Anda di halaman 1dari 26

PRESENTASI KASUS

FIBROADENOMA MAMMAE
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Bedah RSD Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh : Seftiana Saftari 20080310026

Diajukan Kepada : dr. Suryo Hapsara, Sp.B

BAGIAN BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2013

HALAMAN PENGESAHAN Presentasi Kasus

FIBROADENOMA MAMMAE

Disusun oleh : Seftiana Saftari 20080310026

Telah dipresentasikan dan disetujui oleh pembimbing Di RSD Panembahan Senopati Pada tanggal Juni 2013

Mengetahui Dokter Pembimbing

dr. Suryo Hapsara, Sp.B

KATA PENGANTAR Assalamualaikum. Wr. Wb. Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT , beriring dengan shalawat serta salam kepada Rasulullah SAW, sehingga penulisan presentasi kasus yang berjudul Fibroadenoma Mammae ini dapat selesai dengan lancar. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada: 1. dr. Suryo Hapsara, Sp.B, selaku dokter pembimbing Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah di RSD Panembahan Senopati 2. dr. H. Gunawan Siswadi, Sp.B, selaku dokter pembimbing Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah di RSD Panembahan Senopati 3. Seluruh Perawat dan Staf di Bangsal Melati, Nusa Indah Dua, serta Poliklinik Bedah RSD Panembahan Senopati 4. Teman-teman senasib seperjuangan. Dalam penulisan presentasi kasus ini, penulis menyadari adanya kelemahan dan kekurangan. Atas bantuan, kritik, dan saran yang membangun, penulis mengucapkan terima kasih. Semoga presentasi kasus ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Wassalamualaikum. Wr. Wb. Yogyakarta, April 2013

DAFTAR ISI

Halaman judul............................................................................................................... i Halaman Pengesahan....................................................................................................ii Kata Pengantar.............................................................................................................. ...................................................................................................................................... iii Daftar Isi....................................................................................................................... ...................................................................................................................................... iv BAB I TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................... 1 A. Embriologi Payudara........................................................................... 1 B. Anatomi Payudara .............................................................................. 7 C. Fisiologi Payudara............................................................................... 9 D. Definisi Fibroadenoma Mammae........................................................ 11 E. Epidemiologi Fibroadenoma Mammae............................................... 13 F. Etiologi Fibroadenoma Mammae ....................................................... 13 G. Manifestasi Klinis Fibroadenoma Mammae ....................................... 13

H. Patofisiologi Fibroadenoma Mammae ................................................ 14 I. Pemeriksaan Fisik ............................................................................... 15 J. Pemeriksaan penunjang ...................................................................... 16 K. Penatalaksanaan .................................................................................. 17

BAB II

LAPORAN KASUS................................................................................. 18 A. Identitas................................................................................................ 18 B. Anamnesis............................................................................................ 18 C. Pemeriksaan......................................................................................... 19 D. Diagnosis Kerja................................................................................... 21 E. Terapi................................................................................................... 21

F. Prognosis 21

............................................................................................

BAB III

PEMBAHASAN....................................................................................... 22

BAB IV

KESIMPULAN ....................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 25

FIBROADENOMA MAMMAE TINJAUAN PUSTAKA

A. Embriologi Payudara Dalam embrio manusia, payudara pertama dikenal sebagai milk steak yaitu sekitar minggu keenam perkembangan fetus. Suatu area penebalan ektodermis yang dikenal sebagai tunas susu, berkembang dalam bagian pektoralis badan embrio. Peninggian linear tegas ini terbentang bilateral dari aksila ke vulva dan dikenal sebagai garis susu atau mammary ridge. Setelah mencapai minggu kesembilan dalam rahim, garis susu menjadi atrofi, kecuali dalam daerah pektoralis dan pengenalan pertama primordium payudara yang menjadi tunas puting susu. Setelah mencapai minggu kedua belas, tunas puting susu diinvasi oleh epitel skuamosa ektodermis. Pada bulan kelima, jaringan ikat mesenkim menginfiltrasi primordium payudara dan berdifrensiasi ke 15 sampai 20 filamen padat, yang terdistribusi simetris di bawah kulit tunas puting susu. Duktus mamae berkembang sebagai pertumbuhan ke dalam ventral dari sisa embriologi ini, yang terbagi ke dalam duktus susu primer dan berakhir dalam tunas lobulus. Kemudian tunas ini berproliferasi ke asinus setelah dimulai rangsangan estrogen ovarium. Selama pertumbuhan dalam rahim, duktus susu primer bercabang dan membelah luas. Dengan mencapai bulan ketujuh sampai kedelapan dalam rahim,

duktus berkanulasi membentuk lumen yang berhubungan dengan duktus laktiferus tak matang. Saat lahir, tunas puting susu mempunyai cekungan sentral yang sesuai dengan area yang dipenetrasi oleh lumen duktus susu primer. Segera setelah lahir, penetrasi tunas puting susu lengkap bereversi dan lebih diinvasi oleh sel basaloid yang menjadi dipigmentasi gelap untuk membentuk areola.

B. Anatomi Payudara Glandula mammae terletak pada fasia pektoris yang meliputi dinding anterior dada. Pada anak-anak dan pria glandula mammae rudimenter. Pada wanita setelah pubertas glandula mammae membesar dan dianggap berbentuk sferis. Pada wanita dewasa muda glandula mammae terletak di atas costa II sampai VI dan rawan costanya dan terbentang dari pinggir lateral sternum sampai linea axillaris media. Pinggir lateral atasnya meluas sampai sekitar bawah m.pectoralis major dan masuk ke axilla. Pada bagian lateral atas yang keluar ke arah aksila membentuk penonjolan yang disebut penonjolan Spencer atau ekor payudara. Setiap payudara terdiri dari 12 sampai 20 lobulus yang masing-masing mempunyai saluran ke papila mammae, yang disebut duktus laktiferus. Di antara lobulus tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligamentum Cooper yang memberi rangka untuk payudara. Lobulus merupakan unit sekresi mammae. Tiap lobulus terdiri atas sejumlah asinus, atau kelenjar yang berada di dalam jaringan ikat longgar dan berhubungan dengan duktus intralobularis. Tiap asinus tersusun atas dua tipe sel

yaitu epitel dan mioepitel. Sel epitel merupakan sel sekresi. Meskipun sintesis air susu ibu hanya berlangsung selama masa akhir kehamilan dan postpartum, sel tersebut mensekresi terus menerus berbagai jenis glikogen protein yang dimasukkan ke dalam lumen kelenjar. Sel epitel dikelilingi oleh sel mioepitel yang mengandung protein kontraktil yang mempunyai fungsi mekanik. Duktus intralobularis berhubungan dengan duktus ekstralobularis. Duktus ekstralobularis dalam satu daerah yang sama saling berhubungan membentuk duktus subsegmental, yang saling berhubungan membentuk duktus segmental. Ini akan bermuara ke duktus laktiferus dan sinus laktiferus yang berhubungan dengan permukaan papila mammae melalui orifisium yang terpisah. Terdapat 12-20 duktus laktiferus, masing-masing mengalirkan satu segmen mammae. Duktus dilapisi oleh sel epitel yang dikelilingi oleh sel mioepitel. Stroma jaringan ikatnya lebih padat dibandingkan dengan lobulusnya dan duktus dikelilingi oleh jaringan elastik yang membentuk fungsi drainase duktus. Penyediaan darah ke payudara terutama berasal dari cabang a.perforantes anterior dari a.mamaria interna, a.torakalis lateralis yang bercabang dari a.aksilaris, dan beberapa a.interkostalis. Persarafan kulit payudara bersifat segmental dan berasal dari segmen dermatom T2 sampai T6. Segmen dermatom area ini bisa didenervasi total atau sebagian setelah elevasi flap kulit untuk mastektomi radikal atau modifikasi. Aliran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke kelenjar parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula aliran yang ke kelenjar interpektoralis.

C. Fisiologi Payudara Pada mammae wanita terjadi perubahan fisiologis dan patalogis yang bervariasi. Hal ini terutama berhubungan dengan variasi kadar hormon yang terjadi sebelum, selama dan setelah reproduksi. Hormon-hormon yang mempengaruhi perkembangan payudara adalah estrogen, progesteron, LH (Luitening Hormon), FSH (Folikel Stimulating Hormon) dan Prolaktin. Estrogen dan progesteron diproduksi oleh ovarium, LH dan FSH disekresi oleh sel basofil yang terletak dalam glandula hypophysis anterior sedangkan prolaktin disekresi oleh sel asidofil hypophysis. Pada waktu lahir, payudara merupakan suatu sistem saluran. Beberapa hari setelah lahir sebagian besar bayi baik laki-laki ataupun perempuan menunjukkan pembesaran kelenjar payudara sedikit dan mulai mensekresi sedikit kolostrum dan menghilang sesudah kira-kira satu minggu kemudian. Kemudian kelenjar payudara kembali infantil, tidak aktif. Dengan permulaan pubertas antara 10-15 tahun, areola membesar dan lebih mengandung pigmen. Payudara pun menyerupai cakram. Pertumbuhan kelenjar akan berjalan terus sampai umur dewasa hingga berbentuk sferis. Hal ini terjadi di bawah pengaruh estrogen yang kadarnya meningkat. Terutama yang tumbuh ialah jaringan lemak dan jaringan ikat di antara 15-20 lobus payudara. Biasanya bentuk payudara sudah sempurna setelah menstrusi dimulai.

Pada fase menstruasi, mammae sangat sensitif terhadap perubahan kadar estrogen dan progesteron. Stroma lobularis menjadi sangat edema jumlah sel meningkat karena mengalami proses mitosis selama fase sekresi estrogen dan progesteron, sehingga sekitar hari ke-8 fase menstruasi payudara jadi lebih besar. Pada hari ke-22 sampai ke-24 siklus menstruasi, dimana kadar estrogen dan progesteron mencapai puncaknya dan terjadi pembesaran payudara yang maksimal. Selama masa kehamilan, terjadi proliferasi dan pembesaran lobulus sebagai persiapan sintesis dan aktivitas sekresi untuk laktasi. Pada trimester ketiga jumlah asinus pada setiap lobulus dan ukuran lobulus menjadi sangat meningkat. Sel epitel berdiferensiasi serta mensintesis dan mensekresi air susu (kasein, -laktalbumin dan membran globula lemak air susu yang merupakan derivat sel permukaan luminal mammae) merupakan petanda yang bermanfaat untuk menentukan status diferensiasi sel mammae. Estrogen, progesteron, dan prolaktin bersama dengan hormon lain sangat penting pada perkembangan mammae selama masa kehamilan meskipun begitu setelah persalinan kadar estrogen dan progesteron akan menurun dan prolaktin meningkat untuk memicu laktasi. Apabila pemberian air susu dihentikan, akan terjadi involusi stuktur lobularis secara cepat, dan struktur mammae kembali ke struktur sebelum kehamilan. Pada masa menopause, efek estrogen dan progestrogen fungsi ovarium berhenti dan dimulai involusi progresif. Regresi ke epitel atrofi atau hipoplastik jelas di dalam duktus dan lobulus serta stroma diganti dengan jaringan fibrosa periduktus padat.

Timbul dilatasi jalinan duktus laktiferus dalam lobulus terisolasi. Asinus lobulus kehabisan epitel toraksnya serta bisa membesar dan membentuk makrokista. Pada pemeriksaan, payudara sinilis atau pasca menopause sering asimetris dengan ketidakteraturan komponen lobulus dan pembentukan kista dalam ukuran bervariasi. Kandungan lemak dan fibrostoma periduktus menyokong depresi, maka payudara tua menjadi struktur pendulosa, homogen dengan kehilangan bentuk dan konfigurasi.

D. Definisi Fibroadenoma Mammae Fibroadenoma merupakan neoplasma jinak yang terutama terdapat pada wanita muda yang berusia di bawah 25 tahun. Setelah menopause, tumor tersebut tidak lagi ditemukan. Benjolan tersebut berasal dari jaringan fibrosa (mesenkim) dan jaringan glanduler (epitel) di payudara, sehingga tumor ini disebut tumor campur (mix tumor), tumor tersebut dapat berbentuk bulat atau oval, bertekstur kenyal atau padat. Fibroadenoma merupakan jenis tumor jinak mammae yang paling banyak ditemukan. Fibroadenoma teraba sebagai benjolan bulat atau berbenjol-benjol dengan diameter 10-40 mm, simpai licin dan konsistensi kenyal padat. Tumor ini melekat ke jaringan sekitarnya tetapi tidak terikat sehingga sangat mudah digerakkan pada pemeriksaan klinis sehingga disebut breast mouse. Biasanya fibroadenoma tidak nyeri bila ditekan. Fibroadenoma berasal dari lobulus mammae, dari unsur stroma jaringan ikat longgar dan kelenjar. Karena merupakan tumor campuran, fibroadenoma seperti jaringan sekitarnya akan dipengaruhi hormon yang akan memberikan beberapa

perubahan. Jadi pada masa kehamilan, mammae menunjukkan perubahan laktasional, dan pada wanita berumur lebih tua stroma menjadi padat dan fibrosa. Selama kehamilan, pertumbuhan fibroadenoma dapat semakin cepat membesar yang diakibatkan efek hormonal dan bukan suatu tanda keganasan.

E. Epidemiologi Fibroadenoma mammae biasanya terjadi pada wanita usia muda, yaitu usia remaja atau sekitar 20 tahun. Berdasarkan laporan dari NSW Breats Cancer Institute, fibroadenoma umumnya terjadi pada wanita dengan usia 21-25 tahun, kurang dari 5% terjadi pada usia di atas 50, sedangkan prevalensinya lebih dari 9% populasi wanita terkena fibroadenoma. Laporan dari Western Breast Services Alliance, fibroadenoma terjadi pada wanita dengan umur antara 15 dan 25 tahun, dan lebih satu dari enam (15%) wanita mengalami fibroadenoma dalam hidupnya. Kejadian fibroadenoma dapat terjadi pula wanita dengan usia yang lebih tua atau setelah menopause, tentunya dengan jumlah kejadian lebih kecil dibanding usia muda.

F. Etiologi

Penelitian saat ini belum dapat mengungkap secara pasti apa penyebab sesungguhnya dari fibroadenoma mammae, namun diketahui bahwa pengaruh hormonal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dari fibroadenoma mammae. Hal ini diketahui karena ukuran fibroadenoma dapat berubah pada siklus menstruasi atau pada saat kehamilan. Perlu diingat bahwa tumor ini adalah tumor jinak, dan fibroadenoma sangat jarang bahkan tidak menjadi kanker atau tumor ganas.

G. Manifestasi Klinis FAM merupakan neoplasma jinak yang terutama terdapat pada wanita muda. Setelah menoupause, tumor tersebut tidak lagi ditemukan. FAM teraba sebagai benjolan bulat, atau berbenjo-benjol, dengan kapsul licin dan konsistensi kenyal padat, dan kadang multipel. Tumor ini tidak melekat ke jaringan sekitarnya dan mudah digerakkan (mobile). Biasanya FAM tidak nyeri, tetapi kadang dirasakan nyeri bila ditekan. Pada wanita dewasa, FAM bisa terdapat dalam ukuran yang besar. Pertumbuhan bisa cepat sekali selama kehamilan dan laktasi atau menjelang menopouse, saat rangsangan estrogen meninggi. Ciri ciri fibroadenoma mammae : Bentuk bulat lonjong, tidak nyeri tekan, batas tegas, permukaan rata, konsistensi padat kenyal, dapat digerakkan, insidensi tertinggi usia 15 30 tahun, tidak terjadi perubahan pada kulit, dan tidak bermetastasis

H. Patofisiologi Fibroadenoma merupakan tumor jinak yang sering ditentukan pada masa reproduksi yang disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu akibat sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap estrogen sehingga kelainan ini sering digolongkan dalam mammary displasia. Fibroadenoma biasanya ditemukan pada kuadran luar atas, merupakan lobus yang berbatas jelas, mudah digerakkan dari jaringan sekitarnya. Pada gambaran histplogis menunjukkan stroma dengan proliferasi fibroblast yang mengelilingi kelenjar dan rongga kistik yang dilapisi epitel dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Pembagian fibroadenoma berdasarkan histologik yaitu : 1. Fibroadenoma pericanaliculare, yaitu kelenjar berbentuk bulat dan lonjong dilapisi epitel selapis atau beberapa lapis 2. Fibroadenoma intracanaliculare, yaitu jaringan ikat yang mengalami proliferasi lebih banyak sehingga kelenjar benbentuk panjang-panjang (tidak teratur) dengan lumen yang sempit atau menghilang.

I. Pemeriksaan Fisik Anamnesis penderita kelainan payudara harus meliputi riwayat kehamilan dan ginekologi. Untuk inspeksi, pasien dapat diminta duduk tegak atau berbaring, atau kedua-duanya. Kemudian diperhatikan bentuk kedua payudara, warna kulit, tonjolan, lekukan, retraksi, adanya kulit berbintik seperti kulit jeruk, ulkus, dan benjolan. Dengan lengan terangkat lurus ke atas kelainan dapat terlihat lebih jelas. Palpasi lebih baik dilakukan pada pasien yang berbaring dengan bantal tipis di punggung, sehingga payudara itu terbentang rata. Palpasi dilakukan dengan telapak jari tangan yang digerakkan perlahan tanpa tekanan pada. Yang diperhatikan pada hakekatnya sama dengan penilaian tumor di tempat lain. Pada sikap duduk, benjolan yang tak teraba ketika penderita berbaring, kadang lebih mudah ditemukan. Perabaan axilla pun lebih mudah pada posisi duduk.

J.

Pemeriksaan Penunjang 1. Mammografi Suatu teknik pemeriksaan soft tissue tekhnik. Adanya proses keganasan akan memberikan tanda-tanda primer dan sekunder. Tanda primer berfibrosis reaktif, cornet sign, adanya perbedaan yang nyata ukuran VE dan rontgenologik dan adanya mikrokalsifikasi. Tanda-tanda sekunder berupa retraksi, peneblamn kulit, bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi papilla dan areola adanya bridge of tumor, keadaan daerah dan dan jaringan

fibroglanduler tidak teratur, infiltrasi jaringan lunak di belakang mammae dan adanya metastasis ke kelenjar. Mammografi dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi tidak teraba, jadi sangat baik untuk diagnosis dini dan screening. Hanya saja untuk masa screening ini adalah cara yang mahal dan dianjurkan gunakan secara selektif saja misalnya pada wanita yang memiliki faktor resiko, ketetapan 8395 %, tergantung dari teknis dan ahli radiologinya.

2. Ultrasonografi Dengan pemeriksaan ini hanya dapat dibedakan lesi solid dan kistik pemeriksaan lain daat berupa : termografi, xerografi. Pemeriksaan lain seperti : thoraks foto bone scanning / bone survey USG abdomen / liver

Dilakukan untuk mencari jauhnya ekstensi tumor atau mencari metastasis jauh. Pemeriksaan ini umumnya hanya dilakukan apabila diperlukan (atas indikasi) pemeriksaan laboratorium untuk melihat toleransi penderita, juga dapat dilihat kemungkinan adanya metastasis misalnya alkali fosfatase.

K. Penatalaksanaan Terapi untuk fibroadenoma tergantung dari beberapa hal sebagai berikut: Ukuran, terdapat rasa nyeri atau tidak, usia pasien, hasil biopsy. Penanganan yang dilakukan pada penderita fibroadenoma mammae adalah dengan cara operasi lumpektomi yaitu pengangkatan massa tumor. Pengobatan terbaik fibroadenoma adalah dengan dilakukan ekstirpasi karena tumor ini akan terus membesar.

LAPORAN KASUS

A. Identitas Nama pasien Usia Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Pendidikan Agama : Nn. DL : 21 tahun : Perempuan : Kalidadap 1 RT8 Selopamioro Imogiri : Pegawai swasta : SMA : Islam

Masuk Rumah Sakit tanggal 12 Juni 2013 jam 12.00 WIB

B. Anamnesis

Keluhan utama Keluhan tambahan Riwayat penyakit sekarang

: benjolan di payudara kanan : tidak ada :

pasien datang ke RSUD Panembahan Senopati Bantul dengan keluhan benjolan di payudara kanan. Keluhan dirasakan sejak 2 bulan yang lalu. Pasien tidak mengeluh adanya nyeri pada benjolan di payudara kanan tersebut. Namun terkadang nyeri apabila ditekan. Tidak ada cairan yang keluar dari puting susu dan tidak ada retraksi puting susu. Serta tidak ada exzema di sekitar areola payudara. Pasien juga tidak mengeluh adanya dimpling pada kulit payudara, kemerahan, ulserasi, ataupun peau dorange. Pasien juga tidak mengeluh adanya pembesaran kelenjar getah bening aksilla. Riwayat penyakit dahulu :

penyakit asma, jantung, diabetes melitus disangkal. Riwayat trauma pada payudara tidak ada, riwayat operasi daerah thoraks dan payudara tidak ada. Riwayat penyakit keluarga : tidak ada keluarga yang mempunyai penyakit yang sama Riwayat menstruasi : Pasien belum menikah, haid pertama umur 13 tahun, teratur dan lamanya 1 minggu. Pasien tidak merasakan adanya kelainan pada payudara di saat menstruasi.

C. Pemeriksaan KU : baik, sadar, tidak anemis

Vital Sign : TD = 110/70 mmHg, HR = 80x/menit, RR = 18x/menit, Suhu = 36,5 OC Kepala : mesochepal Mata : konjungtiva anemis (-), sklera tidak ikterik

Hidung : simetris, deformitas tidak ada, sekret (-) Mulut Leher : bibir tidak sianosis, gigi geligi ada karies dentis : deformitas tidak ada, pembesaran lnn (-)

Thorax : simetris, deformitas tidak ada, tidak ada ketinggalan gerak, paru vesikuler kanan kiri, cor S1 S2 reguler, ictus cordis tidak kuat angkat Abdomen: simetris, darm steifung (-), darm contour (-), peristaltik (+), nyeri tekan (-), hepar/lien tidak teraba, perkusi timpani di seluruh lapangan abdomen Ekstremitas: refleks fisiologis (+), edema (-), sianosis (-) Kulit : turgor dan elastisitas cukup, ujud kelainan kulit (-)

Status Lokalis: Mammae dextra Inspeksi Palpasi : Benjolan di atas payudara kanan sebelah lateral : nyeri tekan (-), teraba massa, konsistensi kenyal, berbatas tegas, permukaan licin, mudah digerakkan Auskultasi : (-) : AL 12,4 ribu/l

Pemeriksaan laboratorium Hb 12,4 gr%

AE 4,54 ribu/l HMT 38,1 % PPT 13,9 detik Kontrol PPT 14,9 detik HbsAg (-) Ureum 13

AT 288 ribu/l Golongan darah A APTT 34,8 detik Kontrol APTT 34,3 detik GDS 107 Kreatinin 0,65

D. Diagnosis Kerja Fibroadenoma Mammae Dextra

E. Terapi Rencana lumpektomi post operasi = - Antibiotik : inj. Zibac 2 x 1 gr - Analgetik : inj. Teranol 2 x 1 gr

F. Prognosis Dubia ad bonam

BAB III PEMBAHASAN

Pasien datang dengan keluhan benjolan di payudara kanan. Keluhan dirasakan sejak 2 bulan yang lalu. Pasien tidak mengeluh adanya nyeri pada benjolan di payudara kanan tersebut. Namun terkadang nyeri apabila ditekan. Tidak ada cairan yang keluar dari puting susu dan tidak ada retraksi puting susu, tidak ada exzema di sekitar areola payudara. Pasien juga tidak mengeluh adanya dimpling pada kulit payudara, kemerahan, ulserasi, ataupun peau dorange. Pasien juga tidak mengeluh adanya pembesaran kelenjar getah bening aksilla. Keadaan umum pasien baik, sadar penuh, dan tidak anemis. Dari vital sign pasien dapat diketahui bahwa tekanan darah 110/70 mmHg, heart rate 80x/menit,

respiration rate 18x/menit, dan suhu tubuh aksila 36,5

C. Dari pemeriksaan

laboratorium darah yaitu Hb 12,4 gr%, AL 12,4 ribu/l, AE 4,1 ribu/l, AT 288 ribu/l, HMT 39,3 %, golongan darah A, PPT 12,5 detik, APTT 28,5 detik, kontrol PPT 15,1 detik, kontrol APTT 29,8 detik, HBsAg (-), GDS 107, Ureum 13, Kreatinin 0,65. Dari pemeriksaan USG Mammae dextra didapatkan hasil mammae dextra = tampak bayangan massa hipoechoic, berbatas tegas, tepi licin ukuran 1,8 cm x 3,1 cm pada kuadran lateral, posisi jam 2, dengan kesan : FAM dextra. Dari anamnesis dan pemeriksaan yang telah dilakukan, dapat diketahui benjolan berbentuk bulat lonjong, nyeri tekan (-), berbatas tegas, permukaan rata, konsistensi padat kenyal, dapat digerakkan, tidak terdapat perubahan pada kulit. Tindakan yang dilakukan yaitu rencana ekstirpasi, dilanjutkan pengawasan post operasi dengan pemberian antibiotik yaitu injeksi Zibac 2 x 1 dan analgetik, yaitu Teranol 2 x 1.

BAB IV KESIMPULAN Fibroadenoma Mammae adalah tumor jinak yang ada di payudara. Benjolan tersebut berasal dari jaringan fibrosa (mesenkim) dan jaringan glanduler (epitel). Ciri ciri fibroadenoma mammae : Bentuk bulat lonjong, tidak nyeri tekan, batas tegas, permukaan rata, konsistensi padat kenyal, dapat digerakkan, insiden tertinggi usia 1530 tahun, tidak terjadi perubahan pada kulit, dan tidak bermetastasis. Terapinya adalah dengan ekstirpasi massa tumor.

DAFTAR PUSTAKA

Sabiston. 2000. Buku Ajar Bedah, Bagian Pertama, Cetakan Kedua. EGC : Jakarta. Sarwono. P. 2002. Ilmu Kandungan, Edisi kedua, Cetakan Ketiga. Yayasan Bina Pustaka : Jakarta. Sjamsuhidajat dan Wim de Jong. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3. EGC : Jakarta. Snells R.S. 2002. Anatomi Klinik, Bagian I, Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Underwood J.C.E., 2004. Patologi : Umum dan Sistemik, Edisi II, Volume 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.