3) Pengobat tradisional yang sudah dapat dipertanggung jawabkan manfaat keamanannya perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan untuk digunakan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. 4) Ketentuan mengenai pengobat tradisional sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Berdasarkan Undang-Undang tersebut yang dapat dilakukan oleh dokter dalam menghadapi pasien yang menjalani pengobatan tradisional yaitu: 1. Menanyakan jenis obat yang dikonsumsi dan cara pemakaiannya. Perlu diketahui jenis obat yang dikonsumsi pasien, apakah racikan dari bahan alam, obat herbal terstandar, atau fitofarmaka. Selain itu juga harus ditanyakan aturan pemakaian yang dilakukan oleh pasien (dosis dan cara konsumsi). 2. Mencari literatur terkait penelitian pengembangan obat tradisional tersebut. Apabila ternyata obat herbal terstandar atau fitofarmaka, dokter dapat mempelajari farmakologi obat tersebut, apakah bisa diberikan bersamaan dengan obat modern. Apabila bisa, akan lebih baik obat tradisional tersebut dijadikan sebagai pengobatan komplementer. Apabila ternyata pasien menggunakan bahan alam secara langsung, dokter dapat mencari literature terkait kebenaran cara pemakaian, efek samping yang mungkin terjadi dan kmungkinan interaksi dengan obat modern. Jika aman dikonsumsi secara kombinasi dengan obat modern akan lebih baik. 3. Menjelaskan hakikat pengobatan tradisional untuk memberikan pemahaman yang benar. Maksudnya, dijelaskan kepada pasien bahwa efek samping pada obat tradisional sangat mungkin terjadi, selama ini belum diketahui karena belum dilakukan pengujian secara klinis. Oleh karena itu, perlu kecermatan dalam memilih jenis obat.

4. Memberikan arahan untuk terapi yang dijalankan pasien. Pengembangan obat tradisional diharapkan mampu melengkapi efektivitas terapi obat modern sehingga akan lebih baik jika digunakan secara kombinasi. 5. Memberikan arahan untuk melakukan evaluasi terapi terhadap penyakit. Hal ini untuk memastikan perkembangan penyakit pasien dan melihat efektivitas terapi yang sedang dijalani.