Anda di halaman 1dari 12

PERENCANAAN PELAYANAN KESEHATAN PROGRAM YANKES PADA IMPETIGO Oleh Miliyandra, S.

Ked (04023100011)

I. I.1.

PENDAHULUAN Fakta Deskripitif

Impetigo ialah pioderma supertfisialis (terbatas pada epidermis)1.Impetigo adalah infeksi pada kulit yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri penyebabnya dapat satu atau kedua dari Stafilokokus aureus dan Streptokokus hemolitikus B grup A. Impetigo mengenai kulit bagian atas (epidermis superfisial).Impetigo adalah infeksi kulit yang sering terjadi pada anak-anak. Impetigo umumnya mengenai anak usia 2-5 tahun. Impetigo terdiri dari dua jenis, yaitu impetigo krustosa (tanpa gelembung cairan, dengan krusta/keropeng/koreng) dan impetigo bulosa (dengan gelembung berisi cairan).Impetigo adalah infeksi kulit yang mudah sekali menyebar, baik dalam keluarga, tempat penitipan atau sekolah2. Impetigo adalah suatu infeksi kulit yang disebabkan oleh kuman Staphylococcus atau Streptococcus. Gejala Impetigo jika bukan lepuh kecil, ya akan berupa luka berkerak berwarna madu pada kulit. Kadang-kadang Impetigo ini disebut luka sekolah2. Impetigo menyebar melalui kontak langsung dengan lesi (daerah kulit yang terinfeksi). Di Inggris kejadian impetigo pada anak sampai usia 4 tahun sebanyak 2,8% pertahun dan 1,6% pada anak usia 5-15 tahun. Sekitar 70% merupakan impetigo krustosa 2.Pasien dapat lebih jauh menginfeksi dirinya sendiri atau orang lain setelah menggaruk lesi. Infeksi seringkali menyebar dengan cepat pada sekolah atau tempat penitipan anak dan juga pada tempat dengan higiene yang buruk atau tempat tinggal yang padat penduduk3,4,5. Belakangan ini di Amerika Serikat dan Eropa, stafilokokus aureus sekarang sebagian besar menjadi pathogen pada impetigo bulosa dan nonbulosa sementara stafilokokus pyogenes

menjadi penyebab di Negara yang berkembang. Sebagian besar permulaan infeksi sama dengan infeksi streptococcal tetapi kemudian berganti staphylococcus dalam waktu yang lama4. Impetigo merupakan manifestasi dari pyoderma primer pada kulit. Ini terjadi sebagai akibat infeksi sekunder dari penyakit kulit yang sebelumnya sudah adaatau trauma kulit yang menunjukkan sebagai dermatitis impetigo. Impetigo jarang menyebar ke infeksi sistemik walaupun terkadang terjadi glomerulonepritis poststreptococcal5.
Di Amerika Serikat, Impetigo merupakan penyakit kulit, diperkirakan 10% dari penyakit kulit yang di obati di klinik anak. Puncak dari insiden ini terjadi pada musim panas dan hujan 2. Rasio kejadian laki-laki dan perempuan hamper sama. Impetigo dapat terjadi pada semua umur. Anak-anak yang

lebih muda dari 6 tahun memiliki insiden yang tinggi dari impetigo dibandingkandengan dewasa. Impetigo bulosa biasanya pada neonatus dan infant. Jika selaput ketuban pecah lebih awal maka impetigo bisa terjadi pada saat kelahiran. 90% impetigo bulosa terjadi pada anak dibawah 2 tahun. Impetigo nonbulosa sebagian besar terjadi pada anak-anak yang berusia 2-5 tahun. Group B infeksi streptococcal merupakan penyebab pada impetigo pada bayi yang baru lahir3. Sebagian besar dampak penyakit ini tidak menimbulkan komplikasi. Sesorang dengan impetigo yang disebabkan infeksi streptococcal bisa menimbulkan glomerulonepritis. Antibiotic oral tidak bisa mencegah perkembangan komplikasi ginjal6. I.2. Analisis teori dan empiric Impetigo dapat timbul sendiri (primer) atau komplikasi dari kelainan lain (sekunder) baik penyakit kulit (gigitan binatang, varizela, infeksi herpes simpleks, dermatitis atopi) atau penyakit sistemik yang menurunkan kekebalan tubuh (diabetes melitus, HIV) Impetigo merupakan penyakit kulit yang sangat mudah berjangkit dan boleh merebak dengan begitu cepat sekali daripada seorang kanak-kanak kepada kanak-kanak yang lain melalui sentuhan. Menggaru luka atau kudis juga boleh menyebarkannya ke bahagian-bahagian lain di badan7.

Faktor-faktor risiko yang menyebabkan Impetigo8 1 2 3 Kanak-kanak di peringkat sekolah. Cuaca yang panas dan lembap. Mereka yang tinggal di kawasan yang tercemar (tahap kebersihan dan kesihatannya rendah). 4 5 6 Ekzema. Tumbuhan menjalar yang beracun. Alahan terhadap sabun atau alat solek.

Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya impetigo ditinjau dari teori Blumn dibedakan menjadi empat faktor, yaitu faktor biologi, faktor lingkungan, faktor mutu pelayanan kesehatan, dan faktor perilaku. Keempat faktor ini saling berhubungan dalam mempengaruhi terjadinya suatu penyakit. Faktor biologi dan lingkungan Penyakit impetigo tersebar di seluruh dunia. Insiden tertinggi ditemukan di daerah yang kebersihan perorangannya jelek (mandi tidak menggunakan sabun dan air bersih) dan di daerah dengan penduduk yang padat biasanya menyerang anak-anak, khususnya pada musim kemarau. Penyakit tersebar secara sporadis dan dapat menyebabkan wabah kecil di lingkungan keluarga dan orang yang kamping pada musim panas, anggota keluarga yang berbeda terkena penyakit berulang dengan strain stafilokokus yang sama. Mekanisme terjadinya imunitas tidak diketahui dengan jelas. Bayi baru lahir dan orang dengan penyakit kronis sangat rentan terhadap infeksi. Orang tua dan orang dengan debilitas, pecandu obat bius, orang dengan diabetes militus, cystic fibrosis, penderita gagal ginjal kronis, agammaglobulinemia, kelainan fungsi neutrofil (seperti agranulositosis, penyakit granulomatus kronis), neoplasma dan luka bakar biasanya juga sangat rentan terhadap penyakit ini. Penggunaan streroid dan anti metabolit juga meningkatkan kerentanan.

Faktor Perilaku dan Pelayanan Kesehatan Penyebab utama penyakit impetigo pada dasarnya adalah lingkungan yang tidak sehat, maka dengan demikian perilaku hidup sehat menjadi suatu hal yang harus ditangani dan perlu di sosialisasikan kepada masyarakat. Perilaku hidup bersih harus di mulai dari diri sendiri kemudian keluarga lalu lingkungan sekitar kita. Mengingat penyakit ini lebih sering menyerang anak-anak maka peran guru selaku pendidik di sekolah amatlah penting. Minimnya pengetahuan gurut tentang pentingnya perilaku hidup sehat harus menjadi perhatian pusat pelayanan kesehatan dan tenaga medis untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat sekitarnya. II. RUMUSAN MASALAH PROGRAM Penderita Impetigo memang bukan penyakit yang mematikan bagi penderitanya, akan tetapi komplikasi yang ditimbulkan cukup untuk membuat perhatian kita tertuju pada penyakit satu ini. Impetigo merupakan manifestasi dari pyoderma primer pada kulit. Ini terjadi sebagai akibat infeksi sekunder dari penyakit kulit yang sebelumnya sudah ada atau trauma kulit yang menunjukkan sebagai dermatitis impetigo. Impetigo jarang menyebar ke infeksi sistemik walaupun terkadang terjadi glomerulonepritis poststreptococcal .. Penyakit impetigo ini lebih banyak menyerang anak-anak di bandingkan dengan orang dewasa . Penyakit impetigo tersebar di seluruh dunia. Insiden tertinggi ditemukan di daerah yang kebersihan perorangannya jelek (mandi tidak menggunakan sabun dan air bersih) dan di daerah dengan penduduk yang padat biasanya menyerang anak-anak, khususnya pada musim kemarau. Penyakit tersebar secara sporadis dan dapat menyebabkan wabah kecil di lingkungan keluarga dan orang yang kamping pada musim panas, anggota keluarga yang berbeda terkena penyakit berulang dengan strain stafilokokus yang sama.oleh karena itu penyuluhan tentang perilaku hidup sehat sangatlah diperlukan dalam penyelesaian masalah ini.

III. TUJUAN PROGRAM III.1. Tujuan Umum Meningkatnya Pengetahuan guru tentang penyakit impetigo dan perilaku hidup sehat. III.2. Tujuan Khusus Meningkatnya Pengetahuan guru-guru tentang penyakit impetigo dan perilaku hidup sehat SD kota Palembang. Besarnya target peningkatan pengetahuan guru, dengan asumsi hanya 11,72% dari masyarakat yang mengetahui Impetigo, adalah 26,69%. (Asumsi 11,72% didapat dari: berdasarkan data Dinas pendidikan Kota Palembang tahun 2007, jumlah SD di kota palembang 561 SD Negeri, 78 SD Swasta, jumlah guru tiap SD di kota palembang kurang lebih 9585 yang terdiri dari 1278 orang adalah S 1 dan sisanya adalah D1 dan D3. Dengan asumsi bahwa yamg memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai impetigo adalah guru dengan tingkat pendidikan S1 atau 13,33% dari total guru SD)

Catatan Perhitungan Target

Besarnya target minimal ditentukan dengan menggunakan rumus:


p1 p 2

1,96 =

p1q1 p 2q 2 + N1 N2

p1 = besarnya masalah sebelum program dalam % (13,33%) p2 = besarnya masalah setelah program dalam % (target) q1 = 100% - p1 (86,67%) q2 = 100% - p2 N1 = jumlah populasi sebelum program (9585) N2 = jumlah populasi setelah program (9585) Besarnya p2 atau target yang ingin dicapai dapat dicari dengan menggunakan rumus persamaan kuadrat sebagai berikut:

p2(1,2) =

b b 2 4ac 2a

Pada kasus ini didapatkan p2 sebesar 26,69%.

IV. PROGRAM DAN KEGIATAN Alternatif program untuk meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan adalah: 1. Mengadakan seminar yang rutin tentang impetigo dan perilaku hidup sehat untuk memberikan pengetahuan dan informasi mengenai komplikasi dan perlakuan terhadap anak dengan impetigo. 2. Membuat leaflet-leaflet yang berisi info tentang impetigo dan perilaku hidup sehat untuk dibagikan di sekolah sekolah. 3. Menganjurkan pada dinas pendidikan untuk memasukkan materi ini ke dalam salah satu mata kuliah pendidikan keguruan sehingga setiap guru akan terbekali dengan pengetahuan akan penyakit ini

Alternatif terbaik dalam memecahkan masalah untuk mengurangi komplikasi sosial anak yang menderita impetigo adalah dengan mengadakan seminar awam untuk guru tentang impetigo dengan tujuan peningkatan pengetahuan guru tentang penyakit ini. Selanjutnya para guru yang mengikuti diharapkan akan melakukan transfer ilmu kepada rekan-rekan mereka sehingga setiap guru dapat mengenali gejala yang timbul pada penyakit ini. Seminar ini bertujuan memberikan informasi kepada guru mengenai impetigo, cara mengenali penyakitnya, dan komplikasi apa yang ditakutkan bila diagnosis yang ditegakkan terlambat. Sehingga diharapkan dikemudian hari penanganan impetigo dapat dilakukan sedini mungkin untuk mengurangi berbagai komplikasi yang ditimbulkan.

V. STRATEGI INTERVENSI Seminar awam mengenai impetigo dan perilaku hidup sehat diharapkan bisa dilaksanakan secara rutin. Mengingat setiap masyarakat perlu dibekali menganai penyakit ini maka peran serta pemerintah perlu dalam menangani masalah ini. Dinas pendidikan khususnya kota palembang sebagai institusi yang menangani masalah pendidikan guru, diharapakan mau berperan serta menangani masalah ini yaitu dengan memasukkan materi tentang penyakit ini ke dalam salah satu mata kuliah dalam sekolah pendidikan keguruan. Namun untuk sementara waktu, seiring dengan usaha pendekatan institusi, maka dilakukan pendekatan komunitas. Strategi yang dilakukan adalah memberikan informasi dan edukasi dengan mengadakan Seminar awam mengenai ada apa dengan impetigo dan perilaku hidup sehat yang berisi tentang apa itu impetigo, cara mengenali penyakitnya, dan komplikasi apa yang ditakutkan serta pentingnya perilaku hidup sehat dalam mengatasi maslah tersebutkepada guru-guru di Kota Palembang. Sehingga diharapkan mereka dapat mengetahui penyakit ini dan dapat mengenali lebih dini murid yang terkena penyakit ini. VI. RENCANA DAN JADWAL KEGIATAN Rencana kegiatan yang akan dilakukan meliputi: VI.1. Rencana Kegiatan Persiapan (Preparation Activities) a. Penyusunan proposal, perencanaan anggaran biaya, mengurus izin ke Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang, dan dinas Pendidikan Kotamadya Palembang. b. Melakukan audiensi kepada pihak pemerintah setempat, instansi swasta, dan tokoh masyarakat dalam usaha mencari dukungan baik dana maupun legalitas. c. Persiapan materi kuliah dan pembicara. d. Persiapan tempat, peralatan dan waktu kuliah. e. Kegiatan publikasi meliputi penyebaran undangan ke SD yang ada di Kotamadya Palembang.

VI.2.

Rencana Kegiatan Pelaksanaan (Implementation Activities)

Seminar awam Ada apa dengan impetigo dan perilaku hidup sehat

Hari/Tanggal : Waktu Tempat Sasaran Kegiatan : : : :

Senin, 10 Desember 2007 08.00 12.00 WIB Aula Dinas Kesehatan Kota Palembang Perwakilan Guru dari setiap SD di kota palembang Pengisian kuisioner (pretest) Seminar Posttest

Target

500 peserta

VII.

RENCANA PEMBIAYAAN

No 1

Kegiatan Pembuatan proposal

Biaya Rp. 50.000,-

Sumber Dana Kas organisasi

Pembuatan perbanyakan kuesioner

dan

Rp. 200.000,-

Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat

Undangan

Rp. 50.000,-

Kas organisasi

Sewa peralatan

gedung (kursi,

dan sound

Rp. 1.500.000,-

Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat

system, LCD)

Perbanyakan makalah

Rp. 500.000,-

Dana bantuan dari pemerintah/instansi

swasta/tokoh masyarakat 6 Honor 3 orang pembicara @ Rp. 100.000,Rp. 300.000,Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat 7 Konsumsi 100 orang Rp. 100.000,Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat 8 Dokumentasi Rp. 100.000,Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat 9 Transportasi Rp. 100.000,Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat 10 Keamanan Rp. 100.000,Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat Total biaya yang Rp. 3.000.000,-

peserta @ Rp. 1.000,-

dibutuhkan

VIII. EVALUASI PROGRAM Pada akhir kegiatan dilakukan evaluasi program untuk menilai keberhasilan kegiatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi meliputi keberhasilan unsur masukan, unsur proses, dan unsur keluaran. a) Keberhasilan unsur masukan, yaitu: adanya kerjasama yang baik dengan pihak dinas kesehatan, dinas pendidikan dan sponsor, adanya ketersediaan dana, sarana dan prasarana

yang mendukung pelaksanaan kegiatan, jumlah partisipan memenuhi target yang diharapkan. b) Keberhasilan unsur proses: terselenggaranya kegiatan Seminar Ada apa dengan impetigo dan perilaku hidup sehat dengan baik. c) Keberhasilan unsur keluaran: bertambahnya pengetahuan guru di Kota Palembang tentang impetigo sehingga diagnosis pengenalan dini bisa dilakukan oleh guru.

Instrumen yang digunakan untuk evaluasi unsur keluaran adalah kuisioner. Kuisioner yang dipakai untuk posttest sama dengan kuisioner yang dipakai untuk pretest. Hasil pengisian kuisioner diperhitungkan dalam bentuk persentase dan kemudian dibandingkan dengan persentase pengetahuan guru sebelum mendapatkan seminar, apakah terdapat adanya peningkatan pengetahuan. Kemudian diharapkan terjadi transfer ilmu antar guru disekolah masing-masing melalui materi yang diberikan baik lewat lisan atau tulisan yang diberikan pembicara seminar.

IX. PEMANTAUAN Hasil kegiatan seminar sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan guru mengenai impetigo. Pemantauan dilakukan dengan cara pengisian kuisioner oleh petugas kesehatan di setiap SD di Palembang secara berkala, yakni setiap 6 bulan, sehingga dapat diketahui apakah guru yang mengikuti seminar benar-benar telah melakukan transfer ilmu kepada rekan-rekan sejawatnya di tempat kerjanya. Apabila terjadi penurunan pengetahuan tenaga kesehatan di bawah target yang telah ditentukan sebelum kegiatan, maka perlu dilakukan semianar kembali dengan target kepada adalah guru SD di palembang yang belum mengikuti seminar ini

X. WAKTU
Jadwal Program Perencanaan (Gannt Chart) N o 1. 2. Menyusun proposal Pencarian sponsor 3. Pengadaan sarana dan dana dan Kegiatan I II Pekan III IV V VI

prasarana kegiatan 4. 5. Penyebaran undangan Pelaksanaan kegiatan

kuliah penyegaran 6. 7. Evaluasi kegiatan Pemantauan Setiap 6 bulan

DAFTAR PUSTAKA

1.Adhi Juanda,Prof.dr. dkk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 3th. Bagian Ilmu Penyakit kulit dan kelamin Fakultas Kedokteran FK UI. Jakarta.1999. hal 57 2. Anonymous. Impetigo. http://www. emedicine.com. accesed on 4th

december,2007 3.Anonymous. december,2007 4.Anonymous. manual pemberantasan penyakit menular .http:// www. on 4 december,2007 5.Anonymous. Bisul dan Impetigo. http://www.health.nsw.gov.au/mhcs/publication_pdfs/7100/DOH-7100-IND.pdf. accesed on 4th december,2007 6. Anonymous. Boil and Impetigo http://www.health.nsw.gov.au/pubs/topics/boils_impetigo_fs.pdf. accesed on 4th december,2007 7.Charles cole,M.D. Diagnosis and treatment of impetigo. http://www.aafp.org/afp/20070315/859.pdf accesed on 4th december,2007
8. Anonymous. Jangkauan Kulit .http://www.infosihat.gov.my/PDF%20Penyakit/KULIT_Impetigo.pdf
th

Impetigo.

http://www.

medicastore.com.

accesed

on

4th

accesed

accesed on 4th december,2007


9. Anonymous. Impetigo fact sheet. http://edcp.org/pdf_factsheets/Impetigo.pdf. accesed on 4th

december,2007