Anda di halaman 1dari 1

KISTA BATHOLIN PENATALAKSANAAN

Jika kitsa tidak besar dan tidak menimbulkan gangguan, tidak perlu dilakukan apa-apa akan tetapi jika sebaliknya perlu dilakukan tindakan pembedahan (Wiknjosastro, 1999 : 272). Ada 2 teknik bedah dalam penatalaksanaan kista bartholini yaitu dengan ekstirpasi dan narsupialisasi (Wiknjosastro, 1999 : 272).

Biasanya penderita bartholinitis berobat karena nyeri. Pada abses bartholini terdapat ciri kelenjar membesar, kadang merah, nyeri dan berisi nanah atau darah serta pada palpasi teraba massa kistik. Pada abses bartholini sudah diperlukan terapi operatif, berupa incisi yaitu membuat irisan pada dinding kista/abses untuk mengeluarkan isinya. Selain itu juga diberi terapi obat antibiotic dan obat simptomatik. Radang pada glandula bartholini dapat terjadi berulang-ulang dan akhirnya dapat menjadi menahun dalam bentuk kistha bartolini. Pengobatan kista bartholini dengan memberikan analgetik dan antibiotic spectrum luas. Jika terjadi menahun maka harus dilakukan marsupialisasi. Marsupialisasi pada glandula bartholini adalah indikasi umum ketika sebuah abses menjadi besar sehingga eksisi sulit dilakukanpada abses yang besar tersebut. Pada operasi ini, pembedahan dilakukan dengan membuka dinding dan mengeluarkan eksudatnya. Marsupialisasi ini sangat menguntungkan karena selain cepat , operasi ini resiko perdarahan sangat rendah dan dapat dilakukan hanya dengan pemberian anestesi local. Yang perlu diperhatikan adalah pembelahan pada glandula harus cukup adekuat untuk mengeluarkan isi abses tersebut. Sebaiknya kista pada ibu hamil di biarkan saja dan baru di angkat kurang lebih 3 bulan setelah persalinan. apabila kista sering meradang walaupun sudah di obati berlang kali atau apabila kista sangat besar sehingga di khawatirkan akan pecah sewaktu melahirkan ,maka sebaiknya kista tersebut di angkat dalam keadaan tenang.sebelum lahir ada kalanya kista sangat besar dan baru di ketahui sewaktu wanita sudah dalam persalinan. Dalam hal demikian di lakukan pungsi dan cairan di keluarkan walaupun ini bukan therapi tetap. setelah selesai marsupialisasi baru di lakukan.

PENCEGAHAN

DAFTAR PUSTAKA Padjajaran,Universitas.2003.Obstetri Patologi Edisi 2,Jakarta : EGC Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohadjo. Wiknjosastro, H. 2006.Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo