Anda di halaman 1dari 3

Mengkarakterkan Bangsa dengan Pendidikan Oleh: Hendri Fandianto

Bangsa yang memiliki kualitas pendidikan yang baik, dapat dipastikan bangsa tersebut secara nyata telah mempunyai pijakan untuk membangun masa depan bangsanya. Pendidikan merupakan investasi nyata untuk membangun peradaban suatu bangsa. Jepang sudah membuktikan bahwa dengan pendidikan lah mereka bisa membangun hagemoni bangsanya. Ketika terjadi tragedi pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki oleh sekutu, Kaisar Hirohito tidak bertanya berapa banyak tentara yang tersisa dan tidak juga bertanya berapa kerugiaan yang di derita negaranya. Namun, beliau mengajukan satu pertanyaan yang sangat fenomenal. Pertanyaan itu adalah: Berapa banyak guru yang masih tersisa ? Sang kaisar sadar untuk memulihkan rakyat setelah perang yang panjang dibutuhkan sebuah metode kejut untuk memulihkan mental bangsanya. Perlahan Jepang mulai menata ulang kurikulum pendidikan nasionalnya, pendidikan formal dan informal di sajikan secara terintegrasi di dalam institusiistitusi pendidikan di Jepang. Semangat pantang menyerah, pendidikan karakter, dan budaya lokal disisipkan dalam setiap materi pembelajaran. Karakter disiplin, jujur, dan kerja keras ditanamkan sejak dini kepada para siswanya. Apa yang telah dirintis pemerintah Jepang untuk mencerdaskan bangsanya melalui jalur pendidikan menuai hasil yang signifikan dalam waktu kurang dari setengah abad. Negara yang porak poranda akibat perang, beringsut secara perlahan membangun hagemoni bangsanya menjadi negara yang disegani di mata dunia. Korelasi antara majunya pendidikan Jepang dan kemajuan industrinya benar-benar terwujud. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan bangsa Jepang tumbuh menjadi negara industri utama di Asia dan sejajar dengan bangsa-bangsa Eropa. Apa yang telah dilakukan oleh jepang merupakan suatu bukti bahwa pendidikan adalah alat yang ampuh untuk menuju kesejahteraan suatu bangsa, pendidikan merupakan investasi terbaik dalam membangun suatu negara yang bisa bersaing dalam ranah global. Bila melihat sejarah betapa krusialnya peran pendidikan bagi kemajuan sebuah negara, maka Indonesia sudah sepantasnya untuk memperbaiki kualitas pendidikan untuk kemajuan bangsa. Terdapat banyak perspektif dalam merumuskan parameter pendidikan yang baik, namun tak bisa mengelak bahwa guru merupakan salah satu faktor penentu kualitas pendidikan. Kualitas guru adalah hal yang paling krusial. Guru bisa diibaratkan sebagai juru kemudi dalam sebuah kapal yang besar dan siswa menjadi

penumpangnya. Guru harus mampu mengoptimalkan semua potensi peserta didik dan mampu mengintegrasikan pendidikan formal yang di dapat dari sekolah dengan pendidikan informal yang di dapat dari lingkungan. Selama ini, para peserta didik kurang memahami secara jelas tujuan akhir dari pendidikan yang mereka tempuh sehingga paradigma yang timbul adalah pendidikan hanya merupakan formalitas belaka. Akibatnya lahirlah lulusan-lulusan yang kurang kompeten yang tidak mampu mengimbangi perubahan zaman dan tidak mempunyai nilai-nilai moral yang beradab. Untuk itu diperlukan sebuah Renstra Pendidikan yang mampu mengubah peran pendidikan di Indonesia menjadi sebuah titik tolak kebangkitan bangsa ini menjadi sebuah bangsa yang sejahtera dan berbudi luhur. Kita sudah bosan mendengar ratusan kepala daerah terlibat kasus korupsi, kita sudah capek mendengar puluhan anggota DPR terlibat suap. Kasus korupsi, penebangan hutan secara liar, peredaran narkoba, kasus pembunuhan, kasus asusila dan lainlain sepertinya menjadi hal yang gandrung terlihat di media-media nasional. Kita tidak bisa membayangkan bila permasalahan-permasalahan yang disebutkan di atas akan terus terjadi lagi pada generasi-generasi yang akan datang. Padahal kita tidak akan tahu bagaimana ketatnya persaingan di tahun 2021, kita tidak akan tahu bagaimana persaingan di dunia ini jika seluruh negara sudah sepakat melakukan perdagangan bebas. Dengan adanya perdagangan bebas kita tidak akan heran melihat barang-barnag dari negara lain berkeliaran di pasar-pasar lokal negeri ini. Sungguh sangat mengerikan jika rakyat di negeri ini benar-benar menjadi pengemis di negeranya sendiri. Apa yang bisa kita rubah melalui pendidikan adalah mengubah karakter bangsa melalui pendidikan. Bagaimanapun juga karakter adalah hal yang mutlak yang harus dirubah pada bangsa ini. Semua ide sudah dikeluarkan untuk memperbaiki bangsa melalui pendidikan. Contoh yang kongkrit adalah Ujian Nasional. Ujian nasional merupakan gagasan brilian yang sudah direncanakan secara matang. Ujian nasional ini merupakan evaluasi tingkat nasional yang dilakukan pemerintah untuk menganalisis sejauh mana mutu pendidikan di negara ini. Tapi implementasinya masih kurang optimal dan masih banyak celah untuk mengelabui sistem. Ada yang salah dengan karakter bangsa kita. Optimisme pun muncul saat Kurikulum 2013 telah dirilis oleh pemerintah pada tanggal 15 Juli 2013. Kurikulum 2013 ini harus kita jadikan momentum kebangkitan pendidikan di Indonesia. Jika kita melihat materi kurikulum 2013, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh guru saat proses belajar mengajar di dalam kelas. Diantaranya adalah Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah,

yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan dan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Dimana hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Di setiap pembelajaran guru harus mampu memberikan nila-nilai pilar karakter universal, yaitu: karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kemandirian dan tanggungjawab; kejujuran dan diplomatis; hormat dan santun; dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; percaya diri dan pekerja keras; kepemimpinan dan keadilan; baik dan rendah hati; karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. Jika guru mampu mengimplementasikan pendidikan dengan karakter seperti itu saya yakin 2019 yang akan datang seluruh trainer di Indonesia akan digantikan oleh para guru yang tersebar dari sabang sampai marauke. Siswa-siswi kita tidak perlu lagi training motivasi dan menyewa para trainer karena guru-guru kita sanggup untuk menjadi trainer di kelasnya masing-masing. Guru-guru kita sanggup mengubah sikap siswa-siswinya. Terlepas dari pro-kontra kurikulum 2013 yang terkesan terburu-buru, namun sebagai kader-kader pendidikan kita harus tetap optimis bahwa momen yang tepat untuk mengkarakterkan bangsa dengan pendidikan adalah lahirnya kurikulum 2013 ini. Sehingga apa yang telah kita cita-citakan dengan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang sejahtera dan berbudi luhur akan segera terwujud.