Anda di halaman 1dari 7

KEGAWATDARURATAN BEDAH Gawat darurat adalah suatu keadaan bila tidak dilakukan tindakan segera dapatmengakibatkan seseorang kehilangan

organ / anggota tubuhnya atau dapatmengancam jiwa. Kegawatdaruratan bedah terdiri atas : 1.Perdarahan 2.Obstruksi 3.Infeksi 4.Stranggulasi 5.Kombinasi dari beberapa kegawatan diatas 1.PERDARAHAN

Perdarahan adalah suatu kejadian dimana terdapatnya saluran pembuluhdarah yang putus atau pecah (arteri,vena atau kapiler) akibat suatu trauma,dapatterjadi pada pembuluh darah bagian luar maupun bagian dalam.(1)

Klasifikasi Pendarahan ATLS membuat klasifikasi pendarahan berdasarkan persentase volumekehilangan darah, sebagai berikut (2): Kelas I : Dengan kehilangan volume darah hingga maksimal 15% of bloodvolume. Kelas II : Dengan kehilangan volume darah antara 15-30% dari total volume. Kelas III : Dengan kehilangan darah antara 30-40% dari volume pada sirkulasidarah. Kelas IV : Dengan kehilangan yang lebih besar daripada 40% volume sirkulasidarah.

WHO menetapkan skala gradasi ukuran risiko yang dapat diakibatkan oleh pendarahan sebagai berikut: Grade 0 : tidak terjadi pendarahan Grade 1 : pendarahan petekial Grade 2 : pendarahan sedang dengan gejala klinis yang signifikan Grade 3 : pendarahan gross, yang memerlukan transfusi darah Grade 4 : pendarahan debilitating yang fatal, retinal maupun cerebral

Perdarahan terbagi atas: 1.Perdarahan Thorax Penatalaksanaan Pengelolaan penderita terdiri dari: a) Primary survey, yaitu dilakukan pada trauma yang mengancam jiwa, pertolongan ini dimulai dengan airway, breathing, dan circulation. b) Resusitasi fungsi vital. c) Secondary survey yang terinci. d) Perawatan definitif.

2.Perdarahan Abdomen Penatalaksanaan Survei Primer Survei ABCDE (Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure). Survei ini dikerjakan secara serentak dan harus selesai dalam 2-5 menit.

Airway Menilai jalan nafas bebas. Jika ada obstruksi, lakukan : Chin lift/ Jaw thrust Suction Guedel Airway Intubasi trakea

Breathing Bila jalan nafas tidak memadai, lakukan : Beri oksigen

Circulation Menilai sirkulasi/peredaran darah Hentikan perdarahan external bila ada Segera pasang dua jalur infus dgn jarum besar (14-16G) Beri infus cairan Penilaian ulang ABC diperlukan bila kondisi pasien tidak stabil.

3.Perdarahan Pelvis Penatalaksanaan Pada setiap pasien yang mengalami cidera berat, langkah pertamaadalah memastikan bahwa saluran nafas bersih dan ventilasi tidak terhalang. Resusitasi harus segera dimulai dan perdarahan aktif dikendalikan. Pasien dengan cepat diperiksa untuk mencari ada tidaknyacidera ganda. Foto sinar-X APharus segera dilakukan. Kemudian dilakukan pemeriksaan lebih cermat denganmemperlihatkan pelvis, perut, perineum dan rectum. Liang meatus urethradiperiksa untuk mencari tanda perdarahan. Tungkai bawah juga diperiksauntuk mencari tanda cidera saraf. Apabila keadaan umum sudah stabil, pemeriksaan sinar-X dapatdilakukan. Apabila dicurigai terdapat robekan urethra dapat dilakukanuretrogram secara pelanpelan. Sampai tahap ini dokter yang memeriksasudah mendapat gambaran yang baik mengenai keadaan umum pasien,tingkat cidera pelvis, ada tidaknyacidera visceral dan kemungkinan berlanjutnya perdarahan di rongga perut atau retroperitoneal. Untuk perdarahan yang hebat, diagnosisnya sekalipun tampak jelas bahwa berlanjutnya syok adalah akibat perdarahan, tidaklah mudah untuk menemukan sumber perdarahan itu. Pasien dengan tanda-tanda abdomenyang mencurigakan harus diselidiki lebih lanjut dengan aspirasi peritoneum atau pembilasan. Kalau terdapat aspirasi diagnostic, perutharus dieksplorasi untuk menemukan dan menangani sumber perdarahan. Tetapi, kalau terdapat hematom retroperitoneal yang besar , ini tidak boleh dievakuasi karena hal ini dapat melepaskan efek tamponade danmengakibatkan perdarahan yang tak terkendali. Cidera urologi terjadi sekitar 10% pasien dengan fraktur cincin pelvis. Karena pasien sering sakit berat akibat cidera yang lain, mungkindibutuhkan kateter urin untuk memantau keluaran urin. Tidak bolehmemasukkan kateter diagnostic karena kemungkinan besar ini akan mengubah robekan sebagian menjadi robekan lengkap. Untuk robekan yang tak lengkap, pemasukan kateter suprapubik sebagai prosedur resmi saja yang dibutuhkan. Sekitar 50% robekan tak lengkap akan sembuh dan tidak banyak memerlukan penanganan jangka panjang. Terapi robekan uretra lengkap masih controversial. Realignment primer pada uretre dapat dicapai dengan melakukan sistotomi suprapubik,mengevakuasi hematom pelvis dan kemudian memasukkan kateter melewati cidera untuk mendrainase kandung

kemih. Kalau kandung kemihmengambang tinggi, ini harus direposisi dan diikat dengan penjahitanmelalui bagian anterior bawah kapsul prostat. Untuk penanganan fraktur, pada fraktur tipe A hanyamembutuhkan istirahat total di tempat tidur, dikombinasi denagn traksitungkai bawah kurang lebih 4-6 minggu. Fraktur tipe B, apabila cideraopen book kurang dari 2,5cm biasanya dapat diterapi dengan bed rest totaldengan pemasangan korset elastic bermanfaat untuk mengembalikan ke posisi semula. Apabila lebih dari 2,5cm dapat dicoba denganmembaringkan pasien miring dan menekan ala ossis ilii. Selain itu jugadapat dilakukan fiksasi internal apabila fiksasi eksternal tidak berhasildilakukan. Fraktur tipe C merupakan paling berbahaya dan paling sulit diterapi. Pasien harus bedrest total kurang lebih selama 10 minggu. Operasi berbahaya dilakukan karena bisa terjadi perdarahan massif dan infeksi. Pemakaian traksi kerangka dan fiksasi luar mungkin lebih aman

4.Perdarahan Leher Femur Penatalaksanaan Prinsip penatalaksanaan termasuk di antaranya : 1) Minimalkan komplikasi yang potensial pada avascular necrosis (AVN). 2) Hindari cedera pada lempeng fisis. 3) Reduksi fragmen fragmen secara anatomis 4) Stabilisasi dengan pin atau sekrup mengakibatkan protesi dini

menahan berat. Dekompresi terhadap hemarthrosis dan fiksasi internal stabilmerupakan aspek penting terhadap treatment untuk semua fraktur dengan pergeseran. Fraktur yang tidak mengalami pergeseran dapat ditangani secara konservatif dengan cast immobilisasi menggunakan hip spica.

5.Perdarahan Retroperitoneal Penatalaksanaan Cedera Duodenum dan Pankreas (23) Masalah utama trauma pankreas adalah keluarnya cairan pankreas bila disertai cedera duktus. Pada trauma pankreas berat dengan cederaduktus pankreatikus (derajat III - V), yang mengenai pankreas bagiandistal (sebelah kiri dari arteri/vena mesentrial superior) penderita langsung dipasang packing dan drainase eksterna. Pada cedera bagian proksimaldengan melibatkan

duodenum, dilakukan pengikatan/penjahitanduodenum, packing pankreas dan pasang drain eksterna, tanpa rekontruksi. Pada trauma duodenum yang melibatkan pankreas, operasidilakukan dengan tujuan mengalihkan cairan lambung dan saliva, dengan cara ekslusi pilorus dan by pass gastroyeyenostomi. Ekslusi pilorus

dilakukan dengan jahitan jelujur (Jordan) atau jahitan kantung tembakau( Moore dan Moore), dengan menggunakan benang yang diserap sehingga jahitan akan terlepas setelah tiga minggu, jahitan dapat dilakukan melaluigastrotomi atau dari luar (tanpa gastrotomi). Setelah tiga minggudiharapkan luka di duodenum sembuh. Gastroyeyenostomi dikerjakanuntuk mengalihkan cairan dari gaster langsung ke yeyenum. Bila kondisitidak memungkinkan, gastroyeyenostomi dapat ditunda dan dilakukangastrostomi atau dipasang sonde lambung. Keuntungan melakukan ekslusi pilorus dengan gastroyeyenostomi, selain mengalihkan cairan gaster, penderita dapat langsung diet enteral lebih dini sehingga dapat mengurangi biaya akibat pemakaian nutrisi parenreral total. Dekompresi dilakukan dengan memasang kateter besar padaduodenum yang dialirkan melalui retroperitoneal, sehingga dapatmengurangi kebocoran, dibandingkan drain melalui dinding depan abdomen. Keuntungan dekompresi adalah berkurangan kejadian fistel mencapai kurang 0,5%,

dibandingkan tanpa dekompresi yaitu 19,3%.

2.OBSTRUKSI

Obstruksi adalah hambatan atau sumbatan pada organ berongga ataumemiliki saluran. Obstruksi pada traktus dibagi menjadi lima jenis, yaitu : obstruksi pada traktus respiratorius, traktus digestivus, traktus urinarius, traktusurogenitalis dan traktus biliaris yang akan dijelaskan sebagai berikut. Obstruksi traktus digestivus Penaatalaksanaan Obstruksi mekanis di usus dan jepitan atau ilitan harus dihilangkan segerasetelah keadaan umum diperbaiki. Tindakan umum sebelum dan sewaktu pembedahan meliputi tata laksana dehidrasi, perbaikan keseimbangan elektrolit,dan dekompresi pipa lambung.

Penatalaksanaan

obstruksi

saluran

pencernaan

ini

hampir

semua

ditatalaksana dengan pembedahan. Dengan perawatan intensif dan perawatan multidisiplin, maka angka kesakitan dan kematian dari kasus obstruksi saluran pencernaan secara drastis akan menurun dan terutama ditentukan oleh koeksistenso dari kelainan kongenital mayor (cardiak), diagnosis yang lambat da penatalaksanaan atau koeksistensi keadaan kesahatan.

Penatalaksaan terbaru dan perkembangan zaman dapat mengurangi kematian pada kasus ini.

Obstruksi traktus respiratorius Obstruksi jalan napas atas sering terjadi dan merupakan kejadian yangserius dalam masalah anak. Gejala yang dikeluhkan berupa stridor, apneu, atauedem akut pulmonal. Bagaimana pun kejadian ini dapat berlangsung kronis,dikategorikan dengan infeksi dada berulang atau obstruksi atau apnue obstruktif,yang dimna dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan, perubahan psikologis,gagal nafas kronik,cor pulmonal dan kematian. Kebanyakan penyebab dari obstruksi jalan nafas atas dan bermacam-macam dari prosedur diagnostis dapat digunakan dalam pemeriksaaan, pemeriksaan radiologi merupakan pemeriksaan yang lebih sering digunakandengan kemungkinan diagnostik yang direncanakan dan efisien untuk pemantauan perkembangan penyakit. 1) Obstruksi karena Benda Asing Gejalanya dapat berupa sesak napas, sianosis, dan kematian

mendadak.Biasanya benda asing tersebut masuk ke dalam bronkus kanan karena anatomi bronkus kanan lebih vertikal dibandingkan dengan yang kiri. Bila tidak dikeluarkan benda asing tersebut, dapat menimbulkan atelektasis, pneumonitis,dan abses paru.

Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan foto Rontgen dan atau endoskopi.

Tatalaksana Bila tidak bisa dikeluarkan secara perasat Heimlich, benda asing harusdikeluarkan melalui bronkoskopi dan bila gagal dengan tindakan trakeotomi.

2) Tumor Jinak paru Tumor jinak paru dapat menimbulkan gejala sumbatan saluran napas,dengan tau tanpa atelektasis, abses, atau perdarahan. Tumor jinak yang ditemukan pada paru adalah

hamartoma, fibroma, kondroma, dan lipoma. Untuk menegakkandiagnosis tumor jinak dipakai prosedur seperti pada nodul soliter. Tumor jinak diatasi dengan tindak bedah berupa reseksi. prognosis tumor jinak paru yang telah dioperasi adalah baik.

3) Adenoma Karsinoid Tumor karsinoid biasanya ditemukan di bronkus. Perbandingan pria :wanita sama dengan 1:1. Umumnya, tumor karsinoid terdapat pada orang mudadewasa sampai umur pertengahan. Tumor bronkus ini pada 10-15% bermetastasiske kelenjar limf regional. Karsinoid dapat menyebabkan obstruksi dengan komplikasinya. Kadang ada hemoptisis. Sindrom karsinoid dapat terjadi karenadisekresinya serotonin/katekolamin oleh karsinoid. Diagnosis dapat ditegakkan dengan bronkoskopi. Pada pemeriksaan biokimia mungkin didapat kadar serotonin tinggi. Terapinya dengan cara reseksi. Sudah tentu harus diambil kelenjar limf regional untuk melihat ada/tidak adanya metastasis. Prognosisnya baik dan penderita dapat dianggap sembuh jika tumor dikeluarkan dengan sempurna dan tidak terdapat tumor ditempat lain. Jikaterdapat metastasis di kelenjar limfkira-kira 50% penderuita akan mengalami kekambuhan.