Anda di halaman 1dari 3

1.3.2 Kematian Sel: Nekrosis Terdapat 2 jenis kematian sel yaitu apoptosis dan nekrosis.

Ingatlah perbedaan utama antara apoptosis dan nekrosis! Jawaban:

Apoptosis
Etiologi kematian sel itu sendiri disebabkan oleh growth factor atau DNA sel atau protein yang dihancurkan dengan maksud perbaikan. Memiliki karakteristik sel dimana inti sel mengalami pemadatan dan tidak terjadi kerusakan membran sel. Apoptosis memerlukan sintesis aktif RNA dan protein dan merupakan suatu proses yang memerlukan energi Secara morfologis, proses ini ditandai oleh membran inti pemadatan kromatin di sepanjang

Nekrosis
Etiologi kematian sel ini akibat terjadinya kerusakan membran, sehingga lisosom mengeluarkan enzim ke sitoplasma dan menghancurkan sel, isi sel keluar dikarenakan kerusakan membran plasma dan mengakibatkan reaksi inflamatori. Nekrosis secara umum terjadi pada kematian sel yang diakibatkan oleh: Ischemia Keracunan Infeksi Trauma

Perbedaan apoptosis dan nekrosis menurut Sarjadi (1999) sebagai berikut:

Secara makroskopik dan dengan pemeriksaan mikroskop dapat dikenali beberapa bentuk nekrosis diantara nekrosis koagulatif, nekrosis liquefactive (mencair), Nekrosis lemak, dan Nekrosis kaseosa (perkejuan). Apakah perbedaan nekrosis koagulatif dan liquefactive? Jawaban: Nekrosis koagulasi Tidak hanya terjadi denaturasi protein, namun juga berkaitan dengan hambatan enzim-enzim litik. Sel tidak mengalami lisis, dengan demikian kerangka luar sel relatif utuh. Inti menghilang dan sitoplasma yang mengalami asidifikasi menjadi eosinofilik

Gambaran makroskopik : terlihat berwarna putih, keabu-abuan atau kekuning-kuningan dan sedikit berlemak, padat Gambaran mikroskopik : struktur sel dan jaringan masih jelas, inti sel mengalami piknotik (menghilang), sitoplasma lebih acidophilic

Nekrosis liquefaktif Ditandai oleh larutnya jaringan akibat lisis enzimatik sel-sel yang mati. Proses ini biasanya terjadi di otak sewaktu terjadi pelepasan enzim-enzim otokatalitik dari sel-sel yang mati. Nekrosis likuefaktif juga terjadi pada peradangan purulen akibat efek heterolitik leukosit polimorfonuklear pada pus. Jaringan yang mengalami likuefaksi menjadi lunak, mudah mencair, dan tersusun oleh sel-sel yang mengalami disintegrasi dan cairan.

Gambaran makroskopik : adanya benjolan berisi cairan dikelilingi kapsula tipis dan ireguler. Gambaran mikroskopik : tampak ruang kosong dengan sisa kapsula yang ireguler, terlihat fibrin dan neutrophil disekitarnya.

Referensi: Sarjadi. (1999). Patologi Umum dan Sistemik Ed. 2. Jakarta: EGC. Sudiana, I Ketut. (2008). Patobiologi Molekuler Kanker. Jakarta: Salemba Medika.