Anda di halaman 1dari 14

Wajibnya Merapatkan dan Meluruskan Shaf

Rasulullah i bersabda:


Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat.
Takhrij Hadits: Hadits dengan lafadz ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya (433) dari shahabat Anas bin Malik -radhiallahu Taala anhu-, dan dalam riwayat Al-Bukhary (723), dengan lafazh:


Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk menegakkan sholat. Semakna dengannya, hadits Abu Hurairah -radhiallahu Taala anhu- dalam riwayat Al-Bukhary (722) dan Muslim (435), dari Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda:

,
Dan tegakkanlah shaf di dalam shalat, karena sesungguhnya menegakkan shaf termasuk diantara baiknya sholat.
Kosa Kata Hadits: 1.

Sabda beliau [luruskanlah shaf-shaf kalian] yakni, lurus dan seimbanglah dalam bershaf sehingga
kalian seakan-akan merupakan garis yang lurus, jangan salah seorang di antara kalian agak ke depan atau agak ke belakang dari yang lainnya, serta merapat dan tutuplah celah-celah kosong yang berada di tengah shaf. Sabda beliau [termasuk kesempurnaan sholat], yakni penyempurna sholat. Sesuatu dikatakan sempurna jika telah sempurna seluruh bagian-bagiannya, sehingga satu bulan dikatakan sempurna jika harinya sudah genap 30. Sabda beliau [sesungguhnya menegakkan shaf], yakni meluruskan dan menyeimbangkannya ketika hendak mendirikan shalat berjamaah. Sabda beliau [termasuk diantara baiknya sholat]. Ibnu Baththol menjelaskan bahwa baiknya sesuatu adalah kadar tambahan setelah sempurnanya sesuatu tersebut.[Lihat: Fathul Bary (2/209), Aunul Mabud (2/259), dan Faidhul Qodir (2/537) dan (4/115-116)]

2. 3. 4.

Syarh: Di antara sunnah1 yang banyak dilalaikan dan tidak diketahui ummat adalah meluruskan dan merapatkan shaf. Sunnah ini telah ditinggalkan oleh mereka sehingga nampak fenomena yang menyedihkan berupa adanya ketidakrapian shaf dalam sholat berjamaah. Di lain sisi, orang yang diangkat jadi imam sholat juga tidak paham mengenai sunnah yang satu ini. Kalaupun paham, mereka tidak berusaha mengajarkannya kepada jamaah, -baik karena sikap acuh tak acuh mereka terhadap sunnah atau karena sungkannya mereka kepada jamaah yang telah menunjuk dirinya sebagai imam sehingga takut jika posisi itu hilang darinya ketika dia mengajarkan dan menerapkan sunnah yang mulia ini- sehingga terjadilah kekacauan dalam
1

Kata sunnah memiliki dua pengertian. Pertama: Sunnah bermakna sesuatu yang dianjurkan dan biasa diistilahkan mandub atau mustahab. Kedua: Sunnah bermakna petunjuk yang pernah dilakukan oleh Nabi-shollallahu alaihi wasallam- dan para sahabatnya. Definisi kedua ini mencakup perkara yang wajib maupun mandub/mustahab. Dalam tulisan ini jika kami menyebut kata sunnah, maka yang kami maksudkan sunnah menurut definisi kedua yang bermakna petunjuk. Kami tak gunakan istilah sunnah untuk mengungkapkan perkara yang mustahab/mandub. Ini kami jelaskan karena banyak orang yang salah paham dalam menggunakan istilah sunnah. Seperti jika kita katakan: Meluruskan dan merapatkan shaf adalah sunnah Nabi-shollallahu alaihi wasallam-. Serta merta ada yangmengatakan: Kenapa anda mewajibkan sesuatu jika memangnya sunnah ?!! Padahal sunnah yang kita maksudkan disini adalah bermakna petunjuk mencakup yang wajib maupun yang tidak wajib (baca: mustahab/mandub). Namun tentunya meluruskan shaf dan merapatkannya merupakan sunnah Nabi-shollallahu alaihi wasallam- yang hukumnya wajib, bukan mandub/mustahab. Akan datang penjelasannya, insya Allah Taala. Semoga bisa dipahami.

Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

barisan jamaah yang terkadang melahirkan perselihihan batin dan kebencian. Sebagai bentuk usaha dalam mengatasi problema ini, kami merasa perlu untuk menjelaskan sunnah yang mahjuroh (ditinggalkan) ini dan menyebarkannya melalui tulisan yang ringkas ini. Berikut penjelasannya: Anjuran Menyambung Shaf dan Ancaman Memutuskannya Banyak nash dari hadits Nabi -i - yang menganjurkan kita agar kita meluruskan dan merapatkan shaf, bahkan beliau juga telah mengancam orang yang memutuskannya dengan ancaman yang keras. 1. Dari sahabat Abdullah bin Umar -radhiallahu Taala anhuma- beliau berkata: Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

, .
Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangantangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya).2
Imam Abu Dawud As-Sijistany -rahimahullah- berkata ketika menjelaskan sabda Nabi -i-, Makna sabdanya:[ Lembutilah tangan-tangan (lengan) saudara kalian] (adalah) apabila ada seorang yang datang menuju shaf, lalu ia berusaha masuk, maka seyogyanya setiap orang melembutkan (melunakkan) bahunya untuknya sehingga ia bisa masuk shaf.3 Jika menutup celah yang renggang saja merupakan perkara yang sangat dianjurkan, apalagi jika itu merupakan kekosongan dan kerenggangan yang sangat lapang di antara satu jamaah dengan jamaah lainnya -sebagaimana yang terlihat di banyak masjid di tanah air-, maka ini tentu lebih dianjurkan bahkan diperintahkan. 2. A`isyah -radhiallahu Taala anha- berkata, Rasulullah -i- bersabda:


Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karenanya dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.4
Janji yang demikian besarnya, tentunya tidak diberikan kecuali kepada orang yang memiliki semangat yang tinggi dalam mengamalkan sunnah Rasulullah-Shallallahu alaihi wasallam- di saat manusia banyak yang meninggalkannya dan melalaikannya, bahkan terkadang diingkari. Demikian pula orang yang menolong saudaranya dalam melaksanakan sunnah ini dengan melunakkan bahunya agar saudaranya bisa masuk ke dalam shaf dan tidak terhalang, wajar jika ia disebut sebagai orang yang terbaik akhlaknya. 3. Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

,
Orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling lembut bahunya dalam sholat. Tak ada suatu langkahpun yang lebih besar pahalanya dibandingkan langkah yang dilangkahkan menuju celah dalam shaf, lalu ia menutupinya.5
2

HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasaiy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (743) 3 Lihat Sunan Abu Dawud, hal.110 karya Sulaiman Ibnul Asyats As-Sijistany Al-Azdi, cet. Dar Ibnu Hazm, tahun 1419 H 4 HR.Ibnu Majah Al-Qozwini dalam Sunan-nya (1004). Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashir Al-Albany -rahimahullah- dalam Shohih Sunan Ibnu Majah (1004) dan At-Taliq Ar-Roghib (1/335) cet. Maktabah Al-Maarif , tahun 1421 H

Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

Perintah Meluruskan dan Merapatkan Shaf Para pembaca yang budiman telah membaca hadits-hadits yang menganjurkan kita untuk meluruskan dan merapatkan shaf dan juga ancaman bagi orang yang memutuskan shaf dengan cara membuat celah antara bahunya dengan bahu saudaranya, maka wajarlah jika Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- memerintahkan hal tersebut demi menekankan pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf serta bahaya memutuskannya. 1. Dari sahabat Abdullah bin Masud -radhiyallahu anhu- berkata: Rasulullah-shollallahu alaihi wasallambersabda:


Luruslah kalian dan jangan kalian berselisih. Lantaran itu, hati-hati kalian akan berselisih.6 Perhatikan bagaimana Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- mengancam orang yang berselisih dalam mengatur shaf, satunya maju sedikit dan satunya lagi agak ke belakang. Inilah yang dimaksud berselisih dalam hadits ini.
2. Dalam hadits lain beliau -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda:


Kalian akan benar-benar meluruskan shaf, atau Allah benar-benar akan membuat hati-hati kalian berselisih.7 Seseorang tidak akan mampu meluruskan shafnya jika ia tidak merapatkan barisannya. Karenanya Nabi Shallallahu alaihi wasallam- memerintahkan hal itu dalam sebuah hadits dari: Anas bin Malik -radhiallahu Taala anhu- bercerita, Sholat telah didirikan (telah dikumandangkan iqomah), lalu Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda:


Tegakkanlah shaf-shaf kalian dan rapatkan karena sesungguhnya aku bisa melihat kalian dari balik punggungku.8 Meluruskan shaf dan merapatkannya sangat diperhatikan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallamdan para sahabat beliau, sehingga tak heran jika beliau mengingatkan dan memerintahkannya dalam hadits-haditsnya. Bahkan meluruskan shaf merupakan salah satu jalan menyempurnakan dan menegakkan sholat, sedangkan menyempurnakan dan menegakkan sholat merupakan kewajiban. Seorang tak boleh mengurangi kesempurnaanya dengan merenggangkan shaf.
Tata Cara meluruskan dan Merapatkan Shaf Jika seseorang mau menilik dan meneliti hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi wasallam-, maka ia akan menemukan di dalamnya permata berharga bagi para pencinta sunnah, mata air yang menyejukkan hati dan penawar bagi hati yang sakit. Tak ada suatu kemaslahatan apapun, kecuali beliau telah jelaskan, dan sebaliknya tak ada satu mudhorotpun yang akan membahayakan diri seseorang, kecuali beliau telah ingatkan. Di antara kemaslahatan tersebut adalah tata cara meluruskan shaf. Kemudian tak mungkin beliau memerintahkan dan mewajibkan sesuatu, kecuali beliau pasti telah menjelaskan tata cara dan kaifiyahnya kepada para sahabatnya. Tata cara meluruskan dan merapatkan shaf ini telah dipraktekkan oleh para sahabat setelah mereka dibimbing langsung oleh Nabi mereka -Shallallahu alaihi wasallam-. Maka sekarang mari kita biarkan salah seorang sahabat yang mulia yang bernama Anas bin Malik -radhiallahu Taala anhu- yang menerangkan tata
5

HR.Al-Imam Ath-Thobrony dalam Al-Ausath (1/23/2). Hadits ini shohih lighoirihi sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah (2533) 6 HR. Al-Imam Muslim dalam Shohih-nya (432) 7 HR. Al-Imam Al-Bukhory dalam Shohih-nya (717), dan Muslim dalam Shohih-nya(436) 8 HR. Al-Imam Al-Bukhory dalam Shohih-nya (719)

Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

cara dan kaifiyah meluruskan dan merapatkan shaf di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-. Anas bin Malik berkata:

.
Dulu, salah seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu teman di sampingnya serta kakinya dengan kaki temannya. Andaikan engkau lakukan hal itu pada hari ini, niscaya engkau akan melihat mereka seperti bagal9 yang liar.10 Apa yang dikatakan oleh Anas -radhiallahu Taala anhu- adalah benar. Andaikan kita terapkan petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- dan para sahabatnya dalam merapatkan shaf, niscaya kita akan melihat orang di samping kita bagaikan cacing kepanasan, tidak rela jika kakinya ditempeli oleh kaki saudaranya, bahkan marah dan buruk sangka kepada hamba Allah yang taat. Alangkah buruknya orang jenis ini, semoga Allah tidak memperbanyak jumlahnya. Busyair bin Yasar Al-Anshory pernah berkata, Tatkala Anas datang ke Madinah, maka ada yang bertanya kepadanya: Apakah yang anda ingkari pada kami sejak hari engkau mengenal Rasulullah-shollallahu alaihi wasallam-?. Maka beliau berkata: [Aku tak mengingkari (kalian), kecuali karena kalian tidak menegakkan shaf].11
Syaikh Masyhur Hasan Salman -hafizhohullah- berkata dalam mengomentari atsar di atas, Demikianlah kondisi kebanyakan orang di zaman kita ini. Andaikan hal itu dilakukan di hadapan mereka, maka mereka akan lari laksana keledai liar. Sunnah ini di sisi mereka berubah seakan-akan menjadi suatu bidah (ajaran baru) -naudzu billah-. Semoga Allah menunjuki mereka dan membuat mereka merasakan manisnya 12 sunnah. Apa yang dikatakan Anas dalam Atsar di atas memperjelas bagi kita bahwa tata cara tersebut telah mereka lakukan sejak zaman Nabi Shallallahu alaihi wasallam, bukanlah merupakan hasil ijtihad mereka, bahkan merupakan hasil pemahaman mereka terhadap sabda-sabda Nabi mereka -Shallallahu alaihi wasallam- yang memerintahkan serta mewajibkan meluruskan dan merapatkan shaf. Praktek mereka merupakan tafsiran dan manifestasi dari perintah Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- kepada mereka dalam meluruskan dan merapatkan shaf. Maka janganlah anda yang tertipu dengan orang yang menyatakan bahwa perkara ini bukanlah wajib, apalagi sampai mengingkarinya dan menyatakannya sebagai akhlaknya orang-orang yang tak berakhlak. Al-Hafizh -rahimahullah- berkata ketika mengomentari atsar Anas di atas, Pernyataan ini memberikan faedah bahwa perbuatan (para sahabat) tersebut telah ada sejak zaman Nabi Shallallahu alaihi wasallam-. Berdasarkan hal ini, maka sempurnalah pengambilan hujjah yang menjelaskan maksud menegakkan shaf dan meluruskannya.13 Maka batillah pendapat orang yang menyatakan bahwa menempelkan bahu dengan bahu, kaki dengan kaki dan lutut dengan lutut ketika merapatkan shaf merupakan perkara baru.14 Syaikh Nashir Al-Albany -rahimahullah- berkata dalam menyanggah mereka, Sungguh telah ada sebagian penulis di zaman ini yang mengingkari menempelkan (kaki) seperti ini dan menyangka bahwa itu adalah model baru (bidah) atas contoh yang ada dan bahwa di dalamnya terdapat sikap keterlaluan dalam menerapkan sunnah. Dia telah menyangka bahwa yang dimaksudkan dengan menempelkan adalah anjuran untuk menutupi celah shaf, bukan hakekat menempel. Ini merupakan tathil (peniadaan) terhadap hukumhukum amaliyah yang persis menyerupai peniadaan sifat-sifat Ilahiyah. Bahkan ini lebih jelek dibandingkan itu, karena rawi menceritakan tentang perkara yang disaksikan, terlihat oleh mata kepalanya, yaitu menempelkan. Sekalipun demikian ia masih tetap berkata: [Bukanlah yang dimaksudkan hakekat menempelkan] Wallahul mustaan.15

Bagal:Hewan hasil perkawinan campur antara kuda dengan keledai. HR.Al-Bukhory (725) 11 HR.Al-Bukhory (724) 12 Lihat Al-Qoul Al-Mubin fi Akhtho Al-Mushollin, hal.207 13 Lihat Fath Al-Bari (2/211) 14 Lihat Laa Jadiida fi Ahkam Ash-Sholah, hal.13 karya Syaikh Bakr Abu Zaid-hafizhohullah15 Lihat Silsilah Ahadits Ash-Shohihah (6/1/77) karya Al-Albany. Pada temapat lain beliau juga singgung hal ini. Lihat AshShohihah (1/1/73-74)
10

Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

Benar apa yang dikatakan oleh Syaikh Al-Albany bahwa menempelkan kaki, bahu dan lutut merupakan sunnah Nabi. Adapun beralasan dengan ketidakmampuan dan keengganan sebagian orang melaksanakannya, bukanlah hujjah dalam menggugurkan sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-, sebab kenyataannya cara tersebut bisa dikerjakan. Adapun orang yang enggan karena merasa sempit dadanya ketika ditempeli kakinya oleh kaki saudaranya, maka tak bisa dijadikan hujjah. Jika ada sebagian orang tak mampu menempelkan kakinya karena pada kakinya ada sifat kurang sempurna, maka bertaqwalah semampunya. Artinya, berusaha lakukan semampunya dan jika dia tetap tidak bisa, maka dia telah mendapat udzur. Sekali lagi kami katakan bahwa meluruskan dan merapatkan shaf merupakan sunnah (baca: petunjuk) Nabi Shallallahu alaihi wasallam- kepada para sahabat dan ummat beliau yang telah disaksikan oleh Anas bin Malik radhiallahu Taala anhu. Bahkan bukan hanya beliau (Anas), bahkan cara ini disaksikan oleh semua sahabat yang sholat di belakang beliau. Coba dengarkan dengan baik penuturan seorang sahabat yang mulia yang bernama Numan bin Basyir radhiallahu Taala anhu-, beliau menuturkan realita yang terjadi di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wasallam, Aku melihat seorang laki-laki menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya.16 Syaikh Husain bin Audah Al-Awayisyah berkata, Dipahami dari pembahasan lalu bahwa meluruskan dan merapatkan shaf maksudnya adalah: 1-Seorang yang sholat menempelkan bahunya dengan bahu temannya, kakinya dengan kaki temannya, lututnya dengan lutut temannya dan mata kakinya dengan mata kaki temannya. 2- Menjaga kesejajaran antara bahu-bahu, leher-leher dan dada. Tak ada leher yang berada di depan leher lainnya, tak ada bahu di depan lainnya dan tak ada dada di depan dada lainnya. Nabi Shallallahu alaihi wasallam- sungguh telah bersabda, Janganlah dada kalian berselisih, lantaran itu, hati kalian akan berselisih.17 18 Demi tersebarnya sunnah ini, maka kami anjurkan kepada para imam masjid agar meluruskan dan merapatkan shaf, serta berjalan memeriksa shaf yang masih renggang dan belum rapat, sebagaimana hal ini telah dilakukan oleh manusia yang terbaik, Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wasallam-. Dari sahabat Numan bin Basyir -radhiyallahu anhu-berkata:

. ! :
Dulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- meluruskan shaf kami sehingga seakan beliau meluruskan anak panah (ketika diruncingkan,pen), sampai beliau menganggap kami telah memahaminya. Beliau pernah keluar pada suatu hari, lalu beliau berdiri sampai beliau hampir bertakbir, maka tiba-tiba beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya dari shaf. Maka beliau bersabda, [Wahai para hamba Allah, kalian akan benar-benar akan meluruskan shaf kalian atau Allah akan membuat wajah-wajah kalian berselisih].19
Hukum Meluruskan dan Merapatkan Shaf Berdasarkan hadits-hadits yang telah berlalu, para ulama kita menjelaskan bahwa meluruskan shaf dan merapatkannya merupakan perkara yang wajib atas setiap jamaah sholat. Wajibnya hal ini dipahami dengan adanya perintah dari Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- dan juga ancaman beliau terhadap orang yang melalaikannya. Karena, jika memang meluruskan dan merapatkan shaf bukan perkara wajib tapi mustahab (sunnah/dianjurkan), maka tentunya Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- tidak akan memberikan perintah dan ancaman berkaitan dengan hal tersebut. Sebab sesuatu yang hukumnya mustahab (mandub/sunnah) boleh dikerjakan -dan itulah yang lebih baik- dan juga boleh ditinggalkan tanpa ada celaan. Jadi, apabila ada suatu perintah lalu diiringi dengan ancaman bagi orang yang meninggalkan perintah tersebut, maka ini menunjukkan bahwa hal itu hukumnya wajib. Dari sisi yang lain, seluruh perintah Nabi Shallallahu alaihi
16

HR.Abu Dawud (662), Ibnu Hibban, Ahmad (4/276), dan Ad-Daulaby dalam Al-Kuna (2/86). Dishohihkan oleh Syaikh AlAlbany dalam Ash-Shohihah (32) 17 HR.Ibnu Khuzaimah. Lihat Shohih At-Targhib (513) 18 Lihat Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassaroh (2/247-248)
19

HR.Muslim dalam Shohih-nya(436)

Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

wasallam hukum asalnya adalah wajib, kecuali jika ada dalil lain menunjukkan bolehnya sekali-sekali tidak meluruskan shaf dan merapatkannya, maka hukumnya berubah menjadi mandub (sunnah/tidak wajib). Namun disana tidak ada dalil yang mengubah hukum asal ini, artinya tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam- atau para sahabat pernah sekali tidak meluruskan dan merapatkan shaf. Maka diketahuilah dari semua hal ini bahwa meluruskan dan merapatkan shaf hukumnya adalah wajib. Al-Imam Al-Baly -rahimahullah- berkata, Lahiriah (zhohir) pendapat Abul Abbas Ibnu Taimiyyah bahwa meluruskan shaf adalah wajib, karena Nabi Shallallahu alaihi wasallam- pernah melihat seorang lelaki yang membusungkan dadanya (dalam shaf), maka beliau bersabda, [Kalian benar-benar akan meluruskan shaf kalian ataukah Allah akan membuat hati-hati kalian berselisih], beliau -alaihish sholatu was salam- juga bersabda, [Luruskanlah shaf-shaf kalian karena meluruskannya adalah termasuk kesempurnaan sholat] Muttafaqun alaihi. Al-Bukhary membuatkan judul bagi hadits ini, (Bab: Dosa Orang yang Tidak Meluruskan Shaf). 20 Al-Imam Ibnu Hazm Al-Andalusy -rahimahullah- berkata, Diwajibkan atas kaum mukminin untuk meluruskan shaf orang yang pertama lalu yang berikutnya-dan merapatkan shaf, serta menyejajarkan bahu dengan bahu serta kaki dengan kaki.21 Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany -rahimahullah- berkata ketika menjelaskan hukum meluruskan shaf, Berdasarkan hal ini, maka ia adalah wajib dan berbuat kekurangan di dalamnya adalah haram.22 Ibnul Mulaqqin -rahimahullah- berkata, Konsekwensi segi yang pertama adalah wajibnya meluruskan shaf dengan adanya ancaman karena meninggalkannya.23 Al-Imam Asy-Syaukani -rahimahullah- berkata ketika mengomentari hadits yang memerintahkan untuk meluruskan shaf, Di dalam hadits tersebut terdapat keterangan wajibnya meluruskan shaf. 24 Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata seusai membawakan hadits yang berisi ancaman bagi orang yang tidak meluruskan shaf, Tanpa ragu lagi, ini merupakan ancaman bagi orang yang tidak meluruskan shaf, karena itulah sebagian ulama berpendapat wajibnya meluruskan shaf. Mereka berdalil untuk hal itu dengan adanya perintah Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- terhadap hal itu serta ancaman beliau karena penyelisihannya. Sesuatu yang telah datang perintah tentangnya dan juga ancaman karena menyelisihinya, ini tak mungkin dikatakan sunnah saja! Oleh karena itulah, maka pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah wajibnya meluruskan shaf, dan bahwa jamaah jika tidak meluruskan shaf, maka mereka berdosa.25 Syaikh Muhammad Nashir Al-Albany -rahimahullah- berkata ketika menyebutkan beberapa faedah dari sebuah hadits yang mengancam seseorang jika tidak meluruskan shaf, Dalam kedua hadits ini terdapat dua faedah. Pertama: Wajibnya menegakkan, meluruskan dan merapatkan shaf karena adanya perintah untuk hal itu. Sedangkan asalnya segala perintah adalah wajib kecuali jika ada qorinah (korelasi) yang memalingkannya sebagaimana yang tertera dalam ilmu ushul. Namun qorinahnya di sini menguatkan wajibnya, yaitu sabda Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-, [ataukah Allah akan benar-benar membuat hati-hati kalian berselisih]. Karena -tidak samar lagi bahwa- ancaman seperti ini tidak mungkin diucapkan terhadap sesuatu yang bukan wajib. Kedua: Pelurusan shaf tersebut adalah dengan cara menempelkan bahu dengan bahu dan tepi kaki dengan kaki, karena inilah yang dilakukan oleh para shahabat -radhiallahu anhum- ketika mereka diperintahkan menegakkan dan merapatkan shaf. Karena itulah, Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath setelah beliau membawakan tambahan hadits yang aku datangkan pada hadits yang pertama dari ucapan Anas, [Pernyataan ini memberikan faedah bahwa perbuatan (para sahabat) tersebut telah ada sejak zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam-. Berdasarkan hal ini, maka sempurnalah pengambilan hujjah yang menjelaskan maksud menegakkan shaf dan meluruskannya.26 ]. Di antara perkara yang kita sesalkan, sunnah ini -berupa pelurusan shaf- sungguh telah diremehkan oleh kaum muslimin, bahkan mereka telah menyia-nyiakannya kecuali sedikit di antara mereka. Sesungguhnya aku tidak melihat hal ini (meluruskan dan merapatkan shof) ada pada suatu kelompok di antara mereka kecuali pada ahlul hadits karena aku pernah melihat mereka di
20 21

Lihat Al-Ikhtiyarot, hal.50 via Asy-Syarh Al-Mumti. Lihat Al-Muhalla (4/52) via Minhaj An-Najah 22 Lihat Fathul Bari (2/268) karya Al-Hafizh, taliq Ibnu Baz & Asy-syaibly, Darus Salam, 1421 H 23 Lihat Minhaj An-Najah fi Wujub Taswiyah Ash-Shufuf fi Ash-Sholah (2/519) , cet. Maktabah Al-Furqon, Uni Emirat Arab, 1422 H. 24 Lihat Nailul Author (2/454) karya Asy-Syaukani, cet.Dar Al-Kitab Al-Araby, 1420 H 25 Lihat Asy-Syarh Al-Mumti ala Zad Al-Mustaqni (3/11) karya Al-Utsaimin, cet. Muassasah Aasam. 26 Lihat Fath Al-Bari (2/211)

Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

Makkah pada tahun 1368 H, mereka amat semangat berpegang dengannya sebagaimana halnya sunnahsunnah Nabi Al-Musthofa -alaihish sholatu was salam- lainnya. Berbeda dengan yang lainnya dari kalangan pengikut madzhab-madzhab yang empat -aku tidak kecualikan Hanabilah-. Sunnah ini telah berubah menjadi sesuatu yang terlupakan di sisi mereka. Bahkan mereka saling mengikuti dalam meninggalkannya dan berpaling darinya. Demikianlah, karena mayoritas madzhab mereka telah menetapkan bahwa yang sunnah ketika berdiri sholat adalah merenggangkan di antara dua kaki sejarak 4 jari, jika melebihi, maka hukumnya makruh sebagaimana datang perinciannya dalam kitab Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arbaah (1/207). Ketentuan seperti itu tak ada asalnya dalam sunnah, itu hanyalah merupakan pendapat semata. Andaikan hal itu benar, maka harus dikhususkan bagi imam dan munfarid (orang yang sholat sendirian) agar sunnah-sunnah ini tidak dipertentangkan sesuai konsekwensi kaidahkaidah ushul. Intinya, aku mengajak kaum muslimin -terkhusus lagi para imam masjid- yang memiliki semangat untuk mengikuti Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-dan mau memperoleh fadhilah menghidupkan sunnahnya -Shallallahu alaihi wasallam- untuk mengamalkan sunnah ini (yaitu meluruskan shaf,pen), bersemangat melakukannya dan mengajak manusia kepadanya sehingga mereka semua berpadu di atasnya. Dengan itulah, mereka akan selamat dari ancaman, [ataukah Allah akan benar-benar membuat hati-hati kalian berselisih]. Pada cetakan ini aku tambahkan seraya berkata, Telah sampai kepadaku berita tentang seorang dai bahwa ia meremehkan perkara sunnah amaliyyah ini yang telah dijalani oleh para shahabat dan ditaqrir oleh Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-. Orang itu mengisyaratkan bahwa itu bukan dari hasil pengajaran Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- kepada mereka. Namun orang ini tak sadar -wallahu Alamkalau itu merupakan pemahaman dari para shahabat, ini yang pertama. Yang kedua, Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- telah mentaqrir mereka atas hal tersebut. Demikian itu sudah cukup bagi Ahlus Sunnah dalam menetapkan disyariatkannya hal tersebut. Karena orang yang menyaksikan (langsung kejadian) bisa melihat sesuatu yang tak dilihat oleh orang yang absen. Mereka adalah suatu kaum yang tak akan celaka orang yang mengikuti jalan mereka.27 Inilah sekelumit komentar tentang sunnah (baca: petunujuk) Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- dan para sahabat beliau dalam meluruskan dan merapatkan shaf. Semoga tulisan ini bisa menjadi pemicu bagi kita untuk mengamalkan sunnah ini dan sekaligus nasehat bagi orang-orang yang menyangka bahwa itu bukan sunnahnya Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- dan para sahabat. Semoga Allah menjadikan kita sebagai pengikut setia sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- dan mematikan kita di atas Islam yang suci ini. Terakhir, kami sampaikan nasehat kepada kaum muslimin -terutama para saudara kita yang menjadi imam masjid-, Terapkanlah sunnah ini kepada jamaah kalian, niscaya kalian akan mendapatkan pahala yang tinggi di sisi Allah. Namun jika kalian meremehkan hal ini, maka akan terjadi perpecahan dan kebencian di antara kalian dari arah yang tidak kalian ketahui sebabnya, akibat kalian telah melanggar petunjuk Allah -Taaladan Rasul-Nya -Shallallahu alaihi wasallam-. Ketahuilah, kalian akan ditanyai oleh Allah sebagai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian pada hari anak dan harta benda tidak berguna lagi bagi kalian. Janganlah kalian menghalangi para hamba Allah yang mau mengamalkan sunnah ini, apa lagi membencinya. Karena kalian akan menjadi musuh Allah di dunia dan akhirat. Allah Taala berfirman dalam sebuah hadits qudsi,Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan peperangan baginya.28 Jadi, orang yang memusuhi dan membenci orang yang menerapkan sunnah ini akan dimusuhi Allah, karena orang-orang yang melaksanakan sunnah berarti ia taat kepada Allah. Sedang wali Allah adalah orang yang taat kepada Allah. Maka takutlah kalian kepada Allah Taala. Ustadz. Abu Muawiyah

27

Lihat Ash-Shohihah (1/1/72-74) karya Al-Albany. Kemudian Syaikh memberikan tambahan bagi ucapannya di atas pada kolom Al-Istidrokat dalam Ash-Shohihah (1/2/903) seraya berkata, Lalu aku melihat sebuah pembahasan yang berfaedah milik salah seorang saudara kami di Makkah Al-Mukarromah -barokallahu fiih-. Dia mendukung (membela) sunnah yang kuat ini dalam risalahnya yang ia hadiahkan kepadaku At-Tatimmat li Badhi Masail Ash-Sholah, hal.41-42. Maka silakan kitab itu dirujuk, niscaya anda akan mendapatkan tambahan ilmu dan faedah, insya Allah. 28 HR.Al-Bukhary dalam Kitab Ar-Riqoq (6502). Lihat Hidayah Ar-Ruwah (2/420) karya Ibnu Hajar, dengan takhrij AlAlbany, Cet.Dar Ibnul Qoyyim dan Dar Ibnu Affan, 1422 H.

Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

Wajibnya Meluruskan Shaf


Dari Jabir bin Samurah d dia berkata: Nabi -i- bersabda:


Tidakkah kalian berbaris sebagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya? Maka kami berkata, Wahai Rasulullah, bagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya? Beliau bersabda, Mereka menyempurnakan shafshaf pertama dan mereka rapat dalam shaf. (HR. Muslim no. 430) Dari Abu Masud -d - dia berkata:


Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengusap pundak kami ketika akan shalat seraya bersabda, Luruskanlah, dan jangan berselisih sehingga hati kalian bisa berselisih. Hendaklah yang tepat di belakangku adalah orang yang dewasa yang memiliki kecerdasan dan orang yang sudah berakal di antara kalian, kemudian orang yang sesudah mereka, kemudian orang yang sesudah mereka.(HR. Muslim no. 432)
Dari Anas bin Malik -radhiallahu Taala anhu- dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- beliau bersabda:


Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat. (HR. Muslim no. 433) Dari sahabat Numan bin Basyir -radhiallahu anhu- berkata:

. ! :
Dulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- meluruskan shaf kami sehingga seakan beliau meluruskan anak panah (ketika diruncingkan,pen), sampai beliau menganggap kami telah memahaminya. Beliau pernah keluar pada suatu hari, lalu beliau berdiri sampai beliau hampir bertakbir, maka tiba-tiba beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya dari shaf. Maka beliau bersabda, Wahai para hamba Allah, kalian akan benar-benar akan meluruskan shaf kalian atau Allah akan membuat wajah-wajah kalian berselisih. (HR.Muslim no. 436)
Anas bin Malik -radhiallahu Taala anhu- bercerita, Sholat telah didirikan (telah dikumandangkan iqomah), lalu Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda:


Tegakkanlah shaf-shaf kalian dan rapatkan karena sesungguhnya aku bisa melihat kalian dari balik punggungku. (HR. Al-Bukhari no. 719)
Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

Faidah tambahan dari dalil-dalil di atas: 1. Hendaknya yang berdiri di belakang imam adalah orang yang sudah dewasa dan mempunyai ilmu dan kecerdasan. Karenanya hendaknya anak-anak yang belum balig atau orang-orang yang tidak punya ilmu agama (terkhusus tentang shalat dan bacaan Al-Qur`an yang baik), tidak berada di belakang imam, kecuali jika tidak ada orang yang shalat selain mereka. Perpecahan dan perbedaan dalam hal yang lahir akan menyebabkan dan mengantarkan kepada perpecahan dan perbedaan secara batin. Sebagaimana penyerupaan secara lahir akan mengantarkan kepada penyerupaan secara batin. Hal ini ditunjukkan oleh nash dan panca indera. Tidak lurus dan rapatnya shaf tidaklah mempengaruhi keabsahan shalat berjamaah tersebut, walaupun tentunya sangat mempengaruhi kesempurnaannya. Hendaknya imam shalat punya perhatian yang besar dalam meluruskan shaf sebagaimana Nabi alaihishshalatu wassalam- melakukannya. Dimana beliau sampai-sampai meluruskan sendiri dengan kedua tangan beliau. Maka di sini nampak bergampangannya sebagian imam yang hanya memerintahkan makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf (itupun sambil menghadap kiblat) tanpa memperhatikan apakah mereka mengerjakannya atau tidak. Di antara keistimewaan beliau dan merupakan tanda kenabian beliau, beliau bisa melihat orang yang ada di belakang punggung beliau dengan izin Allah.

2. 3. 4.

5.

Hukum Seputar Shaff dalam Shalat Berjama'ah Ustadz. Abul Jauza


Menyusun shaff Hadits dari Abu Masud, dari Nabi shallallaahu alaihi wasallam diriwayatkan bahwa beliau shallallaahu alaihi wasallam bersabda :


Hendaklah yang ada di belakangku (shaf pertama bagian tengah belakang imam) adalah kalangan orang dewasa yang berilmu. Kemudian diikuti oleh mereka yang lebih rendah keilmuannya. Kemudian diikuti lagi oleh kalangan yang lebih rendah keilmuannya [HR. Muslim no. 432].
Hadits ini mengandung faedah bahwa menyusun shaf sesuai dengan urutan keutamaan di belakang imam. Hendaknya di belakang imam adalah orang-orang yang lebih faqih di bidang agama dan lebih bagus hafalan/bacaannya dalam Al-Quran dibandingkan yang lain; sebagaimana imam dipilih berdasarkan yang demikian[1]. Hal tersebut mengandung hikmah bahwa bila sewaktu-waktu imam lupa/salah dalam bacaan Al-Quran, makmum dapat mengingatkannya. Atau sewaktu-waktu imam ada udzur syari (misal batal, sakit, dan lain-lain) sehingga imam tidak bisa meneruskan shalatnya, maka orang yang di belakangnyalah yang akan maju menggantikan dan meneruskan imam sebelumnya memimpin shalat berjamaah.[2] Meluruskan dan merapatkan shaff
1. Hadist An-Numan bin Basyir radliyallaahu anhu, ia berkata :


Adalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seolah-olah beliau meluruskan qadah [3] sehingga beliau yakin bahwa kami telah menyadari kewajiban kami (untuk meluruskan shaf). Suatu hari, ketika beliau shallallaahu alaihi wasallam sudah hendak takbir, tiba-tiba beliau melihat salah seorang diantara kami membusungkan dadanya ke depan melebihi shaf. Maka beliau bersabda : Hendaknya kalian meluruskan shaf-shaf kalian, kalau tidak Allah akan menjadikan wajah-wajah kalian saling berselisih [HR. Muslim no. 436].
2. Hadits Anas bin Malik, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasalam :

( : ) .
Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf-shaf termasuk menegakkan shalat (berjamaah). Dan dalam lafadh lain : karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat (berjamaah) [HR. Al-Bukhari no. 690 dan Muslim no. 433].
3. Hadits An-Numan bin Basyir radliyallaahu anhu ia berkata :


Rasulullah shalallaahu alaihi wasallam pernah menghadap ke arah jamaah shalat dan bersabda : Tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian. Demi Allah, bila kalian tidak menegakkan shaf kalian, maka Allah akan mencerai-beraikan hati kalian. An-Numan berkata : Aku saksikan sendiri, masing-masing diantara kami saling menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya [HR. Abu Dawud no. 662 dengan sanad shahih]
4. Atsar dari Nafi Maula Ibni Umar bahwasannya ia menceritakan :


Adalah Umar (bin Al-Khaththab) radliyallaahu anhu menugaskan seseorang untuk mengatur shaff-shaff. Tidaklah Umar mulai bertakbir hingga ia (orang yang ditugaskan tersebut) kembali dan mengkhabarkan bahwasannya shaff-shaff telah lurus [Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 2437 dan 2439]. Hadits di atas mengandung faedah diantaranya : Disunnahkannya meluruskan shaff dalam shalat berjamaah, bahkan banyak di antara ulama yang mengatakannya wajib. Hendaknya para jamaah benar-benar memperhatikannya dengan memperhatikan kanan kirinya, mengatur diri, dan saling mengingatkan jamaah lain, sehingga shaf dapat menjadi benar-benar lurus dari awal sampai akhir shalat. Termasuk kesempurnaan shaff shalat berjamaah adalah dengan merapatkannya dengan tidak membiarkan ruang-ruang yang longgar/sela antar jamaah. Caranya adalah dengan menempelkan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki antar jamaah/makmum sebagaimana hadits Numan bin Basyir di atas. Jangan ada perasaan risih karena tertempelnya badan saudara kita dengan badan kita. Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda :

Sebaik-baik kalian adalah yang mempunyai bahu paling lembut di dalam shalat [HR. Abu Dawud no. 623; shahih lighairihi].
Maksud hadits ini adalah bahwa salah satu katagori orang yang paling baik adalah orang yang ketika berada di dalam shaff, kemudian ada orang lain yang memegang bahunya untuk menyempurnakan (merapatkan dan meluruskan) shaff, ia akan tunduk dengan hati yang ikhlash lagi lapang tanpa ada pembangkangan [lihat selengkapnya dalam Badzlul-Majhuud 4/338 dan Maalimus-Sunan 1/184].

Hendaknya imam memperhatikan keadaan para jamaahnya dengan selalu mengingatkan agar shaff selalu lurus dan rapat. Menjadi satu keharusan bagi seorang imam sebelum memulai shalat untuk mengatur shaff jamaah. Tidak cukup bagi imam hanya mengatakan [sawwuu shufuufakum dst. ...... ]. Tapi harus diikuti dengan mengingatkan dan memeriksa keadaan shaf jamaahnya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam. Imam bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya (yaitu jamaah/makmum). Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda :


Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan seorang imam adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya [HR. Bukhari no. 853].

Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

10

Bolehnya seorang imam menugaskan seseorang atau lebih untuk mengatur shaff-shaff shalat agar lurus dan rapat.

Sangat dianjurkan menyambung shaff dan mengisi shaff yang lowong. Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda :


Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu mendoakan orang-orang yang menyambung shafshaf dalam shalat. Siapa saja yang mengisi bagian shaff yang lowong, akan diangkat derajatnya oleh Allah satu tingkat [HR. Ibnu Majah no. 995; shahih lighairihi]. Termasuk hal yang diperbolehkan dalam hal ini adalah seorang makmum maju mengisi shaff yang lowong/kosong yang ada di depannya (yang mungkin disebabkan makmum yang ada di shaff di depannya batal meninggalkan shaff) ketika shalat berjamaah sedang berlangsung.[4]
Shaff pertama adalah shaff yang paling baik Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda : ...

Seandainya manusia mengetahui pahala dari adzan dan shalat jamaah di shaff pertama, dan itu hanya bisa mereka dapatkan dengan berundi, maka pasti mereka berundi [HR. Al-Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437].

Sebaik-baik shaff bagi laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling jelek adalah yang paling belakang. Adapun sebaik-baik shaff bagi wanita adalah yang paling belakang, dan yang paling jelek adalah yang paling depan [HR. Muslim no. 440].[5]
Shaff bagian kanan lebih afdlal daripada shaff sebelah kiri. Point ini khusus ditujukan bagi makmum secara umum yang bukan termasuk jajaran orang-orang yang lebih berhak menempati posisi di belakang imam (yaitu makmum dari kalanganalim dan faqih) sebagaimana dibahas di point 1. Dari Al-Barra bin Azib radliyallaahu anhuia berkata :


Kami apabila shalat di belakang Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam senang menempati shaff di sebelah kanan. Beliau kemudian menghadap ke arah kami dan bersabda : Rabbi, peliharalah diriku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan (mengumpulkan) ham-hamba-Mu [HR. Muslim no. 709, Ibnu Majah no. 1006, dan Ibnu Khuzaimah no. 1563-1565. Ini adalah lafadh Muslim].[6]

Berdirinya makmum sendirian di belakang shaff dapat menyebabkan shalatnya (si makmum tersebut) tidak sah. Dari Hadits Ali bin Syaiban radliyallaahu anhu bahwasannya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam pernah melihat seorang laki-laki shalat bermakmum di belakang shaf, maka beliau berhenti sampai laki-laki itu selesai shalat. Selanjutnya beliau shallallaahu alaihi wasallambersabda :


Ulangi kembali shalatmu. Tidak sah shalat seorang yang yang bermakmum sendirian di belakang shaf [HR. Ahmad 4/23 no. 16340 dan Ibnu Majah no. 1003; dengan sanad shahih].
Para ulama berbeda pendapat tentang permasalahan ini. Namun yang rajih, insya allah, adalah pendapat yang mengatakan : shalat tersebut tidak sah tanpa adanya udzur syari. Maksudnya : Bila Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

11

shaff di depannya masih longgar atau tidak rapat sehingga masih memungkinkan baginya masuk mengisi di shaff tersebut; namun dia malah memilih berdiri sendirian di belakang shaf tersebut, maka shalatnya tidak sah. Namun bila shaf di depannya telah penuh dan rapat sehingga tidak mungkin dia masuk mengisi di antara shaf-shaf tersebut, maka shalatnya tetap sah. Wallaahu alam. [7]

Menghindari tiang atau sesuatu lain dalam shaff (yang akan memutus kebersambungan shaff). Dari Muawiyyah bin Qurrah dari bapaknya radliyallaahu anhu, ia berkata :


Kami dilarang untuk berbaris di antara tiang-tiang di jaman Rasulullah dan kami menyingkir darinya (HR. Ibnu Majah no. 1002, Ibnu Khuzaimah no. 1567, dan Ibnu Hibban no. 2219; dengan sanad shahih).
Dari Abdul Hamid bin Mahmud berkata :


Aku shalat bersama Anas bin Malik, dan kami terdesak (berbaris) pada tiang-tiang masjid. Sebagian di antara kami ada yang maju dan ada pula yang mundur. Maka Anas berkata : Kami menghindari ini di jaman Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam [HR. Abu Dawud no. 673, Ibnu Khuzaimah no. 1568, Ibnu Hibban no. 2218, dan lain-lain; dengan sanad shahih].

Hadits di atas menunjukkan bahwa shaff sebaiknya menghindari jalur yang ada tiangnya, karena hal itu dapat memutuskan shaff. Hal ini dilakukan apabila memungkinkan, yaitu masjidnya luas. Namun apabila sempit, maka tidak mengapa insya Allah. *** Marilah kita membiasakan diri dan memakmurkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam. Sebagai penutup bahasan, apa yang menjadi maksud penulisan risalah singkat ini adalah sebagaimana dikatakan Nabi Hud dalam Al-Quran :


Aku tidak bermaksud (kecuali) mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepadaNya-lah aku kembali [QS. Huud : 88].
Semoga bermanfaat. Wallaahu alam.[abul-jauzaa al-atsariy bogor].
[1] Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam telah bersabda : . - ... :

Yang berhak mengimami shalat adalah orang yang paling bagus atau paling banyak hafalan Al-Qurannya. Kalau dalam Al-Quran kemampuannya sama, dipilih yang paling mengerti tentang Sunnah. Kalau dalam Sunnah juga sama, maka dipilih yang lebih dahulu berhijrah. Kalau dalam berhijrah sama, dipilih yang lebih dahulu masuk Islam. Dalam riwayat lain : .....yang paling tua usianya. Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasannya, dan janganlah ia duduk di rumah orang lain di tempat duduk khusus/kehormatan untuk tuan rumah tersebut tanpa ijin darinya.

Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

12

Dan dalam lafadh yang lain : Satu kaum diimami oleh orang yang paling pandai membaca Al-Quran di antara mereka dan yang paling berpengalaman membacanya. Kalau bacaan mereka sama.... (sama seperti lafadh sebelumnya). [HR. Muslim no. 673]. [2] Caranya adalah : Imam yang udzur atau batal shalatnya tersebut memegang tangan salah seorang makmum di belakangnya yang menurutnya pantas untuk maju menggantikannya sebagai imam shalat. Dasarnya adalah atsar Amru bin Maimun yang menceritakan : : ...... ) ( ..... .... Aku ketika itu sedang berdiri, sementara antara aku dengannya (yaitu Umar bin Al-Khaththab) hanya ada Abdullah bin Abbas - pada hari ketika beliau tertikam. Saat itu Umar hanya bertakbir dan aku mendengarnya berkata : Aku dibunuh atau aku dimakan oleh anjing ; yaitu ketika beliau tertikam. Umar segera memegang tangan Abdurrahman bin Auf dan mengajukannya sebagai imam. Abdurrahman langsung shalat mengimami jamaah secara ringkas [HR. Al-Bukhari no. 3497 dengan peringkasan]. Asy-Syaukani menjelaskan : Dalam hal itu ada indikasi yang membolehkan seorang imam mengambil pengganti ketika ia berhalangan sehingga tindakan itu harus diambil. Karena para shahabat membenarkan tindakan Umar dan tidak ada yang menyalahkannya, sehingga menjadi ijma. Demikian juga tindakan serupa dilakukan oleh Ali dan para shahabat juga membenarkannya [Nailul-Authaar 2/416]. [3] [4] Kayu untuk anak panah ketika dipahat dan diasah menjadi anak panah. Dalilnya adalah hadits Sahl bin Sad As-Saaidy radliyallaahu anhu :

Bahwasannya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam pernah pergi ke Bani Amru bin Auf untuk mendamaikan mereka. Datanglah waktu shalat, lalu muadzin datang menemui Abu Bakr radliyallaahu anhu dan berkata : Maukah engkau shalat bersama manusia (dan menjadi imam) ? Akan aku kumandangkan iqamat sekarang. Abu Bakr menjawab : Ya. Maka Abu Bakr pun shalat (dan menjadi imam bagi mereka). Datanglah Rasulullahshallallaahu alaihi wasallam ketika manusia sedang menunaikan shalatnya. Beliau mengendap ke depan hingga masuk ke shaff makmum. Para makmum pun bertepuk tangan memberi isyarat, namun Abu Bakr tidak menoleh sedikitpun dalam shalatnya. Ketika semakin banyak makmum yang bertepuk tangan, Abu Bakr pun akhirnya menoleh dan melihat Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam. Rasulullah shallallaahu alaihi wasallammemberikan isyarat kepadanya agar tetap diam di tempatnya (menjadi imam shalat). Abu Bakr mengangkat kedua tangannya, bertahmid kepada Allah azza wa jalla atas perintah Rasulullah kepada dirinya tersebut. Namun ia tetap mundur dan masuk ke dalam shaff makmum (yang ada di belakangnya). Nabi shallallaahu alaihi wasallam pun maju menjadi imam. Ketika selesai, beliau bersabda : Wahai Abu Bakr, apa yang menghalangimu untuk tetap berada di tempatmu sebagaimana aku perintahkan ?. Abu Bakr menjawab : Tidaklah pantas bagi seorang anak Abu Quhafah shalat di depan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam [HR. Bukhari no. 652 dan Muslim no. 421]. Hadits di atas menunjukkan bolehnya seorang imam atau makmum untuk maju atau mundur dari shaff karena satu sebab/keperluan dalam shalat. [5] Shaff paling baik bagi wanita adalah yang paling belakang ini berlaku ketika jamaah bercampur antara laki-laki dan perempuan. Namun jika jamaah hanya terdiri dari kaum wanita saja, maka shaff yang paling baik adalah yang terdepan sebagaimana keumuman hadits sebelumnya. Wallaahu alam.

Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

13

[6] Tanbih !! Termasuk kesalahan imam adalah ketika ia memerintahkan makmum untuk menyeimbangkan antara shaff yang sebelah kanan dengan shaff sebelah kiri ketika ia melihat para jamaah lebih memilih shaff sebelah kanan. Samahatusy-Syaikh Abdul-Aziz bin Baaz mengatakan : ] [ : (( !! )) : . Telah tetap dari Nabi shallallaahu alaihi wasallam yang menunjukkan bahwasannya shaff di sebelah kanan itu lebih afdlal (utama) dibandingkan sebelah kiri. Tidaklah disyariatkan (bagi imam) untuk mengatakan kepada makmum : Seimbangkanlah shaff. Tidaklah mengapa jika makmum yang berada di sebelah kanan shaff itu lebih banyak (dibandingkan sebelah kiri) karena menginginkan keutamaannya. Adapun yang disebutkan oleh sebagian orang tentang hadits : Barangsiapa yang mengisi shaff sebelah kiri, maka baginya dua pahala . Aku tidak mengetahui darimana hadits ini berasal. Bahkan hadits itu adalah hadits palsu, yang dipalsukan oleh sebagian orang-orang yang malas yang tidak bersemangat atau bergegas mengisi shaff sebelah kanan. Hanya Allah sajalah yang menunjukkan jalan yang benar [Al-Fataawaa 1/61]. [7] Sebagai rujukan untuk murajaah, dapat dilihat kitab-kitab sebagai berikut : Al-Mughni(Ibnu Qudamah) 3/49, Nailul-Authar (Asy-Syaukani) 2/429, Asy-Syarhul-Mumti(Al-Utsaimin), dan yang lainnya. Kaifiyah ini dikecualikan untuk shalat jenazah berjamaah. Imam tetap berada di depan makmum, berapapun jumlah makmum. Hal itu didasari oleh hadits Abdullah bin Abi Thalhah disebutkan : Bahwasannya Abu Thalhah pernah mengundang Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam mendatangi Umair bin Abi Thalhah pada saat itu ia meninggal dunia. Lalu Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam datang menshalatkannya di tempat tinggal mereka. Beliau shallallaahu alaihi wasallam maju sedang Abu Thalhah di belakang beliau serta Ummu Sulaim di belakang Abu Thalhah. Dan tidak ada orang lain lagi bersama mereka [HR. Hakim 1/365, Baihaqi 4/30 dan 31. Al-Hakim berkata : Hadits ini shahih sesuai syarat Asy-Syaikhaan. Pernyataan ini disepakati oleh AdzDzahabi. Akan tetapi perkataan Al-Hakim itu dibantah oleh Syaikh Al-Albani dalam Ahkaamul-Janaaiz yang mengatakan : Hadits itu shahih hanya berdasarkan syarat Muslim saja].

Maktabah Pribadi | Abu Hafshoh

14