Anda di halaman 1dari 6

Rismayanti Magister Ilmu Ekonomi

I. PENDAHULUAN Latar Belakang Menghadapi realitas kehidupan yang menunjukkan adanya kesenjangan kesejahteraan mengakibatkan adanya pekerjaan berat kepada para ahli pembangunan termasuk di dalamnya para pembuat kebijakan. Ini dimaksudkan untuk mengatasi berbagai persoalan yang muncul akibat kesenjangan kesejahteraan, perlu dilakukan upaya pembangunan yang terencana. Upaya pembangunan yang terencana dapat dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan yang dilakukan. Lebih jauh lagi berarti perencanaan yang tepat sesuai dengan kondisi di suatu wilayah menjadi syarat mutlak dilakukannya usaha pembangunan. Perencanaan adalah sebagai upaya untuk mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi yang bersifat akumulatif. Artinya perubahan pada suatu keseimbangan awal dapat mengakibatkan perubahan pada sistem sosial yang akhirnya membawa sistem yang ada menjauhi keseimbangan awal. Perencanaan sebagai bagian daripada fungsi manajemen yang bila ditempatkan pada pembangunan daerah akan berperan sebagai arahan bagi proses pembangunan berjalan menuju tujuan di samping itu menjadi tolok ukur keberhasilan prosesembangunan yang dilaksanakan. Didalam melakukan pembangunan, setiap Pemerintaah Daerah memerlukan perencanaan yang akurat serta diharapkan dapat melakukan evaluasi terhadap pembangunan yang dilakukannya. Seiring dengan semakin pesatnya pembangunan bidang ekonomi, maka terjadi peningkatan permintaan data dan indikator-indikator yang menghendaki ketersediaan data sampai tingkat Kabupaten/ Kota. Data dan indikator-indikator pembangunan yang diperlukan adalah yang sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Struktur perencanaan pembangunan di Indonesia berdasarkan hirarki dimensi waktunya berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dibagi menjadi perencanaan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek (tahunan), sehingga dengan Undang-Undang ini kita mengenal satu bagian penting dari perencanaan wilayah yaitu apa yang disebut sebagai rencana pembangunan daerah, yaitu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) serta Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) dan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) sebagai kelengkapannya. Perencanaan pembangunan daerah seperti diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang SPPN, mewajibkan daerah untuk menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang yang berdurasi waktu 20 (dua puluh) tahun yang berisi tentang visi, misi dan arah pembangunan daerah.

Rismayanti Magister Ilmu Ekonomi

II. PEMBAHASAN

1. Perencanaan Pembangunan Daerah Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu usaha yang sistematik dari berbagai pelaku, baik umum (publik) atau pemerintah, swasta, maupun kelompok masyarakat lainnya pada tingkatan yang berbeda untuk menghadapi saling ketergantungan dan keterkaitan aspek fisik, sosial, ekonomi, dan aspek lingkungan lainnya, dengan cara : Terus menerus menganalisis kondisi dan pelaksanaan pembangunan daerah Merumuskan tujuan dan kebijakan pembangunan daerah Menyusun konsep strategi bagi pemecahan masalah dan Melaksanakannya dengan menggunakan sumber daya yang tersedia

Sehingga peluang baru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerha dapat ditangkap secara berkelanjutan. Perencanaan pembangunan daerah dimaksudkan untuk menghasilkan pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, salah satunya dengan melaksanakan Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) mulai tingkat desa sampai provinsi. Melalui proses ini diharapkan program/kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Pemda dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara optimal. Peranan pemerintah daerah sangat penting dalam kegiatan percepatan pembangunan daerah tertinggal. Peranan yang diberikan selain dalam bentuk sarana dan prasarana baik itu yang berupa sarana fisik maupun subsidi langsung, yang juga tidak kalah pentingnya adalah pemerintah daerah juga harus memberikan bimbingan teknis dan non teknis secara terus menerus kepada masyarakat yang sifatnya mendorong dan memberdayakan masyarakat agar mereka dapat merencanakan, membangun, dan mengelola sendiri prasarana dan sarana untuk mendukung upaya percepatan pembangunan di daerah tertinggal serta melaksanakan secara mandiri kegiatan pendukung lainnya. Daerah juga perlu mendorong terjadinya koordinasi dan kerjasama antar wilayah yang melibatkan dua atau lebih wilayah yang berbeda. 2. Kondisi Wilayah Makassar Saat Ini Makassar atau Ujung Pandang adalah kota terbesar di kawasan Indonesia Timur dan sekaligus ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Kota ini terletak di pesisir barat daya pulau Sulawesi, berhadapan dengan Selat Makassar. Makassar berbatasan dengan Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Kepulauan Pangkajene di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan.

Rismayanti Magister Ilmu Ekonomi

Kota ini tergolong salah satu kota terbesar di Indonesia dari aspek pembangunannya dan secara demografis dengan berbagai suku bangsa yang menetap di kota ini. Suku yang signifikan jumlahnya di kota Makassar adalah suku Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, Buton, Jawa, danTionghoa. Makassar memiliki wilayah seluas 175,77 km dan penduduk sebesar kurang lebih 1,4 juta jiwa. Walaupun termasuk dalam salah satu kota besar, namun makassar belum bisa memberikan kontribusi yang efektif kepada masyarakatnya. Perkembangan sektor-sektor belum memadai khususnya sektor riil, sehingga mempengaruhi sektor keuangan dan pendapatan masyarakatnya. Sedangkan barometer untuk mengukur kesejahteraan masyarakat adalah dilihat dari tingkat pendapatan dan daya beli masyarakat itu sendiri. Perkembangan sektor riil sangat erat kaitannya dengan perkembangan di sektor keuangan. Jika sektor riil suatu wilayah atau berkembang maka secara otomatis terjadi perkembangan pula pada sektor keuangan. Di makassar masih banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan sebagai perkembangan usaha perdagangan maupun pariwisata. Namun, lahanlahan kosong tersebut justru lebih dimanfaatkan oleh para developer dengan membangun hunian horizontal (perumahan), yang harus menggunakan lahan berhektar-hektar hanya untuk perkembangan disektor pemukiman. Sehingga sektor perdagangan dan periwisata terbatas pengadaannya.

3. Perencanaan Jangka Panjang Rencana Jangka Panjang untuk kota makassar pada sektor pemukiman adalah pembangunan hunian guna mencukupi kebutuhan tempat tinggal (papan) masyarakat adalah didominasi oleh hunian vertikal (apartemen) yang harganya terjangkau namun tetap mengutamakan kualitas dan kenyamanan para penghuni. Tentu hal ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak, baik dari pemerintah maupun swasta dalam hal ini para developer (real estate). Campur tangan pemerintah dalam hal ini adalah menyediakan KPA (Kredit Pemilikan Apartemen) dengan bunga yang terjangkau yang disesuaikan dengan daya beli masyarakat pada umumnya. Serta mensosialisasikan program pemilikan apartemen yang terjangkau dan berkualitas kepada masyarakat khususnya masyarakat kota makassar. Hal ini dilakukan sebab masyarakat kota makassar masih didominasi oleh masyarakat yang terbiasa hidup di perumahan bukan apartemen, sehingga untuk mencanangkan rencana ini diperlukan adanya sosialisasi. Pendapatan Daerah Kota Makassar tahun 2013 adalah sebesar Rp. 1.944.588.944.000,yang didominasi dari dana perimbangan. Sedangkan Total Jumlah belanja daerah masih lebih besar dari pendapatan yakni sebesar Rp. 2.072.657.895.000,- yang didominasi oleh belanja pegawai. Sehingga terjadi defisit anggaran sebesar Rp. 128.068.951.000,-. Karena terjadi defisit anggaran sebesar Rp. 128.068.951.000,- maka rencana sosialisasi dan realisasi pembangunan sektor hunian vertikal ini dimasukkan dalam rencana jangka panjang kota makassar. Dengan harapan, stabilisasi anggaran daerah dapat terjadi pada tahun 2015 dan paling lambat tahun 2017.

Rismayanti Magister Ilmu Ekonomi

Dengan realisasi pembangunan sektor hunian vertikal maka akan mempengaruhi pula pembangunan sektor perdagangan dan pariwisata. Hal ini disebabkan karena tersedianya lahan yang lebih banyak untuk pengadaan objek wisata dan perdagangan. Jika sektor pariwisata berkembang maka akan mempengaruhi pula perkembangan sektor-sektor lainnya. Dengan banyaknya lahan yang tersedia karena sebagian besar penduduk kota makassar menghuni apartemen, maka perumahan yang sebelumnya ditempati dapat dijadikan lahan bisnis dan objek pariwisata oleh para pengelolah. Pengadaan objek wisata yang belum ada dikota makassar yang dapat menarik kunjungan para wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah kota makassar. Salah satu objek wisata yang dimaksud adalah Kebun binatang. Yang didukung dengan banyaknya spesies fauna di makassar yang dapat dirawat dengan baik dan dijaga kelestariannya di Kebun Binatang Makassar. Lalu melengkapinya dengan taman wisata yang dikelolah secara profesional dengan jasa tur dan penjelasan ilmiah yang dari masing-masing tanaman. Hal ini akan meningkatkan nilai jual dan daya tariknya. Sedangkan pada sektor bisnis dan perdagangan adalah tersedianya lahan bisnis yang terjangkau bagi masyarakat kota makassar, sehingga peluang bisnis lebih terbuka lebar. Salah satu masalah kurang berkembangnya bisnis dan perdagangan di kota makassar karena tingginya harga sewa atau pembelian lahan bisnis. Namun, jika tersedia lahan yang lebih banyak karena sebagian besar penduduk tinggal pada apartemen, maka secara otomatis harga lahan bisnis akan menurun dan diharapkan dapat dijangkau oleh segenap lapisan masyarakat kota makassar. Kurang maksimalnya pemanfaatan trotoar bagi para pejalan kaki juga perlu untuk di masukkan dalam rencana jangka panjang. Mengingat fungsi dari trotoar itu adalah untuk kenyamanan dan keamanan para pejalan kaki. Dengan pengelolaan trotoar yang baik, maka akan meningkatkan minat masyarakat untuk membudayakan jalan kaki guna menghemat penggunaan bahan bakan minyak (BBM) sehingga subsidi BBM dari pemerintah juga akan berkurang. Selain itu juga bisa mengurangi polusi kendaraan yang bisa menyebabkan menipisnya lapisan ozon.

4. Perencanaan Jangka Menengah Rencana Jangka Menengah untuk kota makassar adalah pengelolaan objek wisata yang kurang menarik menjadi objek wisata yang sangat diminati oleh para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Salah satunya adalah pengelolaan pantai losari, pantai akarena, pulau khayangan, pulau samalona, dan lain-lain. Melengkapinya dengan objek wisata kuliner dengan ragam kuliner khas disekitarnya. Serta pengaturan tata letak pondok atau penginapan yang ada disekitar pantai yang dirancang agar nampak lebih rapi dan menarik. Selain itu, hal penting yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah adalah sektor transportasi. Walaupun makassar bukan ibu kota negara namun makassar juga tidak bisa lepas dari kemacetan dan kepadatan kendaraan setiap harinya. Hal ini karena semakin banyaknya pengguna kendaraan pribadi yang didukung dengan kemudahan masyarakat memperoleh kredit

Rismayanti Magister Ilmu Ekonomi

kepemilikan kendaraan pribadi. Dan hal ini dipicu pula oleh ketidaknyamanan masyarakat dalam menggunakan angkutan umum. Sehingga arus distribusi menjadi lambat. Jika arus distribusi lambat maka akan meningkatkan biaya distribusi, sehingga akan mempengaruhi harga barang yang diperdagangkan. Dengan pengelolaan sarana transportasi khususnya angkutan umum yang baik, maka akan meningkatkan minat masyarakat untuk lebih memilih menggunakan transportasi umum dari pada kendaraan pribadi. Hal ini juga akan menghemat penggunaan BBM oleh masyarakat dan mengurangi pula subsidi BBM dari pemerintah. Disamping itu juga, sarana infrastruktur yang ada di sulawesi selatan ini masih kurang kondusif. Banyak jalan rusak yang masih membutuhkan penanganan dari pemerintah. Hal ini pula yang menjadi penyebab lambatnya arus distribusi barang. Jadi, rencana jangka menengah untuk sektor transportasi adalah membenahi angkutan umum, sehingga nyaman untuk digunakan oleh masyarakat. Dengan begitu, maka akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang akan mengurangi kemacetan atau kepadatan kendaraan. Jalan-jalan yang rusak pun harus segera diperbaiki. Selain untuk kelancaran arus distribusi juga untuk meningkatkan keamanan para pengguna jalan.

5. Relevansi Antara Sektor-sektor Pada dasarnya masing-masing sektor mempunyai relevansi yang saling mendukung dan menunjang satu sama lain. Perkembangan sektor pariwisata akan meningkatkan daya tarik para wisatawan domestik maupun mancanegara. Yang dapat meningkatkan pendapatan daerah. Hal ini juga dapat meningkatkan kesempatan kerja bagi masyarakat. Sebab perkembangan sektor pariwisata tentu juga peranan sumber yang mengelolah dan terlibat didalamnya. Semakin banyak sektor pariwisata yang bisa dikembangkan, semakin banyak pula penyerapan tenaga kerjanya. Begitu juga hal nya dengan sektor hunian baik vertikal maupun horizontal. Semakin berkembangnya pembangunan dan penyediaan hunian atau tempat tinggal. Semakin banyak pula menyerap lapangan kerja, industri dan pedagang material bahan bangunan pun akan memperoleh keuntungan dari perkembangan ini. Sehingga akan menyerap lapangan pekerjaan dan akan mempengaruhi sektor keuangan daerah.

III. KESIMPULAN Perencanaan adalah sebagai upaya untuk mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi yang bersifat akumulatif. Artinya perubahan pada suatu keseimbangan awal dapat mengakibatkan perubahan pada sistem sosial yang akhirnya membawa sistem yang ada menjauhi keseimbangan awal. Perencanaan sebagai bagian daripada fungsi manajemen yang bila ditempatkan pada pembangunan daerah akan berperan sebagai arahan bagi proses pembangunan berjalan menuju tujuan di samping itu menjadi tolok ukur keberhasilan proses.embangunan

Rismayanti Magister Ilmu Ekonomi

Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu usaha yang sistematik dari berbagai pelaku, baik umum (publik) atau pemerintah, swasta, maupun kelompok masyarakat lainnya pada tingkatan yang berbeda untuk menghadapi saling ketergantungan dan keterkaitan aspek fisik, sosial, ekonomi, dan aspek lingkungan lainnya. Walaupun termasuk dalam salah satu kota besar, namun makassar belum bisa memberikan kontribusi yang efektif kepada masyarakatnya. Perkembangan sektor-sektor belum memadai khususnya sektor riil, sehingga mempengaruhi sektor keuangan dan pendapatan masyarakatnya. Sedangkan barometer untuk mengukur kesejahteraan masyarakat adalah dilihat dari tingkat pendapatan dan daya beli masyarakat itu sendiri. Perkembangan sektor riil sangat erat kaitannya dengan perkembangan di sektor keuangan. Jika sektor riil suatu wilayah atau berkembang maka secara otomatis terjadi perkembangan pula pada sektor keuangan

Sumber Refrensi :

http://pumariksa.blogspot.com/2013/03/makalah-perencanaan-pembangunan-daerah.html http://choirunnisa90.blogspot.com/2011/05/pembangunan-daerah.html http://www.slideshare.net/DadangSolihin/perencanaan-pembangunan-daerah-konsep-strategitahapan-dan-proses