Anda di halaman 1dari 4

Hernia Inguinalis Lateralis Reponibilis pada Pasien Buruh Angkut ABSTRAK Hernia merupakan protusi atau penonjolan ruas

organ, isi organ ataupun jaringan melalui bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan atau lubang abnormal. Hernia akan sangat berbahaya jika tidak sesegera mungkin dioperasi. Gejala lebih lanjutnya dapat mengakibatkan kematian pada penderita. Pasien adalah seorang laki-laki berusia 45 tahun yang datang dengan keluhan sejak 3 minggu yang lalu timbul benjolan di perut bawah sebelah kanan dan terkadang benjolan turun ke daerah kemaluan. Benjolan tersebut tidak terasa nyeri dan dapat hilang pada saat pasien berbaring. Bila pasien sedang bekerja dan mengangkat barang benjolan tersebut muncul, kemudian menghilang bila pasien beristirahat. Pasien bekerja sebagai buruh angkut di pasar dan sering mengangkat barang barang berat. Tidak ada gangguan pada BAK maupun BAB. Pemeriksaan fisik di regio inguinalis dekstra didapatkan benjolan berbatas tegas dengan ukuran 8-9 cm, permukaan rata, tepi reguler, konsistensi lunak, mobile, nyeri tekan (-), tak hiperemis,. Pada pasien diputuskan dilakukan operasi herniotomi untuk mengatasi penyakitnya.

Kata kunci : hernia, inguinalis, reponibel.

KASUS Pasien laki-laki berusia 49 tahun datang dengan keluhan sejak 2 bulan yang lalu timbul benjolan di perut bawah sebelah kanan. Benjolan tersebut tidak terasa nyeri dan bersifat hilang timbul. Bila pasien sedang bekerja atau batuk, benjolan tersebut muncul, kemudian menghilang bila pasien beristirahat. Sehari-hari pasien bekerja sebagai kuli bangunan yang sering mengangkat barang-barang bangunan. Tidak ada gangguan pada BAK maupun BAB. Riwayat keluhan yang sama sebelumnya (-), alergi (-), hipertensi (-), asma (-), diabetes melitus (-), penyakit jantung (-), penyakit ginjal (-), penggunaan obatobatan (-). Pada keluarga tidak ada yang memiliki keluhan yang sama, juga tidak didapatkan riwayat alergi, asma, penyakit jantung, diabetes melitus maupun penyakit ginjal. Dari pemeriksaan fisik ditemukan pasien dengan keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, tekanan darah 125/80 mmHg, nadi 76x/menit, pernafasan 16x/menit dan suhu 36,6oC. Pemeriksaan fisik di regio inguinalis dekstra didapatkan benjolan berbatas tegas dengan diameter 7-8 cm, permukaan rata, tepi reguler, konsistensi lunak, mobile, nyeri tekan (-), tak hiperemis, suhu pada benjolan sama seperti daerah sekitarnya.

DIAGNOSIS

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik maka dibuat diagnosa kerja hernia inguinalis dekstra reponibel.

TERAPI Penatalaksanaan pada pasien ini meliputi pembedahan herniotomi, terapi post operasi dengan infus RL 20 tpm makro drip, cefotaxim 1 gr iv per 12 jam, Kalnex 500 mg iv per 8 jam dan Ketorolac 30 mg iv per 12 jam.

DISKUSI Kata hernia pada hakekatnya berarti penonjolan suatu kantung poriteneum, suatu organ atau lemak pra-peritoneum melalui cacat kongenital atau akuisita dalam parietas muskuloaponeurotik dinding abdomen, yang normalnya tidak dapat dilewati. Sebagian besar hernia timbul dalam regio ingualis dengan sekitar 50 persen dari ini merupakan hernia inguinalis indirek dan 25 persen sebagai inguinalis direk. Henia diberi nama berdasarkan letak hernia tersebut, umpamanya diafragma, inginal, umbilikal, femoral. Berdasarkan terjadinya, hernia di bagi menjadi atas hernia bawaan dan hernia dapatan (hernia akuisita). Berdasarkan sifatnya, hernia dapat disebut hernia reponibel bila isi hernia dapat keluar masuk (usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau di dorong masuk ke perut ) dan jika isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga perut, maka disebut hernia iropenibel (ini disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong hernia . Pada kasus ini pasien berusia 49 tahun, sehingga hernia yang dialami tergolong hernia akuisita atau hernia yang didapat. Penonjolan organ terdapat di daerah inguinal dekstra, karena itu didiagnosis sebagai hernia inguinalis dekstra. Pada pasien ini, penonjolan tersebut menghilang ketika pasien beristirahat, dan pada pemeriksaan di rumah sakit penonjolan tersebut dapat dikembalikan dengan mendorongnya menggunakan tangan sehingga dikatakan hernia tersebut masih bersifat reponibel. Hernia kebanyakan di derita oleh orang-orang yang berusia lanjut, karena pada usia-usia rentan tersebut dinding otot yang telah melemah dan mengendur untuk menjaga agar organ tubuh tetap pada tempatnya sehingga mempercepat proses terjadinya hernia. Kegiatan fisik yang berlebihan juga diduga dapat menyebabkan hernia cepat berkembang seperti mengangkat barang-barang yang terlalu berat. Hal-hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya hernia yaitu batuk kronik, penyakit paru kronik, obesitas, dan bawaan lahir (kongenital). Pasien merupakan seorang kuli bangunan yang terbiasa mengangkat bahan-bahan bangunan dengan berat yang cukup berat setiap harinya. Sehingga

meskipun usianya belum terlalu tua tetapi dapat mengalami hernia. Hernia pada pasien ini terjadi akibat tekanan intraabdomen yang meningkat secara terus menerus ketika pasien mengangkat benda berat sehingga otot dinding perut menjadi lemah dan akhirnya kendur. Penatalaksanaan hernia inguinalis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara konservatif dan cara operasi. Cara konservatif dilakukan dengan menggunakan alat penyangga seperti korset atau celana dalam khusus hernia. Cara operasi dilakukan untuk mengembalikan (reposisi) terhadap benjolan hernia tersebut. Dua prinsip yang digunakan dalam operasi hernia, yaitu herniotomi dengan memotong kantung hernia lalu mengikatnya dan herniorafi dengan perbaikkan defek dengan pemasangan jaring melalui operasi terbuka. Pada pasien ini dilakukan terapi operasi atas keinginan dari pasien. Dan operasi dianggap sebagai cara yang cepat dan efektif untuk mengatasi hernia.

KESIMPULAN Hernia merupakan suatu penonjolan ruas organ, isi organ ataupun jaringan melalui bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan atau lubang abnormal. Hernia yang terjadi di daerah inguinal disebut sebagai hernia inguinalis. Hernia dapat bersifat reponibel (hilang timbul) maupun irreponibel (timbul dan tidak bisa hilang). Diagnosis hernia cukup mudah karena benjolan hernia mudah dikenali berdasar ciri-ciri dan lokasi penonjolan. Penanganan hernia dapat dilakukan melalui terapi konservatif maupun terapi operasi.

REFERENSI 1. Grace, Pierce A., Borley, Neil R . At a Glance Ilmu Bedah. Ed.3. 2006. Jakarta : PT. Erlangga. 2. R . Sjamsuhidajat , Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, eds. 1, 2005, Jakarta: EGC 3. Zipser, Martin E , Hernia ,http://www.emedicinehealth.com/hernia/page7_em.htm. 4. Dhaleva, Hernia, http://www.geocities.com/situsgratis3in1/artikel_kesehatan.htm, 2007. 5. Anonim, Hernia Inguinalis, http://www.mediastore.com/med/detail_pyk.php? idktg=18&iddti=560&UID=2007111705520166.249.73.12, 2004. 6. Hasuki, Irfan, Waspadai Benjolan di Lipatan Paha dan Pusar. http://www.sehatgroup.web.id/articles/isiArt.asp?artiID=30 , 2007.

PENULIS Neli Witasari, Bagian Ilmu Bedah, RSUD Saras Husada, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.