Anda di halaman 1dari 4

Andai Dia Tahu

Karya Sari Rahmawati

Bilakah dia tahu apa yang telah terjadi, semenjak hari itu hati ini miliknya.
Mungkinkah dia jatuh hati seperti apa yang kurasa.. Tuhan yakinkan dia tuk jatuh cinta hanya untukku.. Clak! Seorang remaja SMA yang sedang asyik duduk di selasar gedung sekolah sambil mendengarkan musik dari iPodnya merasa terusik saat seseorang tiba-tiba mencabut earphone yang tersangkut di telinganya. Heh! Iseng banget siapa sih? kata sang remaja SMA dengan nada kesal Halo selamat pagi! Aku Ashilla Widjaya! Temennya Tahta Albayan sejak SD sahut seorang perempuan manis yang tersenyum sambil berlari menuju kelas Dasar kamu ga pernah berubah ya gumam Tahta. Ia lekas menuju kelas karena tampaknya bel masuk sekolah akan berbunyi Ternyata mereka adalah Tahta dan Ashilla, jika diibaratkan mereka itu seperti amplop dan perangko, dimana ada Ashilla disitu ada Tahta, begitu pun sebaliknya. Persahabatan yang mereka jalin sejak SD sampai SMA tidak ubahnya seperti kakak beradik, saling melindungi satu sama lain. Namun, kadang menjauhi bahkan tidak mau bertatap muka sedikitpun akibat masalah kecil dari sekecil-kecilnya masalah kecil. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00, kegiatan belajar mengajar pun usai. Sekeluarnya dari kelas, Shilla begitu ia biasa dipanggil langsung menemui Tahta di ruang kelasnya untuk pulang bersama. Namun Tahta tidak berada di kelas, temannya bilang ia sudah pulang. Tak biasanya Tahta pulang duluan dan membiarkan Shilla pulang sendirian, akhirnya Shilla pulang dengan bus yang biasa ia naiki bersama Tahta. Belum sampai 5 menit berada di bus, Shilla melihat sesosok laki-laki bertopi yang sedang menggendong seseorang berlari tergesagesa menuju klinik. Pikirannya langsung tertuju pada Tahta, ia ingin turun dari bus tetapi sudah terlanjur membayar. Akhirnya demi mengirit ongkos, Shilla terpaksa melanjutkan perjalanannya dengan rasa penasaran. Apa itu Tahta ya? Ah masa iya sih? Tapi mirip? Tahta bukan ya? bisiknya berulang-berulang. Keesokan harinya Shilla lantas meninggalkannya pulang sendirian. bertanya pada Tahta kenapa ia

Eh! Kemana kemarin? Ninggalin aku sendirian, ibaratnya tuh kayak kacang lupa sama kulitnya tau! kata Shilla kecewa Ngomong apa sih kamu, kemarin udah aku tungguin di gerbang. Lama banget kayak nunggu tanaman kacang tanah yang ga tumbuh-tumbuh, sampai akhirnya ada anak SMA yang lagi jalan terus kakinya terkilir di depan aku. Ya otomatis aku langsung meggendongnya ke klinik terdekat jelasnya panjang lebar Hmm gitu, siapa dia? Nah kebetulan, hari ini aku mau nganterin dia pulang ke rumahnya. Orang tuanya lagi di luar kota, jadi kasihan kan kalau dia pulang sendirian, ikut yuk sekalian kenalan! seru Tahta seraya mengajak Shilla Eh? Gapapa nih? Boleh deh, yuk! Nyatanya setelah bertatap muka dengan Nabila, seseorang yang telah ditolong oleh Tahta kemarin, Shilla merasa minder. Nabila adalah murid baru di sekolah Tahata dan Shilla. Ia adalah seorang perempuan santun yang cantik, baik, dan selalu menjaga penampilannya tetap rapi. Berbeda dengan Shilla yang terkesan cuek dan tidak terlalu memperhatikan penampilan. Selain itu, Tahta yang tak bisa dipungkiri memang good looking dan mahir olahraga rasanya cocok disandingkan dengan Nabila. Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan telah terlewati. Kini Shilla sudah tak canggung lagi untuk pulang sendirian dengan menaiki bus, artinya Tahta memang sudah lama tak pernah pulang bersama Shilla lagi. Sebagian besar waktu yang dulu sering Tahta berikan pada Shilla, sekarang sudah menjadi milik Nabila. Bukannya tak mencoba bertanya atau mulai membuka pembicaraan, tetapi entah kenapa dengan melihat Tahta mengembangkan senyumnya saat bersama Nabila, niat Shilla itu seketika sirna. Sampai pada akhirnya Shill! Kemana aja? Kita jarang ketemu dan udah jarang banget ngobrol juga nih kayanya, nanti siang aku traktir makan.... belum selesai Tahta berceloteh ria, Shilla sudah melengos pergi meninggalkannya. Shilla! Ashilla! Shilla a a a!! teriak Tahta. Shilla tetap tak bergeming Sadar telah terjadi sesuatu pada Shilla, Tahta mencari informasi kesanakemari. Tahta terus berpikir kira-kira apa yang terjadi pada Shilla, sebab sejak SD jika ada sesuatu yang buruk telah terjadi pada Shilla, ia pasti akan diam 1001 bahasa dan tidak akan membiarkan orang lain tau lebih dalam tentang masalahnya. Itulah yang mendasari kekhawatiran Tahta sampai pada akhirnya ia mengunjungi rumah Shilla. Rumah terlihat kosong, namun pernyataan yang

mengejutkan datang dari tetangga Shilla saat Tahta mecoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Orang tua Shilla ternyata sudah bercerai sekitar 1,5 bulan yang lalu, belum lagi Shilla dan ibunya yang terbelit masalah ekonomi sekarang terpaksa tinggal di rumah nenek Shilla. Apa yang sebenarnya sudah aku lakukan selama ini? Ada dimana aku saat Shilla membutuhkanku? Mengapa aku tak bisa membagi senyumku pada Shilla saat ia menginginkannya?. Hal itu terus berputar-putar di kepala Tahta, Ia merasa sangat bersalah. Siang hari di tengah matahari yang terik, Tahta mengejar Shilla untuk meminta maaf. Namun belum sempat kata maaf itu keluar dari mulut Tahta, tiba-tiba Nabila menarik Tahta dan menagih janji yang telah mereka buat kemarin. Tahta, ayo! Katanya mau ngajak aku ke SMP kamu, sekalian reuni sama teman-teman kamu kan? ucap Nabila Hah? Tapi... tapi aku.. aduh ayo deh jawab Tahta dengan terpaksa Kenapa? Ada janji lain ya? Gapapa kok, kapan-kapan aja kita kesananya tanya Nabila Eh? Hmm engga kok, ayo! sahut Tahta sambil memakai helmnya Tahta yang tidak ingin Nabila tau tentang apa yang sedang dipikirkannya, akhirnya berangkat ke SMP Tahta. Kejadian itu ternyata diketahui oleh Shilla dari sekelompok orang yang sedari tadi membicarakan Tahta dan Nabila. Entah kenapa hati Shilla langsung terasa tersayat-sayat, ia menangis. Kenapa aku bisa suka padanya? tanya Shilla pada dirinya sendiri sambil terus mengusap air matanya yang terlanjur menetes. Semakin hari Tahta semakin dekat dengan Nabila, dan Tahta juga ingin persahabatannya kembali dekat dan baik seperti semula. Dari mulai mengejar Shilla, mengirim sms maaf padanya, mencoba meneleponnya, sampai bertamu ke rumah nenek Shilla pun sudah ia lakukan. Namun, Shilla tetap diam dan malah berusaha menjauhi Tahta. Sampai di suatu waktu Tahta berhasil membuat Shilla bicara Shilla! Kamu tuh ya, kenapa ga cerita ke aku? Malah menjauh seakan-akan kita baru kenal kemarin kata Tahta khawatir Cerita apa? Ah kamu kenapa sih haha, udah ya aku mau pulang dulu ada les nih. Dadaaah jawab Shilla santai SHIL! Sini ikut aku! tegas Tahta sambil menarik tangan Shilla

Apaan sih kamu, laki-laki gaboleh tarik-tarik tangan perempuan tau ujar Shilla sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Tahta Yaudah maaf, maafin aku ya. Sekarang kamu boleh cerita apapun ke aku, aku pasti dengerin dari awal sampai akhir kata Tahta sambil menarik nafas panjang Shilla sebenarnya tidak ingin menceritakan apapun pada Tahta, ia ingin menjauh. Semakin dekat ia dengan Tahta, itu hanya membuat hatinya merasa pilu. Tetapi karena ingin tetap menjaga persahabatannya dengan Tahta, Shilla akhirnya menceritakan semua yang ia rasakan saat itu. Kecuali satu, rasa sukanya pada Tahta yang ia takutkan akan menghancurkan semuanya. Sejak awal Shilla sudah tahu bahwa Tahta menyukai Nabila, bukan dia. Setelah menceritakan semuanya Shilla merasa sedikit lega, apalagi saat bercerita raut muka Tahta yang tampak serius malah dianggap Shilla sebagai hal yang lucu. Shilla akhirnya pulang dan Tahta berencana menemui Nabila untuk menceritakan apa yang kemarin-kemarin sempat ia tutup-tutupi. Pada akhirnya kehidupan Shilla berangsur-angsur membaik, namun ia tetap merelakan perasaannya, biar waktu yang menjawab kesedihan dan menyembuhkan segaris luka di hatinya. Sementara itu, Tahta dan Nabila yang sudah mengutarakan perasaannya satu sama lain berjanji untuk tetap menjaga komunikasi sampai tiba saatnya nanti.

-Fin-

Sumber inspirasi : RRA