Anda di halaman 1dari 9

BAB I LATAR BELAKANG

Respirasi adalah memasukan gas oksigen (O2) dan mengeluarkan gas Karbondioksida (CO2) dari tubuh. Proses repirasi berlangsung beberapa tahap yaitu ventilasi,difusi dan perfusi (Widiyanti et al, 2004). Tujuan pernapasan adalah untuk menyediakan oksigen bagi jaringan dan membuang karbon dioksida (Guyton dan Hall, 2008).

Ventilasi ialah pergerakan udara ke dan dari dalam paru. Pada proses ini terdiri dari dua tahap yaitu inspirasi dan ekspirasi. Agar proses ventilasi dapat berjalan sempurna diperlukan fungsi yang baik dari saluran pernafasan, otot otot pernafasan serta elastisitas jaringan paru dan dinding thorak (Alsagaff, 2010). Gambaran fungsi ventilasi sistem pernadasan dapat dilihat dari volume dan kapasitas pernafasan. Volume pernafasan paru terdiri dari volume tidal,, volue cadangan ekspirasi, volum residu dan volum ekspirasi paksa. Sedangja kapasitas pernafasan paru terdiri dari kapasitas inspirasi, kapasitas residu fungsional, kapasitas vital, dan kapasitas paru total (Alsagaff, 2010). Dengan mengetahui besarnya volume dan kapasitas pernafasan dapat diketahui besarnya kapasitas ventilasi maupun ada tidaknya kelainan fungsi pada paru. Pemeriksaan fungsi pada paru dilakukan menggunakan alat spirometer. Dari pemeriksaan dapat ditentukan gangguan fungsional ventilasi seseorang. Jenis gangguan dapat di golongkan menjadi dua gangguan fungsi paru yaitu obstruktif dan restriktif. Gangguan paru restriktif merupakan
1

gangguan pada proses pengembangan paru sehingga volume paru berkurang. Sedangkan gangguan paru obstruktif disebabkan adanya hambatan aliran udara pada saluran pernafasan (Widiyanti et al). Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab salah satunya adalah polusi udara (Alsagaff, 2010). Polusi udara adalah kehadiran satu atau kebih substansi fisik, kimia atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan, mengganggu estetika dan kenyamanan. Polusi udara dapat berasal dari sumber-sumber alami kegiatan manusia serta dapat terjadi baik dlam ruangan ataupun di luar ruangan (Pohan et al, 2003). Polusi udara biasanya banyak terjadi pada daerah perkotaan seperti asap kendaraan bermotor, gas buagan pabrik, pembangkit tenaga listrik, dan asap rokok. Namun, tak terkecuali pada daerah pedesaan. Polusi udar yang biasanya terrjadi di daerah pedesaan adalah penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar utama memasak. Indonesia merupakan negara berkembang yang rata-rata penduduknya adalah golongan ekonomi menengah kebawah. Sehingga dalam kehidupan sehari harinya sebagian besar penduduknya lebih senang memakai kayu bakar sebagai bahan bakar untuk memasak daripada kompor gas. Padahal debu dari kayu bakar sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh terutama bagian pernafasan. Kayu bakar merupakan bahan bakar tradisional untuk memasak yang biasanya banyak digunakan dipedesaan. Namun antara 10-20% bahan bakar ini tidak dapat terbakar sempurna sehingga memicu penyebaran polusi ke

udara yang dapat membahayakan kesehattan pernafasan terutama pada kaum perempuan (mansyur, 2006) WHO menyebutkan bahwa polusi udara di dalam rumah bertanggung jawab terhadap 1,6 juta kematian tiap manusia setiap tahunnya dan dalam 59% dari semua kematian akibat polusi di dalam ruangan yang dialami perempuan dan anak-anak sebagai efek dari pemakaian bahan bakar tradisional. Dari salah satu penelitian International Energy Agency tahun 2002 menyebutkan bahwa 155 juta jiwa penduduk indonesia pada tahun 2000

masih enggunalan arang dan kayu bakar. Sehingga penyakit infeksi saluranpernafasan akut mencatat jumlah tertinggi di puskesmasataupun desa di indonesia (Kasnodiharjo, 2007). Partikel debu pada kayu bakar yang mengendap pada mucociliary akan menstimuli suatu aliran mukus. Bila produksi mukus berlebihan dan tidak dikeluarkan akan terjadi akumulasi mukus pada saluran napas sehingga dapat meningkatkan resistensi aliran udara (obstruktif). Untuk mengetahui perubahan resistensi saluran nafas dapat di ukur Arus Puncak Ekspirasinya (Siregar, 2008). Arus Puncak Ekspirasi (APE) adalah suatu gembusan ekspirasi terbesar yang dida[atkan melalui tiupan maksimal paksa setelah melakukan inspirasi maksimal (Sari, 2004). Pemeriksaan APE dilakukan dengan menggunakan alat spirometri atau mini peak flow meter (maranatha, 2004). APE yang diukur merupakan APE persentase taitu APE ukur dibagi APE prediksi.

Dengan latar belakang inilah peneliti ingin membuktikan adanya oerbedaan nilai Arus Puncak Ekspirasi (APE) antara perempuan yang memasak dengan kayu bakar dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). 1.2. Perumusan Masalah Adakah perbedaan nilai Arus Puncak Ekspirasi (APE)antara perempuan yang memasak dengan kayu bakar dan LPG? 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk membuktikan adanya perbedaan nilai Arus Puncak Ekspirasi (APE) antara perempuan yang memasak dengan kayu bakar dan LPG. 1.3.2. Tujuan Khusus Mengetahui nilai Arus Puncak Ekspirasi (APE) antara perempuan yang memasak dengan kayu bakar dan LPG. 1.4. Manfaat Penelitian Dengan dilakukannya penelitian ini, maka dapat diambil manfaat sebagai berikut : 1.4.1. Untuk Peneliti Dapat menambahh wawasan dan pengetahuan peneliti tentang nilai Arus Puncak Ekspirasi (APE) antara perempuan yang memasak dengan kayu bakar dan LPG. 1.4.2. Untuk Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat umum bahwa terdapat perbedaan nilai Arus Puncak Ekspirasi (APE) antara perempuan yang memasak dengan kayu bakar dan LPG. 1.4.3. Bagi Institusi Sebagai bahan informasi berkaitan dengan adanya perbedaan nilai Arus Puncak Ekspirasi (APE) antara perempuan yang memasak dengan kayu bakar dan LPG.. 1.4.4 Bagi Ilmu Pengetahuan Hasil Penelitian ini nantinya dapat digunakan sebagai data untuk penelitian selanjutnya tentang perbedaan nilai Arus Puncak Ekspirasi (APE) antara perempuan yang memasak dengan kayu bakar dan LPG.

BAB III METODE PENELITIAN


3.1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Karang Pule. 3.3. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Desember 2013. 3.4. Variabel Operasional Variabel independen dalam penelitian ini adalah Wanita Memasak Dengan Kayu Bakar dan LPG. Sedangkan variabeldependennya adalah nilai Arus Puncak Ekspirasi. 3.5. Subjek Penelitian Perempuan dengan kriteria sebagai berikut: 1. Kriteria Inklusi a. Usia 19-70 Tahun b. Rutin memasak minimal dua kali sehari selama 2 tahun. c. Lama memasak minimal 15 menit

d. Bersedia ikut penelitian dengan persetujuan tertulis. 2. Kriteria Eksklusi a. memiliki riwayat pekerjaan yang dapat menimbulkan penyakit atau gangguan saluran nafas. b. Mempunyao riwayat penyakit paru. c. Sedang menderita penyakit gangguan pernafasan akut. d. Perokok pasif dan aktif. e. Penggunaan obat nyamuk bakar, semprot ataupun elektrik f. Penggunaan bahan bakar untuk memasak selain kompor gas dan kayu bakar 3.6. Teknik Sampling Pengambilan sampel diambil secara purposive sampling dimana pemilihan subjek berdasarkan ciri-ciri atau sifat tertentu sesuai dengan karakteristik populasi (Arief, 2004) 3.7. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data. Dalam penelitian ini instrumen menggunakan kuesioner untuk mengetahui wanita memasak dengan kayu bakar atau LPG. Instrument selanjutnya mengguanakn mini wright peak flow meter atau spirometri untuk mengukur nilai Arus Puncak Ekspirasi

3.8. Analisis Data Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis dengan analisis statistik menggunakan uji parametrik t-test dan Chi Square dengan Odd Ratio untuk menguji hipotesis yang diajukan setelah sebelumnya dilakukan uji normalitas dengan One Sample Kolmorgov-Sminov test. Data di olah dengan Statistical Product dan Service Solution (SPSS) 17.00.

DAFTAR PUSTAKA
Alsagaff, Hood & Mukty, Abdul (Editor). 2010. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Cetakan kesepuluh, Airlangga University Press. Surabaya. Guyton A.C. 2008. Fisiologi Kedokteran. 11st ed. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran : EGC. Lasmana, P.D. 2010. Perbedaan Nilai Arus Puncak Ekspirasi Antara Polisi Satlantas dengan Polisi Bagian Administrasi. Surakarta : FK UNS. http://eprints.uns.ac.id/5524/1/135240908201010251.pdf September 2013]. Siregar F. Z. 2008. Perbandingan Arus Puncak Ekspirasi Sebelum dan Sesudah Latihan Fisik pada Anak Obesitas dan Tidak Obesitas. [diakses 6

http://library.usu.ac.id/index.php/component/journals/index.php?option =com_journal_review&id=5993&task=view [diakses 5 September 2013].

Widiyanti, I Gusti Ngurah, Faisal Yunus, Fachrial Harahap. 2004. Faal Paru pada Diabetes Melitus. Jurnal Respirologi Indonesia. Vol. 24, no. 3, pp: 134135.