Anda di halaman 1dari 17

TRAUMA PADA SALURAN KEMIH Oleh : Subhan

TRAUMA BLADDER Definisi Trauma tumpul atau penetrasi perlukaan pada bladder yang mungkin dapat/tidak dapat menyebabkan ruptur bladder. Trauma bladder sering berhubungan dengan kecelakaan mobil saat sabuk pengaman menekan bladder, khususnya bladder yang penuh. Etiologi dan faktor resiko Kandung kencing yang penuh dengan urine dapat mengalami rupture oleh tekanan yang kuat pada perut bagian bawah. Cidera ini umumnya terjadi karena pemakaian sabuk pengaman pada klitis. Manifestasi klinik Trauma bladder selalu menimbulkan nyeri pada abdomen bawah dan hematuria. Jika klien mempunyai riwayat trauma pada abdomen, itu merupakan faktor predisposisi trauma bladder. Klien dapat menunjukkan gejala kesulitan berkemih. Test diagnostik pada trauma bladder meliputi IVP dengan lateral views atau CT scan saat bladder kosong dan penuh, atau csytogram. Jika darah keluar dari meatus, disrupsi uretral mungkin telah terjadi. Pada kasus ini, klien tidak boleh dikateterisasi sampai dilitis. Manifestasi klinik Trauma bladder selalu menimbulkan nyeri pada abdomen bawah dan hematuria. Jika klien mempunyai riwayat trauma pada abdomen, itu merupakan faktor predisposisi trauma bladder. Klien dapat menunjukkan gejala kesulitan berkemih. Test diagnostik pada trauma bladder meliputi IVP dengan lateral views atau CT scan saat bladder kosong dan penuh, atau csytogram. Jika darah keluar dari meatus, disrupsi uretral mungkin telah terjadi. Pada kasus ini, klien tidak boleh dikateterisasi sampai disrupsi tersebut teratasi. Manajemen medis Tindakan pertama pada trauma bladder adalah insersi kateter foley atau kateter suprapubik untuk memonitor hematuria dan menjaga agar bladder tetap kosong sampai sembuh. Cidera karena contusio atau perforasi kecil dapat diperbaiki dengan pembedahan.

Manajemen keperawatan Pengkajian terhadap klien yang dicurigai mengalami trauma bladder merupakan hal yang penting. Perawat harus selalu memonitor urine output klien untuk mengetahui jumlah atau adanya hematuria. Perawat harus mencatat penurunan urine output yang berhubungan dengan intake cairan klien. Insersi kateter harus dilakukan secara hati-hati pada klien yang dicurigai mengalami trauma bladder. Manajemen keperawatan pada klien bedah Pada pasien post operative, perawat harus mempertahankan drainase urine untuk mencegah tekanan pada jaritan kandung kemih. Karena klien memakai cateter uretra atau suprapubik maka penting diberikan informasi kepada klien tentang perawatan kateter. Kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan perawatan dirinya harus ditingkatkan sehingga mampu merawat dirinya di rumah. Rujuk untuk perawatan setelah keteter dicabut. Berikan pula informasi mengenai latihan untuk memulihkan fungsi otot-otot kandung kemih. TRAUMA URETRA Uretra, sama seperti bladder, dapat mengalami cidera/trauma karena fraktur pelvic. Terjatuh dengan benda membentur selangkangan (stradle injury) dapat menyebabkan contusio dan laserasi pada uretra. Misalnya saat jatuh dari sepeda. Trauma dapat juga terjadi saat intervensi bedah. Luka tusuk dapat pula menyebabkan kerusakan pada uretra. Kerusakan uretra ini diindikasikan bila pasien tidak mampu berkemih, penurunan pancaran urine, atau adanya darah pada meatus. Karena kerusakan uretra, saat urine melewati uretra, proses berkemih dapat menyebabkan ekstravasasi saluran urine yang menimbulkan pembengkakan pada scrotum atau area inguinal yang mana akan menyebabkan sepsis dan nekrosis. Darah mungkin keluar dari meatus dan mengekstravasasi jaringan sekitarnya sehingga menyebabkan ekimosis. Komplikasi dari trauma uretra adalah terjadinya striktur uretra dan resiko impotent. Impotensi terjadi karena corpora kavernosa penis, pembuluh darah, dan suplay syaraf pada area ini mengalami kerusakan. Penatalaksanaan trauma uretra meliputi pembedahan dengan pemakaian kateter uretra atau suprapubik sebelum sembuh, atau pemasangan kateter uretra/suprapubik dan membiarkan urethra sembuh sendiri selama 2 3 minggu tanpa pembedahan. Selama periode tersebut pasien dimonitor untuk terjadinya infeksi atau ekstravasasi urine. TRAUMA URETER

Lokasi ureter berada jauh di dalam rongga abdomen dan dilindungi oleh tulang dan otot, sehingga cidera ureter karena trauma tidak umum terjadi. Cidera pada ureter kebanyakan terjadi karena pembedahan. Perforasi dapat terjadi karena insersi intraureteral kateter atau instrumen medis lainnya. Luka tusuk dan tembak juga dapat juga membuat ureter mengalami trauma. Dan meskipun tidak umum, tumbukan atau decelerasi tiba-tiba seperti pada kecelakaan mobil dapat merusak struktur ureter. Tindakan kateterisasi ureter yang menembus dinding ureter atau pemasukan zat asam atau alkali yang terlalu keras dapat juga menimbulkan trauma ureter. Trauma ini kadang tidak ditemukan sebelum manifestasi klinik muncul. Hematuria dapat terjadi, tapi indikasi umum adalah nyeri pinggang atau manifestasi ekstravasasi urine. Saat urine merembes masuk ke jaringan, nyeri dapat terjadi pada abdomen bagian bawah dan pinggang. Jika ekstravasasi berlanjut, mungkin terjadi sepsis, ileus paralitik, adanya massa intraperitoneal yang dapat diraba, dan adanya urine pada luka terbuka. IVP dan ultrasound diperlukan untuk mendiagnose trauma ureter ini. Pembedahan merupakan tindakan utama untuk memperbaiki kerusakan, mungkin dengan membuat anastomosis. Kadang-kadang prosedur radikal seperti uterostomy cutaneus, transureterotomy, dan reimplantasi mungkin dilakukan.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN Pada dasarnya pengkajian yang dilakukan menganut konsep perawatan secara holistic. Pengkajian dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Pada kasus ini akan dibahas khusus pada sistim tubuh yang terpengaruh : 1. Ginjal (Renal) Kemungkinan Data yang diperoleh : Oliguria (produksi urine kurang dari 400 cc/ 24jam) Anuria (100 cc / 24 Jam

Infeksi (WBCs , Bacterimia) Sediment urine mengandung : RBCs ,

2. Riwayat sakitnya dahulu. Sejak kapan muncul keluhan Berapa lama terjadinya hipertensi Riwayat kebiasaan, alkohol,kopi, obat-obatan, jamu Waktu kapan terjadinya nyeri kuduk dan pinggang

3. Penanganan selama ada gejala Kalau dirasa lemah atau sakit apa yang dilakukan Kalau kencing berkurang apa yang dilakukan Penggunaan koping mekanisme bila sakit

4. Pola : Makan, tidur, eliminasi, aktifitas, dan kerja. 5. Pemeriksaan fisik Peningkatan vena jugularis Adanya edema pada papelbra dan ekstremitas Anemia dan kelainan jantung Hiperpigmentasi pada kulit Pernapasan Mulut dan bibir kering Adanya kejang-kejang Gangguan kesadaran Pembesaran ginjal Adanya neuropati perifer

6. Test Diagnostik Pemeriksaan fungsi ginjal, kreatinin dan ureum darah

Menyiapkan pasien yang akan dilakukan Clearens Creatinin Test (CCT) adalah: Timbang Berat badan dan mengukur tinggi badan Menanmpung urine 24 jam Mengambil darah vena sebanyak 3 cc (untuk mengetahui kreatinin darah) Mengambil urine 50 cc. Lakukan pemeriksaan CCT dengan rumus : Vol. Urine [cc/menit x Konsentrasi kreatinin urine (mg %)}

Kreatinin Plasma (mg %) Persiapan Intra Venous Pyelography Puasakan pasien selama 8 jam Bila perlu lakukan lavemen/klisma.

DIAGNOSA PERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL (Post operatif) 1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya stoma, aliran/rembesan urine dari stoma, reaksi terhadap produk kimia urine. 2. Gangguan body image berhubungan dengan adanya stoma, kehilangan kontrol eliminasi urine, kerusakan struktur tubuh ditandai dengan menyatakan perubahan terhadap body imagenya, kecemasan dan negative feeling terhadap badannya. 3. Nyeri berhubungan dengan disrupsi kulit/incisi/drains, proses penyakit (cancer/trauma), ketakutan atau kecemasan ditandai dengan menyatakan nyeri, kelelahan, perubahan dalam vital signs. 4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan inadekuatnya pertahanan tubuh primer (karena kerusakan kulit/incisi, refluk urine). 5. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan trauma jaringan, edema postoperative ditandai dengan urine output sedikit, perubahan karakter urine, retensi urine. 6. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan gangguan struktur body dan fungsinya, response pasangan yang tidak adekuat, disrupsi respon seksual misalnya kesulitan ereksi. 7. Deficit pengetahuan dengan tentang kondisi, informasi prognosis dan untuk kebutuhan menangkap dengan pengobatan informasi, menyatakan berhubungan misinterpretasi kehilangan kemampuan

terhadap

ditandai

miskonsepsi/misinterpretasi, tidak mampu mengikuti intruksi secara adekuat.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Nama : Ny. SI Hari / Tanggal : Rabu, 16 Mei 2001 Dx medis : Trauma Ureter post Neoimplantasi Ureter

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya stoma, aliran/rembesan urine dari stoma, reaksi terhadap produk kimia urine. Data Subyektif : Klien mengatakan : Kapan

TUJUAN Tujuan : Klien Kriteria : Luka operai sembuh


2. 1.

INTERVENSI
Cek Drain dan luka insisi, upayakan agar aliran bebas/lancar . 1.

RASIONAL
Pemasangan drain untu mengeluarkan sisa-sisa cairan Koreksi posisi untuk mencegah tubuh. akumulasi cairan dalam

bebas

dari

resiko

kerusakan integritas kulit.


Observasi warna dan sifat drainase. 2.

Drainase berisi darah dan sisa darah selama hari hari pertama post pembedahan.

tanpa komplikasi. Tidak ada iritasi pada 3. Pertahankan posisi selang drainase tube di daerah tempat tempat tidur pemasangan drain Kulit Pasien utuh Tidak ada tanda tanda infeksi pada kulit.
6. Ganti pakaian klien, higiene kulit, disekitar luka insisi. 7. Anjurkan Pasien untuk miring kiri dan kanan setiap 2 jam berjumlah 15 KOLABORASI : 1. 2. tidur/ istirahat dgn Beri antibiotik sesuai indikasi. Monitor hasil lab: Contoh : Leukosit 7. 6. 5. Observasi sedakan, distensi abdomen, Batuk. 5. 4. Atur posisi semi fowler 3. 4.

Mempertahankan tetap lancarnya aliran dan mencegah pembentukan lumen Mempermudah aliran em pedu Lepasnya draine dapat menyebabkan iritasi dan komplikasi yg serius . Menjaga kebersihan kulit disekitar insisi dapat mening katkan perlindungan kulit ter hadap ulserasi. Mencegah integritas kulit. terjadinya kerusakan

selang saya dicabut dan lukanya dapat capat sembuh karena ingin mandi bebas selama ini hanya dilap dgn whaslap. Banyak berkeringat & membuat badan tdk enak & gatal-gatal. Posisi tidur tdk enak krn ada luka operasi & selang. Data Obyektif : Terpasang tube difiksasi ke tempat tidur. Luka jahitan Jumlah cairan yg keluar 200cc. Badan masih ikterus terutama sklera mata. Posisi tempat bantal. Luka Operasi tdk tampak tandatan da infeksi. jahitan

Untuk mengurangi infeksi atau abses Peningkatan leukosit sebagai gambaran adanya proses imflamasi contoh abses atau terjadinya peritonitis.

semifowler dan ber sandar di tidur diganjal

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Nama : Ny. SI Hari / Tanggal : Rabu, 16 Mei 2001 Dx medis : Trauma Ureter post Neoimplantasi Ureter

DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI


1. Secara verbal me ngerti akan proses penyakit, pengoba tan dan prognosis pembedahan. Melakukan prosedur bahwa tdk tindakan. Menilai perubahan gaya hidup dan ikut serta dalam pengobatan 4. menjelaskan koreksi yang penting reaksi thd & dr 3. 2. Ajarkan perawatan insisi atau membersihkan luka . Anjurkan agar Draine dan kantong urobag jangan diangkan dan pengeluarannya. Identifikasi tanda/ gejala : urine keruh, warna drainase.. 5. Kaji ulang keterbatsan aktifitas, tergantung situasi individu. Kaji ulang pengetahuan pembedahan , prog- nosa. 6. Anjurkan klien utk men-catat dan menghindari makanan yg dpt me-nyebabkan deare. pada klien ttg 5. Kebiasaan aktifitas dapat dimulai lagi secara normal dalam waktu 3 5 hari setelah pembedahan pro- ses penyakit , prosedur 4. Merupakan indikai sumba-tan saluran empedu/ ggn degestif, dpt digunakan utk evaluasi & intervensi beri penjelasan untuk mencatat volueme dlm kantong dan catat 3. 2. Akan mengurangi keterganungan dalam perawatan, dan menurunkan resiko komplikasi. Menurunkan resiko aliran balik pada slang Drain dan urine . Memberi informasi ttg status cairan . 1. Kaji ulang pada klien ttg pengetahuan pro- ses penyakit , prosedur pembedahan , prog- nosa. sehingga

RASIONAL
Beri pengetahuan dasar pada klien klien dapat memilih imformasi yang dibutuhkan.

Kurang pengetahuan tentang kondisi kebutuhan informasi.


Data subyektif : klien menyatakan ttg mengerti proses penyakit,

prog

nosa

dan

pengobatan,

sehubu ngan dgn : kurangnya

prosedur pembe-dahan & pengobatan karena tdk ada yg memberi tahu, dan dokter memberi tahu bahwa saya harus operasi. Data Obyektif : Klien banyak Tanya, cemas

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Nama : Ny. SI Hari / Tanggal : Rabu, 16 Mei 2001 Dx medis : Trauma Ureter post Neoimplantasi Ureter

DIAGNOSA KEPERAWATAN Resiko tinggi gangguan nutrisi sehubungan dengan intake yang tidak adekuat.
Data Subyektif : Pasien mengeluh nafsu makan kurang suka melihat makanan Data Obyektif. Klien Nampak Lemah, Tidak makan nasi yang disiapkan.

TUJUAN Tujuan : Nutrisi Pasien Dipertahankan Dalam batas normal Kriteria: -. Pasien menghabiskan porsi makanan yang disiapkan -. Tidak mengeluh mual dan muntah -. Tidak mengeluh pusing

INTERVENSI 1. Beri makanan sesuai dengan kebutuhan dan kesukaannya. 2. Observasi terkonsumsi nutrisi yang dibutuhkan dan jumlah makanan

RASIONAL Kegagalan asupan nutrisi dapat terjadi akibat maknan yang dihidangkan tidak

kurang Dari Kebutuhan Tubuh Status

yang sesuai dengan kebutuhan dan kesukaan. Untuk memastikan cukupnya asupan

3. Beri penjelasan pada pasien tentang makanan peroral kegunaannya. 4. Sajikan menu yang menarik 5. Kolaborasi anti mual, makan. 6. Lakukan cek BB tiap 3 hari Mengatasi kegagalan asupan makanan peroral dengan medis tentang keluhan untuk mendapatkan infus.,obat obat penambah nafsu Merangsang nafu makan klien Pengetahuan akan membantu

meningkatkan toleransi pasien terhadap kebutuhan yang ada

Mengetahui nutrisi

perkembangan

status

Asuhan Keperawatan Trauma ureter Pada Klien Ny. SI., di Ruang Bedah A RSUD Dr Soetomo Surabaya.
Nama Mahasiswa Tempat Praktek Tanggal : Subhan : Ruang Bedah A RSUD Dr Soetomo Surabaya : 14 18 Mei Mei 2001

Pengkajian
1. IDENTITAS Nama Umur Jenis Kelamin Suku / bangsa Pekerjaan Agama Pendidikan Alamat Alasan Dirawat Keluhan Utama Sebelumnya Therap/Operasi : Ny. SI : 38 Tahun : Perempuan : Jawa / Indonesia : : Islam : : Lamongan : Sejak Januari 2001 ngompol teru sampai masuk rumah sakit.n : Saat pengkajian tidak ada keluhan yang spesifik, hanya klien menge bertanya kapan slangnya dicabut : Nyeri pada tempat pemasangan drain dan tempat insisi : Therapi sebelumnya pasien lupa. Hysteroctomi November 2001 Upaya yg Dilakukan: Ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya Tanggal MRS : 7 - Mei - 2001 Diagnosa Medik : Trauma ureter Post Neoimplantasi ureter

2. RIWAYAT KEPERAWATAN (nursing History) 2.1 Riwayat Penyakit Sebelumnya Perdarahan yang banyak setelah partus.. 2.2 Riwayat Penyakit Sekarang Sejak dioperasi bulan November 2000, pasien mengeluh terus ngompol. Sehari ganti pemperes 6-8 kali. Mulanya pasien merasa tidak apa apa karena akan ada pemulihan nanti. Karena berlangsung terusm enerus klien menjadi stress dan pergi memeriksakan diri dan dianjurkan untuk dirawat dan mengalami pembedahan lagi.

Riwayat Kesehatan Keluarga Tidak ada riwayat penyakit keturunan dalam keluarga. Keluarga dalam keadaan sehat sehat saja 2.3 Keadaan Kesehatan Lingkungan Klien mengatakan rumahnya sederhana tetapi bersih. Mandi Dikamar mandi menggunakan air sumur. Jarak rumah tinggal berdekatan. Ada selokan didepan rumah. Kalau hujan sering meluap 2.4 Riwayat Kesehatan lainnya : Alat Bantu Yang Digunakan : Klien tidak menggunakan alat Bantu pendengaran. Menggunakan kaca mata baca . Tidak menggunakan gigi palsu. 3. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK 3.1. Keadaan Umum Tampak lemah sekali Banyak keringat, agak pucat. Tidur di tempat tidur dengan posisi terlentang. Tangan Kanan terpasang IVFD RL RL 20 tetes/menit. Terpasang drainase dan katheter yang difiksasi ditempat tidur 3.2. Tanda Tanda Vital Temperatur : 36 0C / Axilla, Nadi : 102 X/menit, lemah dan kecil , Tensi 110/80 mmHg lengan kanan RR : 20 Kali / menit 4. BODY SYSTEMS 4.1 Pernapasan ( B1 = Breathing) Hidung Trachea : Tidak ada perdarahan dan tidak ada secret, bentuk hidung normal : Tidak ada dispneu Tidak ada batuk darah Tidak ada sputum Rales (-) Tidak ada orthopneu Napas Dangkal (-) Tracheotomi (-) Crackets (-)

Tidak ada Nyeri Tidak ada cyanosis Tidak ada retraksi dada Suara Tambahan Wheezing (-)

Ronchi (-)

Bentuk dada : Simetris kiri dan kanan 4.2 Cardiovaskuler (B2 = Bleeding) Nyeri dada (-) Kram kaki (-) Edema : Palbera (-) Extremitas atas (-) Ascites (-) Pusing (+) Clubbing Finger (-) Sakit Kepala (-) Palpitasi (-)

Suara jantung : Normal

Anasarka (-) Tambahan :

Extremitas Bawah (-)

Hasil Pemeriksaan Laboratorium tangga 10 Mei 2001 : Hb HT Leukosit Trombo PCV Natrium Kalium Kreatinin Serum SGOT Gula darah Acak 4.3 Persyarafan Kesadaran GCS Mata Sclera : Tidak Icterus Persepsi sensori: Pendengaran : Kiri : Normal Penciuman Pengecapan Penglihatan Perabaan : Normal : Tidak ada gangguang penglihatan : Normal : 4200 cc/24 jam : Kuning teh Kanan : Normal : Dapat membaui (Normal) Pupil : Isokor Leher : Tidak ada pembengkakan, Bentuk normal : Composmentis :E (4), V(5), M (6) Total Nilai : 15 : 130 : 129 : 119 : 14,2 gr% : 5000 : 8,5 : 400.000 : 0,48 : 140 : 5,5 5

Kepala dan wajah: Tidak ada kelainan

4.4 Perkemihan Eliminasi Uri (B4 = Ladder) Produksi Urine Warna

Terpasang douwer catheter . 4.5 Pencernaan - Eliminasi Alvi (B5 = Bowel) Mulut dan tenggorokan Abdomen Rectum BAB Obat Pencahar Diit : Bersih tidak ada tanda radang dan kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak dikaji : 2 kali/hari, : Tidak : Tinggi Kalori tinggi protein Konsistensi : Lembek

Lain lain : Nafsu makan menurun karena mual 4.6 Tulang Otot Integument Kemampuan pergerakan sendiri : bebas. Tidak ada paree. Paralysis dan hemiparese Extremitas Atas dan bawah tidak ada kelainan Tulang belakang tidak ada kelainan Kulit Turgor kulit baik 4.7 Sistim Endokrin Tidak ada therapy hormonal Riwayat pertumbuhan dan perkembangan fiik : Normal Tidak ada kelaian dalam kaitan dengan sistim endokrin 4.8 Sistim hemapoetik Tidak ada riwayat mendapat transfusi darah 4.9 Sistim reproduksi 4.10 Psikososial : Tidak dikaji : Warna kulit sawo matang Akral : Dingin

Harapan klien : klien mengharapkan agar penyakitnya cepat sembuh supaya dapat kembali ke sekolah . bekerja. Klien mematuhi semua anjuran petugas kesehatan yang merawatnya . Klien stress dengan penyakitnya. Analisa Data

Karakteristik data
Data Subyektif : Klien mengatakan : Kapan selang saya dicabut dan lukanya dapat capat sembuh karena ingin mandi bebas selama ini hanya dilap dgn whaslap. Banyak gatal-gatal. Posisi tidur tdk enak krn ada luka operasi & selang. Data Obyektif : Terpasang tube difiksasi ke tempat tidur. Luka jahitan berjumlah 15 berkeringat &

Kemungkinan Penyebab
stoma,dan aliran/rembesan urine dari stoma

Masalah
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit

membuat badan tdk enak &

jahitan Jumlah cairan 200cc. Badan masih ikterus yg keluar

terutama sklera mata. Posisi tidur/ istirahat

semifowler dan ber sandar di tempat tidur diganjal dgn bantal. Luka Operasi tdk tampak tandatan da infeksi. Data subyektif : klien menyatakan bahwa tdk mengerti ttg proses penyakit, prosedur memberi operasi. Data Obyektif : Klien banyak Tanya, cemas pembe-dahan tahu, dan & dokter pengoba-tan karena tdk ada yg memberi tahu bahwa saya harus

kurangnya informasi.

Kurang kondisi

pengetahuan prog nosa

tentang dan

kebutuhan pengobatan, sehubu ngan dgn :

Data Subyektif : Pasien mengeluh mual, nafsu makan kurang Data Obyektif. Klien Nampak Lemah

Intake yang inadekuat

Kurang Nutrisi

Hari / Tanggal / Jam

Tindakkan

TTDPerawat