Anda di halaman 1dari 22

Bab 2. Pembahasan 2.1 Kardiomiopati 2.1.

1 Definisi Kardiomiopati Kardiomiopati adalah suatu kelainan akut, subakut atau kronis pada otot jantung yang merupakan gangguan otot jantung yang menyebabkan jantung tidak bisa lagi berkontraksi secara memadai. Kardiomiopati berarti penyakit miokardium atau otot jantung ditandai dengan hilangnya kemampuan jantung untuk memompa darah dan berdenyut secara normal. Kondisi ini cenderung mulai dengan gejala ringan, selanjutnya memburuk dengan cepat. Pada keadaan ini terjadi kerusakan atau gangguan pada otot-otot jantung, sehingga jantung tidak mampu berkontraksi secara normal. Sebagai kompensasi, otot jantung menebal atau hipertrofi dan rongga jantung membesar. Kelainan ini tidak memiliki etiologi atau kaitan yang diketahui dan sering disertai dengan kelainan endokardium atau kadang dengan kelainan perikardium. Menurut Dorland, toxic kardiomiopati adalah kardiomiopati yang disebabkan oleh suatu zat yang menyebabkan kerusakan toksik terhadap miokardium seperti alkohol, agen anti tumor tertentu, katekolamin, dan beberapa logam. Menurut Sjaifoellah Noer kardiomiopati ada 3 macam, yaitu: 1. Kardiomiopati kongestif atau dilatasi Kardiomiopati kongestif adalah suatu penyakit miokard yang primer atau idiopatik yang ditandai dengan dilatasi ruangan-ruangan jantung dan gagal jantung kongestif karena fungsi sistolik terganggu (hipokinesis ventrikel kiri biasanya dominan). Kadang-kadang ada aritmia dan gangguan hantaran. 2. Kardiomiopati Hipertrofik Kardiomiopti hipertrofik ada 2 bentuk yaitu: a. Hipertrofi yang simetris atau konsentri b. Hipertrofi septal asimetris

Kardiomiopati hipertrofik adalah hipertrof ventrikel tanpa penyakit jantung atau sistematik lain yang dapat menyebabkan hipertropi ventrikel. Perubahan mikroskopik ini dapat ditemukan pada daerah septum, interventrikularis. Hipertrofi asimetris pada septum ini, bisa ditemukan pada daerah distal katup aorta, di tengah-tengah septum saja, difus atau septum di daerah apeks. 3. Kardiomiopati Restriktif Tanda khas untuk kardiomiopati ini adalah adanya gangguan pada fungsi diastolik, kurang lentur, serupa dengan perikarditis konstriktiva, tetapi biasanya terbatas pada ventrikel kiri, dinding ventrikel sangat kaku dan menghalangi pengisian ventrikel ditandai dengan fungsi diastolik abnormal tetapi dengan fungsi sistolik yang normal atau hampir normal. Pada pemeriksaan patologi-anatomis ditemukan adanya fibrosis, hipertrofi atau infiltrasi pada otot jantung yang menyebabkan gangguan fungsi diastolik.

2.1.2 Tanda dan Gejala Kardiomiopati Tanda atau gejala kardiomiopati biasanya meliputi: a. b. c. d. e. f. g. Kehabisan nafas sewaktu beraktivitas atau bahkan sewaktu istirahat Pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki Perut kembung berisi air Merasa lelah Jantung berdebar dengan irama jantung abnormal Pusing, kepala ringan dan pingsan Nyeri dada atau tekanan

2.1.3 Pemeriksaan Diagnostik pada Kardiomiopati a. Kardiomiopati Dilatasi 1. Elektrokardiografi

Mayoritas kasus kardiomipati dilatasi terjadi perubahan segmen S-T dan gelombang T, terutama pada hantaran lateral dan prekordial kiri. kelainan ini khasnya adlah gelombang T dengan inverse dengan segmen S-T depresi. ditemukan juga volatase rendah pada beberapa kasus. lebih dari 50% bayi dengan kardiomiopati dilatasi mempunyai gambaran hipertrofi ventrikel kiri dan 85% sumbu QRS-nya inferior. kadang juga miokarditis setempat dapat menyerupai infark, dengan kelainan gelombang Q terlokalisasi elevasi segmen S-T. Pada permulaannya tampak aritmia, seperti blockade atrioventrikular (AV), blockade cabang berkas atau blokase serabut (fasikular), atau ektopi atrium atau ventrikel berurutan, kelainan ini ditemuka pada 15% bayi dengan kardiomiopati. 42% menderita ektopi ventrikel, dari satu denyut premature ventrikel sampai takikardia ventricular, 31% menderita takikardia supraventikular, dan 12% menderita blockade AV derajat dua atau disosiasi AV. 2. Radiologi Jantung membesar dan biasanya terdapat tanda-tanda kongesti vena walaupun keadaan ini dapat menyesatkan, terutama pada miokarditis yang mendadak karena ventrikel belum cukuo wakt untuk dilatasi. Hal tersebut akna menyebabkan gambaran infiltrate udem paru (kadang teracukan oleh pneumonia). Siluat jantung sangat membesar, kadang-kadang masif, berbentuk seeprti botol air efusi pericardium. 3. Ekokardiografi Dua dimensinya menampakkan ventrikel kiri dilatasi, dinding tipis, dan hipokinetik secara keseluruhan. analisis dengan M-mode menilai kontraktilitas dan berguna untuk pemantauan secara seri, terutama sudah pemberian terapi pengurang beban pasta (afterload). ventrikel kiri sering tidak jelas (dilatasi atau disfungsi). pada beberapa kasus miokarditis akut, ventrikel kiri sangat hipokinetik meskipun tidak ada dilatasi, ditemukan fase hipertrofi ventrikel yang berlebihan selama penyembuhan miokarditis. thrombus mungkin ada pada sisi kiri jantung dan harus dicari dengan teliti.

Pemeriksaan Doppler menampakkan adanya regurgitasi mitral dan atau trikuspidal. pada pemeriksaan ekokardiografi pada anakdidapatkan bahwa sekitar 50% anak ukuran ventrikelnya melebihi rata-rataukuran normal. Parameter ejeksi menurun 25%-50%. Pada penelitian lain dengan anak dugaan kardiomiopati pasta miokarditis menunjukkan penurunan parameter ejeksi sampai dengan 25% atau lebih. Pemeriksaan Doppler digunakan untuk memeriksa dinamika ejeksi ventrikrl kiri. pada kardiomiopati, biasanya keceptan puncak dan percepatan puncak menurun, baik pada saat istirahaht maupun latihan fisik. pemantauan kardiomiopati terbatas . pemeriksaan ini bertujuan untuk evaluai fungsi ventrikel, juga berguna dalam mengesampingkan lesi obstruksi struktur, seperti penyakit katup aorta atau koarktasio yang juga menurunkan fungsi ventrikel kiri. 4. Prognosis Indeks jantung kurang dari 31/menit/m3, dan sumbu QRS kea rah kanan dan superior pada EKG. adanya regurgitasi mitral, sedang gejala virus dalam tiga bulan disertai ketahanan hidup yang lebih baik. pada sebagian penderita ditemukan pada 23% penderita, sedang emboli arteri sistemik terjadi pada 8% penderita. b. Kardiomiopati hipertrofik 1. Elektrokardiografi Pada 25% penderita tanpa obstruksi mempunyai gambaran EKG normal, namun sangat sedikit yang mengalami hal ini. sebagian besar mengalami kleainan EKG berupa hipertrofi ventrikel kiri, perubahan pada segmen S-T dan gelombang T, serta gelombang Q abnormal. 2. Radiologi Biasanya foto rontgen tidak membantu karena menampakkan siluat jantung dan vaskularisasi normal. jika ada pembesaran jantung umumnya menggambrakan pembesaran atrium. 3. Ekokardiografi

Digunakan untuk baku diagnostic karena memungkinkan menampakkan ukuran ventrikel ketebalannya dan fungsi sistoliknya secara langsung. Dengan ekokardiografi M-mode banyak yang dapt ditampakkan, ekokardiografi dua dimensi lebih memberikan gambaran kelainan anatomik seluruhnya, dan bila digabung dengan pemeriksaan Doppler, fisiologinya dapat juga dimengerti. Seluruh jantung dapat ditampakkan pada banyak bidang tomografi, memungkinkan penggambaran sepenuhnya hipertrofi sebagian. Dengan ekokardiograf dapat dilihat adanya gerakan anterior aparatus mitral serta adanya gerakan dan luasnya aposisi sekat mitral. Ekokardiografi Doppler dapat digunakan untuk menemukan luas obstruksi aliran keluar ventrikel kiri dan atau/ kanan, serta luas regurgitasi mitral dan atau/ aorta. Dengan teknik ekokardiograf M-mode maupun doppler dapat ditunjukkan kelainan sifat-sifat pengisisan pada kebanyakan penderita. Angka puncak penipisan dinding dan perluasan ruang sering subnormal pada ekokardiograf M-mode. c. Kardiomiopati Restriktif 1. Pemeriksaan foto toraks Pada pemeriksaan ini ditemukan kardiomegali jantung, hipertensi vena pulmonal, dan efusi pleura. Pada foto rontgen dada terlihat pembesaran jantung disertai hipertensi vena pulmonal. 2. Ekokardiograf Terdapat penebalan dinding ventrikel kiri, ruangan ventrikel normal atau mengecil dan fungsi sistolik normal. Pada pemeriksaan ekokardiografi tampak dinding ventrikel kiri menebal serta penambahan massa di dalam ventrikel. Ruangan ventrikel normal atau mengecil dan fungsi sistolik yang masih normal. 3. Elektrokardiografi Pada pemerioksaan eletrokardiografi ditemukan low voltage.terlihat juga gangguan kondusi intra-ventrikuler dan gangguan konduksi atrio-ventrikuler.

4. Pemeriksaan Radionuklir Pada pemeriksaan radionuklir terlihat adanya infiltrasi pada otot jantung. Ventrikel kiri normal atau mengecil, dan fungsi sistolik yang normal. 5. Sadapan Jantung Pada sadapan jantung ditemukan compliance ventrikel kiri mengurang dan peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri dan kanan.

2.1.4 Penatalaksaan Kardiomiopati a. Kardiomiopati Dilatasi Menggunakan obat-obatan pendukung miokardium dan sirkulasi. Preparat digitalis digunakan dengan sangat hati-hati karena dapat menyebabkan aritmia dan mioardium yang meradang. dapat dipakai pula diuretic, oksigen, pengaturan elektrolit, pengurangan beban pasca, ventilasi buatan dan sedasi. obat-obatan aritmia diperlukan, namun sangat berbahaya karena reaksi silang obat-obatan tersebut dengan obat-obat jantung yang lain. Perlu ditekankan bahwa kardiomiopati hipertrofik tidak boleh ditangani, seperti kardiomiopati dilatasi karena ada risiko dalam pemakaian obat-obat inotropik dan dalam manipulasi volume darah pada penderita ini. Tidak ada pengobatan spesifik. Bila diketahui etiologinya diberikan terapi sesuai penyebab. Namun jika idiopatik, dilakukan terapi sesuai gagal jantung kongestif. b. Kardiomiopati Hipertrofi Pemberian beta blocker untuk gejala dispnea yang muncul. Selain itu, untuk menangani nyeri dada dan dispnea diberikan propanolol, namun jarang menambah toleransi terhadap latihan fisik. Respon terhadap beta blocker bergantung pada dosis yang yang digunakan. Efek samping dari penggunaan obat tersebut degan dosis tinggi adalah lelah dan depresi yang sulit ditoleransi. Barubaru ini penyekat kalsium verampili digunakan secara luas. Hasilnya adalah perbaikan dalam relaksasi diastolik dengan akibat penurunan diastolik dan tekanan rata-rata atrium kiri. Hasil ini diduga mengurangi dispnea dan

menambahkemampuan latihan fisik. Dosis verampili 1-10 mg/kg berat badan per oral. c. Kardiomiopati Restriktif Pada pasien kardiomiopati diberikan istirahat yang cukup, diet, medikamentosa. Diberikan obat pertama berupa Antiaritmi (bila terjadi gangguan irama) dan obat alternative berupa pacemaker (apabila ada gangguan konduksi berat). Kardiomiopati jenis ini biasanya sulit diobati, tergantung pada penyakit yang mendasarinya. Dapat diberikan obat sistematik berupa diuretik untuk mengurangi kongesti. Bila terdapat gangguan irama diberikan obat anti aritmia.

2.1.5 Asuhan Keperawatan Pada Kardiomiopati a. Pengkajian Pengkajian dilakukan pada anak (pasien) dengan mengukur tanda tanda vital meliputi frekuensi jantung, tekanan darah, dan indeks pertukaran oksigen. Selain itu juga perlu dikaji sistem kardiovaskularnya. Pada pasien kardiomiopati akan ditemukan murmur, adanya suara 3 (S3) atau suara 4 (S4), ektopi, DVJ dan edema. Pengkajian pulmoner juga diperlukan untuk mengetahui adakah batuk kering dan krekel yang menandakan adanya kardiomiopati. Evaluasi status volume cairan yang cermat, tanda vital (mencakup perhitungan tekanan nadi) dan askultasi adanya S3 sangat penting sebagai dasar pengkajian. b. Diagnosa a. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan disfungsi ventrikel kiri dan disritmia b. Ketidakefektifan perkusi jaringan yang berhubungan dengan penurunan suplai oksigen sekunder akibat obstruksi saluran air keluar (HC) atau gangguan fungsi sistolik (DC) yang menyebabkan penurunan curah jantung

10

c. Gangguan pertukaran gas uang berhubungan dengan peningkatan kongesti paru sekunder akibat peningkatan tekanan diastolik akhir ventrikel kiri (LVED) yang berkaitan dengan gagal ventrikel. c. Intervensi Dx. 1 Kriteria hasil: Pasien sadar dan berorientasi, kulit hangat dan kering, denyut nadi kuat dan sama secara bilateral, pengisian kapiler <3 detik, TDS 90-140 mm Hg, MAP 70-105 mm Hg, TD 30-40mm Hg, tidak ada disritmia yang mengancam jiwa. 1. Periksa FJ, frekuensi pernapasan, dan TD setiap 15 menit selama fase akut dan ketika menyesuaikan dosis obat vasoaktif. 2. Kaji nyeri dada karena iskemia miokardium dapat disebabkan oleh perfusi yang buruk akibat penurunan curah jantung. 3. Kaji bunyi jantung dan suara paru untuk mengevaluasi tingkat gagal jantung 4. Berikan oksigen 2-4 L/menituntuk mempertahankan atau memperbaiki oksigenasi 5. Minimalkan kebutuhan oksigen: pertahankan tirah baring, kurangi ansietas, dan berikan diet cairan pada fase akut. 6. Berikan agen diuretik (misal furosemid dan bumetamida) untuk mengurangi preload dan afterload 7. Sesuaikan dosis agen inotropik sesuai instruksi untuk meningkatkan kontraktilitas (misal dobutamin, amrion, milrion, dopamin, dan digoxin) Dx.2 Kriteria Hasil: Pasien sadar dan berorientasi, kulit hangat dan kering, denyut nadi perifer kuat, FJ 60-100 kali per menit, saturasi oksigen >=95%, tidak ada disritmia yang mengancam jiwa. 1. Periksa FJ, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah setiap 115 menit untuk mengetahui respon pasien terhadap terapi

11

2. Berikan oksigen tambahan dan minimalkan kebutuhan oksigen, misal dengan membatasi aktivitas dan tirah baring 3. Berikan inotropi seperti dobutamin dan dopamin untuk meningkatkan kontraktilitas dan memperbaiki curah jantung 4. Berikan nyeri 5. Berikan diuretik (fluorosemid, bumetanida) sesuai instruksi untuk menurunkan volume sirkulasi dan menurunkan preload sesuai kebutuhan 6. Koreksi asidosis karena asidosis dapat menghambat atau mengurangi respon terhadap terapi obat dan mengurangi kontraktilitas d. Implementasi Dx.1 1. Memeriksa FJ, frekuensi pernapasan, dan TD setiap 15 menit selama fase akut dan ketika menyesuaikan dosis obat vasoaktif. 2. mengkaji nyeri dada karena iskemia miokardium dapat disebabkan oleh perfusi yang buruk akibat penurunan curah jantung. 3. mengkaji bunyi jantung dan suara paru untuk mengevaluasi tingkat gagal jantung 4. memberikan oksigen 2-4 L/menituntuk mempertahankan atau memperbaiki oksigenasi 5. meminimalkan kebutuhan oksigen: pertahankan tirah baring, kurangi ansietas, dan berikan diet cairan pada fase akut. 6. memberikan agen diuretik (misal furosemid dan bumetamida) untuk mengurangi preload dan afterload 7. menyesuaikan dosis agen inotropik sesuai instruksi untuk meningkatkan kontraktilitas (misal dobutamin, amrion, milrion, dopamin, dan digoxin). morfin sulfat dosis rendah sesuai instruksi untuk meningkatkan pooling vena dan mengurangi dispnea, anxietas, dan

12

Dx.2 1. memeriksa FJ, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah setiap 115 menit untuk mengetahui respon pasien terhadap terapi 2. memberikan oksigen tambahan dan minimalkan kebutuhan oksigen, misal dengan membatasi aktivitas dan tirah baring 3. memberikan inotropi seperti dobutamin dan dopamin untuk meningkatkan kontraktilitas dan memperbaiki curah jantung 4. memberikan morfin sulfat dosis rendah sesuai instruksi untuk meningkatkan pooling vena dan mengurangi dispnea, anxietas, dan nyeri 5. memberikan diuretik (fluorosemid, bumetanida) sesuai instruksi untuk menurunkan volume sirkulasi dan menurunkan preload sesuai kebutuhan 6. mengoreksi asidosis karena asidosis dapat menghambat atau mengurangi respon terhadap terapi obat dan mengurangi kontraktilitas. e. Evaluasi a. Curah jantung meningkat dan adekuat b. Perkusi jaringan kembali efektif, suplai oksigen sekunder meningkat, dan tidak ada penurunan saluran air keluar (HC) atau gangguan fungsi sistolik (DC) yang menyebabkan penurunan curah jantung

2.2 Gagal Jantung 2.2.1 Definisi Gagal Jantung Beban awal adalah derajat peregangan serabut miokardium pada ahkir pengisian ventrikel atau diastolik. Beban akhir adalah besarnya tegangan dinding ventrikel yang harus dicapai selama sistole untuk mengejeksi darah. Gagal jantung adalah keadaan patofisiologis ketika jantung sebagai pompa tidak mampumemenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan.Ciri penting dari definisi ini adalah:

13

1. Gagal didefinisikanr elatif terhadap kebutuhan metabolik tubuh 2. Penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan. Istilah gagal sirkulasi lebih bersifat umum dibandingkan dengan gagal jantung. Gagal sirkulasi menunjukan ketidakmampuan sistem kardiovaskuler untuk melakukan perfusi jaringan memadai. Definisi ini mencakup segala kelainan sirkulasi yang mengakibatkan tidak memadainya perfusi jaringan, termasuk perubahan volume darah, tonus vascular dan jantung.

2.2.2 Tanda dan Gejala Gagal Jantung 1. Dispnea, atau perasaan sulit bernafas, adalah manifestasi gagal jantung yang paling umum. Dispnea disebabkan oleh peningkatan kerja pernafasan akibat kongesti vascular paru yang mengurangi kelenturan paru. Meningkatnya tahanan aliran udara juga menimbulkan dispnea. Dispnea saat beraktivitas menunjukkan gejala awal dari gagal jantung kiri.Ortopnea (dispneasaatberbaring) terutama disebabkan oleh redistribusi aliran darah dari bagian-bagian tubuh yang dibawah ke arah sirkulasi sentral. Reabsorpsi cairan interstisial dari ekstremitas bawah juga akan nmenyebabkan kongesti vascular paru-paru lebih lanjut. Dispnea nokturnal paroksismal (paroxysmal nocturnal dyspnea, PND) atau mendadak terbangun karena dyspnea, dipicu oleh timbulnya edema paru. PND merupakan manifestasi yang paling spesifik dari gagal jantung kiri dibandingkan dengan dyspnea atau ortopnea. 2. Batuk non produktif juga dapat terjadi akibat kongesti paru, terutama pada posisi berbaring. Timbulnya ronki yang disebabkan oleh transu dan cairan paru adalah ciri khas dari gagal jantung, ronki pada awalnya terdengar di bagian bawah paru-paru karena pengaruh gaya gravitasi. Semua gejala dan tanda ini dapat dikaitkan dengan gagal kebelakang pada gagal jantung kiri.

14

3. Gagal kebelakang pada sisi kanan jantung menimbulkan gejala dan tanda kongesti vena sistemik. Dapat terjadi hepatomegaly (pembesaran hati), nyeri tekan hati dapat terjadi akibat peregangan kapsula hati. Gejala saluran cerna yang lain (sepertianoreksia, rasa penuh, ataumual) dapat disebabkan oleh kongesti hati dan usus. 4. Edema perifer terjadi akibat penimbunan cairan dalam ruang interstisial. Edema mula-mula tampak pada bagian tubuh yang tergantung, dan terutama pada malam hari, dapat terjadi nokturia (diuresis malam hari) yang mengurangi retensi cairan. Nokturia disebabkan oleh redistribusi cairan dan reabsorpsi pada waktu berbaring, dan juga berkurangnya vosokonstriksi ginjal pada waktu istirahat. Gagal jantung yang berlanjut dapat menimbulkan asitesatau edema anaraksa (edema tubuh generalisata) 5. Gagal kedepan pada ventrikel kiri menimbulkan tanda-tanda berkurangnya perfusike organ-organ. Aliran darah dialihkan dari organ-organ nonvital demi mempertahankan perfusi kejantung dan otak sehingga manifestasi paling dini dari gagal kedepan adalah berkurangnya perfusike organ (missal kuit dan otot rangka). Kulit pucat dan dingin disebabkan oleh vasokonstriksi perifer, makin berkurangnya curah jantung dan meningkatnya kadar hemoglobin tereduksi menyebabkan terjadinya sianosis. Vasokonstrisi kulit menghambat kemampuan tubuh untuk melepaskan panas, oleh karena itu dapat ditemukan demam ringan dan keringat yang berlebihan. cairan Kurangnya dan perfusi atau dari otot rangka Makin menyebabkan kelemahan dan keletihan. Gejala dapat di perberat oleh ketidakseimbangan kebingungan. elektrolit anoreksia. menurunnnya curah jantung dapat disertai insomnia, kegelisahan, atau

15

2.2.3 Pemeriksaan Diagnostik pada Gagal Jantung 1. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut: a. Mengukur RR pasien. Karena pada penderita gagal jantung akan mengalami peningkatan nafas. b. Menghitung denyut jantung pasien. Karena pada penderita gagal jantung mengalami takikardia atau percepatan denyut jantung. c. Meraba permukaan perut bagian kanan atas (tepat pada organ hati). Karena pada penderita gagal jantung akan mengalami hepatomegali (pembesaran hati). d. Melakukan auskultasi guna mendeteksi munculnya irama galop yaitu irama jantung S3 dan S4, dimana bunyi tersebut merupakan bunyi yang tidak normal dalam kerja jantung. e. Melakukan perkusi guna mendeteksi terjadinya pembengkakan pada udem tungkai. Hal ini menandakan bahwa pasien mengalami gagal jantung kanan. f. Mendeteksi gejala pertumbuhan anak yang tidak normal. 2. Pemeriksaan penunjang a. b. Foto rontgen. Foto rontgen diperlukan untuk mengetahui terjadinya kardiomegali atau pembengkakan jantung Elektrokardiografi. Elektrokardiografi diperlukan untuk mengetahui pembesaran miokardium. c. Ekokardiografi. Ekokardiografi dapat mengidentifikasi gangguan fungsi sistolik, fungsi diastolik, mengetahui adanya gangguan katup, serta mengetahui risiko emboli. d. Pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah diperlukan untuk mengetahui adanya anemia yang dapat menambah beban jantung dan pemeriksaan fungsi ginjal akibat dari menurunnya kemampuan tubuh dalam pengaturan keseimbangan air. ruang-ruang jantung serta tanda-tanda terjadinya

16

2.2.4 Penatalaksaan Gagal Jantung Fungsi dari terapi pada penderita gagal jantung, yaitu: 1. 2. 3. 4. Meningkatkan fungsi sistemik jantung; Menurunkan kelebihan volume cairan; Mencegah timbulnya komplikasi; Memperbaiki kelainan anatomi jantung.

Penatalaksaan Medik: 1. Istirahat Kerja jantung dalam keadaan dekompensasi harus benar-benar dikurangi dengan tirah baring (bedrest) karena konsumsi oksigen yang relatif meningkat. Dengan istirahat gejala-gejala gagal jantung dapat berkurang. 2. Digitalisasi Digitalisasi secara kronotropik dan inotropik akan memperbaiki kerja jantung, memperkuat kontraksi otot, dan meninggikan curah jantung. Digoksin merupakan preparat yang banyak dipakai. Dosis digitalis disesuaikan pada keadaan gagal jantung sesuai dengan umur dan berat badan. Car apemberian obat ini intramuskuler/vena. 3. Diuretik Diuretika diberikan secara dini. Furosemid merupakan obat pilihan yang dapat diberikan secara intravena. Rute oral dapat digunakan jika baik mengalami pemulihan. Kehilangan kalium dapat ditangani dengan pemberian kalium klorida atau spironolakton. 4. Diet Umumnya diberikan makanan lunak dengan kadar garam yang rendah. Pasien dengan kurang gizi diberikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein. dapat diberikan secara oral,

17

Penatalaksanaan Keperawatan: 1. Tirah baring. Tirah baring dimaksudkan untuk mengurangi kerja jantung, menurunkan tekanan darah. Pada tirah baring anak diposisikan dalam kondisi tegak, ditopang oleh bantal. 2. Oksigen Pemberian oksigen biasanya diperlukan 2 liter per menit, dalam keadaan sianosis dilakukan penambahan kadar oksigen. Pada bayi pemberian oksigen menggunakan corong. Sikap berbaring sebaiknya adalah sikap semi fowler yaitu sekitar 20-30 derajat. Pemberian oksigen dapat mengurangi miokard, memperbaiki aliran darah paru, dan memenuhi kebutuhan oksigen dalam tubuh. 3. Pemberian diet Pasien harus makan dengan kadar garam yang rendah. Ketika pasien sesak nafas maka nafsu makan pasien akan menurun sehingga diperlukan pendekatan secara baik. Sajikan makanan dalam porsi kecil, dalam keadaan hangat, dan dengan penyajian yang menarik bagi anak. Pada pasien yang tidak mau makan pemberian susu sebaiknya ditambah untuk memenuhi nutrisi dalam tubuhnya. Sebaiknya makanan divariasi seperti kentang, roti, dan sayuran. 4. Eliminasi Pasien dengan gagal jantung perlu diperhatikan pemasukn/pengeluaran cairan selama 24 jam. Pasien sangat dianjurkan untuk makan sayuran yang berguna untuk mencegah opstipasi dan memudahkan defekasi. 5. Mobilisasi Bila keadaan gagal jantung telah teratasi pasien mulai di ajarkan untuk duduk di pinggir tempat tidur dengan menggoyang-goyangkan kaki. Selanjutnya belajar berdiri dan berjalan perlahan-lahan. Pemeriksaan nadi harus dilakukan sebelum dan setelah latihan.

18

6. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit Orang tua pasien perlu diberi penjelasan mengenai penyakit anaknya dan mengatakan bahwa anaknya tidak dapat melakukan aktivitas berat yang membuat dirinya kelelahan. Perlu diberikan penjelasan mengenai makanan yang harus dimakan dirumah yaitu makanan yang mengandung sayur untuk menghindari opstipasi yang menyebabkan penyakitnya kambuh. Istirahat yang cukup dan mengkonsultasikan kepada dokter mengenai kegiatan yang boleh dilakukan setelah pulang kerumah.

2.2.5 Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gagal Jantung a. Pengkajian Data Objektif : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 1. 2. 3. 4. Gawat napas Dispnea Distensi vena jugularis Ada bunyi napas adventitius Bunyi jantung irama gallop Edema : lokasi dan beratnya pitting Extremitas teraba dingin Perubahan nadi Berat badan bertambah Tingkat kesadaran Pasien mengatakan sesak napas dan batuk Pasien mengatakan berat badan bertambah Pasien mengatakan sering pusing, bingung, dan cepat lelah Pasien mengatakan nyeri pada bagian perut

3. Banyak memakai obat obatan pernapasan

Data Subjektif

5. Pasien mengatakan sering merasa cemas b. Diagnosa keperawatan

19

1. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan kurang ventilasi, perfusi 2. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan kurangnya volume sekuncup, syok kardiogenik, insufisiensi katup, hipertensi. 3. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan suplai oksigen tidak mensukupi kebutuhannya. 4. Cemas yang berhubungan dengan ancaman kematian, perubahan status kesehatan, perubahan peran, status sosio-ekonomi. 5. Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan kontrakstilitas jantung yang terganggu. 6. Perfusi jaringan kurang yang berhubungan dengan kurang darah dalam sirkulasi, imobilisasi, edema paru. 7. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) yang berhubungan dengan anorexia, ketidakseimbangan natrium. 8. Konstipasi yang berhubungan dengan imobilisasi, edema gastrointestinal. 9. Defisit pengetahuan (tentang sifat penyakit, pegobatan) yang berhubungan dengan tidak adanya informasi, tidak responsif terhadap informasi. c. Intervensi keperawatan 1. Berikan oksigenasi. Pasien mengalami kekurangan oksigen karena pertukaran gas terganggu akibat edema paru.pemberian oksigen sebanyak 2-6 liter per menit dapat mengurangi dispnea dan kelelahan. Nilai gas darah dan arteri perlu dipantau. Posisi fowler juga dapat membantu ekspansi paru. 2. Perbaiki kegiatan dan istirahat. Istirahat dan kegiatan dapat diatur sehingga kebutuhan oksigen tidak melebihi suplai oksigen dan mengurangi beban pada jantung. Kegiatan kegiatan seperti aktifitas sehari hari dapat disesuaikan pada dispnea dan kelelahan yang dialami pasien. Pasien juga mengalami ortopnea dan cenderung untuk duduk di kursi daripada berbaring di tempat tidur. Kedua kaki pasien ditinggikan untuk mengurangi edema pitting. Di tempat tidur posisi yang enak

20

untuk pasien adalah posisi fowler untuk ekspansi paru. Pemberian obat obat sedatif dilakukan dengan sangat hati hati karena dapat menyembunyikan tanda tanda memberatnya kegagalan jantung. Imobilitas ditempat tidur karena pemberian obat sedatif dapat mengakibatkan trombosis vena dan embolus. Tindakan keperawatan untuk membantu pasien tidur tanpa obat sedatif sangat dianjurkan. 3. Lakukan ambulasi. Hal ini dilakukan secara perlahan untuk mencegah overloading jantung. Peningkatan kegiatan dilakukan secara bertahap mulai dari duduk di tempat tidur, di kursi, dan jalan jalan di dalam kamar. 4. Kurangi rasa cemas. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perasaan cemasnya dan apa yang dapat ditimbulkan rasa cemas tersebut. Bersama klien mencoba identifikasi kekuatan dan mekanisme koping yang dapat dipakainya. Keluarga dan kelompok pendukung dapat pula membantu pasien menangani rasa cemas. 5. Pertahankan keseimbangan cairan. Pembatasan cairan sudah tidak dilaksanakan asal pasien dapat membatasi asupan garam atau natrium, serta mendapat obat digitalis atau diuretik. Akan tetapi apabila dokter ingin melakukan pembatasan cairan, perawat dan pasien perlu membuat rencana pembagian jumlah cairan yang diprogramkan dokter selama 24jam . biasanya separuh dari jumlah cairan berasal dari makanan dan separuh lagi diberikan di antara jam makan. Higiene oral yang sering juga dapat mengurangi rasa haus. Berat badan ditimbang tiap hari.setiap tambahan 1kg berat badan adalah sama dengan 1 liter retensi cairan. Waktu yang baik untuk menimbang pasien adalah pagi setelah vesika urinaria dan sebelum pasien makan pagi. 6. Pertahankan Integritas kulit. Bokong yang edema cepat sekali menimbulkan duktus dekubitus. Posisi pasien perlu diubah setiap 2-3 jam untuk mengurangi tekanan pada bokong. 7. Pertahankan nutrisi yang adekuat. Makanan harus lunak, rendah kalori, rendah garam dan serat, dan tidak menimbulkan gas. Pasien diberi

21

vitamin sebagai tambahan. Pasien mengalami anoreksia karena gastroinrestinal yang juga mengalami edema, ditambah adanya dispnea dan kelelahan. Dianjurkan pasien makan sedikit sedikit, tetapi sering untuk mencegah atau mengurangi distensi abdomen. 8. Berikan asupan Natrium. Asupan garam perlu dikurangi untuk mengendalikan edema. Banyak garam dalam diet yang normal adalah 310 g/hari. Natrium yang diberikan kepada pasien yang juga menerima obat diuretik, tidak boleh lebih dari 3 g/ hari karena perlu dihindari hiponatremia. Tujuan modifikasi diet harus dijelaskan kepada pasien dan keluarganya. 9. Perbaiki eliminasi. Mengejan keras (manuver valsalva) ketika defekasi akan memberi beban tambahan pada jantung, feses dapat dibuat lembut dengan pemberian obat susu magnesia, metamucil, dan colate. Pemakaian pispot kursi dapat juga membantu pasien yang tidak mau memakai pispot sorong. Pasien perlu dibantu turun dari tempat tidur apabila mau memakai pispot kursi. 10. Berikan Penyuluhan kesehatan. Tujuannya adalah mencegah terulanginya serangan kegagalan jantung, perlu diterangkan sifat penyakitnya, faktor-faktor pencetus, modifikasi diet, efek dan efek samping dari obat-obatan, program dari kegiatan/istirahat, dan tandatanda yang perlu dilaporkan kepada dokternya. d. Implementasi 1. memberikan oksigenasi. Pasien mengalami kekurangan oksigen karena pertukaran gas terganggu akibat edema paru.pemberian oksigen sebanyak 2-6 liter per menit dapat mengurangi dispnea dan kelelahan. Nilai gas darah dan arteri perlu dipantau. Posisi fowler juga dapat membantu ekspansi paru. 2. memperbaiki kegiatan dan istirahat. Istirahat dan kegiatan dapat diatur sehingga kebutuhan oksigen tidak melebihi suplai oksigen dan mengurangi beban pada jantung. Kegiatan kegiatan seperti aktifitas

22

sehari hari dapat disesuaikan pada dispnea dan kelelahan yang dialami pasien. Pasien juga mengalami ortopnea dan cenderung untuk duduk di kursi daripada berbaring di tempat tidur. Kedua kaki pasien ditinggikan untuk mengurangi edema pitting. Di tempat tidur posisi yang enak untuk pasien adalah posisi fowler untuk ekspansi paru. Pemberian obat obat sedatif dilakukan dengan sangat hati hati karena dapat menyembunyikan tanda tanda memberatnya kegagalan jantung. Imobilitas ditempat tidur karena pemberian obat sedatif dapat mengakibatkan trombosis vena dan embolus. Tindakan keperawatan untuk membantu pasien tidur tanpa obat sedatif sangat dianjurkan. 3. melakukan ambulasi. Hal ini dilakukan secara perlahan untuk mencegah overloading jantung. Peningkatan kegiatan dilakukan secara bertahap mulai dari duduk di tempat tidur, di kursi, dan jalan jalan di dalam kamar. 4. mengurangi rasa cemas. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perasaan cemasnya dan apa yang dapat ditimbulkan rasa cemas tersebut. Bersama klien mencoba identifikasi kekuatan dan mekanisme koping yang dapat dipakainya. Keluarga dan kelompok pendukung dapat pula membantu pasien menangani rasa cemas. 5. mempertahankan keseimbangan cairan. Pembatasan cairan sudah tidak dilaksanakan asal pasien dapat membatasi asupan garam atau natrium, serta mendapat obat digitalis atau diuretik. Akan tetapi apabila dokter ingin melakukan pembatasan cairan, perawat dan pasien perlu membuat rencana pembagian jumlah cairan yang diprogramkan dokter selama 24jam . biasanya separuh dari jumlah cairan berasal dari makanan dan separuh lagi diberikan di antara jam makan. Higiene oral yang sering juga dapat mengurangi rasa haus. Berat badan ditimbang tiap hari.setiap tambahan 1kg berat badan adalah sama dengan 1 liter retensi cairan. Waktu yang baik untuk menimbang pasien adalah pagi setelah vesika urinaria dan sebelum pasien makan pagi.

23

6.

mempertahankan Integritas kulit. Bokong yang edema cepat sekali menimbulkan duktus dekubitus. Posisi pasien perlu diubah setiap 2-3 jam untuk mengurangi tekanan pada bokong.

7.

mempertahankan nutrisi yang adekuat. Makanan harus lunak, rendah kalori, rendah garam dan serat, dan tidak menimbulkan gas. Pasien diberi vitamin sebagai tambahan. Pasien mengalami anoreksia karena gastroinrestinal yang juga mengalami edema, ditambah adanya dispnea dan kelelahan. Dianjurkan pasien makan sedikit sedikit, tetapi sering untuk mencegah atau mengurangi distensi abdomen.

8. memberikan asupan Natrium. Asupan garam perlu dikurangi untuk mengendalikan edema. Banyak garam dalam diet yang normal adalah 310 g/hari. Natrium yang diberikan kepada pasien yang juga menerima obat diuretik, tidak boleh lebih dari 3 g/ hari karena perlu dihindari hiponatremia. Tujuan modifikasi diet harus dijelaskan kepada pasien dan keluarganya. 9. memperbaiki eliminasi. Mengejan keras (manuver valsalva) ketika defekasi akan memberi beban tambahan pada jantung, feses dapat dibuat lembut dengan pemberian obat susu magnesia, metamucil, dan colate. Pemakaian pispot kursi dapat juga membantu pasien yang tidak mau memakai pispot sorong. Pasien perlu dibantu turun dari tempat tidur apabila mau memakai pispot kursi. 10. memberikan Penyuluhan kesehatan. Tujuannya adalah mencegah terulanginya serangan kegagalan jantung, perlu diterangkan sifat penyakitnya, faktor faktor pencetus, modifikasi diet, efek dan efek samping dari obat obatan, program dari kegiatan/istirahat, dan tanda tanda yang perlu dilaporkan kepada dokternya.

e. Evaluasi

24

Selama evaluasi perawat harus membandingkan tingkah pasien dengan apa yang dinyatakan dalam hasil yang diharapkan, misalnya: 1. Kecepatan pernapasannya normal, tidak memerlukan terapi oksigen dan tidak tampak bingung 2. Dapat mentoleransi kegiatan hidup sehari hari tanpa membebani jantung 3. Dapat menggunakan mekanisme jantung yang efektif. 4. Mempertahankan berat badan pada nilai sebelum timbulnya edema 5. Tidak ada dekubitus 6. Menerima modifikasi diet.
7.

Feses lunak obatannya dan program istirahat/kegiatan.

8. Dapat menjelaskan sifat penyakitnya, efek dan efek samping dari obat-